Anak Kecil? Dalam sekejap Hyukjae merasa tersinggung. Apakah lelaki itu memanggilnya 'anak kecil' untuk menghinanya? Di usianya yang ke delapan belas tahun, tubuh Hyukjae memang kecil, mungil dan tidak seperti seluruh keluarganya yang bertubuh tinggi, Hyukjae pendek, kurus dengan bola mata nan lebar dan bening.
Sekarang dia mengenakan celana pendek warna hitam dipadu dengan t-shirt biru muda yang sedikit kedororan. Dari jauh penampilannya seperti anak lelaki. Pantaslah lelaki itu memanggilnya 'anak kecil'. Mungkin dia mengira Hyukjae adalah salah satu murid kelas yunior akademi yang tersesat.
Ya, Hyukjae memang murid di akademi ini, tetapi dia adalah murid senior yang sudah lulus enam bulan yang lalu, sekarang dia dan ibunya, serta Zhoumi sahabatnya, datang ke akademi ini untuk mengambil formulir pelatihan khusus. Pemain biola itu meletakkan biolanya, kemudian melangkah mendekat. Ketika dia makin dekat, Hyukjae langsung terpana. Astaga... lelaki itu tampan sekali hingga mendekati cantik.
Rambut hitamnya yang lurus dibiarkan memanjang sampai menyentuh kerah bajunya, bibirnya... matanya... semuanya sempurna. Mungkin jika lelaki ini kehilangan pekerjaannya sebagai pemain biola, dia bisa menjadi aktor atau model sempurna.
Jadi inilah dia penampilan langsung Donghae, si pemain biola jenius yang begitu terkenal. Hyukjae sering melihatnya bermain di video-video latihannya, sering mendengarkan rekamannya yang brilian di sela-sela belajarnya bermain biola, tetapi rupanya, penampilan lelaki ini secara langsung benar-benar berkali-kali lebih mempesona daripada gambarnya di video-video itu.
Tapi ekspresi lelaki itu tampak tidak senang. Dia mengerutkan keningnya dan menatap Hyukjae dengan tatapan yang tidak ber-sahabat?
"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?" Hyukjae tergagap mendengar guibun ketus itu. Pertanyaan apa? dia bahkan lupa akan kata-kata Donghae barusan, selain bahwa lelaki itu menyebutnya sebagai 'anak kecil'.
Benaknya sedang berkelana akan betapa beruntungnya dirinya, bisa mendengarkan permainan sang maestro secara langsung, dan bisa melihatnya secara langsung pula. Zhoumi pasti akan sangat terkejut kalau Hyukjae bercerita tentang keberuntungannya.
Karena Hyukjae hanya terdiam, Donghae makin mendekat, mengerutkan kening dan menatap curiga.
'Anak ini ternyata anak perempuan yang cantik...' batinnya dalam hati, mengawasi pipi Hyukjae yang memerah dan mata besar yang dipayungi bulu mata yang sangat lentik. Usianya mungkin baru dua belas atau tiga belas tahun. Mungkin dalam beberapa tahun lagi, dia akan tumbuh menjadi perempuan dewasa yang cantik yang akan dipuja oleh banyak lelaki.
Donghae tersenyum masam. Tiba-tiba merasa aneh pada dirinya sendiri karena membatin kecantikan anak-anak seperti ini.
"Apa yang kau lakukan di sini? Apakah kau tersesat?" Anak perempuan itu tampak ketakutan, jadi Donghae meredakan ekspresi marahnya dan merubahnya menjadi datar.
Hyukjae menggelengkan kepalanya, "Aku mendengarkan permainan biolamu," ada kebahagiaan dimatanya ketika membicarakan per-mainan biola. Senyumnya mengembang, "Luar biasa sempurna, itu „Introduction et Rondo Capriccioso‟, bukan? Kau memainkan dengan luar biasa indah."
'Anak ini mengerti musik.' Donghae membatin. Mungkin dia memang salah satu murid di akademi ini, yang sedang tersesat.
