TAEHYUNG & CO.

Taehyung & Co., agensi investigasi psikis terkenal, membutuhkan Operatif Junior Lapangan. Pekerjaan termasuk analalisis lapangan tentang laporan lokasi berhantu dan menyingkirkan pengunjung bersangkutan. Pelamar di haruskan memiliki SENSITIVITAS terhadap fenomena supernatural, berpakaian rapi, perempuan lebih di utamakan dan tidak berusia lebih dari dua puluh tahun. Tidak menerima pelamar tidak serius, penipu, dan memiliki catatan kriminal. Ajukan lamaran tertulis disertai foto ke distrik Gangnam nomor 35. Seoul W1.

.

.

.

Taehyungs & CO. [REMAKE NOVEL]

Desclaimer : seluruh cast milik Tuhan, Orang tua, dan agensi.

Lockwood&Co. milik Jonathan Stroud

Friendship, Mysteri, and Horror.

Friendship VminKook with little bit vkook bl.

Typo(s), EYD, Etc.

.

.

.

Kim Taehyung as Anthony Lockwood

Park Jimin as George Cubins

Jeon Jungkook as Lucy Carlyle

.

.

.

Summary:

Selama lima puluh tahun lebih, wabah hantu menyerang Korea Selatan.

.

Jeon Jungkook, penyelidik paranormal yang masih muda, menginginkan karier cemerlang. Namun, kenyataannya ia malah bergabung dengan agensi pembasmi hantu paling kecil dan kumuh di ibu kota Korea Selatan. Di pimpin oleh Kim Taehyung yang karismatis dan misterius.

.

.Ketika salah satu kasus mereka berakhir dengan kekacauan fatal, Taehyung & Co. Memiliki peluang untuk memperbaiki keadaan. Namun sayangnya, itu berarti mereka harus menginap di rumah paling berhantu di korea selatan.

Chapter 1.

Aku berdiri di tepi jalan dan menyaksikan taksi melaju pergi. Suara mesin semakin samar. Suasana sangat hening. Cahaya mentari pucat memantul pada aspal dan pada barisan mobil yang di parkir berbaris di kedua sisi jalan. Jelas sekali bagian Seoul ini merupakan distrik hunian. Rumah-rumahnya besar, teras-teras berpilar penuh keranjang lavendel bergelantungan, ruang-ruang bawah tanah bisa dicapai melalui undakan langsung dari jalan.

Ada toko kelontong kecil di pojok jalan, jenis yang menjual segala macam barang mulai dari jeruk sampai semir sepatu, susu bahkan sampai suar magnesium. Di luar toko ada lentera hantu besi yang sudah butut, berdiri dua setengah meter tingginya pada tiang bermotif gurat. Kerai besinya berengsel dalam keadaan tertutup dan mati, bola-bola lampunya gelap, lensa-lensanya tersembunyi. Karat mengambang seperti lumut pada permukaan besinya.

Prioritas utama. Aku memeriksa pantulanku pada jendela mobil terdekat, membuka topi dan mengatur rambutku yang sedikit berantakan dengan jemari. Apa aku sudah terlihat seperti operatif yang andal? Apa aku kelihatan seperti seorang yang punya catatan dan kualifikasi bagus? Atau aku malah kelihatan seperti gelandangan yang sudah di tolak oleh enam agensi dalam tujuh hari belakangan? Rasanya sulit untuk dipastikan.

Aku lanjutkan melangkah menelusuri jalan.

Distrik Gangnam nomor 35 adalah rumah tinggal dengan bagian muka berwarna putih, terdiri dari empat lantai, dengan daun jendela cokelat pudar dan bunga-bunga pink di bak jendela. Aura bobroknya lebih parah daripada tetangga-tetangganya. Setiap permukaan rumah kelihatannya butuh dicat ulang, atau barangkali hanya perlu dibersihkan. Kemudian otakku mengirimkan perintah kepada mataku untuk berpusat pada papan tanda kecil yang dipasang bertuliskan;

A.K TAEHYUNG & CO., PENYELIDIK SETELAH GELAP; BUNYIKAN LONCENG DAN TUNGGU DI LUAR GARIS BESI.

Aku berhenti sejenak, mengandai-andaikan rumah modern tempat tinggal Wings corporation, ruang-ruang kantor luas Bangtan Co., di atas segalanya aku membayangkan kaca berkilauan pada gedung BigHit Co. Tapi wawancara-wawancaraku di semua tempat itu tidak berjalan mulus. Aku tidak punya pilihan. Seperti penampilanku sekarang ini, sepertinya aku harus bisa pasrah.

