Gone With the Wind

Second Episode: Desperate

Eyeshield 21 © Inagaki Riichiro-Murata Yuusuke

© Phantomhive

Eyeshield 21 FanFiction Award: Seasons of September

Winter

Warnings: OOC banget. Typo and misstypo(s). Abal. Gaje. Minor-chara. Panjang banget. Mbosenin. Hoaahm…

Don't like don't read


"Kalian dengar semuanya?" Megu berbisik, bertanya pada tiga anak buah Habashira yang tanpa diundang telah ada didepan kamar pasiennya. Nada suaranya setengah ketakutan juga setengah mengancam.

"I-iya. Kami tidak sengaja…" salah satu anak buahnya—yang berambut spike cokelat dengan piercing di mulutnya—menjawab. Raut wajahnya terlihat ketakutan.

Megu hanya sanggup menarik nafas panjang dan menenggelamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya. Terdengar erangan jengkel saat dia menutupi raut mukanya. Dan dapat dipastikan, dia marah—dan juga ketakutan.

"A-anu… kami hanya mendengar tentang kondisi Bos saja. Tapi kami tidak tahu penyakitnya apa…" anak buah Habashira yang lain—berambut hijau bob dengan tiga anting di alisnya—menimpali. Matanya memandang Megu takut-takut. Gadis itu hanya melayangkan pandangan sadis padanya kemudian menarik nafas panjang lagi.

Kalau begini keadaannya, bisa jadi seluruh anggota amefuto Zokugaku tahu. Memang sih para pemuda—preman—itu tahu kalau kondisi Habashira sedang tidak stabil dan tidak bisa mengikuti latihan selama beberapa minggu terakhir ini. Tapi mereka tidak tahu kalau Habashira menderita tuberculosis akut.

"Lalu apa tujuan kalian datang kemari?" Megu bertanya, cepat dan tegas. Ketiga anak buah Habashira itu nyengir lebar, kemudian menyodorkan parsel buah pada Megu.

"Kami datang menjenguk. Seluruh anggota klub tahu Bos sedang sakit, jadi kami patungan membelikan Bos buah. Tapi saat kami kemari, ternyata Bos melarikan diri dari sini. Makanya kami tadi ikut mencari…" Pemuda ketiga—godrong ikal dan dicat merah marun dengan kacamata hitam mentereng—memulai cerita.

"Bukan hanya kami kok yang ikut mengejar Bos. Masih ada tiga kelompok yang masing-masing terdiri dari tiga orang yang mencari Bos. Dan saat kami mendengar manajer sudah menemukan Bos, kami kembali." Pemuda kedua yang berambut hijau menimpali.

"Dan tugas kami-lah menyampaikan parsel buah ini pada Bos." Kemudian pemuda berambut spike cokelat mengakhiri cerita, mengangkat bahu.

Megu mendecih. Dengan luwes, dia mengambil parsel buah yang masih digenggam oleh pemuda pertama. Lagi-lagi, untuk yang kesekian kalinya dia mengambil nafas panjang.

"Pulanglah ke Zokugaku. Panggil seluruh anggota klub amefuto. Akan kuceritakan segalanya."


© Phantomhive


Semua anggota yang berkumpul pada ruang klub pengap milik SMU Zokugaku terdiam. Kepala mereka—yang berwarna-warni—tertunduk, tak berani mengangkat kepala. Mereka semua duduk bersimpuh, menghadap seorang gadis berambut emas yang berdiri sambil terisak.

"Jadi Bos mengidap tuberculosis?" pertanyaan itu meluncur dari salah satu anak buahnya. Dilontarkan dengan nada tak rela. Nada yang pahit dan menyesakkan.

"Seperti yang kau dengar tadi." Megu menjawab, setengah berbisik. Masih terisak. Dia berkali-kali berusaha menghentikan tangisannya dengan menghirup nafas dalam-dalam. Tapi itu tidak berhasil.

Mereka semua terenyuh. Mendengar Bos-mu terserang tuberculosis rasanya seperti mendengar pamanmu terserang penyakit yang sama: menyakitkan.

