Jaejoong tertegun. Ditatapnya gadis di hadapannya dengan penuh rasa tak percaya. Ia membeku. Tak tahu apa reaksi yang harus ia berikan terhadap gadis ini.
"Jaejoong-aa.." Panggil gadis di hadapannya sambil meraih tangan kanan Jaejoong, menggenggamnya menggunakan kedua tangannya yang mungil. Ditatapnya Jaejoong dengan penuh arti. Matanya menatap penuh harap. Menanti sebuah kata "iya" dari mulut namja dihadapannya.
"Eunhee-ya.. mianhae." Hanya kata itu yang terlontar dari mulut Jaejoong. Perlahan tangan Jaejoong menggusur kedua tangan mungil yang tengah menggenggamnya. Gadis itu menggeleng kecil. Matanya berkaca-kaca. Sebisa mungkin ia menahan air mata yang mulai terlihat menggenang di kedua sudut matanya. Kembali digenggamnya tangan Jaejoong dengan erat.
"Wae? Kau tidak menyukaiku? Kita bisa memulainya pelan-pelan Jaejoong-aa.." Pinta Eunhee dengan wajahnya yang mulai terlihat menyedihkan. Jaejoong terlihat iba mendengar perkataan Eunhee. Tapi ia tak mungkin menerima pernyataan cinta Eunhee yang baru saja satu minggu dikenalnya. Jaejoong menghela nafas. Dilihatnya Eunhee yang masih menatapnya dengan tatapan memohon khas gadis-gadis yang tidak ingin cintanya ditolak. Jaejoong memutar otaknya. Ia kembali menghela nafas dalam-dalam.
"Aku gay Eunhee-ya." Ucap Jaejoong. Kini Eunhee yang dibuat tak percaya. Ia mendongak, menatap lurus-lurus ke dalam manik mata Jaejoong. Mata Jaejoong tidak menunjukkan bahwa Jaejoong berbohong. Ia serius dengan ini. Tapi, hati Eunhee tak ingin menerima. Jaejoong tak mungkin seorang gay. Ia kembali menggelengkan kepalanya. Kali ini dengan kencang.
"Kau berbohong padaku Jaejoong-aa. Kau tak mungkin seorang gay. Kau membenciku, huh?" Ucap Eunhee dengan nada yang agak ditinggikan. Eunhee tak mampu lagi menahan air matanya. Tak urung wajah cantiknya kini basah dengan air mata. Bahkan make up nya yang tipis pun ikut luntur. Jaejoong terperanjat. Ia bingung. Tanpa sadar, tubuhnya telah merengkuh tubuh mungil Eunhee. Memeluknya, bermaksud untuk menenangkan.
"Aku tidak berbohong Eunhee-ya.. aku serius. Aku ini seorang gay." Jaejoong kembali mengulangi perkataannya sambil mengusap pelan punggung Eunhee. Eunhee semakin terisak. Baru pertama kali ini ia ditolak oleh seorang namja. Ia baru tahu sesakit ini ternyata rasanya ditolak. Biasanya ia-lah yang menolak banyak namja yang menembaknya. Mungkin ini yang disebut karma, pikirnya. Perlahan Eunhee melepas pelukan Jaejoong, ditatapnya mata Jaejoong sambil mengusap air matanya.
"Arasseo. Maaf sudah mengganggumu. Aku pergi dulu" Ucap Eunhee sambil memaksakan senyum kemudian berlari meninggalkan Jaejoong. Hatinya serasa luluh lantak karena penolakan Jaejoong. Jaejoong menatap punggung Eunhee yang mulai menjauh dan kemudian menghilang. Jaejoong kembali menghela nafas. Ia telah menyakiti hati seorang gadis. Ia mengusap wajahnya frustasi. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sebuah bangku panjang di bawah pohon tak jauh darinya.
"Kau yang membuatku jadi gay. Dan kau meninggalkanku" Jaejoong menyandarkan kepalanya ke belakang. Menatap langit, tatapannya menerawang. Rasa sesak itu datang lagi, memenuhi dadanya. Sekuat tenaga dia berusaha menahan supaya tidak menangis. Namun hatinya menolak, terlalu sakit untuk tidak menangis. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. menangis sejadinya. Tak ada isakan keluar, hanya saja bahunya bergetar hebat.
Tanpa Jaejoong sadari, seorang pria mengamatinya sejak tadi. Ia bersembunyi dibalik pohon, mengamati setiap gerak-gerik Jaejoong. Ia mendengar semuanya. Berawal dari pernyataan cinta Eunhee dan berakhir dengan penolakan dari Jaejoong dan sebuah pengakuan bahwa dirinya gay. Dan sekarang, ia melihat Jaejoong yang sedang menangis. Terlihat sangat menyedihkan. Membuat dadanya serasa sesak melihat Jaejoong yang seperti itu. Namun, ia tak mungkin hadir begitu saja di sisi Jaejoong dan menenangkannya. Ia pikir saat ini Jaejoong butuh waktu untuk sendiri.
