"Yuzuru, belikan aku kuteks baru."
Kashuu mulai merengek. Lengan Yuzuru dipeluknya erat-erat. Mata Yuzuru ditatapnya lekat-lekat.
Tidak bisakah Yuzuru melihat melalui mata Kashuu jika Kashuu begitu menginginkan kuteks baru sekarang? Sayangnya tidak bisa, Yuzuru orangnya tidak peka.
"Ayolah, Yuzuru. Yuzuru 'kan cantik..."
Yuzuru terdiam.
"Aku ini laki-laki, bodoh."
– Daily Life Of A Saniwa –
Level Satu (1)
·
·
Yuzuru tidak suka dengan anak kecil.
Karena Yuzuru tidak tahu bagaimana caranya mengurus anak kecil dan berkomunikasi dengan mereka. Rasanya seperti berbicara dengan alien.
Bahkan rasa tidak suka pada anak kecil ini ia bawa hingga ke dalam game. Beberapa tantou tidak bersalah ia lebur untuk dijadikan makanan pedang lain.
Pengecualian untuk Yagen dan Atsu. Dirasa mereka sudah cukup besar, hingga tidak perlu ikut dilebur bersama adik-adik mereka.
Dan Imanotsurugi. Karena Yuzuru suka dengan kepribadian Imanotsurugi yang riang, sehingga Imanotsurugi juga tidak dileburkan.
Kejamnya.
·
·
"..."
Ichigo memandang Yuzuru takut-takut.
Dalam dekapan Ichigo, ada sebuah pedang kecil yang juga memandang Yuzuru dengan rasa penasaran.
"A-ano–Yuzuru-dono–saya dapat menjelaskan semuanya." Ucap Ichigo terpatah-patah.
"Apa yang dilakukan Tsurumaru hingga kau hamil, Ichigo?! Bahkan anak kalian sama persis dengan ayahnya!" Yuzuru jadi horor sendiri. Ini mengerikan. Ditinggal dua hari untuk bersih-bersih rumah di dunia nyata, tiba-tiba saat Yuzuru pulang sudah ada Ichigo yang membawa mini Tsurumaru Kuninaga
"Bukan begitu, Yuzuru-dono! Tsurumaru-dono tidak melakukan apa-apa pada saya!" Ichigo cepat-cepat membenarkan. Atau nantinya salah paham ini bisa jadi semakin salah paham.
"Ini dari menempa pedang kemarin."
Pedang kecil dalam dekapan Ichigo masih memandang Yuzuru penasaran. Dalam hati bertanya-tanya siapa gerangan orang mengerikan yang bawa-bawa sapu tersebut.
Apakah orang ini yang namanya Yuzuru? Yang katanya Ichigo seorang saniwa yang baik hatinya itu? Jujur saja, mini Tsurumaru tidak yakin kalau ucapan Ichigo benar.
"Level satu?"
Yuzuru menatap Tsurumaru kecil dari atas ke bawah. Tsurumaru kecil yang manis sekali. Tapi kenapa waktu besarnya menyebalkan sekali ya?
Lihat betapa manjanya ia memeluk Ichigo. Kalau di saat seperti ini Ichigo benar-benar terlihat seperti seorang ibu. Tidak heran waktu pertama kali Yuzuru lihat ia mengira kalau Ichigo baru saja melahirkan anaknya dan Tsurumaru.
"Sebenarnya–kami takut mengatakannya pada anda–karena anda pasti akan–"
Ucapan Ichigo terputus. Karena yakin kalau Yuzuru pasti mengerti maksud dari ucapannya walau Ichigo mengatakannya secara tidak jelas.
"Kau ingin merawatnya, begitu?"
Ichigo mengangguk.
Terjadi perdebatan di dalam hati Yuzuru. Ada kubu putih dan kubu hitam. Kubu putih memilih untuk mempertahankan mini Tsurumaru. Sementara kubu hitam ingin meleburkan mini Tsurumaru.
'Yuzuru, apa kau begitu tega meleburkan pedang kecil itu?! Bahkan ia belum sampai satu minggu menempati citadel dan kau ingin meleburnya?!' Kata perwakilan kubu putih dengan berapi-api.
