Notes:

Oh my gosh, beruntung warga FHPI ramah-ramah. Terima kasih atas apresiasinya, beberapa pertanyaan sudah dijawab di bawah. Maaf atas keterlambatan update yang lama. Enjoy! :)


Disclaimer : All characters & main story belongs to Joanne Kathleen Rowling.

Genre: Supranatural/Mystery/Romance/Tragedy/Family (Seandainya genre bisa sebanyak itu)

Warning : ALL CHARACTERS ARE OOC, Alternate Universe, typo(s).


.

.

.

Supermassive Black Hole

Chapter Two: Augury

.

.

.


Di sini terbaring dalam damai,

Ursula Sue Slytherin
née Granger

12 Juli 1945 - 13 Januari 2012

.

.


.

.

Salazar Holman Slytherin

14 Agustus 1940 - 13 Januari1996

.


Langit cekung bagaikan cangkir berwarna kelabu.

Pekat dan sunyi.

Purnama mengintip di antara cabang-cabang pohon yang gelap. Angin malam yang posesif telah menyapu kering seluruh genangan di pelupuk mata. Jajaran pohon rindang menaungi kursi-kursi hitam sebanyak empat baris yang berselimut duka. Burung-burung gereja bercericip—yang entah sejak kapan menjadi mahkluk nokturnal—seolah ikut bersenandung saat semuanya sedang menyanyikan kidung pengantar penutupan makam.

Khidmat.

Damai.

Para 'orang-orang hitam' itu mulai beranjak satu persatu—orang-orang yang secara sukarela menyumbangkan air mata mereka atas kepergian Ursula. Berjalan melewati beringin tua yang menunduk di atas dua pusara dua 'orang tua' itu. Pusara yang cantik. Dengan jalan setapak seindah jalanan dari mutiara di Yerusalem yang baru.

Dingin.

Mereka saling merapatkan lingkup jaket, kemudian melipat lutut untuk memberikan penghormatan terakhir.

Detik demi detik melantun dalam irama lara.

Gadis itu, bertingkah layaknya batu selama acara berlangsung.

Memangnya batu bertingkah?

Mari tergelak,

Tapi jangan di depan batang hidungnya,

Atau kepala dan bahumu tidak akan pernah tersambung kembali.

"Terimakasih, kita akan kuat."

"Iya, Mrs. Goldie. Kami akan baik-baik saja."

"Tentu saja, ini menjadi pukulan berat bagiku, terimakasih."

"Terima kasih kembali, Mr. Bergling."

"Terima kasih ..."

"Terima kasih ..."

"Terima kasih ..."

.

.

.

Patricia Granger berperan menjadi sosok yang ramah dalam menanggapi berbagai ucapan belasungkawa yang meluncur dari mulut pelayat. Sesekali ia menyibak tudung kepalanya yang melorot, kembali menyampirkannya ke pundak. Mata karamel terangnya berpendar seperti cat dalam kaleng, mengawasi setiap kata yang berdengung—sangsi, entah tulus, atau mungkin tidak.

Gadis itu, duduk di barisan paling depan. Surai cokelat keritingnya bersandar penuh pada bahu lelaki di sampingnya. Sang lelaki mengalungkan lengan besarnya di pundak si gadis. Berusaha menghangatkan sang gadis yang tengah menggigil hebat. Hermione demam. Bibir merah mudanya yang kesi menggumamkan sesuatu. Menciptakan gelembung-gelembung udara dingin di sekitar mereka.

Tekanan di belakang matanya telah pergi, digantikan oleh perasaan hampa dari keputusasaan yang berlubang.

Sekarang hanya tersisa satu pelayat. Patricia menepuk pundaknya berkali-kali dengan lembut, tabah. Dan akhirnya wanita tua renta itu pulang dengan sesenggukan. Hilang ditelan bayangan malam di ujung jalan setapak pemakaman.

Teman seperjuangan? Hm.

Blaise memperhatikan Patricia yang berdiri tegak di depan pusara. Selama beberapa waktu, wanita berumur tiga puluh lima tahun itu tetap tidak bergerak sama sekali. Kedua tangannya saling mengatup rapat di bawah perut. Menatap lama potret nyengir halus Ursula yang memakai topi bonet biru mudanya—yang disandarkan di nisan. Entah seperti merenungi, menyesali, atau sejenis itu.

Rintik hujan mengetuki kelopak mata ketiganya. Hermione mengerang lemah, sekujur tubuhnya seperti dibaringkan satu jengkal di atas perapian. Pening semakin mendekap erat kepalanya sampai serasa meradang sampai ke jiwa.

Seperti ... gadis-gadis beken itu sedang menancapkan ribuan paku di ubun-ubunnya. Tinggal menunggu batok kepala yang mulai terbelah seperti semangka, wajah yang membiru, darah yang muncrat ke mana-mana, dan—rasa sakit itu pasti segera hilang.

Aha.

Pandangannya terlempar pada sang ibu yang memunggungi mereka—masih berdiri di situ tanpa menghiraukan tetes-tetes air yang mulai merembes di tudungnya.

Hermione menelengkan kepalanya ke depan sambil menyingkirkan lengan Blaise yang melingkarinya. Ia menatap Blaise penuh sorot pengharapan. Lelaki itu berkedik enggan.

"Kau saja," kata Blaise. Menggosok telapak tangannya yang sudah basah. "Kau putrinya, 'kan."

Raut wajah lesu Hermione berubah masam. Menyeret tumitnya malas-malasan, gadis itu bergerak maju mendekati ibunya. Pusingnya semakin merajalela di setiap dentuman langkah. Ujung gaun beludru hitamnya menyapu rerumputan dan meninggalkan trek meliuk yang khas.

Hermione menghela napas pendek di samping wanita yang tingginya hanya beda tipis dengannya, "Pat," panggilnya.

Butuh waktu tiga detik untuk mendapatkan balasannya.

"Kautidaklihatakusedangapa? Tunggusampaiakuselesai."

Hermione memutar bola matanya sambil mendecak gelisah. Patricia memang keras kepala, apalagi jika aktivitas agamisnya diinterupsi. Sambil menghitung durasi berdoa Patricia dalam hati, Hermione merutuk keras alterasi suhu sekitar yang tiba-tiba menukik tajam. Dia benar-benar tidak mempunyai keinginan untuk terus menggigil dalam balutan dress dua lapis panjangnya, tapi sertaan angin kencang yang berhembus ikut membonceng daun-daun kering yang ujungnya tajam membuatnya semakin dongkol.

