Distance
( we're mean to each other, but we can't be )
JinV
Karena Taehyung tahu, garis takdirnya dengan Seokjin tidak akan pernah menyatu.
.
.
.
Terakhir kali dirinya berada pada satu meja yang sama dengan Gwangjong adalah dua tahun yang lalu. Kala dirinya pertama kali dilantik sebagai jenderal. Saat itu Gwangjong menyanjungnya amat tinggi. Membanggakan anak asuhnya yang kini menjadi ksatria terbaik di tanah Goryeo. Membuat dirinya menundukkan kepalanya, walaupun Gwangjong berkali-kali menyuruhnya untuk mengangkat dagunya dan berbangga diri.
Namun saat ini, ia berada di sini. Satu meja bersama Gwangjong dan kelima putra-putrinya. Seokjin duduk berhadapan dengannya, sedangkan Jungkook sengaja duduk di sampingnya. Tapi sialnya ia juga duduk di sebelah sang permaisuri. Berkali-kali ia merasakan sepasang pandangan menusuk mengarah pada dirinya. Taehyung tahu, sang permaisuri tak pernah menyukainya sejak pertama kali dirinya menginjakkan kaki di istana ini. Ia mengusap tengkuknya canggung. Sungguh, ia lebih memilih untuk berada di medan perang dengan jenderal-jenderal perang yang berperawakan mengerikan dengan besar tubuh dua kali lipat dirinya dibandingkan berada di samping Permaisuri Daemok dengan tatapan tajamnya.
Seokjin menegakkan tubuhnya, tatapannya sedari tadi tak lepas dari sosok jenderal di hadapannya. Sebuah senyum tipis terulas di wajah tampannya. Ia sendiri juga menyadari tatapan mengintimidasi ibunya terhadap Taehyung. Namun ia sama sekali tak berani berkomentar apapun. Ia melirik ke arah adiknya, Wang Jungkook yang berusaha mati-matian untuk tetap diam dan tidak mengajak Taehyung mengobrol atau apapun. Ia tahu Jungkook adalah tipe orang yang tidak bisa diam.
"Sebenarnya, pesta minum teh ini aku adakan karena, jenderal kita. Wang Taehyung, telah berjaya menyingkirkan pasukan musuh di wilayah perbatasan. Sekaligus memperluas wilayah kita." Taehyung tersenyum tipis mendengar ucapan sang raja. Ia senang saat Gwangjong memujinya, namun ia tetap risih saat Permaisuri Daemok terus saja menatapnya sinis. Nampak sangat tidak suka dengan prestasi yang dicapai olehnya. Dan lebih tidak suka saat sang raja menyebutkan nama Wang sebagai nama depannya.
Beberapa detik kemudian, beberapa dayang membawakan teko-teko dan cangkir teh mereka. Menuangkannya untuk setiap orang yang berada di sana dengan hati-hati. Enggan membuat kesalahan sekecil apapun, yang mereka tahu akan berakibat fatal. Beberapa dari mereka tetap tinggal, dengan nampan berisi teko-teko teh.
Setiap orang disajikan teh yang berbeda, sesuai dengan kesukaan mereka. Taehyung sendiri memilih teh hijau, dan dayang-dayang di Damiwon sudah hafal dengan hal itu. Taehyung tersenyum saat dayang muda itu menuangkan teh untuknya. Membuat sang dayang tampak salah tingkah dengan kedua pipi yang memerah. Dayang itu hampir saja menumpahkan teh di meja sang jenderal, namun Taehyung dengan sigap menahannya dan berujar hati-hati dengan lembut. Membuat dayang itu mengangguk dan segera mundur dengan wajah yang memerah karena malu.
Seokjin dan Jungkook yang melihat itupun berdehem sekilas. Nampak tidak suka dengan adegan barusan. Taehyung memandang aneh kedua pangeran itu. Ia sendiri makin risih karena dua kakak beradik itu terus memandanginya dengan ekspresi yang tak bisa ia jabarkan.
