Summary :: Miku dkk selalu saja dikejar-kejar fans nya di Vocaloid hari, Miku dkk dipindahkan sekolahnya ke sekolah menengah biasa bernama Olympus Academy karena urusan pekerjaan. Keadaan sekolah yang sangat 'berbeda' dari biasanya JUSTRU membuat Miku dkk merasa tentram. Seperti apakah Olympus Academy itu?

Character :: Jangan tanya! palingan cuma banyak OC doang

Genre :: Humor, School Life, Sports, Romance, dll.

Rated :: T untuk berjaga-jaga

Disclamer :: Vocaloid by Yamaha Corporation. OC by Me and Others


=Let's Start the Story=


YAMAHA ACADEMY
Di Jepang, terdapat sebuah sekolah berasrama terkenal bernama Yamaha Academy. Sekolah raksasa seluas 2 hektar dengan 15000 murid-murid terpilih dan guru-guru yang sudah mendapatkan gelar professor. Bagi seluruh anak, sekolah ini benar-benar impian. Karena selain seragamnya yang cantik (I can't describe the form of uniform because the pretty-gorgeous uniform to me is not necessarily for you. So, please you used your own imagination.), banyak artis-artis/bintang idola sekolah disana, jika mereka dapat masuk ke sana, mereka bisa diterima dimana-mana. Bahkan di Havard sekalipun (I seem to be too delusional). Sekolah ini tampak sangat berkelas, elegan, damai dan tenang. Benar-benar sekolah impian.

Tetapi, semuanya benar kecuali kata damai dan tenang tersebut. Karena….

"KYAAAAAAAAAAAAA! MIKU-CHAN!"
"KAITO-KUUN! PLEASE MARRY MEE!"
"RIIINNIEEEE! WE STILL LOVE YOUUU!"
"SHOTA-LEEN! OH MY GOOOD!"
"LUKA-SAAAAN! YOU LOOK SO GORGEOUS TODAY!"

Sekolah ini tidak bisa tenang karena terdapat 5 murid-murid sangat ternama yang membentuk band bernama Vocaloid tinggal di sini. Kehadiran mereka bahkan menandingi kehebatan dewa sekalipun. Pengaruh mereka benar-benar sangat kuat kepada setiap murid. Mulai dari gaya berpakaian, gaya bicara, gaya duduk, gaya makan, bahkan gerakan mereka juga berpengaruh. Mereka selalu diidolakan. Dimana-mana semuanya menyerukan nama mereka.

Akan tetapi…

Jika itu di atas panggung sih boleh, tetapi jika di kehidupan sehari-hari tentu itu akan menjadi sangat menyebalkan, bukan?

YAMAHA JUNIOR HIGH ACADEMY – CAFÉTARIA

"Kyaaa! aku nggak tahaaaan!" jerit salah seorang gadis sambil meremas pita putih yang menghiasi rambut nya tersebut dengan frustasi.

Rin Kagamine, seorang gadis bertubuh setinggi 156 cm dengan kulit putih dan rambut sebahu berwarna honey blonde dengan mata biru cerah. Sosoknya gampang dikenali karena bando berhiasan pita putih tersebut selalu menghiasi rambutnya. Dia adalah salah seorang anggota Vocaloid termuda kedua. Yap, termuda ketiga. Rin kelas 2-5 dan biasanya para fans-nya memanggilnya dengan sebutan Rinnie.

"Rin, hentikan hal itu dan lihat sekelilingmu!" bentak seorang laki-laki di sebelahnya kepada Rin. Rin melihat sekelilingnya. Ternyata beberapa siswa dan siswi kini sibuk meremas kepala mereka masing-masing bahkan yang gundul sekalipun juga ikut meremas kepalanya. INGAT! MEREMAS KEPALANYA!

Len Kagamine, seorang laki-laki dengan sosok dan tinggi yang sama persis dengan Rin Kagamine karena mereka itu memang kembar lawan jenis. Sangat jarang sekali, bukan! itulah yang membuat dia gampang dikenali.. Salah seorang anggota Vocaloid paling muda setelah Rin. Len kelas 2-7 dan biasanya para fans-nya memanggilnya dengan sebutan Shota-Len

"Eh, ehehe…" cengir Rin berhenti meremas pita di atas kepalanya. Sontak para penggemarnya pun berhenti meremas rambut dan kepala mereka.

"Huh, dasar…" dengus Len dengan kesal sambil melahap roti pisang keju yang ada di piringnya.

"Sudahlah, kalian berantem mulu deh… tapi justru dengan selalu bertengkarlah itu membuktikan kalau kalian berdua itu rukun…" tegur seorang gadis lainnya yang berada di depan Rin memandangi mereka berdua satu persatu. Sumpit di tangan kirinya daritadi terus menjepit ikan sarden goreng yang ada di kotak bento miliknya

Luka Megurine, jangan tertipu dengan bentuk badannya yang tampak seperti gadis dewasa. Karena, walaupun begitu dia adalah anggota Vocaloid termuda di antara yang lainnya. Dia tampak sangat (sorry) seksi karena dadanya yang berukuran 'C' Cup dan pingganya yang sangat langsing dan tingginya 165 cm. Rambutnya yang berwarna pink sangat cantik dan sangat fasih berbahasa Inggris. Warna matanya pun sama dengan warna maka Kagamine Twins. Luka kelas 2-1 dan biasanya para fansnya menyebut Luka dengan sebutan Luka-san.

