Disclaimer : Naruto and all characters belongs to Masashi Kishimoto-sensei.This story belong to mine, based on True Story.Genre : Friendship, Slice of Life, Drama, RomanceRate : TeenWaktu : Antara Aku, Kau dan ImpianBy Hikari Matsushita
PresentsHappy Reading!
Chapter II
"Arigatou untuk tumpangannya." aku tersenyum pada pemuda yang telah mengantarkanku ke rumah. Tak lupa aku mengembalikan helmet putih yang kupakai.
"Hn, douita." ia membuka kaca helmetnya dan tersenyum tipis kepadaku, salah satu ekspresi manisnya menurutku.
"Aku pulang, ne?" tanya Sasuke membuyarkan lamunanku yang untungnya hanya beberapa detik.
"Ha-ha'i. Kiotsukete ne." aku tergagap. Malu, takut tertangkap basah aku memandangi wajahnya cukup lama.
"Jaa ne." lagi, ia tersenyum tipis. Deru mesin motor kembali berbunyi, lalu Sasuke memutar kemudinya berbalik arah.
"Jaa ne." aku tersenyum dan melambaikan tangan.
.
.
.
Semenjak pertemuan pertama saat itu, ada pertemuan kedua dan seterusnya. Dan masih diisi dengan kegiatan ilegal barter koleksi film.
23 Juli 2013 adalah hari ulang tahun Sasuke yang ke-19. Aku mengiriminya voice note berisi rekaman suaraku menyanyikan lagu Happy Birthday padanya. Tak lupa aku menandai gambar eksklusif karakter kesukaannya di sosial media.
Kupikir tak akan ada balasan darinya karena aku mengiriminya pesan tepat pukul satu dini hari. Ternyata, ia langsung meneleponku haha.
"Moshi-moshi." sapaku pelan mengingat waktunya orang tidur.
"Hn. Arigatou, Sugarplum." suara beratnya yang err terdengar seksi sampai ditelingaku. Aku yakin ia tersenyum tipis.
"Douita ne, Baby Blue. . ." balasku sama pelannya.
"Tadi kau. . .sedang tidur?" takut-takut aku bertanya.
"Hn. Begitu ada pesan masuk aku langsung bangun." terdengar seperti menunggu pesan dariku.
"Maaf mengganggu." lirihku.
"Tidak, aku memang menunggu ucapan darimu." benarkah?
Aku tak membalas perkataan Sasuke. Mataku berat bertahan tetap terjaga.
"Kau mengantuk?" suara dalamnya menyentakku sadar.
"Un." aku bergumam kecil.
"Tidurlah." perintahnya lembut.
"Ya, oyasumi."
"Hn. Have a nice dream, Sugarplum. Jaa ne."
"You, too." aku pun mengakhiri sambungan telepon darinya dan jatuh terlelap.
.
.
.
.
Agustus 2013, aku diterima menjadi penyiar di stasiun radio Konoha. Aku membawakan acara yang bertajuk seputar anak muda pada setiap senin sampai jum'at di jam delapan malam.
Kau tahu? Sasuke rajin mengirim e-mail setiap aku siaran. Bahkan Itachi-nii ikut mengirim e-mail ke stasiun radio.
.
.
.
September 2013 saat aku kembali berkunjung ke rumahnya dan kebetulan ibunya sedang di rumah.
Kedua orang tua Sasuke bekerja, ayahnya seorang wiraswasta yang bergerak di bidang perikanan, ibunya bekerja di perusahaan asuransi. Maka tak heran jika keduanya jarang di rumah, meskipun akhir pekan. Kakaknya Sasuke, Itachi Uchiha, kuliah semester lima di Universitas Negeri Konoha, salah satu universitas terbaik sedunia.
Dan disinilah aku, di hari sabtu yang damai berdiri kaku di ruang tamu kediaman Uchiha.
Aku menjadi salah tingkah. Karena kedapatan berkunjung ke rumah seorang lelaki di hari libur, meskipun seorang sahabat.
