Chapter 2

"ini pesanan anda tuan, segeralah pergi dan bawa fans-fans anda juga. tolong datang dengan cara yang lebih baik lain kali." Eunhyuk memberikan pesanan Kyuhyun, pria yang tadi datang dan menarik perhatian banyak pengunjung. Eunhyuk sedikit memaksakan senyumnya, pertanda bahwa ia sedikit kesal dengan hal yang terjadi sore ini.

"sopan sekali. Aku bahkan tadinya berencana membayar lebih." Jawab Kyuhyun dengan seringaian nya.

"aku memang sangat menyukaimu. Tapi aku juga muak dengan sikapmu. Pulanglah sekarang, atau aku akan membuka kartu AS-mu?!" Eunhyuk berkata dengan suara pelan agar hanya dapat terdengar oleh mereka berdua saja. Bisa mati dia jika fans-fans dari aktor itu mendengarnya menyumpah-nyumpahi idola mereka.

"heh, Baiklah. Cepatlah pulang ke rumah sayang. Aku menunggumu." Lelaki itu menyeringai ke arah eunhyuk. Kemudian ia berbalik dan memasang kaca mata hitamnya. Kemudian berjalan keluar kafe dengan diiringi teriakan dari para fansnya.

"hah. Menyusahkan saja." Eunhyuk mendengus kesal.

Sungmin duduk sendirian di bangku taman yang tidak seberapa jauh dari rumahnya. Ia sudah duduk disana sejak sore tadi, setelah meninggalkan kafe. Matanya terlihat memerah dan sedikit bengkak. Ia sempat menangis beberapa kali, lalu berhenti. Kemudian menangis lagi. Beruntung taman tersebut tidak terlalu ramai pengunjung. Sehingga sungmin tidak menjadi pusat perhatian. Lagipula siapa dia, sampai orang-orang akan peduli dengannya, pikir sungmin.

Suasana hatinya sedang tidak baik saat ini. Kejadian di kafe sore tadi adalah kejadian yang tidak pernah ia bayangkan dalam hidupnya. Ia tidak pernah mengira bahwa ia akan bertemu dengan Cho Kyuhyun pada keadaan seperti tadi. Ia Shock melihat sosok pria itu tiba-tiba berjalan kearahnya. Setelah bertahun-tahun tidak pernah bertemu lagi, seseorang dari masa lalu yang sudah ia lupakan dengan susah payah. Meskipun ia tidak sepenuhnya bisa melupakan.

"sungmin-ah, ada apa?" suara donghae tiba-tiba membuat sungmin tersadar dari lamunannya. Pria itu datang dengan terburu-buru. Ia bahkan tidak mengganti kemeja dan jas kerjanya. Ia langsung pergi menemui sungmin setelah sungmin memintanya datang ke taman.

"donghae-ya. Dia datang, dia tadi berdiri di hadapanku. donghae-ya aku melihatnya lagi dengan kedua mataku. Donghae-ya, bantu aku." Sungmin menghambur kedalam pelukan donghae. Ia menumpahkan segala kesedihan yang ditahannya sedari tadi. Ia memeluk donghae dengan erat dan menangis di pundaknya.

"sungmin-ah, tenanglah." Tangan donghae kemudian bergerak mengelus rambut panjang sungmin. Ia membalas pelukan sungmin. Bahkan ia merasakan tubuh sungmin bergetar dalam pelukannya. Sungmin sepertinya sangat terpukul dan sedih. Ia membiarkan sungmin menangis sejadi-jadinya. Melepaskan segala sesak yang ada didadanya.

Donghae sudah lama mengenal sungmin, bahkan jauh sebelum sungmin memutuskan untuk hidup mandiri di Seoul. Mereka sudah bersahabat sejak di sekolah menengah. Selama itu juga Donghae diam-diam mencintai Sungmin.

Ia, Kyuhyun dan Sungmin dulunya bersahabat. Mereka berada di sekolah menengah yang sama. Mereka bertiga berteman sangat dekat, bahkan orang tua mereka juga saling mengenal satu sama lain. Persahabatan mereka bahkan membuat orang-orang yang melihatnya menjadi iri. Donghae dan Kyuhyun adalah pria populer di sekolah dulunya. Sehingga banyak wanita yang berpikir bahwa sungmin sangat beruntung bisa bersahabat dengan mereka.

