A Promise by Kusanagi Mikan

Vocaloid by Yamaha and Crypton FM

Warning : Aneh, gaje, typo, de-el-el

Chapter 2


- Len PoV -

KRIIIINGG! Alarm yang ada di samping tempat tidurku berdering nyaring, menyeretku dari dunia mimpi ke dunia nyata.

"Oahm.." Aku mematikan alarm. Jam 5 pagi. Sekolah sendiri di mulai jam 8. Walau begitu, aku selalu datang sangat pagi. Tujuannya? Sederhana saja. Untuk menghindari teriakan-teriakan fangirl-fangirlku. Menyebalkan.

Aku beranjak dari tempat tidurku, mengambil handuk, kemudian berjalan menuju kamar mandi yang ada di kamarku. Selesai mandi dan berpakaian lengkap, aku berjalan ke bawah, ruang makan. Ehm, kamarku ada di lantai atas.

Di ruang makan, sudah berkumpul keluargaku. Ayahku, Ibuku, dan adikku, Lenka.

"Ohayou!" sapaku.

"Ohayou, Len," balas mereka.

"Hari ini sarapannya apa? Roti selai?"

"Lebih tepatnya, roti panggang. Khusus untukmu, di lengkapi pisang dan keju," jawab Okaa-san.

Mataku berbinar. "Arigatou!"

Aku segera duduk di salah satu kursi, tepatnya di samping Lenka. Okaa-san menyodorkanku roti panggang isi pisang keju. Aku melahapnya hingga tandas. Nikmat.

"Aku berangkat sekarang ya, Kaa-san, Tou-san, Lenka," pamitku.

"Ya," balas mereka singkat.

Aku segera mengambil tasku dan memakai sepatu, kemudian berjalan ke sekolah. Tidak begitu jauh dari rumahku. Begitu sampai di sekolah... Masih sangat sepi.

"Seperti biasa," gumamku.

Setibanya di kelasku, kelas 3-1, aku segera melangkahkan kakiku ke tempat dudukku. Terletak di pojok kelas. Alasanku memilih duduk di pojok kelas adalah, agar aku bisa tidur. Rasanya bosan sekali mendengarkan guru berceramah - maksudku menerangkan di depan kelas - materi-materi yang terdengar begitu asing di telingaku.

Aku bersandar di kursiku, menikmati udara pagi yang menyusup lewat jendela. Segar. Begitu tenang, segar, dan inilah saat yang paling ku nikmati. Sampai...

"Nona Rin! Mohon jangan berlari-lari di koridor!" seru seorang wanita.

"Biar! Sebentar lagi sampai kelas 3-1, kelasnya Len!" balas suara yang satunya. Aha, aku mengenali suara ini. Rin.

BRAK! Pintu kelasku terbuka keras. Lebih tepatnya, di dobrak. Pelakunya siapa lagi kalau bukan Mikagane Rin. Di belakangnya, seorang wanita berambut pirang. Pasti itu Lily.

"Ohayou, Len!" sapa Rin ceria.

"Apakah kau tidak tahu cara mengetuk pintu, Rin?" Aku sweatdrop.

"Maaf, Len," Rin menunduk, merasa bersalah.

"Saya juga minta maaf, Tuan Len," Lily ikut meminta maaf.

"Tidak apa-apa," Aku tersenyum khas, membuat wajah Lily sedikit merona. Ahaha, Len, kau memang berbakat menaklukan hati wanita.

Pandanganku beralih pada Rin. Gadis itu memakai... SERAGAM SEKOLAHKU?! VOCA HIGH SCHOOL?!

Seragam sekolahku bergaya sailor. Berwarna kuning dan berpita oranye, dengan rok kuning. Rin terlihat... Manis. Eh?! Apa yang barusan ku katakan?! Tidak mungkiin!

"Kenapa, kau memakai seragam sekolahku?" tanyaku, menutupi rasa aneh yang ada di dalam hatiku.

"Kenapa? Aku dan Lily, mau pura-pura jadi murid di sini!" jawab Rin bersemangat.

"APA?! KAU BERCANDA?!"

"Aku serius! Aku ingin merasakan bagaimana rasanya sekolah!"

Aku merengut kesal. Maksudku, hei, masuk sekolah tidak semudah itu! Apalagi jika dia hanya sehari di sini, kemudian keesokannya tidak ke sekolah lagi. Apa yang akan aku jawab jika guru-guru bertanya padaku?

"Bukan maksudku melarang, tapi..." Aku berpikir, mencari jawaban yang tepat.

"Len tidak suka aku ada di sini, ya?"

Aku terbelalak. Rin menunduk, pundaknya bergetar. Lily menatapku tajam. Aku menjadi panik.

"Eh... Bukan begitu! Bukan begitu maksudku!" ralatku buru-buru. "Aku senang, Rin ada di sini! Tapi aku takut Rin di marahi..."

