WARNING!

-TULISAN MASIH BERANTAKAN

-OUT OF CHARACTER

-BANYAK HAL GAK MASUK AKAL

-ALUR LABIL EKONOMI

But… let's check this damn dreadful easy fanfic out! Just enjoy the story, and bear with it!

.

-oO-Johnny On the Spot-Oo-

Always being available; ready, willing, and able to do what needs to be done.

.

"Rowoon Hyung?!"

Rowoon sadar ia menarik cukup kencang pergelangan tangan ramping Doyoung. Tapi ia tidak begitu berpikir panjang untuk saat ini. Well, actually, ia hampir setiap saat tidak berpikir panjang. Tapi bukan itu pointnya saat ini. Ia hanya merasa perlu menyelamatkan Doyoung. Dari sesuatu. Mungkin setelah menemukan tempat bersembunyi atau sesuatu semacam ini ia harus meminta penjelasan yang lebih menyeluruh.

Doyoung terkejut melihat Rowoon yang tiba-tiba menarik pergelangan tangannya, tentu saja, siapa yang tidak terkejut jika tiba-tiba sesosok manusia yang tidak kau sadari keberadaannya sebelumnya, tiba-tiba saja menarikmu?

Rowoon membawanya pergi. Doyoung tidak berpikir macam-macam tentang keberadaan Rowoon. Bukannya Rowoon seringkali mencurigakan, tapi baiklah, dia memang sedikit aneh dan sedikit mencurigakan. Tapi semua orang bisa saja bertemu di tempat ini.

"Apa yang kau lakukan?" Doyoung tidak bisa mengimbangi kecepatan Rowoon. Tapi ia juga tidak bisa melepaskan pegangan erat tangan lelaki itu. Ia berusaha untuk tidak bepikir macam-macam soal hal itu, yang kau tahu pikiran-pikiran seksual dimana genggaman Rowoon mungkin akan terasa lebih nikmat di bagian lain tubuhnya. Oke. Stop. Ia secara teknis sedang diculik, atau setidaknya dibawa secara paksa tanpa dimintai pendapatnya terlebih dahulu. Dan tidak ada sesuatu yang seksi soal itu.

Doyoung mencoba lebih mengimbangi langkah-langkah panjang Rowoon. Ia memiliki kaki-kaki yang panjang. Tapi tidak sejenjang Rowoon. Ia bisa berlari cepat, sebenarnya. Tapi tidak secepat Rowoon. Jadi untuk saat ini yang harus ia lakukan adalah berusaha untuk mengubah akselerasi.

"Ikut aku." Doyoung menyempatkan diri memutar bola matanya. Rowoon tidak perlu berkata demikian. Dengan perlakuannya, sejak tadi pun Doyoung terpaksa mengikutinya. Dan di kalimat terakhir itu ia sudah membawa Doyoung memasuki sebuah pintu. Menutupnya. Kembali melangkahkan kaki untuk menaiki sebuah tangga yang membawa mereka ke lantai 11. Atap Adhesion Polis.

Dan sekarang Doyoung mulai merasa pegal karena harus mengikuti kecepatan langkah lelaki itu dan kecepatan kakinya dalam menaiki tangga. Manusia normal seharusnya melambat ketika melakukan itu. Ada pekerjaan lebih yang harus dilakukan otot tendon lutut untuk hal sesederhana menaiki tangga. Tapi Rowoon masih melangkah nyaris sama cepatnya seperti ia berjalan biasa. Doyoung nyaris merasa diseret saat ini.

Dua pasang telapak kaki menapak di atas beton. Nafas saling berhambur keluar ketika Rowoon melepaskan tangan Doyoung. Sungguh, berlarian di luasnya salah satu pusat perbelanjaan terbesar Seoul untuk menghindari kejaran tiga lelaki maniak itu lelahnya bukan main.