"Apakah Bos bisa sembuh dan sanggup ikut turnamen musim semi tahun depan?" sebuah pertanyaan kembali diucapkan oleh para anak buah itu. Dari nada suaranya saja sudah terdengar mustahil. Pertanyaan bodoh karena mereka semua tahu keadaan Habashira tak lagi memungkinkan untuk mengikuti latihan. Apalagi turnamen.

Tapi memendam harapan apa salahnya?

"Aku harap ia bisa mengikutinya bersama kalian semua, tapi—" jawaban Megu terhenti. Dia tersenyum getir dan meremas-remas jemari tangannya. Sebutir air mata kembali turun dari manik hazel-nya. "…aku rasa ia takkan sanggup…"

Erangan kekecewaan memenuhi ruangan klub. Megu kembali menenggelamkan wajahnya kedalam telapak tangannya—menutupi tangisannya dan ekspresinya. Serta isakannya yang teredam suara angin yang masih menderu, mengusik ketenangan.

Ini pasti berat. Bagi mereka semua dan juga baginya. Keadaan ini sebuah bencana tak diundang yang tiba-tiba datang dan langsung menghancurkan. Formasi defence dan offence Zokugaku tak dapat bermain bila tak ada Habashira disana. Satu-satunya ace mereka adalah Habashira.

Dan sekarang sang pahlawan tumbang. Tak berdaya. Lemah. Tinggal menunggu ajal.

Itu sangat menyakitkan. Klub amefuto akan bubar, bila mereka tak bisa maju setidaknya sampai perempat final. Ini adalah keputusan akhir dari yayasan. Dan tak ada yang mau klub ini dibubarkan. Termasuk Habashira.

"Manajer… Apakah Bos akan bertahan hidup sampai setidaknya turnamen dimulai?" pemuda yang tadi—berambut merah gondrong dengan kacamata hitam mentereng—angkat bicara. Pertanyaannya membuat Megu hampir tersedak oleh air liurnya sendiri.

Megu menatap pemuda itu, berusaha menembus kacamata hitamnya dan menatap langsung kedua bola matanya. Gadis itu menggigit bibir kemudian menggeleng pelan.

"Habashira tidak tahu hal ini. Tuberculosis telah menggerogoti paru-parunya. Dia hanya akan bertahan sampai paling lama dua bulan. Bahkan kita belum memasuki program latihan intensif…"


© Phantomhive


Habashira Rui

Saat Habashira membuka matanya, matahari bahkan belum terbit. Langit kota Tokyo masih bertahan dengan warna cobalt blue dan beberapa berlian berwarna keperakan. Dari posisi Habashira, ia sanggup melihat konstelasi bintang musim dingin, yang diakuinya sangat indah.

Kantuk terserap habis dari raganya, membuatnya memutuskan untuk bangkit dari tempat tidurnya. Tertatih-tatih, ia berjalan menuju jendela. Tangan kanannya menggeret infus. Matanya menerawang, memandangi jendela kamarnya yang gordennya tersingkap.

Tangannya berhasil menggenggam bagian bawah jendela, kemudian berdiri terpaku didepan jendela geser tersebut. Matanya tak hentinya memandangi langit—rangkaian indah itu, ia menatapnya. Rasi bintang Orion. Konstelasi yang dapat dilihat hanya saat musim dingin datang.

Senyum getir seketika terlihat, menghiasi wajahnya yang kusut dan pucat. Helaan nafasnya semakin lama semakin panjang dan berat. Sejuta perasaan mendatanginya, menyesaki dadanya begitu ia menyadari satu hal: hidupnya tidak akan lama lagi.

Bukannya ia tak tahu kalau waktunya tinggal sebentar lagi. Ia hanya berpura-pura tidak tahu. Ia hanya tak ingin mensugesti dirinya bahwa ia sudah lemah. Ia terus menekankan pada hati dan otaknya bahwa ia masih kuat, masih sanggup mengikuti latihan dan bahkan pertandingan di turnamen musim semi.

Tapi, apalah mau dikata. Meskipun ia berpura-pura sehat, ia tetap tak bisa membohongi kenyataan. Tubuhnya semakin lama semakin rapuh. Bahkan untuk berdiri saja rasanya sakit sekali. Saat ia berlatih di gym rumah sakit, ia merasakan otot-ototnya bagai diputus. Dan semakin sakit lagi tubuhnya ketika ia memaksakan diri untuk jogging.

