Slip

.

.

Main:

Kim Mingyu x Jeon Wonwoo

Meanie

Side:

Woncoups

Gyuhan

Jiwon

.

.

Warning: typos yes

.

.


Wonwoo, pemuda dengan perawakan tinggi kurus. Tinggi 181 cm, berat 59 kg, kulit putih pucat halus, mata sipit dengan tatapan tajam, hidung mancung, bibir kecil yang selalu merah merona. Wajahnya bukan tipe yang akan membuatmu berteriak "Asdfghjkl tampan sekali!" pada pandangan pertama namun Wonwoo merupakan pemuda menarik yang dipuja kaum adam dan hawa.

Karena tubuhnya yang kurus, tulang-tulang tubuhnya yang berukuran kecil jadi terlihat menonjol dibalik kulitnya. Karena tulangnya yang kecil dan tubuhnya yang kurus, Wonwoo sering dianggap sebagai pria lemah. Pada kenyataannya Wonwoo menguasai teknik-teknik dasar bela diri. Ngomong-ngomong yang dimaksud Wonwoo dengan 'teknik-teknik dasar bela diri' adalah taekwondo sabuk hitam.

Wonwoo merupakan seseorang introvert. Dia lebih suka menyendiri. Bukan jenis yang benar-benar menyukai kesendirian, tapi Wonwoo memuja ketenangan. Tak masalah baginya berada di tempat padat manusia asalkan tenang, atau setidaknya jika ramai tak sampai ke tahap yang mengganggunya. Wonwoo juga merupakan pemuda yang tak banyak berbicara, kecuali pada orang-orang yang dekat dengannya. Tapi Wonwoo merupakan pendengar yang baik, yang yang siap mendengarkan curahan hatimu tanpa takut bocor. Maka dari itu, teman-temannya sering curhat padanya walaupun hanya ditanggapi seadanya.

Wonwoo, pemuda pendiam yang terlempar ke masa lalu. Entah apa yang membuatnya terdampar disini. Orang lain mungkin akan berteriak histeris, menjadi setengah gila –jika kurang beruntung benar-benar gila- lalu bisa kembali waras dan mencari jalan keluar untuk kembali ke asal. Tapi Wonwoo berbeda. Ia memang terkejut, tapi tak sampai histeris dan jadi gila. Wonwoo dengan cepat menguasai diri dan menganalisis sekitar lalu mencari jalan keluar. Namun jalan keluar tersebut nampaknya belum terlihat, jadi Wonwoo berencana untuk menikmati dulu hidupnya disini sambil pelan-pelan mencari jalan keluar.

.

.

.

"Seokmin! Bagaimana keadaan Wonwoo? Apa ia baik-baik saja?" Seokmin membalikkan tubuhnya dan menemukan Jihoon dan Soonyoung berlari ke arahnya.

"Dia baik-baik saja, hanya sepertinya kehilangan ingatan" Jihoon refleks memukul kepala Seokmin karena gemas dengan jawaban Seokmin.

"Hilang ingatan artinya tidak baik-baik saja, bodoh!", ucap Jihoon kesal.

"Bagaimana keadaannya sekarang? Sudah lebih baik?", tanya Soonyoung dengan nada khawatir luar biasa.

"Aish! Kan aku sudah bilang dia baik-baik saja. Tapi dia sedikit berubah sepertinya"

"Berubah bagaimana?" Seokmin menghela napas sebelum menjawab.

"Kemarin dia berani bertengkar dengan Mingyu. Bahkan Wonwoo berani memarahi Mingyu. Aku bahkan tak pernah membayangkan Wonwoo jadi berani seperti itu, benar-benar luar biasa" Jihoon dan Soonyoung saling berpandangan lalu melayangkan tatapan bertanya 'bagaimana itu bisa terjadi' pada Soonyoung.

"Kemarin Mingyu memerintahkanku untuk mengeksekusi Chan lalu Wonwoo mengamuk. Mereka itukan sangat dekat hingga Chan bisa memanggil Wonwoo hyung walaupun Chan hanya seorang penjaga. Sepertinya walaupun hilang ingatan rasa sayangnya pada Chan tak berubah"

Jihoon dan Soonyoung kembali saling bertatapan seperti berkomunikasi lewat telepati.

"Tapi Wonwoo benar-benar berubah. Maksudku sifatnya masih sama seperti dulu tapi ada sesuatu yang rasanya berubah seperti Wonwoo berubah menjadi orang lain"

.