"Oh, ayolah," gumam Hermione sembari memejamkan mata. Suntikan air hujan malah memperparah derajat sakit kepalanya.

Tidak mau ambil resiko flu tulang, gadis tujuh belas tahun itu menaikkan syalnya setinggi dagu. Bola bulu hitam bergelantung di tiap ujung—membentur punggungnya dengan lembut.

Matanya tak sengaja tertumbuk pada angka berupa tanggal di batu nisan.

Perhatikan, lebih dekat, dahi terlipat.

.

.

"Bahkan tanggal mereka sama."

.

.

Hermione berdehem keras sebelum mengibaskan lengan dan menekuknya di atas perut. "Mereka sungguh saling mencintai, lucu—"

.

.

"JANGAN BICARAKAN ITU LAGI, HERMIONE GRANGER!"

.

.

Refleks, Hermione berjengit kaget. Blaise yang sedang menumpuk kursi-kursi terhuyung, nyaris terjerembab di rumput basah. Berhubung kedua perempuan itu memunggunginya, lelaki itu jadi tidak tahu menahu topik apa yang sedang mereka debatkan. Bahu Patricia tampak mengeras, sementara kaki Hermione menggesek-gesek rumput sampai sejumput tanah memakan ujung flat shoes-nya.

Helaan napas.

"Maksudmu?"

Mata Patricia membelalak mengerikan. "Cinta. Tidak ada yang abadi. Itu ... itu sebenarnya semu ... " ucapnya gemetar.

Hermione mengedarkan pandangan bertanya pada Pat.

"Kata itu bisa membunuh jiwamu ... Persetan!"

"Tapi, Pat, maksudku cinta kasih sayang keluarga juga—"

.

.

"TIDAK ADA SETITIKPUN, HERMIONE!"

.

.

"TIDAK ADA SETITIKPUN, HERMIONE!" bentak Patricia berang, menunduk dengan dagu yang menyentuh leher. Pipinya bergetar. Sungguh kejutan. Hermione tidak tahu apakah itu air mata ... ibunya. Rintik-rintik air berganti menjadi hujan yang memburamkan penglihatan—sekaligus sebagai kedok tangisan. Hell, man, sejak Hermione bisa melafalkan nama lengkap Patricia, ia tidak pernah melihat butiran kristal itu turun dari wajah batunya.

"Lalu apa kau bilang? Keluarga? Haha, kau pikir kita punya keluarga?" tawa Patricia berubah sinis, menyesatkan. Lehernya bergerak kaku ke hadapan Hermione lalu berkata,"As you wish."

.

.

Dia bilang, aku—mungkin dia juga—tidak memiliki keluarga.

Lalu, bagaimana dengan

.

.

"Jadi, kau tidak sayang padaku?" tanya Hermione datar, polos. Tak mengakui bahwa hatinya sedang meletup-letup ribut seperti permukaan kawah. Air hujan berlomba-lomba memasuki bibirnya yang kelu. Lidahnya mengecap, sejak kapan air hujan terasa manis?

Hermione menelannya.

Masih manis.

HAH!

Jarak mereka terpaut dua langkah bersisian, tapi tak ada salah satu yang berniat memangkas jarak agar lebih dekat. Patricia masih setia mematung, dan kini tidak ada satupun bagian tubuhnya yang kering. Blaise PUN masih setia menunggu perbincangan mereka dengan tuxedo yang lepek.

Mereka, yang hanya ia punya di dunia ini sekarang.

"Lalu, status kita bukan seperti ... anak dan ibu, lalu ibu dan anak?"

"Kau saja memanggilku Pat. Jadi?"

"Demi Tuhan kau yang menyuruhku menyebutkan nama itu ketika gigiku masih empat biji! Kau bahkan tidak mengucapkan kata itu. Itu, Mommy? Atau, Mum? Mama?"

Tiba-tiba, Patricia mencengkeram kedua lengan Hermione. Matanya mengerjap berkali-kali—entah sedang berusaha menyingkirkan air hujan, atau menilik lebih dalam iris cokelat anak semata wayangnya.

"Kuberitahu, Hermione Patricia Granger," ujarnya lamat-lamat, "kalau kau ingin tahu."

"Hn?"

"Dahulu sekali, kenangan dan angan-angan itu pernah terasa begitu indah. Membawaku ke pintu-pintu nirwana, tempat dimana para pecinta tinggal dan melayang bahagia. Mimpi-mimpi itu begitu manis untuk diwujudkan. Begitu syahdu untuk di dendangkan. Begitu candu dan buatku mati dalam haru ..." Patricia berubah sendu. Hermione merasakan lengannya ikut bergetar akibat cengkeraman yang meninggalkan bekas itu.

Pertahanan kantung matanya akan bendungan air yang terus bergumul, runtuh.

Patricia Holman Granger menangis.

Di depan Hermione.

"Aku harus menjagamu baik-baik. Kau tidak boleh mengulangnya kembali, tentu saja. Tidak boleh, tidak," racau wanita yang bermata serupa dengan Hermione itu geram. "Cukup aku saja yang merana. Jangan dekati hal-hal fana itu, Hermione. Aku menjaminkan sebuah hidup yang bahagian un—untukmu, tenang saja, an—"

"Patricia!" lolong Hermione di tengah hujan lebat. Membebaskan lengannya yang terikat erat oleh jemari ibunya, kepalanya terus menggeleng keheranan. Sikap ibunya sungguh di luar kendali.

Lihat sekarang, meraung-raung bak kucing di siram air—di bawah hujan?

"Mereka, mereka juga membuat hidupku tidak bahagia! Dengar, aku," desisnya putus-putus dengan mimik horror sambil menatap kedua makam tersebut. "Kuharap kau mematuhi permintaan kecilku untuk menjadi biarawati nanti, mengerti? Jangan coba-coba dan jangan biarkan kau mengenal cinta. Atau cinta menyicipimu. Begitu kau terhanyut ... Ia ... semu—"

"Cukup." Hermione balas mendesis dengan telunjuk teracung di udara. "Apakah seseorang yang harus kusebut, Ayah, atau yang berkerja sama denganmu untuk menciptakan produk yang-selalu-terhina sepertiku— membuat fiksasi-mu begitu mengerikan seperti ini? Tak terlalu naifkah—"

.

