Previous Chapter
"Hai, Hinata-chan, lama tidak bertemu." pemuda yang terlihat samar-samar familiar. Tidak asing bagi Hinata. Ia buka helm-nya perlahan lalu menyapa Hinata seolah pernah bertemu di masa lalu.
Hinata kaget untuk yang kedua kalinya melihat siapa yang memakai helm yang tadinya menutupi hampir keseluruhan mukanya itu. Hinata bersuara dan bertanya berharap ia benar-benar tidak salah orang–
"N-naruto-kun?"
….
Tentu saja pertemuannya dengan Naruto setelah bertemu di masa lampau membuatnya kaget hingga bingung harus berkata apa. Ia tidak begitu heran apabila suatu saat nanti ia akan bertemu Naruto sesampainya di Konoha. Tapi yang tidak ia duga, mengapa harus secepat ini? Mengapa tidak membiarkannya bersiap diri?
"Iya, ini aku. Ayo, cepat naik. Upacaranya sudah dimulai." Naruto memakai kembali helm yang tadi ia genggam. Hinata langsung menuruti perkataan Naruto. Si pemuda kuning menyiapkan motor Neji untuk kemudian terbebani, saat Hinata duduk menyamping di belakang tubuhnya.
"Pegangan yang erat, ya? Aku akan ngebut." Naruto nampak seperti menggumam dibalik parasnya yang tersembunyi, namun gumaman itu masih dapat terdengar oleh Hinata.
"Ha'i" Kedua tangan mungil Hinata ragu-ragu untuk meraih jaket orange Naruto, tapi ia tidak bisa mengulur waktu untuk hari sibuk yang indah ini.
Naruto menyalakan kembali motor Neji, lalu seperti tak sabar ia menjalankan motor itu melalui celah-celah yang cukup diantara kendaraan yang tak berkecepatan.
Kecepatan cukup tinggi yang masih berbatas wajar menghantarkan kedua insan itu ke universitas kebanggaan Konoha.
Mereka tak lagi melihat seseorang lalu lalang di halaman terbuka kampus kecuali beberapa security yang berjaga dan orang-orang yang sibuk mengurusi urusan masing-masing.
Sampai di parkiran, Naruto lalu mengajak Hinata masuk ke dalam kampus, tempat dimana upacara pembukaan dilaksanakan.
Hinata merasa bersalah ketika mendapati dirinya menjadi orang terakhir di barisan. Hinata tidak tahu dimana jurusannya berbaris. Ia ikut saja kemana Naruto mengajaknya.
"A-apa baik-baik saja untukku baris disini, Naruto-kun?" Hinata berbisik terdengar oleh beberapa pasang mata yang memperhatikan mereka saat mereka tiba di waktu yang luar biasa terlambat. Hinata hanya bisa menunduk dan menutupi wajahnya dengan beberapa helai rambut.
"Meski terlihat buruk, tenang saja Hinata-chan!" Naruto tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya, mencoba menenangkan Hinata yang kini berada tepat di depannya.
"T-tapi–"
Bletak! Bletak!
"Aduhhh!" Hinata dan Naruto sontak meringis kesakitan ketika tiba-tiba saja seorang dosen menimpuki kepala mereka dengan koran tergulung. Hal ini tentu saja membuat perhatian orang-orang itu kembali pada mereka.
"Diam dan dengarkan!" dosen killer itu marah-marah menyuruh mereka diam untuk mendengarkan pidato, ceramah atau apalah itu dari sang rektor.
Mereka pun menuruti sang dosen dengan berdiri diam dan menunduk sampai sang dosen beranjak pergi. Setelah kehilangan dosen dari penglihatan mereka, mereka berdua lalu tertawa kecil karena tindakan bodoh mereka.
Beberapa saat kemudian, upacara pembukaan akhirnya selesai, ditandai dengan bubarnya barisan-barisan yang semula rapi di aula kampus tersebut.
"Aku jurusan bisnis, Hinata-chan. Jadi kalau kau jurusan kedokteran kita satu arah dari sini." Naruto begitu ceria seperti yang selalu Hinata tahu soal Naruto sedari dulu. Mereka berjalan berdampingan karena kebetulan fakultas mereka akan menuntut ilmu satu arah dari aula.
"Iya, Naruto-kun. Ah iya, b-bagaimana kabarmu?" Hinata melirik pria disebelahnya.
"Seperti yang kau lihat, aku sehat Hinata-chan! Bagaimana dengan dirimu?" Hinata lagi-lagi dipertemukan dengan senyum lebar Naruto.
"B-baik juga." Hinata menunduk memperhatikan langkah kakinya agar menyamai langkah Naruto yang panjang.
"Kasih tau dong kalau kau mau kesini.." Naruto memelas karena dirinya tidak diberitahu Hinata akan kedatangannya ke Konoha. Tapi Naruto yang memelas bagi Hinata adalah hal lucu karena mukanya yang tidak cocok sama sekali untuk melakukannya.
"Gomen ne, Naruto-kun" Hinata tertawa kecil menanggapi Naruto yang memelas tadi, seolah permintaan maafnya tidak tulus. Tapi percayalah Hinata tulus kok orangnya.
"Huh.."
"Ah iya, Naruto-kun, bagaimana bisa kau yang menjemputku? Bukannya seharusnya Neji-nii?" Hinata menanyakan sesuatu yang mengganjal sejak ia melihat Naruto berhenti tepat disebelah mobilnya dengan Neji sebagai pemilik motor yang ia kendarai.
