.
Ghost Kiss
.
Romance, Drama, Fantasy, A Lot of OOCnes, A Little Bit Hurt/Comfort
It's my second Yaoi story :D *Yehet~~
Rate : T
Cast : Huang Zi Tao, Wu Yi Fan, and Other
Pair : KrisTao / TaoRis
Disclaimer : Tuhan Yang Maha Esa
Length : 2 / ?
.
.
.
Summary :
-Huang Zi Tao pemuda biasa yang selalu ditolak pada kencan pertamanya. Mereka selalu meninggalkan Tao begitu saja ketika Tao mulai berkata 'Ah ada hantu nenek-nenek di pundakmu' atau 'Kau diikuti hantu mengerikan sejak tadi'. Wu Yi Fan a.k.a Kris pemuda tampan yang mengubah takdir kehidupan dan percintaan seorang Huang Zi Tao-
.
.
.
.
Di salah satu taman besar yang berada di kota Manhattan terlihat cukup ramai karena banyak warga sekitar taman tersebut yang menghabiskan sore harinya untuk sekedar berjalan-jalan ataupun berolahraga. Terlihat pula dua orang pemuda yang tengah berdiri di salah satu sudut taman, di mana salah satunya sedang menunduk dan menyembunyikan wajahnya yang terbilang sangat cantik untuk ukuran seorang pemuda, sedangkan pemuda lainnya nampak tengah menahan kekesalannya.
"Dengarkan aku Tao!" Kata pemuda tersebut dengan penekanan di akhir kalimatnya. "Kau sudah membuatku sangat muak! Tadinya kupikir kau itu manis, tapi sekarang tidak lagi." Lanjutnya sambil menghembuskan nafasnya dengan keras.
"Ta- Ta- Tapi ge, ha- hantu yang mengikutimu jauh lebih memuakkan." Tao memainkan ujung jarinya, tidak berani menatap langsung mata pria yang barusan telah membentaknya.
Tunggu. Apa tadi Tao bilang hantu?
"Karena kau bisa melihat hantu itulah aku jadi muak denganmu. Sudahlah! Kita putus saja!" Kata pemuda itu sambil membalikkan badannya hendak pergi.
"Tu- tunggu dulu ge." Cegah Tao cepat.
"Stop sampai di situ Tao!" Katanya tegas mencegah Tao untuk mendekatinya.
"Ge aku harus men.."
"Ku mohon jangan mengutukku Tao!" Potong pemuda tersebut cepat sambil membungkukkan badanya 90 derajat.
Pria tersebut bergegas pergi meninggalkan Tao sendiri tanpa mempedulikan bagaimana keadaan Tao yang tengah terdiam dengan raut wajah penuh keheranan dan kebingungan di sana.
"Aku? mengutuknya?" Tanyanya sambil mengacungkan jari telunjuk pada wajahnya sendiri. "Ck.. aku akan dicincang habis oleh baba jika berani melakukannya." Lanjut Tao sambil bergidik ngeri membayangkan bagaimana mengerikannya kepala keluarga Huang saat marah.
Tao pun berjalan pergi dari tempatnya. Nampak raut sedih bercampur kekesalan yang amat kentara di wajahnya. Bagaimana tidak, ia baru dua hari saja menjalin hubungan sebagai pacar dan tepat di hari ketiga ia telah diputuskan dengan tidak elitnya. Karena hantu.
"Aish... selalu saja begini." Gerutu Tao kesal sambil menghentakkan kasar kakinya dan mengerucutkan bibir sewarna peachnya tersebut. "Aku bahkan lupa mengingatkan kalau hantu yang tadi berada di sampingnya tidak hanya memuakkan tapi juga mengerikan. Benar-benar mengerikan." Kata Tao lagi sambil menggelengkan pelan kepalanya.
Huang Zi Tao pemuda biasa yang selalu di tolak pada kencan pertamanya, baik itu bersama pria dan wanita. Tidak tidak, Tao sama sekali tidak jelek, bau, ataupun seorang pemuda nerd. Ya tepat sekali, mereka selalu meninggalkan Tao begitu saja ketika Tao mulai berkata 'Ah ada hantu nenek-nenek di pundakmu' atau 'Kau diikuti hantu mengerikan sejak tadi' ataupun kalimat-kalimat lain semacam itu.
Tao pun bergegas meninggalkan taman, sepertinya ia akan pulang ke apartemennya untuk menenangkan hatinya yang baru saja di patahkan, Lagi. Singgah sebentar di supermarket yang berada tidak jauh dari apartemennya, kemudian membeli beberapa bahan untuk makan malamnya.
