A Shingeki no Kyojin Fanfiction by medsmods

Chapter 2 of A Little Dreamer

Shingeki no Kyojin Original Character Belong to Hajime Iseyama and his group.

.

.

.

Summary: Akhirnya usaha ku berhasil membuatku melangkahkan kakiku ke langkahku yang pertama. Dengan ini akan terus kulangkahkan kakiku, tanpa henti, dan dengan cara & metode apapun yang harus di gunakan, meskipun itu illegal atau menentang aturan, demi keberlanjutan kehidupan umat manusia, aku akan merebut dunia itu kembali dari tangan para raksasa. / Chapter 2 of Little Dreamer / Alternative Canon.

Aku masuk kedalam Pasukan Pengintai bersama beberapa kadet, dua diantaranya yang ku kenal karena keunikannya adalah Hanji Zoe dan Mike Zacharius. Tak butuh waktu lama, aku cukup akrab dengan mereka. Pimpinan Pasukan pengintai yang kala itu di pegang oleh Komandan Keith Shardis, secara hangat namun tegas menyambut bergabungnya kami ke Pasukan Pengintai. Tak lama setelah itu, debut pertama kami dalam Ekspedisi keluar dinding pun dimulai!

.

.

.

The First Step

.

.

.

Kami di bagi dalam beberapa kelompok yang kemudan akan disesuaikan dengan strategi dan formasi yang sudah disusun, lalu beberapa senior menjelaskan tentang strategi dan formasi. Mereka berkata, beberapa pasukan berpencar ketika di luar dinding nanti sesuai dengan perencanaan, demi untuk memperlajari beberapa hal, aku dan pasukan baru yang lainnya mendapat kesempatan untuk berlatih beberapa kali sebelum hari H. Aku belajar cukup banyak dari situ, dan setelah mematangkan latihan serta memahami semua strategi, hari keberangkatanpun tiba.

"Erwin, apa kau sudah pernah melihat Titan?" Tanya salah seorang senior padaku.

"Belum. Sama sekali belum."

"Pastikan kau tidak kan mengompol di celana ya! Inilah perkenalan pertamamu dengan dunia luar!" ucapnya dengan semangat dan beberapa humor dalam kalimatnya, walaupun mungkin dia tau kekuatan titan bukan untuk lelucon. Terlihat dari ekspresi wajahnya yang kemudian kembali menjadi serius.

Bersamaan dengan itu, barisan pasukan yang berada di depan mula melaju, diikuti barisan barisan belakangnya. Sesuatu dalam diriku merasakan suatu ketidaksabaran. Aku berlari dengan kudaku, semakin dekat, dan semakin dekat dengan dinding terakhir perbatasan umat manusia dengan Titan, hingga akhirnya aku benar-benar melewati gerbang tersebut dan melihat dunia luar untuk pertama kalinya.

Setelah sekian lama, rasanya aku dapat kembali tersenyum dengan benar-benar tulus, aku merasa benar-benar bahagia, walaupun seharusnya aku focus dalam misi, tapi aku merasa benar-benar senang, lebih senang dari apapun yang ada di dalam dinding. Aku merasa bahwa, tak lama setelah ini, aku akan mengetahui fakta tentang dunia ini, pasti, pada suatu hari.

Misi terus bejalan, kami mulai menemui Titan, lagi-lagi jantungku berdegup kencang, aku benar-benar seperti di pukul oleh pemukul lalat raksasa, aku selalu terkejut dengan apa yang baru saja kulihat sehingga aku kehilangan focus terhadap misi. Aku seperti melihat tayangan langsung dari apa yang selama ini kubayangkan. Tayangan langsung dari apa yang selama ini orang-orang di sekitarku ceritakan. Titan yang berukuran 3-4 meter, hingga yang benar-benar besar, 15 meter. Mereka benar-benar raksasa. Aku tak bisa berhenti merasa tegang, namun aku tidak boleh tertinggal oleh yang lainnya. Rasaya, seperti ketika kau mencoba melihat langit indah yang ada diatasmu, dan kau mendapati sesosok raksasa menghalanginya. Raksasa yang benar-benar tinggi dan besar. Sangat mengerikan.

