Another 5%
::
::
"Bagaimana keadaan anda, Tuan Cho?" Dokter Han, dokter setengah baya yang menangani Kyuhyun itu tersenyum ramah kepadanya.
Yah Kyuhyun sudah begitu lama di rumah sakit ini hingga setiap dokter mengenalnya dengan baik. Mereka selalu melemparkan tatapan ramah dan iba... iba karena umur Kyuhyun mungkin tidak akan lama lagi.
"Aku baik-baik saja dok." Kyuhyun tidak berbohong. Dia merasa amat sangat sehat, tidak ada lagi rasa sakit yang menderanya, rasa pusing yang membuat kepalanya terasa dipukul-pukul oleh palu pun sudah menghilang, rasa nyeri di sekujur tubuhnya, menjalari aliran darahnya sebegitu seringnya hingga membuatnya terbiasa, sekarang sudah tiada.
Kyuhyun merasa aneh, hampir terlalu lama dia merasakan rasa sakit itu hingga terasa begitu familiar, dan sekarang begitu rasa itu tidak ada, dia merasa aneh... aneh yang menyenangkan.
"Syukurlah, kau benar-benar tampak sehat hari ini." Dokter Han mengamati Kyuhyun dan merasa senang melihat perubahan penampilan lelaki itu, Kyuhyun benar-benar tampak bercahaya dan sehat, sangat berbeda dengan kulit kusam, wajah pucat dan kuyu yang selalu ada di Kyuhyun beberapa waktu terakhir kemarin.
Dia kemudian memeriksa Kyuhyun. Dahinya berkerut. Jantung Kyuhyun terdengar sama kuatnya dengan manusia sehat. Dia melirik kepada Kyuhyun dan mengerutkan kening,
"Apakah kau tidak merasa pusing dan mual lagi Kyuhyun? Biasanya efek pengobatan membuatmu mual berhari-hari."
Kyuhyun tersenyum, "Tidak ada rasa apapun dokter, aku merasa sehat." Dan memang demikian adanya.
Dokter Han makin mengerutkan keningnya, "Kita akan melakukan pengecekan regular seperti biasa Kyuhyun, kami akan memindai otakmu dengan MRI dan CAT untuk mengetahui bagaimana perkembangan penyakitmu."
Kyuhyun menganggukkan kepalanya, dia sudah terbiasa dengan semua jenis pemeriksaan atas dirinya, semua suntikan itu, semua obat yang lama-lama terasa memuakkan, semuanya telah dilaluinya.
Ketika Dokter Han pergi dan menjadwalkan suster untuk mengantarnya melalui proses MRI, Kyuhyun merasakan jantungnya berdebar. Mungkin hasil pemeriksaan akan memperlihatkan apakah pertemuannya dengan lelaki tua itu hanyalah mimpi atau kenyataan.
~ Another 5% ~
Setelah selesai pemindaian, Kyuhyun diantar kembali ke kamarnya. Dokter Han akan menemuinya besok untuk konsultasi dan mem-bicarakan hasil prosedur pemeriksaan seperti biasanya.
Sementara itu, Kyuhyun harus menunggu, di kamarnya yang dingin dan sepi. Jam besuk masih lama, mungkin Ryeowook masih dalam perjalanan ke rumah sakit. Kyuhyun menghela napas panjang, bagaimanapun sibuknya kekasihnya itu, Ryeowook tidak pernah melewatkan satupun kunjungan di jam besuk Kyuhyun.
Perempuan itu begitu setia, memberikan semangat hidup pada Kyuhyun, memberikan cinta tanpa pamrih yang membuat Kyuhyun merasa punya pegangan, punya tujuan hidup. Ketika kesakitan menderanya sampai hampir tidak tertahankan lagi, Kyuhyun selalu memikirkan Ryeowook, memikirkan kekasihnya yang akan menjenguknya di jam besuk, dan itu memberinya kekuatan untuk berjuang dan bertahan sampai saat ini.
