Naruto milik Masashi Kishimoto

a fic by belivixx

.

Heart and Mind

[chapter 2]

.

Aku Uchiha Sasuke.

Ya seingatku begitu. Nama yang bagus. Ah maksudku, tidak terlalu buruk.

Kepalaku berdenyut melihat tumpukan kertas-kertas memuakkan diatas mejaku.

Oh kapan ini akan berakhir?

Hangatnya kopi hitam di sore hari, cukup menenangkan pikiranku. Ruangan kerjaku berada di lantai tertinggi di gedung ini. Ketika matahari mulai kembali pada peraduannya, saat itu pula pemandangan indah tersaji.

Dering ponsel menyadarkanku. Karin.

"Halo."

"Sasuke? Pulanglah, aku merindukanmu."

"Acaranya besok. Tidak mungkin aku pulang cepat. Kemungkinan lebih lama."

"Begitukah?"

"Hn. Bersabarlah."

"Baiklah, aku mencintaimu."

"Ya aku juga."

"Kau juga apa?"

"Aku . . mencintaimu."

Entahlah, aku merasa ada sesuatu yang salah.

..

..

Klub ini selalu ramai seperti biasanya. Naruto bilang, dulu aku sering mendatangi klub ini. Maka tak ada salahnya bukan jika aku mendatanginya lagi? Pekerjaanku begitu menjenuhkan. Biar pun telah menikah, aku membutuhkan sedikit hiburan, kurasa.

Kulangkahkan kakiku dengan percaya diri. Beberapa wanita menggesekkan payudara mereka padaku ketika aku melewati mereka. Mereka begitu menggairahkan jika aku dalam keadaan normal, tapi hei, aku hanya membutuhkan sesuatu yang bisa menghilangkan kejenuhan ini. Jika kalian pikir sex bisa mengatasi itu, maka kukatakan kalian benar.

Tapi, aku tidak tertarik. Karin berkali-kali lipat bisa membuatku melayang.

Aku hanya butuh penyegar.

Meja bar adalah tujuanku saat ini. Kelihatannya sepi, ah beruntungnya aku.

"Vodka." Aku hanya memesan minuman yang sederhana. Well, aku harus menikmatinya dan jangan lupa bahwa aku harus berkendara saat pulang nanti.

Sudah satu jam aku berada disini. Tak ada yang menarik. Dentum musik memenuhi pendengaranku, gadis malam pun silih berganti merayuku. Aah ini membosankan.

Aku tinggalkan beberapa lembar uang diatas meja, lalu pergi meninggalkan meja bar itu. Sebelum benar-benar pergi, pengelihatanku menangkap sesuatu yang tampak familiar.

Kulangkahkan kakiku, sesuatu itu kian jelas seiring jarak kami yang semakin dekat. Tanganku menjangkau pundak yang tampak lelah itu. "Hyuuga."

Tampaknya ia kaget dengan kedatanganku. Refleks ia pun membalikkan badan dan menatapku tak percaya. "Sas –Aah, Uchiha-san." Gadis itu tampak menyembunyikan sesuatu dibalik punggungnya, ia begitu kikuk hingga, "Senang bertemu denganmu." Sambungnya dengan seulas senyuman.

"Apa yang kau lakukan disini Nona Hyuuga?"

"Bukan suatu hal yang penting, kurasa." Ia mengangkat bahunya. "Justru aku yang harusnya bertanya. Apa yang anda lakukan disini? Apakah istri anda tidak mencari?" sambungnya dengan menaikkan sebelah alisnya.

"Kurasa itu juga bukan sesuatu yang penting untuk kau ketahui." Balasku. Aku menatapnya tajam, dari pakaiannya, kurasa dia baru pulang kerja. Setelan itu tampak sangat pas di tubuhnya, tidak terlalu menampakkan lekuk tubuh si gadis Hyuuga. Rambutnya yang diikat kuncir juga sedikit poni yang menutupi dahinya membuatnya terlihat begitu menggoda.

Tunggu, apa yang kupikirkan. Gadis ini adalah pacar Naruto, dan aku sendiri bukan lagi seorang bujangan. Sial, bisa-bisanya aku memperhatikannya.

"Kupikir aku harus pulang." Ia bergerak meraih tasnya dan langsung memasukkan sesuatu yang sejak tadi di sembunyikannya. Lalu berjalan dan mengangguk sekilas padaku. "Sampai jumpa."

Yah, lebih baik seperti itu.

"Sampai jumpa."

..

..

Kuakui ini sangat-sangat membosankan. Puluhan kolega bisnis terus menampilkan senyum palsu mereka dihadapanku. Ingin rasanya aku menumpahkan minuman ini ke wajah tamak mereka, tapi, waktunya tidak tepat kurasa.

"Selamat atas cabang baru perusahaan anda, Uchiha-san." Seorang pria berambut biru menyalamiku.

"Terima Kasih."

"Kurasa kita bisa mengadakan hubungan kerjasama baru. Proyek tahun lalu benar-benar mengagumkan, aku sangat terkesan dengan kerjasama kita."

"Bagus jika kau berfikir begitu. Tapi, sekarang bukan waktu untuk membicarakan hal itu, Gokka-san. Nikmatilah pestanya." Aku pun melangkahkan kakiku pergi.

Pesta ini berlangsung meriah. Aku merasa bangga atas campur tangan Karin dalam mendesign dekorasinya. Kurasa semua tamu undangan hadir memenuhi rumah ini, tak terkecuali Naruto. Ah aku sangat merindukannya. Tunggu, aku masih dalam keadaan normal tentu saja.