"Untuk Goryeo." Gwangjong mengangkat cangkir tehnya. Membuat semua orang di meja itu ikut mengangkat cangkir-cangkir teh mereka dengan senyum merekah di wajah mereka. Terkecuali sang permaisuri yang sedikit menyeringai sinis sembari melirik Taehyung. Taehyung sendiri berusah mengabaikan itu dan perlahan meminum teh hijaunya.
Mereka semua berbincang dengan santai. Diselingi tawa karena tingkah jahil sang pangeran. Juga perbincangan serius tentang politik dan pertahanan. Taehyung ingat saat itu Gwangjong tengah membicarakan masalah pertahanan di sekitar perbatasan. Kemudian, hening. Gwangjong berdehem untuk memecah keheningan dan membuat semua perhatian mengarah padanya.
"Aku baru ingat ada hal penting yang harus aku katakan. Ini berhubungan dengan Putra Mahkota Seokjin." Gwangjong melirik ke arah sang putra mahkota, lalu kembali memandang lurus. Seokjin yang dilirik seperti itu sedikit mengernyit. Menerka-nerka hal penting apa yang akan disampaikan oleh ayahnya.
"Aku berencana untuk menikahkan putra mahkota dengan putri dari Daejong." Seokjin tersentak. Sementara Taehyung langsung mematung di kursinya. Seokjin menatap ayahnya dengan pandangan tak percaya. Ia hendak melayangkan protes, namun tatapan ibunya yang begitu menghunus membuatnya bungkam.
"Rencana ini sudah kami pikirkan matang-matang. Kurasa Heonae sangat cocok untukmu, Putra Mahkota."
Seokjin tetap bungkam. Ia hanya bisa mengangguk pasrah. Diliriknya sosok jenderal muda di hadapannya. Taehyung menundukkan kepalanya, membuat Seokjin tak bisa melihat ekspresi jenderal itu. Ia meminum tehnya perlahan. Membayangkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi, sembari menatap Taehyung. Apa dirinya tidak akan pernah bisa mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya?
"Lagi!"
Kedua pedang kayu saling beradu. Tak ada yang mau mengalah di antara mereka berdua. Jungkook mengernyit. Ada yang aneh. Ia mengayunkan pedangnya, menyerang sang jenderal. Biasanya, semua serangannya dapat ditahan ataupun ditangkis dengan mudah oleh jenderal muda itu. Tapi kali ini, Jungkook dapat dengan mudah menjatuhkan pedang kayu dari tangan itu.
BRUK
"Hyungnim! Kau tidak apa-apa?"
Taehyung menggeleng. Ia meraih tangan Jungkook yang terulur padanya, lalu bangkit berdiri. "Bisa kita istirahat sebentar? Sudah lebih dari 3 jam kita melakukan ini." Ia mendirikan pedang kayunya di dekat sebuah batu besar, dan duduk di sebelahnya. Taehyung menghela napas panjang, mencoba merilekskan tubuhnya dan memejamkan matanya.
"Ada apa denganmu, hyungnim? Gerakanmu aneh. Apa kau sakit?" Jungkook meletakkan punggung tangannya di dahi Taehyung, berusaha mengecek suhu tubuh laki-laki itu. Suhunya normal, membuat Jungkook kembali mengernyit. Ia mendudukkan dirinya di samping laki-laki itu. Ia melirik pada Taehyung. Ada lingkaran hitam di bawah kedua mata itu. Keduanya terdiam cukup lama. Jungkook sepertinya enggan mengusik Taehyung yang masih memejamkan matanya.
Taehyung kembali menghela napas. Entah kenapa hari ini ia merasa sangat penat. Dirinya tak bisa tidur semalaman. Kepalanya dipenuhi berbagai pikiran aneh sejak pesta minum teh kemarin sore. Ia ingin membenturkan kepalanya ke batu tempatnya bersandar. Ia tak mengerti kenapa ucapan Gwangjong kemarin sore terus terngiang di kepalanya. Ia tak mengerti kenapa ada bagian dalam dirinya yang terasa luar biasa sakit saat Seokjin hanya bisa mengangguk dan menuruti kehendak ayahnya.
Aku berencana untuk menikahkan putra mahkota dengan putri dari Daejong.