Misi berjalan sulit dan semakin sulit hingga akhirnya Komandan Shardis memerintahkan pasukannya untuk mundur. Itu sekitar 1 setengah hari setelah keberangkatan. Kami kehilangan 25% pasukan kami. Angka persentase yang cukup besar. Aku mencoba untuk menenangkan diriku sendiri. Menenangkan dari goyangan batin, entah aku harus bersyukur karena aku masih dapat bertahan hidup walaupun mengalami luka dan kembali ke dalam dinding dengan selamat, atau merasakan dosa dan kebusukan dalam diriku sendiri atas kematian senior, teman seangkatan, maupun pasukan lainnya, tanpa dapat melakukan apapun untuk menyelamatkan mereka. Rasanya benar-benar menyakitkan.

Kami kembali ke dalam dinding, sesuatu seperti membawaku dalam nostalgia. Diantara banyaknya pasukan yang terluka, dan orang-orang yang menyambut kami dengan hujatan. Aku merasakan rasa malu dan sakit hati di perlakukan seperti itu oleh rakyat yang merelakan uang mereka untuk pajak yang digunakan untuk memfasilitasi kebutuhan Pasukan. Namun seperti sudah makanan sehari-hari, tak ada satupun dari tentara pasukan pengintai membantah dan menyahut hujatan dari para warga.

Selama beberapa tahun, Beberapa kali Pasukan Pengintai mengadakan kegiatan yang sama, dan aku seolah merasa ajaib, aku selalu kembali dengan selamat sehingga beberapa tahun kemudian aku diletakkan di posisi yang cukup bagus untuk ikut mengatur wewenang dan memberi usulan kepada Komandan. Aku juga sudah belajar banyak bagaimana caranya menghadapi kenyataan pahit dan kejamnya dunia ini. Aku, Mike, Hanji, dan beberapa orang lain nya telah menjadi Squad Leader dan memegang beberapa pasukan.

Mike pernah berkata padaku, bahwa seandainya aku menjadi seorang pemimpin, maka akan terjadi perubahan baik bagi Pasukan Pengintai dan Kebangkitan kekuatan umat manusia. Aku masih belum terlalu mengerti apa yang dimaksudnya, namun, dari cerita yang kudengar, Mike memiliki penciuman yang baik mengenai apa yang akan terjadi, entah beberapa jam lagi, maupun kemudian hari.

Perubahan sikap dan sifat juga di tunjukkan oleh Hanji. Sebenarnya tak banyak dari dirinya yang berubah, tapi perlahan dia sangat membantu penelitian tentang Titan, walaupun tidak banyak karena tidak ada Titan yang berhasil di tangkap dan di dapatkan informasinya. Membawanya pulangpun terdengar sangat tidak memungkinkan. Hanji juga sempat merasakan dendam yang teramat sangat dengan Titan karena temannya terbunuh oleh monster tersebut, sama seperti beberapa pasukan lainnya. Namun entah mengapa sepertinya dia ingin mengamati Titan dari sudut yang berbeda.

Aku yang selama ini, merasa bahwa strategi yang selama ini Kuranglah Efektif untuk melakukan Ekspedisi untuk memperjauh kawasan yang di tempuh. Karena apabila kupikirkan dengan seksama, strategi ini selalu berakhir di jauh yang sama dari dinding. Munculah ide pada benakku, keinginan menciptakan suatu strategi perang baru, yang jauh lebih efektif dari apa yang sudah digunakan selama ini.

Aku mulai menggambar beberapa susunan strategi dan memikirkan tugas dan tanggung jawab masing-masing posisi. Kemudian aku sadar, ada 1 posisi dimana posisi tersebut harus di tempati oleh orang yang berskill tinggi, kecepatan, dan sama sekali tidak takut pada Titan. Aku sama sekali belum menemukan orang yang benar-benar pantas disini.

Aku memutuskan untuk pergi mencari inspirasi dan pencerahan. Dimana di saat yang bersamaan aku mendengar adanya berandalan terkenal di bawah tanah yang biasa beraksi menggunakan maneuver 3D yang entah dari mana mereka mendapatkannya. Namun orang awam pun juga tahu bahwa penggunaan maneuver 3D dengan tujuan bukan untuk membantu umat manusia dan pasukan adalah ilegal. Rasa penasaran ini menuntutku untuk mengikuti informasinya, kemudian pergi untuk mengecek langsung di Kota bawah tanah bersama Mike.

