HunHan

"My Daughter's Boyfriend"

BoyXBoy

.

.

.

No Bash. No Hate. No Plagiarism. No Copy Paste!

.

Don't like? Don't read!

.

.

.

Enjoy!

...


Jam kosong seharusnya menjadi surganya setiap anak bebas melakukan hal menyenangkan tanpa takut akan terkena omelan dari guru. Seharusnya memang begitu, namun seribu sayang hal tersebut seakan tak berlaku pada Luhan yang kini malah menyibukkan diri di antara rak rak tinggi perpustakaan sekolahnya. Bukan, alasannya tentu bukan karena Luhan merupakan salah satu siswa kutu buku dengan kacamata tebal kuno yang bertengger di hidung mancungnya, atau yang memiliki style rambut berbelah tengah dengan sisiran yang terlalu rapi dan dibuat klimis memperlihatkan jidatnya –seakan menggemborkan pada dunia jika jidat lebarnya memiliki nilai yang briliant. Sebaliknya, malahan Luhan adalah siswa terpopuler dan paling di cari sejak kedatangannya lima bulan yang lalu di sekolahnya tersebut.

Luhan memang bukan seorang artis, tapi penggemarnya sungguh tak main-main. Mereka dari berbagai tingkatan kelas mendatanginya tiap memiliki waktu senggang, berbosa-basi mengajaknya berkenalan (yang mana tidak pernah berhasil diingat Luhan pada akhirnya) dan menanyainya berbagai macam pertanyaan yang hanya akan ia jawab sekenanya. Atau membawakannya berbagai macam bekal dan hadiah yang akan berakhir memenuhi ranselnya tiap kali ia pulang kerumah. Dan inti dari semua kejadian itu adalah karena mereka yang hanya ingin mencubit pipinnya hingga memerah, membengkak, dan menggembung! Tak jarang sampai membuat mata rusa Luhan ikut berkaca-kaca. Itulah sebabnya Luhan kini lebih memilih menyatukan diri dengan bau buku tua ketimbang harus menyerahkan pipinya pada tangan-tangan gatal di luaran sana.

Menghela nafas, ia menangkupkan kedua tangannya di kedua sisi pipi kanan dan kirinya seakan melindungi. Mencoba mengusir bayangan pipinya yang memerah sakit hasil dari cubitan gemas teman-temannya yang sukses membuat Luhan bergidik dengan kepala bergeleng ribut. Lalu ketika sibuk dengan masalah pipinya, Luhan teringat sesuatu hal yang telah tersimpan pada saku blazernya. Sebelum ia memutuskan untuk mengeluarkan benda tersebut yang ternyata adalah note kecil bertuliskan 'Jadwal kursus agar menjadi se-Manly Oh Sehun' yang tertulis pada lembaran pertamanya.

Luhan selama ini selalu mengakui jika dirinya sudah pantas menyandang gelar manly. Hanya saja teman-teman dan orang-orang yang ada di sekitarnya masih sering meremehkan tubuh kecil alaminya. Dan hal tersebutlah yang membuat Luhan mau bertekat membentuk fisik maupun pribadi agar bisa sejantan Sehun nantinya. kembali ia membuka note miliknya pada halaman selanjutnya, yang sudah ia tulis dengan rapi mengenai apa saja jadwal kegiatannya baik diluar maupun didalam sekolah, atas permintaan Sehun sendiri tentu saja. Katanya supanya nantinya bisa mengatur ini itu atau baik dan buruknya kegiatan yang bisa membuat seseorang terlihat jantan sepertinya. Dan Luhan tentu saja setuju-setuju saja tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun dengan orang tua kekasihnya tersebut.

Mengingat soal kekasihnya. Luhan juga tidak memberi tau tentang keberadaannya yang saat ini tengah bersembunyi di dalam perpustakaan sekolah kepadanya. Karena takutnya nanti Cheonsa akan menyusul yang mana malah membuat teman-temannya yang lain jadi mengetahui keberadaanya disini. Ia bahkan berencana menghabiskan waktu kosongnya dengan tetap berada disana hingga jam sekolahnya habis, dan berencana keluar sekolah secara diam-diam dan menemui Sehun di kantor pribadinya setelah ini.