Taehyung mengerang dan mengacak surai hitamnya. Kepalanya pening. Dadanya terasa sesak dan sakit. Ia tak mengerti kenapa. Kenapa kalimat itu seolah-olah menjadi neraka baginya? Kenapa hanya anggukan dari sang putra mahkota membuatnya sebegini menderita?
Ia menghembuskan napas berat, lalu membuka matanya. "Ayo kita lakukan lagi, Wangjanim." Saat Taehyung bangkit, Jungkook hanya memandanginya heran. Namun ia menurutinya, biar bagaimanapun saat ini Taehyung adalah gurunya.
Keduanya mengambil pedang kayu mereka, memasang kuda-kuda, dan memandang satu sama lain dengan pandangan siaga. Taehyung yang menyerang duluan, membuat Jungkook kewalahan. Tapi di tengah pertahanannya, Jungkook menyeringai. Sosok jenderal itu sudah kembali. Sedari dulu, Jungkook memang tak pernah bisa mengalahkan Taehyung dalam adu pedang. Pertahanannya sekuat baja, dan serangannya mematikan.
Taehyung menyerang secara bertubi-tubi, tak memberikan kesempatan pada sang pangeran untuk balas menyerangnya. Taehyung terus berusaha menjatuhkan sang pangeran, namun Jungkook bertahan dengan baik. Ia tersenyum simpul saat Jungkook mulai menangkis pedang kayunya dan menyerangnya balik.
Taehyung menangkis semua serangan yang dilancarkan oleh pangeran itu. Tapi, semua pertahannya runtuh saat kedua obsidiannya menangkap sosok putra mahkota Goryeo tengah berjalan menghampirinya dan juga Jungkook. Jungkook yang melihat sang jenderal lengahpun langsung mengayunkan pedangnya. Membuat pedang kayu Taehyung kembali terlempar dan Taehyung kembali tersungkur ke salju.
Taehyung meringis. Ia berusaha bangkit saat tangan itu terulur di depannya. Ia tahu itu bukan tangan Jungkook. Jungkook mengenakan pakaian berwarna merah tua, sedangkan sosok yang tengah mengulurkan tangannya mengenakan pakaian berwarna putih dengan aksen keemasan. Taehyung mendongak, dan mendapati Seokjin tengah mengulurkan tangannya. Ia meraih tangan itu.
"Terima kasih, Putra Mahkota."
"Hyungnim, ada apa denganmu? Kau tampak aneh hari ini." Jungkook memandang Taehyung khawatir. Membuat Seokjin mengernyit dan memandang Taehyung lekat-lekat. Sementara Taehyung yang dipandangi oleh kedua kakak beradik itu nampak mengusap tengkuknya canggung.
"Saya tidak apa-apa, sungguh. Anda tidak perlu mencemaskan saya, Wangjanim."
"Tapi―"
"Saya tidak apa-apa, Wangjanim."
Jungkook hanya bisa mengangguk pasrah saat Taehyung bersikeras kalau dirinya baik-baik saja. Ia menyerahkan pedang kayu Taehyung yang tadi terlempar. Taehyung menerimanya dengan senyum simpul.
"Ada apa anda kemari, Putra Mahkota?" Pandangan Taehyung teralih pada sosok Seokjin yang sedari tadi masih menatapnya. Sang putra mahkota segera berdeham dan mengaitkan tangannya di belakang punggungnya.
"Aku hanya tertarik melihat kalian berlatih di tengah musim dingin seperti ini." Seokjin terus memandangi Taehyung yang kini tengah membersihkan pakaiannya dari salju. "Baru kali ini aku melihat Jungkook bisa menjatuhkanmu, Jenderal."
Taehyung berhenti membersihkan pakaiannya. Ia balas memandang Seokjin, lalu mengulas senyum tipis. "Bukankah itu berarti kemampuan Jungkook Wangjanim sudah meningkat. Itu hal yang bagus, bukan?" Ia melirik Jungkook yang mengernyit aneh. Seperti hendak mengatakan sesuatu, namun diurungkannya.
"Kalau begitu," Seokjin mengambil pedang kayu dari tangan Jungkook. "Bagaimana kalau aku menantangmu, Jenderal Wang?" Seokjin tersenyum. Sementara Jungkook memandang kakaknya heran.