Sisi lain dari kehidupan manusia, Kupikir perkampungan kumuh adalah tempat dimana orang-orang kesulitan dalam memenuhi kebutuhan ekonomi, sehingga tak punya waktu untuk mengurus diri dan lingungkannya, bahkan mereka mendapatkan pendidikan yang sangat kurang. Tapi di balik itu semua, ternyata aku baru menyadarinya bahwa dibandingkan kampung yang kumuh, Underground City ini jauh lebih brandal. Aku benar-benar tak bisa mendeskripsikannya dengan kata-kata.

Aku menanyakannya dari satu orang ke orang lain di tempat itu, meskipun terkadang ada beberapa orang yang menatap kami dengan tatapan yang seolah tidak ingin bekerjasama atau lebih singkatnya tidak senang, sempat juga ada beberapa berandal di tempat itu yang menantang kami karena mengetahui kami orang sipil yang terkenal sering menghabiskan uang pajak mereka. Tapi, selama aku masih bisa membujuk dan mengelabuhi mereka dengan kata-kata, kupikir aku tidak perlu melakukan perlawanan yang memancing kerusuhan.

Hal-hal yang terjadi terus berjalan sesuai rencana, sampai akhirnya aku mendengar keributan tepat di ujung lorong kota bawah tanah ini. Ada 3 orang yang sedang bertarung, 1 diantaranya terlihat menggunakan Maneuver 3D. Aku membuka mataku lebar-lebar dan memperhatikan gerakan pelaku itu. Benar-benar setingkat dengan veteran Pengintai, namun kupikir akan perlu beberapa polesan lagi untuk berandal tersebut, berhubung aku masih belum mengetahui apakah dia pernah berhadapan dengan Titan atau tidak, karena menendang dan menusuk orang tidak akan sama dengan yang ukurannya raksasa.

"Erwin, sepertinya mereka yang kau cari". Kata Mike, menegurku sambil terus memperhatikan berandalan tersebut.

"Aku tahu, Mike. bagaimana menurutmu?"

"Yang berambut hitam dan berpostur pendek itu boleh juga, Erwin. Bagaimana denganmu?"

"Kita lihat saja apakah mereka orang yang pantas.." , Jawabku singkat sambil terus kuperhatikan orang itu. Kemudian mereka bertiga pun pergi, namun aku yakin, diantara 3 orang tersebut, yang paling pendek adalah Leadernya. Dapat kuketahui dia sempat melihatku sekilas sebelum benar-benar menghilang dari hadapanku.

Bebrapa hari setelahnya, Aku mendapatkan panggilan oleh Komandan Shardis. Beliau menanyakan soal formasi baru yang sedang ku buat. Kudengar darinya, Pasukan Pengintai sedang dilarang untuk melakukan ekspedsi. Sepertinya dia sedang kebingungan bagaimana caranya untuk berhasil membujuk Kepala Komandan Dallis Zacklay agar kegiatan pencari tahuan asal-usul Titan ini bisa terus terlaksana. Walaupun kami mungkin terlalu sering mendapat kegagalan, tapi bukan berarti kami hanya terus mencoba tanpa belajar dari kegagalan tersebut.

Akupun percaya, akan tiba dimana Pasukan Pengintai akan mendapatkan apa yang selama ini mereka cari, walaupun itu harus memakan banyak pengorbanan dan pembelajaran. Komandan Shardis merasa bahwa formasi yang kubuat cukup bagus untuk membuat komandan Zacklay percaya bahwa Pasukan Pengintai masih bisa memperbaiki kekalahan mereka.

Kami berdua menuju ke kantor Panglima Tertinggi, Kepala Komandan semua pasukan, Dallis Zacklay, keesokan harinya. Komandan Shardis menunjukan proposal beserta formasi baru yang telah kubuat disana. Komandan Zacklay mengamatinya secara perlahan proposal tersebut. Namun sepertinya Komandan Zacklay tidak yakin ini akan dapat mengubah Opini pemerintah.

"Long Distance Scouting Formation… kau yang membuat dan memikirkan strategi ini kan, Erwin? Aku salut dengan cara berpikirmu. Selama ini, rencana ekspedisi lebih mementingkan bagaimana untuk mengalahkan dan mencuri pengetahuan dari Titan yang akan di temui. Padahal, bisa saja diluar sana terdapat Titan yang tidak wajar atau jenis Titan yang belum kita ketahui. Teknik mu ini, lebih focus kepada bagaimana caranya mengurangi bertatap muka dengan mereka. Bahkan caramu merubah arah laju pasukan pun mengagumkan." Puji Kepala Komandan Zacklay kepadaku.