Rasa bersalah melandanya. Jika ia tidak ikut berlatih, ia merasa mengkhianati bawahannya. Tapi jika ia berlatih, ia mengkhianati tubuhnya. Namun diatas segalanya, ia ingin tertawa dan berbahagia bersama bawahannya.

Pilihan apa yang sanggup dipilih seorang Habashira? Semua opsi terasa salah untuknya. Tak ada opsi yang bisa ia pilih. Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang? Sebagai kapten Zokugaku Chameleons? Ia hanya akan membuat anak buahnya sedih. Dan juga Megu…

Kalut. Ia tenggelam dalam tekanan batinnya sendirian. Menggigit bibirnya dengan gigi taringnya selama beberapa detik, ia memikirkan segalanya. Segala kemungkinan yang terjadi esok hari. Bisa saja nyawanya sudah melayang ketika matahari terbit esok hari.

"Cih." Decihnya kesal, mengelap cairan rasa logam yang mengalir dari kulit bibirnya yang robek. Ia menggerutu, mengumpat dan menghujat. Rasa sakit yang semula berpusat di bibirnya kini menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Ah siaal. Kenapa semua menjadi rumit begini?" serapahnya, tertawa dalam keremangan dan kegetiran. Ia mengacak rambutnya dengan tangan yang tak tertusuk jarum selang infus. Nafasnya memburu seiring dengan rasa sakit yang semakin lama semakin mengekang dadanya.

"Mustahil, eh? Apakah didunia ini ada sesuatu yang mustahil dilakukan?" bisiknya pada dirinya sendiri. Matanya berlabuh pada pemandangan dibalik jendela besarnya—menatap keremangan kota Tokyo yang masih ditengah malam. Kabut bertebaran diatas gedung-gedung pencakar langit, sedikit menggelapkan kota Tokyo meskipun gemerlap lampu neon di gedung-gedung pachinko masih sanggup menembus kelamnya malam.

Angin masih gencar bertiup—menerbangkan beberapa butir salju dan membentuk semacam badai kecil—di distrik Deimon. Ia bertiup begitu kencang, terbukti dari jendela kamar Habashira yang selalu bergetar ketika angin bertiup. Kemudian pemikiran sinting melintas di otak Habashira. Nyengir, ia kemudian membuka jendela. Tindakan penuh resiko bagi seorang pengidap tuberculosis untuk membuka jendela di subuh berangin di musim dingin.

Dan ia mendapatkan imbalannya. Baru sebentar ia menyesap hawa dingin yang disuguhkan oleh angin, rasa sakit menghujam dadanya. Paru-parunya tak sanggup menghirup udara beku kota Tokyo di waktu subuh. Dengan cekatan, ia menutup jendela dan merasakan dadanya sudah tak sesakit beberapa detik lalu.

Namun tetap saja efek samping dari tindakan bodohnya merayap mendatanginya. Sekonyong-konyong, ia merasakan dorongan untuk batuk. Saat ia mencoba untuk menahannya, ia merasakan perutnya seolah dihisap dan paru-parunya kering—padahal ia menderita paru-paru basah. Akhirnya, ia hanya bisa menuruti tubuhnya.

"Uhuk uhuk…" ia terbatuk—hebat. Tak berhenti selama beberapa detik. Yang mendengarnya pasti akan tahu kalau batuknya sangat kronis. Dahaknya harus segera dikeluarkan.

Tetapi, Habashira alih-alih dahak yang keluar, darah yang mucul. Benda jahanam berbentuk cairan yang terasa seperti besi dan berwarna merah seketika merembesi mulut dan kerongkongannya, membuatnya merasa seperti vampir.

Batuknya tak bisa berhenti selama kurang lebih tiga puluh lima detik. Maka sebanyak tiga puluh lima milliliter darah mengucur keluar dari bibirnya. Lidahnya tak bisa mengecap apapun selain besi dan hemoglobin. Ia sangat membenci ini—saat batuknya kumat dan darah merembes keluar tanpa ada yang menyuruh.

Mengambil nafas dalam sekali, ia lalu mengelap daerah mulutnya menggunakan lengan piyamanya. Kemudian dihadapkannya telapak tangan berlumuran darah itu didepan wajahnya. Tiba-tiba, dalam perut pemuda itu timbul hasrat untuk tertawa—getir dan pahit.

