Shounen Heart
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
ItaHina plus Akatsuki sebagai pemanis hubungan mereka.
.
Genre: mudah-mudahan humor dan mudah-mudahan romance [gak yakin]
.
AU, OoC, over dosis Gaje, lebay bin hiperbolis, bahasa campur aduk dan semua-semua yang berhubungan dengan kejiwaan yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
.
So, happy reading, Minna-san~
Just for fun ^^
Sepanjang jalan menyusuri lorong Uchiha mansion ini, Itachi terus memikirkan 999 cara menolak perjodohan tanpa menimbulkan luka yang mendalam. Misalnya, bilang: 'Maaf, tapi kau bukan tipeku!' atau 'Sorry cuy! Gue ini masih suka sama cewek!' pada anak partner Ayahandanya itu, paman Hiashi. Tapi rasanya yang kedua itu kesannya rada-rada jutek gitu deh! Yang pertama juga. Ah, dua-duanya gak ada yang mending sih!
Tapi yang pasti, Itachi pengen teriak "GUE MASIH NORMAL!" sekencang-kencangnya.
Huft!
Tak berapa lama, Itachi sudah sampai di ruang utama dimana pesta berlangsung. Terlihat Mikoto melambai-lambaikan tangan ke arahnya. Setelah merapikan pakaiannya, Itachi menghampiri Ibunya yang bersanding dengan Ayah dan paman Hiashi. Oh, iya. Tak lupa juga Neji.
"Darimana saja, Itachi-kun?" tanya Mikoto sambil menarik lengan Itachi mendekat.
"Aku..aku dari toilet, Bu!" bisik Itachi yang tidak mau mengangkat wajahnya.
"Kenapa lama sekali?" kali ini Fugaku yang bertanya dengan sedikit geraman. Dia agak kesal karena Itachi ke toiletnya sangat lama. Itachi hanya diam membisu.
"Hahaha…tidak apa-apa, Fugaku!" Hiashi angkat bicara. "Hanya saja, Itachi-san. Kau membuat seorang gadis menunggu. Itu sangatlah tidak sopan," katanya lagi.
Itachi mengangkat wajahnya. Dia mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Hiashi barusan. Tiba-tiba saja sesosok gadis berambut indigo, muncul dari balik punggung Hiashi. Gadis itu tertunduk sambil mencengkram bagian lengan baju Hiashi. Itachi terbelalak.
"KAMU!" Itachi menunjuk si gadis dengan hebohnya. Yang ditunjuk semakin mundur ke belakang punggung Hiashi.
"Hee.. Itachi-kun sudah kenal sama Hinata ya? Wah, itu bagus sekali kan, suamiku?" Mikoto menyenggol lengan Fugaku. Fugaku hanya mengangguk.
Tentu saja Itachi mengenal gadis ini. Dia kan baru saja bertemu dengannya beberapa saat yang lalu. Mana mungkin Itachi lupa pada gadis yang sudah menarik [bukan mendorong] perhatiannya ini.
Ah, sekarang Itachi ingat mata unik yang dimiliki gadis ini. Sama dengan mata paman Hiashi. Jangan-jangan gadis ini anaknya paman Hiashi lagi. Andai saja…
Hiashi berdehem. "Tentu saja. Hinata kan satu sekolah dengan Itachi-san. Bagaimana mungkin mereka tidak saling kenal. Bukan begitu, Itachi-san?"
Pertanyaan menjebak dari Hiashi.
Itachi meringis. Sejujurnya, dia gak kenal sama gadis yang punya nama 'Hinata' ini. Ketemu aja baru sekarang kok. Tapi ngangguk rasanya hal yang paling aman buat Itachi.
"Hinata juga mengenal Itachi-san, kan?" lanjut Hiashi. Hinata ngangguk.
"U-Uchiha senpai dari ke-kelas 3-A," ucap Hinata malu-malu.
Itachi kaget bukan main. Si Hinata ini kok bisa tahu kelas Itachi sih? Hmmm…jangan-jangan selama ini dia jadi stalker-nya Itachi lagi. Tapi kalo yang nguntitnya cewek manis kayak gini sih, siapapun juga mau.
Dengan bermodalkan kepercayaan diri yang tinggi, Itachi bilang, "Ah, iya. Aku juga mengenalmu. Kamu Hinata dari kelas 1-C itu kan?"
Jleb!
Hinata terpukul dan Itachi tidak tahu hal itu. "Ano…sa-saya ini dari kelas 1-A," kata Hinata dengan nada suara yang siap nangis kapan aja.
Itachi terkesiap. "Ahaha…begitu ya?" dan mulai mengeluarkan tawa garingnya. "Ah, IYA! Maksudku tadi juga kelas 1-A. Lagian, kelas 1-A sama kelas 1-C kan bersebelahan. Gak jauh-jauh amet!" Itachi mulai ngeles.
Mikoto bertepuk tangan. "Ini semakin bagus saja. Pertunangan Itachi dan Hinata pasti akan berjalan sesuai rencana!" serunya. "Dengan begitu, perjanjian kerja sama antara Uchiha dan Hyuuga juga bisa terlaksana. Aku sudah tidak sabar lagi," Fugaku dan Hiashi saling menepuk bahu rekan masing-masing.
"Huh?" Itachi memiringkan kepalanya. "Jadi…tunanganku…dia?" Itachi menunjuk Hinata. "Bukan.." kemudian menoleh ke arah Neji yang masang wajah sinis. Mungkin bawaan dari lahir.
"Tentu saja dengan Hinata. Memangnya kau pikir-"
"Aku berpikiran sama dengan yang Ayah pikirkan!" Itachi yang sudah mulai mengerti kemana inti permasalahan, dengan cepat memotong perkataan Ayahnya. "Jadi..kapan tanggal pernikahanya?"
