Chapter 1

"Aomine Daiki ingin menjadi teman anda. Konfirmasi. Abaikan."

Begitulah sekiranya, sepenggal kata yang tertulis pada dinding Facebook Kise saat itu. Nama yang sudah ia kenal dalam sekali, sayangnya, nama itu juga sudah terkubur dalam-dalam dan tersimpan rapi dalam memorinya. Seakan memberinya password agar tak bisa dibuka lagi.

"Ini pasti ulah Momocchi." Rutuknya sambil meminum sisa jus tadi. Ia cepat-cepat mengetik sms untuk Momoi dan berjanji akan membunuhnya jika ia bertemu dengan perempuan itu.

—Ada rona merah di pipinya.

.

.

.

For My…

Warning : AU, Fem!Kise, Gaje! Alasan kenapa Fanfict ini dibuat, akan dijelaskan pada chapter terakhir. Jadi, jangan sepotong-potong bacanya biar greget! ;)

Disclaimer : Hanya Milik Fujimaki Tadatoshi-sensei seorang.

Facebook milik Mark Zuckerberg

.

.

.

Kise masih bingung dengan beranda Facebooknya itu, ia yakin sekali kalau Momoilah yang menyarankan pertemanan dengannya. Kenapa ia melakukan itu? Padahal gadis itu tau kalau hubungan Kise dan Aomine sedang tidak baik—begitu sekiranya asumsi Kise yang belum diuji kebenarannya itu.

"Jangan begitu Momocchi! Nanti dikiranya aku yang menyuruhmu untuk melakukan itu!" Kise membentak Momoi, meski Momoi tak menganggap itu sebuah bentakkan, karena disisi lain, Kise mengatakannya dengan rona merah di wajahnya.

Momoi berkacak pinggang, ia tersenyum melihat tingkah sahabat baiknya itu, "Ki-chan kau bodoh ya? Jika begini terus, kapan kalian akan berbicara satu sama lain lagi? Kalian 'kan berteman sejak SD."

Tetap saja Kise tak terima, ia masih berusaha membela diri meski didalam hatinya yang terdalam ia sungguh berterima kasih pada Momoi. B

"Siapa tau dengan begini kalian bisa seperti dulu lagi, iya 'kan?"

Tidak ada yang tidak mungkin jika kau mau mencobanya.

.

.

.

"Ukh… Sial." Lagi-lagi ia berbicara sendiri dalam kamarnya, ia bingung dengan pilihannya. Konfirmasi atau abaikan? Oh… Masih seputar Facebook.

Napasnya sempat tertahan saat ia ingin menekan option abaikan disana. Dan kembali ia menggeleng dengan berusaha menekan option konfirmasi disana. Tidak, ia membatalkan rencananya. Sudah dua jam lebih ia berkutat dengan komputernya. Beberapa kali ia menolak ajakan makan malam dari ibunya. Kamarnya ia kunci rapat-rapat, seakan tak ingin kamarnya itu dilihat oleh siapapun selain dirinya—juga komputernya.

Ia kembali terngiang dengan perkataan Momoi tadi siang, dimana ia berbicara empat mata dengan gadis itu, yang berusaha meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja jika ia mau kembali berteman dengan lelaki dim itu.

"Baiklah, aku kalah." Ia dengan perasaan setengah hati akhirnya mengklik option konfirmasi disana. Dan sukseslah ia berteman dengan Aomine Daiki, meski hanya sekedar pertemanan di jejaring sosial saja. Modal awal, iya kalau dapat untung. Kalau rugi?

.

.

.

Sebulan sudah ia berteman dengan lelaki itu di Facebook. Ia tau dan sangat tau jika semua sesuai dengan perkiraannya—Dimana tidak akan ada yang berubah.

Kise sering melihat di dindingnya ketika Aomine sering sekali berbicara dengan teman-teman sekelasnya. Apa saja, entah itu nilainya yang hancur, masuk ruang BK, dimarahi guru, apa saja.

"Andai kelas kita tak sejauh ini." Mata Kise menutup, ia mengutuk dirinya sendiri saat penerimaan murid kelas satu dulu ia dimasukkan di kelas terakhir, 1-H. Bukan berarti karena ia bodoh. Ini diacak, dan sistem seperti ini sudah dimulai sejak angkatan tahun lalu.

Kelas Aomine berada di kelas 1-A, yang isinya hanyalah makhluk dengan jenis kelamin yang sama, laki-laki. Begitu juga dengan kelasnya, yang isinya hanya perempuan saja. Terkutuklah wahai sekolah ini! Tidak membiarkan anak didiknya terjerumus dalam alunan cinta lokasi yang banyak ditonton remaja sekarang.

Yah… Meski Kise tak ingin juga kisah cintanya sama dengan dorama-dorama murahan yang sering ditonton ibunya. Tidak natural, dan penuh dengan kebohongan.

"Hari ini Aomine Daiki berulang tahun."

Membutuhkan waktu yang lama bagi Kise untuk berpikir, apakah harus ia ucapkan atau tidak? Bisa saja jika gadis bersurai kuning itu mengucapkan "selamat" hubungannya akan kembali membaik. Tapi, ia tetap memikirkan hal-hal negatif, seperti Aomine tidak akan membalas ucapan selamatnya atau mengabaikannya, mungkin?

"Ah.. Masa bodoh, niatku 'kan baik-baik." Kise menelan ludahnya, ia mengklik nama Aomine lalu mengiriminya Private Message—sengaja. Agar nantinya tidak ada yang tau pembicaraannya.

