Black or White
Jung Jaehyun
Lee Taeyong
Johnny Seo
Ten
NCT Member
NCT belongs to God, Their Parents and SM entertainment
Cerita ini hanya delusi penulis, semua kejadian hanya rekayasa semata.
Chapter 2
Dia melangkah perlahan, sesekali dia mengedarkan pandangannya, tetapi dalam penerangan yang sangat remang-remang, matanya sama sekali tidak dapat menerima cahaya, sehingga tentu tak ada yang dapat dilihat matanya. ini juga sebuah keuntungannya, sehingga tak ada satupun yang dapat melihatnya memasuki rumah. Dia mengangkat tinggi-tinggi kaki dan tangan yang kini tengah memegang kedua sepatunya, dia akan menaiki tangga ini dan memasuki kamar dengan tenang.
"Lee Taeyong."
Sialan. Betapa bodohnya dia. Mana mungkin Ayahnya sama sekali tidak mengetahui tingkahnya. Ayahnya itu pasti telah masuk ke kamarnya dengan memakai kunci cadangan miliknya –sebelum dia pergi, dia sempat mengunci pintu, tidak mungkin Pak Tua itu tidak memiliki kunci cadangan kamarnya –oke ralat, kamar Taeyong.
Dia membalikkan badannya, tepat disebuah sofa single, Ayahnya duduk dan Ibu –ukh tirinya yang berada disebelahnya, tangan lentiknya berada di pundak Ayahnya, seolah berusaha membuat dia tak melakukan tindakan aneh kepada anak laki-lakinya itu.
Attention seeker, keluhnya dalam hati.
Tanpa perintah, dia mendudukkan dirinya tepat disamping Ayahnya di sebuah sofa panjang.
"Darimana kau?" Matanya Ayahny itu menatap penuh selidik kearahnya, dia menggerakkan jaketnya lebih ke dalam agar tak ada satupun aroma alkohol yang tercium dari tubuhnya.
"Dari kampus." Dia berkata seirit mungkin, berdoa dalam hati agar aroma mulutnya tidak tercium, bodohnya dia dengan semangat meneguk dua botol alkohol sendirian.
"Dengan pakaian seperti ini." Dia menyeringitkan dahinya. Memang ada apa dengan pakaiannya? Dia hanya memakai jaket kulit berwarna hitam dengan t-shirt putih didalamnya dan celana jeans ketat dengan robek di dua lututnya, ini pakaian paling modis yang berhasil dia temukan di lemari Taeyong.
"Memangnya aku tidak boleh memakai pakaian seperti ini ke kampus." Serunya dengan nada suara yang sengaja dipelankannya.
"Anyeonghaseyo, appa, eomma."
Ini dia, anak kesayangan mereka baru saja pulang, serunya, dia menolehkan kepalanya menatap tajam namja yang baru saja masuk, yang syukurnya memutuskan perkataan Ayahnya dan berdo'alah agar Ayahnya itu tidak ingat lagi dengan kata-kata yang akan dilemparkan kepadanya.
"Oh, Ten. Kau baru pulang." Dia sungguh benci dengan suara itu. "Langsung ke masuk ke kamarmu."
Apa ini?
"Ten juga pulang larut malam, mengapa cuman aku yang diinterogasi?" Dia menolehkan kepalanya menatap tepat ke arah Ayahnya itu, dia menuntut keadilan di rumah ini.
"Oh, aku baru pulang dari kampus."
"Lalu, kau menuduhku baru pulang dari club." Dia tahu Ten pasti menuduhnya hanya untuk menjatuhkan harga dirinya didepan Ayahnya. Dia pasti yakin beberapa detik kemudian Ten akan memasang wajah tak bersalah miliknya. Walaupun benar dia dari club.
"Bukan.. bukan begitu, hyung." Ten panik, dia sungguh tidak bermaksud begitu.
Lihat itu. Jika dia memegang sesuatu yang sangat tajam sekarang, dia sudah pasti melempar ke wajah yang kini tengah memasang raut polos, menyebabkan tanda gores saja tak apa baginya.