Hiashi terkekeh pelan. "Haha..anak muda jaman sekarang memang tidak sabaran ya?" katanya.
"Tapi karena Hinata baru masuk SMA, pernikahan kalian akan dilangsungkan saat Hinata lulus dari SMA nanti!"
Tiga tahun lagi! Tiga tahun lagi!
"Itachi-kun tidak keberatan kan?" tanya Mikoto. Dia mengelus lembut lengan Itachi.
Hohoho sama sekali tidak keberatan! Kalo Itachi disuruh gendong Chouji, itu baru keberatan namanya. Dalam hati Itachi sudah bersorak-sorak gembira. Bahkan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak memukul bedug dan mulai adzan. Lha?
Ini terlalu membahagiakan untuk Itachi. Tumben banget Ayahnya pengertian. Biasanya sadiiiis.
Mendapatkan gadis manis dan pemalu, ITU GUE BANGET!
Sementara di hati Neji, Neji udah siap sedia ngasah golok buat jaga-jaga kalo terjadi apa-apa sama Hinata.
"Ngg…bukannya itu Hinata, anak kelas satu itu?" Tobi menyipitkan matanya yang tertutup topeng orange-nya.
"Hah? Mana? Mana?" tanya Kisame penasaran. Tobi mengarahkan telunjuknya ke arah dimana Uchiha-Hyuuga lagi ngumpul bareng.
"Oh, Hinata yang pas MOS disuruh akting nembak teman sekelasnya tapi malah pingsan itu, bukan?" Sasori bertanya untuk memastikan. Tobi mengangguk. "Ngapain dia ada di sini?"
Akatsuki cuma angkat bahu. "Noh! Dia bareng sama sepupunya yang pindahan dari Oto itu!" ujar Tobi. "Kalo gak salah namanya Neji, anak baru di kelas 2-B. Dia anak baru tapi langsung kepilih jadi ketua klub kendo sekolah loh!"
Selesai Tobi mengatakan hal itu, semuanya langsung tutup mulut. Kayaknya orang yang namanya Neji itu bukan orang sembarangan.
"Jangan-jangan yang mau dijodohin sama Itachi, Hinata lagi?" dugaan sementara ini berasal dari Kisame.
"Hee? Emangnya Itachi bakalan suka gitu sama cewek yang dadanya RATA kayak papan penggilesan macem dia!" sebagai seorang teman, Sasori tentulah tahu apa yang disukai dan tidak disukai temannya itu.
Akatsuki itu…sama rasa, sama selera, sama-sama stress!
"Haah~ kalo gue dikasih si Hinata buat jadi istri gue.." Pein menggantungkan perkataannya. "..belum tentu gue nolak!" ujarnya enteng. Yang lain..sweatdrop!
Deidara terlihat sedang makan dengan lahapnya. Kali ini dia tengah berusaha memasukkan kalkun panggang bulat-bulat ke dalam mulutnya. Mumpung lagi ada di rumahnya Itachi, pikir Deidara.
Deidara gak sadar kalo dari tadi ada seorang pria yang terus memperhatikannya. Suit! Suit! Prikitiw!
"AKHEM!" pria dengan setelan baju lengan pendek dan memakai syal juga kacamata hitam itu mendekat dan berdehem dengan [sangat] keras. Deidara menoleh ke arah pria itu. "Bwapa?" kata-kata Deidara gak terlalu jelas karena dia sedang sibuk melahap makanannya.
"Ha-"
Buagh!
Baru saja pria itu mau bilang 'Hai', tapi dia udah keburu ditimpuk sama Deidara.
Deidara mengibas-ngibaskan tangannya. "Buseeet..lo gak gosok gigi ya? Nafas lo bau banget tau gak!" sewot Deidara sambil menutup hidungnya.
Pria itu tertohok mendengar kata-kata dari Deidara. Kemudian dia menghembuskan nafas ke telapak tangannya dan dengan suksesnya pria itu mundur tujuh langkah ke belakang dengan terhuyung-huyung.
Benar apa yang dikatakan sama Pak Ustadz. Bau mulut itu tergantung makanan yang kita makan. Mungkin karena kita makan sampah atau…bangkai barangkali.
Sang pria tidak gentar begitu saja. Dia kembali mendekat ke arah Deidara dan menjulurkan tangannya.
"Kalau boleh tahu, siapakah nama Nona?" tanyanya sambil tersenyum bau. Deidara menatap tangan yang terjulur di depannya. "Mau apa lo? Salaman? Lebaran masih jauh, cing!" balas Deidara ketus.
Pria tersebut langsung menciut. Ni cewek jutek abis sih! Pikirnya. Dia langsung menarik kembali tangannya yang bersalaman dengan angin lalu itu. "Ah, melihat wajahmu aku jadi dapat inspirasi untuk lagu baruku!" dia langsung mengeluarkan note kecil dari saku bajunya dan terlihat menulis-nulis sesuatu di sana. Deidara menaikkan sebelah alisnya sambil membatin 'Amit-amit jabang bayi! Najis mugholadoh mimpi apa gue semalem! Cuih!'. Buset, ni anak biasa aja kalee!
"Ah, kau pasti sudah tahu siapa aku kan?" ujarnya pedetege.
Deidara menampilkan wajah Amingwati-nya. "Che! Situ oke? Situ Manohara?" dengan sinis, Deidara berkata demikian.
Pria itu mendesah pelan. "Perkenalkan, aku KB!" katanya yang lagi-lagi mengulurkan tangannya kembali.
"KB?" untuk kesekian kalinya, Deidara menaikkan sebelah alisnya. "Keluarga Berencana, maksud lo?"