"Hyungnim, kau tidak akan bisa mengalahkan Jenderal Wang." Jungkook melipat tangannya di depan dadanya. Ia melirik ke arah Taehyung yang terdiam. Melihat sang jenderal seperti itu, membuatnya tetap beranggapan kalau sosok itu tak baik-baik saja.
Taehyung mengedikkan bahu. "Baiklah." Ia menggenggam pedang kayunya dan mengambil langkah mundur. Lalu memasang kuda-kudanya. Sementara Seokjin juga melakukan hal yang sama. Taehyung memberikan kesempatan pada sang putra mahkota untuk menyerangnya terlebih dahulu.
Serangan pertama berhasil ditahan oleh Taehyung, begitu pula yang kedua maupun yang ketiga. Tapi saat Seokjin menatap tepat ke matanya, pedangnya terayun ke arahnya, saat itu juga Taehyung kembali teringat ucapan sang raja.
Aku berencana untuk menikahkan putra mahkota dengan putri dari Daejong.
BRUK
Taehyung tersungkur, entah untuk yang keberapa kalinya. Seokjin dengan sigap menghampiri sang jenderal. Taehyung masih dalam posisi berbaring di atas tumpukan salju, ia terengah. Kedua obsidiannya terpejam. Ia menggelengkan kepala, berusaha mengusir suara Gwangjong dari kepalanya.
"Kurasa kau sedang tidak sehat, Jenderal."
"Saya rasa begitu." Taehyung mendudukkan tubuhnya. Ia memegangi kepalanya yang makin pening. Sial. Taehyung tetap memejamkan matanya, membuat kedua kakak beradik itu semakin mengkhawatirkannya.
"Saya baik-baik saja, jangan khawatir." Taehyung mengulas sebuah senyum simpul, lalu bangkit berdiri. "Maafkan saya, Wangjanim. Tapi, saya rasa latihannya cukup sampai di sini."
Jungkook mengangguk. Ia tahu ada yang tidak beres sedari awal pada diri sang jenderal. Sesuatu membuatnya menjadi seperti itu. Lalu ia melirik pada sosok kakaknya. Ia menghela napas panjang.
"Jenderal Wang, ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
Taehyung memandang ke arah sang putra mahkota. "Hanya berdua." Ia tahu saat Seokjin melirik Jungkook, ia ingin Jungkook pergi dari sana dan membiarkan mereka berdua dapat bicara.
"Kau yakin baik-baik saja, hyungnim?" Ia masih memandang khawatir pada Taehyung. Taehyung mengangguk. Jungkook yang pahampun langsung beranjak dari sana, membiarkan Taehyung berdua dengan kakaknya.
"Ada apa, Putra Mahkota?"
Seokjin terdiam. Kedua tangannya saling bertautan di belakang punggungnya. Ia sedikit menggigit bibir bawahnya. Ia tak tahu harus mengatakannya bagaimana. Tapi ia harus mengatakannya. Ia harus mengatakannya saat ini juga, atau tidak sama sekali.
"Ini soal, kau tahu, ayahku kemarin―"
"Apa ini soal pernikahan anda?"
Seokjin mengangguk lemas. Sementara Taehyung tetap mengulas senyumnya. "Apa anda tidak senang dengan hal itu?"
"Ya―tidak, bukan begitu maksudku. Aku masih terlalu muda untuk menikah, maksudku―bukannya aku akan menerimanya dengan senang hati saat aku sudah dewasa. Tapi,"
Taehyung mengernyit. "Tolong katakan apa yang ingin anda katakan, Putra Mahkota." Taehyung tidak mengerti kenapa Seokjin mengatakan itu padanya.
"Aku ingin mengatakan―"
"Permisi. Maafkan saya mengganggu anda, Putra Mahkota. Tapi, Permaisuri meminta Jenderal Wang untuk menghadap sekarang."
Seorang kasim dari Permaisuri Daemok datang tiba-tiba dan memotong pembicaraan Seokjin. Taehyung dan Seokjin menoleh bersamaan ke arah pria itu. Taehyung menghela napas. Sementara Seokjin memandang tak suka pada kasim itu.
