When Moonlight Scratch On The Window

CHAPTER 1 : A Man Beyond The Sea

o0o—

Genre : Drama, Romance, Fantasy, Supernatural, and Mistery (?)

Disclaimer: Cerita ini milik saya, semua karakter Inuyasha milik Rumiko Takahashi, saya hanya meminjam nama mereka. Saya tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini, tulisan ini hanya sebagai hiburan semata.

Warn! Typo(s) gaje ide yang mainstream OOC AU diksi tidak tepat dll.

Rating : M

Author : Emma Griselda ‖ Beta Reader: Sky Yuu & Editor: Writer Angelica

o0o—

Brakk

Jendela kamarku terbuka dengan lebar. Angin sepertinya sudah tak sabar untuk memasuki kamarku yang luas, kini mereka bisa menyaksikan apa yang terjadi di dalam kamarku. Tirai kamar berisik terus dan bergoyang-goyang disertai dengan desahan angin yang dingin. Kimono berwarna hitam yang bercampur warna merah membalutku dan selimut berwarna putih dengan bordir benang berwarna keemasan yang memperlihatkan sebuah lingkaran yang bermotif seperti bulan dan matahari yang bersatu dalam satu lingkaran menutupi hampir seluruh badanku.

Bisikan angin yang semakin ribut benar-benar mengusik tidur malamku yang nyaman. Dengan malas, aku bangun dari tidurku di tengah malam. Aku mengerjapkan mata beberapa kali, berharap bahwa aku tak terbangun karena jendela yang terbuka dan angin yang berdesau itu. Aku duduk sejenak untuk mengumpulkan jiwaku yang rasanya belum genap terkumpul. Kupegang selimut kesayanganku. Lukisan-lukisan serta gulungan yang tertempel pada dinding kamarku terus bergerak dan terlihat akan lepas karena angin. Aku bangun dan memakai sendal yang berada tepat di samping ranjang.

"Jendelanya terbuka. Bukankah tadi sebelum aku tidur, sudah kututup dan menguncinya?" tanyaku kebingungan. Aku berjalan menuju jendela itu dengan malas.

Surai hitamku yang tergerai itu tertiup angin dengan kencangnya hingga menganggunya dengan terus berusaha menutupi wajahku. Cahaya bulan memantul tepat di wajahku. Namun, beberapa helaian suraiku menutupi cahaya itu untuk tidak dapat menjamah wajahku secara langsung. Kupegangi suraiku agar tidak menganggu penglihatanku. Aku mendongak untuk melihat cahaya bulan yang memantul di lantai kamarku. Aku ternganga melihat bulan purnama yang indah itu.

"Akhirnya, bulan purnama penuh telah menunjukkan rupanya." Aku tersenyum indah layaknya bulan sabit yang biasa menghiasi langit malam sebelum akhirnya bulan purnama itu datang.

Kuamati bulan purnama itu dengan seksama. Entah kenapa aku merasa tentram saat melihat bulan itu bersinar penuh. Seolah-olah aku menerima kebahagiaan saat melihatnya, dan sebagian kekuatan yang dimilikinya saat bersinar penuh itu serasa mengalir dalam darahku. Bahkan kimono hitam yang bercampur merah dengan motif yang senada dengan selimut kesukaanku itu terasa menyerap energi dari bulan yang bersinar penuh itu juga. Aku merasa lega dan bahagia saat aku bisa memandang bulan itu untuk kesekian kalinya. Kualihkan pandanganku ke depan, ke arah laut yang terpapar di hadapanku yang begitu luas. Kubenahi tirai yang kini tak ingin kalah dengan suraiku yang tergerai. Tirai berwarna putih dengan motif bunga peoni itu benar-benar mengusikku, tirai itu terus bergoyang dan mengganggu penglihatanku. Aku sedikit kesal melihat tirai kamarku yang susah untuk diatur. Tirai itu berusaha untuk bertarung denganku di tengah malam. Ia seperti menghalangiku untuk menutup jendela itu. Udara dingin terus membelaiku. Kucoba untuk meraih jendela yang sudah terbuka lebar sedari tadi.

Brakk

Jendela yang akan kututup itu rasanya juga menolak keputusanku untuk menutupnya. Ia seperti mencegahku untuk tidak menutup jendela. Seolah-olah ia ingin menunjukkan sesuatu yang berharga, agar tidak ada yang bisa mengetahui itu selain aku. Namun, semua itu terasa konyol jika aku tak mampu menutup jendela itu padahal udara dingin kini tak segan-segan untuk menggerayangiku. Aku pergi menjauhi jendela dan bergegas mengambil mantel hangatku agar aku bisa merasakan sedikit rasa hangat. Setelah kurasa rapi dengan semua itu, aku berjalan ke arah jendela lagi. Dan kini, aku akan menutupnya. Pasti.