Pria yang punya tato di lengan kanan bertuliskan 'Jagal' ini, menepuk jidatnya. Hari gini gak kenal sama KB? Killer Bee? Gak salah tuh! Siapapun juga sudah mengetahui sepak terjang Killer Bee dalam industri permusikan tanah air. Pria yang punya tempat karaoke terbesar se-Konohagakure yang merupakan tempat paling happening banget buat nongkrong anak muda, masa Deidara gak tahu? Parah!
"Aku Killer Bee. Masa kamu gak tahu sih?" si KB bertanya dengan sedikit geregetan. "Gak tahu!" jawab si blonde cepat.
Si KB itu semakin mendekat ke Deidara, semakin merapat dan merapat. "Aku kan cuma mau ngajakin kamu dangdutan!" katanya.
Dan seperti yang sudah kita ketahui, Deidara pasti bakalan bilang, "Najong lo!" sambil ber-'cuih-cuih' ria.
Si pria yang punya slogan 'Dangdut is the music of my country' itu belum menyerah juga. Deidara semakin risih saja dibuatnya.
"Jangan deket-deket! Lo mau gue ledakkin ya?" tantang Deidara.
Satu hal yang perlu diketahui tentang Deidara adalah…Deidara selalu bawa mercon kemana-mana.
"Galak banget sih jadi cewek!" goda si KB sambil colak-colek dagu Deidara.
Deidara mulai geram, udah siap dengan 'Kamehameha' miliknya. Dengan lincahnya dia menendang wajah si KB dan…
Bret!
Gaun yang dipakainya sobek.
"Gue..gue ini sebenarnya cowok!" kalo gak kepepet kayak gini, Deidara pasti masih kuat nyamar. Tapi yang kali ini beda cerita. "Lo gak liat apa, jakun ini!" teriaknya sambil menunjuk jakun di lehernya.
"Aku sebenarnya adalah laki-laki yang dikutuk oleh Dewa!" Deidara mulai memposekan dirinya mencengkram langit.
Killer Bee terbeliak. Menunduk. Hal ini bikin Deidara nyengir lebar. Taktiknya manjur juga.
Tubuh si KB yang tertunduk terlihat bergetar. Nahan ketawa? Apanya yang lucu sih? Dan tanpa diduga-duga, si KB ngangkat wajahnya sambil bilang, "Wah, berarti kamu bishounen dong!" kali ini dia yang memposekan dirinya dengan memegang kedua pipinya-pose cute. Dia berjalan mendekat ke Deidara.
Buset, gila kali ya ni orang! Sama cewek hayu, sama cowok juga hayu!
Deidara yang udah uring-uringan karena rencananya gagal tersebut, langsung ngambil benda yang bisa dijangkaunya. Yakni, tulang sapi.
"Kalo lo deket-deket, gue timpuk lo pake tulang sapi!" geramnya sambil memutar-mutar tulang sapi tersebut layaknya seorang Mayoret. Hal ini mengingatkan kita pada salah satu adegan di film 'Ninja Naruto' dimana Kimimaro memutar-mutar tulangnya sendiri.
Mundur ke belakang, Deidara siap-siap buat lari.
"Mau kemana? Nang ning ning nang ning nung!" si KB malah ngelawak gaje. Dikate Deidara bayi tabung apa?
Dan terjadilah adegan live action kejar-kejaran antara sodara Deidara dengan sodara Killer Bee malam itu. Tidak menghiraukan berapa banyak orang yang udah mereka giles dan tabrak gara-gara saling mengejar.
"Gue ini udah punya pacar! Pergi lo!" sembur Deidara sambil melemparkan tulang sapi yang dipegangnya ke arah si KB. Dan tentulah si KB itu tidak bisa menghindari serangan secara tiba-tiba dari Deidara tersebut. Apalagi ditambah dengan pernyataan Deidara yang bilang sudah punya pacar, semakin stresslah si KB itu. Sehingga tulang sapi itu dengan sukses masuk ke perutnya-tanpa dikunyah dulu.
"Makan tuh!" umpat Deidara. Tapi ternyata si KB masih belum berhenti mengejar. Deidara udah ngangkat gaun hitamnya. Di depan sana, terlihatlah Itachi yang sedang kumpul bareng keluarga dengan wajah sangat happy. Deidara langsung berlari ke arahnya.
Dengan cepat, dia langsung menggandeng lengan Itachi dan nunjuk Killer Bee.
"HEH, kue cucur anget-anget muka lo ancur banget! Nih pacar gue!" teriak Deidara dengan volume suara yang kurang ajar pada si KB.
Ironisnya, Deidara teriak di tempat Uchiha-Hyuuga ngumpul yang merupakan tempat yang paling deket sama mikrofon. Dan tragisnya lagi, itu mikrofon terhubung langsung dengan balai desa dan masjid-masjid setempat.
"Nih pacar gue… Nih pacar gue…car gue…gue…gue…" suara Deidara bergema sampai ke pelosok desa yang bahkan belum dialiri listrik.
"UAPAH?"
Cengok seketika. Pernyataan ini langsung menimbulkan reaksi berantai dari Uchiha-Hyuuga yang emang lagi asoy-asoy membicarakan masalah pertunangan Itachi dan Hinata, juga masa depan perusahaan keluarga.
Si KB terkulai lemas di lantai dengan aura gloomy di sekelilingnya.
"Dei-da-ra!" desis Itachi horor. Musik kematian langsung mengalun pelan. Deidara yang baru sadar dari kekhilafannya langsung melepaskan gandengannya di lengan Itachi setelah melihat seluruh pandangan mata tertuju kepadanya.
"A…i-ini hanya..salah paham!" Deidara meringis dan mencoba mencairkan suasana yang sedang gak enak ini. Merasa bakalan ada pertumpahan darah, dia buru-buru ngangkat gaunnya dan melakukan hal yang HARUS dia lakukan. Ngibrit.
Di lain pihak, Hiashi mulai mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"APA-APAAN INI?" Hiashi mulai ngamuk. "MEMALUKAN!"
