A/N: Posisi tokoh utama Noor adalah Player Character. Dia milik Author Wattpad: DazzledTeen2001.
.
.
.
CRIMINAL CASE
BAYANG-BAYANG SOMBRA
Oleh: Murasaki Dokugi.
.
.
.
Criminal Case milik Pretty Simple
.
.
.
Bagian 2: Señorita
Ingrid Bjorn mendesah panjang. Dia baru saja membereskan berkas-berkas Biro sebelum pergi meninggalkan ruang Kantor. Digenggamnya liontin berbentuk matahari yang menggantung di bawah lehernya sembari memejamkan mata sejenak. Setelah sukses menenangkan diri, ia lalu beranjak keluar menuju lorong.
Dia berencana hendak pergi tamasya ke Machu Picchu untuk dua hari ke depan. Ramon baru saja menghubunginya untuk membicarakan hal tersebut. Tentu saja ia langsung setuju, karena bagaimana pun juga dia perlu liburan setelah berurusan dengan SOMBRA dua tahun belakangan ini. Ingrid tersenyum kecil. Mantan suaminya itu memang tahu apa yang dia butuhkan.
Dan mungkin ini akan membuat mereka kembali bersama layaknya dulu.
Ingrid tertawa pelan. "Ini untuk Eduardo," ujarnya terharu. "Ibu dan Ayah akan selalu mengingatmu, nak. Kau akan selalu bersama kami di hati-hati kami."
Terkadang Ingrid penasaran tentang cara merawat anak. Gugurnya Eduardo saat dilahirkan mencegah Ingrid dan Ramon merasakan apa yang disebut Parenting. Dia mungkin sudah melihat bagaimana hubungan Lars dan Angela bersama tiga putri kembar mereka ataupun hubungan Carmen dan putra angkatnya, Sanjay. Tapi tetap saja Ingrid masih merasa asing dengan hal itu.
Digelengkannya kepala kuat-kuat. Untuk saat ini ia tidak ingin memikirkan hal itu. Kematian Eduardo sudah cukup membuat hubungannya dengan Ramon merenggang. Terlebih lagi, yang paling mereka perlukan saat ini adalah kembali baiknya hubungan mereka berdua.
Dia berbelok menuju ruang resepsi Biro. Begitu ia tiba disana, serta merta kedua matanya menangkap dua sosok yang bergumul di dekat pintu masuk.
"Oh, ayolah. Aku tahu kau baik, jadi biarkan aku meminjam DigiCool buatanmu ini selama tiga hari. Boleh, ya? Boleh, ya?
"Dengar, Sanjay. Aku tidak mau berurusan denganmu. Tapi aku juga tidak mau kau mengangguku seperti ini. Kembalikan DigiCool-ku sekarang juga!"
"Tidak mau! Elliot jelek, weekkk!"
"Kau akan membayar semua ini, Bocah!"
Kedua anak laki-laki itu terlihat sedang memperebutkan perangkat DigiCool milik Elliot. Sebenarnya salah Elliot juga karena tidak mengunci Tasnya rapat-rapat. Dan karena kebiasaan 'mencopet' Sanjay belum hilang-hilang juga, maka sudah pasti si peretas muda sedang menghadapi masalah besar.
Ingrid memegang pelipisnya melihat tingkah mereka. Sembari menyiapkan mentalnya, ia lalu mendekati kedua anak itu, berniat melerai.
"Ada apa ribut-ribut disini?" tanyanya. "Elliot, kau sudah tahu bagaimana tabiat Sanjay, jadi seharusnya kau menjaga barang-barangmu sebaik mungkin. Dan Sanjay, kuharap kau mau memperbaiki kebiasaan mencopetmu. Aku tahu kau pasti tidak ingin aku mengatakan ini, tapi kau bukan lagi bawahannya SOMBRA. Kau putra Carmen sekarang, jadi kuharap kau mau memperbaiki sikap dan kebiasaan burukmu. Mengerti?"
Keduanya mengangguk perlahan. "Mengerti, Ingrid," jawab Sanjay pelan sekali, seakan-akan baru saja kepergok mencuri Biskuit. Elliot tidak berkata apa-apa. Tapi jelas terlihat dari raut wajahnya kalau dia pun malu setengah mati. Sudah pasti kedua anak itu tidak ingin macam-macam di depan Ingrid, mengingat tingkah dinginnya selama bertugas di Biro. Dengan segera Elliot merampas DigiCool miliknya dari tangan Sanjay, memasukkannya ke dalam Tas ranselnya dan mengunci resleting ranselnya rapat-rapat. Di pihak lain, Sanjay tahu-tahu berlari ke lorong dimana ruangan Carmen berada sambil berteriak dengan suara melengking.