Setelah mendorong gerbang besi yang miring, aku melangkah ke jalan setapak sempit berlapis tegel-tegel retak. Di sebelah kananku terdapat undakan curam menuju pekarangan bawah tanah. Di hadapanku ada sebuah pintu bercat hitam. Mengabaikan lonceng, aku melangkahi garis besi dan mengetuk pintu keras-keras. Beberapa saat kemudian seorang pemuda tidak lebih tinggi dariku dengan rambut di cat orange cerah mengenakan kacamata bundar besar mengintip ke luar.

"Oh ada satu lagi," katanya. "Aku kira kami sudah selesai. Atau kau gadis baru, agasshi?"

Aku melongo. "Agasshi? Aku bukan seorang gadis!" Kataku setengah jengkel.

"Ani, pemilik toko di pojok jalan itu. Biasanya dia menyuruh orang membawakan donat sekitar pukul segini. Kelihatannya kau tidak bawa donat. Dan ah benar sekali, kau bukan seorang gadis, maaf habis kau terlihat sangat imut." Aku memutar bola mataku.

"Aku tidak bawa donat tapi aku bawa rapier."

Pemuda itu mendesah. "Jadi kurasa kau kandidat juga. Padahal kami sedang mengutamakan kandidat perempuan saat ini. Oke lupakan. Nama?"

"Jungkook. Jeon Jungkook. Apakah kau Kim Taehyung-nim?"

"Aku? Bukan."

"Uhm, ku kira. Boleh kah aku masuk?"

"Yah, tunggu sebentar gadis terakhir baru saja turun. Dari tampangnya dia tidak akan lama-lama."

Bahkan saat dia masih bicara, terdapat pekikan ngeri dari dalam rumah, memantul pada dinding-dinding berlapis ivy di pekarangan bawah. Burung-burung berterbangan dari pepohonan ke segala arah.

Aku melompat mundur saking terkejut, tangan otomatis bergerak ke gagang pedangku. Pekikan itu berubah menjadi rintihan, lalu lenyap. Aku menatap dengan mata nyalang pemuda di ambang pintu yang bahkan tidak bergerak.

"Ah, itu dia," katanya. "Apa kubilang tadi? Nah, kau berikutnya. Masuklah."

Baik si pemuda maupun pekikan yang tadi, tidak membuat kepercayaan diriku bertambah. Sebenarnya aku sudah mempertimbangkan diri untuk pergi saja dari tempat ini. Tetapi mengingat sudah dua minggu aku berada di Seoul, aku hampir kehabisan pilihan; kalau aku mengacau dalam wawancara ini, aku akan berakhir menjadi penjaga malam bersama anak-anak yang tidak punya harapan. Lagipula, ada sesuatu yang menjengkelkan dalam sikap pemuda yang satu ini, sikap meremehkan dari caranya berdiri, ia seakan menduga bahwa aku bakal lari terbirt-birit. Aku tidak terima di anggap seperti itu. Maka aku melangkah mantap melewatinya dan melewati koridor lebar yang sejuk.

"Tunggu sebentar." Kata si pemuda. Dia tetap menunggu di pintu yang terbuka.

Dia terlihat sedikit lebih tua dari pada aku. Pipinya sedikit chubby tapi biasa-biasa saja. Tidak ada yang mencolok kecuali warna rambutnya yang ia cat orange itu. Dari balik lensa, matanya berwarna cokelat. Dia mengenakan sepatu olahraga putih, celana jean belel, dan kaus yang di masukan dengan tidak rapi sehingga bagian pinggangnya mengembung.

"Sebentar lagi," katanya.

Di bagian dalam rumah terdengar gumaman yang menjadi semakin keras dan cepat, sebuah pintu terbuka: seorang gadis berpakaian rapi muncul terburu-buru; mata melotot, wajah pucat pasi, mantel kusut di genggaman. Dia melirikku dengan tatapan marah dan benci, memaki-maki si pemuda orange, menendang pintu depan sambil lewat, dan lenyap ditelan siang.

"Hm, dia layak dipanggil untuk wawancara kedua," komentar si pemuda. Ia menutup pintu dan menggaruk hidungnya yang mancung. "Oki doki, silahkan ikuti aku.."

Dia membawaku ke sebuah ruang duduk bermandikan cahaya, berdinding putih dan ceria, didekorasi lebih banyak artefak dan totem. Dua bangku empuk dan sebuah sofa mengitari meja kopi rendah. Juga di sebelah meja, tersenyum lebar, berdiri seorang pemuda jangkung dan ramping, mengenakan setelan berwarna gelap. "Aku menang, Jim," katanya.

"Aku tahu ada kandidat satu lagi meski nampaknya bukan seorang perempuan."

Ketika menyebrangi ruangan untuk menyapa, aku menggunakan indera-inderaku, seperti biasa. Maksudku, seluruh indraku─luar dan dalam─agar bisa mengetahui situasi.