Mikoto yang dilanda kepanikan juga mulai mencoba mencairkan suasana. "Ka-kami bisa jelaskan, Hiashi-san!"
Hiashi melotot. Dengan cepat dia meraih tangan Hinata, menggenggamnya erat. "Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi! Hinata tidak butuh laki-laki playboy macem anakmu!" geramnya menunjuk Fugaku yang mendapatkan anggukkan setuju seratus persen dan acungan jempol dari Neji.
"Aku-" Itachi mulai angkat bicara.
"Tapi-" Fugaku juga mulai gerah dengan situasi ini.
"Halah, gak usah pake tapi-tapian. Aku udah bosen sama si tapi. Kerja sama kita dibatalkan! Ayo, Hinata!" dengan serta merta, Hiashi beranjak pergi dengan Hinata yang digenggamnya dan Neji yang mengikutinya. Sekilas Hinata tampak menoleh ke belakang, tapi kepalanya langsung di tegakkan kembali ke depan oleh Neji.
"Tu-tunggu!" cegah Fugaku menggapaikan tangannya sambil memegang dadanya yang terasa sesak. Penyakit bengek-nya mulai kambuh [kagak elit!].
"Benar-benar memalukan!" sepanjang jalan menuju mobil, Hiashi terus menggerutu sebal. "Anaknya si Fugaku itu malah lebih milih cewek pirang berpenampilan menor itu daripada anakku. Sudah tidak waras dia!"
"Aku kan sudah mengatakannya, paman. Uchiha memang aneh! Harusnya paman tidak membuat kontrak kerja sama dengan pihak Uchiha! Paman pasti sudah diguna-guna oleh mereka!" Neji yang semula diam, mulai mengompori pamannya ini.
Hiashi mulai mengeluh kesal. Dia yang selalu menjungjung tinggi prinsip keluarga yaitu 'Bakat seorang anak berasal dari keturunan', mulai menyesalinya. Niatan mulia mau nikahin Hinata dengan Uchiha adalah pilihan utamanya. Berdasarkan bakat, kalo Hinata punya anak nanti, anaknya itu bakalan punya daya tempur yang kuat kayak Uchiha.
"Lain kali aku akan mengikuti saran darimu, Neji!" ujar Hiashi sambil masuk ke mobil pribadi Hyuuga.
Sementara Hinata, dia sudah nangis daritadi. Dia kepikiran kata-kata Hiashi yang bilang Itachi lebih milih cewek menor itu daripada dirinya. Apapun saran dari Ayahnya itu gak ada yang bener. Hiashi selalu bilang kalo laki-laki itu suka gadis yang punya inner beauty daripada gadis yang ber-make up tebel. Hinata percaya itu. Tapi setelah ngeliat sendiri faktanya, Hinata jadi ngerasa kesel.
Terus aja dia nangis, sampai sekarang pipinya udah item gara-gara maskaranya yang luntur karena air mata. Hingga sekarang Hinata keliatan kayak panda.
Pesta di kediaman Uchiha telah selesai daritadi. Itachi hanya bisa pasrah saat Fugaku dan Mikoto memarahinya habis-habisan. Dia hanya bisa tergolek lesu saat Fugaku mukul meja pake palu dan menyatakan dirinya sebagai terdakwa kasus pencemaran nama baik keluarga. Hey, ini kan salahnya Deidara? Hidup memang tidak adil!
Hingga sekarang terlihat Itachi yang diseret-seret secara paksa oleh Fugaku sepanjang lorong Uchiha mansion ini.
Dan dengan tidak berprikemanusiaan, Fugaku menendang Itachi dengan keji dan memasukkannya ke dalam kamar dan langsung mengunci pintunya.
BRAK!
"WAAAA..BU-BUKA PINTUNYA AYAH! KUMOHON BUKA PINTUNYAAA!" teriak Itachi histeris sambil menggedor-gedor pintu.
"Apalagi?" pintu dibuka kembali oleh Fugaku.
Tampak Itachi meringis kesakitan. "Ta-tanganku kejepit pintu, Ayah," lirihnya sambil menunjukkan tangan kanannya yang bengkak sebesar kaki gajah. Fugaku hanya ber'oh' ria dan kembali menutup pintu kamar Itachi.
"JANGAN DITUTUP LAGI, AYAH!"
"Ayah..buka pintunya.."Pukulan tangan Itachi di pintu, semakin melemah.
"Shit!" dia menendang pintu kamarnya dengan keras. Mulai berpikir sejenak, Itachi berjalan ke arah tempat tidurnya dan menarik seprai dan selimutnya. Lalu beralih ke jendela dan melepas tirai-nya. Setelah itu, Itachi mengikat seprai dan tirai itu sampai terlihat seperti tali. Dia berjalan pelan ke balkon kamar kemudian mengikat tali buatan tersebut ke tiang terdekat. Sesaat, ini terlihat seperti adegan melarikan diri, karena memang iya. Itachi mencoba kabur dari kamarnya.
Setelah ikatannya kuat, tali tersebut dijatuhkan ke bawah dengan gerakan perlahan.
Itachi mulai memanjatkan doa dan mulai naik ke pagar balkon dengan tangan memegang tali. Dengan pasti, Itachi merayap turun.
"Sedang apa kau?"
Deg!
Itachi membeku di tempat dengan posisi gak naik gak turun. Tanpa berani melihat ke bawah, dia cuma bisa gemetar.
"I-itu…nganu, Ayah…" semakin mengeratkan pegangannya, Itachi mencari-cari alasan yang kuat. "Di-di sekolah kan diajarin mitigasi dalam kondisi kebakaran, katanya harus dipraktekkin di rumah…"
"CEPAT MASUK KE KAMAR!"
Tanpa babibu bencong lagi, Itachi langsung merayap kembali ke atas.