Tirai yang tadinya serasa ingin mengajakku bertarung, kini ia dengan senang hati aku cengkeram. Kupegang erat-erat tirai itu sambil mengamati cahaya bulan yang ada di atas sana. Aku teringat sebuah mitologi tentang Bulan Purnama yang bersinar penuh di malam hari. Saat aku kecil, ojii-sama pernah bercerita tenang hal itu saat aku bermain bersamanya di bawah pohon suci. Saat itu, musim gugur dan bunga sakura bertebaran. Ia mulai menceritakan tentang mitologi bulan purnama yang bersinar penuh. Ia mengatakan bahwa saat terjadi hal itu —bulan purnama penuh— Dewi Bulan dan Dewa Matahari bertemu satu sama lain di malam hari, mereka mengungkapkan kebahagiaannya saat bertemu itu. Kebahagiaan itulah yang memancarkan sinar rembulan yang indah itu. Saat aku mengatakan kenapa Dewi Bulan bahagia saat bertemu dengan Dewa Matahari, ojii-sama hanya tersenyum dan mengatakan bahwa Dewi Bulan memang ditakdirkan dengan Dewa Matahari. Jadi, aku sekarang berpikir mungkin kali ini Dewi Bulan sedang bahagia saat bertemu dengan pasangan yang ia rindukan, Dewa Matahari. Betapa indahnya!

Sejak saat itu, entah kenapa, aku mulai begitu menyukai tentang hal yang membahas kisah Dewi Bulan dan Dewa Matahari. Bahkan karena terlalu menyukainya, aku sering meminta pada okā-sama untuk membuatkanku kimono dengan motif bulan dan matahari yang menyatu dalam satu lingkaran dengan lidah api yang dimiliki oleh matahari seperti motif selimutku itu. Dan nyatanya, okā-sama mengabulkan apa yang kuinginkan.

Kugapai jendela kamarku dengan perlahan, lagi-lagi mereka menolak untuk kututup dan mereka kembali terbuka dengan lebar. Aku mendesah panjang dengan kejadian tak masuk akal ini. Mataku terbelalak saat jendela itu terbuka dengan lebar dan tiraiku kembali bergoyang-goyang. Apa yang kulihat ini nyata adanya dan bukan sebuah ilusi semata, 'kan? Apa yang dilakukannya di lautan di malam hari? Aku melihat seorang laki-laki berjalan menuju lautan di malam hari. Ia berjalan perlahan-lahan menuju laut lepas.

Aku harus melakukan sesuatu untuk membantu laki-laki itu. Jika tidak, laki-laki itu akan tenggelam dilahap ombak.

Aku bergegas berlari dari kamar dan menelusuri lorong-lorong panjang yang menghubungkan setiap bagian rumah ini dengan cepat. Aku menuju ke bagian barat bangunan di mana di sana ada pintu gerbang terdekat untuk menuju laut itu tanpa harus memutar arah melalui gerbang utama yang berada di selatan.

Rumah ini terdiri dari dua bagian, yaitu bagian dalam (dairi) dan kompleks bangunan yang mengelilingi dairi (daidairi). Dairi ini dilindungi oleh dua lapis tembok. Bangunan di balik tembok luar berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan chuwain. Di dalam chuwain ini terdapat kuil tempat melakukan upacara keagamaan. Di dekat chuwain inilah terdapat pintu gerbang barat yang menghubungkan dairi dan daidairi. Langkah kakiku tidak berhenti di pintu gerbang ini. Aku masih harus memaksa kaki ini untuk berlari melewati gerbang barat yang berada di kompleks bangunan dan menuju ke laut.

Napasku mulai tak beraturan, aku tidak peduli. Yang terpenting saat ini adalah, aku harus menyelamatkan laki-laki itu sebelum ia tenggelam dilahap oleh ombak. Aku membuka gerbang rumahku dan berlari menuju laki-laki itu. Sepertinya aku terlambat. Laki-laki itu sudah berada di laut dan ia terus berjalan menuju ke tengah laut. Aku bisa melihat dengan jelas warna kimono yang laki-laki itu kenakan. Cahaya bulan menerangiku, kimono berwarna merah maroon itu sudah membasahi separuh tubuh si pemakai. Namun, laki-laki itu nampaknya mengabaikannya. Yang ingin dituju laki-laki itu adalah laut lepas.

"Danna-sama! Kau tidak boleh ke tengah laut. Kau akan dilahap oleh ombak," teriakku pada laki-laki itu sambil membuntuti di belakangnya.

Laki-laki itu tak menggubris apa yang kukatakan. Langkah kaki ini semakin berat untuk berjalan di dalam air. Namun, aku tak boleh menyerah untuk menyelamatkan laki-laki itu. Bagaimana jika laki-laki itu berniat untuk melakukan bunuh diri? Bagaimana jika laki-laki itu tak bisa berenang? Aku mempercepat langkah kakiku agar aku bisa cepat menggapai lengan laki-laki itu dan mencegahnya. Walaupun sedikit susah berjalan di air, aku kini mulai dekat dengan laki-laki itu. Beberapa langkah lagi aku bisa menggapai lengannya, meskipun permukaan air sudah menutupi hingga bagian dadaku.