'assa!'

.

.

.

.

.

.

Berbeda dengan Luhan yang tengah asyik menyibukkan diri pada angan-angan kosongnya. Di luar ruang perpustakaan tempatnya bersembunyi , banyak dari berbagai kalangan siswa justru tengah mencari-cari keberadaannya. Termasuk Cheonsa yang notabenya memiliki kelas berbeda dari Luhan. Ia secara kalang kabut ikut mencari dan bertanya pada setiap anak yang ditemuinya, ketika telinganya mendengar kabar hilangnya Luhan dari peradaban sekolah. Takut-takut jika pacar imutnya itu di culik orang mesum diluaran sana.

Cheonsa dengan kedua temannya melangkah lebar memasuki kelas Luhan, berharap besar anak lelaki lugu itu tengah duduk manis di tempat duduknya seperti biasa. Tapi seribu sayang Luhan tak ada disana, justru yang ia lihat sekarang hanyalah teman sebangkunya yang cukup tak disukainya.

"Hei, owl! Kau tau dimana pacarku?" tanyanya langsung, sedikit menyebalkan. Sedang yang diberi pertanyaan taunya hanya memelototkan mata bulat kelerengnya kearah tiga gadis cantik yang berdiri di depan mejanya. Tidak berniat menegur balik, apalagi menjawab pertanyaan tersebut. Alih-alih ia malah kembali mengalihkan atensinya kearah buku yang tadi sempat di bacanya.

"Ya! aku bertanya padamu!" gertak Cheonsa yang diabaikan.

Do Kyungsoo, atau yang baru saja di sapanya dengan sebutan owl tersebut memicingkan mata tajamnya kearah Cheonsa; si tersangka yang baru saja meneriaki lelaki bertubuh kecil menggemaskan namun juga menyeramkan diwaktu bersamaan karena wajah datar dan mata bulatnya. Mereka berdua memang sudah sama-sama mengibarkan bendera perang sejak Cheonsa mencalonkan Luhan sebagai kekasihnya untuk yang kesekian ratusnya. Dan Kyungsoo yang mendeklarasikan diri sebagai sahabat sekaligus penjaga bayi rusa bernama Luhan, merasa tak terima jika Luhan yang unyu menggemaskan serta polos yang polosnya kebangetan harus berakhir dengan gadis player semacam Cheonsa.

"Tidak" singkat, padat, dan tajam... yeah itulah ciri khas dari Do Kyungsoo. Dan Cheonsa amat sangat membenci lelaki itu karena dia adalah dalang yang selalu berusaha menjauhkan Luhan dari dirinya.

"Apa maksudmu dengan tidak?"

"Tidak tau."

Lagi-lagi Kyungsoo acuh, dan memilih kembali mengalihkan atensi pada buku. Cheonsa yang memang tipikal orang benci diacuhkan, mengedutkan mata kirinya kepayang kesal kearah kyungsoo sebelum menggebrak mejanya dengan suara cukup keras. "Yang benar saja kau! Kau kan katanya sahabatnya!" ujarnya, mengagetkan hampir seluruh penghuni kelas yang kini menatap penuh minat kearah mereka.

Dan Kyungsoo yang merasa terganggu dengan kehadiran Cheonsa di kelasnya yang sejak awal memang sudah gaduh, samakin memelototkan matanya kearah Cheonsa dan kedua temannya. Ia bangkit dari tempat duduknya yang langsung berhadapan dengan gadis bermarga Oh tersebut seraya melipat kedua tangan di depan dada.

"Kau sendiri, kau kan yang katanya pacarnya. Kenapa tidak tau dia berada dimana!" sindir Kyungsoo sarkas. Cheonsa memejamkan matanya kesal, dan semakin mendekatkan dirinya pada Kyungsoo yang kini mengangkat dagu secara angkuh.