Itachi tengah berdiri di cermin sambil merapikan seragam sekolah yang dikenakannya. Hari ini dia baru masuk sekolah setelah tiga hari berturut-turut dikurung di kamarnya sendiri tanpa diperbolehkan keluar setelah insiden yang tidak bisa kita lupakan itu.
Itachi manyun. Dikurung tiga hari di kamar, serasa tiga puluh tahun dipenjara. Liat aja, janggut Itachi sudah mencapai dada.
Dia mendengus pelan. Ayahnya benar-benar keterlaluan. Itachi sudah menjelaskan kalau itu bukan kesalahannya, tapi Ayahnya itu tidak mau dengar. Malah dia mendapat hukuman yang sangat kejam dari Ayahnya itu.
Masa uang jajannya yang semula sepuluh juta perhari, dipotong jadi satu juta perhari sih? Kayaknya ini bakalan jadi saat-saat krisis buat Itachi.
Secara, rasanya suliiiit banget buat Itachi ngejalanin hari-hari dengan uang jajan yang hanya satu juta. Bisa beli apa coba?
Sampai-sampai, si Amaterasu-motor ninja milik Itachi- juga disita sama sang Ayah. Hari gini gak bawa motor? Mana ada cewek-cewek yang ngelirik, man!
Brak!
Tiba-tiba saja Mikoto masuk ke kamar Itachi tanpa izin dulu. Itachi jadi mengkeret kemudian melanjutkan kembali merapikan seragam sekolahnya.
Mikoto menghampiri Itachi dan langsung meraih dasi miliknya, merapikan dasi yang kelihatannya masih belum benar itu.
"Ayahmu masih marah soal waktu itu," ucap Mikoto yang tidak menghentikan aktifitasnya merapikan dasi sekolah Itachi. Itachi yang mendengarnya, mengarahkan pandangan keluar jendela kamar. Entah kenapa pemotong rumput di kebunnya itu terlihat sangat menarik.
"Bikin malu!" Itachi mulai cemberut. "Apa kamu mau, Ibu kutuk jadi batu?"
Itachi memaksakan tersenyum. "Ibu ini bicara apa. Emangnya aku Jaka Tarub apa, dikutuk jadi batu segala?"
Terbukti seorang Uchiha Itachi sering bolos dalam pelajaran mendongeng asuhan Iruka sensei. Masa iya Jaka Tarub dikutuk jadi batu? Bukannya yang dikutuk jadi batu itu, Sangkuriang?
"Akukh-"
Kata-kata Itachi langsung tercekat seketika saat Mikoto mengeratkan dasinya dengan tenaga penuh.
"Ibu gak bercanda, Itachi!" seru Mikoto yang masih belum melepaskan cekikkannya di leher Itachi. Itachi hanya bisa mengangguk patuh. "I-iya, Bu!"
Akhirnya Mikoto melonggarkan dasi Itachi kembali. Itachi menghela nafas lega. Hampir saja dia mati tadi!
"Ibu gak mau liat kamu bikin malu keluarga lagi," kata Mikoto sambil menepuk pelan kepala Itachi dan berlalu pergi. Tapi sebelum keluar dari kamar Itachi, Mikoto menoleh sebentar. "Cepat turun untuk sarapan. Terus berangkat pake bus!"
Hm?
Tunggu dulu. Bus katanya?
Memangnya siapa yang mau berangkat ke sekolah naik bus?
.
.
.
"Tobi mau berangkat ke sekolah naik bus!" teriakkan lantang dari pelajar SMA yang bernama Tobi ini, sukses membuatnya mendapat lemparan spidol dari sopir bus.
Sasori, Pein, Hidan, Deidara dan Kisame mengikuti dari belakang. Celingak-celinguk, mereka mulai mencari tempat duduk di bus tersebut.
Mata Kisame membulat saat menemukan objek yang langka di depannya.
"Itachi?" panggilnya ketika melihat Itachi duduk di kursi paling pojok dan menutupi wajahnya dengan topi.
Kontan saja semuanya langsung mangambil tempat di dekatnya.
"Itachi, Itachi, woy Itachi!" panggil Deidara sambil mengguncang-guncang bahu Itachi.
"Apa, gembel?" balas Itachi dengan nada sinis. Sumpah ya, dia masih kesel setengah mati sama makhluk blonde yang udah bikin hidupnya ini sengsara.
"Weiss, masih marah nih ceritanya?"
Itachi membuang pandang ke luar jendela bus.
"He? Apa 4875 SMS permintaan maaf, masih kurang buat nebus kesalahan gue?" kata Deidara. Itachi mendengus. Mana tahu dia kalo Deidara ngirim SMS. Orang ponselnya disita sama sang Ayah.
Hidan garuk-garuk kepala. "Iya, iya, sori deh sori! Kita juga banyak salah sama lo!" ungkapnya. "Sebagai gantinya, kita bakalan bantu lo deket sama Hinata!" Hidan mulai menaik-turunkan alisnya. Itachi jadi semangat juga. "Janji lo ya?"
"Sip! Sip!" kata Pein sambil mengacungkan jempolnya. "Btw, ngapain lo naik bus segala?" tanya Sasori penasaran. Itachi menghempaskan kepalanya ke belakang kursi penumpang. Tampangnya berubah bête.
"Biar gue tebak. Motor disita, uang jajan dipotong?"
Itachi menjulurkan lidahnya. "Nah, lo sendiri udah tahu kan?" ketusnya. "Lo, ngapain naik bus segala? Motor lo disita juga?" tanya Itachi.
Pein terkekeh. "Nggaklah. Gue cuma mau nunjukkin sesuatu sama kalian," katanya sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya. "Pas banget si Itachi udah masuk. Tau sendiri kan di sekolah gak boleh ngutak-ngatik hape, gue liatin di sini!" lanjutnya.