Doyoung sang pakar ekspresi, menyempatkan diri melempar death glare sambil mengatur nafas ke arah lelaki itu.

Yang cuma dibalas cuek dan datar oleh si 'penculik', "You're welcome."

Tapi Doyoung yang sudah mulai tenang nafasnya, melihat sisi positifnya, ia lepas dari kejaran tiga 'teman'nya. Sekarang sebutlah mereka trio AST. Azalea untuk Jaehyun. Putih, populer, sejuk, damai, dan tenang. Sakura untuk Winwin. Indah, menebarkan kebahagiaan, sumber inspirasi, menggetarkan hati, dan mempersatukan sesama. Dan tulip untuk Johnny. Indah, sempurna, penuh warna, lambang cinta, dan luar biasa. Meskipun semua filosofi itu tidak ada yang sesuai dengan pendeskripsian ketiganya. Tapi itulah julukan yang mereka dapatkan dari semua siswa di sekolah. Saat pertama kali melihat mereka. Dan belum mengetahui perangai asli tiga lelaki itu.

Sejauh mata memandang, hanya ada Rowoon dan Doyoung di sana. Selain warna jingga keemasan yang mulai menghiasi seluruh skyscraper pusat kota metropolitan sebagai pemandangan. Dan bulatan cahaya jingga di sebelah barat. Yang sedang mengejar ufuk dengan gerakan yang tidak terdeteksi.

"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Rowoon. Setelah mengingat-ingat apa yang ingin ia tanyakan. Kekuranagan oksigen memperlambat kerja otaknya sepertinya.

Doyoung pikir ini adalah saat baginya untuk mengatakan kebenarannya. Entahlah. Ia tidak bermaksud menyembunyikan apa-apa. Hanya saja sebelumnya tidak pernah ada yang benar-benar peduli soal dinamika interaksi aneh antara ia dan trio AST itu. Ya, tentu ada orang-orang yang terlihat simpati. Tapi kemudian menghilang begitu sja tanpa memberi bantuan apa-apa. Ia pun tidak mengerti sebenarnya kenapa Rowoon peduli. Tapi ia sudah, katakanlah, membantu melarikan diri. Jadi mungkin Rowoon punya hal untuk bertanya, dan tentu saja mendapat penjelasan dari Doyoung. Lagipula Rowoon sudah hampir tahu. Tidak ada gunanya lagi menutup-nutupi.

Doyoung mulai bercerita. Tentang dirinya yang setiap hari diganggu. Dimintai uang jajan. Tentang bagaimana setidaknya tiga kali dalam sepekan AST menidurinya. Gangbang. Tentang bagaimana dengan brutal dan menggilanya penis Johnny dan Jaehyun menari di dalam dinding sempit rektumnya di saat yang bersamaan. Double fuck. Tentang rasa herannya pada Winwin yang paling sering menggodanya di sekolah, namun paling gentle (lembut) di atas ranjang. Tentang alasan ia tidak melaporkan itu semua pada guru dan orang tua. Atau setidaknya menceritakannya pada teman. Karena memang ia tidak punya. Lagipula ketiga lelaki itu melarang siapapun untuk mendekatinya. Dengan berbagai ancaman. Tentang ia yang sebenarnya dihantui rasa takut. Namun mencoba untuk menutupinya di hadapan orang lain. Lalu untuk dirinya sendiri, ia mencoba mengalihkan dengan membayangkan sosok lain yang lebih menyenangkan. Terkadang itu berhasil. Seperti ketika ia melamunkan Jung Yunho beberapa hari yang lalu.

Ia menceritakan semuanya.

Ia tahu betul, hubungan intim adalah perihal paling pribadi. Tapi ia tidak bisa memendam itu semua selamanya. Seharusnya dengan riwayat pelecehan seksual yang ia miliki, ia tertekan. Mengalami kegoyahan mental. Ya, sesungguhnya ia memang merasa tertekan. Dan jika saja ia tidak pernah menceritakan itu semua pada Rowoon, mentalnya bisa saja benar-benar rusak sebentar lagi.