.

.

Ya, tentu saja Wonwoo yang sekarang jauh berbeda dengan yang dulu. Wonwoo yang dulu merupakan istri yang sempurna untuk seorang Kim Mingyu. Wonwoo yang dulu merupakan istri yang lemah, lembut, baik hati, sopan, dan tenang juga penurut serta yang bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, sedangkan Wonwoo yang sekarang merupakan merupakan istri yang lemah, lembut, baik hati, sopan, dan tenang tapi pembangkang dan tak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga sedikitpun.

Mingyu sampai pusing memikirkan perubahan drastis istrinya. Cih, andai istrinya adalah orang itu, pasti Mingyu merupakan suami paling bahagia di dunia. Mereka memang menikah karena perjodohan. Merupakan hal yang lazim untuk menjodohkan dengan keluarga yang sederajat, sehingga derajat keluarga tetap tinggi. Bahkan mereka tidur di kamar yang berbeda. Tentu saja tak ada yang tahu kecuali para pelayan.

Sudah beberapa hari ini suasana hati Mingyu buruk dan pagi ini suasana hati Mingyu benar-benar buruk karena perubahan sifat Wonwoo. Saat sarapan, makanan yang tersedia merupakan masakan para pelayan dan itu membuat Mingyu mengamuk. Meski tak mau mengakui, tapi memang benar masakan Wonwoo adalah yang terlezat dan dapat memuaskan lidah Mingyu.

Saat tak ada yang tahu dimana Wonwoo, Mingyu mendobrak kamar Wonwoo yang terkunci dan menemukan Wonwoo yang masih terlelap dengan nyenyak di kasurnya. Dengan kasar Mingyu menarik tangan Wonwoo untuk bangun, membuat Wonwoo tersentak dari tidurnya.

"Yak! Apa-apaan kau?!" Tentu saja suasana hati seseorang akan buruk jika dipaksa bangun tiba-tiba seperti Wonwoo.

"Kau tidak lihat matahari sudah tinggi, hah?! Mau jadi istri pemalas?!"

"Kau juga tak mengannggapku sebagai istrimu kan?! Jadi aku tak perlu repot-repot bertindak sebagai istri yang baik!" Wonwoo sudah bersiap tidur lagi hingga Mingyu menyeret Wonwoo ke dapur.

"Jangan melawan, cepat buatkan aku sarapan", ucap Mingyu dengan nada dingin, berusaha menekan emosinya.

"Ada banyak pelayan, di dapur ini saja ada lima, kenapa tak minta satu untuk membuatkanmu sarapan?"

"Kau tinggal membuatkanku sarapan kenapa susah sekali?!"

"Kalaupun aku mau, aku tidak bisa!"

"Kenapa?!"

"Aku tak bisa memasak!"

.

.

.

Wonwoo merupakan pemuda lajang yang hidup seorang diri di Seoul, kota metropolitan yang merupakan ibu kota Korea Selatan. Seumur hidupnya, ia tak pernah memasak karena ia sama sekali tak berencana menjadi seorang istri. Lagipula, pekerjaannya yang membuatnya terbang dari satu negara ke negara lain, belum lagi jika ada pekerjaan tambahan dengan relasi bisnis, benar-benar menguras tenaganya. Ia sepenuhnya akan menyerahkan pekerjaan masak-memasak pada pendamping hidupnya kelak. Alhasil, hal tersebut membuat dapur di apartemen mewahnya berdebu.

Sejak hari di mana Mingyu memaksa Wonwoo memasak, semua orang jadi tahu bahwa kemampuan memasak Wonwoo kembali menjadi nol, bahkan minus karena masakannya benar-benar beracun. Sejak itu, Mingyu terus memaksa Wonwoo untuk belajar memasak kembali. Wonwoo yang jengah karena paksaan Mingyu memberontak dan kabur lalu Seokmin akan mengejarnya, karena itulah Wonwoo suka bersembunyi di pasar. Pasar itu besar dan ramai, dan ada sebuah toko yang selalu menjadi tempat Wonwoo bersembunyi.

Bau kertas menyeruak sesaat setelah Wonwoo membuka pintu toko. Deretan rak-rak dengan buku-buku tersusun rapih masuk ke pandangannya. Wonwoo menyukai buku dan bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membaca buku, jadi toko buku ini merupakan tempat yang tepat untuk bersembunyi.