Semuanya langsung mengernyitkan dahi.
"Jangan bilang kalo lo mau ngeliatin video porno ke kita, Pein!" tebak Hidan.
"Iiih, Tobi gak suka nonton video porno, Tobi sukanya nonton video hentai!" si Tobi mulai meracau lagi.
Pein mengorek-ngorek telinganya. "Ya nggaklah! Gue udah tobat kali!"
"Tobat? Sumpeh lo?" tanya Sasori dengan nada tidak percaya. Susah sih percaya lagi sama orang yang hampir merkosa nenek kandung kita sendiri.
"Ya iyalah. Gue tuh akhir-akhir ini kalo liat yang berbau porno tuh bawaannya pengen merkosa pembantu gue mulu!" ungkap Pein jujur.
"HAH? Merkosa mang Madara, tukang kebon lo itu? Udah sarap kali lo!" sambung Hidan.
Pein mulai geregetan. "Ih, bukaaan! Gue bukan mau merkosa tukang kebon dan gue juga bukan mau nunjukkin video porno!" teriaknya frustasi. Terlalu kenceng, sampai Pein dipelototin sama semua penumpang bus.
"Gue mau ngliatin ini. Nih!" Pein mengarahkan ponselnya ke tengah-tengah Akatsuki. Semuanya langsung mendongak, ingin melihat.
Di layar ponsel terlihatlah dua orang manusia. Seorang gadis berambut indigo panjang dan seorang laki-laki berambut kuning jabrik.
"Itu kan Hinata-chan!" pekik Tobi.
"Jangan panggil dia Hinata-chan, Tobi! Gue gak suka!" sinis, Itachi ngasih deathglare ke arah Tobi.
Tobi cemberut. "Lalu Tobi musti panggil dia apa? Nyonya Uchiha?"
"Lo-"
"Yee..udah, udah! Gitu aja marah sih, Itachi?" Pein mulai menengahi. "Yang terpenting. Kita udah tahu, kalo si Hinata deket sama dia!" dengan wajah serius, Pein berkata. "Saingan lo agak-agak berat nih!" kata Hidan menepuk bahu Itachi pelan. Itachi hanya berdecih.
"Jadi lo beneran suka sama Hinata?" tanya Kisame. Itachi gak punya pilihan lain selain ngangguk.
Sambil menopang dagunya, Pein mulai berpikir. "Cinta itu emang kayak traktor yang bisa meringankan beban kita dalam menghadapi hidup!" ucap Pein sarkastik.
Ano, emangnya ini musyawarah bertajukkan 'Bagaimana cara membajak sawah yang baik' apa?
Sasori menutup mulutnya dengan tangan, nahan ketawa. "Jiaaah, bahasa lo! Traktor pake dibawa-bawa segala!" Pein hanya cemberut, harusnya mereka itu menghargai kata-kata mutiara darinya barusan.
"Nomong-ngomong, Itachi…" Deidara memulai pembicaraaan baru. "Kutu air lo udah sembuh?"
"A-apa?" Itachi syok.
"Lo gak masuk sekolah gara-gara kutu air kan? Ayah lo sendiri yang bilang. Surat keterangannya juga ada kan, Tob?" Deidara meminta dukungan dari Tobi dan mendapatkan anggukkan mantap darinya.
Itachi meringis. Ternyata benar kalo Ayahnya ini minta supaya Itachi ngebantai keluarga sendiri.
Sepanjang jalan menuju kelas, Itachi hanya bisa menunduk malu. Melihat temen-temen yang negur sambil say hello terus mandang kakinya, rasanya Itachi pengen bunuh diri aja!
"Hey, Itachi! Udah masuk. Gimana kutu air lo? Dah sembuh?"
mandang kaki.
"Senpai udah masuk! Udah sembuh?"
mandang kaki lagi.
"Yo, Itachi! Gue gak mau nanyain ini sebenernya. Tapi…kutu air lo udah sembuh?"
Yang ini juga mandang kaki.
Arrrggghh!
Itachi menjambak rambutnya frustasi dan dengan kekuatan penuh, dia meninju kaca jendela kelasnya.
Praaang!
"Bagus, Itachi!"seru Pein mengepalkan tangannya.
Menurut sumber yang sedikit dipercaya [baca: Tobi], hari ini bagian Hinata piket di ruang UKS. Ya, Hinata itu anggota PMR. Dan Tobi itu…ketua PMR.
Maka dari itu, kita bisa lihat Itachi yang jalan sempoyongan menyusuri koridor dan berhenti pas liat nama 'UKS' di atas pintu satu ruangan.
"Permisi…" dengan dorongan tangan, Itachi membuka pintu dan mendapati sosok gadis berambut indigo yang membelakanginya.
Itu Hinata!
Ini nyata, bukan mimpi! Kalo mimpi, Itachi pasti udah nyogok sang penulis scenario mimpi biar ada adegan Hinata berlari ke pelukannya sambil teriak: 'Kyaaaa…Itachi-kun ganteng banget! Aku rela melahirkan anak-anakmuuu!'. Itachi mulai senyam-senyum sendiri.
Tapi kan tadi udah dibilangin kalo ini tuh bukan mimpi.
Hinata yang waktu itu lagi nyoba lipgloss rasa jagung bakar keluaran terbaru, langsung balik badan pas denger ada orang yang masuk.
"A-" Hinata terbelalak pas liat orang yang datengnya itu siapa.
Aduh, Hinata. Ngadepin Itachi jangan kayak cewek pas mau malem pertama dong!
Itachi berjalan ke arah ranjang UKS setinggi satu meter itu, lalu duduk di sana.
"Hn!" Itachi menunjukkan tangan kanannya yang berlumuran darah ke arah Hinata. Berharap Hinata ngerti dan langsung mengobatinya.