Donghae sudah menyukai sungmin bahkan sejak pertama kali mereka bertemu. Tapi donghae tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Bahkan sampai akhirnya sungmin memberitahu donghae bahwa ia menyukai Kyuhyun. Dan Donghae tidak ingin merusak semuanya. Jadi ia lebih memilih untuk tetap bersahabat dengan mereka berdua.

Sejak sungmin memutuskan untuk pindah ke Seoul, donghae memilih menyusul satu tahun setelahnya. Ia tahu hidup sungmin jauh lebih berat. Apalagi sejak sungmin menjadi sebatang kara. Ia ingin membantu sungmin melewati kesusahannya. Tapi ia tahu bahwa sungmin tidak suka diperlakukan seperti itu. Jadi ia berusaha mencari cara untuk datang ke Seoul tanpa harus terlihat sengaja menyusul sungmin.

Ia berusaha mendapatkan pekerjaan di Seoul sehingga ia memiliki alasan untuk bisa menyusul sungmin. Sungmin tidak akan curiga kalau Donghae memang harus ke seoul untuk bekerja. Jadi ia bisa bekerja sekaligus berada di dekat sungmin.

"jadi dia datang ke kafe tempatmu bekerja?" tanya donghae. Kemudian sungmin mengangguk. Mereka berjalan-jalan di tepian sungai han sambil meminum minuman kaleng yang tadi mereka beli. Setelah sungmin puas menangis, Donghae mengajak sungmin untuk berkeliling agar bisa bercerita lebih jelas dan tenang. Sampailah mereka ditepian sungai Han, yang malam itu tidak terlalu ramai.

"aku juga tidak tahu apa maksudnya. Tapi aku cukup terkejut dengan keadaannya. Ia bahkan di rumorkan sedang menjalin hubungan dengan seorang CEO. Tapi dia justru datang ke kafe tempatku bekerja. Untuk apa? Dan apa yang membuatnya memilih datang ke cafe itu?" Sungmin kemudian meneguk minumannya.

"kau tak berubah Lee Sungmin." Donghae tersenyum dan pandangannya mengarah ke sungmin.

"apa maksudmu hae-ya?" tanya sungmin heran.

"kau tak berubah, rasa cintamu padanya masih tetap sama. Masih tetap dalam. Sekalipun kau bilang bahwa dia membuatmu kecewa." Jawab donghae lagi. Ia tidak melepaskan pandangannya dari sungmin dan tetap tersenyum.

"ini bukan cinta. Ini adalah perasaan benci. Aku tidak punya cinta untuknya." Sungmin memejamkan matanya. Seketika matanya kembali memanas saat mendengar ucapan donghae tadi.

"hahhhh. Sudahlah. Daripada menghabiskan malam ini untuk bersedih, bagaimana kalau kita berkencan? Apa kita perlu pergi ke suatu tempat?" Donghae yang mengerti dengan suasana hati sungmin berusaha membuatnya lupa dengan segala kesedihannya hari ini. Ia menggoda sungmin dengan tampang imutnya yang dibuat-buat.

"aigoo. Wajahmu itu. tidak tahu diri memang. Hahah." Sungmin tertawa melihat tingkah donghae.

"hmm. Aku rasa aku ingin makan jajanan di pinggir jalan. Yang pedas dan yang panas. Bagaimana?" sungmin kemudian tersenyum ke arah donghae.

"baiklah. Semuanya terserahmu. Aku ikut saja. Biar hari ini aku yang traktir kalau begitu." Donghae menyetujui keinginan sungmin. Mereka akhirnya memutuskan untuk berjalan ke tempat pilihan sungmin.

"baiklah. Kau harus ikuti semua mauku ya?" tanya sungmin memastikan. Ia tersenyum lebar dengan raut wajah kemenangan. Kemudian donghae mengangguk setelahnya. Ikut tersenyum ke arah sungmin.

'apapun akan kulakukan untukmu min, asal kau tak bersedih lagi.' Batin donghae.

"ya! apa yang kau lakukan disini? Ini apartemenku. Sudah berapa kali ku katakan. Jangan lancang seperti ini." Seperti biasa kyuhyun tidak bisa menahan rasa kesalnya jika berhadapan dengan perempuan yang satu ini. Ia menemukan Seulgi sudah duduk santai di sofa ruang TV di apartemennya. Wanita ini selalu mengganggu kehidupannya. Sudah berkali-kali kyuhyun katakan bahwa ia tidak mau menikah dengan seulgi. Tapi wanita itu selalu memaksanya.