Sekarang Kyuhyun sendirian, yang ingin dilakukannya pertama kali adalah mencoba turun dari ranjangnya. Dulu kegiatan itu akan sangat berbahaya dilakukan, karena kaki Kyuhyun sudah melemah, hampir tidak bisa menopang tubuhnya yang kurus dan lemah.
Tetapi sekarang Kyuhyun merasa dirinya berbeda. Semuanya berbeda. Seluruh inderanya seakan berfungsi dengan begitu sempurna... masih samar-samar tetapi jelas-jelas menunggu untuk dibangunkan dan dipergunakan sebagaimana mestinya.
Kyuhyun menegakkan ranjangnya, melirik ke arah lengannya yang terhubung ke sambungan infus, dengan berhati-hati agar infus tersebut tidak lepas, Kyuhyun menegakkan tubuhnya. Sesuatu yang hampir mustahil dilakukannya dulu tanpa bantuan suster atau Ryeowook.
Sekarang tubuhnya terasa ringan dan kokoh, dia menegakkan tubuhnya dengan mudah. Membuatnya terperangah.
Jantungnya berdebar, dan kemudian pelan-pelan dia menggerakkan kakinya turun. Kakinya itu terasa kuat dan kokoh, ketika Kyuhyun mengayunkannya terasa begitu ringan dan mudah. Lelaki itu lalu duduk miring di ranjang, termenung dan ragu.
Kemudian Kyuhyun menjejakkan dirinya dan menapakkan kakinya ke lantai. Dan sama seperti sebelumnya, tidak ada rasa sakit, tidak ada tulang yang terasa lemas, tidak ada rasa lemah dan tak berdaya, Kyuhyun berdiri dengan sama sehatnya seperti orang yang kuat dan tegar. Tiba-tiba dia merasakan kebenaran itu. Tidak ada yang memberitahu-nya, tetapi dia tahu begitu saja. Dia tahu bahwa penyakitnya sudah musnah. Sudah hilang.
Seluruh tubuhnya sampai ke sel tubuhnya yang paling kecil sekalipun bekerja dengan vitalitas yang luar biasa. Semuanya luar biasa, dan Kyuhyun merasa seperti manusia super.
~ Another 5% ~
Ryeowook berjalan tergesa-gesa setengah berlari sambil membawa kantong kertas berisi jeruk di dalam pelukannya. Tadi dia sudah hampir separuh perjalanan di dalam angkutan umum hingga menyadari bahwa jeruk manis yang dibawanya khusus untuk menjenguk Kyuhyun tertinggal di rumah.
Ryeowook terpaksa turun dari angkot dan kembali pulang untuk mengambil jeruk itu yang sekarang sudah ada di dalam pelukan lengannya, dan naik angkot kembali menuju rumah sakit.
Setelah turun dari angkot di pemberhentian terdekat dari rumah sakit, Ryeowook harus menempuh kira-kira 200 meter berjalan kaki menuju rumah sakit. Inilah yang dilakukannya setiap hari secara rutin sejak Kyuhyun masuk ke rumah sakit dan tidak bisa keluar lagi karena kondisi-nya yang terlalu lemah.
Untunglah kakek kekasihnya itu orang penting di rumah sakit tersebut dan Kyuhyun juga berasal dari keluarga kaya, sehingga mereka tidak perlu mencemaskan biaya perawatannya.
Ryeowook sudah bertekat untuk selalu mendampingi Kyuhyun di rumah sakit selama dia dirawat, cintanya kepada Kyuhyun begitu besar, membuatnya kadangkala merasa kasihan kepada Kyuhyun yang sebatang kara dan kesepian. Kedua orangtua Kyuhyun sudah meninggal dunia.