Dengan cekatan Hinata langsung ngambil air hangat, alkohol [buat mabok-mabokkan], sama perban. Didatanginya Itachi dan sekilas melihat tangan Itachi yang banyak ngeluarin darah itu.
"I-ini kenapa?"
"Gak sengaja nonjok kaca tadi," jawaban singkat, padat dan jelas dari Itachi.
Gak sengaja aja, udah gini. Gimana kalo sengaja? Hinata mulai merinding disko.
Hinata langsung membasuh tangan Itachi dengan air keras eh-maksudnya air hangat, memberikan alkohol [diteguk, Itachi langsung mabok], kemudian membalutnya dengan perban.
Nelen ludah.
"Engg..yang waktu itu, dia bukan pacarku…" ujar Itachi memecah keheningan diantara mereka.
Hinata tertunduk. "Pa-pacar beneran juga..gak a-apa-apa kok!" sahut Hinata cepat.
Yang bener aja, masa Itachi pacaran sama cowok sih? Jadi gay pun dia masih milih-milih kaleee!
Hening.
Itachi mulai memikirkan topik pembicaraaan yang menarik. Sebisa mungkin menghindari topik yang agak 'menjurus'. Dalam periode aneh mecem kaya gini, Uchiha emang dituntut buat berpikir kritis. Tapi karena kurangnya ilmu pengetahuan soal asmara, Itachi bilang, "Gimana pelajarannya tadi? Matematikanya bisa?"
Doeeeng!
Siapa bilang 'Dobe' hanya milik Naruto. Buktinya orang ini…
Dari semua pelajaran yang ada, kenapa Itachi malah nanyain matematika? Jangan bilang Itachi mau ngajarin Hinata pelajaran maut itu. Jangan sampe deh!
Tolong, jangan tanyakan soal matematika yang berhubungan dengan akar-akaran! Itachi gak biasa bercocok tanam, apalagi punya cita-cita jadi insinyur pertanian! Kagak!
Hinata gak ngejawab, masih sibuk melilitkan perban di tangan Itachi.
"Su-sudah selesai!" kata Hinata yang telah selesai memperban tangan Itachi.
Ini perban, apa buntelan kentut?
"A-apa terasa sakit, Hitachi senpai?"
'Hitachi, Hitachi! Nama gue tuh Itachi, bukan Hitachi! Kalo Hitachi, itu sih merek kompor!' batin Itachi meledak-ledak [seperti kompor]. Gimana kalo dia ganti nama aja?
Itachi memaksakan tersenyum. "Err..Hinata. Namaku Itachi, bukan Hitachi," jelasnya.
"Ha!" Hinata menutup mulutnya dengan kedua tangan. Seolah dia baru saja mengatakan hal yang jorok, seperti mencuci celana dalam menggunakan air kencing. Jorok banget kan?
"G-g-g-g-g-g-g-g-g-g-g-gomen, Itachi senpai!" serunya minta maaf sambil membungkuk-bungkukkan badan.
Itachi mengibas-ngibaskan tangannya. "Tidak apa-apa kok, Hinata. Beneran!"
"Ta-tangannya sudah selesai di-diperban…"
"He? Udahan? Gak usah buka baju nih?" tanya Itachi polos yang sudah membuka tiga kancing teratas seragamnya. Udah stress nih orang!
Hinata terkejut mendengar kata-kata dari Itachi dan mulai berbalik badan. Tapi tangan Itachi mencegahnya untuk pergi.
"Sebenarnya…pelipisku juga agak-agak bentol tadi," kata Itachi ngasal. "Aku mau kau memplesternya!" pintanya.
Ragu-ragu, Hinata kembali mendekat. Mendekat ke arah Itachi yang duduk nyaman di ranjang UKS dengan kaki menjuntai ke bawah. Hinata mengambil plester luka, dan membukanya.
Ah, Hinata ini memang baik hati, baik dada dan baik pinggul!
Hinata memakaikan plester ke pelipis Itachi tanpa melihat wajah Itachi. Gak berani! Jantung Hinata berdegup kencang dan wajahnya jadi memerah.
Hening lagi. Yang terdengar sayup-sayup peluit Gai sensei yang melaksanakan pelajaran olahraga di lapangan sekolah.
"Hinata…" suara berat Itachi, semakin memperparah keadaan Hinata. Dia semakin nunduk ke bawah.
"I-iya!"
"Kenapa…" kata Itachi lagi. Tangan Hinata udah gemeteran gak karuan.
"Kenapa kau…"
.
.
.
.
.
.
"...memplester mataku?"
"..."
Lagi-lagi, Doeeeeeeng!
Hinata ngangkat wajahnya. Temu pandang sama Itachi yang mata kanannya ketutup plester darinya. Seperti sebelum, sebelum dan sebelumnya, dia langsung bungkuk-bungkuk minta maaf. Lagi-lagi Itachi mengibas-ngibaskan tangannya, bilang kalo itu gak masalah dan tolong jangan bersikap keterlaluan Hinata!
Dan tanpa rasa keadilannya itulah, Hinata menarik plester di mata Itachi secara langsung. Bikin bulu mata eksotisnya juga ikutan kecabut! Itachi meringis kesakitan dan Hinata minta maaf. Selalu begitu.
Hinata melangkah menuju lemari berwarna cokelat di ruangan itu.
"Itachi senpai ingin diambilkan sesuatu?" tanya Hinata lembut.
"Ngg..kalo ada, aku mau Bodrexin rasa jeruk aja!" jawaban dari Itachi ini sebenarnya bikin Hinata pengen ngakak gelundungan di lantai. Tapi gak jadi ah! Malu.
Hinata kembali ke tempat Itachi dan kembali meminta maaf. "Go-gomen…Bodrexin rasa jeruk-nya gak ada, senpai," katanya.
Itachi mengelus-elus tengkuknya. "Hinata..sebenarnya..aku-"
Plaak!