"Sebuah honor untuk saya mendapat pujian seperti itu." Balasku padanya.

"Jika kita memadukan Formasi ini dengan formasi yang lama dengan tujuan membalaskan kegagalan kita, mungkin kita juga dapat memperluas daerah yang dapat dicapai selama Ekspedisi. Mungkin saja kalian menemukan penemuan baru, seperti Titan yang dapat tinggal di air atau bagaimanapun itu. Menakjubkan." Lanjut Komandan Zacklay.

Walaupun telah mendapatkan pujian-pujian ini, tapi sepertinya jalan belum terbuka bagi Kami. Komandan Zacklay memberitahu bahwa dia tidak bisa lagi mendapatkan persetujuan dari pemerintah. Sejak awal, sudah banyak yang menentang di adakannya Ekspedisi keluar dinding, mengingat itu dapat membahayakan apabila mereka yang telah melihat dunia di balik dinding itu menceritakan ke anak atau sanak saudaranya kelak.

Kudengar salah satu orang yang berperan dalam pem-blaklist-an kegiatan ini adalah Nicholas Lobov. Orang pemerintahan yang kabarnya mempunyai hubungan kuat dengan beberapa keluarga Kerajaan. Tentu saja dengan cara ini dia mendapat dukungan yang cukup banyak. Namun penentuan pemberhentian secara permanen kegiatan ini baru akan di putuskan di pertemuan para pemerintah lima hari dari sekarang. Meskipun begitu, kelihatannya tidak akan ada kesempatan bagi kami untuk membujuk orang-orang yang memegang kekuasaan pemerintahan tersebut.

Aku dan Komandan Shardis pun kembali ke markas Pasukan Pengintai dengan Kecewa. Aku mengatakan pada komandan bahwa semua ini seperti apa yang sudah aku dan dia pikirkan sebelumnya. Namun kami mendapatkan pegangan bahwa orang yang melarang semua ini ternyata Nicholas Lobov. Aku merasa hal seperti ini tak bisa dibiarkan. Seolah tak bisa lagi menahan diri, akhirnya aku melancarkan rencanaku beberapa menit setelah itu. Aku meminta ijiin kepada Komandan Shardis untuk menyerahkan semua urusan ini kepadaku. Awalnya dia menghujaniku dengan pertanyaan dan keraguan. Bahkan meremehkan kemampuanku. Aku tahu mungkin aku masih muda dan bisa dibilang kurang berpengalaman dan juga akan di pandang rendah oleh atasan-atasan dengan umur yang cukup tua, yang biasanya menandakan banyaknya pengalaman yang mereka dapat.

Namun aku yakin akan satu hal. Sejak aku bergabung dengan Pasukan Pengintai, melihat betapa menakjubkannya dunia luar, seseram apapun dan sekejam apapun dunia luar, udara dan suasana yang terdapat di dalamnya jauh lebih bebas dan menyenagkan dibandingakan di dalam dinding yang di tinggali oleh manusia. Pengalamanku bertarung dengan Titan-titan entah berapa meter besar mereka, normal ataupun abnormal secara nyata, semua itu menyadarkanku akan satu hal. Aku benar-benar menyadari betapa berbahayanya kondisi umat manusia saat ini. Meskipun kami mempunyai Posisi, Jabatan, Wewenang, bahkan Ide bagaikan bangsawan. Apabila pada suatu Hari, besok, atau bahkan satu jam setelah ini, Titan berhasil menembus dinding perlindungan umat manusia, semuanya akan hilang, bahkan hanya dalam sekejap.

"Karena itu, Aku… tidak peduli dengan cara apapun, dengan metode apapun yang harus kita gunakan, meskipun itu illegal atau menentang aturan, demi keberlanjutan kehidupan umat manusia… kita tidak seharusnya mengabaikan perjuangan demi merebut dunia itu kembali dari tangan para raksasa itu! Kita tidak boleh!"

Aku mengatakan semua yang aku rasakan dan aku pikirkan, di depan Komandan Shardis. Mungkin disaat itu aku bahkan sedikit membentaknya. Tapi itu tak pernah menjadi penyesalanku semenjak Komandan Shardis mengatakan kesetujuannya padaku. Dia berkata bahwa, tidak peduli apa yang akan terjadi, kita harus tetap berpegang pada harapan dan maju menuju masa depan. Masa depan yang telah didiamkan oleh setiap pasukan pengintai, sejak lama.