"Yaah, gitu deh!" jawab Len asal-asalan melahap seluruh roti pisang keju miliknya yang masih ¾ . Karena memang mereka tidak tahu mau ngomong apa lagi.

"Wow, Luka bijak banget! sugoii~" seru Rin terkagum-kagum. Karena dia memang begitu mendambakan sosok 'adik'nya tersebut. Dada besar, kaki mulus, pinggang ramping, semua gadis pasti mendambakan sosok seperti itu, bukan? (but I don't want my boobs be big! because my figure that now I have the hassle! now, size of my breasts still like a little kid. But I'm comfortable with it! and isn't it better?).

"Luka, perasaan 30 menit yang lalu kau terus menjepit sarden itu, tetapi 30 menit tidak kau makan-makan?" celetuk gadis di sebelah Luka. Luka memandangi ikan sarden goreng miliknya dan langsung dia makan.

Miku Hatsune, diva dari semua diva (please hit me… I'm crazy now =..=).Walaupun tampak seperti gadis yang polos (Rin innocence beyond), tetapi suaranya paling bagus dan dia paling terkenal di antara semua anggota. Memiliki tinggi 159 cm. Rambutnya panjang berwarna hijau tosca diikat twintaill dan mempunyai warna mata yang sama persis dengan warna rambutnya. Miku kelas 2-1 dan biasanya para fansnya memanggilnya dengan sebutan Miku-chan.

"Aduuuh, aku lupa tadi… asyik banget sih ngeliatin kalian berempat!" kata Luka sambil tertawa manis. Kemudian dia menjepin ikan sarden yang lain dan menjepit nasi lalu memakannya.

"Walaupun cantik, diam-diam Luka itu aneh, ya…" bisik Miku kepada seorang lelaki di sebelahnya yang asyik mengemut popsicle lalu dibalas dengan anggukan kecil dari lelaki tersebut.

Kaito Shion, paling tua diantara semua anggota. Awalnya, dia tidak seterkenal Miku, Rin, Len dan Luka. Tetapi, setelah menyanyikan single duet bersama Miku dengan judul lagu bernama 'Cantarella', perlahan-lahan popularitasnya meningkat sampai akhirnya namanya menjadi sangat terkenal. Sering digosipkan berpacaran dengan Miku, tetapi sebenarnya mereka adalah kakak beradik (I don't like when Miku and Kaito is a couple. They are both much better suited as 'brother and sister' instead of 'couple'). Dia memiliki tinggi badan 175 cm dengan rambut berwarna biru laut yang selaras dengan warna matanya. Kaito kelas 2-6 dan biasanya para fansnya memanggilnya Kaito-kun. Kenapa dia mempunyai marga yang berbeda dengan Miku? padahal mereka bersaudara? karena orangtua mereka berdua bercerai… Kaito diurus oleh sang ibu (Shion), sedangkan Miku diurus oleh sang ayah (Hatsune).

"Hadang… slurps… hauku huw-slurrrrrsp waaa herpiiir herepti hiuuuslprsssss" gumam Kaito masih dengan popsicle yang bersarang (what the f*ck) di mulutnya.

"Iiiih, Kaito nii-san jorooook! kalau ngomong lepas dulu dong es nya!" pekik Miku agak menjauhkan kepalanya dari Kaito. Kaito langsung melepas popsicle yang bersarang di mulutnya. Bukan karena mendengar kata-kata Miku, melainkan karena memang popsicle miliknya tinggal stik-nya doang.

"… Rin, ngomong-ngomong kenapa kau tadi teriak 'tidak tahan'? apa ada sesuatu?" tanya Luka yang kebetulan sudah menghabiskan bento miliknya.

"Benar juga… memangnya Rin-chan kenapa?" timpal Miku. Rin menundukkan kepalanya. Wajahnya tampak begitu lelah.

"Begini, apa kalian tidak berpikir kalau ini melelahkan?" tanya Rin memandangi Kaito, Miku, Luka dan Len satu persatu. Wajahnya tampak memelas.

"melelahkan apanya?" tanya Miku heran. "Pekerjaan kita memang sangat banyak, tetapi bukannya kalau sabtu dan minggu kita diliburkan?" lanjut Miku lagi. Kaito, Len dan Luka menganggukan kepalanya. Rin membetulkan pitanya lalu menghela nafas. Beberapa saat kemudian dia mulai berbicara.