"Soalnya Neji minta tolong padaku. Ia lagi sibuk mengurusi sesuatu entah apa." Naruto mengendikkan bahu tanda tak mengerti atas apa yang Neji lakukan.
"Oh.." Ia memberi jeda "Makasih ya, Naruto-kun" menutupi raut keheranan yang dimilikinya, Hinata lalu tersenyum kepada Naruto.
Mereka terus berbincang menyusuri jalanan yang tak begitu besar melalui taman-taman kecil di kampus nan luas ini. Hingga tak terasa mereka akan berpisah di ujung jalan karena gedung fakultas bisnis yang akan ditekuni Naruto sudah terlihat di depan mata.
"Sampai jumpa, Hinata-chan!" Naruto melambai kepada Hinata yang perlahan menjauh dari keberadaannya saat ini.
"Daah!" Membalas lambaian Naruto, kepala Hinata menghadap Naruto yang merupakan arah yang berlawanan dengan jalan yang diambilnya. Ia terus melangkah seperti itu seolah tak peduli pada apapun yang ada didepannya.
Ketika kehilangan Naruto dipandangannya, Hinata lalu mempercepat langkahnya sebelum ia benar-benar berbalik. Dan–
Brukh!
Sekali lagi Hinata tertimpa kesialan. Ia baru saja menabrak seseorang yang entah siapa ketika berjalan tanpa melihat depan dengan benar dan seharusnya. Hinata tidak mampu lagi menahan kepergian keseimbangannya akibat apa yang baru saja terjadi.
Hinata meringis mendapati ia telah terjatuh ke lantai sementara orang yang ditabraknya tetap berdiri tegak didepannya akibat kekokohan yang ia punya.
Namun sayangnya pria yang Hinata tabrak itu tengah memegang segelas jus tomat yang sekarang tak lagi penuh karena sebagian isinya telah tumpah, mengenai baju si pemilik, permukaan lantai, dan juga tidak luput mengenai si penabrak.
"Ck. Sial.." suara baritone menyeruak masuk ke telinga Hinata meninggalkan rasa takut bagi Hinata karena kini ia telah ditatap tajam oleh sepasang onyx pembuat suara tersebut.
Hinata berdiri dari tempatnya terjatuh dengan perlahan dan kaku. Ia ingin meminta maaf tapi terlalu takut bersuara disebabkan onyx yang masih saja menatapnya tajam.
Hinata terdiam meratapi apa yang baru saja ia perbuat. Mencari masalah dengan orang yang salah, karena sepertinya orang itu bukanlah orang yang pandai memaafkan.
"M-ma–"
"Kau pikir apa yang kau lakukan hah?" pemilik raven itu menyela permintaan maaf Hinata seenak jidat dengan intonasi datar dan terkesan dingin.
"A-aku minta maaf, a-aku tidak sengaja, sungguh." Hinata berharap belas kasih dari seorang yang terlanjur murka. Namun sayangnya ia tahu, ini tidak akan semudah seperti yang ia harapkan.
"Kau harus bertanggung jawab." stoic yang berada di paras tampan pria itu seolah mengartikan ketidakpedulian. Ia lalu memasukkan sebelah tangan di sakunya, dan tanpa mendengarkan penjelasan Hinata, perlahan ia mendekatkan jarak diantara mereka, masih dengan ketajaman matanya tentu.
"Ma-maafkan aku, tapi a-aku benar tidak sengaja." Hinata yang menangkap sinyal berbahaya dari mendekatnya pria ravenitu, sontak melangkah mundur perlahan tanpa mengetahui bahwa ternyata pria didepannya saat ini ialah Uchiha Sasuke. Ya. Siapa lagi pemilik raven, mata setajam elang, dan wajah stoic selain dirinya di universitas ini?
Sasuke berhenti mendekat. Begitu juga Hinata yang berhenti untuk bergerak mundur karena ia pikir bahaya sudah berhenti. Tanpa diduga dan disangka Sasuke menaikkan sebelah tangannya yang memegang gelas, dan memuntahkan segala isi gelas yang tersisa ke atas kepala Hinata.
"Aku sudah kehilangan selera." begitu kata Sasuke dengan tanpa perasaan. Membiarkan gadis didepannya terdiam saat kini jus tomat itu telah membasahi sebagian besar tubuh mungilnya.
Hinata dengan mudah terisak sementara pria yang kini merangkap sebagai korban dan pelaku menatap kelam gadis didepannya.
Kejam. Jahat. Kenapa harus Hinata yang tertimpa segala kesialan ini?
"J-jahat. Hiks." Hinata kian menangis dan menutupi wajah dengan kedua tangannya, tanpa memperdulikan banyaknya pasang mata yang kini memperhatikan mereka berdua dan hanya berdiam diri melihat Hinata terluka–hatinya.
"Salahmu sendiri." Sasuke berjalan santai melewati Hinata setelah berujar datar. Tidak sekalipun berniat bertanggung jawab atas balasannya yang terlampau kejam terhadap Hinata.
Hinata menunduk sambil terus menangis memperhatikan penampilannya yang kini... tampak mengerikan. Ia memperhatikan kedua tangannya yang kini basah kemerahan.
Naruto yang mendengar keributan dan melihat kerumunan tidak jauh dari ruangannya, segera berdiri dan keluar ruangan karena ia pikir ada sesuatu yang terjadi disana.