"Lee Taeyong!" Suara tinggi Ayahnya kini terdengar, membuat dia menoleh, kembali menatap penuh sengit. "Ten, masuk ke kamarmu langsung. Dan kau, Taeyong, Ayah tidak akan memperbolehkanmu keluar dari rumah selama satu bulan penuh." Suaranya yang tadinya berkata sangat lembut kepada Ten, kini berubah kembali sengit. "Kim songsaengmin tadi menelponku, dan mengatakan kau sama sekali tidak ada dirumah."
Tua bangka itu. Seharusnya dia menunggu sebentar tadi, setidaknya dia bisa mengancam guru private Taeyong atau dia bisa mengikat kedua tangannya, menyumpal mulutnya dan bisa dipastikan dia tidak akan berani mengadukan kelakuannya kepada Ayah. Tapi sudahlah, lagipula Taeyong memang tidak pernah keluar dari rumah setelah dari kampus, dia tidak menyebabkan kerugian atas tubuh Taeyong.
Tunggu. Dia menyeringai, kita lihat bagaimana raut wajah mereka berdua!
"Tadi aku melihat Ten diantar oleh laki-laki."
Assa, ku dapatkan kalian berdua.
"Itu Jaehyun." Dia cemberut, ketika raut wajah wanita itu kembali berubah.
"Oh, Jaehyun. Dia teman sekampus Ten." Katanya dengan nada panik, takut sang suami tidak mempercayainya.
"Sudah takdirnya begitu, eomma akan membela anak kandungnya, sedangkan appa akan membela semua yang dikatakan Isteri tercinta." Dia berkata dengan malas, dia benar. Bahkan Taeyong membenarkan semua perkataannya.
"Lee Taeyong." Suara tinggi itu terdengar kembali, tapi dia tidak gentar, dia menegakkan tubuhnya, lalu kembali menatap tajam Ayahnya itu.
"Aku lelah. Aku permisi dulu, aboeji." Dia menampuhkan kedua tangannya didepan perut, lalu membungkukkan badannya kedepan. Setidaknya dia harus sopan kepada Ayahnya yang –sangat ukh dia cintai. "Dan ajhumma." –ralat nenek sihir.
Dia melangkahkan kakinya perlahan, lalu menaiki tangga. Tepat di ujung tangga, adik tirinya tengah menunggu disana, menatap dengan raut yang sungguh menyebalkan, memandangnya dengan rasa iba.
"Apa?" Sungutnya.
"Aniyo hyung." Ten menggelengkan kepalanya perlahan, lalu membuka jalan membiarkan hyungnya itu berjalan terlebih dahulu –walaupun jalan sangat lebar, dia hanya tak ingin hyungnya itu berteriak marah kepadanya.
"Kau mewarnai rambutmu, hyung."
Sial. Dia merutuki kebodohannya, seharusnya dia memakai kupluk atau topi untuk menutupi surai hitamnya, mengapa dia tidak berfikir sejauh ini?
"Memangnya aku tidak boleh mewarnai rambutku. Lagipula, hitam ataupun putih, warna rambutku, apa peduli denganmu?" Dia berbalik, meninggalkan Ten yang menatapnya dengan tatapan sedih.
"Aku peduli padamu hyung. Sungguh sangat peduli."
"Mengapa kau suka sekali melamun disini?" Dia berjalan perlahan, mendekati namja yang sangat mirip dengannya itu –hanya warna rambut mereka yang berbeda. Taeyong kini tengah duduk diatas ayunan, dan David menduduki ayunan satunya yang kosong, dia juga mengikuti gerakan Taeyong, membuat Ayunan mereka bergerak bersisian.
"Kau sudah disini." Dia tersenyum perlahan kepada saudara kembarnya itu. "Sudah puas bersenang-senangnya." David menyeringai menjawab pertanyaan Taeyong.