"Awas saja kau, Elliot! Akan kuberitahu pada Ibu! Humph!"
Detik berikutnya ia menghilang di tikungan lorong itu, dibarengi dengan tatapan bingung dari Ingrid dan Elliot.
"Anak itu... Dia belum sepenuhnya berubah," tukas Ingrid sambil geleng-geleng kepala. "Bagaimana DigiCool-mu? Tidak ada yang rusak, kan?"
Elliot menggeleng kecil. "Tidak ada. Terima kasih, Ingrid," balasnya datar lalu menenteng ransel jumbonya dengan satu tangan dan koper di tangan yang lain. "Aku pulang dulu."
"Hati-hati di jalan, Elliot. Dan salam ke Ayah dan Ibumu."
Elliot balas mengangguk tanpa menoleh. Sembari memperhatikan pemuda berusia 17 tahun itu keluar dari gedung markas Biro, Ingrid mengernyit. Sekonyong-konyong sesuatu muncul di benaknya, membuatnya berseru pada Elliot yang baru saja hendak memanggil Taksi.
"Elliot, tunggu sebentar."
"Ada apa lagi?" kini Elliot memberinya tatapan kesal. Jelas-jelas dia merasa terganggu dengan panggilan Ingrid, apalagi setelah dia baru saja memanggil Taksi. Wanita itu lalu buru-buru menuruni tangga masuk gedung dan menghampiri pemuda itu.
"Dengar, nak. Mungkin ini akan membuatmu merasa terganggu. Tapi bisakah kau membantuku dengan menghapus jejak-jejak retasanmu selama bekerja di Biro saat kau sudah tiba di rumahmu nanti? Berhubung Biro sudah bubar. Kau tahu, untuk keamanan."
Elliot menatapnya heran. "Kupikir kita sudah menghancurkan SOMBRA. Tidak perlu lagi ada tindakan semacam penghapusan jejak retasan, Ingrid," katanya ketus. "Anda bertingkah seolah-olah SOMBRA bisa bangkit kembali kapan saja."
Ingrid menggeleng. "Tidak ada tapi tapi. Aku MAU kau menghapus jejak retasan kita, suka atau tidak. Ini demi keamananmu dan keamanan kita semua. Memang benar SOMBRA sudah berhasil kita bekuk, tapi bukan berarti kita harus membuat diri kita lengah."
Elliot mendengus. Entah kenapa Ingrid tiba-tiba jadi menyebalkan begini. Lagipula Biro sudah bubar. Seharusnya tidak ada yang perlu dirisaukan lagi.
"Baiklah, baiklah. Akan kulakukan," katanya sambil cemberut. "Tidak kusangka Anda akan membuatku bekerja lagi, Ingrid."
Wanita di depannya menghela nafas. "Ini untuk kebaikan kita semua, Tuan muda. Hubungi aku kalau kau sudah selesai membersihkan jejak-jejak retasan itu. Semoga berhasil."
Tepat setelah dia mengucapkan itu, Taksi yang dipanggil Elliot sudah tiba di depan mereka. Pemuda itu memasukkan Kopernya ke Bagasi, masuk ke dalam Taksi dan menatap Ingrid terakhir kali sebelum akhirnya Taksi itu membawanya pergi dari Gedung Markas Biro, meninggalkan Ingrid sendirian disitu.
Wanita itu menghembuskan nafas panjang untuk kedua kalinya. Semoga saja Elliot ingat dengan tugasnya barusan. Bukannya mau merepotkan anak itu lagi, tapi Ingrid merasa tidak ada salahnya memperkuat keamanan diri mereka semua pasca bubarnya Biro. Dengan terhapusnya jejak retasan mereka, maka pihak yang tidak bertanggungjawab pun takkan bisa macam-macam dengan info Biro selama menjalankan misi menyelamatkan dunia dua tahun belakangan ini. Lagipula toh selain Tuhan tidak ada yang tahu apa bahaya yang mengancam mereka di masa yang akan datang. Bahaya yang mengancam, siapa yang tahu?
Sementara itu, Carmen tampak memasukkan pakaiannya ke dalam koper besar berwarna merah tua. Tepat setelah ia selesai berkemas, tahu-tahu matanya menangkap sosok Sanjay di pintu, bermuram durja.