'Tidak, tidak! Anak kecil itu menyusahkan! Kau tidak memikirkan betapa repotnya kalau ada anak kecil nanti?!' Perwakilan kubu hitam melawan, tak kalah berapi-api.
Kemudian di dalam ruangan tersebut kubu hitam dan kubu putih mulai saling pukul memukul. Terjadi perang batin. Keduanya sama-sama keras hati, tidak terima hasil seri.
"Aruji-sama..."
Tsurumaru kecil menarik hakama Yuzuru pelan. Kedua matanya menatap Yuzuru dengan begitu polosnya, seperti anak kecil kebanyakan.
"Aruji-sama mau kue?" Tsurumaru kecil memberikan sepotong kue kering pada Yuzuru. Kue yang tadinya mau ia makan, tapi mini Tsurumaru merasa sepertinya Yuzuru yang lebih membutuhkan kue ini daripada dirinya.
"Kuenya enak lho. Ichi-nii yang memberikannya pada Tsuru tadi."
·
·
Yuzuru mimisan.
·
·
"Heeh... Manisnya diriku!"
Tsurumaru level 10 tertawa. Tsurumaru level 1 tertawa juga.
"Coba, kau panggil aku apa?" Tanya Tsurumaru level 10.
"Ayah!"
"Eh?"
"Ini ayah! Lalu itu ibu!" Tsurumaru level 1 menunjuk Tsurumaru sebagai ayah. Dan Ichigo sebagai ibu. "Yuzuru-nii bilang kalau Tsuru memanggil Tsuru-nii itu ayah dan Ichi-nii itu ibu!"
"Eh?"
·
·
Yuzuru menutup buku yang baru separuh ia baca.
Terdiam sejenak. Kemudian bangkit dari tempat duduknya.
"Hasebe? Bisa tolong jadwal ulang penempaan pedang baru? Aku sedang ingin tantou sekarang."
Bersama Nakigitsune
·
·
"Nakigitsune, bagaimana kabarmu?" Yuzuru bertanya.
"Kabar Nakigitsune sangat baik!" Rubah kecil di pundak Nakigitsune yang menjawab. Yuzuru mengangguk-angguk.
'Mungkin Nakigitsune terlalu malu untuk berbicara denganku. Ini masih hari pertama ia datang ke citadel.' Batin Yuzuru membenarkan.
·
·
"Nakigitsune, bisa kau ambilkan buku disana?" Pinta Yuzuru.
"Ya, ya! Tentu saja!" Rubah di pundak Nakigitsune yang menjawab lagi.
'Tak apa, mungkin ia masih malu-malu.'
·
·
Piring berisi tiga tusuk dango diletakkan di samping Nakigitsune. Yuzuru tersenyum menatap uchigatana barunya tersebut.
"Nakigitsune, apa kau mau dango?" Tawar Yuzuru.
"Ya, ya! Nakigitsune bilang kalau dia mau!"
'Mungkin–'
·
·
"BERISIK! DARI TADI KAU YANG BICARA TERUS! LALU KAPAN NAKIGITSUNE KAU BERIKAN KESEMPATAN UNTUK BICARA, HAH?!"
Bersama Yagen Toushirou
·
·
Baru-baru ini Yuzuru memberikan sebuah buku tentang organ tubuh manusia pada Yagen.
Tentu saja Yagen senang. Ia memang selalu tertarik dengan hal berbau sains dan lainnya.
Bahkan karena terlalu senangnya, buku itu dibaca hingga berulang kali. Bisa lima kali sehari dan bisa lebih kalau Yagen ingin.
Dan Yuzuru juga senang karena Yagen senang dengan buku pemberiannya. Yuzuru semakin sering memberikan buku-buku tentang organ tubuh manusia pada Yagen, bahkan buku pelajaran miliknya dulu saat SD.
·
·
"Kau suka dengan buku-buku seperti itu, ya?" Tanya Yuzuru.
"Ya, aku membacanya berulang kali." Jawab Yagen tanpa melepaskan pandangannya dari buku yang ia baca. "Terima kasih, taisho."
"Sama-sama. Aku senang kau menyukainya."
"Oh iya, taisho."
"Apa?"