Hanya saja beberapa bulan belakangan aku merasa ada suatu jarak yang hadir diantara hubungan persahabatan kami. Entahlah, tapi jarak itu terasa sangat lebar bagaikan luka yang menganga dan terasa perih. Tapi, mungkin itu hanya perasaanku saja.

Buktinya kini ia hadir di pestaku, walau beberapa waktu ini ia tak dapat dihubungi ataupun ditemui. Aku tak sabar ingin bercengkrama dengannya, tapi sialnya para bajingan-bajingan bermuka palsu ini senantiasa menghambat waktuku.

"Sasuke-kun."

Karin datang dan memeluk lenganku. Aku tersenyum padanya dan sekilas mengecup pipinya.

"Ada apa? Kau sudah selesai bertemu temanmu?"

"Sudah. Dan aku akan menemanimu sekarang."

"Oh baguslah, aku ingin mencari Naruto. Hidan bilang bahwa Naruto dan Hinata hadir malam ini." aku tersenyum. Tapi Karin terdiam untuk beberapa saat.

"Ada apa?"

"T-tidak. Ah maksudku, syukurlah dia hadir. Bukankah ini yang kau nantikan?" Karin menepuk-nepuk bahuku sembari tertawa. Entahlah, tapi yang kudengar hanya tawa palsu. Ah tapi tidak mungkin.

Aku melihat ke sekelilingku. Harap-harap cemas, aku khawatir jika Naruto sudah meninggalkan pesta. Lalu tanpa sengaja mataku menangkap pergerakan halus, Hyuuga Hinata. Gadis itu tampak kaget saat mata kami bertemu.

"Karin! Itu mereka, Ayo." Aku segera menarik tangan Karin. Berjalan dengan langkah panjang hingga akhirnya aku berada dihadapan mereka.

"Naruto. Kenapa kau jarang mengunjungiku?"

Pertanyaan sederhana yang terlontar begitu saja dari mulutku.

"Ah Teme! Maafkan aku, akhir-akhir ini aku sibuk. Ayahku sedang menemani ibuku di Australia. Jadinya aku yang mengurus perusahaan sendiri. Kau taulah Teme, itu sangat merepotkan." Lalu Naruto tampak sangat kikuk. Apa yang membuatnya begitu?

Aku beralih menatap gadis yang berdiri disamping Naruto. Hyuuga Hinata tampaknya sedang gelisah, ia seperti menyembunyikan dirinya dibalik lengan kekar Naruto. Sekilas pandangan kami bertemu, aku menarik sedikit senyum, mungkin itu bisa menenangkannya. Ah kenapa aku?

"Nee Naruto, kapan kau akan menikahi Hinata?" Lalu tiba-tiba pertanyaan itu datang dari Karin. Hatiku sedikit mencelos mendengarnya, aku bingung, kenapa denganku? Apakah luka yang kualami saat itu belum sembuh? Aku merasa sakit di dadaku.

Kuperhatikan lagi, Hyuuga Hinata tampak mencengkram jas Naruto. Ini aneh, apa yang salah dengan pertanyaan itu? Aku berfikir, mereka pasangan yang cocok.

"Itu benar Naruto. Kau mengulur-ngulur waktu." Kalimatku lagi-lagi terlontar begitu saja. Dadaku bergemuruh hebat. Sakit.

Gadis itu tampak tak nyaman dengan pertanyaanku. Naruto lagi-lagi tampak seperti melindunginya. Aku merasa bersalah, maka aku berinisiatif untuk mengubah pembicaraan ini.

Tak sampai 15 menit waktu ku berbicara dengan Naruto, tapi ia sudah berniat undur diri.

"Teme, aku pamit. Masih banyak urusan yang harus kukerjakan, aku janji akan berkunjung."

Ah waktu begitu cepat berlalu, "Baiklah, Selamat malam."

..

..

Aroma kopi memenuhi indra penciumanku. Kicauan burung silih berganti menyambut datangnya mentari. Kuraih ponselku dan kutatap lagi latar itu.

"Uchiha-sama."

Seseorang datang.

"Kau sudah menemukan sesuatu?"

Lalu pria itu membungkuk hormat padaku, "Maafkan saya. Tapi saya tidak menemukan apapun tentang Hyuuga Hinata. Latar belakang kehidupannya sangat sulit untuk diketahui, yang saya temukan hanyalah artikel yang mengatakan bahwa Hyuuga Hinata adalah seorang gadis yang berasal dari panti asuhan."

"Aku tahu itu. Benar-benar tidak ada yang berhubungan denganku?"

"Tidak ada Uchiha-sama. Anda dan Hyuuga Hinata berasal dari sekolah yang berbeda. Aku tidak menemukan sesuatu yang membuat anda dan nona Hyuuga saling berkaitan. Jikapun ada, itu hanyalah tuan Uzumaki-sama."

"Baiklah, kau boleh pergi."

"Ha'i, Uchiha-sama."

Kuperhatikan lagi latar itu. Lalu kuhirup lagi aroma kopi yang tersaji.

Benarkah kita tidak pernah berkaitan?

Tapi kenapa aku seperti mengenalmu?

Ingatanku hampa tentangmu, seperti sebuah lubang disebuah taman bunga yang indah.

Ini begitu memuakkan.

Aku yakin, kita pernah, berkaitan.

..

..

TBC