"Belum sih, aku belum sempat make out." Jawabannya ini membuat Taeyong berteriak kesal. "Tenang saja. Aku tidak akan membiarkannya."
"Pinky swear." David memandang jijik pada kelingking yang disodorkan Taeyong padanya.
"Kekanak-kanakkan sekali." Walaupun David berkata seperti itu, dia tetap menyatukan kelingking miliknya dengan milik Taeyong.
"Kau bisa muncul lagi, kalau kau mau." David memandang perlahan saudara kembarnya itu, dia sungguh benci raut wajah sedih kini terpasang di wajah Taeyong.
"Kau seharusnya melawan mereka." Taeyong menolehkan kepalanya, dia tersenyum pahit.
"Aku tidak ingin melawan mereka. Lagipula ada kau yang melawan mereka." Taeyong menggerakkan tangannya, menggenggam tangan David, dia meremasnya dengan sangat lembut. David menghela napasnya perlahan, ini membuatnya tak bisa pergi, Taeyong sangat membutuhkannya.
"Baiklah aku akan menggantikanmu besok. Tetapi lusa, aku tidak berminat." Serunya sambil melepas pegangan tangan Taeyong yang membuat Taeyong tersenyum kecil. "Lusa ada tes, bukan?" Tadi ketika melihat memo kecil itu di meja belajar Taeyong, dia menyeringit ngeri. Dia tidak takut siapapun di dunia ini kecuali belajar.
"Tetapi apa yang harus kulakukan dengan rambutku?"
"Kau hanya perlu menghindari samchon dan semua akan beres." Kata Taeyong perlahan, dia menggerakkan kakinya bermain-main dengan rumput hijau dibawahnya.
"Memangnya dia sering mengunjungimu di kampus." Taeyong mendongak.
"Tidak terlalu sering. Lagipula aku selalu berlari ketika bertemu dengannya." Dia menundukkan kepalanya, entah mengapa rasa tak enak berada dihatinya. Taeyong kini dapat merasakan sebuah tangan mengelus lembut punggungnya, dia mendongak, melayangkan tatapan terima kasih kepada David.
"Aku tidak akan memberikan lebih." Serunya yang membuat Taeyong tersenyum.
Dia tidak pernah bangun sepagi ini. Jika dihitung, dia sudah menguap sebanyak empat kali dan dia baru saja menginjakkan kaki di lobi kampus Taeyong selama lima menit. Si Taeyong sempat-sempatnya memiliki kelas sepagi ini. Makhluk malam sepertinya mana bisa pergi sepagi ini.
Dia mendongakkan kepalanya memasang wajah cool untuk membalas semua tatapan yang ditujukan padanya. Beberapa wanita kini meliriknya, tentu saja siapa yang tidak tertarik dengan wajah tampannya. Taeyong saja yang tidak memanfaatkan dengan secara tidak benar, kalau saja Taeyong memanfaatkannya dengan benar, semua wanita bahkan pria pun akan takluk langsung di kakinya, dan mungkin dia bisa make out.
Tidak. Tidak. Dia menggelengkan kepalanya perlahan. Dia sudah janji dan tidak mungkin dia mengkhianati saudara kembarnya itu. Dia memang berandalan kelas kakap, pemilik mulut terpedas di dunia tetapi jika itu semua menyangkut Taeyong, dia akan sangat serius dan menjadi sangat gentleman.
"Setahuku tidak ada mahasiswa disini bernama David." Sepertinya dia mengenal suara ini, suara yang semalam diliputi oleh gemangan keras dari musik club. Dia menoleh mendapati namja yang bernama Michael, bukan, Harry, bukan, Justin, ah pokoknya berawalan J.
"Johnny, Johnny Seo, Lee Taeyong-ssi." Katanya yang hampir membuat err Taeyong terkejut.
"Darimana kau tahu namaku?" Johnny tersenyum, kini dia terlihat seperti orang Korea, matanya terlihat sipit ketika tersenyum.
"Tentu karena aku-."
