"Hei Jimin, kemarilah! Cepat, sebelum kita tertangkap oleh Bibi Kepala." ujar Seungcheol sedikit berbisik, mengantisipasi suaranya itu dapat membangunkan orang lain yang tentunya akan menggagalkan rencananya.

"T-Tapi nampaknya ini semua bukan ide yang baik..." Jimin terlihat tak yakin, ia tetap berdiri tak nyaman di balik pohon maple yang berdiri kokoh di hadapan panti mereka, yang daunnya selalu berjatuhan hingga mereka harus menghabiskan waktu lebih lama diluar pada pagi hari untuk menggaruk daun-daun yang berserakan di halaman.

Ini bulan September. Saat dimana belahan bumi utara akan melembutkan sedikit temperatur udaranya setelah musim panas yang panjang, dan saat dimana pepohonan mulai menggugurkan dedaunan yang tertata rapi pada dahannya. Musim gugur, yang berarti udara akan sangat dingin di malam hari. Walaupun tidak sedingin saat musim dingin, tentunya.

Surai kecoklatan terlihat menyembul keluar dari pintu utama, lalu menguncinya kembali. Sosok yang mengenakan sweater rajut tebal berwarna beige itu melemparkan pandangannya pada sosok Jimin yang berbalut coat tua besar yang diberikan padanya pada natal tiga tahun lalu, saat panti mereka menerima cukup banyak dana dari seorang donatur kaya. Kim Taehyung, sosok itu kini beralih membantu seorang temannya lagi—Seungcheol—untuk membuka gerbang panti mereka, yang biasanya mereka lakukan berdua.

Sekali lagi, Jimin berusaha untuk meyakinkan kedua temannya sekali lagi. Bahwa ide menyelinap di malam hari untuk pergi ke kota adalah sebuah ide yang benar-benar konyol. Jimin merasakan firasat buruk mengenai hal itu, dan firasatnya selalu benar. Ia berusaha meyakinkan Taehyung dan Seungcheol berkali-kali namun mereka malah berkata bahwa Jimin itu pengecut. Karena tidak suka direndahkan, ia akhirnya setuju untuk pergi. Namun lagi-lagi, keraguannya muncul di saat setelah mereka hampir melangkahkan kaki keluar dari panti.

Jimin menarik nafas panjang. Ia sudah merancang sebuah kalimat yang ia yakin akan membuat kedua temannya itu mengurungkan niatnya. "Tunggu, kalian yakin ini tak apa? Kalau ketahuan melanggar, maka..."

"Justru lebih berbahaya kalau kita tertangkap sekarang. Ayo, Jimin!" sementara Taehyung yang baru saja selesai membobol—atau lebih tepatnya, membuka dengan paksa—gerbang panti asuhan mereka menarik paksa lengan Jimin sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya. Jimin melihat sekilas pada pintu gerbang yang baru saja dirusak oleh Taehyung, dan ia yakin kalau Bibi Kepala pasti akan uring-uringan jika mengetahui gerbang panti itu dirusak oleh anak asuhnya sendiri.

Sejujurnya, terlepas dari semua firasat buruknya, Jimin tidak ingin pergi. Dia tidak ingin terlibat dengan 'Kehidupan Menyenangkan Dunia Luar' milik Kim Taehyung yang terdengar amat sangat liar di pendengaran Jimin. Terakhir kali Jimin melakukan kejahatan adalah ketika Seungcheol memaksanya untuk mengambil kain sulaman seorang biarawati yang baru saja datang ke panti mereka. Tentu saja akhirnya ia tertangkap basah, namun biarawati tersebut tidak memarahinya melainkan membuatnya harus mengakui dosanya tersebut di kapel, dan itulah saat-saat yang paling Jimin benci karena ia menganggapnya memalukan.

Taehyung dan Seungcheol ada disana, mencuri dengar apa yang Jimin akui di hadapan sang pastor. Dan sialnya, Jimin tidak hanya mengakui perbuatannya yang mengambil kain milik biarawati, namun hal-hal lain yang pernah ia lakukan di masa lampau. Sejak saat itu, Taehyung dan Seungcheol bak menemukan jarum di tumpukan jerami. Rahasia Jimin ada pada mereka, membuatnya tidak bisa menolak apapun yang mereka perintahkan. In a good way, of course. Taehyung dan Seungcheol belum pernah meminta Jimin melakukan hal yang melewati batas, belum. Tapi mari kita percaya bahwa mereka tidak akan pernah melakukannya.