PLAK!

.

.

.

.

Ia meringis kecil.

Sisi kiri wajahnya berdenyut tak karuan, ditambah sakit kepala.

"Aku tidak pernah membicarakan tentang itu," tutur Patricia apatis, "dan ... kau? Did it."

"Aku selalu menurutimu sejak kecil. Tidak pernah aku membantahmu. Sampai di umurku yang sekarang. Kau tidak bisa memaksaku ..."

.

"Aku bisa. Aku, ibumu. Dan kau berkewajiban untuk tidak jatuh di lubang yang sama."

.

Ultimatum terakhir Patricia terdengar jelas di telinganya. Wanita itu melesat pergi menuju pagar luar yang membentengi pemakaman tanpa mengatakan apa-apa. Tanpa permintaan maaf. Blaise hendak mengekorinya, tapi tidak jadi, sebab Hermione bertingkah lagi dalam kesendiriannya.

Sementara langit tak henti-hentinya memuntahkan berton-ton air yang ... manis.

.

.

"Aku bukan bonekaa ..."

.

.

"Sebelum ada yang melarangku, aku malah kolot. Aku layaknya boneka kayu yang fakir perasaan ..."

.

.

"Tidak ada cinta dari siapapun, IA sendiri tampak ragu menyayangiku ..."

.

.

"Apalagi mencintaiku ..."

.

.

Hermione mulai menerbangkan tangannya, berputar-putar di tempat seperti putaran kincir angin. Tawa pasrahnya mengiris kalbu bagi siapapun yang mendengar. Matanya berpijar syahdu, memagari kekalutan sedalam laut Mediterrania. Nadanya mengalun rendah dengan suara yang tipis.

Mau tak mau, lelaki dengan potongan rambut cepak itu bergidik ngeri. Ia benar-benar keok bila berhadapan dengan gadis ini. Gadis itu sepertinya berbeda.

.

"Tidak ada yang mengharapkanku ... dan aku tidak berharap untuk berjiwa di dunia ini ..."

.

Berputar ...

Kibasan rok panjang berputar membentuk kilasan lubang hitam ...

.

"Hai Blaise disana ... pungut cangkulmu dan keruk sebuah rumah persegi panjang untukku ..."

.

.

"Tepat di bawah sini ... aku merasakannya ..."

.

Kilat mulai menampakkan jalinan urat-uratnya di kanvas cakrawala. Blaise terlihat hendak menghampiri Hermione untuk menyudahi racauan gilanya, namun gelegar petir menyambar pohon cemara di sudut pemakaman yang agak dekat dengan posisi mereka.

.

"Timbun aku dengan tanah ..."

.

"Hermione! Dengarkan aku, jangan—" Blaise mengunci kedua lengan Hermione yang bermanuver ke segala arah, "—bertindak seperti orang yang tidak memiliki otak!"

Gadis itu mendadak diam. Matanya menerawang. "Kau memayungiku, Blaise?"

"Tidak, diamlah. Jangan gegabah."

"Aku merasa kering!" pekiknya.

"Yaa aku juga pasti akan berpikir begitu jika sekarang hujan kotoran kulit atau apa sih—daki ya. Ayo pulang," tukas Blaise mulai berjalan menyeret bahu Hermione.

"Tunggu! Aku benar-benar kering!"

Mengeluh bosan sambil menggaruk kepalanya, Blaise memperhatikan tangan Hermione yang disodorkan di depan hidungnya.

"APA?!"

Air hujan tidak ada yang berhasil mendarat di seluruh bagian tubuh Hermione. Tubuhnya seperti berselaput transparan. Air-air tampak tergelincir ke sisi samping, ketika berusaha menembus perisai tak terlihat yang menyelubungi Hermione.

.

.

"Sudah malam."

.

.

.

-oOo-

.

.

.

.

"Memang apa yang kau lihat selama pingsan?" Blaise Zabini menoleh sekilas sebelum meliukkan setir mobilnya ke kanan di perempatan menuju sekolah.

Hazel kelamnya masih menatap ke luar jendela. Bangunan, pepohonan, manusia; semua jadi satu menjadi gambar buram yang tersiram cahaya matahari pagi lewat dalam sekejap saat mobil yang membawanya bergerak maju—begitu juga pikirannya.

"Gelap."

"Lalu?"

"Berkabut." Hermione menguap lebar dengan kantung mata yang menggelantung kronis. Ia melepaskan ikatan sabuk pengamannya, lalu kembali bersandar lelah ketika mobil mereka berhenti lima meter setelah gerbang masuk.

Blaise merutuk sinis. Jalan mereka terblokir oleh Mercedes hitam yang parkir serabutan di parkir timur Hogwarts High School.

"Turun duluan, Hermione."

Hermione menatap Blaise penuh pertimbangan, sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan. Menyisir rambut kusutnya sebentar dengan jemari, gadis itu keluar menggendong tasnya.

"Hati-hati ya," pesan Blaise saat Hermione memijakkan kakinya di atas konblok, "kupikir apa yang dibicarakan Mrs. Granger benar."

Tatapan murka diiringi bantingan pintu mobil yang keras berdebam merasuki telinga Blaise.

.

.

.

.

.

.

Bola matanya memandang lurus pada lobi sekolah yang lengang. Dekritnya untuk berangkat lebih pagi membuahkan hasil. Sambil melintasi Lorong Neraka yang juga tergolong senyap, ia melirik sekilas, menangkap bayangan gadis berambut merah tembaga celingukan konyol sambil menggenggam kertas malang yang setengah hancur—mungkin pemiliknya frustrasi.

'Anak' baru.

Ransel New Age Traveler keluaran Louis Vitton berhias rumbai-rumbai indian di sekujur ruas, Socal Air Supreme Max warna putih keluaran Nike, mantel merah gelap eksklusif yang sanggup menghangatkan tiga orang sekaligus, dan tampang ningrat.

Satu lagi, tidak bisa memarkir kendaraan dengan benar.

Hermione jelas tak mau ambil pusing. Toh, sebelum menyapa gadis itu mungkin ia sudah mendapat ludah gratis duluan. Jadi, jiwa menolongnya juga cukup eksklusif.