Hal mengejutkan bagi Doyoung terjadi lagi. Ia merasakan sebuah kehangatan yang tidak biasa ketika merasa tubuhnya ditarik ke dalam sebuah pelukan. Ia tidak menolak. Karena ia juga merasakan kenyamanan. Ia lupa kapan terakhir kali mendapatkan sentuhan seperti ini dari seorang teman. Dan ia merasa setengah tak percaya. Bahwa ia akhirnya merasakan kembali hal ini.

Terlebih setelah ia mencium aroma mint dari leher Rowoon. Membuatnya merasa lebih baik. Lebih tenang. Seolah semua beban dalam pikiran hilang begitu saja.

Pasti samponya.

"Jangan takut. Aku akan melindungimu."

Doyoung tidak mengerti. Kenapa Rowoon sampai repot-repot mau melakukan ini?

"Sebagai seorang teman, kau terlalu baik Hyung. Tapi sayang sekali. Mereka bertiga akan mengancammu jika kau berteman denganku."

Rowoon mungkin untuk sejauh ini adalah yang paling nekat dalam mendekati Doyoung, sebagai teman tentu saja, jika menurut Doyoung. Beberapa orang sudah pernah bertanya. Sudah pernah melemparkan raut muka simpati padanya. Beberapa sudah pernah mencoba menolongnya. Beberapa nyaris melaporkan geng AST pada guru atau pihak berwenang. Tapi pada akhirnya semuanya mundur, dengan berbagai alasannya masing-masing.

"Aku tidak takut. Sekarang, apa masih ada yang kau takutkan?" Rowoon tahu lelaki itu tidak bermaksud untuk menegaskan hubungan pertemanan. Mereka belum melangkahkan hubungan ke manapun, lagipula.

"Besok. Di sekolah. Mereka akan menghabisiku." Doyoung, sesungguhnya, yang sebelumnya kaya ekspresi, berubah netral kembali ekspresinya. Hal ini mengganggu Rowoon karena untuk seseorang yang takut, Doyoung tidak terlihat gentar. Terkesan seakan 'menghabisi' bukan sesuatu pilihan yang buruk yang diberikan padanya. Yah, mendengar ceritanya, ia menjalani hal yang jauh lebih buruk sebelumnya.

Rowoon sering bertanya-tanya, kenapa orang-orang bunuh diri? Kenapa orang-orang memilih mati? Karena menurutnya, mati terdengar membosankan. Pilihanmu tegas, hanya dua pilihan, surga dan neraka. Dan itupun belum jelas kepastiannya yang mana yang akan diberikan padamu. Ia menyukai kehidupan dengan segala intriknya. Berpura-pura tertawa saat sedih. Terdiam saat menyimpan amarah. Entahlah, kehidupan terdengar lebih menarik baginya dibanding kematian.

Tapi mendengar pengakuan Doyoung, ia mengerti kenapa, meskipun takut, Doyoung lebih tertarik pada kematian.

Rowoon memainkan telepon genggam begitu melepas dekapan. Keduanya dengan sendirinya terduduk sambil bersandar pada dinding pintu mereka masuk tadi. Doyoung yang merasakan rasa aman sekali lagi dalam hidupnya, menikmati kesunyian yang diselingi dengan ketukan Rowoon pada layar ponselnya dan denting pesan masuk. Ia tersenyum pada langit oranye. Berpikir bahwa kehidupan begitu lucu, mempertemukannya pada Rowoon di saat kritis seperti ini.

Rowoon di lain pihak berusaha mengambil alih situasi genting, berusaha mencari solusi untuk menghadapi ancaman trio AST pada lelaki yang disukainya ini. Mengetik obrolan pada Zuho. Bahkan pada Inseong juga yang sepertinya saat ini sedang mencak-mencak di bawah sana. Karena jatah 20 menit yang ia berikan pada Rowoon digunakan melebihi batas waktunya.