.
.
"Jaejoong-aa" Jaejoong yang sedang berjalan gontai sontak menoleh ke asal suara yang meneriakkan namanya. Dilihatnya Yunho tengah berlari ke arahnya. Jaejoong kemudian kembali berjalan menuju gerbang kampus dengan cuek. Dirasakannya sebuah rangkulan di bahunya. Yunho tengah berjalan sejajar dengannya sambil merangkul bahunya dengan napas yang terengah-engah karena berlari mengejar Jaejoong.
"Yah.. kenapa kau tidak menungguku dan malah terus berjalan meninggalkanku? Kau jahat sekali Kim Jaejoong" Jaejoong hanya mendelik menatap Yunho yang sok menderita hanya karena ditinggal seperti itu. Ternyata Jaejoong masih merasa sebal dengan pria ini. Ditatapnya lengan Yunho yang melingkar di bahunya dengan tatapan iritasi.
"Jangan sok akrab" Ucap Jaejoong singkat. Kemudian kembali berjalan mendahului Yunho dengan langkah panjang-panjang. Berharap ia bisa meninggalkan Yunho. namun perkiraannya salah. Kaki Yunho lebih panjang darinya. Bahkan sekarang Yunho sedang berjalan mundur di depannya sambil tersenyum tengil. Jaejoong cemberut. Ia hanya bisa mendengus kesal. Jaejoong menundukkan kepalanya. Tak mau menatap wajah Yunho.
"Hei, namja cantik tidak boleh galak" Ucap Yunho santai sambil meletakkan kedua telapak tangannya di belakang kepalanya. Mendadak langkah Jaejoong terhenti. Sontak langkah Yunho ikut terhenti. Ditatapnya Jaejoong lekat. Ia masih menunduk, tapi Yunho tahu ada yang berkecamuk dalam pikiran Jaejoong.
Jaejoong teringat kembali. Kata-kata yang diucapkan Yunho barusan, sama persis dengan apa yang diucapkan mantan kekasihnya. Jaejoong kembali merasakan sakit di hatinya. Sudah dua kali Yunho membuatnya teringat pada mantan kekasihnya itu. Jaejoong memegang dadanya yang terasa perih. Yunho yang melihat itu spontan memegangi lengan Jaejoong dan mengangkat dagu Jaejoong agar Yunho dapat melihat wajahnya. Jaejoong menangis, tepat di depan matanya. Yunho terperanjat. Ia belum siap melihat Jaejoong menangis di jarak sedekat ini. Entah mengapa hatinya terasa sakit melihat Jaejoong menangis. Seakan-akan ia mampu merasakan apa yang tengah dirasakan Jaejoong.
"Hei, kau menangis?" Tanya Yunho sambil mengusap buliran air mata di pipi Jaejoong. Jaejoong terkejut, dengan cepat ditepisnya tangan Yunho dan mengusap airmatanya.
"Aku hanya kelilipan" Jaejoong berdalih. Kemudian melangkah cepat mendahului Yunho. tiba-tiba langkah Jaejoong tertahan karena sebuah tangan menahan pergelangan tangannya. ia menoleh ke arah Yunho yang sedang menatapnya khawatir.
"Kau terlihat tidak sehat. Kuantar kau pulang" Ucap Yunho sambil menggandeng Jaejoong menuju Audi hitamnya tanpa menunggu persetujuan dari Jaejoong. Jaejoong yang terkejut hanya mampu mengikuti langkah Yunho.
.
.
"Kau tinggal sendiri?" Ucap Yunho membuka pembicaraan setelah tiba di rumah Jaejoong. Matanya berkeliling melihat seisi rumah Jaejoong. "rapi sekali" pikir Yunho.
"begitulah" jawab Jaejoong singkat sambil menaruh tas nya di meja belajar kemudian keluar lagi menemui Yunho yang sedang asyik mengamati hiasan rumah milik Jaejoong.
"Jangan sembarangan menyentuh. Itu mahal" Ucap Jaejoong agak ketus. Membuat Yunho mengalihkan tangannya dari hiasan-hiasan rumah milik Jaejoong. Diliriknya Jaejoong dengan sebal.
"Kau ini galak sekali" Yunho mengerucutkan bibirnya menatap namja cantik dihadapannya. Jaejoong menatapnya datar, tanpa ekspresi.