"Kau main-main denganku, ya?" bisiknya menakutkan, namun Kyungsoo tetaplah Kyungsoo yang datar, "Tidak." Jawabnya kembali tanpa keraguan.

Mungkin bertanya pada Kyungsoo adalah kesalahan besar yang sudah di ambil Cheonsa beberapa menit lalu, dan tak dipungkiri jika ia menyesal hingga kini memiliki niatan untuk mencongkel mata bulat itu agar keluar dari peraduannya. Hal itu mungkin benar-benar akan terjadi jika saja tak ada kedua temannya Sulli dan Krystal yang dengan tiba-tiba menahan kedua lengannya yang sudah terangkat untuk mundur menjauhi tempat Kyungsoo berdiri.

"Yak! Apa-apaan ini! Lepas dan biarkan aku memberinya pelajaran!" ucapnya mencoba melepaskan diri dari keduanya.

"Yaa, Cheonsaa… ingat dia sahabat Luhan. Jika kau mencelakainya, Luhan pasti tidak akan memaafkanmu…" bisik Krystal pelan di telinga kirinya.

"Dan hal terburuknya ia akan meminta putus darimu…" kali ini Sulli yang memberinya bisikan di telinga kanan.

"Kau harus bertanya dengan baik-baik…" lagi, Krystal berbisik dengan amat pelan.

"Demi Luhan…" di akhiri dengan Sulli yang sama pelannya.

Cheonsa mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti seakan baru saja mendapat pencerahan dari dua temannya, dan kembali mendekati Kyungsoo dengan ekspresi lebih lunak dari sebelumnya. "Ya, owl –emh, maksudku Do Kyungsoo…. Apa kau benar-benar tidak tau dimana Luhan saat ini?" tanyanya dibuat semanis dan selembut mungkin. Tapi sekali lagi, Do Kyungsoo tetaplah Do Kyungsoo yang datar. Ia bahkan makin terlihat menyebalkan meski Cheonsa sudah dengan rela melunturkan harga dirinya dihadapannya.

"Ti-dak!" tekan Kyungsoo tanpa pikir panjang berlalu meninggalkan kelas dengan Cheonsa yang menggeram marah dibelakangnya.

"Percuma juga aku bertanya dengan baik-baik!"

"Sudahlah Cheonsa, mungkin dia memang tidak tau." celetuk Krystal, diangguki pelan oleh Sulli yang ada di belakannya.

"Lalu dimana Luhan?!" teriaknya memekakan telinga.

...

"Ayolah Lu, angkat… kau ada dimana? aku sungguh khawatir…"nyatanya Kyungsoo yang judes kepada hampir seluruh orang, akan berubah menjadi manis jika itu berkaitan dengan Luhan.

Ia mungkin memasang wajah dingin saat berhadapan dengan Cheonsa tadi, namun tak bisa dipungkiri jika ia sebenarnya juga sangat khawatir. Saat orang-orang saling bertanya mengenai keberadaan Luhan, ia pikir mungkin Luhan sedang di culik oleh Cheonsa dan dibawanya entah kemana. Sampai si tersangka utama datang dengan sendirinya dan malah menanyakan hal yang orang-orang lain juga tanyakan. Jadi disinilah ia, mencoba menghubungi anak lelaki itu di atap gedung sekolah mereka dengan kekhwatirannya yang tinggi. Namun Luhan tak kunjung mengangkat panggilannya, alih-alih ia malah beberapa kali merijek panggilannya tersebut hingga sebuah pesan dari Luhan yang memberitahunya tentang keadaannya yang baik-baik saja dan kini tengah bersembunyi dari kejaran teman-temannya, yang sedikit lebih banyak membuat kekhawatirannya berkurang.

.

.

.

.

.

.

"Jadi, kapan kau akan membawa keluargamu mengunjungi korea?"

"Entahlahaku masih memiliki banyak pekerjaan disini."

Mendengarnya Oh Sehun berdecih pelan, mengejek main-main pada orang yang tersambung pada sambungan telephonenya.

"Jangan bilang kau sedang merindukanku, albino." Kata orang disana seraya terkekeh, membuat Sehun yang mendengarnya secara spontan merotasikan bola matanya dengan malas.