Naruto yang membelah kerumunan terburu-buru, tiba-tiba saja kaget dengan apa yang dilihatnya dibalik kerumunan itu. Hinata yang tak lagi baik-baik saja, Hinata yang terlumuri jus tomat di sekujur tubuhnya.
Naruto langsung berlari mendekati Hinata dan membawa Hinata keluar dari kerumunan tak manusiawi itu.
"Mana ada 'manusia' yang diam melihat ini! Kalian bodoh!" Naruto mengata-ngatai orang-orang yang berkerumun disekitar mereka meskipun ditanggapi biasa oleh yang dikata-katai itu.
Hinata tambah menangis. Entah kenapa, ia hanya tidak sanggup menerima ini.
Naruto yang prihatin, berbaik hati mengantar Hinata ke toilet– perempuan tentu saja. Namun sebelum itu ia bersihkan dahulu apa yang melumuri kepala, tangan dan kaki Hinata dengan beberapa lembar tisu, agar daftar nama orang-orang yang melihat kondisi buruk Hinata tidak semakin panjang.
Meski ini hari pertama Hinata kuliah tapi nampaknya ia harus pulang hari ini. Tidak peduli apapun itu, ia hanya ingin pulang.
.
.
.
.
Hinata sampai ke mansion nya setelah diantar oleh Naruto, tentu saja sebelumnyà ia telah membersihkan tubuhnya meski tidak bersih sempurna.
Dalam perjalanan pulang, Hinata memakai jaket Naruto menutupi sebahagian noda tomat yang tidak bisa hilang hanya karena air.
"Hinata-chan aku pamit, ya. Sampai jumpa." Naruto mencoba tersenyum tulus agar Hinata tidak semakin terbebani. Setidaknya hari ini saja, ia berharap Hinata tidak terlalu menderita.
"Makasih banyak, Naruto-kun. A-aku tidak tahu harus bagaimana lagi jika tanpamu." Hinata menunduk malu. Ia tidak mau lagi Naruto khawatir padanya. Cukup hatinya lah yang merasakan kepahitan ini.
"Tenang saja, Hinata-chan. Aku akan selalu ada untukmu!" ya, Hinata tahu. Naruto selalu ada untuk Hinata saat ia membutuhkan. Sedari dulu sekali.
Naruto kembali ke kampus setelah pamit kepada Hinata.
Hinata yang kini seorang diri di kamar setelah benar-benar membersihkan dirinya dengan mandi kembang 7 rupa, ia ulang ingatan mengenai kejadian tadi pagi.
Kalau dipikir-pikir, Hinata merasakan tindakan seperti itu tidak hanya sekali. Berulang kali malahan. Tepatnya saat ia menghabiskan masa SD di Konoha.
Waktu itu, Hinata dianggap anak yang manja dengan pengawalan disana-sini. Pergi kemanapun dengan mobil mewah. Wajahnya yang cantik selalu bersinar bak putri. Hal-hal tersebut menimbulkan perasaan iri di mata teman-teman sekolahnya.
Alhasil Hinata selalu menjadi korban tindakan bullying. Ia disirami air, dilempari batu hingga dahinya terluka, dikatai habis-habisan, didorong jatuh berulang kali, dan lain sebagainya yang bahkan Hinata tak tahu sudah berapa kali ia mengalami hal-hal tersebut.
Tapi Naruto, kakak kelasnya yang setia berteman dengan Hinata selalu ada disana. Membantu Hinata setiap kali terkena kesialan. Mengantar Hinata tiap kali ia butuh. Melindungi Hinata dengan punggungnya dari batu-batu yang terlempar ke arahnya. Semuanya dilakukan oleh Naruto untuk membantunya.
Hinata bahkan selalu mencoba untuk menyembunyikan tindakan bullying yang ia rasakan–kepada orang tuanya– agar ia tidak akan meninggalkan sekolah itu dan juga Naruto.
Apa tindakan heroik Naruto tersebut yang membuat Hinata merasa kagum dan tertarik kepadanya? Mungkin itu alasan yang tepat untuk mengatakan bahwa ia selalu nyaman saat berada didekat Naruto. Tidak ada pria lain selain dia dan Neji yang Hinata percayai.
Hinata ingat betul setiap tindakan bullying yang berhasil ia lewati, salah satunya saat..
Flashback On
Hinata's POV
Aku membawa bekal hari ini. Takut saja jika aku pergi ke kantin, tindakan seperti kemarin akan terjadi lagi padaku.
Disemprot sebotol cola. Ya, bahkan aku tidak mau meminum sejenis cola lagi.
Aku melangkahkan kaki mungilku ke dalam kelasku, kelas 5-1. Hanya selangkah saja kakiku menginjak lantai kelas, sudah ada beberapa pasang mata yang melirikku tajam melalui sudut mata mereka.
Entah kenapa, ini semua tidak juga berakhir. Aku hanya ingin pergi main sama Sakura-chan dan Naruto-kun. Aku mau bolos saja.
Tapi, Sakura-chan dan Naruto-kun tidak pernah absen selama ini kecuali beberapa sakit dan izin. Selebihnya mereka selalu ikut belajar di sekolah. Kalau mereka belajar, aku main dengan siapa?
Aku terus berjalan menuju bangku punyaku di ujung kelas, melewati teman-teman sekelasku yang sedari tadi memperhatikanku dari kepala, pundak, lutut dan kaki. Ada yang salah sama seragamku? Apa lagi yang salah?