Dan mereka bertiga akhirnya keluar dari panti asuhan. Di malam hari, dan kebetulan suasananya sudah sepi, mengingat pada musim ini biasanya orang sibuk beraktivitas pada siang hari dan memfokuskan diri untuk istirahat pada malam harinya. Yang mana memudahkan mereka untuk menyelinap kabur kapan saja. Seungcheol berlari lebih dulu, meninggalkan Taehyung yang berlari dengan menarik tangan Jimin di belakangnya. Setengah jalan, Taehyung melepaskan tangan Jimin lalu mulai menyusul Seungcheol yang berlari dengan jarak yang lumayan jauh dari tempat mereka berdua. Yang akhirnya mau tak mau, Jimin ikut berlari mengejar mereka berdua yang asyik berlarian menembus angin malam yang tentunya membuat siapapun ingin bergelung dalam selimut hangat di ranjangnya.

Tiba-tiba Seungcheol dan Taehyung memperlambat lari mereka dan terdiam, membuat Jimin mudah untuk menyusul mereka dan memimpin pertandingan—jika seseorang tiba-tiba lari seperti tadi, maka mereka akan mengasumsikan bahwa mereka sedang bertanding siapa yang tercepat dalam berlari—namun Jimin memutuskan untuk berdiri disamping mereka dan memandangi bangunan-bangunan tinggi yang berdiri kokoh di hadapan mereka dengan dihiasi cahaya-cahaya yang menyilaukan mata, dan juga memandangi banyak orang yang masih berlalu-lalang di jalanan yang didominasi oleh kereta kuda para bangsawan yang bersiap pulang ke mansion mereka.

"Well, kita sudah sampai di kota." ucap Taehyung sembari memamerkan senyum kotaknya.

Pria dengan surai kehijauan itu menyusuri lorong mansion, sol sepatu mahalnya bertabrakan dengan marmer sehingga menghasilkan suara yang nyaring, mengingat betapa sunyinya bangunan itu. Langkahnya terhenti di hadapan sebuah pintu yang sudah sangat familiar baginya. Ia mengetuk pintunya, sebagai formalitas. Dia tidak akan masuk sebelum—

"Masuklah, Namjoon." sahut seseorang di dalam sana.

—sang tuan rumah, Yoongi, mempersilahkannya.

Namjoon memutar kenop pintunya pelan, lalu melangkah masuk dan menutupnya dengan hati-hati. Suasana hati orang di hadapannya sedang tidak baik, dan ia tentu tidak ingin memperburuk hal itu. Ia mendekati meja kerja yang dipenuhi dengan kertas-kertas yang berserakan, dengan Yoongi yang sedang menatapnya tajam dari saat ia membuka pintu. Dan tatapannya—Ya Tuhan—Namjoon serasa seperti sedang berjalan ke depan pisau guillotine yang siap memenggalnya kapan saja.

Oke, itu berlebihan.

"Jadi, bagaimana? Kau dapat memastikan bahwa ia akan berada disana malam ini?" Yoongi buka suara, meraih kotak kayu yang terletak di sudut mejanya, lalu mengambil sebuah cerutu yang terletak di dalamnya. Menyalakannya dengan sebuah pemantik yang ia dapatkan dari kenalan ayahnya, lalu menghisapnya pelan.

"Beberapa informanku dan informanmu sudah yakin bahwa ia akan berada disana. Namun aku sudah mendapatkan berita resmi bahwa ia benar-benar akan hadir. Malam ini puncaknya, tak mungkin ia tak menampakkan batang hidungnya." Namjoon mengucapkannya dalam satu tarikan napas, menghindari adanya kesalahpahaman yang dapat muncul apabila ia tidak menyelesaikan penjelasannya secara langsung.

Yoongi menghembuskan asap dari cerutu yang ia hisap keluar, lalu tersenyum puas. "Ya, dan lagipula tidak mungkin dia melewatkan waktu untuk menyaksikan pertunjukan terakhir yang akan dipersembahkan oleh aktris-aktrisnya yang kotor, sebelum ia menutup tempat itu dan hilang dengan membawa semua bukti yang ada." lalu terkekeh, tepat setelah ia menyelesaikan kalimatnya.

"Little does he know, kita sudah mengincarnya jauh sebelum ia menginjakkan kaki pada bangunan kotor itu." Yoongi merasa menang, untuk saat ini. Tidak ada salahnya untuk merasa percaya diri, bukan?