"Mati saja sana!" sarkasnya dengan datar, tapi kemudian ia menambahkan hal yang dianggapnya penting untuk rencananya." tapi aku benar-benar mengharap kau bisa meluangkan sejenak waktumu untuk berkunjung ke sini." ujarnya secara terus terang.

"Ya ya ya…lagipula aku memang sudah memiliki rencana untuk mengunjungi korea dalam waktu dekat ini."

"Baguslah jika seperti itu… mmm, apa kau juga akan membawa serta anak dan istrimu? Kau tau, aku bahkan tidak pernah sekalipun bertemu dengan anak lelaki yang katanya anak kebanggaanmu itu hyung." Protesnya, yang mana malah titanggapi orang disana dengan tawa renyah.

"Apa kau begitu penasarannya dengan putraku?"

Memang sejak menikah dan memiliki seorang anak, lelaki yang ia panggil hyung tersebut memang langsung memboyong istri serta anaknya ke negara asalnya sana. Membuat sedikit lebih banyaknya Sehun penasaran karena orang tersebut bahkan tidak pernah sekalipun memberi foto anak lelakinya, walau ia sering mendapat cerita ini itu dari mulut pria itu sendiri saat dirinya tengah berkunjung atau hanya melalui via telephone seperti sekarang ini.

"Tentu saja! Kau ini, padaku saja terkesan seperti menyembunyikan sesuatu begitu. Dan bukankah putramu itu seumuran dengan putriku? Siapa tau kita bisa berbesan kan?" nah, ini dia rencana sehun, rencana yang sudah ditahannya sedari tadi dengan berbosa-basi. Rencana yang ia beri nama planing A; diamana ia akan mencoba menjodohkan Cheonsa dengan anak dari orang-orang terdekatnya, syukur-syukur juga bisa menambah keeratan kerjasama antar perusahaan mereka.

Dasar otak bisnis!

Lagipula sosok orang disebrangnya ini tidak jauh berbeda dari ketampanannya. Apalagi darah kanada juga mengalir di dalam tubuhnya, yang pasti sudah tidak diragukan lagi bagaimana sosok rupa anaknya yang dipastikan bisa mengikat hati Cheonsa dengan mudah nantinya. Brilliant bukan? Karena dengan begitu akan sangat mudah baginya untuk menjadikan Luhan sebagai miliknya seutuhnya jika Cheonsa bisa jatuh hati pada lelaki lain.

"Apa kau bermaksud ingin menjodohkan anak-anak kita, begitu?" tepat sekali, tinggal selangkah untuk sebuah persetujuan lalu pertemuan, maka semuanya beres.

"Bisa dibilang seperti itu... aku tidak masalah jika putri cantikku harus bersama anakmu, hyung. Lagipula akan sangat menyenangkan jika hal tersebut bisa benar-benar terjadi."

"Ya, aku tidak juga masalah, lagipula putrimu juga sangat cantik."

"Hey, itu karena aku adalah ayahnya."

"Semakin tuakenarsisanmu juga semakin tidak bisa di tolong ya, Hun?" cibir orang disana dengan nada geli. Sehun hendak membalas cibiran tersebut, namun urung ia lakukan ketika pintunya diketuk seseorang dari luar. Jadi dengan sedikit menjauhkan ponselnya, ia menyuruh orang tersebut masuk.

"Masuk!" ujarnya datar, mengira orang yang sudah mengetuk pintunya tersebut adalah sekertaris atau bawahannya yang lain. Awalnya... namun ketika rambut coklat madu manis muncul memasuki cela pintunya dibarengi dengan tubuh mungil yang masih memakai lengkap seragam sekolahnya… Sehun harus dibuat menahan napas sejeanak! Karena ternyata itu bukan sekertaris atau karyawannya yang biasanya selalu sok cantik, melainkan adalah Luhan! Bidadarinya! Rusa buruannya!