Satu-satunya keluarga Kyuhyun adalah kakeknya yang kaya raya, pensiunan dokter bedah terkenal dan memiliki beberapa rumah sakit di pusat kota, salah satunya adalah rumah sakit tempat Kyuhyun dirawat. Kakek Kyuhyun sendiri sudah tentu tidak bisa menengok Kyuhyun setiap hari, usianya yang hampir mencapai 80 tahun menghalanginya untuk selalu bisa mendampingi cucunya yang sakit parah.
Karena itulah Ryeowook bertekat menjadi pendamping Kyuhyun dan menjaganya.
Ah, dia teringat betapa cintanya Kyuhyun dulu kepadanya betapa lelaki itu menghormati dan menghargainya meskipun status mereka berbeda jauh. Kyuhyun dan Ryeowook telah saling mengenal hampir seumur hidup mereka. Yah, Ryeowook adalah anak dari pelayan di keluarga Cho, keluarga Kyuhyun.
Sejak kecil Ryeowook hidup dan dibesarkan di rumah besar Kyuhyun. Dan sudah mengagumi tuan mudanya itu.
Kyuhyun tidak pernah memperlakukannya sebagai pelayan, sejak mereka kanak-kanak, Kyuhyun selalu menjaganya seperti adiknya sendiri.
Bahkan di masa remaja, ketika Kyuhyun bersekolah di asrama elit dan Ryeowook bersekolah di SMA biasa, Kyuhyun tetap menjaga Ryeowook, tanpa malu-malu bahkan sering muncul menjemput Ryeowook di waktu luangnya, membuat semua teman Ryeowook ternganga karena Kyuhyun datang dengan mobil mewah berwarna merah cerah.
Ryeowook kemudian bisa kuliah di Universitas Negeri, berkat bantuan keluarga Cho juga. Sementara itu Kyuhyun melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Setelah lulus, Kyuhyun pulang ke Korea, melihat Ryeowook untuk pertama kalinya sejak mereka terpisah hampir lima tahun lamanya, dan langsung merasakan ada yang berbeda.
Mereka langsung saling jatuh cinta. Begitu saja, seakan sudah di-takdirkan sebelumnya. Tentu saja percintaan mereka dilakukan secara sembunyi-sembunyi karena perbedaan status mereka yang mencolok, Ryeowook yang memaksa Kyuhyun merahasiakannya karena dia tidak mau ada pertentangan di keluarga Cho, meskipun Kyuhyun setiap hari mendesaknya untuk mengakui cinta mereka kepada keluarganya.
Ryeowook masih merasa ragu, dia takut akan penghakiman orang-orang di sekeliling mereka, dia hanyalah anak seorang pelayan, ayahnya adalah supir pribadi keluarga Cho dan ibunya pelayan di rumah itu, mereka tinggal di paviliun kecil di area kebun belakang rumah keluarga Cho. Kedua orang tua Kyuhyun sangat baik kepadanya, membiayai pendidikannya dan memperlakukannya bagaikan anaknya sendiri.
Ryeowook begitu takut, kalau Kyuhyun membuka hubungan mereka, ayah dan ibu Kyuhyun akan memandang rendah kepadanya, menyebut- nya tidak tahu terimakasih dan mungkin saja, seperti pandangan masyarakat pada umumnya, jika perempuan miskin menjadi kekasih tuan muda yang sangat kaya, dia hanyalah pengincar harta.
Tentu saja Ryeowook tidak pernah sekalipun memikirkan tentang harta Kyuhyun. Dia tidak butuh harta, dia bisa menghidupi dirinya sendiri. Setelah lulus kuliah, Ryeowook diterima bekerja sebagai staff accounting di sebuah perusahaan manufacture dan setelah merasa gajinya cukup, Ryeowook keluar dari rumah keluarga Cho, menempati flat mungil yang disewanya dengan harga murah dan belajar hidup mandiri.