.
.
.
Tao kini tengah berada di bagian yang menjual beraneka buah-buahan. Nampak troli belanjaannya telah terisi beberapa bahan makanan.
"Haruskah aku mengambil buah persik atau apel merah saja?"
Tao terlihat menimbang-nimbang apa yang akan ia pilih. Gaya berdirinya yang laksana model membuat beberapa orang disekitarnya menatap dan berdecak kagum padanya. Bagaimana tidak kagum, lihatlah pemuda panda imut kita satu ini, tangan kiri di pinggang dan jari-jari tangan kananya mengusap bibir halus dan berwarna peach alami dengan lekukannya yang aduhai itu.
"Ah buah persik saja." Tao pun memasukkan buah pilihannya ke dalam troli.
BRUK!
"A- ah, uhuk ma-ma- maafkan a-aku uhuk uhuk."
Seorang pria yang tingginya melebihi Tao, memiliki surai berwarna dirty blonde yang menutupi hingga kematanya, tidak sengaja menabrak susunan kardus yang berada di sisi bagian buah-buahan tempat sekarang Tao berada. Pria tersebut nampak kurang sehat, terlihat ia menggunakan jaket yang tebal sampai menutupi leher dan sebagian wajahnya.
"Tidak apa Tuan, pegawai di sini akan memperbaikinya lagi."
Tao masih belum memperhatikan pria yang sedang berdiri tepat disampingnya. Ia masih asyik mengecek belanjaannya yang berada dalam troli.
"Berhati-hatilah Tuan, sepertinya kau..." Ucapan Tao terhenti begitu saja saat ia mengarahkan matanya ke arah pria yang berada di sampingnya.
"Oh my God!" teriak Tao kaget.
Tao benar-benar kaget dan tidak sengaja berteriak nyaring, membuatnya kini menjadi pusat perhatian para pengunjung.
"A-ada uhuk A-pa Tu-tuan?" tanya pria itu bingung.
"Ada kerumunan hant.. ah tidak tidak, Ma-maksudku ada kerumunan diskon di sana, ya di sana hahahahah." Tao terkekeh bodoh sambil memegang tengkuknya yang mulai dingin.
'Astaga hampir saja aku menakuti seisi supermarket dan apa-apaan itu dengan diskon? Aih bodohnya.' Dalam hati Tao mulai merutuki kepolosan otak dan mulutnya.
Orang-orang yang sempat kaget akibat teriakan Tao hanya bisa menggeleng perlahan dan menggumamkan kata seperti 'Ah untung saja dia manis.'
Tao yang masih bisa mendengar gumaman tersebut hanya bisa tersenyum kaku dan meminta maaf kepada orang-orang yang berada disekitarnya yang sempat ia kagetkan tadi.
Setelah meminta maaf Tao segera mendorong trolinya, meninggalkan pria itu berdiri sendiri di sana. Baru saja dua kali ia melangkah, ia pun membalikkan tubuhnya dan menatap kasihan pada pria yang masih setia berdiri menghadapnya.
Tao berdehem sebentar untuk menghilangkan kecanggungan yang tiba-tiba menderanya. "Tuan, berhati-hatilah." Katanya berusaha seramah mungkin. "Sepertinya kau butuh yah.. seorang cenayang." Lanjutnya sedikit bingung untuk memilih kata.
"Ma- maksud uhuk mu?" Tanya pria tersebut.
"Maksudku, kau dikerubungi oleh han..." Tao pun menghentikan kalimatnya. 'Apa ia akan lari ketakutan kalau aku bilang hantu?' Tanya Tao dalam hati.
"Han...?" Tanya pria itu tidak mengerti karena Tao yang tiba-tiba terdiam dan tidak melanjutkan kalimatnya.
"Ah sudahlah lupakan perkataanku yang tadi Tuan." Kata Tao sambil mengibaskan tanganya seperti sedang mengusir nyamuk. 'Astaga.. berbicara sebentar saja dengan pria ini membuat hantu-hantu yang ada padanya mulai mendekatiku.' Gerutunya dalam hati. Mana mungkin kan ia berkata langsung kepada pria itu.
"Uhuk ba- baiklah."
"Segeralah mencari cenayang Tuan, dan kau akan baik-baik saja" Kata Tao meyakinkan.
"Terimakasih atas sarannya uhuk uhuk."