"Ayo nak, duduk. Tidak usah malu-malu." suara lembut terdengar keluar dari bibir wanita paruh baya ini. Ia duduk dihadapanku. Pakaiannya rapi dan begitupula rambutnya yang digelung, kurasa ia hendak pergi.
"Ha'i. Arigatou, Uchiha-san. . ." ucapku pelan dan tak lupa senyum terpatri diwajahku.
"Panggil saja Oba-chan. Teman sekolahnya Sasuke? Namanya siapa?" kembali ia berkata lembut dan tersenyum manis untuk ukuran wanita paruh baya.
"Ha'i, Oba-chan. Saya teman chugakkou-nya Sasuke. Dulu sempat sekelas. Nama saya Sakura, Haruno Sakura." aku menurutinya memanggil bibi. Tanganku bertaut, pertanda gugup bertemu wanita yang melahirkan Sasuke.
"Sou desu ka? Ah! Kau yang sering kemari 'kan? Sasuke selalu cerita soal gadis bernama Sakura." aku terkejut mendengar penuturannya, jadi Sasuke selalu bercerita tentangku pada ibunya?
"Sou desu, Oba-chan." aku tersenyum malu.
"Ternyata manis, ya? Ah sampai lupa, sebentar, Oba-chan panggil dulu Sasuke-nya." dan wanita paruh baya yang kutahu dari Sasuke bernama Mikoto itu beranjak masuk ke dalam guna memanggil putra bungsunya.
Pipiku merona mendengar pujian dari ibu Sasuke.
"Sasuke!" hanya teriakan memanggil yang kudengar di ruang tamu ini.
Dan tak lama Sasuke muncul dengan raut muka mengantuk. Bibi Mikoto tak kunjung muncul, mungkin tengah sibuk.
"Aa, gomen. Aku tertidur." matanya menyipit menahan kantuk dan rambutnya sedikit berantakan.
"Jam 10 pagi sudah tidur? Ya ampun, semalam tidak tidur?" pandangan heran memenuhi wajahku.
"Hn, biasa insomnia." ucapnya pelan dengan suara berat dan dalam.
"Huu~ paling nonton film." cibirku kemudian.
"Hn, itu dia. Nonton AV." ujarnya spontan dan seringai jahilnya terbit.
"Sasuke no hentai!" aku meringis sebal melihat seringainya.
"Jangan mesum dulu. AV sesama hewan tahu."
Ctak. Ia menyentil dahiku.
"Ittai!" aku memegang dahi lebarku. Ia terkekeh melihat reaksiku.
"Uso! Kau 'kan memang mesum!" wajahku kutekuk pertanda mengambek.
"Tidak kok. Aku hanya mesum di depanmu." seringai jahilnya kembali, lalu tiba-tiba Sasuke menarik kedua pipiku dengan gemas.
"I-ittai! Yahete yo Hahuke! (I-ittai! Yamete yo Sasuke!)" aku berusaha lepas dari tarikan mautnya.
"Hmph. . ." Sasuke menahan tawa gelinya. Itu kesempatanku tuk melepas jeratannya.
"Itte te te. Hora! Jadi merah!" kuusap-usap pipiku yang memerah.
"Habisnya kau lucu. Haha." dan lepas sudah tawanya.
Aku semakin cemberut. Dan memalingkan muka darinya.
Sret. Sasuke mendekat dan aku bersiap memasang tameng untuk menghindar dari-
"Sakit, ya?"
jarinya yang mengelus lembut dan pelan pipi tembamku?
Aku membeku. Pipiku memanas. Matanya terus menatapku dalam dan terasa makin mendekat.
Helaian rambutnya yang lebat mengenai wajahku. Jantungku menggila, napasku tercekat. Aku bisa merasakan deru napasnya yang semakin mendekat.
Semakin dekat dan dekat.
"Sasuke! Kamu tidak menyajikan minuman untuk Sakura?!" dan teriakkan bibi Mikoto dari ruang tengah menghentikan apa yang entah akan Sasuke lakukan padaku.
Tuk. "Jangan mesum." ia menyentil pelan dahiku dan segera beranjak ke dalam.