Hal paling mencolok dari ruangan ini adalah sebuah benda bulat besar yang terletak di meja, ditutupi sapu tangan bertotol-totol hijau-putih. Apakah benda itu ada hubungannya dengan ketakutan gadis tadi? aku kira begitu. Ada juga suara-suara lirih─sesuatu yang nyaris bisa ku dengar─tapi menjaga jarak dari benakku. Kurasa jika berkonsentrasi aku dapat mendengarnya lebih baik... Tapi itu artinya berdiri kaku seperti papan dengan mata terpejam dan mulut terbuka, sangat tidak elit untuk memulai wawancara. Maka aku hanya menjabat tangan si pemuda.

"Annyeong," katanya. "Aku Kim Taehyung."

"Jeon Jungkook-imnida."

Matanya berwarna gelap dan cemerlang, senyumnya kotak menyenangkan.

"Senang berjumpa denganmu Jeon Jungkook-ssi. Mau teh? Atau Jimin sudah menawarkannya kepadamu?"

Si pemuda oranye tadi membuat gerakan meremehkan.

"Aku ingin menunggu sampai ujian pertama selesai." Katanya yang kalau tidak salah bernama Jimin.

"Kita lihat, apakah dia masih di sini atau tidak. Aku sudah membuang-buang banyak kantong teh pagi ini." Lanjutnya.

"Mari kita berprasangka baik," kata Kim Taehyung. "Dan pergilah memanaskan ketel."

Si pemuda tampak tidak yakin. "Baiklah, tapi menurutku dia bakal kabur." Dia memutar tubuh pelan-pelan dan berderap ke koridor.

Kim Taehyung melambaikan tangan ke sebuah kursi.

"Kau harus memaafkan Jimin, kami mewawancarai kandidat sejak pukul delapan pagi tadi, dan dia kelaparan. Dia sangat yakin gadis tadi adalah yang terakhir."

"Mianhae," kataku. "Aku juga tidak membawakan kalian donat."

Pemuda itu menatapku terkejut. "Kenapa kau berkata begitu?"

"Dia memberitahuku tentang pengiriman harian."

"Oh, malah tadi aku mengira kau adalah cenayang."

"Aku memang cenayang."

"Maksudku cenayang yang biasa. Sudahlah." Dia duduk pada sofa seberang dan meratakan beberapa lembar kertas di hadapannya. Wajahnya tirus sekali, dengan hidung bangir dan rambut cokelat gelap yang tebal dan nampak sedikit kusut.

Aku terperangah bahwa dia tidak jauh lebih tua daripada aku. Sikapnya sangat meyakinkan, sampai-sampai aku tidak menyadari betapa muda usianya. Untuk pertama kalinya aku bertanya-tanya mengapa tidak ada penyelia yang hadir dalam ruangan ini hanya sekedar untuk memeriksa.

"Aku lihat dari suratmu," kata si pemuda, "Bahwa kau berasal dari Busan. Bukankah pernah ada wabah terkenal di sana beberapa tahun yang lalu?"

"Ya, aku masih sepuluh tahun waktu itu."

"Agen-agen Homme datang dari Seoul untuk menangani para Pengunjung saat itu, benar?" kata Taehyung. "Ada dalam artikel majalah."

Aku mengangguk. "Seharusnya kami dilarang melihat, takut mereka menyerap jiwa kami, dan semua orang menutup jendela-jendela lantai bawah dengan papan, tapi aku tetap mengintip. Aku melihat mereka melayang di terpa cahaya bulan di tengah-tengah. Sosok-sosok mereka seperti anak-anak perempuan."

Dia menatapku keheranan. "Anak-anak perempuan? Aku mengira mereka hantu para pekerja tambang yang meninggal akibat kecelakaan di bawah tanah."

"Pada awalnya begitu. Tapi ternyata mereka Pengalih Rupa. Mengambil banyak bentuk sebelum di musnahkan."

Kim Taehyung mengangguk. " Begitu ya. Aku jadi ingat... Oke, jadi jelas kau sudah tau sejak kecil," dia melanjutkan, "Bahwa kau punya bakat. Kau memiliki Daya Lihat, tentu saja lebih baik daripada sebagian besar anak-anak, dan kau menggunakan keberanianmu untuk memanfaatkannya. Tapi menurut suratmu, itu bukan kelebihan istimewamu. Kau juga bisa mendengar. Dan kau memiliki kekuatan Daya Sentuh."

"Yah, Daya Dengar-ku yang paling istimewa." Kataku.

"Sewaktu masih bayi dalam buaian, aku bisa mendengar suara-suara bisikan di jalan setelah jam malam, ketika semua orang yang masih hidup ada di dalam. Tapi aku juga punya Daya Sentuh yang bagus, meski biasanya bercampur dengan apa yang ku dengar. Sulit untuk memisahkan keduanya. Bagiku, Daya Sentuh kadang-kadang memicu gema tentang apa yang terjadi."