"Ya. Aku sedang berlatih memainkannya sebelum kau datang dan mengganggu konsentrasiku."
Donghae tidak terbiasa membahas musik bersama orang asing, pun dengan perempuan kecil di depannya ini, "Apakah kau tersesat?" dia mengulang lagi pertanyaannya, langsung menyimpulkan meskipun anak itu tadi menggelengkan kepalanya, "Kau bisa keluar dari lorong ini dengan melalui jalanmu masuk tadi."
Mata anak perempuan itu menyinarkan protes, "Perlu kau tahu, aku tidak tersesat. Dan aku bukan anak kecil." Dagunya mendongak angkuh, "Usiaku sudah delapan belas tahun, permisi." perempuan itu membungkukkan tubuhnya, seolah mengejek, lalu secepat kilat berbalik pergi, dengan langkah ringan seperti langkah peri.
Donghae masih termangu di ambang pintu, mendengarkan langkah-langkah kecil yang menjauh pergi itu. Kemudian tersenyum masam. 'Delapan belas tahun...' tebakannya meleset jauh, padahal dia sangat ahli dengan perempuan.
Tetapi dengan tubuh semungil itu dan wajah polos serta mata bening tanpa dosa, wajar saja kalau Donghae salah tebak.
:: Embracre The Chord ::
"Kemana saja kau Hyukjae? ibumu mencarimu dengan cemas karna kau menghilang lama tadi." Zhoumi berpapasan dengan Hyukjae di ujung koridor, dia langsung menjajari langkah Hyukjae dan tersenyum lembut, "Kau pasti menjelajah lagi tanpa izin."
Pipi Hyukjae memerah. Zhoumi adalah temannya dari kecil karena kedua orang tua mereka bertetangga dan bersahabat. Lelaki itu mungkin menganggap Hyukjae sebagai adiknya, tetapi bagi Hyukjae, Zhoumi lebih dari itu... Zhoumi selalu ada untuknya, dan Hyukjae mungkin menyimpan perasaan lebih kepadanya, sayangnya, Zhoumi sepertinya masih memperlakukan Hyukjae sebagai anak kecil, sebagai adiknya... dan itulah salah satu hal yang membuat Hyukjae membenci penampilannya yang seperti anak kecil ini.
"Aku bertemu dengan Donghae... si pemain biola itu."
Langkah Zhoumi langsung terhenti, dia menatap Hyukjae kaget dan membelalakkan matanya, "Kau bertemu dengannya? dengan Donghae? Dimana?" Zhoumi seperti sudah siap untuk berlari, tapi Hyukjae menahan tangannya.
"Dia sedang berlatih di ruangan khusus di sayap ujung akademi ini, sepertinya dia sedang badmood, mungkin karena tadi aku muncul tiba-tiba tanpa sengaja dan mengganggu permainannya."
Hyukjae menatap Zhoumi dengan tatapan penuh permintaan maaf, "Jangan ke sana Zhoumi, kalaupun dia masih ada di sana dia pasti sedang marah besar."
Zhoumi menundukkan kepalanya menatap Hyukjae yang jauh lebih pendek darinya, lalu menghela napas panjang, "Kau sungguh beruntung... tapi yah sudahlah, mungkin memang belum saatnya aku bertemu dengan Donghae." gumamnya lalu tersenyum dan menepuk pundak Hyukjae penuh sayang,
"Nanti kita pasti akan bisa bertemu dengannya, kita kan sudah mengisi dan memasukkan formulir audisi untuk masuk sebagai murid khusus Donghae. Ayo kita cari ibumu."
Setiap tahun sekali, Donghae sang pemain biola jenius yang sangat terkenal itu, akan menyempatkan waktunya untuk memberikan kelas khusus hanya untuk siswa akademi senior atau alumni yang terpilih, semuanya dibatasi berusia minimal delapan belas tahun dan maksimal berusia dua puluh tahun.