"Ahahaha. Lucu sekali aku ini… Sudah jelas-jelas tidak akan berhasil. Ini memang mustahil." Desisnya disela-sela tawanya—pahit, getir dan tak menyenangkan untuk didengar. Ia tetap tertawa, seolah kekeras kepalaannya seolah hal yang sangat lucu. Namun tetap saja, tawanya tak seperti tawa menyenangkan.

"A… ah… ha ha… P-padahal aku tahu ini mustahil. Kenapa aku mengharapkannya, ya? Ha… ha… ha…" ujarnya, sedikit tersendat karena tersedak air liurnya sendiri. Ia masih terbahak-bahak, menertawakan kekeras kepalaannya seolah itu hal yang sangat lucu—padahal tidak sama sekali. Saat tawanya mereda, ia kembali memandang telapak tangannya yang masih berwarna merah. Dan, ia menyeringai—putus asa.

"Kenapa semua harus terjadi padaku?" bisiknya, seolah mendramatisir monolognya. Sekonyong-konyong, air mata merembesi manik gelapnya. Kali ini Habashira menyerah pada lolongan batinnya. Menyerah pada takdir dan jeritan hatinya yang membabi buta.

Secepat air mata Habashira bergulir turun, secepat itu pula hujan salju turun dari awan beku berwarna kelabu.


© Phantomhive


Tsuyumine Megu

Matanya tak bisa terpejam. Berat karena air mata yang terus membuncah dan tidak bisa berhenti sejak tadi. Yang melintas dibenaknya adalah rapat dadakannya dengan para anggota klub amefuto Zokugaku. Dan juga Habashira.

Adalah Habashira yang paling dia khawatirkan saat ini. Dia tahu betul manusia macam apa Habashira Rui itu. Dia mengerti betul gejolak perasaan apa saja yang menerjangnya. Dan semua gejolak itu ia pendam sendirian, mencoba memecahkannya seorang diri.

Kali ini, Megu tak bisa membantu banyak. Dia tak bisa menenangkan hatinya dan memberinya opsi yang sanggup ia pilih. Semua opsi yang disodorkan seolah tekanan bagi kedua bilah pihak. Tak ada yang akan merasa diuntungkan. Semuanya akan memberi kerugian.

Opsi pertama: Habashira menyerah. Ia menyerah pada semua harapannya tentang kemenangan. Jelas ini tak bisa dijadikan alternatif. Ia menyerah, berarti tumbang sudah harapan seluruh anggota.

Opsi kedua: Habashira nekat. Ia mempertaruhkan kesehatannya dan nekat bertarung full time di front line. Ini juga sama saja. Kalau Habashira nekat, akan sama pada opsi pertama. Habashira bisa saja terbunuh, dan Zokugaku akan kehilangan Habashira.

Kedua pilihan semuanya berujung pada satu hasil: hilangnya Habashira.

Kembali, sesak dan pening menghampiri raga gadis berambut emas itu. Diusapnya dadanya seolah sanggup meredakan sakit yang berpusat disana.

'Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?'


© Phantomhive


Zokugaku Chameleons

Sudah larut malam, tapi para anggota Zokugaku Chameleons enggan meninggalkan ruang klubnya. Semua membisu, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Yang terpeta dalam benak masing-masing tentu saja kabar buruk tentang Bos tercinta mereka. Tidak ada satupun yang tahu Bos Habashira mengidap tuberculosis akut yang membahayakan nyawanya. Tentu saja ini memberikan kekagetan pribadi di hati masing-masing.

"Hei gendut! Benarkah Bos akan mati dua bulan lagi?" pemuda cungkring berambut a la yankee dengan semir pirang bertanya pada lineman gembul penuh luka dengan wajah om-om. Pemuda yang ditanya hanya menggeleng inosen seperti babi idiot.

"… Lalu apa yang harus kita lakukan? Semua pilihan, seperti yang manajer bilang, tidak menguntungkan kita." Sahut sesorang, disusul gumaman setuju oleh anggota lain. Dan kembali suasana dalam ruangan itu menjadi hening. Hanya desahan nafas berat dari hidung masing-masing yang dapat ditangkap oleh daun telinga mereka.