Dengan cepat ia tempelkan kembali ponselnya diantara telinga dan mulutnya, "Hyung, aku ada urusan yang lebih pentingakan ku telphone kembali nanti, bye!" tanpa menunggu persetujuan, Sehun begitu saja mematikan sambungan tersebut, dengan tatapan yang tak pernah lepas dari si mata rusa yang kini berdiri sepenuhnya di dalam ruangannya dengan gugup.

"Emm.. apakah.. apakah, kau sedang sibuk? Jika i-iya, sebaiknya aku kembali lagi besok..." ucapnya tak enak hati, merasa menjadi mengganggu percakapan sehun dengan orang yang ada di telephonennya.

"Oh, tidak, tentu tidak Luhan, aku sedang tidak sibuk." karena memang tidak ada kata sibuk di kamus Sehun, jika itu berkaitan dengan Luhan.

Sehun bangkit menghampiri Luhan yang masih berdiri kaku tidak jauh dari pintu. "Masuklah kemari dan duduk, jangan hanya berdiri di situ." katanya seraya diam-diam menghampiri pintu dan menguncinya tanpa sepengetahuan si anak polos.

Ia menggiring Luhan yang menurut saja, mempersilahkannya duduk pada sofa yang memang sudah tersedia di ruangan luas tersebut. "Kau benar tidak sibuk? Aku tak apa jika harus pulang dan kembali besok lagi" tanyanya sekali lagi memastikan, dengan mata menatap Sehun yang kini menyusul langkahnya untuk duduk.

Sehun memilih duduk pada singgle sofa utama, sedangkan Luhan lebih memilih duduk di sofa panjang yang ada di sampinnya. Posisi ini sedikit banyak mengingatkan Luhan dengan apa yang sudah terjadi tempo hari di mension keluarga Oh. Diam-diam ia mengamati, dan berpikir kemungkinan lelaki manly seperti Sehun selalu memilih singgle sofa sebagai tempat duduknya. Ah, ia akan memasukkannya dalam buku catatan sebagai langkah pertamanya.

"Aku sungguh tidak sibuk." ucapnya menyakinkan Luhan.

"Oh, emm.. b-baiklah… Sebenarnya aku kesini, karena aku ingin memberikanmu jadwal kegiatanku sehari-hari seperti yang kau minta kemarin."

"Jadi, apa sekarang kau membawanya?" Luhan mengangguk sebagai jawaban, dengan ceria mengambil note-nya dari dalam tas punggung sekolahnya dan menyerahkan note kecil bersampul merah tersebut ketangan Sehun yang langsung menerimanya dengan senang hati. Lalu ketika Sehun membuka buku tersebut, alisnya mengerut ketika matanya di sambut dengan kalimat yang tertulis besar-besar di halaman depan yang membuatnya tak bisa untuk tersenyum geli.

Luhan yang mendapati ekspresi Sehun tersebut, hanya bisa menahan malu dengan pipi dan telinga yang memerah sempurna. "M-maaf, aku menulis n-namamu di sana?"

"Bukan masalah." Ujarnya santai, yang mana membuat Luhan bisa bernapas dengan lega.

Sehun membuka pada halaman selanjutnya dan menemukan kembali tulisan tangan Luhan yang sudah tersusun dengan rapi didalamnya. Dari mulai bangun tidur, mandi, sarapan, lalu sekolah bahkan hingga kegiatan apa saja yang dilakukannya di sekolah pun tertulis di sana. Seperti makan siang pada waktu istirahat pukul 11.00 am di kantin bersama Kyungsoo –ugh?

"Siapa itu Kyunsoo?"

"Oh, dia teman sebangku sekaligus sahabatku." sepertinya bukan masalah besar. Sehun mengangguk-anggukan kepalanya pelan, sebelum membaca catatan itu kembali yang bahkan jadwal pelajaran sekaligus jam pengajaran berlangsung pun di tulis di sana. Lalu kegiatan ekstrakulikulernya yang… eugh, sepak bola? Luhan? Apa itu artinya ada Luhan yang berlarian di lapangan hijau nan luas dengan keringat yang membasahi sekujur tubuhnya dengan seksi? Kakinya yang terekspose? Dengan banyak mata penonton yang menikmati Luhan? Menyaksikan miliknya?! –Yang satu ini jelas tidak bisa di biarkan.