Sesampainya di tempatku duduk, aku menyapa Sakura-chan yang duduk disampingku.
"Ohayou, Sakura-chan" aku memperlihatkan senyumanku yang termanis, melupakan tatapan teman-teman.
"Ohayou, Hinata-chan." Sakura-chan membalas senyumanku. Aku sangat bahagia karena senyumannya. Bagai sebuah bintang yang bersinar di langit yang gelap, menyisakan setitik harapan atas semua yang kualami selama ini.
"Sakura-chan bawa bekal? Aku bawa hari ini." aku merendahkan tubuhku menduduki bangku, masih dengan mata yang menatap Sakura-chan.
"Kebetulan aku bisa bawa hari ini." Sakura-chan yang cantik dengan rambut merah mudanya, lalu menunjuk sebuah tas kecil yang menurutku itu berisi bekalnya.
. . . . . . . . . . .jam istirahat. . . . . . . . . .
"Aku meninggalkan bekalku di loker, aku kesana dulu, ya?" Aku langsung berlari setelah pamit dengan Sakura-chan tepat saat jam istirahat dimulai. Bekalku sengaja kusimpan di loker agar tidak memberatkan bawaanku ke kelas..
Lokerku ini agak sedikit jauh dari kelas. Cukup melelahkan memang, tapi aku tetap berlari kecil hingga kutemui lokerku yang berada ditengah loker-loker yang lain.
Kubuka loker bernomor 16 yang berwarna putih gading milikku. Aneh, tidak terkunci.
Aku menemukan sesuatu mengejutkan.
Kenapa? Aku membatin histeris. Lokerku yang entah bagaimana bisa dibuka, berantakan disetiap sudutnya. Isi bekalku yang semula segar dan menarik, tersebar tak karuan di dalam sana yang kini telah membusuk dan mengeluarkan bau tak sedap.
Buku-bukuku sudah dilekati oleh nasi dari bekalku. Dinding lokerku tak lagi berwarna putih gading bersih, melainkan berwarna merah akibat saus.
Mereka berhasil membobol lokerku dan merusak segalanya. Mereka juga tidak lupa memasukkan beberapa sampah dan cacing tanah ke dalam !
Aku mundur beberapa langkah sambil menutup hidung dan mulutku seraya menggeleng akibat bau dan kesedihan atas rusaknya bento buatan Ibu.
'Ibu membuatnya susah payah, hiks' aku terisak tak kuasa menahan perasaan ini. Aku jatuh berlutut ketika cacing-cacing itu perlahan mulai jatuh dari lokerku ke lantai seolah menantangku untuk tetap bertahan. Tidak lama, aku mendengar seseorang atau mungkin beberapa, tengah tertawa riuh mungkin karena aku.
"Hahahaha, lihat wajahnya...lucu sekali." Aku tersentak kaget ketika mendengarnya. Aku menengadahkan kepalaku untuk melihat ke mana tawa itu berasal.
Aku melihat sekumpulan anak perempuan sedang tertawa terbahak-bahak bersama, sambil melihat keadaanku yang kini berlutut sambil menangis.
"Makanya, jangan sok cantik." mereka mengataiku lagi. Untuk saat ini, aku sudah tidak kuat lagi.
Kuhentikan tangisku, meski sejenak masih terisak. Lalu kutegapkan tubuhku yang semula berlutut. Kemudian, tanpa beban aku berlari kencang ke arah mereka sudah dengan sebotol air minum ditanganku yang kubawa dari kelas.
Kusirami mereka dengan air dari botolku. Aku tidak tahu angin apa yang membuatku bertindak seberani ini. Aku juga tak tahu apa yang telah merasukiku.
Sejenak mereka berhenti tertawa. Mereka memperhatikan satu sama lain hingga akhirnya mereka mendekat, menyudutkanku, berteriak dan mengancamku..
"Apa-apaan kau?!" aku tidak mengerti.
"Bodoh!" apa yang membuatku begitu kalian benci?
"Aku tidak akan berhenti menganggumu!" t-tidak bisa? Kenapa?
"Kupastikan besok sudah ada kecoak dan tikus di lokermu, Bodoh!" jangan kecoak, mereka menjijikkan. Kumohon.
"Kau pikir kekayaanmu bisa menghentikan ini semua?" aku hanya bisa menutup kedua telingaku.
"CUKUP!" sesosok anak laki-laki berlari dan berhenti didepanku. Merentangkan kedua tangannya setelah meneriaki mereka, seolah melindungiku.
Anak laki-laki itu memilili rambut kuning nan jabrik. Dari belakang tubuhnya seperti lebih tua dariku. Kakak kelas ya?
"Apa kalian pikir kalian pantas menyakiti orang lain?!" ia kembali meneriaki mereka membuat mereka tersentak karena intonasinya yang terlalu tinggi.
"K-kami–"
"Sekali lagi kalian mengganggu anak ini, aku berjanji kalian akan segera dikeluarkan!" kakak itu masih didepanku menghindarkanku dari pandangan mereka.
Terlihat nyali mereka menciut. Dimarahi kakak kelas, tentu saja mereka takut. Apalagi ketahuan seperti ini.
Setelah mereka berlari kocar-kacir, kakak itu mendekatiku dan bertanya
"Kau sudah tidak apa? Mereka itu bukan manusia, jangan didengarkan, ya?" kakak itu mengepalkan satu tangannya yang sedikit terangkat.
