My Black Cat My Prince
Little Blue Rhythm
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Chapter 2: This Feeling
Sacchi menggeliat begitu merasakan terpaan sinar matahari di wajahnya. Ia terbangun dari tidurnya. Begitu ia mengamati sekeliling, ia sudah tidak menemui Hinata di atas ranjangnya.
'Mungkin memasak,' pikirnya.
Sacchi bangkit lalu berjalan menuju dapur. Benar saja, ia menjumpai gadis yang sudah menolongnya beberapa hari yang lalu sedang memasak.
"Kau sudah bangun, Sacchi?"
"Hn,"
"Hari ini hanya ada omelet. Tidak apa-apa kan?" kata Hinata sambil meletakkan dua piring berisi omelet dan beberapa potongan tomat.
"Ya,"
Sacchi segera memakan makanannya dengan lahap. Kebetulan makanan kali ini ada buah kesukaannya, tomat.
"Kau suka tomat?" kata Hinata yang melihat Sacchi memakan tomat dengan lahap.
"Hn,"
"Kebetulan sekali. Mau menemaniku berburu?" tawar Hinata.
"Berburu apa?"
"Tomat di tengah hutan. Serta mencari tanaman dan buah-buahan yang lain,"
"Boleh, asalkan nanti malam menunya tomat,"
Hinata hanya terkekeh geli.
"Hei, kau tau, Sacchi, aku senang kau ada di sini sekarang,"
Sacchi terlihat heran mendengar pernyataan Hinata. Menyadari kebingungan Sacchi, Hinata kembali membuka mulutnya.
"Aku tinggal sendiri di sini. Jadi, rasanya senang saja jika ada yang menemaniku. Yah, walaupun temanku sejak kecil kadang berkunjung ke sini," jelas Hinata.
"..."
"..."
"Yap, setelah makan, cuci piring, lalu kita berangkat!" ucap Hinata sambil mengambil piring kotor bekasnya dan Sacchi.
Sacchi masih terdiam mengamati sang gadis.
'Jadi dia tinggal sendiri,'
Pantas saja rumah ini bisa dibilang kecil. Hanya cukup untuk ditinggali paling tidak tiga orang. Barang-barangnya juga tidak terlalu banyak.
Entah kenapa Sacchi turun dari meja makan dan menuju kamar Hinata. Ia ingin menjelajahi rumah Hinata sebentar sambil menunggu Hinata selesai dengan pekerjaannya.
Kamar Hinata bisa dibilang rapi dan bersih. Hanya sedikit perabotan di sana. Hanya sebuah ranjang, lemari pakaian, dan lemari kecil. Tak lupa dengan sebuah ranjang kecil tempatnya tidur. Ia ingat bahwa Hinata membuatkan benda itu untuknya. Hingga matanya terpaku pada sebuah bingkai foto. Mungkin lebih tepatnya pada dua orang yang ada di foto itu. Seorang gadis kecil dengan dress berwarna putih yang Sacchi yakin bahwa itu adalah Hinata. Yang membuat hatinya tiba-tiba memanas adalah foto seorang bocah laki-laki yang kira-kira seumuran dengan Hinata. Bocah berambut pirang dengan tiga pasang goresan di pipinya sambil tersenyum lebar.
'Siapa laki-laki itu?'
Sacchi tidak suka. Ia tidak mau menatap foto itu lama-lama. Namun tubuhnya tidak bisa bergerak. Seakan menyuruhnya untuk tetap menatap foto yang membuat hatinya entah mengapa serasa perih. Ia jadi lupa niat awalnya menjelajahi rumah Hinata.
"Sacchi?"
Sacchi hanya menoleh ke arah Hinata. Ingin ia menghampiri gadis itu. Namun sepertinya ia masih syok dan tidak dapat menggerakkan tubuhnya.
"Oh, kau melihat foto itu?" ujar Hinata yang akhirnya mendekati Sacchi.
Sacchi hanya diam menatap Hinata, meminta penjelasan.