"Tinggalkan kegiatan bermain sepak bolamu." putusnya final tanpa mau bernego-nego terlebih dulu. Luhan saja di buat terlonjak kaget atas keputusan yang ia buat secara mendadak tersebut.

"Ya?"

"Kubilang tinggalkan kegiatan bermain sepak bolamu, apa itu kurang jelas?"

"Bukan..." Luhan menggeleng, "Tapi kenapa?" kenapa? Ya, kenapa ia tidak boleh mengikuti kegiatan kesukaannya tersebut, apalagi kegiatan itu menurutnya sangatlah manly. Jadi kenapa ia harus meninggalkannya?

"Kau lihat aku Luhan... Aku bahkan tidak pernah bermain sepak bola,tapi aku sudah terlihat jantan… tidak tidak, tapi aku memang sangat jantan, bukankah menurutmu begitu?" benar juga sih, Luhan kan memang ingin manly seperti Oh Sehun, tapi disisi lain ia juga sangat menyukai kegiatan itu. Bagaimana bisa orang tua ini menyuruhnya berhenti, lalu kegiatan apa yang harus ia ikuti setelah ini?

"Kau bisa saja mengikuti kegiatan yang lainnya, seperti mengikuti club vokal misalnya? Kukira itu akan lebih cocok denganmu." ujarnya, seakan mengerti dengan apa yang sedang Luhan pikirkan yang memang mudah sekali ditebak.

"B-begitukah?"

Ingin sekali rasanya ia membantah, tapi ia juga tidak bisa membantah atas apa yang Sehun perintahkan saat ini. karena ini yang sudah menjadi pilihannya dan keputusannya untuk mengikuti setiap perkataan Sehun. Jadi dengan berat hati ia mengangguk mengiyakan keinginan lelaki tersebut.

Ingat ini semua demi kemanly-annya!

"B-baiklah.. sepertinya mengikuti kegiatan vocal dengan Kyungsoo tidak buruk juga.." ucapnya pelan dan tak bersemangat.

"Baguslah, ow kau juga menyukai buble tea?" mendengar kata buble tea, secepat cahaya mood Luhan yang tadinya buruk karena di larang bermain sepak bola, anehnya kini berbinar ceria kembali.

"Aku sangat menyukainya!" katanya bersorak senang.

"Itu bagus, karena aku juga menyukainya."

"Wah, benarkah?" Sehun hanya mengangguk singkat ketika si mungil itu bertanya dengan mata berkelipnya. Lalu ia menutup note milik Luhan tersebut, dan menaruhnya di meja.

"Baiklah, kurasa cukup untuk jadwalmu, dan sekarang aku ingin bertanya." katanya seraya bangkit dari duduknya. Menghampiri Luhan dan memutuskan untuk duduk disebelahnya. Membuat entah mengapa jantung Luhan berdetak tak beraturan.

"Apa itu?"

"Apa kau pernah berciuman sebelumnya?" ia tatapi anak manis itu secara intens. Dan Luhan harus menahan diri agar tidak berteriak kalau dirinya saat ini benar-benar gugup.

"Ng? kurasa..pernah."

"Dengan Cheonsa?"

"Ya… Cheonsa sering menciumku… disini,"jarinya menunjuk pada bibir merahnya, yang mana hal itu hampir membuat Sehun sesak napas "Tapi, itu jika tidak ada Kyunsoo." tambahnya dengan malu-malu.

"Kenapa begitu?"

"Aku tidak tau." anak itu menggeleng lagi, menunjukkan ketidaktau-annya alasan Cheonsa yang selalu mencuri ciumannya jika ia sedang tidak bersama Kyungsoo saja.

Luhan hanya tidak tau, jika pacar dan sahabatnya selalu berubah jadi tikus dan kucing jika tidak ada dirinya diantara mereka.