"Sekarang?"
"Maafkan saya, Putra Mahkota. Jenderal Wang diminta untuk segera ke istana ratu."
Taehyung mengangguk. "Baiklah, aku akan segera ke sana. Terima kasih."
Seokjin masih memandang tak suka saat kasim itu membungkuk dan berujar permisi, kemudian berlalu. Ia menghela napas dan kembali memandang sosok jenderal di hadapannya.
"Maaf, Putra Mahkota. Saya harus pergi sekarang. Mungkin, anda bisa mengatakan itu lain waktu." Taehyung sedikit membungkuk pada Seokjin. Setelah mendapat anggukan, ia segera beranjak dari tempat latihan dan menuju istana dimana Ratu Daemok tengah menunggunya.
Sementara Seokjin langsung mendudukkan dirinya di batu besar di sana. Ia memandangi punggung Taehyung yang makin menjauh. Bahkan saat sosok itu tak lagi tampak, Seokjin masih berharap Taehyung akan berbalik dan memilih untuk mendengar apa yang akan ia sampaikan daripada menghadap ibunya. Seokjin kembali menghela napas.
Ia mengangkat satu tangannya. Saat lengan pakaiannya tersingkap, ia dapat melihat gelang berwarna abu-abu terikat di sana. Ia tersenyum memandangi gelang itu. Sekalipun ia sering mengenakan gelang lain di tangannya, namun gelang yang satu ini tak pernah ia lepas dari pergelangan tangannya.
Saat itu adalah ulang tahunnya yang kesembilan. Seperti biasa, Goryeo akan merayakan ulang tahun sang putra mahkota dengan memberinya berbagai macam hadiah. Seokjin tentu senang dengan semua hadiah itu. Tapi satu hadiah ini tak akan pernah ia lupakan. Hadiah kecil nan sederhana namun memiliki nilai tinggi di mata sang putra mahkota.
Malam harinya, tepat sebelum pukul dua belas malam. Taehyung kecil muncul di jendela kamarnya. Sosok itu tersenyum saat ia mendekatinya. Ia membiarkan Taehyung masuk. Lalu apa yang dikatakan oleh Taehyung saat itu sungguh tak bisa ia lupakan.
"Maafkan saya, Putra Mahkota. Mungkin saya bukan menjadi yang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada anda, tapi saya akan menjadi yang terakhir yang mengucapkannya pada hari ini. Selamat ulang tahun, Putra Mahkota. Terimalah hadiah dari saya. Ini bukan hadiah mahal seperti yang dibelikan para bangsawan untuk anda, ini hanya hadiah kecil dari saya. Semoga anda menyukainya. Saya membuatnya sendiri."
Saat itu, Taehyung memasangkan sebuah gelang yang dibuatnya sendiri ke tangan Seokjin. Membuat Seokjin berkaca-kaca. Sejak saat itu, dirinya jatuh cinta pada sosok bocah dari Hubaekje itu. Ia diam-diam mengamati tiap kali Taehyung berlatih. Gwangjonglah yang langsung turun tangan untuk melatih Taehyung.
Berkali-kali ia ingin berlari dan membantu Taehyung yang ambruk saat Gwangjong melatihnya terlalu keras. Satu kali, ia meringis ngeri saat melihat banyaknya bekas luka di tubuh bocah itu. Dirinya juga berlatih bela diri, namun jenderal perang terdahululah yang melatihnya. Ia sendiri tak pernah merasakan tangan dingin sang ayah secara langsung. Tapi ia tahu seberapa mengerikan sosok ayahnya hingga bisa melahirkan seorang jenderal seperti Taehyung.
Memang ia tak dekat dengan Taehyung seperti Jungkook, tapi ia memiliki beberapa kenangan berharga dengan sosok itu.
"Jenderal Wang menghadap Yang Mulia Ratu."
Taehyung membungkukkan badannya. Lalu kembali menegakkan tubuhnya saat mendengar gumaman dari sang ratu. Sang ratu sendiri sedang meminum teh di singgasananya. Wanita itu sama sekali tak memandangnya sejak ia menginjakkan kaki di ruangan itu.