Pendaftaran dibuka sebebas-bebasnya, tetapi pada tahap awal kualifikasi, hanya ada dua ratus orang terpilih yang berhak mengikuti audisi khusus yang dihadiri langsung oleh Donghae.
Kelas itu hanya diikuti oleh beberapa orang yang terbaik, dan Donghae sendiri yang memilihnya. Mereka harus mengisi formulir, kemudian mengikuti audisi, perbandingan antara yang lolos dengan tidak lolos mungkin satu dibanding sepuluh siswa audisi.
Ini adalah kesempatan pertama Hyukjae, sedangkan Zhoumi yang dua tahun lebih tua darinya, akan mencoba keberuntungannya untuk ketiga kalinya, dia gagal di percobaan dua kali sebelumnya. Dari dua ratus orang yang ikut audisi hanya akan dipilih sejumlah maksimal dua puluh orang, akan diberikan pelatihan di kelas khusus selama tiga bulan dengan mentor utama Donghae sendiri. Memang waktu pelatihan yang singkat, tetapi banyak sekali ilmu yang bisa mereka dapat karena sang maestro sendiri yang turun tangan mengajari mereka, selain itu kalau beruntung, Donghae bahkan bermain biola di kelasnya, suatu kesempatan luar biasa mendengarkan Donghae bermain biola secara langsung, karena lelaki itu lebih banyak mengadakan konsernya di luar negeri, sehingga para murid akademi ini hanya bisa mendengarkan permainannya dari rekaman video untuk berlatih.
Yang pasti, kelas khusus Donghae ini sangat eksklusif dan siapapun yang ingin lolos audisi, harus berebut dengan dua ratus siswa akademi sekaligus alumni lainnya yang lolos kualifikasi tahap awal. Audisi ini begitu ketatnya sehingga Zhoumi yang notabene anak direktur akademi musik ini, diperlakukan sama seperti yang lain. Dia harus mengambil formulir, mengisinya sesuai prosedur dan mengikuti test audisi bersama yang lain. Hanya Donghae yang bisa menentukan siapa yang akan dia latih.
Zhoumi dan Hyukjae adalah salah satu dari sekian banyak siswa yang berharap memperoleh keberuntungan ini, diajar langsung oleh Donghae. Zhoumi terutama, adalah penggemar berat Donghae, dia pada mulanya berlatih piano, ayahnya adalah salah satu pemilik dan direktur di akademi musik ini sehingga bakat Zhoumi sudah terasah sejak kecil.
Kemudian tanpa sengaja dia mendengarkan acara konser solo Donghae- sang jenius biola, salah satu lulusan akademi yang sama dengannya, yang waktu itu baru berusia dua puluh satu tahun -di televisi. Dia terpana, takjub akan kemampuan Donghae membawakan biolanya dengan begitu sempurna, dan seketika itulah dia memutuskan bermain biola.
Donghae adalah salah satu motivasi terbesarnya bermain biola. Sementara itu, Hyukjae... yah bisa dikatakan dia hanya ikut-ikutan. Hyukjae dan Zhoumi memang dilahirkan dari keluarga pemusik, kedua orang tua mereka dulu bersahabat di akademi musik Vienna, dan sama-sama berkarir di sebuah orkestra besar di Italia, sebelum akhirnya orang tua Zhoumi yang memutuskan pulang ke Korea lebih dulu dikarenakan ayah Zhoumi harus meneruskan perusahaan ayahnya, yang meninggal dunia, salah satunya adalah akademi musik milik keluarganya.
Beberapa tahun kemudian, ketika Hyukjae berusia delapan tahun, ayah Hyukjae meninggal dunia karena sakit, ibu Hyukjae akhirnya memutuskan untuk pensiun dari karier musiknya di Italia dan membawa Hyukjae pulang ke korea. Dan kemudian, ibu Zhoumi jugalah yang membantu mereka, mencarikan rumah yang nyaman untuk mereka tempati dan memberikan pekerjaan kepada ibu Hyukjae sebagai salah satu guru di akademi ini.