"Te-terimakasih, senpai.." Aku memilih tidak menjawab pertanyaannya dan langsung berterimakasih.
"Ah ya, namaku Uzumaki Naruto! Kau bisa memanggilku Naruto!" kakak itu terlihat nyengir dibalik wajah beraura matahari itu. Ia tersenyum padaku. Seorang sebaya selain Sakura-chan tersenyum padaku?
"A-aku akan memanggil Naruto-senpai saja." aku menolak untuk memanggilnya begitu, aku akan menghilangkan rasa hormatku padanya. Itu kan tidak baik..
"Tenang saja. Tapi aku lebih nyaman dipanggil Naruto sih…" dia tampak memelas dan sedih ketika mengetahui aku menolak memanggilnya seperti itu. Melihat wajahnya berubah drastis begitu, aku turuti saja dia–
"N-naruto-kun bagaimana?" –tapi menambah suffix -kun dibelakangnya.
"Aku lebih suka dipanggil begitu!" Naruto-kun tampak bahagia ketika aku memutuskan untuk memanggilnya seperti yang kusebut tadi.
"I-iya.."
"Itu lokermu?" aku mengangguk. "Astaga! Kotor sekali." lanjutnya sambil mendekati lokerku yang masih terbuka.
"Aku akan bersihkan untukmu!"
"J-jangan biar aku saja.." aku buru-buru menghentikan langkah Naruto-kun untuk menuju lokerku. Lagipula ini sangat mengerikan untuk dibersihkan olehnya.
"Aku sudah biasa kok dalam hal membersihkan!" Naruto-kun kembali bersemangat seolah menjawab pernyataan dalam otakku. "Aku sering membersihkan rumahku seorang diri, lho!"
"T-tidak.." aku menggeleng ke arahnya.
Naruto-kun tampak berhenti dan berpikir karena aku terus-terusan menolak tawarannya untuk membersihkan lokerku.
"Nah!" setelah berpikir beberapa saat, sepertinya ia telah menemukan sebuah jawaban. "Aku akan membelikanmu makan untuk menggantikan bekalmu dan kau tidak bisa menolaknya." Naruto tersenyum penuh kemenangan. Bagaimana bisa aku terus menolaknya?
Flashback Off
Hinata kembali memutar memori lamanya saat pertama kali bertemu Naruto. Bahkan sejak muda, sudah ada jiwa suka menolong dari diri Naruto. Apakah itu keberuntungan bagi seorang Hinata yang lemah untuk berada didekat Naruto ?
Hinata mengambil napas sejenak lalu dihembuskannya. Ia tidak tahu pasti apa sebabnya, hingga ia menderita sedemikian rupa atas semua ini.
Hinata lelah. Itu sebabnya ia saat ini membaringkan tubuhnya sembari memejamkan kedua kelopaknya. Membiarkan udara memasuki kamarnya melalui balkon, agar ia dengan mudah mengolah oksigen dalam paru-parunya hingga ia tidur terlelap.
.
.
.
.
Di suatu tempat yang lain, terdengar seorang pria paruh baya sedang bercakap-cakap serius dengan seseorang diseberang mejanya.
"Jadi, apa yang kau temukan?" pria yang bertanya itu tampak menuntut suatu jawaban dibalik wajah tanpa ekspresinya itu.
"Dari yang kutemukan, anak sulungnya bernama Hyuuga Hinata. Ia kuliah di Konoha University sedangkan anak bungsunya, Hyuuga Hanabi bersekolah di Konoha Middle School," jelas pria yang lain sambil menatap balik orang yang menanyainya. Tidak lupa menyerahkan beberapa foto yang menampilkan gadis berambut panjang, serta gadis yang hampir serupa dengan gadis sebelumnya namun berusia lebih muda.
"Ini menarik. Hyuuga sulung kuliah di tempat yang sama dengan Sasuke," pria paruh baya itu menarik salah satu sudut bibirnya menyiratkan suatu ketertarikan atas apa yang baru didengarnya. Ia mengambil foto gadis berambut panjang dari atas meja lalu membaliknya untuk melihat informasi lain yang telah dituliskan disana.
"Panggil Sasuke untuk menemuiku," lanjutnya memerintah.
"Baik, Fugaku-sama."
Bos besar itu ialah Uchiha Fugaku. Ayah dari Uchiha Sasuke.
.
.
.
.
Sasuke's POV
Apa yang dipikirkan gadis bodoh itu? Seenaknya saja menumpahkan jus tomat mengenai bajuku.
Tidak terima atas perlakuannya terhadapku, aku pun membalas perbuatannya. Aku tidak peduli dengan apa yang akan kalian katakan. Aku benar-benar kehilangan selera, jadi aku berikan saja padanya.
Tidak peduli juga apa dia perempuan atau pria sepertiku, akan kuperlakukan sama seperti tadi jika dia siapapun itu berani mencari perkara denganku.
Setelah membersihkan sisa tomat di bajuku yang tidak sepenuhnya hilang, aku memakai jas kuliahku sebagai siasat agar nodanya tidak terlihat.
Malas pulang ke rumah atau pergi ke suatu tempat untuk membeli baju. Aku hanya.. malas.