Berlalu mengabaikan si gadis gemerlap, Hermione bergerak menuju destinasi utamanya.

Aa.

Kegiatan cium-desah-cium yang dilakukan sepasang lovebird di samping lokernya membuat bola mata cokelat itu berotasi kilat.

"U—emh, Cedric."

"Hm, deeper, 'Arry."

Derik loker yang terbuka tiba-tiba membuat keduanya melepaskan pagutan paling panas sedunia, kemudian beringsut pergi sembari menyemprotkan sumpah-serapah pada Hermione.

Belum ada satu menit membenahi kembali loker yang tak ubahnya bangkai kapal Titanic, sebuah ketukan dari balik pintu besi itu berdengung di telinga Hermione.

"Halo."

Gerakan dramatis menutup loker menampilkan raut wajah putus asa si gadis tadi. Surai merah tembaga yang terjuntai panjang menyentuh siku. Menyilaukan.

.

.

.

"Ya?" jawab Hermione pendek. Entah mengapa, pingsannya semalam memberikan efek dahsyat. Tubuhnya serasa lebih berenergi, dan persendian mulut juga serasa lebih fasih dalam bercakap.

Anak baru itu tersenyum kecut, terlihat tidak nyaman dengan respon Hermione. Tapi ia tetap maju, mungkin tidak ada opsi lain. "Ginevra Molly Weasley," ujarnya, menyodorkan tangan.

"Hermione Patricia Granger."

"Ginny."

"Hermione."

Dengan pesona ekstra bling-bling dan celotehan tanpa henti melebihi pidato si kepala sekolah panjang umur Dumbledore, Ginny Weasley berhasil membuat Hermione menjadi 'pendengar' yang baik—atau terpaksa?

Terkadang pendapat Ginny tentang fashion membuat Hermione pusing. Rok pendek sedang tren, tapi rok mini sudah ketinggalan jaman; putih adalah hitam yang baru, tapi hitam tetap bergaya; celana jeans berpinggang rendah itu norak, kecuali kau punya tato seksi di bokong.

Hermione cukup manggut-manggut sok mengerti saja. Ia bersikap sedatar mungkin terhadap teman perempuan keduanya di sekolah ini. Terima kasih banyak untuk Astori Greengrass, chairmate pertama tingkat satunya, yang sekarang meninggalkannya demi bergabung dalam komunitas geng beken Vivax yang berisi gadis-gadis berkualitas di setiap inchi tubuh.

Seharusnya Ginny berteman dengan mereka. Hermione membuang napas kasar, The Next Astoria Greengrass is here? With her?

Tampaknya, meskipun Hermione jarang merespon kicauan membabi-buta yang meluncur dari bibir merona Ginny, gadis dengan hutan bintik di hidung itu tetap antusias. Melekat kemana-mana pada Hermione seperti lem kayu di bangku reyot Filch si penjaga sekolah bangkotan yang keji.

Setelah mengarungi dua kelas bersamaan—karena kebetulan sekali keduanya memiliki jadwal yang kembar, Hermione tak bisa memungkiri bahwa gadis beralis seperti boneka barbie itu sedikit menyenangkan. Ya, menyenangkan. Setidaknya sebelum Ginny mengetahui riwayat gosip tentang dirinya.

"Ayo, aku ingin melongok kafetarianya," rengek Ginny saat kelas bahasa berakhir.

Memasuki dua kelas pagi ini tanpa bertemu 'mereka-mereka' saja merupakan kemajuan yang sangat bagus. Tapi ke kafetaria?

"Pleaseee," pintanya sambil mengatupkan kedua tangan di depan dada.

Sebuah senyuman terpaksa mengiringi trip keduanya menuju ke sana.

.


.

"Bisakah kau diam, Draco Malfoy? Kau bukan anak ayam, nalar anak tingkat dua jika sedang terserang pusing yang menyakitkan pasti akan DUDUK," seru Theodore sarkas. Dilihat dari mimik seriusnya, Draco yakin sahabatnya itu memang tidak main-main.

.

.

Tapi ... kenapa?

.

.

"Sorry," balas lelaki pirang platina itu singkat, dingin. Kembali membanting badannya di atas meja. Menelungkupkan wajah tirus letih dan memejamkan matanya yang panas.

Aah!

Seseorang seperti mem-blender isi kepalanya.

"Theo, Daphne sepertinya butuh bantuanmu di koridor utara." Adrian Pucey mengintip dari balik pintu kelas, membuat gestur ketakutan dengan tangan kidalnya, sebelum menghilang begitu saja ditelan kerumunan murid-murid yang berlalu lalang di koridor.

"Gadis sialan itu lagi, eh?" gumam lelaki brunette itu dengan roman sinis, cukup keras sampai ke telinga Draco. Theo beranjak pergi sambil membawa tas besarnya penuh emosi seperti menggendong amunisi.

Draco terhenyak, berkedip beberapa kali dalam kegelapan.

Hermione, Granger.

Ah, ya, gadis itu.

Ritme jantungnya naik drastis.

Vincent Crabbe mengernyit ganjil ketika Draco mendadak berdiri tegak seraya memakai jaket baseball parasut hitamnya tergesa keluar kelas.

"Kau mau kemana, Drake?"

.


.

"Aneh, apa dia memang tidak waras, Hermione?" kekeh Ginny, menggigiti bibir bawahnya, "kau tidak melakukan apapun, tapi histeria si pirang itu sampai sebegitunya."

Hermione membeku, memutus segera pandangannya pada sosok Daphne yang menjauh di belokan tangga. Ekor matanya melirik Ginny yang masih menyetel tampang penasaran.

Yah, sebelumnya firasat Hermione sudah ribut akan 'bertemunya' dia dengan Ketua Klub Renang Perempuan tersebut.

.

.

Yah, Ginny. Sebenarnya siapa yang nanti akan kau sebut 'gila'?

.

.

"Jadi ke toilet?" tanya Ginny membuyarkan kelamun Hermione.

Hermione mengerjap. "Uh-oh, jadi. Menunggu di sini?"

"Tentu, di lorong ini cukup ramai" katanya santai, "boleh pinjam iPod-mu? Kalau kau lama."

Sebenarnya Hermione ingin menolak, tapi demi kesan pertama 'teman' barunya itu, ia merogoh saku celana.