Namjoon menghela nafas, kini tinggal kerja lapangan. Tidak perlu ada acara menyelinap ke dunia bawah untuk mencari informasi, atau membayar orang-orang yang terlibat untuk bekerja sama dengannya. Tinggal satu anak tangga dan kini semuanya berakhir, untuk sementara waktu.

Matanya menatap pada sebuah potret yang terletak diatas meja Yoongi, menampilkan sebuah bangunan yang sudah ia hafal visual dan arsitekturnya luar dalam. "Athena Music Hall... Aku tidak mengerti kenapa mereka menamainya seperti itu. Kenapa tidak Venus, dewi yang terkenal atas kecantikannya, atau Apollo, sang dewa musik."

"Aku yakin kau juga menyadarinya, Namjoon..." Namjoon mengangkat pandangannya dari potret bangunan tersebut, menemui netra kelam Yoongi yang juga sedang menatapnya. "Bangunan itu memang sengaja tidak dibuat secantik mungkin agar menyamai Dewi Venus, melainkan sesuai namanya, ia harus memiliki strategi yang cerdas untuk memperdaya dan menipu musuhnya. Layaknya Athena, sang dewi perang."

Yoongi beranjak dari kursinya, mematikan cerutu tersebut dan mengenakan jas formalnya. "Dan malam ini... kita akan menentukan, siapa yang akan menang dalam perang."


Playwright

Kau tidak akan bisa tahu skenario apa yang ada dalam pikirannya, membuatmu bermain dengan logika untuk menebak apa yang sebenarnya ia rencanakan. Bahkan Tuhan sekalipun bertanya-tanya,

Kali ini, permainan apa yang akan ia hadirkan?

lilcyriel

YoonMin

Min Yoongi x Park Jimin

read at your own risk.


"Pakaikan ini untuknya." Yoongi berkata seraya melempar sebuah jubah kain yang biasa ia gunakan sebagai mantel. Ia memasuki kereta kudanya dan langsung mendudukkan diri dengan kasar. Keadaan menjadi agak kacau dari yang dia inginkan, dan ia sudah sangat lelah.

Namjoon mengernyitkan dahinya. "Kau tidak akan kedinginan?" Yoongi hanya menjawabnya tanpa menoleh, sedang tangan kanannya memijat pelipisnya pelan. "Lakukan saja, Kim Namjoon."

Namjoon yang menangkap kain itu menatap Jungkook yang sedang menggendong tubuh bocah yang Yoongi selamatkan—secara harfiah, pada kenyataannya, mereka meragukan bahwa hidup bocah itu akan lebih baik—dengan keadaan berantakan. Terdapat luka di tubuhnya, tidak terlalu parah namun cukup banyak. Dan wajahnya sudah lumayan kotor terkena asap dari music hall tadi. Namjoon menyerahkan mantel itu pada Jungkook, mengisyaratkan ia untuk memakaikannya pada sang tahanan, lalu menyusul Yoongi memasuki kereta kuda. Sementara Jungkook duduk dibagian belakang kereta kuda, dengan Jimin yang ia dudukkan di sebelahnya.

Jungkook memandangi sosok di sebelahnya lamat, banyak sekali pertanyaan dan pernyataan yang bermunculan di kepalanya. Tak ada yang spesial dari bocah di sebelahnya ini. Badannya agak kecil, walaupun nampaknya umurnya tidak jauh darinya. Wajahnya seperti anak kecil, dan terkesan agak manis. Namun yang terpenting, ia lemah. Jungkook mengernyitkan dahi setelah menyatakan kesimpulan yang ia dapat; sosok di sebelahnya ini tidak berguna sama sekali. Mengapa Yoongi tidak membunuhnya, bahkan sampai membawanya ke mansion?

Dan, apa lagi tadi? Yoongi memberikannya pilihan, untuk mati atau hidup—dan menjadi salah satu dari mereka?

Jungkook bingung, sekaligus kesal. Apa bagusnya sesosok makhluk menyedihkan ini? Bahkan Jungkook yang yakin bahwa ia sangat berguna, harus bersimpuh di hadapan Yoongi agar ia dibiarkan hidup saat itu, mewanti-wanti pada tungkainya bahwa ia akan mengabdi pada Yoongi, asalkan ia tidak dihabisi.