Hyukjae bisa bermain musik apa saja, dan dia memainkan semuanya, dia bahkan tidak mengkhususkan diri pada satu alat musik, sesuatu yang diprotes oleh ibunya. Kata ibunya, kalau kita tidak menspesialisasikan diri pada satu alat musik, maka kemampuan kita akan mengambang, tidak bisa sepenuhnya fokus.
Ibu Hyukjae selalu mendorong Hyukjae untuk mengembangkan bakat musiknya ke satu titik khusus, tetapi memang tidak ada dorongan bagi Hyukjae untuk melakukannya. Dia memang berbakat dalam bermusik tetapi tidak berambisi. Sampai kemudian dia melihat Zhoumi begitu fokus bermain biola, dan Hyukjae berpikir, kalau dia bermain biola juga, mungkin dia bisa semakin dekat dengan Zhoumi.
Hyukjae tersenyum pahit, yah... Donghae adalah motivasi Zhoumi bermain biola, sedangkan Zhoumi adalah motivasi Hyukjae bermain biola.
:: Embrace The Chord ::
"Terimakasih kau selalu menyempatkan waktumu untuk mengajar murid-murid kami setiap tahunnya."
Donghae duduk di ruang tamu direktur, dijamu dengan teh dalam poci ala inggris dan kue-kue yang tampak nikmat di piring, dia duduk ber-hadapan dengan direktur itu sendiri.
"Akademi ini pernah melatihku dan sedikit banyak membantuku menjadi seperti sekarang ini, aku tidak keberatan mengajar mereka di sela waktu rehatku." gumam Donghae tenang. Matanya menelusuri ke arah pintu.
Dia tidak suka dengan pertemuan formal ini dan ingin melarikan diri cepat-cepat, tetapi tentu saja itu tidak sopan.
"Dan antusiasme anak-anak benar-benar meluber tahun ini, apalagi setelah konser solo terakhirmu di Austria yang sangat sukses." direktur itu tersenyum, menatap Donghae senang,
"Anakku akan ada di audisi ini lagi tahun ini, aku tidak akan memberitahukanmu yang mana karena hal itu mungkin akan mempengaruhimu, tetapi aku berharap dengan kemampuannya dia bisa lolos dari audisi. Dia sudah mencoba dua kali sebelumnya dan gagal."
Direktur itu menuang tehnya dan mempersilahkan Donghae untuk minum teh bersamanya. Donghae tersenyum. Dia tahu bahwa direktur ini dulu punya karier bermusik yang cemerlang di Italia, sebelum menjadi direktur akademi ini, direktur itu adalah seorang pemain piano profesional. Donghae tidak mengira bahwa anaknya lebih memilih bermain biola.
Bahkan sebelumnya, direktur ini sangat jarang menyebut tentang anaknya. Lelaki di depannya ini memang sangat teguh pada peraturan dalam bermusik, sepertinya dia tidak ingin anaknya diperlakukan dengan istimewa, mau tak mau Donghae merasa kagum kepada prinsip yang dianut sang direktur, kalau orang lain, mungkin akan menggunakan segala cara agar anaknya memperoleh hak istimewa.
"Anak anda bermain biola?" gumam Donghae mempertanyakannya langsung.
Direktur itu mengangkat bahunya, "Semua orang pasti mempertanyakan itu mengingat aku adalah pemain piano. Yah, aku sudah berusaha mengajari anakku itu bermain piano sedari dini. Dan kemudian dengan keras kepala dia berubah halauan, bermain biola."
Matanya menatap Donghae dengan dalam, "Kau adalah motivasinya bermain biola."
Donghae menyesap tehnya dan mengangkat alis, lalu tersenyum samar. "Kalau anak anda benar-benar berbakat, dia pasti akan menemukan jalannya untuk masuk ke kelas khususku."