"Sanjay, sedang apa kau disitu?" tanyanya heran sekaligus senang. "Kuharap kau sudah mengemasi barang-barangmu. Kita akan meninggalkan Biro hari ini. Lihat, Ibu sudah menemukan Boneka Kesavan di bawah meja Archer. Jaga baik-baik boneka itu, jangan hilangkan lagi, oke?"
Melihat Boneka gajahnya membuat wajah muram Sanjay seketika berubah menjadi cerah. Serta merta ia berlari ke arah Carmen, menarik Boneka Kesavan dari tangannya lalu memeluk wanita yang sudah menjadi Ibu angkatnya itu erat.
"Wahh, Kesavan sudah kembali!" pekiknya girang. "Terima kasih, Bu! Kau memang Ibu paling hebat yang pernah ada."
Carmen tertawa kecil sembari mengacak lembut rambut ikal Sanjay yang berwarna hitam. "Ibu senang mendengarnya," katanya ceria sambil mendorong hidung kecil putra angkatnya. "Nah, sekarang bisa kamu ceritakan kenapa wajahmu tampak cemberut tadi, hmm?"
Seketika senyum Sanjay menghilang. Wajah anak itu kembali cemberut. Dia merajuk.
"Huh, Elliot pelit! Aku hanya ingin meminjam DigiCool-nya selama tiga hari, tapi dia bilang tidak boleh! Aku kan penasaran bagaimana kerja alat itu."
Carmen tertawa mendengarnya, merasa geli. "Aduh, Sanjay. Kau tidak perlu kesal seperti itu," katanya dengan wajah memerah karena tertawa. "Kau kan sudah tahu kalau Elliot paling tidak suka diusik barang-barangnya, terutama barang-barang temuannya. Perangkat DigiCool itu penemuannya yang mutakhir, jadi wajar saja kalau dia sangat protektif dengan benda itu."
Sanjay mendengus. "Tapi Ibu, aku KAN hanya ingin pinjam benda itu sebentar saja. Masa sih tidak boleh? Lagipula, mungkin saja dia menyimpan Foto-foto Vanna Alabama disitu. Ibu tahu kan kalau Elliot naksir berat dengan Vanna?"
"Kamu ini," ucap Carmen sambil geleng-geleng kepala. "Jangan suka menguntit orang seperti itu, apalagi kalau kamu bukan menguntit handal. Begini saja deh, kamu tidak suka kan kalau Boneka Kesavan-mu hilang, dicuri atau dipakai tanpa izin?"
"Umm, iya juga sih," tukas Sanjay gugup. "Tapi apa hubungannya dengan Elliot?"
"Sama hal-nya denganmu, sayang. DigiCool itu pasti sangat berharga bagi Elliot, sama persis dengan berharganya Boneka Kesavan bagimu. Lagipula kau tidak pernah meminjamkannya pada orang lain, dan tentu saja Elliot pasti memikirkan hal yang sama tentang DigiCool-nya. Iya, kan?"
"Uhh, iya, Bu. Aku paham sekarang," jawab Sanjay malu-malu. "Aku juga pernah marah pada Hiroshi karena mengambil Boneka Kesavan tanpa izin, jadi aku marah padanya saat itu. Tapi DigiCool itu kan barang baru sementara Boneka Kesavan itu sudah seperti temanku sejak kecil. Benda itu adalah pengingat Kesavan-ku tersayang. Tapi baiklah kalau Elliot tidak mau meminjamkannya padaku. Aku paham kalau dia sayang dengan benda-benda temuannya."
"Itu baru Sanjay-ku yang cerdas," timpal Carmen sembari mengacak-acak rambut Sanjay untuk kedua kalinya. "Nah, bagaimana dengan barang-barangmu? Ibu yakin kamu belum berkemas-kemas. Biar Ibu bantu."
Sanjay menyeringai. "Hehehe, iya Bu. Terima kasih," jawabnya canggung. "Hei, itu Marina dan Jonah! Kelihatannya mereka sudah siap dengan barang-barang mereka."
Carmen menoleh ke arah yang ditunjuk Sanjay. Tampak Marina Romanova dan Jonah Karam disana. membawa Tas dan Koper masing-masing. Keduanya sudah berpakaian rapi. Merasa kaget, cepat-cepat Carmen berseru ke arah mereka berdua.
"Marina! Jonah! Kalian seperti mau pergi pesiar di Hawai saja. Kenapa begitu terburu-buru?"
"Ah, senang melihatmu, Carmen," ujar Jonah sambil cengar-cengir. "Kami memang mau segera pergi ke Bandara. Pesawat menuju Hawai akan segera take-off satu setengah jam lagi. Aku berencana mengajak Marina jalan-jalan kesana. Dia kan belum pernah merasakan jus kelapa Hawai yang enak."