Keesokan harinya, aku kembali datang ke kantor Kepala Komandan Zacklay, memberitahu kelengkapan rencanaku, termasuk rencanaku memasukan 3 orang berandalam tersebut ke dalam pasukan pengintai. Namun ada beberapa dari rencanaku yang kusembunyikan darinya. kemudian Dia berjanji akan membicarakan soal hal ini kepada pemerintah. Kali ini, sepertinya aku berhasil meyakinkannya. Bahkan dia berkata, mungkin masih ada harapan untuk kegiatan Ekspedisi Pasukan Pengintai.

2 hari setelahnya, aku memutuskan untuk bertemu dengan Nile setelah sekian lama kami berada di jalan kami masing-masing. kebetulan saat itu dia juga menduduki posisi yang sama denganku yaitu seorang Squad Leader. Kami berjanji untuk bertemu di sebuah tempat makan di dinding dalam. Kudengar dia akhirnya merencanakan pernikahannya dengan Mary, gadis dari bar yang sering kami kunjungi selama masih di pelatihan.

"Ada apa kau tiba-tiba menemuiku, Erwin?" dia mulai menanyaiku ketika kami selesai memesan secangkir kopi dan beberapa cemilan ringan.

"Bagaimana kabarmu, Nile?"

"Harusnya kau jawab dulu pertanyaanku, Erwin."

"Tidak ada salahnya kita berbasa-basi sejenak. Bukankah sudah lama kita tak bertemu?"

"Aku belum pernah mendengar aturan bahwa basa-basi itu wajib untu yang telah lama tak bertemu. Aku baik-baik saja, seperti yang kau lihat. Bagaimana denganmu?"

"Aku juga sama. Bagaimana rencana pernikahanmu dengan Mary?"

"Oi. Apakah tugas seorang Squad Leader adalah berbasa-basi dengan teman lamanya dan membicarakan hal yang tak ada hubungannya dengan tugas? Aku lebih menghargaimu apabila kau mengajakku diskusi."

"Aku tau kau hanya terlalu malu untuk membahasnya."

"Aku tidak punya waktu untuk ini Erwin. Bukan waktu yang tepat."

"Baiklah, aku serius. Kau tahu, aku melihat 3 orang berandalan yang menggunakan maneuver 3D di kota bawah tanah. Itu adalah hal yang illegal, mengingat harga maneuver 3D sangatlah mahal dan hanya boleh digunakan oleh Pasukan Pengintai." Jelasku.

"….. apa kau berencana memberiku tugas? Aku bahkan bukan bawahanmu." Jawabnya. Kulihat dia menjadi orang yang lebih dingin daripada dirinya semasa kecil, bahkan kepadaku pun dia seperti tidak menunjukkan reaksi bahwa aku adalah teman masa kecilnya. Ada sesuatu yang berubah.

"Tapi kau tahu kau harus menangkapnya kan?" balasku, yang hanya di balasnya dengan helaan nafas.

"Aku mempunyai rencana untuk memasukkan mereka bertiga kedalam formasi baru Pasukan Pengintai. Walau hanya berandalan, mereka memiliki skill yang cukup memadai untuk melengkapi formasi ini. Dan kau tahu, aku adalah seorang tentara Pasukan Pengintai. Tugas dan tanggung jawab kami bukanlah untuk menangkap orang berandal yang menggunakan barang milik pemerintah tanpa ijin. Aku sudah membicarakan tentang hal ini kepada komandan Shardis, dan juga Kepala Komandan Zacklay." Lanjutku.

"Kau bahkan membicarakannya dengan Komandan Zacklay? Lagipula, bukannya kegiatan Ekspedisi diluar dinding untuk Pasukan Pengintai telah di blokir?" balasnya.

"Tentu saja. Kami akan selamanya keluar dari dinding. Kami akan terus menembus dinding. Tak peduli dinding apa yang menghalangi kami. Para pemerintah tidak akan pernah misa memblokir kegiatan ini. Kepala Komandan Zacklay pun pasti juga mulai bergerak." Aku mengatakan itu padanya kemudian meminum kopi ku yang baru saja diantarkan oleh pelayan.

"Apa yang sebenarnya kau cari, Erwin?"