Wonwoo mencintai buku. Buku itu jendela ilmu. Tak masalah apakah itu novel atau ensiklopedi, jika buku tersebut menarik perhatiannya maka Wonwoo akan membacanya. Pekerjaannya yang memakan waktu berjam-jam untuk terbang dari satu tempat ke tempat lain membuat Wonwoo tak mempunyai pilihan lain selain membaca buku dalam penerbangan. Wonwoo juga menyukai film, ia bisa menonton film di layar yang disediakan maskapai penerbangan. Tapi Wonwoo lebih menyukai buku –terutama novel- daripada film karena buku membuat imajinasinya lebih luas.

Wonwoo segera menghampiri seorang pemuda yang beberapa hari ini akrab dengannya. Pemuda yang menjadi pemandunya dalam memilih buku karena kebanyakan buku disini ditulis dengan huruf hanja dan ia tak bisa membacanya. Pemuda yang juga merupakan pemilik toko buku ini, Hong Jisoo, tersenyum lembut saat melihat kedatangan Wonwoo.

"Hyung, hyung, pilihkan aku buku yang bagus, jangan menjebakku dengan novel erotis seperti kemarin!" Jisoo tertawa melihat wajah cemberut Wonwoo. Ia mengacak-acak rambut halus Wonwoo. Wonwoo lebih tua dari pada Jisoo yang baru berumur 22 tahun, tapi di sini Wonwoo setahun lebih muda dari Jisoo, mau tak mau ia harus mengikuti tata krama disini.

Wonwoo memang datar tapi imut disaat yang sama dan itu berhasil membuat Jisoo gemas. Sayangnya, Wonwoo sudah menikah, tapi Jisoo juga bisa melihat Wonwoo tidak bahagia dengan pernikahannya jadi perlahan tapi pasti Jisoo mendekati Wonwoo diam-diam.

Wonwoo itu misterius. Jisoo tak tahu apapun tentang Wonwoo selain fakta bahwa ia sudah menikah dan keluarganya adalah keluarga terpandang dilihat dari pakaian yang dikenakan Wonwoo. Jisoo jadi minder untuk mendekati Wonwoo karena ia hanya pedagang biasa.

"Wonnie..." Jisoo bahkan sudah mempunyai panggilan sayang untuk Wonwoo.

"Hmm" Jisoo menatap Wonwoo yang masih terpaku pada buku yang dibacanya.

"Apakah tidak apa-apa setiap hari kau bermain kemari?"

"Maksudmu, hyung?"

"Kau anak keluarga terpandang, kau juga sudah menikah, tak baik untuk bermain terus-menerus seperti ini, apalagi bersama orang rendahan sepertiku" Wonwoo langsung menarik satu tangan Jisoo, menggenggamnya dengan kedua tangan.

"Hyung, aku tak suka kalau kau berbicara seperti itu. Kita itu teman, teman tak memandang derajat siapapun"

Tanpa Wonwoo sadari, Jisoo berdebar saat Wonwoo menggenggam tangannya.

.

.

.

Matahari telah tenggelam, digantikan cahaya rembulan. Baru pertama kali ini Wonwoo berjalan sendirian di malam hari karena biasanya saat senja Wonwoo sudah sampai di rumah. Wonwoo menghela napas memikirkan amukan Mingyu yang pasti takkan terelakkan karena pulang lebih larut. Ia benar-benar heran dengan Mingyu karena sepertinya mengamuk adalah hobi anak itu.

Matanya menangkap bangunan dengan banyak lampu dan terlihat meriah dan lebih terang dari pada bangunan sekitarnya. Sepertinya ini adalah rumah bordir. Bangunan tersebut tampak ramai. Banyak lelaki hidung belang, ditemani para gisaeng yang cantik keluar masuk bangunan tersebut. Baik di masa depan maupun masa lalu tempat-tempat seperti ini selalu ramai.

Matanya memicing begitu melihat seseorang yang dikenalnya keluar dari rumah bordir. Seseorang dengan tubuh tinggi menjulang –yang Wonwoo anggap mirip pohon bambu-, tegap, dan terlihat kuat, berkulit tan –Wonwoo lebih senang menyebutnya hitam hangus-, dan wajah yang –wonwoo tak mau mengakui- tampan dengan sepasang gigi taring yang membuat senyum yang sekarang ditujukan kepada seseorang, yang sepertinya gisaeng, yang sedang dipeluknya dengan mesra.