Wajahku merah padam. Sekilas aku dapat melihat semburat merah dipipi Sasuke.
'Astaga! Apa yang akan kau lakukan Sasuke!' jeritanku menggema di dalam hati. Aku masih tak percaya dengan tingkah Sasuke. Entah apa yang akan terjadi jika ibu Sasuke tak memanggilnya.
'Hazukashii!' jeritku lagi di dalam hati.
Dan tiba-tiba Sasuke sudah ada di depanku membawa segelas jus jeruk di atas nampan.
"Ah, a-arigatou. . ." suaraku bergetar gugup.
"Hn."
"Aduh Sakura-chan, oba-chan tinggal ya? Harus ke kantor lagi. Nanti kita mengobrol lagi, ne?" bibi Mikoto tiba-tiba muncul lengkap dengan tas tangan dan sepatu terpasang. Benar-benar wanita karir.
"Ha'i. Daijoubu desu, oba-chan." aku tersenyum kepadanya.
"Ya sudah. Ah! Sasuke! Kenapa hanya jus? Mana kuenya? Kamu ini dengan teman kok begitu?" tetiba bibi Mikoto menyentak Sasuke.
"Hn." gumam Sasuke seraya beranjak dari kursi.
"Oba-chan berangkat dulu ya! Sasuke, jaga Sakura-chan! Jaa~!" dan bibi Mikoto segera pergi menuju kantornya.
"Kiotsukete ne, oba-chan!" ucapku kemudian.
"Hn." Sasuke hanya bergumam tak jelas.
"Ehem. Jadi barter apalagi?" Sasuke berdehem sedikit keras untuk mengalihkan perhatianku.
"Hehe. . ." aku tertawa penuh makna.
Hari itu kami banyak berbincang dan bercanda. Tanpa sadar aku menanyakan hal yang membuat Sasuke sedikit kesal? Entahlah.
"Hei, bagaimana pendekatanmu dengan Karin? Berhasilkah? Kurasa kau sudah tidak pernah berbicara soal Karin lagi." tanyaku penasaran.
Seketika itu juga ia terdiam dan tatapannya menjadi tajam. Aku terkejut dengan perubahannya yang signifikan.
"Sa-sasuke?" aku takut dengan reaksinya.
"Jangan bahas soal Karin. Itu masa lalu." ucapannya dingin dan datar.
"Kenapa? Kita sahabat, bukan? Wajar 'kan bercerita seperti itu?"
Sasuke terdiam cukup lama. Lalu, ia menarik napas panjang.
"Karena. . .kita sahabat, aku tak mau ada orang lain diantara kita." ucap Sasuke pelan dan senyum sangat tipis tergambar diwajahnya.
"Souka." aku hanya mengangguk kecil.
.
.
.
.
.
Awal tahun 2014 bukanlah tahun yang bagus untukku. Di hari-hari pertama bulan Januari aku mengalami kecelakaan.
Ketika itu aku sedang mengendarai sepeda dan adikku duduk dibelakang, kami hendak menuju taman kota, tak disangka-sangka ada pengendara motor yang melaju kencang dan menyerempet bahuku hingga aku terkejut dan oleng menabrak tiang listrik.
Kepalaku terbentur keras, kacamataku hancur seketika. Akibat benturan itu aku langsung pingsan seketika. Sepedaku jatuh, aku dan adikku tertimpa sepeda. Wajahku menggesek aspal jalan.
Untungnya adikku hanya mendapat luka gores di kaki. Keadaan sepeda hancur dibagian depan. Dan aku mendapat luka besar di lutut, tangan, dan luka robek di sekitar wajah. Aku bersyukur tidak ada luka serius, meskipun harus dirawat di rumah sakit selama sehari.
Saat tahu kabar aku masuk rumah sakit, Sasuke begitu khawatir. Dia segera pulang usai mengerjakan ujian TOEFL, padahal ia punya rencana pergi bersama teman-temannya.
Aku masih ingat ekspresi dan kata-katanya.
.
.
"Ya Tuhan, Sakura!" suara Sasuke menggema di ruang rawat inapku, ia begitu tergesa menghampiriku. Baju dan rambutnya berantakkan, napasnya tak beraturan dan keringat bercucuran, dia habis berlari.