Jungkook menghela nafas panjang. Menyandarkan punggungnya pada kereta kuda di belakangnya, lalu memandangi langit malam yang tertutup awan. Ia tidak dapat melihat bintang maupun bulan, benar-benar gelap. Ia melirik sekali lagi pada sosok di sebelahnya sebelum menutup matanya, merasakan angin malam yang meraba tubuhnya. Jungkook juga butuh mantel.

"Aku ingin kau menyortir berkas-berkas ini, pisahkan antara yang perlu dijadikan arsip oleh pihak kerajaan dan mana yang perlu kita simpan sebagai informasi untuk kedepannya." Yoongi menyerahkan beberapa berkas yang ia pegang kepada Namjoon, juga menunjuk berkas yang berantakan di mejanya menggunakan ujung matanya.

Namjoon menghela nafas, "Aku ini bukan bawahanmu, asal kau tahu." namun tetap menerima berkas yang diserahkan padanya. Matanya melirik ke arah kertas-kertas yang berceceran diatas meja, berantakan sekali.

"Dan ini juga seharusnya pekerjaanmu. Lalu apa yang akan kau lakukan jika aku yang mengerjakan semua ini?" Namjoon menaikkan intonasinya. Ia benar-benar ingin menikmati wine di ranjangnya—yang secara harfiah, ranjang Yoongi, karena ia berada di dalam mansionnya—dan mengistirahatkan pikiran, karena mengingat apa yang baru saja terjadi, mustahil dia dapat tidur dengan pulas.

Yoongi mendengus, tersenyum. "Aku akan membersihkan namaku, tentu saja." Namjoon tergelak, "Seharusnya itu yang jadi pekerjaanku. Pikiranmu sedang kacau atau bagaimana? Terlalu lama berada dalam asap?" tukasnya.

"Tidak, Namjoon. Aku serius. Akan ada pertemuan penting besok, aku bisa mengorek informasi lebih sekaligus menyudutkan mereka agar mereka tahu bahwa tidak ada pilihan lain selain percaya padaku." Yoongi menatap Namjoon dengan sorot mata yang dalam. Yah, para bangsawan. Namjoon mengerti, ia juga salah satu dari mereka. Kalau sudah begini, ia tidak bisa berkelit. Mungkin Namjoon harus menunda kencannya dengan anggur italia berumur puluhan tahun pesanannya yang baru saja tiba.

"Aku juga harus menulis surat untuk ratu—kau tahu, walaupun keadaan masih kusut, tidak ada gunanya membuat dia khawatir lebih lama." Yoongi mendudukkan dirinya dengan kasar di kursinya, mengacak rambutnya lalu mendesah frustasi. "Aku merasa seperti dipermainkan. Semuanya terlalu mudah,"

Yoongi mengangkat kepalanya, kembali menatap Namjoon. "Kenapa mereka membiarkanku membakar bangunan itu? Kenapa dia membiarkanku membakarnya?"

"Aku yakin kita tidak sedang dipermainkan." Namjoon berusaha meyakinkan lelaki di hadapannya. "Kau mungkin hanya merasa tidak enak hati karena keadaannya berjalan terlalu mulus, kita bisa menang dengan mudah."

Yoongi lagi-lagi menghembuskan nafasnya kasar. Meraih kotak cerutu yang masih terletak di tempat yang sama, begitupula pemantik yang tidak berpindah dari terakhir kali Yoongi menggunakannya. Ia menyulut satu dan menggigitnya. "Bagaimana dengan Scotland Yard? Walaupun mereka bisa mencium keterlibatan kita disana, tidak mungkin mereka membiarkan kibaran api melalap sebuah bangunan hingga habis begitu saja."

Namjoon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu berucap, "Aku tidak yakin akan apa yang kau takutkan, tapi aku yakin ratu pasti memastikan bahwa anjing penjaga kesayangannya tidak akan apa-apa." yang tentu saja dibalas dengan sorot mata tajam serta kekehan sarkas oleh sang lawan bicara.

Anjing penjaga ratu. Tiga kata yang melekat pada keluarga mereka—atau keluarga Yoongi—diwariskan secara turun temurun layaknya sebuah harta. Pada kenyataannya, julukan itu menjadi beban yang mencekik, bagaikan pisau yang diletakkan di lehermu setiap saat. Yang juga menjadi alasan mengapa Namjoon berada disini—yang secara kasar—sebagai bawahan Yoongi.