Aku kembali ke fakultasku setelah mengalami insiden tadi yang menurutku sangat merepotkan. Aku tidak juga peduli terhadap orang-orang yang melihatku membalas gadis itu. Meski saat ini, mereka mungkin sedang mengataiku di setiap bisikan. Sekali lagi, aku malas tahu.
Aku kembali menekuni aktivitas melelahkanku di fakultas ini. Saat aku memasuki ruangan, aku tidak melihat Naruto dimanapun.
Biasanya dia yang paling semangat menempuh perkuliahan bisnis ini, tidak denganku. Tapi ia tidak hadir hari ini?
Beberapa saat lamanya telah kami lewati dengan memulai pelajaran yang membosankan. Tapi tiba-tiba saja Naruto datang setelah entah darimana.
"Maaf, Tsunade-sensei. Aku terlambat." Naruto memasuki ruangan dan membungkuk hormat kepada Tsunade-sensei. Tidak terlepas dari nafasnya yang terengah-engah, ia pasti habis berlarian.
"Darimana saja kau Naruto?!" Tsunade-sensei sepertinya marah besar. Seluruh penghuni kelas tampak berdiam diri. Bagus, mereka tidak lagi berisik seperti biasanya. Tapi sama saja kalau keheningan ini diisi teriakan amarah seorang Tsunade.
"A..aku habis mengantar temanku yang sakit pulang ke rumahnya, sensei." Naruto tampak gugup diwawancarai seperti itu. Aku menaikkan salah satu sudut bibirku tipis melihat ia dimarahi sensei. Seringkali ia dimarahi, aku hanya tidak tahan melakukannya. Entahlah.
"Kau rela meninggalkan pelajaran ini demi menjadi pahlawan? Belajar saja sana sama temanmu itu!" dia melanjutkan marahnya.
"Apa sensei tega melihat seseorang yang sedang sakit dan butuh bantuan ditinggalkan sendirian tanpa siapapun disana untuk tempatnya bersandar? Dimanakah hati nurani Anda, sensei?" dengan nada yang kutahu itu dibuat-buat, ia terlihat seakan-akan mencurahkan isi hatinya lalu mempertanyakan dimana letak hati nurani Tsunade-sensei hingga akhirnya sensei berambut pirang itu tidak mampu lagi membendung amarahnya.
"Kau keluar atau aku yang pergi?!" Tsunade-sensei memberi pilihan. Lalu sejenak Naruto memperhatikan kami teman satu perguruannya. Ia tampak mengasihani jika kami tidak mendapat pelajaran dari sensei.
"Aku yang akan pergi!" setelah Naruto berpikir, ia berkata dengan tegas lalu meninggalkan ruangan tanpa Tsunade-sensei sempat berucap. Sebenarnya Naruto bisa saja meminta maaf tanpa memberi jawaban atas pilihan yang tadi, tapi Naruto malah menanggapi serius ucapan Tsunade-sensei dan pergi begitu saja. Naruto memang bodoh orangnya.
Aku memutar mataku malas. Haruskah pelajaran dilanjutkan?
.
.
.
.
Normal POV
Sasuke berjalan menyusuri koridor menuju kantin kampus. Ia ingin mengisi perutnya yang lapar karena kurang asupan jus tomat. Karena seperti yang kita tahu jus tomatnya tadi dihabiskan percuma.
Selain itu, Sasuke tahu kemana Naruto akan berlabuh ketika diusir dari kelas. Tentu saja kantin.
"Sasukeeeeee!" Naruto berteriak dari kejauhan seperti seorang gadis ketika melihat Sasuke berjalan ke arah mejanya.
"Berisik!" Sasuke memiringkan tangannya sehingga telapaknya menyamping, lalu memukul kepala Naruto tepat ditengah.
"Ittai!" Naruto memegangi kepalanya yang baru saja Sasuke sakiti.
"Kenapa kau tidak memilih sensei saja yang pergi?" Sasuke duduk didepan Naruto setelah memesan jus tomat.
"Masa' aku kurang ajar seperti itu?" Naruto mengelak. Padahal ia ingin teman-temannya tetap belajar agar tidak tertinggal pelajaran, Naruto memang punya hati yang baik.
"Kau pikir meragukan hati nurani seorang Tsunade tidak kurang ajar?" Sasuke melipat kedua tangannya di dada lalu melirik Naruto yang berada di seberang meja.
"Ya, bagaimana lagi? Temanku tidak bisa kutinggalkan." Naruto tampak mengeluh pasrah lalu meletakkan wajahnya diatas meja bulat kantin.
"Temanmu?" Sasuke terlihat penasaran.
Seolah kembali bersemangat dengan topik pembicaraan, dengan cepat ia mengangkat kembali wajahnya lalu menghadap Sasuke.
"Ya! Temanku sebenarnya tidak sakit. Ia baru saja disirami jus tomat pagi tadi. Menurutmu, manusia siapa yang tega berbuat hal kejam begitu padanya?" Sasuke mengernyit. Disirami jus tomat? Apa itu gadis yang menabraknya tadi?
Sasuke berkutat dengan pikirannya sendiri.Jadi gadis itu teman Naruto? batinnya.
Sasuke yang sedari tadi melamun, membuat Naruto bertanya-tanya.
"Hei, jangan melamun!" Naruto berujar demikian setelah menepuk kedua tangannya beberapa senti di depan wajah Sasuke.
"Hah?" Sasuke tersadar.
"Kau mendengarkanku?" Naruto sedikit memiringkan wajahnya bertanya.