"Tentu tidak akan lama, ini." Hermione menyerahkan benda tipis warna putih itu dan berbalik mendorong pintu toilet.

Uh.

Deburan sisa akibat tombol flush menjadi satu-satunya melodi yang membuncah dalam kebisuan toilet. Lunglai, Hermione menyandarkan perutnya di dinginnya wastafel.

Berulang kali mengusap keras-keras wajahnya dengan kucuran air yang tak kalah dingin. Segelintir air ikut meluncur di sekitar bingkai wajah.

.

.

Inikah takdirnya?

.

.

Tidak berpeluang untuk memiliki teman.

.

.

Selalu tercelik alpa di mata orang-orang.

.

.

Matanya vertikal menatap dua manik cokelat kekuningan yang balik menatapnya dari dunia cermin. Yang menarik cuma lapisan minyak tipis yang membuat bibir kusamnya berubah mengkilap—terima kasih untuk lip gloss Ginny.

.

Aku sama sekali tidak cantik.

.

Tarikan napas.

Tertahan.

Sesuatu memaksa permata brownies gadis itu untuk fokus ke bawah. Mengucek-ngucek mata kesekian kalinya, tidak percaya, anomali kucuran air keran ...

Hermione menutup kerannya. Membukanya.

Menutup.

Membuka.

Tutup, buka. Tutup, buka.

.

.

.

Tutup.

.

.

.

Buka.

.

.

.

.

.

Simbol itu tetap ada.

Dimana seharusnya gravitasi memengaruhi air untuk jatuh ke bawah, tapi ini berbeda, rongga-rongga udara menahan deras air yang menghujam. Membentuk sebuah simbol.

Salib dengan bulatan seperti kepala kunci diatasnya.

Ceklek.

"Hmm, hmm." Hermione menggumam asal ketika seseorang memasuki toilet. Berpura-pura menyibukkan diri menginterogasi jerawat-jerawat yang sebenarnya tidak pernah ada di wajah mulusnya—penghematan biaya facial.

Eh? Simbolnya lenyap?

Pantulan mencibir khas Parvati Patil dengan kibasan kepang satu rambutnya terpampang jelas di cermin.

Brak.

Bantingan pintu disambung helaan napas lega.

Ting.

Sang simbol mencuat lagi. Kali ini kucuran air perlahan meleburkan bentuk awalnya, berubah menjadi pusaran air normal.

Berkabut?

Pusaran air abu-abu mirip asap itu melebar. Menyesaki tiap sisi wastafel. Semakin lama semakin menghitam. Hermione mundur selangkah. Ketakutan menyergap jiwanya.

Indera penglihatannya tidak mungkin menipu.

Larutan itu ...

Mirip ...

.

.

.

Blackhole

.

.

.

Pusarannya kembali menyurut tepat ketika bunyi gerakan menarik slot kunci pintu berdecit di balik punggung Hermione, menyisakan sebuah belati berlapis emas mengkilau yang berdenting berisik di cekungan permukaan wastafel. Buru-buru Hermione memungut belati itu, menyelipakannya di saku celana.

"Hermionee? Kau masih lama?"

Hermione mengerling sebentar ke arah pintu. "Sedikit lagi!"

Brak.

"Mengatur rencana bunuh diri, Granger?" Suara bengis Parvati menoreh gendang telinga Hermione. Gadis berdarah India itu mencuci tangannya santai hingga berbusa banyak sekali.

"Tidak, Patil," balas Hermione, hidungnya membersit.

Bibir Parvati mengerucut seperti nenek sihir, sementara alisnya saling bertautan, kini dirinya mirip seperti koala pemalas yang terbakar amarah. "Kau salah dalam melafalkan margaku. Seharusnya rapatkan bibir pucatmu itu dengan gigi yang menjepit lidah, lalu 'Pate-el'. Kira-kira seperti itu," komentarnya kesal. Setelah membusungkan dadanya dan menarik ujung blus kromatiknya yang rupawan, gadis itu berlalu melewati Hermione penuh kepercayaan diri. Suara pintu tertutup kembali menandakan hanya tinggal Hermione seorang diri yang masih mematung di depan cermin.

Betah sekali.

Hermione menaikkan sebelah alisnya, "Pate-el," gumamnya memiringkan kepala.

"Pate-el."

"Pate-el."

"Pate-el."

Apa yang salah?

Artikulasinya bahkan lebih lancar daripada si cadel mengenaskan Pansy Parkinson.

...

...

...

...

...

...

Pansy?

...

...

...

...

Barusan ada Parvati Patil. Secara harfiah, postulat, teori dan teknis, Parvati tidak pernah terpisah jauh dengan personel Vivax lainnya.

Dan—

...

...

...

...

...

Dan?

Hazelnya membulat.

Oh, my God.

Langkah kaki jenjang menyeruak secepat kilat keluar pintu utama toilet.

"Ginny!" jeritnya. Tubuhnya berputar ke segala arah, mencari-cari pucuk surai merah tembaga yang seharusnya sangat mudah dicari. Keringat dingin membanjiri tengkuknya, sementara matanya membeliak awas mencermati tiap-tiap orang yang melintas di koridor utara tersebut. Hermione sama sekali tidak tahu apa penyebab populasi rambut hitam di sekolahnya ini meningkat tajam.

Nihil.

Ginny, Ginny ... Ginny ...

Oke, pikirkan langkah-langkah khusus dalam keadaan genting.

Pikir.

Buntu!

Memutuskan untuk memutar tumitnya kembali ke arah kelas, Hermione memekik keras saat ia menubruk sesuatu yang keras—tapi agak lembek—tapi tidak keras-keras amat, mirip springbed.

"Who-whoa-whoa, Hermione, hati-hati," tukas suara familiar itu, "mau ke mana? Kalau tidak ke mana-mana, ayo ikut aku ke taman."

"Ke—ke taman?" Hermione mati-matian menyembunyikan wajah tomatnya, terpana akan kharismatik lelaki pirang berjaket baseball warna hitam itu secara tiba-tiba. Pancaran hangat yang keluar dari bola mata kelabu safi meredam degup jantungnya yang abnormal.

Mengaburkan tujuan awalnya.

"Ya, aku ingin berbagi suatu makanan," timpalnya renyah. Mengayunkan kantung plastik hijau transparan berisi kotak stainless-steel, "sekaligus bicara-bicara."