"Ada perlu apa anda memanggil saya, Yang Mulia?"
Wanita itu meletakkan gelas tehnya. Setelah menyuruh kedua dayang di sana untuk keluar, ia memandang Taehyung yang masih menundukkan kepalanya. Wajahnya datar, tak menampakkan ekspresi apapun.
"Bagaimana menurutmu rencana pernikahan Putra Mahkota?"
Taehyung terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa. Ia sendiri tak tahu kenapa sang ratu menanyakan hal seperti itu padanya. Maka dengan suara yang ia buat setenang mungkin, ia menjawab. "Maafkan saya, Yang Mulia. Tapi saya tidak berpikir kalau pendapat saya berpengaruh pada rencana ini."
"Begitukah?" Wanita itu menarik sudut bibirnya sinis. Dipandanginya jenderal muda itu terus menerus.
Kemudian wanita itu bangkit dari singgasananya. Jubah sutranya berkibar lembut. Ia melangkahkan kakinya mendekati Taehyung. Membuat sang jenderal was-was. Wanita itu berhenti tepat di depannya. Taehyung hanya dapat melihat kaki sang ratu yang terbalut sutra berwarna merah terang.
"Kuharap, kau sama sekali tidak mengganggu, Jenderal."
Taehyung tersentak, namun ia tak berani untuk mengangkat kepalanya dan menatap langsung sang ratu. Ia tetap menundukkan kepalanya. Sang ratu kembali melangkahkan kakinya, kali ini wanita itu berjalan memutari dirinya. Taehyung meneguk ludahnya perlahan.
"Aku tahu semuanya, Jenderal." Ia menghentikan langkahnya sebentar hanya untuk menyentuh rambut panjang sang jenderal. Lalu ia menyentuh bahu tegap itu. Sang ratu kembali melangkah dan berdiri di samping Taehyung. "Aku tahu kau menyimpan perasaan lebih pada putra sulungku."
Kedua obsidiannya membola seketika. Ia menoleh dengan cepat ke arah wanita itu. "Apa maksud anda? Saya tidak―"
"Sst, jangan menyela pembicaraanku, Jenderal." Wanita itu meletakkan jemari lentiknya pada bibir penuh sang jenderal. Sudut bibir sang ratu masih tertarik. Membuatnya gugup bukan main. "Dan sepertinya, kedua putraku juga menyimpan perasaan yang sama padamu."
Saat itu juga, Taehyung mematung di tempatnya berdiri. Sementara sang ratu kembali berjalan memutari dirinya. "Aku heran, apa yang mereka lihat darimu? Kau memang tampan, dan aku akui kau juga cantik untuk ukuran seorang pria." Wanita itu kembali menyentuh rambutnya, namun kali ini ia memainkannya. Wanita itu membelai rambutnya dan memainkannya dengan jemari lentik itu. "Seharusnya aku tidak pernah membiarkan kedua putraku bergaul denganmu."
"Kalau salah satu putriku yang menyukaimu, itu tidak masalah bagiku. Tapi kali ini kedua putrakulah yang menyukaimu. Itu masalah besar bagiku, kau tahu?"
Taehyung tetap diam saat wanita itu terus memainkan rambutnya. Ia sendiri tak pernah tahu kalau kedua pangeran itu memiliki perasaan lebih dari sekedar teman padanya. Ia pikir hanya dirinya sendirilah yang tak normal dan memendam perasaan pada sang putra mahkota.
"Kau punya saran untuk masalah ini, Jenderal?"
Taehyung bungkam. Bahkan saat wanita itu kembali berdiri tepat di hadapannya dan menarik dagunya.
"Bagaimana kalau aku menikahkanmu juga? Agar kau tidak mengganggu kedua putraku lagi."
"Maafkan saya, Yang Mulia. Tapi, saya akan menolak rencana itu. Saya sendiri sama sekali tidak mengganggu kedua putra anda. Saya hanya melakukan tugas saya sebagai jenderal di istana ini, Yang Mulia."