"Sama-sama Tuan. Aku harus segera pergi Tuan." Tao tersenyum hangat dan membungkukkan sedikit badannya kepada pria itu, kemudian bergegas pergi ke arah kasir. Ia tidak menyadari jika senyumannya akan berefek pada detak jantung pria tersebut.
.
.
.
Setelah membayar belanjaannya, Tao pun keluar dari supermarket sambil menenteng satu kantung belanjaan di tangan kirinya dan tangan kanannya ia masukkan ke dalam saku jaket tebalnya.
"Hari berlalu dengan cepat. Saat masuk ke supermarket jelas-jelas masih ada matahari." Gerutu Tao merapatkan kerah jaketnya. "Ck.. sepertinya hari ini aku benar-benar sial. Sudah diputuskan dan bertemu kerumunan hantu hah.." Gerutunya lagi sambil menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba saja terasa gatal mengingat kejadian yang menimpanya hari ini.
Tao pun mempercepat langkah kakinya. Ia hanya tidak mau berlama-lama berada di luar, selain karena suhu yang semakin menurun, keberadaan hantu juga akan sangat meningkat pada malam hari. Dan Tao sudah lelah melihat hantu hari ini. Terlalu lelah.
.
.
.
Tao kini sedang berbaring di atas ranjang queen sizenya. Tentu saja ia telah mandi dan menyusun belanjaannya.
"Ah.. nyamannya."
Tao berguling ke kanan dan ke kiri, meresapi betapa nyaman tulang punggungnya ketika menyicipi keempukan ranjangnya setelah menjalani hari yang berat, yang terlalu beratnya sampai menghilangkan nafsu makan pemuda cantik kita yang satu ini.
"Hari ini hari terakhir masa liburan, dan besok sudah harus ke sekolah lagi. Aishh.." Tao menggerutu sambil mengacak surai indah sekelam bulu gagak miliknya. "hah.. umurku akan berkurang sehari jika menggerutu lagi." Desahnya pelan.
Hari ini memang hari terakhir masa liburan musim panas sekolahnya. By the way Tao memang masih berstatus sebagai pelajar di salah satu sekolah menengah atas ternama di kota Manhattan, New York. Ia memang hanya tinggal seorang diri di kota besar ini. Alasannya, karena ia menginginkan suasana baru dan bosan dengan Cina akunya pada sesepuh dan orang tuanya.
Apa tadi aku mengatakan sesepuh?
Ah.. baiklah aku akan menjelaskan sedikit. Tao berasal dari keluarga cenayang terkenal di Cina, hal itulah yang menjelaskan mengapa ia dapat melihat hantu. Ayah dan Ibunya tidak memiliki kemampuan sepertinya, yah bisa dibilang dalam satu generasi hanya ada seorang saja dari keluarganya yang akan memiliki kemampuan itu.
Ayah dan Ibunya tentu saja akan mengizinkan ia pergi. Mereka tidak pernah mengekang dan selalu membebaskan Tao, asalkan ia mampu menahan amarahnya dan tidak mengutuk orang lain. Dan yah.. Tao tidak boleh melupakan sehari pun untuk lupa menghubungi mereka.
Sebenarnya banyak dari anggota para sesepuh yang melarangnya pergi. Akan tetapi, Tao mengancam akan mengutuk generasi selanjutnya jika ia tidak diperbolehkan pergi, dan dengan terpaksa mereka pun mengizinkan Tao. Tentu saja Ayah Tao tidak tahu menahu tentang kutukan yang akan dilayangkan oleh anaknya itu. Akan sangat mengerikan jika Ayahnya sampai tau. Jadi dengan akal bulusnya, Tao pun mengancam mereka lagi dengan ancaman yang sama untuk tidak berkata apapun tentang alasan mereka mengizinkan Tao. Kekekeke nakal juga panda imut ini.
Baiklah kembali lagi pada keadaan Tao saat ini. Ia telah merapatkan selimutnya sampai ke leher, nampaknya sudah bersiap untuk menuju ke alam mimpi.
Namun, Tiba-tiba saja ia terduduk dan mengusap dagunya pelan.
"Apa jangan-jangan aku susah punya pacar karena menakuti para sesepuh?" Tanyanya. "Ah mana mungkin. Hapus pemikiran bodohmu itu Tao" Lanjutnya sambil memukul pelan dahinya.
Tao pun merebahkan dirinya lagi dan memperbaiki posisi selimutnya yang sempat terjatuh sebatas pinggang saat ia terduduk tadi.
"Yosh! mulai besok aku akan berhenti mengatakan 'bisa melihat hantu' lagi. Dan... semoga saja bonusnya aku bisa punya pacar baru lagi kekekeke" Tao terkekeh dengan cengiran lebarnya.