Dengan satu sabetan tangan dari Hinata, pipi Itachi langsung merah.
Lihatlah tanda, merah di pipi…bekas gambar tanganmu.
"K-kok aku ditampar? Aku kan belum bilang apa-apa!" protes Itachi. Tapi yang dia lihat adalah Hinata yang saat ini sedang menginjak-nginjak sesuatu dengan sepatunya. Kayak…kecoa?
Oke, rahasiakan kejadian ini dari Aburame Shino, siswa kelas 2-F yang mengabdikan diri juga membentuk klub bernama 'Insect Fans Club' kalo gak mau kena damprat sama orangnya.
"Ta-tadi di pipi Itachi senpai a-ada kecoa…"
Itachi sweatdrop.
"Hinata-chan!"
Sebuah suara, membuat Hinata dan Itachi menengok ke arahnya. Dari pintu muncullah sosok berambut kuning cerah dan tersenyum hangat ketika melihat orang yang dipanggilnya ada di sini.
Itachi mengenali si duren ini. Dia…
"Minato sensei!" seru Hinata sambil berjalan menghampirinya.
Itachi dibuang begitu aja.
"Ternyata kau ada di sini ya? Aku mencari-carimu daritadi!"
Hinata hanya mengangguk, malu-malu.
Namikaze Minato, guru mata pelajaran komputer yang terkenal di kalangan siswi-siswi Konoha High, sedang asyik berbincang-bincang dengan Hinata-nya!
Itachi ingat betul orang ini yang membentak-bentak Akatsuki karena Itachi menyuruh Naruto -anaknya- supaya nelen burung gagak utuh-utuh saat MOS.
Ya, laki-laki di depan Itachi yang pas mudanya masuk nominasi 'Ganteng Konoha' ini, sudah lama menikah…atau tepatnya duda beranak satu, dikarenakan istrinya [Uzumaki Kushina] meminta cerai dan memilih mengabdikan dirinya sebagai TKW sejati di Sunagakure.
Meski duda, Minato sensei adalah guru terfavorit di sekolah ini. Mungkin hal inilah yang menyebabkan sang istri meminta cerai akibat desakkan sadis dari fans club suaminya.
Namikaze Minato : Pengalaman duda, kualitas brondong!
Guru-guru di Konoha High School ini emang terkenal pada kece-kece! Sebut aja Utakata sensei yang biarpun punya hobi aneh [suka niup-niup gelembung sabun], tapi punya wajah yang oke punya. Terus Yashamaru sensei yang wajahnya girly abis, Kakashi sensei yang katanya bibirnya sumbing, tapi setelah maskernya dibuka, ternyata bikin Ayame –penjaga kantin sekolah- meleleh dibuatnya. Dan yang terakhir ini…Minato sensei yang punya senyum sehangat mentari di pagi hari sesuai dengan rambut kuning cerahnya.
Ini membuat siswa-siswa dituntut harus memiliki wajah ekstra dan juga duit ekstra! Jaga-jaga buat operasi plastik kalo wajahnya di bawah garis kemiskinan.
Kembali lagi ke adegan sebelumnya.
Hinata yang setia mendengarkan petuah-petuah bijak dari sang guru, semakin merona saja.
Sementara itu dari belakang, terlihat Itachi yang lagi gigit-gigit seprai UKS saking keselnya ngelihat adegan romantis ini.
"I-iya, sensei!"
Itachi udah komat kamit gak jelas. Hmm..terasa aura mistis nih!
Beranjak dari ranjang UKS, Itachi berjalan menghampiri Hinata. Menyelinap di tengah-tengah keduanya.
Dari kanan: Hinata-Itachi-Minato.
"Hinata, aku ke kelas dulu ya!" pamit Itachi. Dari belakang, Minato sudah berjinjit-jinjit karena yang bisa terlihat hanya kepala Itachi.
Hinata mulai merasa gak nyaman. "I-iya, senpai!"
Dan Itachi mulai melangkah pergi meninggalkan ruang UKS. Tapi sebelum itu, Itachi sempat memberikan tatapan menusuk pada Minato.
Minato menaikkan sebelah alisnya dan menatap ke arah Hinata. "Aku dipelototi," ucapnya.
-TBC-
Kata Ui :
Woaaaaahh! Pertama-tama saya mau minta maaf karena telat dalam pengapdetan fic satu ini. DX mau gimana lagi, kompie saya tiba-tiba mati begitu aja. Ah, tapi setelah diberi sentuhan tangan dari saya [baca: dibanting dan diulek-ulek] akhirnya kompie saya bisa nyala kembali. Alhamdulillah~sujud syukur saya!
Saya cuma bisa ber-mules ria pas ngetik chap ini. Kenapa pairingnya malah jadi MinaHina? Terus KBDei? Astajim!
Deidara: "Gue yang paling nista!"
Hinata: "A-ano..Minato-san-nya bisa ditukerin jadi Naruto-kun gak?"
Entah kenapa akhir-akhir ini saya punya penyakit gampang pusing. Sakit kepala. Gak kuat lama-lama nongkrongin hape dan layar monitor. Ada yang tahu obat sakit kepala?
Kakuzu: "DUIT!"
Haih, semoga Minna-san terhibur sama chapter kali ini. Walau yang butuh hiburan itu saya. Itachi, nyanyi buat aku donk!
Itachi: *ngambil gitar* "Dulu aku suka padamu, dulu aku memang sukaaa.."
Akatsuki: "Ya~ ya~ ya~"
Hadoh, udah..udah..makin pusing nih kepala! Yah, semoga chap kali ini berkenan dan gak ngebosenin deh! I hope…gomen juga buat bacotan saya yang panjang ini. Hehe
Masih mau dilanjutkah fic edan ini? review ya!
Akatsuki : Ya~ Ya~ Ya~
Ciao!