"Sebagai tanda terima kasih, bolehkah aku membedah perutmu? Mungkin jika aku membedah perutmu, aku dapat menyelesaikan masalah tentang penyakit pencernaan yang akhir-akhir ini meresahkanmu."
·
·
Sejak saat itu Yuzuru memberikan Yagen buku tentang tanaman.
Level Satu (2)
·
·
Hari yang cerah. Taman baru saja selesai direnovasi untuk yang ketiga kalinya. Dua pedang Okita menginginkan taman bernuansa musim panas, dan Yuzuru mengabulkannya.
Kashuu dan Yasusada tidur di beranda. Begitu nyaman dengan kipas angin yang baru saja Yuzuru bawa.
Yuzuru duduk di beranda. Memilih untuk mengagumi taman barunya ketimbang tidur siang bersama Kashuu dan Yasusada.
Sebenarnya juga untuk mengawasi Tsurumaru level satu yang kini asyik bermain di pinggir kolam.
"Tsuru, hati-hati. Jangan terlalu dekat dengan kolam." Yuzuru memperingatkan untuk kesekian kalinya. Dan Tsurumaru kecil tidak memperhatikan karena asyik memandang koleksi ikan koi milik Kasen di kolam.
Awalnya semuanya baik-baik saja.
Hingga akhirnya Tsurumaru kecil memasukkan setengah tangannya ke dalam kolam. Kemudian menggerak-gerakkan tangannya hingga ikan-ikan koi ketakutan. Berenang liar mencari tempat persembunyian.
"Tsurumaru! Jangan terlalu dekat!" Panik. Ditinggal untuk memejamkan mata beberapa detik dan Tsurumaru kecil sudah hampir tercebur ke dalam kolam.
"Aduh! Tsurumaru!"
Yuzuru berlari secepat yang ia bisa. Berusaha menangkap tubuh mungil itu. Entah nanti jadinya punggungnya akan ditempeli koyo lagi atau bahkan lebih parah, yang penting Tsurumaru kecil harus selamat.
"Tsurumaru!"
BYUR!
·
·
Yuzuru masuk ke dalam kolam dengan sukses.
Kanesada Dan Horikawa (1)
·
·
"Masakanmu enak sekali, Horikawa."
Yuzuru menghabiskan nasi mangkuk ketiga.
"Eh?" Wajah Horikawa memerah. Sama merahnya dengan kepiting yang Yuzuru makan. "Terima kasih atas pujiannya, Yuzuru-sama."
"Lagipula..."
Mata Horikawa melirik malu-malu Izuminokami Kanesada yang duduk di sampingnya. Baru saja datang dua jam yang lalu.
"Kane-san baru saja sampai di citadel. Jadi aku ingin membuatkan makanan kesukaannya." Lanjut Horikawa dengan suara yang sedikit lirih.
Tsurumaru bersiul. "Oh? Jadi ini penyambutan Kanesada, ya?"
"Siapa yang bilang masakan Horikawa enak? Masakannya biasa saja." Kanesada membenarkan. "Lagipula semua yang ada disini bukan makanan kesukaanku."
·
·
"Kalau masakannya biasa saja kenapa kau habis tujuh mangkuk, Kanesada?"
Kashuu Dan Yasusada
·
·
"Oi, Yasusada."
Yasusada berhenti bermain bola matatabi miliknya. Melihat Kashuu yang sudah selesai mengecat kukunya. "Ng?"
"Bagaimana kalau kita bermain?" Kashuu menawarkan. "Bermain di ruang latihan. Jadi kita saling melawan seolah-olah kita sedang berperang."
"Kenapa tiba-tiba ingin bermain seperti itu?" Tanya Yasusada tidak yakin. Agak curigaan dengan Kashuu yang dikatai Yuzuru sebagai kembarannya.
"Habisnya aku bosan." Jawab Kashuu diikuti helaan nafas panjang. "Bagaimana? Kau mau tidak?"
Yamatonokami Yasusada berpikir sejenak. Meyakinkan diri apabila semuanya akan baik-baik saja. Namun pada kenyataannya, biasanya kalau ia bersama Kashuu, semua tidak akan baik-baik saja.
Sifat Yasusada yang gampang curiga dengan Kashuu dapat dimaklumi.