"Ah, ya, tapi aku harus—"

"Ayo, waktu istirahat tidak lama, habis ini kau ada kelas sejarah, 'kan."

"Bagaimanakaubisa—"

Setelah komat-kamit mirip ikan nyaris tidak ada kesempatan untuk berbicara, Hermione menelan kata-katanya kembali di tenggorokan.

Entah memang terasa seperti dikendalikan, atau merupakan efek flu atau demam lainnya, ia melangkah mengekori-nya.

Berlari-lari kecil menyamakan langkah ekstra panjang Draco yang sudah berlalu duluan.

Persetan dengan kaki-kakinya yang mungil!

"Hey, tunggu," rutuk Hermione samar di antara kerumunan pundak-pundak yang berlalu lalang.

Draco berhenti tiba-tiba sekali, menubruk Dean Thomas yang melintas dari lab kimia, sambil berkata, "Maaf. Aku menunggumu, kok."

Gadis itu tercengang. Demi Tuhan, tadi ia hanya berbisik kecil, lebih tepatnya berbicara dengan diri sendiri. Sudah jelas suara kecilnya itu pasti tertelan gelombang massa yang membludak di koridor. Apalagi jaraknya dengan Draco terpaut lumayan jauh, lima langkah kira-kira.

Hei ... itu mustahil.

.

Draco mendengarnya?

.

"Kemari," ucap Draco menyambar tangan Hermione, menariknya dan berbelok di pertigaan pojok. Hembusan angin musim gugur yang muncul dari jendela-jendela ramping menelisik wajah keduanya. Membuat Hermione bergidik sendiri sambil merapatkan mantel putih gadingnya.

Lelaki itu mempererat gandengannya, memberikan sensasi hangat yang menyeruduk tanpa ampun di sekujur tubuh si gadis. Aa, nyaman. Iseng, Hermione ikut merapatkan tangannya dengan tangan pucat tersebut.

Wo—oww ...

Ini asyik, mengasyikkan sekali.

Rasanya seperti terbangun di hamparan luas pasir pantai saat musim panas. Berbikini. Diiringi alunan ombak yang berdesir. Masuk melewati telinga. Turun, turun, turun ... ke hati.

Aa, lebih tepatnya wake up in Miami.

Lalu terbangun lagi di sebuah klub di Las Vegas, seiring berloncatannya jantungnya ke sana kemari. Terus terpompa seperti habis marathon ribuan kilometer. Antar benua kalau sanggup.

Yeah ...

Ia menggerutu marah saat sekelebat omongan Patricia tiba-tiba berdesing di otaknya. Menghancurkan untaian angannya barusan.

Lu-pa-kan.

"Hati-hati, daun," kata Draco ketika sebuah tangga pualam terbentang lebar di hadapan. Daun-daun kering terseok-seok gelisah di setiap anak tangga. Menunggu siulan sang angin yang terkadang ada—dan tidak.

Grep.

Benda itu bergerak-gerak dalam saku celana Hermione, ke atas dan ke bawah, saat mereka menuruni tangga satu persatu.

Uh!

"Sampai." Draco membuang napas lega, duduk. Kemudian menatap innocent pegangan tangannya dengan Hermione yang masih menyatu. Sontak gadis itu langsung melepaskannya. Hermione meringis saat belatinya berhenti bergerak pasca putusnya pegangan mereka.

"Oh—"

"Kau, ada apa?" tanya Draco tiba-tiba.

Hermione menggeleng bersama senyum samarnya. Tangan kanannya menyingkirkan tanaman sulur yang terjatuh gantung di punggung, lalu yang kiri meremas hebat saku kiri celana yang tampaknya habis berdenyut.

"Sakit perut?" Kali ini Draco bertanya serius, alisnya menyatu khawatir.

"Hmm, nope, Draco," cengir Hermione kaku.

Menaikkan alis mata, tangan Draco mulai membuka tutup kotak stainless-steel yang terisolasi erat.

Meskipun saat ini klimaks angin musim gugur terkacau, siswa-siswa laki-laki yang mendeklarasikan dirinya memiliki enam kubus saling dempet di perut, dan tentu saja imun yang tidak encer menjunjung tinggi jadwal latihan super ketat klub sekolah baseball, Hypogriff United. Dan walaupun jarak bangku batu di samping tangga pualam ini dengan lapangan cukup jauh, Hermione bisa mendengar cakap-cakap apa saja yang berlangsung di tengah lapangan.

Harry James Potter misalnya, Ketua Angkatan termaskulin namun juga ter-gay. Lelaki berkacamata bulat itu kelihatan bersungut-sungut pada si malang Seamus yang cuma bisa menunduk. Sepertinya kesalahan kecil terjadi.

"Ambil?" tawar Draco. Hermione mengalihkan pandangannya ke susunan buah-buahan memikat itu. Pilihannya jatuh pada potongan dadu apel hijau.

"Selera yang kembar."

Hermione terkekeh dalam kunyahan apelnya. "Aku selalu suka apel. Hijau terutama."

Rahang Draco berhenti mengunyah, matanya memicing. "Bagaimana kalau aku," seringainya melebar, "menaruh ..."

"Ya?"

"Racun dalam apelmu!"

.

.

.

Hermione sempat terkejut canggung. Namun senyum penuh konspirasinya kembali mendominasi, "Puteri Salju kalau begitu ..."

"Apa ... kau mengizinkan pangeran untuk menciummu?"

"Hm, siapa pangerannya?"

Pemuda pirang itu sudah siap dengan seringainya. Tapi kecurigaan Hermione timbul saat Draco mendadak membatu. Air mukanya berubah mendadak. Pandangannya ke arah lapangan semakin tajam, dan tajam. Hermione mengernyit. Sebelum ia ikut menelengkan kepalanya—

Bayang-bayang kegelapan duluan merengkuhnya dalam kehangatan. Melindunginya dari suara gemerisik aneh yang terasa melesat di atas kepala mereka. Menjalar menembus kukungan mantel, seolah-olah jaket tebal itu berubah setipis kain katun. Hazelnya berkeliaran awas.

Gelap.

Berkali-kali Hermione mengerjap.

Merasa seperti kepingan puzzle, sekali lagi, Hermione merasa 'utuh'. Setengah tidak percaya, karena menurutnya—

.