"Tipikal chaebol." Johnny tersenyum perlahan, lalu melayangkan tangannya melingkar di pundak Taeyong.
Jaehyun hampir saja menyemburkan makanannya ketika targetnya kini muncul dengan surai hitam. Padahal menurutnya lebih baik mendekati si Putih.
-dia namja berambut hitam dengan tatapan tajam. Dia sangat berbeda denganku, auranya sungguh sangat kuat, semua orang pasti ingin melihatnya.
Jaehyun tahu mengapa semua orang sangat tertarik dengan Taeyong –bersurai hitam, memang benar, auranya sungguh menakjubkan.
Apa yang harus dilakukan? Matanya kini mengikuti pergerakan Lee Taeyong bersurai hitam di hapit oleh seorang namja, bukankah itu Johnny? Dia memang mahasiswa yang suka sekali belajar tetapi bukan berarti dia tak mengenali sekitarnya.
Johnny salah satu pria paling populer di kampus, tetapi mengapa Taeyong bersamanya?
Tidak. Itu bukan urusannya. Dia harus-
-mengangkat telepon. Dan itu dari Professor Choi. Telunjuknya dengan sigap menggeser gambar telepon berwarna hijau itu, dengan secepat mungkin mengangkat telepon dari pembimbing tugas akhirnya itu.
"Yoboseyo."
"Bagaimana?" Jaehyun memutar bolanya malas, Professornya ini sama sekali tidak akan basa-basi jika menyangkut pekerjaan.
"Errr... tapi bukan Lee Taeyong bersurai putih yang muncul, jadi... mungkin..."
"Jaehyun, kau ingin lulus dengan nilai baik, bukan? Kau mau jadi psikiater, bukan? Kalau kau ingin menjadi psikiater, kau harus melihat kasus dari dua sisi. Jadi, Jaehyun kalau kau ingin lulus dekati dia, SEKARANG."
Jaehyun menggigit bibir bawahnya, gawat kalau dia tidak lulus hanya karena hal ini. Dia bergerak panik, tangannya dengan cepat memasukkan smartphonenya kedalam kantong. Dia harus segera melakukan sesuatu.
"Jaehyun, kau sudah selesai?" Jaehyun terkejut, sejak kapan Ten sudah berada disebelahnya.
"Ah iya hyung. Nanti kita bicara lagi. Sampai jumpa." Seru Jaehyun, dia berlari dengan tergesa-gesa dan meninggalkan Ten sendirian.
Ten masih terus memandang tubuh Jaehyun yang kini telah menghilang dibalik lorong. Tanpa Jaehyun ketahui, Ten sudah memperhatikan Jaehyun sejak dia datang ke kantin, dia tersenyum ketika melihat Jaehyun datang ke kantin ini, karena jujur saja Fakultas Psikologi cukup jauh dari sini. Tetapi ketika dia melihat siapa yang menjadi konsentrasi mata Jaehyun, senyumnya mendadak luntur. Orang itu, orang telah dianggap seorang hyung, walau dia tidak pernah menganggapnya dongsaeng, telah berhasil mengambil fokus milik Jaehyun.
Jaehyun bahkan tidak sadar, bahwa Jaehyun sama sekali tidak menyentuh makanannya dan yang paling penting Jaehyun sama sekali tidak memperhatikannya datang. Ten menghela napasnya, walaupun begitu Ten sadar, Taeyong memang berbeda pagi ini, auranya sungguh bersinar, dia seperti bukan Taeyong yang biasa, apalagi ketika dia bertengkar dengan Ayah dan dirinya semalam. Taeyong biasanya tidak pernah menyulut emosi dan langsung masuk ke kamar, mengunci diri disana.
Dengan kesal, dia menutup teleponnya secara sepihak. Dengan sedikit tergesa-gesa, dia memasukkan smartphone ke dalam saku tuxedonya. Matanya lalu beralih ke pintu mahoni.
"Lee sajangnim sedang-." Seorang wanita kini berusaha menghalangi dirinya.