"Ngh. . . Hai. . ." mengucapkan sepatah kata pun aku sulit, karena bibirku membengkak dan sekitar daguku harus dijahit karena robek.
"Kenapa bisa begini, Sakura?" suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca, tangan kanannya menggenggam erat jemari kananku dan tangan kirinya mengelus pucuk kepalaku.
"Hehe. . . Jatuh dari sepeda." tawaku terdengar lirih karena tak sanggup berkata.
"Baka, ini kecelakaan!" bentaknya kemudian. Aku cuma tersenyum.
"Sudah makan siang?" aku menggelengkan kepala. Lalu Sasuke membuka kotak bento di atas nakas yang disediakan rumah sakit. Aku belum menyentuhnya, karena aku tak kuat membuka lebar mulutku apalagi mengunyah, aku hanya terus minum sedari tadi.
"Orang tuamu kemana?" tanya Sasuke ditengah kegiatannya memotong kecil lauk makan siangku.
"Tou-chan. . .masih dinas. . . Kaa-chan. . .bertemu dokter. . ." ucapku susah payah.
"Souka. Sekarang makan dulu, ne?" Sasuke siap menyodorkan sesendok bubur dengan lauk yang telah dipotong-potong kecil.
"Mulutku. . .sakit. . ." lirihku menahan tangis.
"Biar cepat sembuh, Sakura. Aku suapkan sedikit lalu kau kunyah perlahan, ne?" Sasuke tersenyum meyakinkanku. Aku mengangguk lemah.
Sasuke menyuapkan sedikit demi sedikit bubur itu hingga akhirnya habis. Aku menangis disetiap kunyahan yang begitu menyiksa.
Sasuke hanya diam menatapku miris dan sesekali menyeka air mataku yang mengalir atau bubur yang berceceran disudut bibirku dengan tangan besar dan hangatnya.
"Nah, sudah habis. Gadis pintar. Nih, minum dulu." ia mengelus lagi pucuk kepalaku lembut, kemudian menyodorkan sedotan dari dalam botol air mineral.
"Obatnya dimana? Belum minum obat 'kan?" tanyanya kemudian.
"Laci. . ." Sasuke segera merogoh laci nakas dan mengambil plastik-plastik kecil obatku.
Ia membantuku meminum obat-obatku.
"Arigatou. . ." ucapku pelan padanya.
"Douita. Itu gunanya sahabat." Sasuke tersenyum.
Cklek. Pintu terbuka. "Ara, ada Sasuke-kun. Terima kasih sudah menjenguk." ibuku datang bersama adikku.
"Ah iya, oba-san. Hei, Gaara kau tak apa-apa?" kulihat Sasuke menunduk menyamai tingginya dengan adikku yang tingginya kurang dari setengah badan Sasuke, karena Gaara baru kelas tiga.
"Ga-gaara tidak apa-apa, onii-chan. Ta-tapi, nee-chan. . .hiks. . ." Gaara seketika menangis kembali. Gaara pasti trauma melihat keadaan kakaknya, tapi ia tanggap untuk segera menelepon ibu menggunakan ponselku pasca kecelakaan.
"Daijoubu yo. Nee-chan pasti cepat sembuh." Sasuke tersenyum dan membelai kepala merah Gaara. Ibuku tersenyum melihatnya.
Ah, aku mulai mengantuk karena pengaruh obat, aku tak sadar ketika Sasuke kembali mendekati ranjangku.
"Aku pulang dulu, ya? Nanti aku datang lagi." aku mengangguk lemah mendengar suara Sasuke yang mulai terdengar samar-samar.
Dapat kurasakan Sasuke mengelus kepalaku lagi. Aku pun jatuh tertidur.
.
Cup.
"Aku sayang padamu. . ."
Di dalam alam bawah sadar aku merasa seseorang mencium keningku dan mengatakan sesuatu. Siapa? Sasuke 'kah itu?
.
.
.
.
.
.
.