Sejak dipasangkan oleh agency mereka dalam sebuah project, Seulgi memang sangat tertarik dengan Kyuhyun. Hingga sampai saat ini ia menjadi sangat terobsesi untuk menikah dengan Kyuhyun. Ia pikir Kyuhyun juga tertarik kepadanya, karena sikap Kyuhyun saat bekerja sama dengannya. Padahal, menurut Kyuhyun ia hanya melakukan profesionalitas pekerjaan saja, agar project yang mereka kerjakan bisa sukses.

"lancang apanya? Aku inikan calon istrimu oppa. Wajar bukan aku datang kesini?" tanya Seulgi. Ia kemudian beralih berdiri untuk mendekati Kyuhyun.

"ya kim Seulgi, aku tidak akan menikahimu. Seharusnya kau paham dengan ucapanku. Tsk. Membuat kesal saja." Kyuhyun kemudian meninggalkan wanita itu dan mulai berajak ke dapur untuk mengambil minum.

"oppa, selalu saja begitu padaku. Apa kau tidak tahu, bahwa aku sangat mencintaimu?" rengek seulgi. Ia berjalan mengikuti langkah kyuhyun ke dapur. Ia berusaha bergelayut di lengan kyuhyun untuk bermanja-manja.

"tapi aku tidak. Kau pergilah dan jangan ganggu aku. Selagi aku masih punya kesabaran untuk mu." Kyuhyun kemudian meminum air mineral yang diambilnya dari kulkas dan mulai berjalan menjauh dari Seulgi. Menurutnya lebih baik di kamar dan membiarkan Seulgi sampai ia bosan sendiri.

"memangnya, apa lebihnya wanita itu? sampai kau tidak bisa memandang kehadiranku? Apa lebihnya wanita jalang miskin yang tidak tahu diri itu dari ku? Hah?!" ucapan Seulgi membuat langkah Kyuhyun terhenti. Ia meremas botol air mineral yang tadi dibawanya.

"ya! Kau.." tiba-tiba ucapan Kyuhyun terpotong saat seseorang tiba disana.

"setidaknya dia tidak berusaha memaksa orang lain untuk menikahinya. Kau pergilah dari sini. Sebelum aku benar-benar muak melihatmu dan memanggil security." Eunhyuk yang dari beberapa waktu lalu sudah tiba dan mendengar perdebatan Kyuhyun dengan Seulgi mulai angkat bicara. ia memang tidak suka melihat Seulgi bersikap seperti itu pada Kyuhyun, adiknya.

Seulgi yang tidak berani pada Eunhyuk mulai berjalan meninggalkan kedua saudara tersebut. Ia lebih memilih pergi dari pada melawan Eunhyuk. Terakhir kali saat ia ingin merayu wanita itu agar diizinkan menikah dengan Kyuhyun, ia malah dikata-katai oleh Eunhyuk.

"kau masuklah kedalam. Ini sudah malam. Langsung istirahat ya. Jangan buang-buang waktu." Ucap donghae. Pria itu mengantar sungmin sampai ke rumah atapnya. Ia hanya ingin memastikan sungmin agar sampai dirumah dengan selamat. Dan ia juga ingin memastikan bahwa sungmin sudah merasa lebih baik dari sebelumnya.

"iya, donghae-ya. Kau juga, pulanglah. Ini sudah malam. Aku masuk ya?" sungmin kemudian melangkah masuk ke dalam rumahnya dan melambaikan tangan ke arah donghae. Sebelum menutup pintu ia melihat donghae mulai melangkah pergi maninggalkannya.

Setelah masuk kerumahnya, sungmin memutuskan untuk mandi dan istirahat. Hari ini adalah hari yang berat untuknya. Ada banyak hal yang terjadi hari ini dan pertemuannya dengan Kyuhyun adalah yang paling berat untuknya. Pria itu yang telah membuat kehidupannya terasa seperti menaiki roller coaster. Ia dibawa mendaki keatas, ke bagian yang amat sangat tinggi, lalu ia dibiarkan meluncur ke bawah lagi. Ini semua tidak mudah bagi sungmin.

Sementara itu di apartemennya, Kyuhyun dan eunhyuk sibuk membahas pertemuan mendadak yang diciptakan kyuhyun tadi siang untuk sungmin. Adiknya itu tiba-tiba membuat keputusan yang gila. Meskipun eunhyuk tahu bahwa kyuhyun memang orang yang cukup nekat dan gila, tapi tetap saja, cara Kyuhyun adalah cara yang salah.