Matanya menatap sosok di hadapannya. Min Yoongi. Menyedihkan, dan berkuasa. Penguasa yang menyedihkan. Penguasa menyedihkan yang dikuasai oleh penguasa yang lebih tinggi, juga lebih lemah. Hanya kata 'keluarga' yang membuatnya harus berurusan dengan Min Yoongi, sekaligus yang menjadi alasannya tetap bertahan. Agar keluarganya tidak terancam. Gantinya, kini dirinya yang selalu terancam.

Sialan.

Namjoon menarik napas dalam, dan menghembuskannya secara perlahan. Sudah cukup untuk satu malam, terlampau cukup. "Akan aku kerjakan semuanya, kau juga sebaiknya kerjakan bagianmu dengan benar." Ia hendak berjalan menuju pintu dan mulai membenahi semuanya, namun ia teringat akan satu hal.

Namjoon berbalik, melangkah pelan menuju meja kerja Yoongi, membuat lelaki yang sedang duduk sembari menghisap cerutu di kursinya itu mengangkat sebelah alisnya. "Ada apa?" tanyanya.

Namjoon menggaruk tengkuknya lagi untuk kedua kalinya, ia tidak bermaksud tapi.. tidak ada salahnya bertanya, bukan? "Anak yang tadi. Mengapa kau membawanya?" dan pertanyaan itu lolos begitu saja dari tenggorokan Namjoon, kini ia menanti jawaban dari sosok di hadapannya yang kini mengangkat alisnya, lagi.

"Kenapa? Tidak ada alasan khusus. Aku hanya berpikir kalau dia dapat berguna." jawabnya enteng. Namjoon enggan beranjak dari tempatnya, kembali bertanya. "Jika dilihat dari situasi tadi, kau dan aku sama-sama tahu kalau anak itu lemah. Kita tidak bisa menilai apakah dia berguna atau tidak," tukasnya.

"Atau kau mungkin... menginginkannya?" Namjoon tersenyum licik, berhasil menyudutkan Yoongi. Sementara Yoongi hanya terdiam sejenak, lalu perlahan tersenyum dan menyeringai. Wah, pikirannya tidak sampai kesana.

Yoongi menginginkannya, huh?


Chapter 1 : to be continued


a/n: Halo, ini saya lagi, lilcyriel hehehe. Oke saya gatau mau bilang apa sebagai sapaan. Chapter satu udah update nih, hehe. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan. Jadi,

Pertama, saya ingin berterimakasih kepada para pembaca yang meninggalkan review, fav/follow, maupun yang tidak. Saya ga nyangka kalau ff ini bakal ada cukup banyak orang yang suka, atau baca. Buat yang meninggalkan review, terima kasih! Kalian benar benar menyemangati saya buat nulis. Hehe.

Kedua, maaf karena lama banget updatenya. Saya cukup sibuk, sangat sulit bagi saya untuk memiliki waktu luang untuk menulis ff. Bahkan butuh waktu sekitar dua atau tiga bulan bagi saya untuk menulis lanjutan dari prolog itu, jadi ya... im sorry:( dan mungkin kedepannya juga akan sangat slow update. Maaf ya.

Ketiga, jujur, chapter ini sama sekali tidak sesuai dengan ekspetasi saya. Dan kalau kalian berpikir kalau chapter ini benar benar buruk, maka pemikiran kita sama. Tulisannya berantakan, terlalu banyak narasi dan penjelasan latarnya kurang bagus. Mengapa aku begini. *nyanyi, he.* chapter ini sudah ada di pikiran saya beberapa hari setelah saya menulis prolog. Cuma waktu itu tidak langsung saya tulis karena tidak sempat, dan akhirnya saya lupa bagaimana chapter ini seharusnya. Banyak sekali bagian yang saya lupa dan akhirnya dipotong, atau dihilangkan. Juga banyak bagian yang asalnya tidak ada tapi menjadi ada. Mengapa aku begini pt. 2. *nyanyi lagi* jadi maaf kalau chapter ini mengecewakan kalian.

Dan keempat, akhir kata, walaupun terlambat, saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada Kim Taehyung! Maaf kamu dijadikan korban disini huhuhu, tapi saya tetap sayang kamu. *dih alay* dan juga selamat natal bagi yang merayakan, walau sudah terlambat sekali, juga selamat tahun baru 2018! Semoga menjadi tahun yang cerah bagi kita dan bangtan, hehehe.

Sekian cuapcuapnya, panjang amat dah gilak. Terima kasih sudah membaca hehe. Have a nice day!