Sehun mengerutkan keningnya, sedikit penasaran seperti apa ciuman Cheonsa yang di maksud Luhan barusan. "Emh, Luhan... bisa kau praktekan bagaimana cara Cheonsa menciummu?" sedikit modus, tidak masalah kan?

"Apakah… harus?" tanya Luhan ragu, dengan jari menunjuk pada bibirnya sendiri, lagi. Dan Sehun melakuhan hal yang sama pada bibirnya, dengan menunjuk bibirnya sendiri, "Ya, disini." tekannya. Karena.. oh sungguh, ia sudah tidak sabar. Ini yang paling ia inginnya dari kemarin saat pertama kali pertemuan mereka. Keinginan bibirnya yang menempel pada bibir merah muda anak itu, dan menuntaskan rasa penasarannya akan semanis apa benda mungil itu nantinya.

"T-tapi..."

"Tidak apa Luhan. Aku hanya ingin tau, apakah cara berciumanmu sudah seperti lelaki sejati, atau malah sebaiknya. Aku tidak mau memiliki calon menantu yang payah, kau tau?" Sehun berpura-pura mengedikkan bahunya seakan acuh. Membuat Luhan yakin akan hal tersebut. Padahal pada kenyataanya, gairah kelelakiaannya sudah menggebu-gebu.

"Ba-iklah…" pasrah Luhan, mulai menghadapkan dirinya berhadapan dengan Sehun. Benar apa kata Sehun. Lelaki manly, bukankah memang harus bisa berciuman dengan baik. Jadi dengan lambat ia mulai mendekatkan wajahnya kearah Sehun yang sungguh tidak sabar. Ingin sekali rasanya ia langsung menarik dan membekap bibir anak itu dan menciumnya dalam-dalam. Tapi mengingat rencananya yang sudah mulus, Sehun tidak ingin ketidaksabarnnya malah menghancurkan segalanya. Jadi ia akan menunggu Luhan bergerak terlebih dulu, dan.. ng? Apa itu tadi? Secara secepat kilat Luhan menempelkan bibirnya pada bibir Sehun, dan karena saking cepatnya Sehun bahkan tidak sempat merasakan apa-apa barusan.

Krik Krik Krik

"Hanya seperti itu?"

"Ya, seperti itu." Ketika di lihatnya anak itu, wajahnya sudah memerah sempurnya dan terlihat menggemaskan.

"Itu namanya bukan ciuman, Luhan." katanya datar, membuat Luhan mengerjap tidak mengerti tentang bagian mananya yang salah dengan ciuman versinya.

"Kau ingin tau ciuman lelaki jantan yang sebenarnya itu bagaimana?" Luhan menggangguk dengan keingintahuannya yang tinggi. Membuat Sehun menyeringai senang, dengan mantap mendekatkan wajahnya pada wajah memerah Luhan. Lalu tangannya ia tangkupkan pada wajah kecil tersebut secara lembut, dan mulai memiringkan wajahnya sebelum benar-benar mempertemukan bibir mereka.

Rasa pertama yang Sehun rasakan dari bibir Luhan adalah rasa manis dan kenyal seperti tampilannya. Dan ia benar-benar tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan emasnya begitu saja. Jadi ia secara pelan mulai menggerakan bibirnya di atas bibir mungil Luhan yang terdiam dengan mata mengerjap. Luhan meras tubuhnya tiba-tiba seperti melayang dan tak bertenaga, hal itu membuatnya membiarkan Sehun yang membaringkan tubuhnya pada sofa dan memakan bibirnya semakin keras dan tak terkendali. Lalu sesi selanjutnya ia mulai merasa sesak napas…

Oh, siapapun bisa tolong rusa itu dari si serigala mesum …

.

.

.

Tbc


Jika ide cerita ini memiliki kesamaan dengan ide cerita lain, itu murni dari ketidaksengajaan. Karena 100% karya ini murni dari pemikiran sendiri. Bukan meniru, apalagi menjiplak!

Menerima Teguran, Saran, Masukan, maupun Kritikan, asal dengan bahasa MANUSIA yang baik (:

Terimaksih sudah membaca!

I Love HunHan!

windeerland