Melenguh saat kedua kelopak matanya enggan untuk terbuka, tapi perlahan kesadarannya mulai timbul. Menuntut dirinya untuk segera terbangun, dengan tatapan sayu sejurus menatap dinding yang bercat sewarna salem. Melihat perabotan kamar yang berbeda dari ingatannya tentang kamarnya sendiri, refleks bangkit dari berbaringnya sambil mengusap kedua matanya yang belum terbiasa dengan cahaya matahari yang masuk melalui kaca balkon yang terbuka lebar.

Mengerjap-ngerjap menatap ke seluruh kamar, dahinya berkerut karena tak mengenali kondisi kamar yang ditempatinya. Kamar asing, mencengkram selimut. Tao ingat jika semalam dirinya bersama Kris, bercinta di kamar sewa club lalu ia tertidur.

Tapi kemana laki-laki itu?

Kamar ini luas, cukup mewah. Angin yang berhembus cukup kencang, menerbangkan tirai putih hingga melambai, menarik atensinya yang sedang berusaha mencerna apa yang telah terjadi.

"Kris?" ia memanggil.

Beranjak turun membawa selimut untuk membungkus tubuh telanjangnya, Tao menapakkan kakinya pada permukaan lantai yang dingin. Menuju balkon yang terbuka, berdiri diantara tirai yang melambai-lambai, angin memainkan helai rambutnya yang acak-acakan. Tao tertegun.

Kedua matanya mengerjap lucu ketika melihat pemandangan di bawah sana yang kemudian membuatnya terbelalak kaget. Pesisir pantai dan jalanan asri yang begitu khas dengan musim panas, bukan pemukiman, melainkan bangunan hotel, restaurant dan beragam destinasi wisata yang tersebar.

"Di mana ini?" bertanya pada angin yang berhembus. Tao semakin erat mencengkram selimut yang melindungi tubuhnya.

Ini bukan Seoul.

Di mana ini?

Melangkah mundur perlahan, kemudian ia berbalik hanya untuk membentur dada seseorang yang entah sejak kapan berdiri di belakang tubuhnya.

"Ack!" Tao memegangi hidungnya memerah. Mendogak segera melihat wajah tampan Kris yang saat ini tersenyum padanya.

"Sudah bangun?" pria itu bertanya. Menyingkirkan anak rambut Tao yang tertiup angin, menyingkirkan tangan yang menutupi hidungnya. Ia mengusap ujung hidung tinggi itu lalu mengecupnya.

Tanpa harus diminta, Tao segera menghambur ke dalam pelukan Kris. Dibalas kedua tangan kekar yang menangkap pinggangnya. Mengernyit melihat selimut putih tebal yang membalut tubuh kekasihnya.

"Kenapa selimut ini ada di sini?" protesnya tak suka. Menarik selimut yang dipakai Tao, tapi si manis itu menahannya.

"Aku tidak memakai baju, biarkan saja seperti ini"

Tersenyum miring, Kris mencium rambut Tao yang berada di dadanya. "Buka saja, hanya ada kita berdua di sini" ia berbisik.

Tao mendengus, meski kini pipinya memerah lucu. Mendongakkan kepala, menatap tepat dikedua netra abu-abu Kris yang mempesona.

Lelaki itu tetap bersinar meski saat ini hanya mengenakkan kemeja putih yang kancingnya sengaja dibuka dan jogging pants abu-abu. Kris tetap tampan, walau surai pirangnya saat ini juga dalam keadaan berantakan.

"Bisa beritahu aku sekarang kita berada di mana?" tanyanya agak berbisik. Kris mengeratkan dekapannya.

"Kita berada di Maldives "

"Ha!? Bagaimana bisa!?" mendorong tubuh Kris terlalu kuat karena terkejut, matanya membulat. Nyaris membuat Kris terjungkal ke belakang.

Pria itu terkekeh, menikmati wajah terkejut Tao yang menarik. Kemudian mengangguk.

"Kita memang tidak berada di Seoul, sayang. Kau tidur seperti orang pingsan. Apa aku sehebat itu di atas ranjang sampai kau tidak juga terbangun di perjalanan?"

Wajahnya merona hebat, memukul dada Kris dengan kepalan tangannya. Si tampan itu tertawa lepas, merengkuh tubuh tipis si manis yang kini merajuk.

"Kau harus menjalaskan banyak hal padaku, Kris" Tao menggumam. Kris mengangguk kecil.

"Tanyakan apapun aku akan menjawabnya"

"Kau harus berjanji"

"Janji, demi bokong bulat besar yang ku sukai"

"KRIS!!"

Pagi ini lelaki tinggi itu banyak tertawa, Tao tidak bisa marah meski Kris terus menggodanya.

"Baiklah, oke. Tapi kita harus mandi dulu, setelah itu sarapan, dan aku akan menuruti semua keinginan mu"

"Kita?"

"Yap?"

"Mandi?"

"Ya!"

Menyadari adanya hal berbahaya yang menantinya di kamar mandi, ia berontak tepat saat Kris mengangkat tubuhnya di bahu. Sekuat tenaga memukul-mukul punggung kekasihnya agar diturunkan, dan Kris hanya tertawa.

Dan tawa bahagianya itu tertelan setelah pintu kamar mandi tertutup.

.

.

.

End?

.

.

.

Bikin cerita kaya gini emang lebih enjoy, ga tertekan, ga mikirin plot, dan bisa berakhir kapan aja. HUAHUAHUAHUA /slapped

Regards, Skylar

24.12.2016