Katakanlah Rowoon tidak mengenal situasi. Karena dengan tanpa dosa ia meminta Inseong untuk melawan Winwin. Tapi persetan soal situasi. Ada nyawa manusia lain yang dipertaruhkan, dan nyawa itu adalah nyawa lelaki yang ia sukai. Kau pikir Rowoon akan diam saja? Ia juga meminta bantuan Zuho untuk menghajar Johnny. Dan Rowoon sendiri? Ia akan menghabisi Jaehyun. Malam ini.

Mereka akan berkelahi. Siapa yang akan menang?

-oO-Johnny On the Spot-Oo-

Johnny menghampiri Rowoon yang duduk di bangku paling belakang. Ya, sejak awal Rowoon pindah kelas, hingga sekarang ia menyukai bangku itu. Bukan yang paling strategis sebenarnya. Karena tidak terletak tepat di belakang Doyoung. Tapi cukup strategis untuk bisa tetap mengawasi lelaki itu. Terlebih Rowoon duduk sebangku dengan Yujin. Seorang gadis cantik yang memiliki wajah sangat mirip dengan Doyoung. Sampai semua orang mengira mereka kembar identik. Sehingga setiap kali ia tidak bisa melihat wajah Doyoung, ia bisa memperhatikan wajah gadis itu. Terkadang membuat gadis itu kegeeran. Karena Rowoon selalu memperhatikannya sambil senyam-senyum sendiri. Dan ia tidak pernah mengklarifikasi. Karena tidak ingin menyakiti perasaan seorang gadis.

Johnny memberikan segulung kertas pada Rowoon, omong-omong. Sambil menahan sakit di sudut bibir yang dihiasi darah kering. Rowoon tidak tahu masih ada orang-orang dengan gesture sehiperbolis ini. Ia kira zaman-zaman geng ala Boys Before Flower sudah lama berakhir. Perkelahian three on three di hari sebelumnya membuat keenam lelaki tinggi itu tidak luput dari memar di wajah. Mereka bukan pahlawan super yang bisa tetap memiliki wajah mulus sehabis melawan musuhnya, lagipula. Adu fisik itu tidak menghasilkan apa-apa selain Zuho, Winwin, dan Jaehyun yang terluka parah. Tapi setidaknya Rowoon hanya ingin menunjukkan bahwa ia layak untuk melindungi Doyoung. Dan AST tidak bisa memberikan ancaman apapun pada Rowoon. Mereka adalah lawan yang seimbang.

Dengan malas Rowoon membuka gulungan kertas itu. Ia langsung saja memperhatikan isinya, tidak begitu peduli dengan segala perniknya. Dan ya ampun. Itu adalah sebuah kertas yang sangat panjang. Jika direntangkan pasti sudah mengelilingi seisi kelas ini sebanyak 10 kali. Tanda bukti pembayaran dari kassa mall tempat ketiga lelaki itu berbelanja kemarin. Total 1,250,000 Won. Jelas saja. Tiga troli. Dan menggunung. Hingga menyentuh langit-langit swalayan. Baiklah. Itu terlalu berlebihan.

"Kemarin Doyoung menyanggupi biaya belanjaan kami. Tapi dia melarikan diri. Dan aku tahu penyebabnya adalah kau. Jadi kau yang harus membayarnya."

"Hanya jika kau memenangkan pertaruhan." Dengan menampilkan ekspresi sedingin es, Rowoon membalas kata-kata menyebalkan Johnny.

"Apakah sebelumnya kita pernah bermufakat soal ini?" Johnny bertanya setengah sarkastik, setengah bingung.