"Jonah!" Marina segera menyikut pacarnya itu keras-keras. "Maafkan sikap anehnya itu, Carmen. Entah kenapa dia jadi aneh begini setelah sembuh dari luka-luka akibat ledakan Bom di markas dua hari yang lalu. Tapi kau benar, kami hendak pesiar di Hawai. Disana pasti ada baju yang bagus-bagus!"
"Berbicara mengenai baju yang bagus, kurasa kau salah tempat," tukas Carmen dengan wajah bosan. "Kalau mau melihat pakaian yang bermodel cantik, pergi saja ke Paris. Aku membeli gaun-gaunku disana. Dan kusarankan padamu pakaian dengan merek Hermès atau Christian Louboutin. Keduanya merek pakaian terkenal di Paris. Aku jamin desain mereka cantik-cantik."
"Ya, ya. Aku tahu, Carmen. Tapi untuk Paris, aku lebih tertarik pada produk parfum," kata Marina sambil memain-mainkan cambang rambutnya. "Malah kupikir merek Givenchy lebih cocok untukku dibandingkan Hermès dan Christian Louboutin."
Kedua wanita itu tahu-tahu sudah asyik membahas merek pakaian, membuat Jonah dan Sanjay yang berada di dekat mereka melongo hebat.
"Aku tidak akan pernah mengerti dengan hubungan antara perempuan dan pakaian," desis Jonah bingung. "Mereka mengerikan."
"Aku bahkan tidak mengerti sama sekali," balas Sanjay dengan wajah kikuk. "Apa sih pentingnya model-model pakaian itu? Fungsinya kan cuma satu: menutupi badan."
"Aku setuju denganmu, nak," bisik Jonah. Diliriknya arlojinya dan tahu-tahu wajahnya berubah menjadi horor. "Oh, tidak! Satu jam lagi kami harus boarding!" dia berpaling ke pacarnya. "Sayang, kupikir sudah waktunya kau mengakhiri pembicaraanmu dengan Carmen mengenai model pakaian ataupun merek apalah itu. Satu jam lagi pesawat kita akan take-off! Kau tidak ingin kita ketinggalan pesawat, kan?"
"Ya, Tuhan! Benar juga katamu, Jonah," pekik Marina panik. "Maaf aku membawamu ke pembahasan pakaian ini, Carmen. Aku hampir lupa kalau aku dan Jonah sudah mau berangkat. Kuharap kau menjaga dirimu dan mengurus Sanjay baik-baik. Kami akan merindukan kalian semua."
Carmen memberinya senyum hangat. "Aku juga akan merindukanmu dan Jonah, Marina,"
Kedua wanita itu berangkulan sejenak. Setelah melepas rangkulan, Carmen menatap Marina dan Jonah bergantian.
"Jaga diri kalian, teman-teman."
"Tentu saja, sahabat," kata Jonah balas tersenyum. Marina berlutut di depan Sanjay dan memberinya sebuah Lolipop rasa stroberi.
"Jaga Carmen ya, Sanjay. Dia Ibumu sekarang," ucapnya sayang. "Kita mungkin tidak bisa bertatap muka sesering dulu lagi. Tapi aku tahu kamu anak yang kuat, cukup kuat untuk melawan penjahat suatu saat nanti. Jadilah anak yang manis dan penurut, ya sayang. Ini permen untukmu, agar kau merasa lebih baik. Semangat! Ayo, Toss dulu."
"Yeah!"
Keduanya lalu melakukan 'Toss', membuat Carmen dan Jonah tertawa. setelah itu mereka kembali saling berangkulan satu sama lain sebelum akhirnya Marina dan Jonah melambaikan tangan-tangan mereka, keluar dari gedung Biro.
"Kalian pasti akan saling merindukan satu sama lain." sebuah suara familiar tahu-tahu muncul di belakang Carmen dan Sanjay. Mereka menoleh dan mendapati Ingrid yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Ingrid! Kau membuatku kaget," kata Carmen sambil mengelus-elus dadanya. Ingrid tertawa kecil. Dia lalu menoleh ke arah Sanjay, yang sudah asyik mengulum permen Lolipop stroberi yang diberikan oleh Marina tadi.
"Jangan lupa sikat gigi setelah makan permen, nak," katanya lembut. "Nanti gigimu berlubang, lho."