Bodoh, itu bukan urusannya. Dia harus bertemu dengan Kakak Iparnya itu, sekarang. Ketika dia berhasil membuka pintu, dia disodorkan oleh senyuman manis yang membuatnya muak.
"Adik Ipar. Ada apa kau kesini?" Dia berjalan perlahan lalu mendudukkan dirinya diatas sofa empuk.
"Hallo, Kakak Ipar yang bahkan tidak aku ketahui tempat tinggalnya. Apa kabarmu?" Sosok yang dipanggil Kakak Ipar itu mengeringai.
"Tentu kabarku baik. Ada urusan apa, kau menanyakan rumahku?"
"Tentu untuk menjenguk Isteri dan anak barunya serta tentu menjenguk Taeyong." Katanya dengan santai.
"Kau bisa menjenguk Taeyong setiap hari di kampus. Mengapa kau harus repot-repot mengetahui rumah kami?" Dia memalingkan wajahnya, sial, namja brengsek ini benar. "Apa Taeyong masih marah padamu karena kepergianmu ke Inggris beberapa tahun yang lalu?" Gigi gemelutuk, tangannya terkepal, sial, dia harus bersabar.
"Memang mengapa kalau aku ingin mengunjungi kalian? Aku masih berstatus samchon bagi Taeyong. Jadi Lee-ssi yang terhormat, bisa kau katakan dimana alamat rumahmu?"
Ini yang bukan dia inginkan. Sebenarnya dia memang namja yang populer tetapi sungguh kepopulerannya ini dikarenakan wajahnya, sebenarnya selalu orang lain yang mendatanginya bukan sebaliknya jadi dia sungguh tidak tahu bagaimana berkenalan dengan seseorang. Lihatlah dia sekarang, dia malah seolah menjadi stalker mengikuti Taeyong kemana saja. Kini dia tengah berada di perpustakaan tengah memandang Taeyong dari jauh yang tengah sibuk mengambil sebuah buku.
Jaehyun kini tengah memegang sebuah buku yang sangat tebal, dia tidak tahu buku apa itu, dia membalikkan badannya ketika Taeyong membalikkan tubuhnya dengan spontan. Ketika dia bergerak ke ujung rak dan siap untuk membalikkan badannya melihat Taeyong, tiba-tiba—
Brukk.
Buku tebalnya tepat mengenai kepala Taeyong. Ini bukan scene awal perkenalan mereka yang diharapkan Jaehyun. Bukan dengan cara seperti ini Jaehyun ingin berkenalan.
"Heyy." Dia berteriak, tangan mungilnya kini sibuk mengelus kepalanya. Dia memadang kesal kearah Jaehyun.
"Maafkan aku." Jaehyun sungguh gugup di tatapan oleh Taeyong seperti itu.
"Namaku Jaehyun, Jung Jaehyun."
Jung Jaehyun. Jaehyun, sepertinya dia mengenal namanya itu. bukan, bukan, teman kecil Taeyong atau sejenis, lagipula dia tidak mengenal teman-teman Taeyong sih, nama itu pernah disebutkan oleh Ten.
Taeyong mengeringai. "Namaku Taeyong. Lee Taeyong." Ujarnya. Mungkin akan menyenangkan jika dia bermain-main sebentar dengan Jaehyun.
"Bagaimana kalau sebagai permintaan maafku, aku akan mentraktirmu kue-kue manis?" Taeyong mengangguk, membuat Jaehyun hampir saja berteriak berhasil jika dia tidak mencoba menahannya.
TBC
Author note:
hai kembali lagi sama aku *lambai-lambai tangan*
aku nggak tahu lagi kesambet apa, tapi hebatnya aku fast update lol
nggak mau banyak kata deh, semoga kalian suka, kritik dan sarannya *3*
oh iya yang udah review terima kasih, maaf kalau nggak bisa balas satu-satu TT
makasih juga yang udah follow + favorite, nggak bisa banyak, kita bagi-bagi cinta Taeyong sama NCT aja gimana lol