Rowoon memutar bola matanya persis seperti ekspresi yang dikeluarkan Doyoung kemarin. Dalam hati berkata, tentu tidak, idiot. Untuk bermufakat, kau harus bermusyawarah. Dan kau bahkan tidak meminta pendapatku soal pembayaran tagihan ini, jadi untuk apa aku meminta pendapatmu?

Tapi ia lisankan dalam versi pendek, "Tidak. Hanya saja barusan ide itu melintas begitu saja dalam benakku. Tapi tidak buruk kan?"

"Apa maumu?" Johnny yang berdiri di depan meja Rowoon menampakkan wajah kesal, tapi mau tidak mau harus bertanya. Ia tahu akan sia-sia mengancam makhluk satu ini saat ini. Jadi, solusi terbaik adalah melihat permainan apa yang ditawarkan dan mencari celah untuk berlaku curang. Ha.

"Aku menantangmu dan teman-temanmu berduel dengan Doyoung. Satu persatu. Jika kalian menang, aku akan mengganti biaya tagihan belanjaan kalian. 10 kali lipat."

Johnny berpikir, di mana ia bisa menukarkan satu menit waktunya untuk mendapat ganti rugi dari lelucon yang baru saja ia dengar?

Tapi ia tidak tertawa. Itu akan merendahkan dirinya jika ia tertawa pada lelucon makhluk ini.

Ia tidak mengerti kenapa ia bersedia mendengarkan, lagipula. Seakan menyetujui usulan itu. Tapi ia benar-benar mendengarkan apa yang ingin Rowoon sampaikan hingga selesai.

"Tapi jika Doyoung berhasil mengalahkan kalian, kalian tidak boleh mengganggunya lagi. Bahkan sekedar menyentuhnya. Sama sekali. Sepakat?"

Entah apa yang berada dalam benak Rowoon saat ini. Ia melibatkan Doyoung dalam masalah tanpa sepengetahuan Doyoung. Lelaki itu memang tidak berada di dalam kelas untuk saat ini. Mungkin sedang menikmati roti krim keju dan jus mangga di kantin tanpa beban.

"Kapan?" Johnny sama sekali tidak merasa tertantang. Ada alasan bagus kenapa selama ini Doyoung mengikuti saja apapun perintah trio AST padanya. Itu karena ia tidak bisa melawan. Lalu makhluk menjijikan ini tiba-tiba muncul dengan kawanannya dan membela Doyoung. Lalu ia pikir Doyoung bisa tiba-tiba melindungi dirinya sendiri? Konyol.

"Bulan depan. Di lapangan Byeonggun."

Hanya perlu beberapa detik bagi Johnny untuk berpikir. Dia adalah tipe yang tidak banyak pertimbangan. Apalagi hanya melawan seorang Kim Dongyoung? Yang benar saja. Di atas ranjang saja lelaki itu tidak berdaya.

"Sepakat." Ujarnya, mengeluarkan smirk paling jahat yang ia punya.

Rowoon cuma memutar bola matanya lagi dan ikut berdiri. Ia menatap mengintimidasi, "Tapi selama satu bulan ini kalian tidak boleh berbuat macam-macam pada Doyoung. Jika kalian melanggar, aku anggap kalian hanya pengecut yang hanya berani keroyokan."

Johnny akhirnya tidak tahan dan tertawa. Karena ini permintaan konyol lainnya. Tapi persetan. "Terserah." Ujarnya, sambil meninggalkan ruang kelas untuk mengabari dua temannya soal kesepakatan ini.

-oO-Johnny On the Spot-Oo-

"Kau gila." Itu adalah tanggapan Doyoung ketika Rowoon menceritakan taruhannya. Dan hanya dengan melihat senyum jenaka Doyoung, Rowoon tahu bahwa lelaki itu sedang menjerit ketakutan dalam hati. Untung saja tidak mengganggu kegiatan kencingnya saat ini.

Lalu Rowoon yang sangat hobi mengikuti Doyoung ke toilet dan melakukan buang air kecil di sebelahnya itu hanya menjawab santai.