"Huh! Seakan-akan aku sudah makan permen seribu kali dalam sehari ini," balas Sanjay pura-pura merajuk. "Tapi terima kasih sudah mengingatkanku, Bu Ingrid."
"Sama-sama, nak," Ingrid memberi senyum hangat padanya lalu kembali menatap Carmen. "Bagaimana dengan berkas-berkas utama? Apa semua sudah rampung?"
"Sudah, Bu Kepala. Noor-lah yang membantuku semalaman merampungkan berkas-berkas itu," jawab Carmen puas. "Aku bahkan heran dia tidak terlihat lelah sedikitpun saat bertemu dengannya di asrama tadi pagi. Rupa-rupanya dia sudah minum kopi sebanyak delapan gelas hanya untuk membantuku menyortir berkas tadi malam. Tidak salah Ripley menunjuknya sebagai salah satu Agen lapangan kita. Dia memang kompeten."
"Aku tahu. Noor memang hebat," balas Ingrid sambil tersenyum. "Ah, ya. Aku sudah berencana untuk pesiar ke Maccu Picchu bersama Ramon. Tapi sebelum itu, aku ingin memastikan semua hal yang berkaitan dengan Biro sudah beres. Makanya aku menanyakan perihal berkas-berkas utama itu padamu, dan ternyata hasilnya bagus sekali."
"Terima kasih," balas Carmen senang. "Oh, iya. Aku hampir lupa kalau ingin membantu Sanjay mengemasi barang-barangnya. Apa ada lagi yang Anda inginkan?"
Ingrid menggeleng. "Untuk saat ini tidak ada, tapi aku ingin kau siap sedia kalau-kalau aku menghubungimu lagi," jelasnya. "Aku baru saja meminta Elliot menghapus jejak retasannya selama bekerja atas nama Biro. Kita tentunya tidak ingin ada pihak tak bertanggungjawab yang menggunakan jejak retasan itu. Kau mengerti maksudku, bukan?"
"Aku mengerti, Ingrid. Tindakanmu menyuruh Elliot menghapus jejak retasannya ada bagusnya juga," timpal Carmen. "Lagipula toh itu untuk keamanannya. Karena bagaimanapun juga, dia rawan bahaya kalau seandainya ada ancaman luar yang kita tidak ketahui. Dan karena kemampuan meretasnya itulah dia menjadi salah satu anggota vital di Biro. Entah kenapa sejak insiden penculikannya di Singapura, aku jadi sangat mengkhawatirkannya, bahkan setelah Biro dibubarkan."
"Maka dari itulah aku menyuruhnya menghapus jejak retasannya, Carmen. Kita tidak ingin hal seperti itu terjadi pada Elliot ataupun mantan anggota Biro yang lain." tukas Ingrid serius. "Sekarang bantulah putramu mengemasi barang-barangnya. Kalau kau membutuhkanku, hubungi saja aku."
"Baik, Ingrid. Hati-hati di jalan."
Sepeninggal Ingrid, Carmen menoleh ke arah Sanjay. "Jadi Sanjay, ayo kita kemasi barang-barangmu. Siapa yang paling cepat menata barang, dialah pemenangnya!"
"Asyik!" Sanjay berteriak kegirangan. Dia langsung mendahului Carmen ke kamarnya. Carmen tersenyum melihat tingkah konyol putra angkatnya itu. Dia baru saja hendak menyusul Sanjay, namun sekonyong-konyong sebuah batu besar melayang ke arah jendela kaca gedung Biro yang membatasinya dengan lingkungan luar.
PRAANGG!
"GAHH!"
Carmen memekik kaget begitu batu itu memecahkan jendela kaca di depannya. Tentu saja jendela itu langsung hancur berantakan, membuat wanita berkulit gelap itu menggeram.
"Hei! Siapa itu yang melempar batu?"
Carmen buru-buru mendatangi jendela yang sudah tidak berkaca itu. Sayang sekali dia terlambat. Si pelempar batu sudah kabur.
"Sial! Masih saja ada orang yang mau cari masalah," tukas Carmen kesal. "Tidakkah dia tahu kalau melempar batu ke kaca jendela itu sama sekali tidak sopan?"
Dia lalu menoleh ke batu yang dimaksud. Benda itu tergeletak tak jauh darinya. Carmen meraih batu itu. Secarik kertas diikatkan ke batu itu menggunakan karet gelang. Merasa penasaran, Carmen segera membuka kertas itu. Tahu-tahu matanya membelalak kaget melihat tulisan yang terdapat di kertas tersebut.
'TOLONG AKU!'
(Bersambung)