Kedua orang tua Ryeowook masih hidup dan menghabiskan masa pensiun mereka di rumah keluarga Cho, berniat mengabdi sampai mereka tua. Dan sayangnya, pada akhirnya, Kyuhyun dan Ryeowook tidak sempat mengakui perihal hubungan mereka kepada kedua orang tua Kyuhyun.
Kecelakaan pesawat ketika kedua orang tua Kyuhyun melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri telah merenggut nyawa mereka, meninggalkan Kyuhyun sebatang kara di dunia ini, hanya memiliki kakeknya yang sudah berusia lanjut, dan memiliki Ryeowook.
Sejak saat itu kebahagiaan seolah-olah direnggut dari mereka. Kyuhyun yang memang sering merasa pusing dan mual sepanjang hidupnya, dan kemudian hanya menganggapnya sebagai kurang darah biasa mulai merasa ada yang serius dengan penyakitnya. Dia pernah merasa pusing dengan begitu kuatnya hingga kehilangan kesadaran.
Ryeowook yang mencemaskannyapun mendorongnya untuk memeriksakan diri ke dokter... dan kemudian hasil pemeriksaan menyatakan bahwa Kyuhyun menderita kanker otak.
Ryeowook selalu berusaha menopang Kyuhyun, pun ketika kondisi Kyuhyun makin memburuk, makin melemah sehingga memaksanya terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit dalam waktu yang cukup lama.
Ryeowook bisa merasakan semakin lama, kekasihnya itu makin kehilangan semangat hidup, makin pahit menatap masa depan. Bahkan ketika Ryeowook meminta Kyuhyun untuk berserah kepada Tuhan mengharapkan setitik mukjizat kepadanya, Kyuhyun hanya tersenyum kecut dan bilang bahwa dia mulai mempertanyakan keberadaan Tuhan.
Karena Tuhan seolah-olah tidak pernah ada untuknya. Sepanjang pengetahuan Ryeowook, semangat hidup sangat berperan dalam kekuatan daya tahan penderita kanker, dan dia akan berjuang keras agar Kyuhyun selalu bersemangat, agar Kyuhyun kuat... agar Kyuhyun tidak meninggalkannya... karena Ryeowook tidak akan tahan jika tidak ada Kyuhyun di dunia ini.
Lengan Ryeowook memeluk kantong kertas berisi jeruk manis di dadanya, Kyuhyun pasti akan menyukainya. Lelaki itu sangat suka makan jeruk yang menyegarkan mulutnya yang pahit akibat efek obat-obatan yang diminumnya.
Kadangkala Ryeowook suka mengoleskan air jeruk ke bibir Kyuhyun yang kering, pucat dan pecah-pecah, mencoba membuatnya berwarna lagi.
Lalu tiba ada sosok berlawanan arah yang melangkah tergesa dan kemudian tanpa dapat dicegah, menabraknya. Tubuhnya terbentur oleh sebuah lengan yang keras, membuatnya terjungkal dan terjatuh duduk di trotoar, lengannya yang memeluk kantong kertas itu terbuka, membanting kantong kertas itu ke trotoar dan menyebarkan jeruk berwarna orange menggiurkan itu kemana-mana.
"Ya ampun."
Ryeowook yang masih terduduk di trotoar, menatap jeruk-jeruk yang bergelindingan ke berbagai arah itu dengan panik, dia merangkak meraih jeruk yang terdekat, lalu mencoba berdiri untuk menyelamatkan jeruk-jeruk yang lain.
Untunglah trotoar masih sepi karena jam pulang kantor belum berakhir, kalau tidak mungkin jeruk-jeruknya sudah terlindas dan tergilas oleh injakan sepatu para pejalan kaki yang berduyun-duyun dan berhamburan menuju halte untuk pulang.
"Biar aku saja." sebuah suara yang dalam dan tenang tiba-tiba terdengar di depannya. Itu adalah sosok bertubuh keras yang me-nabraknya tadi. Ryeowook mengangkat kepalanya dan langsung bertatapan dengan wajah paling dingin sekaligus paling rupawan yang pernah dilihatnya.