"Kau bisa menghadapi mereka."

Doyoung memainkan alisnya seakan berkata. Oh. Barusan kau serius?! Lalu ekspresinya berubah panik dalam sekejap. Ia jadi menyelesaikan ritual ke toiletnya lebih cepat dari biasanya.

"Bagaimana caranya?!" Masih terdengar panik. Sekarang ia bersandar pada pinggiran wastafel, dan menatap lantai toilet yang dihiasi banyak jejak sepatu.

"Sejujurnya aku hanya menguasai dasar Aikido tingkat paling rendah. Tapi setidaknya aku akan mengajarimu cara untuk berkelahi."

Doyoung memandang Rowoon seperti ia baru saja mendengarkan iklan McDonald menggunakan bahasa Urdu. Ia mengerti substansi kalimatnya, tapi ia gagal paham dengan kemungkinan realisasinya.

Tidak melanjutkan pelatihan beladiri tersebut hingga ke tingkat sabuk hitam adalah keputusan tepat bagi Rowoon. Karena Aikido bukan dipelajari untuk berkelahi. Tidak, tidak hanya Aikido. Tapi semua jenis beladiri. Ia kehilangan fokus beberpaa saat dan malah sibuk memuji diri sendiri dalam hati.

Ketika menoleh, Doyoung mendapati barang kejantanannya sedang diperhatikan oleh Rowoon. Akibat panik tadi, Doyoung baru sadar bahwa ia belum membetulkan posisi celana dalam dan menutup kembali risleting celananya.

"Kau lihat apa?" ujarnya setengah malu, setengah marah. Entah marah untuk apa.

"Menurutmu?" kali ini Rowoon memang berani untuk terang-terangan. Doyoung yang menerima pelukannya begitu saja kemarin, membuatnya merasa mendapatkan lampu hijau untuk melakukan apapun padanya. Sedikit benar, tapi tentu saja jika dilihat secara menyeluruh, pengambilan asumsi Rowoon salah besar.

Terlebih jawaban Doyoung berikutnya menjelaskan bahwa ia tidak merasa sama sekali bahwa Rowoon tertarik padanya, secara 'seksual'. Kau tahu? Untuk dijadikan pacar atau semacamnya.

"Kalau hanya penasaran dengan ukuranku, melihat sebentar saja cukup kan? Tidak perlu seintens itu." Dan Doyoung tidak merasa terkejut atau keberatan. Laki-laki memang sudah biasa melihat dan membanding-bandingkan ukuran mereka dengan sesamanya tanpa rasa malu. Itu pun jika sudah saling kenal.

Rowoon yang dibuat menggeleng-geleng dalam pikirannya. Untuk seseorang yang mengalami kekerasan seksual, Doyoung benar-benar tidak tahu apa soal ketertarikan seksual, pikirnya.

"Kau terlalu polos jika tidak mengira aku sedang memikirkan yang tidak-tidak." Rowoon mengedipkan sebelah mata. Lupakan masalah moralitas. Jika mereka bukan siapa siapa, dan Rowoon dengan seenaknya menikmati 'pemandangan' itu diam-diam, itu baru namanya tidak bermoral.

Doyoung memutar bola mata, "Lihat saja sepuasmu. Aku tidak akan mau lagi diikuti lelaki aneh sepertimu ke dalam toilet." Lalu akhirnya menutup risleting celana.

Selanjutnya mereka mencuci tangan. Di wastafel yang bersebelahan.

Ada dua pilihan sabun cair di sana. Buah apel, dan bunga azalea. Doyoung memilih apel. Bukan apa-apa. Hanya saja azalea terlalu mengingatkannya pada salah satu anggota AST yang memiliki kulit sepucat mayat. Ia tidak mau jika saat jam pelajaran Bahasa Inggris nanti sosok Jaehyun terus meracuni otaknya. Lelaki itu memang fasih berbicara Bahasa Inggris. Tapi cara seperti itu tidak akan mempengaruhi kemampuan Bahasa Inggris Doyoung sama sekali. Yang ada ia bisa menderita sepanjang pelajaran itu nanti.