"Hn."
"Jadi siapa menurutmu?" Naruto melanjutkan.
Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Sasuke bersuara.
"Aku." Sasuke mengakuinya sebagai seorang gentleman.
"Apa?" Naruto belum juga connect dengan apa yang temannya satu itu ucapkan.
"Jika ia seorang gadis berambutpanjang, maka pelakunya adalah aku. Jadi apa yang akan kau lakukan?" Sasuke malah menantang Naruto. Naruto yang daritadi bingung, menatap Sasuke dengan tatapan tak percaya.
"Teme! Apa kau tahu yang kau lakukan?!" Naruto teriak-teriak tidak jelas membuat orang-orang yang mendengarnya memusatkan perhatian ke arah meja mereka. Seperti yang biasanya terjadi.
Sasuke mengendikkan bahunya membalas pertanyaan Naruto.
"Salahnya yang tiba-tiba saja menabrakku," lalu ia mengalihkan pandangannya malas.
"Tidak begitu juga caranya!" Naruto mencengkram kerah kemeja Sasuke seraya bangkit dari duduknya. Orang-orang yang masih melihat mereka tidak dipedulikan oleh kedua orang itu.
"Bagaimana lagi? Aku kelepasan. Jus tomatku sudah berhambur–"
"Tidak begitu juga caranya!" Naruto mengulangi lagi kalimatnya seolah tidak ada kalimat lain.
"Sebaiknya kau meminta maaf." lanjut Naruto sambil melepaskan cengkraman tangannya pada kerah Sasuke dan kembali duduk.
Sasuke tampak mendiamkan Naruto karena ia kembali mengalihkan pandangannya.
"Kau tahu? Dia anak yang baik. Ini hari pertamanya kuliah dan kau sudah menghancurkan harapannya." Naruto melanjutkan.
Sasuke lagi-lagi diam.
"Sasuke, berbaikanlah dengannya. Dia itu–" kini kalimat Naruto berhasil disela oleh Sasuke.
"Aku tidak mau meminta maaf. Lagipula dia yang salah karena telah menabrakku dan mengotori bajuku." Sasuke menatap tajam pria bersurai kuning di depannya.
"Ini urusanku dengannya. Kau tidak perlu ikut campur dan hentikan pembicaraan mengenai ini," Sasuke berujar sarkastik tanpa memperdulikan Naruto yang sekarang kembali lesu dihadapannya.
Mungkin Sasuke memang kelewatan. Tapi meminta maaf? Itu hal yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang Uchiha.
.
.
.
.
Sasuke sudah selesai kuliah ketika ia mendapat panggilan dari asisten ayahnya agar ia langsung menemui sang ayah usai kuliah.
Dengan perasaan bertanya dalam dirinya, Sasuke kembali ke rumah mengendarai BMW kesayangannya.
Setelah beberapa saat menyusuri jalan Konoha yang cukup ramai, ia lalu memasuki kawasan mansion Uchiha memarkirkan mobil di tempat biasanya, lalu berjalan menuju ruang kerja ayahnya seraya mencengkram jasnya yang disampirkan sembarang di bahu, sedangkan satu tangan yang lain ia masukkan ke dalam saku celananya.
Sasuke mengetuk dua kali pintu ruang kerja ayahnya. Tanpa menunggu balasan, ia memutar kenop pintu yang ternyata tidak terkunci dan langsung masuk ke dalam.
Fugaku yang mendapati anaknya masuk tanpa ia persilahkan lalu memperlihatkan senyum tipisnya.
"Wah, wah. Kau sudah cukup besar rupanya untuk masuk tanpa kupersilahkan." Fugaku menarik sudut bibirnya ke atas seraya mempertemukan kedua tangannya dalam suatu genggaman.
"Apa maksud ayah memanggilku?" Sasuke tidak betah berlama-lama disana jadi ia langsung saja to the point.
"Kau akan kupindahkan ke fakultas kedokteran." Fugaku berujar dengan santainya, tanpa menghiraukan Sasuke yang kini dibuat bingung olehnya.
"Apa?" Sasuke tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja ia akan dipindakan ke fakultas kedokteran. Apa lagi yang akan ia hadapi?
"Dulu ayah memaksaku masuk ke fakultas bisnis untuk melanjutkan perusahaan payah milik ayah ini. Sekarang apa maksud ayah menyuruhku pindah ke kedokteran?" Sasuke menahan amarahnya. Ia pusing karena bolak-balik ayahnya memaksa dirinya melakukan sesuatu yang tidak ia mengerti.
"Balaskan dendamku dengan membuat anak sulung Hyuuga menderita. Aku memindahkanmu ke kedokteran agar kau lebih mudah melaksanakan perintahku ini." Fugaku panjang lebar memberikan penjelasan kepada anaknya, tapi sama saja Sasuke tidak mengerti. Kenapa harus dia? Kenapa juga dia harus terlibat?
"Aku tidak ingin ikut bermain dalam permainanmu, ayah. Lagipula dendam ayah itu bukanlah urusanku." Sasuke masih dalam mode menahan emosi. Ia tidak ingin repot-repot melakukan hal yang tidak berguna karena umpan ayahnya ini.
"Oh, begitu? Apa ini akan jadi urusanmu jika aku .., " Fugaku memberi jeda di tengah kalimatnya membuat Sasuke menaikkan sebelah alisnya. ".. kembali melaksanakan rencana yang dulu gagal?" Fugaku menampakkan sebuah seringaian.