"Pulanglah, sudah sore" Jaejoong mengamati matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat melalui jendela rumahnya. Yunho tak menjawab, ia melangkah menuju sofa di ruang tamu Jaejoong dan merebahkan dirinya disana. Jaejoong yang melihat tingkah Yunho nampak bingung.
"Jangan bilang kau ingin menginap" Cecar Jaejoong. Yunho dengan santainya mengambil remote TV dan menonton channel kesukaannya tanpa menggubris pertanyaan Jaejoong.
"Terserah kau sajalah. Jangan sampai ibumu mencarimu" Jaejoong mendengus kesal dan kemudian masuk ke kamarnya untuk mandi. Yunho hanya melirik Jaejoong sambil terkikik geli. "dia pikir aku anak kecil apa?" gumam Yunho sambil melanjutkan menonton acara favoritnya.
.
.
"Kudengar dia gay hyung" Ucap seorang namja bertubuh tinggi sekitar 190cm. Ia menyodorkan selembar map coklat yang tersegel kepada pria yang tengah duduk santai di hadapannya. Pria yang tengah duduk santai itu mengambil amplop coklat yang terletak di mejanya. Membukanya perlahan kemudian mengeluarkan isinya. Diambilnya selembar foto yang terselip disana. Diamatinya foto itu dengan seksama. Ia menarik sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan indah.
"Kim Jaejoong, cantik sekali. Changmin-aa, dia target ku selanjutnya. Mulai besok aku akan mulai mendekatinya" Ucap namja itu sambil menyelipkan ujung foto tersebut ke dalam bibirnya. Ia menerawang sambil tersenyum penuh makna. Sedang menyiapkan beberapa siasat untuk mendekati Kim Jaejoong. pria yang dipanggil Changmin tadi hanya menggelengkan kepalanya. Tak mengerti dengan kelakuan "hyung" nya itu.
"Lalu bagaimana dengan Kim Junsu, Hyung?" Tanya Changmin hati-hati. Membuat raut pria di hadapannya merubah raut mukanya yang semula tersenyum menjadi serius. Dia menatap Changmin dalam-dalam. Kemudian ia melipat tangannya di atas mejanya dan menopang dagunya di atas lipatan tangannya.
"Dia terlalu jual mahal, changmin-aa. Aku bosan. Dia pikir dia sedang berurusan dengan siapa. Aku, Park Yoochun. Pewaris Park corp." Yoochun menunjukkan muka sebalnya pada Changmin. Changmin ingin tertawa, namun ia menahannya. Bagaimana pun Ayah Yoochun adalah bos ayahnya, dan berarti Yoochun pun adalah atasannya. Maka sebisa mungkin Changmin menjaga sikap di hadapan Yoochun.
"Tentang Kim Jaejoong, bagaimana pendapatmu?" Yoochun bertanya sambil melambaikan foto Jaejoong di hadapan Changmin. Changmin terlihat berpikir sejenak.
"Dia cantik hyung. Jujur, aku juga tertarik padanya" Ucap Changmin tanpa ragu. Yoochun mengernyitkan dahi menatap Changmin. Changmin yang menangkap sinyal buruk dari tatapan Yoochun, segera berdalih.
"Tenang saja, aku tidak akan merebutnya darimu. Aku bukan gay sepertimu hyung" Balas Changmin sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia memang bukan gay, tapi ia mengakui Kim Jaejoong memang sangat cantik bagi ukuran pria. Yoochun menghela napasnya. Ia percaya Changmin tak akan merebut apa yang sudah diincarnya. Terlebih lagi Changmin bukanlah gay seperti dirinya. Ia kembali menatap foto Jaejoong, dirabanya foto Jaejoong dari rambut, pipi, hidung, dan bibir. Seakan ia menyentuh manusia yang ada di foto itu.
"Kau begitu indah, Kim Jaejoong. aku harus mendapatkanmu" Gumam Yoochun sambil menyeringai.
.
.
"Jaejoong-aa, aku ngantuk" Yunho memasuki kamar Jaejoong sambil mengucek matanya dan merengek seperti anak kecil. Jaejoong yang sedang duduk di ranjangnya sambil membaca buku terlihat tak menghiraukan rengekan Yunho
"Tidurlah di kamar tamu" Balas Jaejoong tanpa melihat ke arah Yunho. matanya masih tertuju pada buku yang dibacanya. Yunho mendengus kesal. Ia merebahkan tubuhnya di sebelah Jaejoong.
"Yah! Sudah kubilang tidurlah di kamar tamu" ucap Jaejoong kesal.