Wonwoo hampir saja terpesona kepada gisaeng yang sangat cantik itu kalau saja dia tak menyadari jika gisaeng cantik yang memiliki jakun itu adalah laki-laki. Pakaiannya juga berbeda dari gisaeng lain, lebih tertutup. Mungkin gisaeng tersebut tarifnya lebih mahal daripada yang lain, karena itu tak sembarang orang boleh melihat tubuhnya. Tanpa sadar Wonwoo terlalu lama menatap pasangan tersebut hingga Mingyu menyadari keberadaannya.

Wonwoo panik menyadari Mingyu yang mulai berjalan ke arahnya. Wonwoo yang baru saja akan kabur merasa tubuhnya diputar hingga masuk ke pelukan seseorang. Mingyu yang melihat itu menghentikan langkahnya. Mingyu yang wajahnya memerah marah melihat istrinya dipeluk orang lain mengepalkan tangannya hingga memutih.

Wonwoo berusaha melepaskan pelukan orang tersebut tapi orang itu malah memeluknya semakin erat seolah melindunginya. Wonwoo merasa aneh karena tubuhnya lebih tinggi dari orang yang memeluknya tapi rasanya tubuh orang ini lebih kuat dengan badan yang kuat dan berisi serta bahu yang lebih lebar darinya sehingga Wonwoo merasa aman.

"Gwaenchana, Wonwoo-ya... Hyung disini"

Wonwoo kembali merasa aneh. Dia sama sekali tak merasakan apapun melihat suaminya bermesraan dengan orang lain di rumah bordir, tapi Wonwoo yang dulu pasti akan langsung menangis dan sakit hati lalu dengan cepat menutupi lukanya dengan senyuman. Dan orang yang memeluknya ini jelas mengenal Wonwoo yang dulu.

Wonwoo baru saja akan meminta orang ini melepaskan pelukannya yang sangat erat hingga membuatnya sesak sampai...

BRUKK!

Mingyu menarik kasar Wonwoo agar terlepas dari pelukan orang tersebut lalu memukul orang tersebut hingga tersungkur.

"Brengsek! Jauhkan tangan kotormu dari istriku!" Orang tersebut terkekeh sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Wonwoo terpaku di tempatnya menatap wajah orang tersebut.

"Aku memang brengsek yang pernah memainkan hati banyak wanita, tapi cintaku untuk Wonwoo tulus! Kalau kau hanya main-main dengan Wonwoo dan terus membuatnya sakit hati dan menderita, lepaskan dia. Aku akan menangkapnya dan dengan senang hati membuatnya bahagia selamanya" Wajah Mingyu memerah sempurna sampai telinga, marah. Berbeda dengan Wonwoo yang memerah karena senang dan malu karena ucapan pria tersebut, jantungnya berdegub tak karuan.

"Sampai kapan pun aku tak akan melepas Wonwoo! Camkan itu, Choi!"

"Tunggu saja! Aku akan merebut Wonwoo, Ki-"

"Choi... Seungcheol..." Kedua pasang mata itu menoleh ke sumber suara, menatap Wonwoo yang tatapannya terkunci pada Seungcheol.

Seungcheol telah mendengar berita tentang Wonwoo yang hilang ingatan. Kenyataan bahwa Wonwoo baru saja menyebutkan namanya membuat hatinya gembira karena Wonwoo mengingatnya –walaupun mungkin hanya nama-. Seungcheol melemparkan senyum cerah kepada Wonwoo dan hal itu sukses membuat wajah Wonwoo yang putih merona malu. Mingyu yang melihat hal itu memerah marah dan langsung menggeret Wonwoo dengan kasar untuk pulang.

.

.

.

TBC

.

.

.


hahaha

spesial apdet cepet

bikos

kapan lagi

aing

bisa apdet cepet

hahaha

soalnya minggu depan udah masuk sEKOLAH UDAH MASUK SEKOLAH

PERCAYA GA

IYA UDAH MASUK

PERSAAN BARU LIBUR

R U KIMBAB KIDDING ME?!

I HATEU THISEU LIFEU

special thx buat semua yang udah baca, fav, follow, apalagi review

that mean so much for mehhhhh

maafkan daku yang ceritanya makin absurd & ra nggenah

see ya in next chap!

xoxo