"Nile, aku ingat saat kita sama-sama berniat untuk masuk ke Pasukan Pengintai. Tapi belakangan ini aku menyadari apa yang kau maksud pada saat hari penentuan jurusan. Mungkin kau bilang, aku tidak akan bisa mendapatkan apa yang kau dapatkan. Tapi, kau tidak akan bisa melihat apa yang aku lihat, kehidupan di luar dinding, seberapa bahayanya keberadaan para Titan, dan kesadaran bahwa aku, bahkan seharusnya semua orang, tidak seharusnya menggantungkan kehidupan mereka pada dinding ini. Aku tak lagi mencari kebebasan bagi diriku. Aku... akan membebaskan umat manusia dari kurungan dinding ini."

Setelah itu, aku menghabiskan kopiku lalu berpamitan dengan teman lamaku itu. Walaupun aku sudah meninggalkannya di tempat itu, aku merasa dia masih memperhatikanku sampai benar-benar menghilang dari pandangannya.

Aku kembali ke Markas Pasukan Penyelidik, menyelesaikan tugas-tugasku lainnya hingga akhirnya malam tiba. Aku pergi untuk makan malam bersama pasukan ku dan pasukan-pasukan yang lain. Kami selalu menyempatkan diri untuk mengobrol dan membicarakan apa yang sekiranya dapat dilakukan setelah ini, di masa depan, dan banyak hal lainnya. Aku selalu mendengarkan celotehan pasukanku, bagaimana mereka ingin mendapatkan kebebasan, bagaimana salah satu dari mereka hanya terpaksa masuk ke Pasukan ini namun tak punya pilihan lain selain berjuang.

Jam makan malam sudah selesai. Saatnya aku kembali ke ruangan yang sekaligus menjadi kamarku. Aku belum terlelap, aku kembali duduk di meja kerjaku. Menuliskan beberapa celotehan bawahanku yang kupikir penting, dan menjadi pencerahan untukku. Aku menatap langit malam diluar jendelaku. Melihat beberapa bintang yang menampakkan dirinya di gelapnya malam. Membuat beberapa sisi langit terlihat seperti di terangi oleh cahaya bintang tersebut.

Aku kembali mengandai-andai sesuatu. Sama seperti saat aku masih kecil. Sebenarnya, kemanapun aku melihat setiap sisi dari kota ini, setiap sisi dari dinding ini, setiap sudut dari langit ini. Aku selalu memiliki perandaian yang muncul di kepalaku.

Andai di belahan dunia lain, jauh di tempat ini, juga terdapat manusia yang membangun tempat perlindungan dari para titan, masihkah mereka bertahan hidup? Akankah kami menemukan mereka, suatu hari nanti?

Andai setiap dinding ini terbuat dari kaca tembus pandang yang sangat tebal, dengan titan yang memukul-mukul kaca tersebut dan berusaha untuk masuk. Masihkah manusia merasa aman berada di balik dinding ini?

Andai di setiap langit ini, walaupun tidak bersudut, memantulkan keadaan yang ada di bawahnya. Masihkah Pemerintah mengirim seseorang yang ditugaskan untuk membunuh seorang warganya yang hanya ingin melihat ke langit, dan tanpa sengaja terlihat beberapa bagian dari dunia luar?

Andai aku tidak terlahir untuk terus berandai. Sampaikah aku di kursi yang sedang ku duduki sekarang?

...

.

.

.

TO BE CONTINUE

.

.

.

.

Sebelumnya saya mau mengucapkan beberapa terima kasih kepada:

My precious imouto: Rei (Lyreinata-chan) yang turut mendukung saya dalam pem-publishan fanfict ini, dan membangkitkan semangat saya untuk ber-author ria lagi setelah akun kelam saya meidy15ichi terdampar dan terlupakan begitu saja, mwehehe.

Makasih buat ai(.)smith1301 sebagai orang pertama yang me-review, follow, dan favorite fanfict saya yang satu ini. Ikutin terus ya ^^

Makasih buat Eqa Skylight yang juga turut review fanfict ini! 3

Mohon maaf atas penggantian judul yang mungkin bikin bingung reader yang ngikutin fanfict ini. Tapi saya barusan dapet hikmah tentang judul yang tepat untuk fanfict ini. ほんとう に ごめなさい!

Saya sangat terbuka dan berterima kasih apabila terdapat usulan ide alur maupun jalan cerita dari para reader, bagaimana pun kebuntuan pasti pernah dilanda setiap author. Berhubung saya Author lama dengan pegalaman newbie, Review dari para reader bener-bener di tungguin!

#SPOILER# Levi, Isabel, & Farlan di Chapter 3!