"Kise, huh? Siapa?"

Ia mulai teringat kembali dengan perkataan teman dekatnya dulu, Aomine pernah mengatakan jika ia tidak mengenal seseorang yang bernama Kise. Kejadian itu sudah terulang beberapa kali. Kise tak bisa menyalahkan Aomine, ia lah yang salah.

Andai saja, jika mereka tak sengaja bertemu di kantin, perpustakaan, lorong sekolah, taman atau dimana saja, Kise mau menyapanya, iya jika Kise berani. Untuk melihat wajahnya saja, sudah membuat jantungnya ingin lepas.

Tangannya tak bisa ia biarkan mengetik lebih jauh lagi, sudah kalah. Kalah akan rasa cemasnya itu, takut tak dibalas, juga perkataan Aomine mengenai dirinya itu.

"Aku melakukannya, karena kau temanku."

Hanya itu yang Kise bisa katakan saat ini, berusaha menyemangati dirinya sendiri di tengah berbagai pilihan yang ada, jika begini saja ia tidak bisa—

—Jangan menyebutku mencintai Aomine jika tak berani menulis pesan ini.

Dengan cepat tangan lincahnya itu mengetik papan keyboard, menulis kata demi kata, kalimat demi kalimat, hingga sebuah pesan panjang itu selesai ia ketik.

"Aominecchiiii! Selamat ulang tahun ya ^o^/ Semoga kamu bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi! Tidak nakal, hilangkan sifat mesummu itu, tetap suka menggambar tapi jangan mencoret bukumu sendiri, dan semua yang baik-baik mengalir padamu tahun ini :D Oh iya, kau masih ingat padaku, 'kan? Hehe ^^ Kalau kamu lupa, aku bakal bunuh diri lho :D Pokoknya, traktiranmu akan selalu kutunggu! Dadah ^^ Dari : Kise Ryuuka."

Padahal, Kise tak perlu menuliskan siapa pengirim Private Message itu, seolah-olah ia ingin agar Aomine tidak lupa padanya.

Setelah menarik napasnya dalam-dalam, Kise menekan tombol enter di keyboardnya, dan terkirimlah pesan dengan total enampuluh tujuh karakter itu, lengkap dengan emoji-emoji agar Aomine mengerti bahwa Kise senang dengan ulang tahun Aomine.

—Faktanya, meskipun Kise mengetahui kapan ulang tahun Aomine, Aomine tak pernah tau kapan Kise berulang tahun. Tak apa, yang Kise inginkan hanyalah ia bisa kembali berbicara seperti dulu lagi, dengan Aomine Daiki. Sebagai seorang teman.

.

.

.

Ada dua hal yang membuat Kise Ryuuka tak bisa berhenti tersenyum hari ini. Ulangan harian yang mendapat nilai tertinggi,

—Dan sebuah private message yang dibalas.

Tak ada yang lebih menyenangkan dari mendapat balasan dari orang yang kau cintai seperti itu, lebih-lebih terhadap sahabatmu itu. Kise membuka jendela pesan itu, detik kemudian tawanya langsung memenuhi seluruh penjuru kamarnya.

Berakhir dengan teriakan keras dari sang ibu yang menyuruhnya untuk tidak berisik seperti orang gila mengingat ada tamu yang mengunjungi rumahnya kini.

"Hwaaa…! Makasih banget! Sayang sekali, tapi dompetku sedang kurus akhir-akhir ini. Wahaha… Jika kau minta batu atau daun kering, aku akan membawakannya kok! Dan hei, tentu saja aku masih mengingatmu. Hanya satu nama Kise Ryuuka yang kukenal selama ini :3"

Kise kembali mengetik untuk membalas pesan itu,

"Benarkah itu? Kupikir kau sudah lupa padaku T_T" Huu… Aominecchi sombong sih."

Semenit setelahnya, datang balasan lagi darinya, mungkin ia sedang online, tapi Kise tak menemukan namanya ada pada friendlist orang-orang yang sedang aktif saat ini.

"Hei, kau lah yang sombong! Jangan suka mengatai orang sembarangan ya!"

Kise terkekeh, "Jangan marah dong :D Kita teman, 'kan? Hehe."

Tak ada balasan setelah itu, dia sudah offline, pikir Kise. Tak masalah, bercakap-cakap seperti ini saja sudah membuatnya senang bukan kepalang. Apalagi jika ia sudah berbicara satu sama lain nantinya?

Kise berjanji, akan mentraktir Momoi besok. Dan menceritakan padanya, betapa senangnya ia hari ini, dan esok, esoknya lagi, hingga berpacaran?

Wajah Kise kembali memerah dengan sendirinya. Ia terlalu berpikir yang jauh-jauh. Ah… Tapi mengkhayal juga tak masalah, 'kan? Toh tidak menyakiti orang lain juga.

"Karena, akulah yang paling tau soal Aominecchi." Gumamnya pelan, kemudian ada seulas senyum tipis di bibirnya. Mungkin, tak lama lagi, dia—Aomine Daiki, akan kembali dekat dengan Kise Ryuuka, teman sejak Sekolah Dasarnya itu.

.

.

End of Chapter 1

.

.

A/N : Yak… Apakah benar Kise akan kembali membangun chemistry di antara dia dengan Aomine? Atau mungkin, mereka akan berpacaran nantinya?

Apapun itu, Terimakasih sudah menyempatkan diri untuk membaca ^^/

#Buat yang rada bingung, fanfict ini adalah Flashback Kise