Lelaki itu hanya melempar tatapan datar, lalu berdiri dan mengambil jeruk-jeruk yang berserakan itu dalam satu lengan, dia mendekati Ryeowook yang juga sudah berdiri, memegang kantong kertas yang tinggal berisi beberapa jeruk itu di tangannya.
Lelaki itu melangkah mendekat, lalu tersenyum, senyum tipis yang samar yang langsung merasuk kedalam jiwa "Maafkan aku menabrak-mu tadi, aku kurang hati-hati." suaranya bahkan terdengar dalam dan mempesona.
Ryeowook masih ternganga ketika lelaki itu memasukkan jeruk-jeruk di tangannya ke dalam kantong kertas di pelukan Ryeowook. Ketika lelaki itu selesai, Ryeowook tersadar, dia tersenyum malu karena tidak bisa menahan diri ternganga menatap lelaki yang sangat tampan itu.
"Ah... iya, maafkan aku, aku juga melamun tadi dan tidak berhati-hati." Lelaki itu tersenyum tipis, melirik ke arah jeruk di tangannya,
"Mau membesuk?" posisi mereka sekarang memang berada di dekat rumah sakit, sehingga wajar saja lelaki itu mengambil kesimpulan seperti itu. Ryeowook menganggukkan kepalanya,
"Iya. Terimakasih atas bantuannya" Tiba-tiba saja tatapan intens dan dalam di wajah itu membuat Ryeowook menjadi gugup, "Kalau begitu saya permisi dulu." gumamnya cepat.
Lelaki itu menganggukkan kepalanya, "Hati-hati." senyum tipis masih menghiasi bibirnya dan kemudian dia melangkah pergi berlalu melewati Ryeowook menuju arah yang berlawanan.
Ryeowook masih tertegun sambil menolehkan kepalanya, menatap punggung lelaki yang bertubuh tinggi semampai, dengan rambut hitam gelap yang dibiarkan menyentuh kerahnya, dan pakaian hitam dari ujung kemeja sampai ke sepatunya yang elegan.
Lelaki itu tampak memasuki sebuah mobil hitam berkilat yang seperti sudah menunggu di dekat trotoar, dan setelah lelaki itu masuk, mobil itupun melaju pergi.
Ryeowook menghela napas panjang dan melangkah kembali menuju ke arah rumah sakit, lelaki setampan itu biasanya hanya ada di cerita-cerita novel, mungkin saja dia seorang artis atau model terkenal yang Ryeowook tidak tahu, yah... dia memang buta akan dunia mode. Ryeowook melirik jam tangannya dan tiba-tiba merasa panik.
Dia akan terlambat membesuk Kyuhyun! Lelaki itu pasti sedang menunggunya. Dengan cepat Ryeowook berlari-lari menuju ke rumah sakit.
~ Another 5% ~
Kyuhyun tahu. Bahkan sebelum Ryeowook mendekat, dia tahu. Itu langkah-langkah kekasihnya, berlari-lari kecil melalui koridor menuju ke kamarnya, bahkan dengan memejamkan matanya, Kyuhyun bisa melihat dengan jelas visualisasi Ryeowook berlari sambil memeluk kantong kertas berisi jeruk manis segar di tangannya.
Aroma jeruk yang segar itu bahkan sudah tercium olehnya, pun dengan aroma khas Ryeowook yang seperti bedak bayi... Dan benarlah, beberapa menit kemudian, pintu terbuka.
Ryeowook masuk dengan napas terengah, memeluk kantong kertas berisi jeruk di lengannya.
"Maafkan aku Kyuhyun, tadi jeruknya ketinggalan, jadi aku pulang lagi, aku..." Ryeowook menatap Kyuhyun dan terperangah kaget,
"Kyuhyun? Astaga! kau… kau bisa berdiri sendiri?"
~ To Be Continued . . . ~