—semua kegelapan adalah hal yang sama. Semua sama.

Hal yang dingin.

Dimana ...?

Cahaya luar melipir perlahan lewat sebuah celah. Hal pertama yang masuk ke retina matanya adalah: resleting hitam.

Jadi, ...

.

.

"Draco, kau membakar bolanya!"

.

.

"Bakar?" cicit Hermione masih dalam 'kegelapan' yang menentramkan. Dua detik. Dimensi kegelapan itu sontak berguncang.

Draco langsung melonggarkan dekapannya. Saat itu juga Hermione meraup oksigen sebanyak yang ia bisa, terengah-engah.

Hermione mendongak. Draco terlibat adu mulut dengan para pemain baseball.

Satu lawan banyak.

"Sangat jelas sekali aku menghindari hantaman bola, mana ada waktu untuk menyulutnya dengan pemantik?"

"Tapi tidak mungkin—"

"Tidak mungkin paham dengan gesekan rumput, guys?"

Zacharias Smith melempar pandangannya ke samping, membuat poninya ikut berguncang dari kejauhan. "Kami tidak bodoh, mate. Entah apa yang kau lakukan—sekarang, mengaku atau tidak?"

"Tinggal mengganti bolanya dan kita akan bermain lagi—dan ayo, ikut timku—" timpal Harry.

Draco berdecak jengkel, "Tapi aku tidak membakarnya, friends."

"Bolanya terbakar tepat saat melintasi kepalamu, maan!" Koor cowok-cowok baseball serempak.

"Tahu apa kalian tentang kecepatan—" Draco mendengus kasar menangkap tatapan tidak percaya milik Cedric Diggory dan permainan bibir-monyong-idiot Anthony Goldstein, "baiklah! Kuganti tapi aku tetap bukan tersangka."

"Yaa, sebenarnya kau tidak perlu mengganti tapi ..." Semuanya menampilkan senyum mengembang terbaik masing-masing. Senyum maut penuh muslihat yang biasa Draco dan kawan-kawan baseball-nya itu ramu di waktu yang tepat. Mengingatkan akan senyum sang anonymous yang berparas "senyum mengejek" dan "kumis tak biasa".

Bola itu memang hangus. Tergeletak di bawah naungan semak berduri. Tepiannya mengelupas jelek sekali. Bahkan bekas abu Mustahil jika hanya karena gesekan. Hermione mengernyit, apa anak-anak itu benar soal 'terbakar saat melintasi kepala pirang Draco'?

Kegerahan, Hermione meraih rambutnya dan mulai menguncirnya kencang-kencang. Alisnya naik sebelah saat ia menunduk ke bawah, ada sesuatu yang menarik.

.

Kaus kaki pendeknya berbeda warna?

.

Hitam di kiri, merah tua di kanan

.

Draco Malfoy memang sengaja, atau ... tidak?

Warnanya sama sekali tidak kontras, sama sekali tidak pas.

Terlalu banyak berhipotesis membuat gadis berambut cokelat kusut yang kontras dengan warna kulit pucatnya ketinggalan banyak percakapan.

Sejak tadi ia cuma mendapati Terence Higgs dari ekor matanya yang sedang berbisik khusyuk pada Ernie Macmillan. Lalu cowok pirang penggemar berat hotdog itu ganti berbisik pada Roger Davies di sebelahnya.

Roger Davies pada Owen Caldwell.

Tawa tertahan.

Owen berakhir pada Anthony Goldstein.

"Yeah, gadis itu, matee! Bayaran gratis untuk sebuah bola gosong."

"Daging lembut berbanding bola bisbol."

"Lil Draco get her!"

"We also can get that p~"

"Rock me, baby!"

"Hahahaha."

Ke-delapan-an regu bisbol setengah imbesil itu kompak melakukan dirty dancing yang memuakkan. Masih di tengah lapangan. Pekikan terpukau gadis-gadis yang melintas di koridor benar-benar memekakkan telinga.

Menjijikkan!

Katakanlah pengorbanan si gadis kenes Romilda Vane yang sampai bergelinding absurd sepanjang tangga.

"Hei, hei, hei, wait!"

"Apa, Anthony?"

"Hati-hati dengan pisaunya!"

"Uuu, taruh itu di nomor sekian, Thony."

Hermione menggeram kecil dihadiahi siulan-siulan vulgar yang mengiris telinga. Sialan. Ia menengadahkan kepalanya ke arah langit. Menahan gejolak tanggul air di pelupuk matanya. Cengkeramannya pada pinggi kursi batu semakin kokoh. Gejolak dalam tubuhnya kembali meradang, dan ia harus tenang kembali atau getaran konyol itu pasti akan muncul lagi.

Sulit.

"No, no, no, guys," decak Draco impulsif, mengangkat tangan di udara seperti perampok ditodong polisi, "dia benar-benar temanku, bukan bahan apapun. Berhentilah!"

"Ya, 'kan Hermione?"

"Hermione?"

.

.

.

.

.

Bel di koridor barat berdentang empat kali.

Draco meraba bekas tempat duduk Hermione yang menyisakan butiran pasir merah muda bercampur kristal biru koral.

"Uh, maaf, Hermione."

"Hei, kalian—" Draco menganga heran, "kenapa?"

Delapan orang itu menggaruki sekujur tubuhnya yang penuh ruam gatal bercorak merah kebiruan.

.

.

"ARRGHHHH!"

.

.

.

.

-oOo-

.

.

.

Saat memasuki kelas Sejarah, Hermione berpikir pasti dirinya terlihat seperti hantu yang menunggangi kuda ringkih; pucat dan lemas, dengan lengan dan kaki gemetar. Tentunya cukup aneh untuk membuat orang-orang curiga. Namun, meskipun orang-orang meliriknya saat pertama kali Hermione melangkahkan kaki, tidak ada yang melirik lagi untuk kedua kalinya.

Biasa.

Di sana tersisa dua bangku di barisan tengah, lumayan. Menghempaskan pantatnya cukup keras, Hermione mulai mengeluarkan diktat-dikat tebal Sejarahnya ogah-ogahan. Ditaruhnya sebagian diktat itu di kursi sebelah yang kosong.

.

.

Ginevra Molly Weasley!

Membolos!

.

.