"Itu aku dan teman masa kecilku yang kubilang tadi. Namanya Uzumaki Naruto. Dia anak yang ceria dan menyenangkan," kata Hinata.
'Uzumaki?'
"Ummm... Sacchi? Apa kau jadi ingin pergi berburu?"
"Ya,"
Akhirnya Sacchi dapat bergerak dari tempat yang tadi, melepaskan pandangan dari foto yang ia tidak sukai.
"Baiklah. Ayo kita berangkat,"
. . .
"Ah... Hutan di hari secerah ini memang menyenangkan," ucap Hinata sambil memejamkan matanya, menikmati terpaan angin dan hangatnya sinar matahari yang menyusup diantara dedaunan yang rindang.
Sacchi terpana. Yah, memang ia akui Hinata itu gadis yang manis. Namun ia tidak menyangka bahwa ia akan terpikat dengan pesona yang terpancar dari Hinata. Sebesit rasa menyesal karena ia pernah memperlakukan Hinata dengan buruk.
Hutan memang nampak tenang sekarang. Ia heran. Kemana monster-monster yang menghuni hutan ini? Seingatnya di hutan ini monsternya cukup banyak.
"Hei, apa monster-monster seperti waktu itu tidak akan menyerang?" tanya Sacchi.
"Tenang saja. Hari ini cuaca cerah. Para monster pun juga ingin menikmati cerahnya hari ini. Asal kita tidak mengganggu mereka, kita aman," terang Hinata.
Hinata dan Sacchi sama-sama diam. Terkadang Hinata berhenti untuk mengambil beberapa tumbuhan dan buah-buahan yang ada. Sedangkan Sacchi hanya mengamati Hinata dalam diam.
Sang kucing suka melihat tawa Hinata. Ia suka senyum Hinata. Yang paling ia sukai adalah kebersamaannya dengan sang gadis. Tanpa disadari, ia tersenyum.
'Ternyata tidak buruk juga menjadi seekor kucing,'
Walaupun ia berpikir begitu, ada suatu perasaan aneh mengganjal di hatinya.
Ia ingin menggenggam tangan mungil yang sedari tadi sibuk menunjuk tanaman-tanaman yang mereka lihat, disertai penjelasan singkat dari Hinata.
"Nah, Sacchi, itu dia tomat-tomat untuk makan malam kita," ucap Hinata sambil menunjuk ke arah kumpulan tanaman tomat yang tumbuh subur.
Sacchi hanya menatap tidak percaya. Tomat-tomatnya begitu segar. Sampai-sampai ia tidak sadar kalau ia sudah mendahului Hinata menuju "surga tomat" itu. Sedangkan Hinata hanya tertawa pelan melihat tingkah Sacchi yang menurutnya lucu.
"Nah, ayo kita petik tomatnya,"
"Ini, lalu yang di atas sana juga. Yang itu juga,"
Hinata hanya tersenyum. Yah, sepertinya Sacchi memang pecinta tomat sejati sampai tau tomat mana yang sebaiknya dipetik.
Sacchi terdiam beberapa saat. Wajahnya serasa panas melihat senyuman Hinata. Berharap agar waktu berhenti. Ia ingin menikmati senyum Hinata.
"Y-yang itu juga,"
"Siap, komandan,"
Sepertinya Hinata tidak menyadari bahwa sekarang wajah Sacchi sudah memerah semerah tomat yang si kucing pilih.
"Sepertinya sudah cukup. Kau ingin langsung pulang atau menjelajah lagi?" tanya Hinata.
"Terserah,"
"Baiklah-"
"Wah, wah, bukannya kau gadis yang waktu itu membekukan kami?"
DEG!
Sacchi dan Hinata langsung menengok ke belakang mereka, mendapati segerombolan monster tengah mengepung mereka.
"Belum puas menjadi frozen monster, huh?" ucap Hinata.
"Khukhukhu, sepertinya mangsa kecil kita waktu itu juga bersama denganmu," ujar sang monster lagi begitu melihat Sacchi.