Entah tubuhku yang cepat meregenerasi atau obatnya yang manjur, luka-luka tertutup sempurna dalam waktu satu minggu. Aku hanya dirawat satu hari satu malam di rumah sakit.
Dan setiap hari Sasuke datang menjenguk, menghiburku yang terus berbaring.
Hasil CT Scan menunjukkan kepalaku tidak mengalami gegar otak. Sebelum Sasuke datang pertama kali menjenguk, aku sempat panik ketika sadar dari pingsan karena aku tak bisa mengingat apa yang terjadi.
Aku menangis berusaha mengingat kejadian sebelum kecelakaan, tapi yang muncul memori beberapa tahun silam. Untunglah aku bisa mengingat segalanya, kata dokter itu efek dari benturan. Setidaknya aku tak muntah setelah siuman, kata dokter jika aku muntah maka berpotensi gegar otak.
.
.
.
Satu bulan pasca kecelakaan aku kembali beraktifitas seperti biasa. Bahkan kembali bersepeda. Sasuke khawatir sekali ketika aku nekat berkunjung ke rumahnya menggunakan sepeda.
Alhasil, aku diceramahi panjang olehnya.
Sampai ketika hari ulang tahunku ia tak mengucapkan apapun. Aku sedih dan tanpa sadar aku menangis di kamarku.
Dan karena aku marah, gengsi menjadi tinggi untuk sekedar menghubunginya. Ditambah ia tak mengacuhkan aku ketika kami tak sengaja berpapasan di konbini.
Tapi, rasa kesalku terbayar ketika aku sampai di rumah ada kejutan manis dari Sasuke. Kejutan pesta ulang tahun yang telat satu minggu.
"Otanjoubi omedetou, Sakura." Sasuke tersenyum manis dengan sebuah bolu khas ulang tahun ditangannya.
"Arigatou." aku menangis haru dengan kejutan manis ala Sasuke.
"Make a wish, dear." lilin angka dua puluh aku tiup saat itu juga.
'Aku berharap bisa terus bersama dengan Sasuke.'
.
.
.
.
.
23 Juli 2014, Sasuke berusia dua puluh tahun. Aku membuatnya sibuk dengan berbagai macam permintaan, hingga ia melupakan hari lahirnya.
Pukul dua belas siang aku datang ke rumahnya dengan membawa Matcha Cake dan satu set menu makan siang buatanku untuk Sasuke.
Sasuke bingung melihatku membawa tas besar.
"Otanjoubi omedetou~!" aku berteriak di depannya, ia terkejut bukan main dan tertawa bahwa ia melupakan hari lahirnya.
"Arigatou." ia tersenyum lebar dan menarik pipiku gemas.
"Yamete yo~ hora, aku bawa Matcha Cake dan bento." aku mengeluarkan dua kotak dari tasku dan menaruhnya diatas kotatsu yang berada di ruang tengah kediamannya.
Sasuke membuka kotak-kotak itu. Dia terlihat tergoda dengan isi kotaknya.
"Sebentar, aku ambil sumpit dan minum dulu." Sasuke pergi menuju dapur dan kembali dengan cepat dengan membawa nampan berisi sumpit, ocha dingin, pisau roti, garpu dan piring kecil.
"Douzo. . ." ucapku memulai. Aku menuangkan ocha dingin pada dua gelas dan memotong Matcha Cake.
"Umai." komentarnya kecil, aku tersenyum kecil melihatnya.
"Kau tak makan?" aku menggeleng. Melihatnya makan dengan membuatku kenyang.
"Ah! Ada nasi." aku membersihkan nasi yang menempel di sudut bibirnya.
"Buka mulutmu." perintah Sasuke tiba-tiba, aku menurutinya dengan heran.
Hup. Sepotong gurita sosis masuk ke mulutku. Mau tak mau aku mengunyahnya.
"Kau menyebalkan." aku mendengus, ia terkekeh.
Usai makan, aku lekas mencuci alat-alat yang kotor.
Disela kegiatanku, Sasuke menghampiriku.
"Sakura." ia menyandar pada sisi bak pencucian piring di sebelahku.
"Ya?"