"Begini… aku senang dengan pekerjaan kita, aku juga senang fans kita banyak… rasanya sangat bangga dan bahagia jika melihat para fans kita tampak puas dan menyorakkan nama kita jika selesai tampil… aku juga senang kalau melihat wajah para fans kita yang tampak bahagia jika melihat kita…. tetapi, lama-lama terkadang kalau di kehidupan sehari-hari kita juga disorakin memuakkan juga rasanya…" jelas Rin panjang lebar kali tinggi bagi dua dengan rumus dua puluh dua per tujuh kali jari-jari kurang luas persegi bagi setengah (I'm crazy now.. I hate math!). Luka, Kaito, Miku dan Len masih mencerna kata-kata Rin barusan. Rin memandangi mereka berempat satu-satu lalu kembali menghela nafas.

"Maksudku, aku ingin walau kita sangat terkenal- BAHKAN jika kita dapat Go Internasional sekalipun, aku ingin hidup biasa-biasa saja… aku muak seperti ini!" lanjut Rin kemudian menundukkan kepalanya. Dia yakin pasti dia akan segera didamprat oleh teman-temannya. Tetapi ternyata…

"Aku pun terkadang kesal"

Rin mendongakkan kepalanya memandangi Miku yang tadi berkata seperti itu. Sementara yang dipandangi menundukkan kepala dalam-dalam. Rin memandangi Luka, Len dan Kaito yang kini sedang merenung.

"Kadang-kadang aku berpikir kalau hal ini terasa begitu mengesalkan… hari-hari terasa begitu berat… melangkahkan kaki ke sekolah rasanya sulit…" jelas Miku memilin-milin rambut panjangnya.

"Miku-chan…" gumam Rin.

"Bukannya sombong atau apa, tapi… mereka bilang wajahku tampak manis… seperti seorang gadis… tapi, kenapa wajahku seperti ini? gara-gara wajahku ini juga aku jadi tidak tahu dimana posisiku… aku berusaha untuk masuk diantara 'perempuan' dan 'laki-laki'… laki-laki dan perempuan memandangiku sebagai sosok perempuan… tetapi aku ini laki-laki… jadi, sebenarnya dimana posisiku?" sambung Len memandangi beberapa fansnya yang sibuk memandangi dirinya sambil cekikikan.

"… Mereka sibuk bicara sendiri… semua orang memujiku, mereka mengatakan kalau aku 'keren', 'ganteng', 'pandai', 'hebat', tapi tak ada satupun orang yang mengatakan kalau aku itu 'menarik' atau 'menyebalkan'… hanya kalian yang bilang seperti itu… Terkadang dipuji terus juga membosankan…" sambung Kaito dia memandangi langit-langit

"Aku juga begitu, Walaupun mereka mengerubutiku, mereka sebenarnya mengacuhkanku… dan aku harus memaksakan diri tersenyum agar mereka tidak kecewa… Rasanya… sedih, marah, menangis dan lelah adalah suatu hal yang tabu bagiku… aku tidak butuh uang, ketenaran atau kecantikan… aku hanya ingin mereka memandangku sebagai 'Luka Megurine' bukan sebagai 'Vocaloid'… seperti kalian…" Kata Luka lirih memandangi langit-langit di kantin.

….

KENAPA JADI SERIUS BEGINI?!

"Maaf, gara-gara aku suasana jadi suram…" kata Rin pelan. Airmata mulai mengalir membasahi pipinya. "maaf…" tangis Rin pecah. Miku, Len, Kaito dan Luka langsung memandang Rin dengan panik. Sangat panik.

"Tidak, bukan begitu Rin-chan… justru kami harusnya berterima kasih kepadamu! karena berkat kamu juga kita mengatakan hal yang kita pendam dari dulu!" pekik Miku panik.

"Itu benar, Rin!" pekik Len berusaha menenangkan saudarinya.

"Tapi kan…"

"Megurine, Kagamine, Shion, Hatsune… ikut aku ke kantor"

Luka, Rin (she had stopped crying), Miku dan Luka dengan kaget memandangi sumber suara. Dan alangkah kagetnya saat melihat dari dekat manajer mereka, Kiyoteru-san, memandangi mereka. Wajahnya tampak datar. Menandakan kabar penting.

"Ki-Kiyoteru?!" pekik Kaito kaget.

"Ada apa ini sebenarnya?!" tanya Miku keheranan.

"Tidak biasanya Kiyoteru-sama datang kesini… ada kabar penting kah?" tanya Luka agak tegang. Berbagai pikiran buruk menghampirinya.

"Hal ini tidak bisa dibicarakan di tempat sebising ini… aku sudah ijin ke guru wali kelas dan kepala sekolah… jadi kalian bisa ikut aku sekarang ke kantor…" kata Kiyoteru berjalan dan memberi komando untuk mengikutinya. Miku dkk dengan tegang mengikuti Kiyoteru kemudian duduk di mobil. Selama perjalanan, Mereka terus berpusat ke pikiran mereka masing-masing. Ada apa ini? apa Vocaloid akan dibubarkan? apakah salah satu dari mereka akan dikeluarkan? ataukah kabar lain?

Ada apa sebenarnya?


=sorry, but this has been done and will continue to the next chapter=


PLEASE
R
E
V
I
E
W
I
F
Y
O
U
C
A
N
OKAY?