Rin menatapku dengan mata birunya yang indah. Menatap mata birunya, seolah bisa membuatku tenggelam di dalamnya.

"Di marahi siapa?" tanya Rin tidak mengerti.

"Err... Tentu saja guru! Rin dan Lily-san kan, belum mendaftar dan tiba-tiba masuk ke kelas, jadi..."

"Rinto-sama sudah bilang ke Kepala Sekolah Voca High School, Tuan Len," potong Lily. "Rinto-sama bilang ke Kepala Sekolah kalau kami akan sekolah di sini untuk satu hari saja. Dan Kepala Sekolah memperbolehkan."

Akh... Aku geleng-geleng kepala. Dasar keluarga bangsawan. Apa pun yang mereka minta pasti di turuti. Hh...

"Ya sudah," ucapku singkat.

"Aku akan duduk bersama Len!" putus Rin.

"Ehh?!"

"Iya! Habis, mau duduk di mana lagi?"

"Terus, Lily-san?"

"Aku akan duduk di tempat yang kosong," sela Lily.

Aku hanya bisa pasrah. Yah... Terpaksa. Daripada mendapat masalah, lebih baik menuruti Rin saja. Tapi... Aku khawatir juga kalau dia duduk sebangku denganku. Maksudku, fangirl-fangirlku bisa mengamuk! Oh, apa yang akan mereka lakukan pada Rin?

"B-Baiklah," Aku menyetujui dengan gugup. Hh, ayolah, Len! Kau harus lindungi Rin dari fangirl-fangirlku. Kau laki-laki, kan?

"Yeay!" Rin bersorak gembira. Ia menaruh tasnya di kursi sampingku yang kosong. Aku hanya bisa menghela napas.

Rin mulai bicara banyak hal. Bertanya apa saja yang ada di sekolah, dan bagaimana sekolah itu. Lily hanya sedikit bicara. Jujur, aku tak habis pikir kenapa gadis seusianya masih bertanya hal seperti ini. Seharusnya, dia sudah tahu bagaimana sekolah, kan? Kenapa masih bertanya selayaknya anak yang baru masuk sekolah?

Tapi aku memilih tak banyak tanya. Nanti juga mungkin aku tahu. Lagipula apa untungnya aku tahu, coba? Rin hanya teman yang ku temui kebetulan di bukit belakang sekolah. Hanya kebetulan.

Tak lama, seorang lelaki berambut ubanan (digaplok Piko) Ralat, maksudku putih masuk ke kelas. Kalian tentu tahu siapa dia, kan? Yup, Utatane Piko. Sahabatku.

"Ohayou, Len! Dan.. Uhm, siapa mereka?" sapa Piko heran.

"Hai! Namaku Rin! Dan ini Lily!" kata Rin bersemangat.

"Uhm... Hai Rin, hai Lily. Kalian murid baru di sini?" tanya Piko.

"Hanya untuk sehari," jawab Lily datar.

"Begitu... Oh iya, namaku Piko! Semoga bisa menjadi teman yang baik untuk kalian!" Piko memperkenalkan dirinya. Tapi tanpa menjabat tangan Rin atau Lily. Kau tahu, Miki akan membunuh Piko jika lelaki itu memegang tangan gadis lain. Agak berlebihan, memang. Tapi itulah Miki.

Rin tersenyum senang, kutebak karena mendapat teman baru. Lily? Tampangnya masih sama, datar. Ugh, ayolah. Apa Lily tak bisa menunjukan ekspresi lain selain datar? Ini bukan di komik Pandora Hearts, kau tahu.

Tak lama, banyak murid yang datang. Semua menatap ke arah Rin dan Lily dengan heran. Bertanya-tanya siapa mereka. Tei, Neru, dan gerombolannya menatap Rin tajam. Wajahku memucat. Firasatku memburuk.

Tei dan gerombolannya mendekati Rin. Jangan-jangan mereka mau melabrak Rin?!

"Hai!" Tei tersenyum manis ke arah Rin, mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. "Namaku Sukone Tei. Kamu boleh panggil aku Tei!"

Rin membalas uluran tangan Tei. "Namaku Rin! Senang bertemu denganmu, Tei-chan!"

Tei kembali tersenyum. Namun di mataku, itu bukan senyuman manis. Itu sebuah seringaian mengerikan. Gerombolan Tei mengenalkan dirinya pada Rin sambil tersenyum. Rin menanggapi dengan manis. Ugh, gadis itu pasti tidak tahu apa yang akan di lakukan gerombolan Tei padanya. Yah, maksudku, ayolah, semua sudah tahu tentang Tei yang sedikit pyscho.

Aku harus melindunginya.

Tekad untuk melindunginya begitu besar

Begitupun cinta yang mulai terukir


Gomen pendek! Mikan nggak ada ide! Gomen!