"Kau bahkan tidak menaruh ranjang di kamar tamu" Ucap Yunho cuek, ia mulai memejamkan matanya. Jaejoong terperanjat. Benar apa yang dikatakan Yunho. ia belum membeli ranjang untuk ia tempatkan di kamar tamu. Ia menoleh ke arah Yunho bersiap ingin mengusirnya lagi. Namun dilihatnya Yunho telah terlelap sehingga ia urung melakukannya.
"Dia bahkan membuka mulutnya saat tidur. Dasar" Jaejoong tersenyum geli, ditariknya sebuah selimut untuk menyelimuti badan Yunho. ditatapnya lekat wajah yang sedang tidur itu. Kemudian ia beralih ke sebuah pigura di meja kecilnya. Diambilnya pigura itu dan dihadapkannya pada Yunho yang sedang tertidur.
"Hei, lihat pria yang sedang tidur itu. Dia pria yang aku bilang mirip denganmu jika hanya dilihat sekilas. Dia membuatku teringat padamu" Jaejoong menghela nafas. Cukup. Ia tak mau seperti ini. Mungkin ia harus belajar melepaskan pria yang ada di foto itu. Jaejoong beranjak dari ranjang, menarik sebuah laci paling bawah meja kecilnya dan menyimpan pigura itu disana. Berharap ia tak akan teringat lagi pada seseorang dalam pigura itu. Meskipun tidak mungkin ia akan langsung lupa, tapi ia harus mulai belajar melupakan. Ia yakin, sedikit demi sedikit ia akan melupakan pria itu.
Jaejoong kembali ke ranjangnya. Dilihatnya Yunho sudah benar-benar terbang ke alam mimpi. Jaejoong mengernyit, memikirkan sesuatu. Berarti malam ini ia akan tidur bersama Yunho? Jaejoong menghela napas. Perlahan ia mulai merebahkan tubuhnya membelakangi Yunho. pikirannya masih berkecamuk. Berkali-kali Jaejoong berpindah posisi tidur. Ia tidak bisa tenang. Hingga akhirnya Jaejoong mengambil posisi miring menghadap Yunho. diamatinya dengan lekat wajah yang sedang tertidur itu.
"Hei, kau namja. Aku namja. Jadi tidak apa-apa kan kalau tidur seranjang? Lagipula ini ranjangku" gerutu Jaejoong sambil menunjuk-nunjuk hidung bangir milik Yunho. jaejoong mulai mencoba menutup mata. Hingga akhirnya ia benar-benar terlelap. Tanpa Jaejoong sadari sebuah tangan melingkar di pinggangnya ketika ia tertidur. Sang pemilik tangan pun hanya tersenyum kecil melihat Jaejoong yang tengah tertidur nyenyak. Ternyata tingkah Jaejoong yang menyentuh hidung Yunho tadi membuat Yunho terbangun. Yunho masih menatap lekat wajah Jaejoong, tangannya kini mulai membelai rambut Jaejoong, kemudian membelai pipi Jaejoong dengan lembut.
"neomu yeppeo" Bisik Yunho singkat hingga akhirnya terlelap dengan Jaejoong berada dalam pelukannya.
-TBC-
Mian ya, mungkin part ini agak jelek. Author lagi kehabisan bahasa /mewek/
Author mau ngucapin terima kasih dulu sebanyak-banyaknya buat yang udah baca FF author.. /tebar bunga/
Maaf kalau author bahasanya masih awut-awutan. Masih banyak kekurangan disana-sini.
Mohon bimbingannya ya.. /deepbow/
Review selalu author tunggu. Karena bagi author, review merupakan sebuah cambuk bagi author untuk menjadi lebih baik #halah
Pokoknya jangan lupa review ya. Biar author tahu, bagian mana yang kalian tidak suka di author dan bisa author perbaiki ^^b (authornya bawel)
Okesipp segitu aja.. author mau kasih balasan review doloo.. /wuusshh/
Balasan Review:
Vic89: Tu sbnarx si yunho tmn kcilx abang vic bukn?
Author: Ssstt.. itu rahasia author ^^b
Lawliet Jung: Yee selamat bergabung di Yunjae's World !
Cerita awal nya itu gimana ya? Membingungkan, juga bkin penasaran! Ayo dilanjut ! :)
Author: Yeeeee \(^o^)/ terima kasih m(_._)m
Sebenernya yang satu part di awal itu cuplikan adegan buat yang ditengah-tengah nanti gitu. Agak ngebingungin yah? Soalnya sengaja author bikin kaya biar jadi misteri gitu (?) eh taunya malah ngebingungin orz Mian ya /deepbow/ lain kali author perbaiki.
.
.
Terima kasih atas reviewnya ^^b