"Kau juga pernah mengikuti pelatihan Aikido saat masih TK dulu. Tapi hanya satu pertemuan. Karena selanjutnya kau merasa tidak sanggup." ujar Rowoon santai. Yang setelah dipikir ulang oleh kepalanya yang kadang-kadang bisa berpikir ini, terdengar sangat stalker-ish sekali pernyataan barusan.

Spontan Doyoung membulatkan matanya yang sudah bulat ketika menoleh ke arah Rowoon, "Bagaimana kau tahu?! Aku tidak pernah menceritakan hal itu pada siapapun."

"Apa sih yang tidak aku tahu tentang kau?" yang kedengaran creepy. Tapi Edward Cullen mengikuti Bella Swan ke manapun tanpa bertanya apakah itu nyaman untuk Bella atau tidak, dan memperhatikannya ketika sedang tidur, dan Twilight masih jadi salah satu frenchise paling laku di dunia.

Doyoung yang meragukan pernyataan barusan, malah merasa tertantang, "Tinggi badanku?"

"180 senti."

"Kampung halamanku?"

"Gyeonggi."

"Instrumen yang aku kuasai?"

"Bass dan flute."

"Makanan kesukaanku?"

"Roti krim keju di musim semi, semangka dan jus mangga di musim panas, persik dan popcorn di musim gugur, dan… coklat putih dan permen kapas di musim dingin." Rowoon menjelaskan sambil menghitung menggunakan jari-jari tangannya.

Doyoung mengernyitkan dahinya. Mulai terkesan dengan ke-stalker-an temannya ini.

"Sebenarnya siapa kau? Kenapa bisa mengetahui semua itu?" pertanyaan Doyoung lebih berkesan penasaran daripada tidak nyaman. Rowoon mulai merasa semakin mirip Edward Cullen saat ini, dan Doyoung bisa jadi Bella Swan. HA.

"Bukan siapa-siapa. Hanya seorang stalker yang suka membaca profil lengkap Kim Dongyoung di akun facebook-nya." Rowoon mengakui dengan bangga kebiasaan buruknya. Ia pikir jika orang-orang bisa dengan bangga mengakui betapa palsunya mereka dengan Hashtag #NoMakeUp padahal menghabiskan berjam-jam dan berton-ton make up untuk terlihat natural, kenapa ia tidak boleh bangga dengan kemampuan stalkingnya?

"Kau membuatku terkejut. Kukira kau adalah seorang dukun atau semacamnya. Ternyata hanya seorang stalker."

Rowoon sedikit dibuat kaget dengan betapa santainya Doyoung dengan pengakuan ini.

Ia tersenyum kecil. Merasa lega karena lagi-lagi lelaki itu tidak keberatan dengan apa yang ia lakukan.

"Bagaimana jika kalian batalkan saja kesepakatan itu?" ujar Doyoung.

"Kalau kau mau dianggap pengecut sih tidak apa-apa." Rowoon memainkan nada bicaranya agar terdengar menantang.

"Tidak masalah. Toh, mereka sudah tahu aku ini memang pengecut sejak awal. Kalau tidak, aku pasti masih perjaka sampai saat ini."

Rowoon yang kini gantian mengernyit. Doyoung benar-benar representasi kalimat #ZeroFuck tentang segala hal.

"Aku juga sudah tidak perjaka." balasan kalimat Rowoon terdengar santai. Tapi sesungguhnya ia merasa sedikit ingin menantang agar Doyoung merespon hal ini.

"Apa kau bilang? Jadi kau-?!"

Rowoon tersenyum kecil karena pancingannya berhasil.