:: Embrace The Chord ::
Donghae pulang ke apartemennya, dia memang punya apartemen pribadi-nya sendiri jikalau ingin menyepi sendirian. Ini adalah apartemen lamanya yang tahun kemarin sempat ditinggalkannya begitu lama untuk melarikan diri dari ibunya.
Natalie, ibu angkatnya mengejar-ngejarnya untuk segera menikah, dia menawarkan berbagai macam calon isteri untuk Donghae yang tentu saja ditolak Donghae mentah-mentah, dan membuatnya melarikan diri dari rumah dengan alasan pelatihan intensif untuk beberapa lama, padahal Donghae terpaksa menumpang di rumah salah satu sahabatnya.
Untunglah setelah itu Donghae harus segera berangkat ke Austria kali ini benar-benar untuk persiapan konser solo dan sebagai violinist tamu di konser bersama orkestra besar di austria, sehingga membuat ibunya tidak bisa mengejar-ngejarnya lagi.
Ketika Donghae pulang ke negaranya, ibunya sepertinya sudah sadar bahwa sia-sia saja dia mencoba memaksakan Donghae untuk menikah, perempuan yang sangat menyayangi Donghae itu lalu melupakan usahanya, dan membuat Donghae merasa nyaman kembali untuk pulang.
Donghae memang sering menghabiskan waktunya di rumah, kadang beberapa hari seminggu dia tidur di sana, tetapi selain itu, dia pulang ke apartemen pribadinya. Apartemen ini berada di lantai paling atas, sebuah hunian eksklusif yang sangat menjaga privacy, Donghae mengubah seluruh interiornya sendiri, dan memasang dinding kedap suara, yang memungkinkannya berlatih siang malam, tanpa mengganggu orang lain.
Lelaki itu duduk dalam kegelapan, dasinya sudah terlepas dan mata-nya dingin. Besok adalah hari audisi. Donghae tak sabar menantinya. Banyak sekali hal-hal baru, bakat-bakat baru yang sebelumnya belum pernah muncul yang bisa ditemukannya di saat audisi, dan Donghae tentunya akan memilih yang terbaik.
Karena dia hanya mau melatih yang terbaik.
:: Embrace The Chord ::
"Ayo cepat."
Zhoumi berlari-lari kecil menuju ruangan aula besar akademi, tempat audisi berlangsung, sementara Hyukjae mengikutinya, sama-sama panik.
Kemarin mereka mendapatkan pemberitahuan bahwa mereka berdua termasuk salah satu dari dua ratus peserta audisi yang beruntung. Dan sekarang mereka hampir terlambat karena mobil mereka terjebak macet dan sempat membuat panik karena takut kehilangan kesempatan.
Tetapi untunglah Zhoumi menemukan jalan tikus yang meskipun sempit tapi lancar, dan membuat mereka hanya terlambat beberapa menit.
Ketika mereka sampai di pintu aula, suara alunan biola sudah terdengar. Berarti audisi sudah dimulai. Untunglah panitia audisi masih ada di depan pintu sehingga Zhoumi dan Hyukjae bisa men-dapatkan nomor audisi, meskipun mereka harus mendapatkan nomor terakhir untuk hari ini.
Satu orang mendapatkan jatah waktu hanya tiga menit untuk memainkan bagian lagu yang telah mereka pilih, memamerkan bakatnya sebaik mungkin. Sementara itu, Donghae beserta dua mentor senior di akademi, duduk diam dan mendengarkan di sebuah kursi yang telah disediakan di sudut depan aula, tepat di depan peserta audisi dan tampak mengintimidasi.
Para peserta lain yang mengantri tampak menunggu dengan sabar di kursi-kursi yang telah disediakan dan terisi penuh sehingga beberapa harus berdiri di sisi samping aula, semua menunggu dengan setia berharap menjadi peserta yang beruntung.