Taehyung memejamkan matanya dan menjauhkan tangan itu dari dagunya. Ia memberanikan diri untuk menatap langsung pada sepasang manik milik sang ratu. "Saya yakin itu yang ingin Yang Mulia dengar dari saya. Saya tidak akan mengganggu kedua putra anda." Taehyung mengulas senyum formalnya.
"Saya rasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan saat ini. Saya permisi, Yang Mulia." Setelah membungkuk, Taehyung membalikkan tubuhnya dan beranjak meninggalkan ruangan pribadi sang ratu. Meninggalkan sang ratu yang menggeram kesal sembari memandangi dirinya yang menghilang di balik pintu.
Seokjin berkali-kali memandangi lorong itu, namun tak ada tanda-tanda seseorang keluar dari sana. Ia berjalan mondari-mandir di tempatnya. Menunggu seseorang untuk keluar dari sana. Sembari menyusun apa yang harus ia katakan di dalam kepalanya. Beberapa kali ia menoleh hanya untuk melihat lorong kosong nan sepi. Ia menghela napasnya.
TAP TAP TAP
"Jend―"
Harapannya pupus saat yang dilihatnya hanyalah seorang dayang yang tengah membawa nampan berisi teh. Ia kembali menghela napasnya setelah membiarkan dayang itu melewatinya. Seokjin kembali menyandarkan tubuhnya pada dinding kayu lorong itu.
Ia terus memandangi ujung lorong itu. Berharap pintu di sana terbuka dan menampakkan sosok yang sedari tadi ditunggu olehnya. Kepalanya tertunduk, dan kedua onyxnya terpejam. Ia menghirup napas panjang dan berusaha menenangkan dirinya. Sejak berusaha mengatakannya tadi, dirinya menjadi sama sekali tak tenang. Jantungnya berdebar diluar kebiasaan, entah kenapa.
"Putra Mahkota, sedang apa anda di sini?"
Seokjin tersentak. Ia mendongakkan kepalanya dan menemukan sosok sang jenderal berdiri di hadapannya. Sosok yang ia tunggu sedari tadi. Ia berdeham untuk menghilangkan kecanggungan dalam dirinya sendiri.
"Aku menunggumu, Jenderal. Ada yang ingin kukatakan padamu, dan aku harus mengatakannya sekarang juga."
Taehyung mengernyit. "Sepenting itu kah?"
Seokjin langsung mengangguk dan menarik tangan san jenderal. "Sangat penting. Tapi aku tidak bisa memberi tahumu di sini." Setelah itupun ia langsung membawa sang jenderal menjauh dari wilayah istana. Menuju halaman Damiwon yang cukup luas dan sepi.
Taehyung mengernyit. Ia pasrah-pasrah saja saat sang putra mahkota menyeretnya ke tepi danau kecil di sana. Ia memandangi sang putra mahkota yang masih memegangi lengannya. Taehyung menunduk dan berdeham melihat tangan sang putra mahkota.
"Maaf." Seokjin sadar kalau dirinya masih menggenggam tangan Taehyung, dan Taehyung mulai risih dengan hal itu. Tapi ia sama sekali tak berniat untuk melepaskan tangannya. Beberapa saat kemudian, ia juga menggenggam tangan Taehyung yang lain. Membuat laki-laki itu memandangnya heran.
"Ada apa, Putra Mahkota?" Suaranya dibuat setenang mungkin. Berusaha menutupi perasaan gugup yang tiba-tiba menyerang dirinya. Entah dirinya yang terlalu percaya diri, atau apa, tapi ia merasa sang putra mahkota akan mengatakan sesuatu yang penting. Tentang perasaannya, mungkin? Tidak. Tidak mungkin. Jangan terlalu percaya diri, Taehyung.
Tapi ada satu sisi dalam dirinya yang juga merasa takut. Ia takut jika apa yang dikatakan oleh Ratu Daemok benar adanya. Jika sang putra mahkota juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Walaupun ia juga senang. Itu berarti, cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Tanpa sadar, tangannya mengepal dan sedikit meremas tangan Seokjin yang masih menggenggamnya.