Gelar Ginevra The Vivax melayang-layang menyebalkan di kepala Hermione.

Yah ... terserahlah.

...

...

...

...

...

...

Sayup-sayup ocehan Mr. Greenwood berupaya mencuri celah pintas menuju telinganya.

Ia.

Tidak.

Peduli.

Apapun.

Sekarang.

Maupun pada Susan Bones di barisan depan yang giat melontarkan pertanyaan-pertanyaan untuk cari muka pada guru muda yang masih bujang itu.

...

...

...

...

...

"Dan, salah satu sukunya dicurigakan diculik oleh orang-orang Mesir. Salah satunya penyihir kuno dari suatu wilayah bernama Isidros."

.

"Isidros itu dimana, Mr. Greenwood?"

.

"Aha, Miss Bones. Catat itu sebagai tugasku, nomor satu."

.

.

"Lalu, simbol salib mirip gantungan kunci ini ... ada yang tahu?"

.

"Oke, itu juga tugas. Nomor dua."

.

.

.

.

"Pengikutnya berbondong-bondong pergi ke tempat Penyatuan. Lalu disebutkan dalam V Theory, atau biasa dipanggil lingkaran V, berpencar ke seluruh dunia—sendiri-sendiri. Sampai—"

.

"Apa itu lingkaran V?"

.

.

"Itu ..."

.

.

Daun kelor itu muncul menunggang angin melewati kaca nako yang setengah terbuka. Mendarat sempurna di hidung mancung berbintik Hermione. Gadis itu menyingkap tangannya yang sejak tadi menyangga dagu, hingga kepalanya berguncang untuk meruntuhkan si daun kecil.

Matanya menangkap benda asing yang mencuat. Helaian pirang pucat. Satu jengkal di samping sikunya saat sedang asyik mengeksplorasi daun kelor yang melayang ke kolong bangku.

"Whoa!" Hermione nyaris terlonjak kaget. Pirang nyaris putih. Mirip Draco ... tapi benar-benar panjang. Bergelombang pula. Anting wortelnya yang menyembul diantara rambut menggelantung menggiurkan—berkilat-kilat seperti wortel asli. Ia memakai mantel rainbow berlapis-lapis tebalnya. Selera yang ... maksudnya—tidak biasa.

"Halo," sapanya santai.

Mengatupkan kembali rahangnya, tersenyum skeptis, Hermione menjawab, "Halo ..."

"Luna Lovegood."

"Herm—"

"Hermione Granger," sela Luna, "that's it."

Hermione menghela napasnya berat. Kembali mengayunkan kepalanya ke pusat konsentrasi kelas.

"Bukan dari kabar-kabar yang tersebar." Luna berbisik intens. Nyaris seperti bermonolog sendiri. Intonasi suaranya bahkan terkesan aneh. Membuai.

Bola mata Hermione bergulir ke samping, terkunci satu titik di ekor mata. Tanpa menoleh, ia berkata, "Darimana? Kupikir kau lebih memilih duduk dengan Robin di sana ketimbang denganku."

Luna mengangkat kedua alisnya. "Aku tidak suka dinilai sama dengan yang lain," ucapnya agak kesal, "bahkan aku tetap biasa saja kalau kau benar-benar seperti itu rupanya. Aku juga suka darah."

"Kau tahu," Hermione tetap tidak menoleh, "lusinan 'teman baru'-ku selalu berakhir kacau. Dengan apa aku bisa percaya kau?"

"Seiring berjalannya jarum jam itu," ujar Luna datar, mengedikkan dagu ke dinding.

"Hm?" Hermione bergumam, "kalau begitu kucoba sikap yang berbeda."

Luna tidak menanggapinya, tangannya sibuk mengusir debu di kursinya. "Lain kali jangan memonopoli bangku kosong di setiap harimu."

"Itu asyik."

"Asyik, atau kesepian?"

"Kau—"

"Mencoba bersikap berbeda?"

"Baik," sahut Hermione dongkol.

"..."

Hermione mulai mencari-cari sesuatu yang lebih 'menarik' lagi dari Lovegood-Lovegood itu. Hazelnya memandang jeli ke bawah.

.

.

.

.

.

Aa,

Kaus kakinya!

.

.

.

"Apa kau buta warna?"

.

.

"Tutur katamu mungkin terlalu lancang dan prematur bagiku."

.

.

"Mencoba bersikap, berbeda."

.

.

"Terlalu banyak dosa? Iris pusar. Lenganmu penuh sekali."

.

.

"Terserah."

.

.

"Skakmat."

.

.

"Ya, berkicaulah. Citramu lebih mengagumkan daripada Hubble Space Telescope."

.

.

"Kau mengikuti perkembanganya juga ... Kau bisa tanya Draco. Draco tahu banyak tentang itu. Dan kelihatannya kau juga tahu banyak tentang sepupu manisku itu—"

.

.

.

.

.

.

.

.

.


.

.

.

.

.

.

The End of Chapter 2


NOTES


Ceritanya membingungkan?


Sebenarnya, tidak ada niatan untuk membingungkan. Karena berpegang teguh pada genre utamanya, Mystery. Masalah diperbagus atau jelasnya... diserahkan kepada pembaca. Anda sangat dibolehkan untuk menebak-nebak apa-sih-sebenarnya-dia-apa-atau-ini-siapa? yang bisa mendatangkan banyak ide untuk saya.

.


Bagaimana karakter sebenarnya Hermione Granger?


Jika dibaca ulang, mungkin yang tersampaikan adalah: gadis yang krisis percaya diri di depan publik. Namun bisa saja menjadi lain di tempat yang berbeda. Selebihnya, mungkin, yaa ... gitu. Hehe!

.


Hermione itu apa?


Penyihir? Vampire? Iblis? Ada saran lagi? Ciri-cirinya mungkin umum sekali. Tapi saya tidak berani menjawab ini. Terlalu takut. Tapi, bisakah saya berandai-andai kalau itu ciri umum itu hanya kedok?

.

.

Dan cuplikan beberapa pelajaran tadi tidak hanya cuplikan. Bisa dijadikan clue, saya rasa. Tapi kenapa tetap ada penyihirnya ya padahal ...


Terakhir, salam kenal balik untuk kalian semua! Untuk follow, fav, terutama review.

Bersulang!

.

.

.

###

[Leave your review below]