Hyukjae dan Zhoumi akhirnya bisa mendapatkan posisi berdiri di samping yang paling dekat dengan bagian depan aula. Mata Hyukjae melirik ke arah Donghae yang duduk dengan tenang di kursinya, tampak luar biasa tampan dengan celana jeans dan kemeja hitamnya. Mata lelaki itu serius, tanpa ekspresi sehingga tidak bisa terbaca apakah dia menyukai permainan biola yang dimainkan oleh salah satu peserta di depannya atau tidak.
Di tangannya ada kertas, kadang-kadang lelaki itu mencatatkan sesuatu di sana. Hyukjae melirik beberapa peserta perempuan lain di sekitarnya, mereka semua sama, tampak begitu terpesona akan ketampanan Donghae.
Bahkan kemudian Zhoumi menyenggolnya dan tersenyum, "Dia luar biasa tampan bukan?" Zhoumi bergumam menggoda, membuat pipi Hyukjae memerah.
Ya. Donghae memang luar biasa tampan, tetapi bagi Hyukjae, tidak ada lelaki yang setampan Zhoumi di dunia ini.
"Bermain didepannya terasa sangat mengintimidasi." sambung Zhoumi sambil mendesah. "Apalagi kita tidak pernah bisa membaca apa yang ada di balik tatapan mata dinginnya itu. Dua kali kemarin aku gagal sepertinya lebih karena gugup, semoga sekarang ada kesempatan untukku."
Hyukjae tersenyum dan menyentuh lengan Zhoumi dengan sayang, "Kau pasti berhasil Zhoumi, dan kali ini jangan gugup. Aku akan mendoakanmu."
:: Embrace The Chord ::
Malam sudah menjelang, tetapi dua ratus siswa itu tampak setia, belum ada satupun yang pulang. Karena hasil audisi akan diumumkan sendiri oleh Donghae setelah proses audisi selesai. Sudah tinggal beberapa peserta yang maju. Dan kemudian giliran Zhoumi.
Zhoumi tampak begitu tampan dengan kemeja birunya yang tampak sesuai dengan rambutnya yang kecoklatan. Lelaki itu menghela napas panjang, dan kemudian memainkan biolanya. Alunan musik nan merdu langsung mengalun di seluruh penjuru aula.
Dan Hyukjae menatap lelaki itu dengan kagum. Zhoumi tampak begitu tampan, seperti pangeran yang memainkan biola untuk kekasihnya. Perasaan Hyukjae dipenuhi dengan cinta. Alunan musik yang dimain-kan oleh Zhoumi begitu menghangatkan hati, membuat mata Hyukjae berkaca-kaca.
Teknik Zhoumi tidak dipertanyakan lagi, begitu sempurna dan luar biasa. Bakat itu memang ada di diri lelaki yang dipujanya itu. Ketika Zhoumi selesai, beberapa siswa bahkan ada yang tak bisa menahan diri untuk bertepuk tangan, dan Hyukjae memandang penuh harap ke wajah Donghae.
Lelaki itu masih memasang wajah tanpa ekspresi. Hyukjae langsung harap-harap cemas, dia berdoa sepenuh hati agar kali ini Zhoumi lolos. Ini adalah kesempatan terakhir Zhoumi karena dia sudah berusia dua puluh tahun. Zhoumi akan sangat kecewa kalau gagal di kesempatan terakhirnya ini. Dan Hyukjae tidak akan tahan melihat Zhoumi kecewa.
Setelah Zhoumi membungkuk ke arah Donghae dan dua mentor senior akademi yang berada di depannya, dia berlari-lari kecil ke arah Hyukjae yang menunggu di bagian samping tempat duduk.
"Bagaimana permainanku tadi?" Wajah Zhoumi tampak berseri-seri hingga mau tak mau membuat Hyukjae tersenyum lebar.
"Bagus sekali Zhoumi. Kau memainkannya dengan sempurna!" Hyukjae menjawab sambil tertawa, ketika Zhoumi memeluknya layaknya seorang kakak terhadap adiknya.