Sementara Seokjin, dirinya masih mengatur napasnya dan berpikir apa yang harus ia katakan. Ia berusaha menyusun kata-kata di dalam kepalanya. Perlahan, ia menatap kedua obsidian itu. Ia jelas merasakan saat Taehyung meremas tangannya. Ia masih bungkam. Berusaha menyiapkan hatinya sendiri.
"Jenderal Wang―tidak. Maksudku, Taehyung-ah. Aku harus mengatakan ini sekarang juga. Ini sangat penting. Aku tidak―"
"Tolong jangan bertele-tele, Putra Mahkota." Taehyung bukanlah tipe orang yang senang bertele-tele. Ia orang yang akan selalu berbicara langsung ke topik pembicaraan, tanpa basa-basi. Maka dari itu orang-orang akan menganggapnya dingin dan arogan, walaupun sebenarnya itu tidak sepenuhnya benar.
"Baiklah. Aku," Seokjin menggenggam tangan itu lebih erat. Mendadak dirinya luar biasa gugup. Dirinya tak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Seokjin selalu bisa mengatakan apa yang ingin ia katakan dengan lancar. Tanpa terbata-bata seperti ini. Sialnya kenapa hanya karena sosok jenderal muda di hadapannya, ia menjadi seperti ini.
"Aku mencintaimu, Taehyung-ah."
Taehyung mematung. Dugaannya benar. Dan apa yang dikatakan oleh sang ratu juga benar adanya. Ia menundukkan kepalanya.
"Mungkin ini terdengar konyol. Ini tabu, dan aku tahu itu. Tapi aku juga tidak bisa terus-menerus seperti ini. Aku tahu sebentar lagi aku akan dinikahkan dengan sepupuku sendiri, maka dari itu aku harus mengatakan ini. Wang Taehyung, aku mencintaimu. Sejak usia kita sembilan tahun."
Kedua obsidian itu membulat. "A-apa? Selama itu?" Anggukan dari Seokjin membuatnya kembali bungkam.
"Dan aku tahu kalau kau juga sama, Taehyung-ah."
Bahkan saat Seokjin menariknya untuk semakin mendekat dan mengait pinggangnya, Taehyung bergeming. Saat Seokjin mendekatkan wajahnya perlahan dan menempelkan kedua belah bibirnya, Taehyung tak bisa menolak karena perasaan bahagia membuncah di dalam dirinya. Bahkan tanpa sadar, kedua tangannya memeluk tubuh sang putra mahkota.
Saat kedua bibir itu bertaut, Taehyung merasa inilah saat yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Walaupun ia tahu, saat ini tidak akan bertahan lama.
.
To be continued...
.
Okay here is the 2nd chapter! Hope you like it guys~
Kayanya disini alurnya agak kecepetan deh, ya sudahlah/? Karena ada tujuan tertentu aku bikin alurnya agak cepet/? Ini juga gak akan terlalu panjang aku bikinnya
Well, here is the spoiler
Ini berdasarkan sejarah, yg ditambah imajinasi liar author aja wkwkwk
Jadi kalo ada yg tau sejarah raja-raja Goryeo, ya mungkin bakal tau ini ff bakal kemana alurnya wkwkwk
Note :
Kim Seokjin di sini sebenarnya Wang Ju, putra pertamanya Gwangjong. Soon to be Gyeongjong. Disini umurnya dia masih 19 tahun, dan aku bikin umurnya Taehyung sama kaya dia.
Jeon Jungkook itu Hyohwa, gelar terakhirnya itu Putra Mahkota Hyohwa. Aku belum nemu artikel tentang Hyohwa ini, tapi aku bikin disini umurnya dia lebih muda 3 tahun dari Seokjin. Selain Jungkook, Seokjin disini punya 3 saudara perempuan, tapi mungkin akan aku munculin nama aslinya aja.
Sementara Wang Taehyung itu cuma tokoh fiktif. Sama sekali gak ada di dalam sejarah. Jadi kisahnya Seokjin sama Taehyung disini hanya fiksi, yah, namanya juga fanfiction kkkkkk~
and big thanks for all who review, follow, and favorite my fic
Okay, minat ngasih saeguk abal-abal ini review lagi?