Tak ada yang sanggup berkata-kata selama beberapa menit. Tak ada pula yang berniat memecah hening. Memangnya dengan mengatakan pertanyaan berulang akan membantu keadaan? Jutru akan memperkeruh.

"… Kita harus melakukan sesuatu untuk membantu Habashira. Begitu inti pembicaraan kali ini, kan?" celetuk seorang pemuda bertopi maling hitam dan berkacamata hitam. Alisnya mengerut.

"Iya. Tapi mau dipikir sampai botak dan ubanan-pun tidak akan ketemu jawabannya. Justru akan memusat pada satu kesimpulan yang tidak akan menguntungkan kita sama sekali." Timpal teman didepannya. Ia menghela nafas, menyesal seolah hal ini mempengaruhi hidupnya.

"Benar. Tapi aku juga tidak usaha dan kerja keras kita selama setahun terakhir ini kandas ditengah jalan. Sia-sia kalau kita tidak ikut turnamen…" pemuda yang duduk paling depan—wakil kapten Zokugaku Chameleons—menyahuti. Mata hitamnya menatap tajam seluruh anggota Zokugaku—terlihat kesakitan.

Hening lagi. Tidak ada yang sanggup menjawab argument dari wakil kapten mereka. Sampai tiba-tiba ada seorang junior mengangkat tangan sambil nyengir.

"Saya punya ide. Tapi saya rasa ide ini harus dibicarakan dulu dengan seluruh tim dan manajer."

"Katakanlah."


© Phantomhive


"Tolonglah! Ini demi kami semua!" Megu menggigit bibir mendengar permintaan para anak buahnya. Mereka semua dogeza, bersimpuh tepat di sepatu sneakers Megu yang berdebu. Bingung, tentu saja. Tidak ada yang mau mengambil resiko sebesar ini. Kecuali kau niat bunuh diri.

"Aku bisa berbicara dengannya. Hanya saja… kurasa aku tak bisa memintanya untuk sengaja mengalah. Kalian harus mengalahkan mereka dengan segenap usaha kalian." Bisik Megu, menimbang-nimbang. Dia menelengkan kepalanya kekanan kemudian menghembuskan nafas berat.

"… Pokoknya, aku akan berusaha…"


© Phantomhive


"Keh? Main dengan teri-teri sialan seperti kalian? Tidak usah, ya." Suara diseberang ponsel Megu berdengung dan bergaung ditelinganya, membuatnya sakit. Mendengar jawaban Hiruma—kapten klub amefuto SMU Deimon yang terkenal seperti setan, atau memang sebenarnya setan— membuatnya mengerutkan dahi.

"Tolonglah, ini demi kami semua, Hiruma. Kau tahu sendiri keadaan Habashira bagaimana, kan?" Megu berargumen, berusaha membujuk Hiruma mau melaksanakan latih tanding dengan Zokugaku Chameleons minggu depan. Ya, itulah permintaannya. Permintaan anak-anak buah sialan itu.

Habashira tentu saja sudah tidak bisa bermain dan terjun di lapangan. Sama sekali tidak bisa. Karena itu, mereka memikirkannya. Ini semua. Mereka memohon diadakan latih tanding dengan Deimon dan Hiruma—musuh utama Habashira—dan meminta mereka untuk sengaja mengalah.

Permintaan itu diterima oleh Megu. Hanya saja dia keberatan jika para Deimon Devil Bats harus sengaja mengalah, karena itu seperti penghinaan pada Habashira. Karena itulah sekarang dia menelepon Hiruma, memohonnya untuk menyetujui usulannya.

Tapi ditolak mentah-mentah oleh Hiruma. Alasan? Karena Zokugaku Chameleons lemah.

"Tentu saja. Lidah sialan itu sedang sekarat karena paru-paru basah sialannya, kan?" Hiruma menjawab.

"Kalau begitu, kali ini saja. Bantulah kami. Kami sangat membutuhkan kalian. Ini agar Habashira tidak memaksakan diri lagi terjun ke lapangan…" Megu berbisik, hampir terisak setelah mendengar jawaban Hiruma. Terdengar helaan nafas dari seberang.