Sasuke tersentak, tapi masih dengan sikapnya yang tenang ia mampu menatap balik ayahnya.
"Kenapa juga aku harus melakukannya?" Sasuke mencengkram jari tangannya dibalik kedua tangannya yang terlipat. Ia hanya geram menghadapi ayahnya yang akhir-akhir ini terlihat menyebalkan.
"Tentu saja aku telah memikirkan konsekuensinya jika kau tidak menurutiku. Aku tidak akan lagi menganggapmu sebagai anak, kuusir kau dari rumah ini, dan kupastikan semua perusahaan atau apapun itu tidak akan menerimamu untuk bekerja." Fugaku yang jarang banyak bicara, harus meninggalkan kebiasaannya itu untuk kali ini. Namun, ia tidak ingin melupakan kesan solid Uchiha yang ia punya yaitu dengan cara memberi tekanan di setiap katanya.
Sasuke mendengus mendengar tutur kata ayahnya tapi ia tetap terdiam di tempat ia berpijak, hingga akhirnya Fugaku melanjutkan kalimatnya.
"Intinya, jika kau tidak dapat memilih salah satu antara menikah atau 'melukai', aku yakin kau akan hidup menderita. Sangat. Menderita." penekanan Fugaku yang itu lagi. Sekarang kalian tahu kan apa rencana yang dulu gagal?
"Baiklah." Sasuke tahu benar kekuasaan ayahnya yang satu ini. Apa saja bisa ia dapatkan, termasuk menghilangkan nyawa sekalipun. Oleh karena itu, Sasuke memilih untuk memikirkan kebahagiannya di masa depan. "Tapi berikan aku waktu untuk berpikir." Sasuke melanjutkan.
Fugaku mengangguk sekaligus menyeringai. "Ya, ya. Aku tahu kau tidak bisa menolak. Ingat, jangan terlalu lama berpikir." Fugaku lalu kembali berkutat dengan berkasnya yang sebelumnya ia tinggalkan untuk menerima kehadiran anaknya.
Tanda-tanda ayahnya telah mengabaikannya telah nampak, namun Sasuke tetap diam. Ia tak kunjung beranjak dari ruang kerja ayahnya itu.
Fugaku yang heran karena Sasuke tidak juga pergi, kembali menatap anak bungsunya tersebut.
Setelah ditatap ayahnya, Sasuke lalu mengeluarkan pertanyaan yang dari tadi berputar di kepalanya.
"Kenapa ayah ingin balas dendam?" Sasuke masih dengan posisi yang sebelum-sebelumnya. Berdiri, melipat tangan di dada, dan menatap ayahnya–tajam. Sepertinya mata tajamnya tidak akan pernah bisa tumpul di situasi macam apapun.
"Aku akan memberitahumu lain kali. Aku sibuk saat ini." Fugaku mengambil penanya lalu mengisi berkas yang ia ambil dari tumpukan di meja.
"Lalu, siapa yang ayah mau aku .. lukai ?" Sasuke masih saja bertanya. Ia ikut-ikutan banyak bicara hari ini.
Fugaku menegakkan tubuhnya seolah baru teringat akan sesuatu. Ia lalu mengambil salah satu foto di dalam suatu map lalu memberikannya kepada Sasuke.
Sasuke yang penasaran langsung saja mengambil foto itu.
Belum lama ia melihat foto itu, ia cukup terkejut karena sepertinya ia baru saja menemui gadis dalam foto itu hari ini. Tentu saja gadis yang menabraknya sembrono dan gadis yang ia permalukan hari ini. Sasuke tampak menyeringai setelah memperhatikan foto itu. Lalu ia kembali bersuara.
"Sepertinya tidak membutuhkan waktu yang lama." Sasuke masih memperhatikan foto di tangannya.
"Hn?" Fugaku mengangkat wajahnya lagi ingin mengetahui lebih lanjut apa yang ingin anaknya itu katakan.
"Tidak perlu menunggu lama untuk jawabanku. Aku memilih pilihan kedua."
TO BE CONTINUED
Author's Note
Hi minna, maafkan aku yang menyakiti Hinata di chapter ini :'v huhuu. Zuha mau bikin cerita yang pahit-pahit di awal tapi manis-manis diakhir gitu :'D. Terimakasih kepada semua yang menyempatkan review, follows, dan menjadikan fanfict ini sebagai favourite (serta menjadikan Zuha sebagai Author favorit anda ;D).
Sudut Balas Review
HipHipHuraHura - iya, ini Sasuhina kok. Padahal Zuha udah ngepairin tapi kayaknya ada error sedikit. Yang kemarin di hapus karena kurang pede. Uhuk.
Shionna Akasuna - semoga aku sempat ya masukin Narusaku~ plak.
Miyuchin2307 - membaca review mu aku terharu soalnya ini fanfict pertama yang aku pertahankan eak. Mereka musuhan mungkin akan dijelaskan di chapter berikut. Sabar menunggu yaa. Arigatouu
Lovely Sasuhina - belum lama kok musuhannya. Akhirnya Sasuhina ketemu disini tapi maaf tidak sesuai yang kalian harapkan :'3 huhuu
NillaariezqysekarrSarry470 - waw sulit sekali menulis namamu :v daijoubu kok. Makasih telah memberiku semangat :'v semoga memuaskan ya.