Diambilnya handphone yang berada di atas meja kecil sisi kanan tempat tidurnya dan mengetikkan angka-angka yang telah ia ingat di luar kepalanya. Tidak perlu menunggu waktu yang lama sampai suara halus di sebrang sana menyapanya.
"Halo sayang."
"Mama, Tao kangen." Pekiknya manja.
"Pulang saja kalau kau kangen Tao." Terdengar kekehan lembut. "Bagaimana hari mu sayang?" Tanyanya.
Tao memutar matanya. "Aku baik-baik saja Ma. Bagaimana dengan kalian?"
"Kami sama sepertimu sayang. Apa kau berhasil mengutuk seseorang hari ini hmm?"
"Hampir saja Ma kekeke." Kekeh Tao.
"Astaga anak ini. Kesabaran kun.."
"Kunci dari segalanya." Potong Tao cepat.
"Yah.. Kau selalu yang terbaik sayang. Tidurlah, Mama tau di sana sudah malam. Besok kau sekolah kan?"
"Hmm baiklah. Sampai jumpa besok malam Ma." Kata Tao sambil tersenyum.
"Sampai jumpa, mimpi indah sayang."
"Mimpi indah juga buat kalian di sana." Balas Tao.
PIP!
Tao pun menyudahi teleponnya, lalu kemudian menyetel alarm. Ia sepertinya tidak ingin datang terlambat di awal semester barunya.
"Good night." Gumam Tao pelan dan entah pada siapa.
Mata khas panda indahnya itu pun mulai terpejam perlahan. Wajah damainya ketika tidur meninggalkan banyak keirian pada sinar bulan yang diam-diam masuk melalui sela jendela kamarnya yang tidak tertutupi gorden dengan sempurna.
.
.
.
Di sudut lain kota Manhattan di salah satu kamar apartemen. Terlihat seorang pria yang tengah merapikan selimut sampai sebatas lehernya. Nampak raut kelelahan disertai kesakitan di wajahnya.
"Ahh.. lelahnya." Desahnya pelan.
Dipandanginya langit-langit apartemenya dan kemudian terkekeh pelan sambil menggaruk pipinya dengan jari telunjuk mengingat seorang pemuda imut yang tidak sengaja ditemuinya hari ini.
"Panda yah.. kekekeke." Kekehnya pelan.
Pria itu pun membalikkan tubuhnya menghadap ke jendela apartemennya yang berada di sisi kiri tempat tidurnya menatap pemandangan kota yang tersaji indah di balik kaca jendela. Ia memang sengaja tidak memasang gorden. 'Suka akan pemandangan indah' jawabnya pada orang-orang yang mempertanyakannya saat mereka datang bertamu ke apartemennya.
"Aku tidak sabar bertemu lagi denganmu Huang Zi Tao." Gumamnya. "Saat berdekatan denganmu aku benar-benar merasa sehat." Katanya sambil menutup matanya perlahan, menggapai mimpi indah atau pun mimpi buruk yang telah menantinya. Entahlah.
.
.
.
Kedua manusia dengan gender yang sama itu pun tertidur tanpa menyadari nasib apa yang besok akan menyapa mereka berdua dan mengubah kehidupan keseharian mereka menjadi... yah bisa lebih baik dan bisa pula lebih buruk.
Dan yah.. sepertinya tidak hanya kehidupan keseharian mereka saja yang akan berubah, tetapi mungkin takdir percintaanya pun akan ikut-ikutan berubah. Siapa yang tahu kan!
.
.
.
TBC
.
.
.
.
Apakah cerita ini berhasil atau tidak? Apa ini masih layak buat dilanjutkan atau gimana?
Next chapter mungkin bakalan lama :'D aku harus maju proposal minggu ini ato kalo nggak minggu depan soalnya aku udah nyaris seteress ditanyanin "KAPAN WISUDA" mulu kakak~~~.. doain yah~~ :'D :'D
Read and Review...
Typo? Manusiawi kok yahh..
P.S. :: buat yang PM kenapa aku jarang baca atau ngereview cerita punya author lain, aku punya satu akun lagi yang aku gunain buat baca dan ngereview lhoo, akun itu digunain ama 2 orang lain jadi bukan cuma aku aja :D :D ... coba tebak nama akun aku yang satunya lagi apa hayooo? :D :D :D cluenya : Profil Picturenya itu naruto + kyuubi yang lagi bobo (?).. kekekeke :D :D :D
See you on the next story, bubyee~~