"… Kalian terlalu menyedihkan untuk dibiarkan begitu saja. Lagipula, manajerku berteriak-teriak menyuruhku menyutujuinya. Aku tidak mau diteriaki oleh manusia aneh itu. Jadi jawabannya adalah ya, manajer Zokugaku sialan." Dan jawaban dari mulut Hiruma membuat Megu menahan nafasnya. Sebutir, air matanya turun.

"Terimakasih, Hiruma!"

"Ke ke ke. Tak perlu berterimakasih. Kau hanya perlu kerja rodi selama sepuluh tahun." Glek.


© Phantomhive


Seminggu kemudian,latih tanding SMU Zokugaku dengan SMU Deimon

Ini adalah kali pertamanya sejak ia masuk rumah sakit ia diizinkan untuk menghirup udara segar dari luar. Yang membungkus tubuhnya adalah sweater rajutan warna hitam dan gakuran putih yang biasa ia kenakan. Wajahnya kusut dan pucat. Ia masih membawa-bawa tiang infus bersamanya. Bahkan kini lebih parah. Ia harus rela duduk di kursi roda.

"Megu, kenapa kau tidak memberi tahu aku kalau ada latih tanding?" suara Habashira serak dan berat—berair. Matanya memandang Megu sayu, terlihat sedikit kecewa. Megu tersenyum.

"Karena kita menyiapkan kejutan untukmu, Habashira. Ini adalah persembahan dari kami untukmu." Ujar Megu ramah, berusaha menahan tangis disela-sela kalimatnya. Habashira mengangguk, kemudian menatap lapangan amefuto SMU-nya dengan pandangan sayu.

Akankah pemandangan saat warna hijau dan merah bertabrakan kali adalah yang terakhir kalinya ia lihat? Mengambil nafas dalam sekali, Habashira kemudian menutup matanya.

Angin berhembus. Salju berterbangan terbawa olehnya. Angin itu melewati tubuh Habashira, menerbangkan beberapa helai rambut gelapnya. Ia tetap menutup kelopak matanya—seperti berusaha merasakan nafas dari angin.

Dan saat peluit tanda dimulainya pertandingan berbunyi, Habashira tetap menutup matanya.


© Phantomhive


Peluit ditiup dua kali, tanda pertandingan berakhir. Keadaan saat ini seimbang antara Zokugaku Chameleons dan Deimon Devil Bats. Megu berteriak histeris, tertawa senang karena sanggup mengimbangi top team unggulan majalah Monthly American Football.

Bagaimana tidak? Mereka, tim yang tidak ada apa-apanya sanggup menyeimbangkan keadaan dengan tim puncak yang bahkan menumbangkan Teikoku Alexanders. Bukankah itu sebuah pertandingan yang layak untuk ditonton? Setidaknya, Zokugaku tidak tampil memalukan.

Kemudian Megu menyadari, selama sembilan puluh menit terakhir ini dia terus berada di bench pemain sambil berteriak-teriak member dukungan. Dia belum menyapa Habashira barang sedetikpun—bahkan saat half time.

Tergopoh-gopoh, gadis itu mengunjungi Habashira yang masih duduk tenang di kursi rodanya dalam keadaan menutup mata. Dengan senyum merekah diwajahnya, Megu mengguncang tubuh Habashira.

"Kita seri! Kita seri, Habashira! Kita bisa seri melawan Deimon!" girangnya, sambil terkekeh-kekeh. Tapi tanggapan dari Habashira adalah diam. Bahkan tidak membuka kelopak matanya. Megu mengigit bibir.

"Habashira?" tidak ada jawaban.

"Habashira?" mengguncang tubuhnya juga tidak membuatnya mendapatkan jawaban.

Tertegun, Megu meraba wajah Habashira—yang menjadi pucat pasi—kemudian menitikkan setetes air mata.

"Setidaknya kau tahu kita bisa menyeimbangi Deimon. Dasar kapten bego."


FIN

Dengan tidak elit sekali


Author's Note: Yo. Jahe is in the line. Ini endingnya maksa banget. Klise lagi. Habis saya males bikin yang mendetail. Sori yah. #digebukin.

Sorry for bad time skipping and bad ending. Yakin, saya sangat kurang puas sekali dengan episot ini. Awalnya kayaknya bagus gimanaa, ternyata endingnya gaje kayak gini. Flame.

Review? Flame will be used to heat up my room. :D