"Akhir Agustus aku berangkat ke Inggris. Aku diterima di salah satu universitas di London."
Ucapan Sasuke bagaikan petir di siang bolong. Secepat inikah?
"Omedetou." aku tersenyum memandangnya. Itu memang cita-citanya bersekolah di Inggris.
"Arigatou."
"Kapan kau diterima?" tanyaku datar dan melanjutkan kegiatanku mengeringkan kotak bekalku.
"Dua bulan yang lalu." pantas antara bulan Mei dan Juni ia sulit dihubungi. Entah kenapa aku merasa dikhianati.
"Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?" tanyaku lagi.
"Aku sibuk mengurus paspor dan visa. Juga mempersiapkan keperluan untuk disana." jelas Sasuke.
"Souka."
"Gomen na." tangannya terulur dan mengusap pipiku lembut.
"Daijoubu yo." aku berikan senyuman terbaikku di hari itu padanya.
Wajahku tersenyum, tapi hatiku tidak. Aku merasa menjadi sahabat yang tak dianggap. Salahkah aku ingin menjadi orang yang terdekat dan selalu disisinya?
"Hari ini kuantar pulang." setelah mengatakan itu, ia langsung mencium keningku lama. Sesuatu yang tak pernah aku bayangkan, rasanya aku pernah merasakan sensasi ini sebelumnya.
Dan ketika ia mengantarku sampai pintu gerbang tiba-tiba ia menarikku dan memelukku lama, kejadian di dapur rumah Sasuke pun berulang.
Ia mencium pucuk kepalaku dan keningku lama, menghirup wangi sampo cherry di rambutku dalam-dalam. Seakan ia takut kehilanganku. Aku hanya dapat membalas pelukannya dengan erat, diam menerima perlakuannya hari ini.
.
.
.
.
.
.
Bulan Agustus 2014. Seminggu menuju tanggal sepuluh dimana Sasuke akan meninggalkan Jepang. Aku berencana membuat pesta perpisahan, aku sudah membuat rincian apa saja yang harus kubeli dan kubuat.
Tapi, rencana tinggallah rencana ketika kuterima sebuah pesan singkat dari Sasuke.
'Sakura. Gomen na. Aku harus berangkat hari ini, jadwalnya dipercepat. Pukul empat pesawatku take off.'
Deg. Demi Tuhan, Sasuke mengirimiku pesan beberapa menit sebelum pesawatnya lepas landas.
Seketika itu juga aku meneleponnya, tanganku bergetar dan air mataku tertahan dipelupuk.
Nada tunggu terus berbunyi. Jantung bertalu. Batinku memohon untuk segera dijawab teleponku.
Bunyi telepon dijawab terdengar.
"SASUKE! Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?! Kau jahat!" air mataku tumpah seketika.
"Kau Sakura?"
"Itachi-nii?"
"Ah, Sasuke sudah masuk kabin tadi. Ponselnya ia tinggalkan, karena di Inggris tidak akan berguna juga jika dibawa." apa? Kenapa ia begitu tega?
"Kenapa Sasuke baru memberitahuku sekarang kalau penerbangannya dipercepat?" suaraku bergetar.
"Are? Kau tak diberitahu? Semua teman dekatnya tahu, bahkan mereka ada disini untuk mengantar." sakit sekali mendengar perkataan Itachi-nii.
"Souka. Berapa lama ia akan disana, Itachi-nii?" aku berusaha membuat suaraku terdengar normal.
"Kurang lebih empat tahun."
"Haha, lama juga ya?" tawaku penuh keterpaksaan.
"Ya, aku pasti akan sangat merindukan adikku." balas Itachi.
"Adakah pesan darinya untukku?"
Ada jeda cukup lama ketika aku bertanya hal ini.
"Ano sa. . ." suara berat Itachi kembali terdengar.
"Gomen. Tidak ada. . ." suara lirih Itachi terdengar.
"Souka. Arigatou, Itachi-nii. Jaa." napasku mulai sesak dan suaraku tercekat.
"Hn." setelahnya hanya terdengar nada sambungan terputus dan raungan histerisku.