Sacchi hanya menatap monster-monster yang waktu itu menyerangnya dengan tatapan membunuh.
"Khukhu, kalian kalah jumlah," ucap si bos para monster. "Serang mereka!"
"Heaaaa!"
Dalam sekejap, Hinata langsung membekukan monster-monster yang akan menyerangnya dan Sacchi, membuat sang kucing terkagum-kagum.
"Khh, apa yang kalian lakukan! Cepat serang mereka!" teriak si bos kepada anak buahnya yang lainnya.
Hinata terus membekukan monster-monster yang maju hingga-
"Khha.."
"Sa-Sacchi!"
Hinata terkejut. Dari bawah tanah muncul ekor monster. Ia baru menyadari bahwa si bos monster itu hanya mengalihkan perhatiannya agar dirinya tidak terlalu fokus pada Sacchi.
"Khukhukhu... Menyerahlah atau makhluk kecil ini akan mati!"
Sacchi hanya menggeram kesal sambil menahan sakit di sekitar lehernya. Sekarang ia benci menjadi makhluk kecil yang lemah ini. Ia benci. Ia jadi tidak berdaya seperti ini karena tubuh kecilnya.
"Kyaaaa!"
Sacchi terkejut. Ternyata anak buah monster yang tengah menjeratnya juga melakukan hal yang sama. Menyerang diam-diam dari dalam tanah, dengan ekornya.
"Hi-na-ta,"
Hinata berusaha mendekati si bos sambil terus membekukan monster-monster lain yang mencoba menghentikan Hinata.
"Sacchi!"
Hinata mengulurkan tangan kanannya untuk meraih ekor si bos. Namun dengan cepat monster itu menghindar.
"Hahaha... Mau apa kau!"
"Memotong ekormu," ucap Hiinata dingin.
Tanpa disadari, tangan kiri Hinata sudah memegang sebuah pedang dari es dan memutuskan ekor monster yang menjerat Sacchi.
"Sacchi!"
Hinata menghampiri Sacchi yang kini terbatuk-batuk. Si kucing merasa lega karena cengkaraman ekor di lehernya terlepas.
"BERANINYA!"
"Hinata!"
Hinata menoleh ke belakang. Terkejut dengan serangan mendadak yang dilancarkan. Tidak. Bukan serangan mendadak. Hinata lengah.
Hinata hanya memeluk Sacchi erat. Ia benar-benar tidak siap. Untuk kedua kalinya Sacchi membenci sosoknya kecilnya. Sekarang, ia tidak bisa melindungi Hinata, gadis yang entah sejak kapan memasuki pikiran dan ruang hatinya.
"Rasengan!"
DUARR!
Hinata terkejut. Monster yang akan menyerangnya langsung tumbang seketika.
"Bos! Bos! Cepat, kita mundur!"
Akhirnya monster-monster yang tadi mengepungnya pergi sambil menggotong bosnya. Mereka tidak mau cari mati.
"Kau lengah, Hinata-chan!"
Hinata benar-benar terkejut. Ia kenal suara itu. Ia kenal rambut pirang jabrik itu. Ia kenal iga pasang goresan di pipi pemuda yang menolongnya tadi.
"Na-Naruto-kun?"
Hati sang kucing mendadak perih. Padahal Hinata sudah berkali-kali memanggil namanya. Namun ia tidak suka ketika sang gadis memanggil nama teman masa kecilnya itu.
'Aku ingin kau memanggil namaku. Nama asliku. Aku ingin kau memanggilku 'Sasuke-kun', Hinata. Bukan Sacchi,' batin sang kucing miris.
.
.
.
Ini dia chapter duanya. Saya udah update mumpung chapter duanya emang udah selesai.
Hehehe... Makasih buat yang udah nge-review. Makasih juga untuk para silent reader. Pokoknya makasih buat semua yang mau membaca cerita ini.
Yap, saya tunggu reviewnya lagi ya...
Terima kasih.