"Maaf, kau tidak boleh ke tengah lautan. Apa yang Anda lakukan di tengah laut? Apa mungkin, Anda berpikir untuk ..." Aku tak melanjutkan kata-kataku yang terasa tidak sopan untuk diriku sendiri mengucapkannya.

Laki-laki ini benar-benar keras kepala! Ia kembali tak menggubrisku. Sungguh. Sebenarnya apa yang ada di pikirannya saat ini hingga ia memutuskan untuk berada di tangah laut? Ia bahkan tak bergeming atau memberikanku sedikit respon, ia hanya terus berjalan ke tengah laut.

Berhasil!

Aku berhasil menggapai lengannya. Kugenggam erat lengan laki-laki itu sebelum ia memutuskan untuk melakukan hal-hal bodoh yang ada. Setelah apa yang kulakukan kali ini, ia tidak meresponku, ia tidak berkata-kata apapun. Namun, kali ini ia terdiam pada posisinya. Aroma khas laut membaur dengan aromaku dan juga aroma laki-laki ini. Semuanya bercampur menjadi satu. Entah kenapa, tiba-tiba jantungku berdegup kencang saat aku memegang erat tangan laki-laki ini. Surainya yang panjang dan berwarna perak karena terpantul oleh cahaya bulan ini tertiup oleh angin yang terasa begitu damai.

"Anda siapa?" hanya kalimat itu yang terlontar dari bibirku. Kalimat itu terasa seperti kalimat yang tak ingin kulontarkan, tapi entah kenapa kalimat itu yang justru terlontar.

o0o—

Malam yang sama, saat bulan purnama penuh.

Laki-laki itu kini tidak bisa tertidur pulas. Hal itu terlihat dari gerakannya yang hanya berubah posisi dari miring ke kiri lalu miring ke kanan. Ada sesuatu yang tidak beres. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya bahkan dalam tidurnya. Semuanya terlihat begitu nyata untuk ukuran sebuah mimpi penghias tidur malam. Jendela kamarnya, ia biarkan terbuka lebar. Ia berharap sinar cahaya bulan purnama menghiasi kamarnya yang luas. Cahaya bulan yang bersinar malam ini lebih terang dari cahaya bulan purnama pada biasanya. Laki-laki itu masih terselimuti oleh selimut yang berwarna putih dengan bordir benang emas yang indah. Motif pada selimutnya menggambarkan betapa indahnya matahari yang bersinar penuh lengkap dengan lidah api yang dimilikinya. Gambar matahari itu terlihat lebih nyata dengan bentuk lingkaran penuhnya yang tidak jauh berbeda dengan bentuk bulan purnama malam ini.

Angin kembali meniup perlahan tirai jendela yang berwarna putih itu. Udara dingin kembali membelai indah sosok sempurna lelaki ini. Ia sama sekali tidak terganggu dengan desahan angin yang mencoba meniup tirainya berulang kali. Namun, seperti ada yang salah dengan mimpi yang dialaminya. Ia beralih posisi miring ke sisi kiri, lalu tak berapa lama ia berganti posisi ke kanan. Ia kini terlihat tak nyaman. Ia kembali berbaring pada posisi awal. Ia terus mengubah posisi tidurnya. Ia terlihat khawatir dan ada sesuatu yang membuatnya gelisah. Wajahnya yang sempurna itu menyiratkan kekhawatiran yang berlebih. Hingga pada akhirnya, sebuah nama terucap lirih dari mulutnya berkali-kali. Dia masih terlelap dalam tidurnya yang gelisah.

"Kikyo!" teriaknya dengan keras saat dirinya tertarik dengan sengaja dari alam bawah sadarnya dengan tiba-tiba. Ia terperanjat dengan mata terbelalak. Napasnya tak beraturan disertai peluh yang membasahi keningnya.

Ia menghembuskan napasnya dengan berat. Mimpi yang baru dialaminya begitu terasa lebih nyata. Ia duduk dengan napas beratnya yang begitu terasa. Ia mengencangkan tali pada kimono malam yang ia kenakan untuk tidur. Pandangannya tersebar pada seluruh ruangan. Jubah agung miliknya masih rapi tergantung pada gantungan baju di dekat jendela ruangan kamarnya yang tersorot cahaya bulan. Benang emas pada jubahnya terlihat bercahaya lebih terang dari biasanya. Ia bangkit dan berjalan menuju jendela. Tirai tipis yang terpasang itu berkibar tak karuan. Ketika ia mendekati ke jendela, surainya yang berwarna perak karena sinar rembulan berkibar dengan indah. Namun, wajahnya masih saja nampak gelisah. Tatapannya kosong memikirkan jauh ke depan.

Kikyo, nande? Kenapa bulan purnama kali ini berbeda? Kenapa bulan lebih bersinar terang malam ini? Apa yang sebenarnya terjadi?

Laki-laki itu terus menerawang jauh ke depan, memikirkan tentang mimpi yang begitu mengganggu pikirannya. Mimpi yang terasa sangat nyata.