"kau tahu, tidak akan mudah untuknya menghadapi suasana seperti itu." eunhyuk tetap bersikeras dengan pendapatnya bahwa Kyuhyun salah dalam caranya untuk melepaskan kerinduannya.

"tapi nuna, aku merindukannya. Aku lelah kalau harus memata-matainya terus. Membiarkan orang lain yang mengirim gambarnya padaku." Jawab Kyuhyun lagi.

"lemah sekali, kau bisa menunggu bertahun-tahun, lalu hari ini kau bilang, kau merindukannya? Kau pikir gampang untuk menerima masa lalu yang buruk di masa depan?" eunhyuk kemudian menenggak minuman yang tadi disiapkan kyuhyun untuknya.

"hahh. Tapi aku sudah mulai muak dengan ini semua. Aku melihatnya setiap hari. Menyaksikan segala kesulitan-kesulitan yang pernah dialaminya, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa untuknya." Kyuhyun mengusap wajahnya. Keadaan sedikit kacau saat ini.

"aku lelah berdebat dengan mu. Sekarang aku harus pergi. Masih banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan. Intinya aku hanya ingin kau jangan membuat sungmin takut dan terluka lagi. Atau kau akan sulit untuk kembali ke kehidupannya. Ah, satu lagi. Tolong bereskan berita tentang kencanmu dengan seorang CEO itu. aku tidak ingin identitasku sampai diketahui publik hanya gara-gara kejadian tadi siang. Kau paham?" eunhyuk kemudian bersiap untuk pergi. Ia memakai mantelnya dan mengambil tasnya.

"baiklah, akan kuurus itu nanti." Jawab kyuhyun dengan lemas.

Seharusnya Sungmin memiliki kelas pagi ini, tetapi dosennya tidak bisa hadir dan memberi mereka tugas kelompok sebagai pengganti kuliah. Sungmin yang memilih untuk berkelompok dengan ryeowook memutuskan untuk membuat tugas mereka di cafe tempat sungmin bekerja. Sekaligus agar sungmin bisa langsung masuk kerja setelahnya.

"ah, ternyata sudah cukup lama juga aku tidak kesini ya?" tanya ryeowook pada sungmin.

"kau selalu saja memilih pulang saat aku ingin pergi bekerja, tentu saja." Jawab sungmin lagi. Mereka terlihat sibuk dengan urusan masing-masing. Ryeowook dengan laptopnya dan sungmin dengan buku catatannya. Tapi mereka masih bisa berbicara satu sama lain.

"ahh. Sudah selesai min." Ryeowook menepukkan kedua tangannya dan beralih menatap sungmin. Pertanda tugas yang mereka buat sejak tadi sudah selesai.

"ahh. Baguslah. Aku juga akan menyelesaikan ini sedikit lagi." Jawab sungmin sambil terus mencatat. Ryeowook membiarkan sungmin berkonsentrasi pada pekerjaannya. Sehingga ia lebih memilih memainkan ponselnya. Suasana menjadi hening karena cafe juga tidak terlalu ramai. Sayup-sayup hanya terdengar suara tv yang menyala sejak tadi.

Tiba-tiba perhatian sungmin mengarah pada hal lain, dan membuat sungmin menengadah untuk melihat TV yang ada di depannya.

"sebuah foto yang memperlihatkan Lee Hyuk Jae, CEO Dream Grup keluar dari apartemen aktor tampan Cho Kyuhyun beredar luas di internet. Menurut pengakuan sumber, CEO tersebut keluar dari apartemen Kyuhyun kemarin malam. Dan disana hanya ada mereka berdua saja."

Ryeowook yang melihat sungmin telah berhenti menulis mengikuti arah pandang sungmin. Ia fokus memandang layar TV di atas sana. Di layar televisi itu terpampang foto seorang perempuan yang sedang berjalan setelah keluar dari apartemen dengan menyandang tas branded dan memaikai mantel tebal. Wajahnya sedikit tertutup oleh tudung mantel yang digunakannya. Tetapi sebagian wajahnya masih terekspose dan dapat dikenali.

"ya, itu bukannya eunhyuk min?" ryeowook terkejut saat melihat foto wanita yang ditayangkan di berita tersebut.