Hatiku sakit, sesak sekali. Aku terus menangis hingga malam. Mataku mulai membengkak, napasku tak beraturan, rasanya sulit untuk bernapas. Dadaku seakan dihujam sembilu berkali-kali.
Ditengah kesakitanku, aku mencoba mengiriminya pesan melalui akun pribadi sosial medianya. Aku utarakan apa yang aku rasakan. Begitu jahatnya ia tak mengabariku keberangkatannya lebih dini, tak ada pesan perpisahan darinya, ungkapan sakitnya aku ditinggal seseorang yang amat kusayangi, dan kuutarakan kalimat penyemangat untuk studinya.
Setelah mengiriminya pesan, aku merasa sedikit lega walaupun air mata terus mengalir.
Hari itu hari terburuk, aku tertidur dengan berlinang air mata. Energi terkuras hanya untuk menangis.
.
.
.
.
Keesokkan harinya aku terbangun dengan tubuh yang begitu lemas. Aku tersentak mengingat peristiwa kemarin.
Segera kubuka sosial mediaku, berharap Sasuke sudah sampai di Inggris dan membalas pesanku.
Harapanku sirna. Pesanku hanya dibaca tanpa ia balas, terlihat dari status 'seen' disudut pesanku. Rasa sakit itu datang lagi dan jauh lebih sakit ketika ia mengabaikan aku di sosial media. Padahal jelas sekali jika aku maupun dirinya sama-sama terhubung.
Kucoba menyapanya disetiap status terbarunya, hasilnya nihil. Aku diabaikan.
Keadaan ini seperti kembali pada masa Chugakkou, bahkan lebih buruk. Sasuke dengan sejuta misteri.
Ia menganggapku seolah-olah tak ada dan tak pernah ada di hidupnya. Untuk apa semua kenangan yang kami toreh bersama?
Kenyataan memukul telak sanubariku, ketika pada akhirnya aku menyadari jika aku sangat menyayanginya. Sangat menyukainya. Sangat mencintainya.
Terlambat.
Dan sejak saat itu aku memutuskan untuk mengabaikannya. Melakukan hal yang sama dengan apa yang ia lakukan padaku. Walaupun aku harus tenggelam dalam pesakitanku karena mencintai sahabatku.
.
Aku harus melupakannya. Aku harus bangkit dari keterpurukkanku. Aku harus maju untuk menjadi seorang juru masak yang aku cita-citakan.
.
.
.
.
Ini kisah kecilku dengan sahabatku.
Dia, sahabat lelaki pertamaku.
Dia, selalu ada untukku.
Dia, mewarnai hari-hariku dengan caranya.
Dia, dengan segala misteri dibaliknya.
Dia, yang menyilaukan dengan senyumnya.
Dia, Sasuke Uchiha.
Sahabatku yang paling kucintai.
Perjuangan kami meraih impian tercapai.
Dan. . . Kisah romansaku berakhir sebelum kisah itu dimulai.
-FIN-
.
.
.
.
.
.
.
A/N : Hello there~ Hikari Matsushita is back~
Ok, panggil saya Hikari saja. Karena saya ganti penname haha :v
Maaf lambat banget, yah banyak aral melintang wkwk
Maaf, kalo typo, maaf kalo eyd salah, maaf pov bikin bingung (sengaja haha)
Ini based on true story, kubuat romance, aslinya geblek banget. Dan yah aku emang rada ge-er dengan sikap dia yg ajaib IYKWIM
And damn true, dia ngacir ke negara orang dipercepat dan dadakan, padahal udah ngarep diajak ke bandara, mayan jalan-jalan kan? TwT)a
Untuk kata2 yg gak dimengerti tanya aja, aku emang males bikin glosarium hehe.
Dan maaf aku NGETIK PAKE HAPE. Jempol atit T 3T dan diupdate pake hape T 3T
Oh ya aku masih euforia SS canon haha :v
Saa, kritik dan saran atau flame ke kotak review ya neng cantik dan abang ganteng XDb
Thanks for reading and review.
Sign with love,
Coretan Hikari.