"Kau pikir zaman sekarang di ibukota begini, siapa yang tidak penasaran untuk bercinta?" tapi Rowoon bukanlah tipe yang sering berganti pasangan. Ia hanya melakukannya beberapa kali bersama Seolhyun –tentu saja- dan nyaris saja melakukannya bersama Inseong ketika mereka menonton blue film bersama. Menggelikan sekali. Untung saja saat itu ia langsung berlari ke kamar mandi. Berakhir mengendalikan diri dengan menuntaskan hasrat pada dirinya sendiri.

Doyoung masih menatap Rowoon tidak percaya, "Tapi aku pikir kau-"

Rowoon juga dibuat tidak mengerti dengan Doyoung yang biasa-biasa saja soal keperjakaannya yang terenggut. Sementara dengan pengakuan Rowoon soal keperjakaannya, ia kaget luar biasa. Ada sesuatu yang harus diperbaiki dari sistem prioritas di otak Doyoung.

"Kita akan mulai berlatih sepulang sekolah. Mulai hari ini. Setiap hari. Sampai hari itu tiba." Rowoon mengembalikan topik yang lebih penting. Urusan 'lainnya' belakangan.

"Kau hanya menambah beban hidupku saja." Doyoung berujar tanpa semangat.

"Demi kebaikanmu juga kan? Kau harus bisa melawan mereka. Kau tidak bisa terus-terusan dibully mereka."

Doyoung sempat berpikir sebelum membalas, "Kalau aku menerima ajakanmu, kau mau memberitahuku sejak kapan kau suka memperhatikan kemaluanku?"

Rowoon tidak mengerti mengapa hal itu penting. Tapi ia mengangguk saja. Sudah menerima dengan pasrah kalau lelaki yang disukainya ini memang punya sistem kerja otak yang berbeda dari manusia kebanyakan.

"Tentu. Dan asal kau tahu saja. Aku tidak sedang meminta persetujuanmu. Karena mau tidak mau, kau tetap harus melakukannya. Jadi kau pasti mau. Iya kan?"

Doyoung mengangguk ragu sebagai jawaban. Merasa masih belum siap untuk menerima kenyataan. Bahwa ia akan berhadapan dengan Jaehyun, Winwin, dan Johnny di lapangan. Sendirian.

Dan sesungguhnya ia lebih berharap ia akan terus menerus mendapat perlindungan dari Rowoon. Ya kan? Itu terdengar lebih mudah. Tapi Rowoon bukan malaikat pelindungnya, tentu saja. Ia kamuflase lain dari setan yang menjelaskan bahwa selain tuntutan akademik, kini Doyoung punya tugas lain untuk membela dirinya sendiri. Doyoung berpikir, Makasih loh Tuhan...

"Setiap kali kita buang air bersama-sama." Rupanya Rowoon lanjut menjelaskan. Doyoung sempat tidak memperhatikan.

Dari pernyataan itu ia berpikir. Berarti sudah lima kali.

Rowoon hanya tertawa ketika Doyoung memukul bisepnya.

Always being available; ready, willing, and able to do what needs to be done.

-oO-Johnny On the Spot-Oo-

.

Bersambung

.

Jadi pemirsah, johnny on the spot adalah sebuah idioms. Dan meaning nya adalah kalimat awal dan akhir chapter yg aku bikin italic. So, itu bukanlah Johnny Suh. Johnny on the spot di sini adalah Rowoon.

Konklusi yg paling mencolok dari review kalian adalah tentang Winwin yg dibilang gak pantes buat jadi jahat karena dia tampang orang baik atau semacamnya. Ya… kurang lebih kaya gitu :v

Makasih buat yg udah ninggalin jejak di chap sebelumnya: JungHyeJi, angstpoem, Riyuu Kashima, Cho Minseo, Park RinHyun-Uchiha, doyounghhh, NamTae1314, moccatwlv, masnoide

Sekian buat chap ini :*