Peserta nomor terakhir dipanggil, dan itu nomor Hyukjae. Zhoumi mengacak rambut Hyukjae dengan sayang, "Ayo Hyukjae, bersemangatlah!" gumamnya riang, menepuk pundak Hyukjae hangat sebelum Hyukjae melangkah ke depan.
Hyukjae berjalan dengan tenang dan tanpa beban, meskipun dia merasa semua mata peserta memandang ke arahnya. Ini adalah audisi perdananya dan ternyata beginilah rasanya bermain di hadapan banyak orang.
Dia menghela napas panjang, yah dia akan bermain sesuai kemampuannya. Lagipula dia datang kemari tanpa beban, dia hanya ingin bersama Zhoumi. Dan kalaupun nanti dia tidak lolos, dia sudah cukup bahagia jika bisa melihat Zhoumi lolos. Hyukjae berdiri di tengah ruangan, menghela napas panjang, me-masang biolanya di pundaknya dan kemudian menggesekknya.
:: Embrace The Chord ::
Hari hampir menjelang malam, dan Donghae lelah. Dia juga bosan. Telinganya terasa berdenging mendengarkan permainan biola ratusan siswa-siswa yang antusias. Dan kebosanannya muncul karena banyak sekali siswa yang memilih lagu yang sama, jenis musik populer karya Mozart seperti symphony 35 atau 40 yang paling sering dimainkan.
Mungkin mereka semua sengaja memilih musik populer agar lebih familiar di telinganya. Tetapi Donghae tidak butuh yang familiar, dia butuh sesuatu yang berbeda, sesuatu yang istimewa.
Ada beberapa siswa yang istimewa tentu saja, dan Donghae sudah mencatat mereka di lembar kertasnya. Ketika peserta terakhir dipanggil, Donghae sudah skeptis. Tinggal satu lagi, dan dia bisa membuat pengumuman kemudian pulang untuk beristirahat.
Kemudian matanya menatap peserta terakhir yang melangkah seperti tanpa beban ke depan mereka. Itu anak kecil itu... oh bukan, itu perempuan itu.
Donghae mengoreksi dalam hati sambil duduk tegak di kursinya. Apakah dia juga seorang pemain biola?
Donghae menatap perempuan itu dengan tertarik. Sekarang setelah melihat lebih seksama, Donghae sadar bahwa perempuan itu memang bukan anak kecil. Dengan gaun warna putihnya yang melebar di bagian bawah, dan berkibar setiap dia bergerak, dia tampak cantik dan menawan, berbeda dengan celana pendek serta t-shirt kebesaran yang dulu dipakainya di pertemuan tanpa sengaja mereka.
Gaun itu menunjukkan lekuk tubuhnya, lekuk tubuh perempuan yang beranjak dewasa -meskipun tentu saja Donghae tidak tertarik untuk merayu perempuan yang jelas-jelas lebih muda ini, dia bilang usianya delapan belas tahun, berarti perempuan ini delapan tahun lebih muda darinya.
Donghae lebih suka berpacaran dengan perempuan yang sudah matang. Perempuan ini jelas jauh sekali dibawah kriterianya, masih remaja, ditambah lagi penampilannya seperti anak kecil.
Donghae sudah mencoret perempuan itu sejak awal dari daftar korbannya. Kalau begitu kenapa dia terus menerus memikirkannya? Donghae mengernyit, membuat gerakan mencoret tanpa sadar di kertas yang dipegangnya.
Dia melirik daftar musik yang akan dimainkan oleh peserta audisi. Peserta nomor dua ratus, namanya Hyukjae -Donghae mencatat dalam hati, Hyukjae memilih memainkan Tchaikovsky, Violin Concerto in D major Op.35. Pilihan yang tidak biasa untuk siswa semuda itu.
Donghae menatap tajam, tertarik.
Lalu perempuan itu menghela napas panjang, meletakkan biola di pundaknya dan menggeseknya. Seketika itu juga, alunan musik yang indah, membahana memenuhi aula.
:: To Be Continued... ::