"Baiklah. Mungkin seru juga."
·
·
"Peraturannya mudah."
Kashuu mengayun-ngayunkan replika pedang dari kayu. Disesuaikan dengan panjang uchigatana agar mudah. Mana mungkin Kashuu latihan dengan replika pedang sepanjang oodachi? Bisa sempoyongan dia.
"Kita dapat menyerang mana saja, kecuali alat vital. Selain alat vital, diperbolehkan." Ucap Kashuu. "Siap?"
"Aku selalu siap kapan saja." Yasusada mempererat genggaman replika pedang kayunya. "Kau boleh menyerang dulua–"
"ORA ORA ORA!"
PRAK!
"ADUH!" Yasusada menjerit. Memegangi kepalanya yang baru terkena ayunan pedang kayu Kashuu. "Apa-apaan?! Kenapa tiba-tiba menyerang kepala?!"
"Lho? Aku 'kan sudah bilang. Selain alat vital, manapun boleh." Kashuu tersenyum mengejek. "Lagipula kau bilang aku boleh menyerang duluan."
"Oh?" Yasusada menaikkan alis. Jadi begitu, Kashuu menantang maut rupanya. "Kalau begitu aku-pun tidak akan sungkan-sungkan."
"ORA ORA ORA!"
·
·
"Kashuu, Yasusada. Padahal kalian tidak pergi berperang."
Yuzuru melipat tangan. Menatap Kashuu dan Yasusada yang duduk menunggu giliran di depan ruang perbaikan.
"Bisa kalian jelaskan kenapa kalian bisa sama-sama luka parah?"
Berbelanja (2)
·
·
Mengajak Tsurumaru level satu untuk berbelanja itu bukan ide yang buruk.
Tachi kecil itu kini tertawa-tawa senang. Sudah ingin melepas gandengan Yuzuru dan berlari untuk menyusuri distrik pertokoan ramai tersebut. Yuzuru sempat kewalahan mengurusnya.
Kenapa ia tidak ajak Ichigo sekalian saja tadi? Ah, tak apa. Anggap saja ini pembelajaran agar Yuzuru dapat lebih mengerti dan dekat dengan anak kecil.
·
·
"Tsuru ingin mainan?"
"Mainan apa?" Tsurumaru kecil bertanya.
"Ada banyak." Yuzuru berpikir sejenak, mengingat macam-macam mainan untuk laki-laki. "Mau bola? Atau mobil-mobilan?"
"Tsuru mau semuanya!"
"Eh?"
"Masalahnya, uangnya..."
Sorot mata Tsurumaru kecil meredup. Senyumnya perlahan hilang. Tidak terlihat lagi semangat seperti sebelumnya.
"Ya sudah, tidak apa-apa deh." Ucap Tsurumaru kecil dengan suara lirih. "Kalau Yuzuru-nii tidak mau belikan, tidak apa-apa."
·
·
Yuzuru merasa kalah saat itu juga.
·
·
"Aruji-sama..."
Hasebe melipat tangannya. Matanya bergantian menatap sebuah buku di atas meja, kalkulator, dan Yuzuru yang kini menundukkan kepala.
"Jadi, apa maksud dari pengeluaran ini? Seingat saya anda pergi berbelanja hanya untuk membeli ofuda."
"Ng... Aku bisa jelaskan..."
·
·
– To Be Continued –
mad tea party :
Yuki ChibiHitsu-chan : ng...
karena nggak cuma fanfic di owasera, torabu pun juga ami hapus. sebenarnya ada masalah, tapi maaf ya ami nggak bisa cerita (bungkuk). ami akan berusaha untuk nulis yang lebih bagus lagi! terima kasih!
68 : iyah sama sama. untunglah ternyata fanfic ini bisa menghibur dikala kebaperan dirimu (hiks). semoga chapter ini pun bisa menghibur, terima kasih reviewnya.
dan terima kasih untuk semua yang sudah baca (diam-diam ataupun nggak), ami seneng sekali. maafkan ami yang sempet ngilang setelah semua fanfic ami sengaja ami hapus (yah adalah). ami akan coba nulis lebih bagus lagi, terima kasih!
·
amikawa.