"Jimin dapat melakukan itu sedikit," Kata Taehyung.

"Sementara aku tidak. Aku buta nada kalau berhubungan dengan pengunjung. Aku lebih memiliki Daya Lihat. Pendar-Kematian dan jejak, dan semua sisa-sisa kematian yang mengerikan itu..." Dia tertawa.

"Perbincangan yang ceria, ya? Nah, katamu kau mulai bekerja di bawah seorang operatif lokal.." Taehyung memeriksa berkas. "Namanya Bang Sihyuk. Benar?"

Aku tersenyum hambar, perutku melilit akibat gugup. "Benar."

"Kau bekerja untuknya selama beberapa tahun."

"Ne."

"Jadi dia yang melatihmu, bukan? Kau mendapatkan kualifikasi Tingkat Empat darinya?"

Aku beringsut sedikit dari kursi. "Benar. Tingkat Satu sampai Empat."

"Oke.." Taehyung mengamatiku.

"Kulihat kau tidak membawa sertifikat-sertifikatmu. Atau surat rekomendasi dari Bang Sihyuk-nim. Itu agak di luar kebiasaan kan? Rekomendasi resmi biasanya disediakan dalam situasi ini."

Aku menarik napas panjang. "Dia tidak memberiku surat rekomendasi, Hubungan kami berakhir dengan mendadak."

Taehyung tidak mengucapkan apa-apa. Aku tahu dia menunggu detail dariku.

"Kalau kau ingin mendengar kisah lengkapnya, aku bisa menceritakannya," kataku dengan berat. "Hanya saja.. itu bukan hal yang ingin ku ingat-ingat."

"Kalau begitu lain kali saja," kata Taehyung. Ketika dia tersenyum kepadaku, cahaya hangat terasa menyelubungi ruangan.

"Ya ampun, aku tidak tahu apa yang membuat Jimin lama sekali. Si bantet itu sudah terlatih bakal cepat selesai membuat teh. Sekarang sudah waktunya kau diberikan ujian."

"Baik, Ujian semacam apa?" tanyaku buru-buru.

"Ujian ini kami gunakan untuk menilai para kandidat. Sejujurnya aku tidak percaya begitu saja pada surat dan referensi, Jeon Jungkook-ssi. Aku memilih untuk melihat sendiri bakat mereka..." Dia melirik arlojinya.

"Aku menunggu Jimin semenit lagi. Sementara menunggu, kurasa kau ingin tahu tentang kami. Kami agensi baru, didaftarkan tiga bulan yang lalu. Tahun kemarin aku mendapatkan lisensi penuh. Kami berakreditasi DEPRAC, tapi─supaya jelas─kami tidak di gaji oleh mereka, seperti Homme atau agensi-agensi besar lainnya. Kami independen, dan akan tetap begitu. Kami menerima pekerjaan yang kami inginkan dan menolak pekerjaan yang tidak kami inginkan. Semua klien kami adalah semua konsumen pribadi yang memiliki masalah dengan pengunjung, yang ingin tindakan dilakukan dengan cepat dan tidak banyak keributan. Kami memecahkan masalah mereka dan mereka membayar kami cukup besar. Begitulah kira-kira, ada pertanyaan?"

Kisah tentang masa laluku sudah disingkirkan, sekarang aku bisa lebih percaya diri. Aku tidak akan mengacaukan wawancara ini. Aku duduk lebih maju di sofa, memastikan punggungku tegak.

"Siapa penyelia kalian?" Aku bertanya. "Apakah aku kan bertemu dengan mereka juga?"

Kerutan muncul sekilas di dahi Taehyung. "Tidak ada penyelia di sini. Tidak ada orang dewasa. Ini perusahaanku. Aku yang memimpin. Park Jimin adalah wakilku." Dia menatapku.

"Beberapa pelamar keberatan dengan pengaturan ini, maka mereka tidak melanjutkan lebih jauh. Apakah ini masalah untukmu Jeon Jungkook-ssi?"

"Oh tidak," kataku. "Tidak, aku baik-baik saja dengan pengaturan itu." Terjadi keheningan singkat.

"Jadi... Selama ini kalian hanya berdua saja? Kau dan Jimin?"

"Yah, tadinya kami punya asisten. Dua orang sudah cukup menangani sebagian besar Pengunjung, tapi untuk kasus-kasus sulit kami bertiga harus berangkat. Tiga adalah angka ajaib, kau tahu kan."

Aku mengangguk-angguk pelan. "Begitu, apa yang terjadi pada asistenmu yang terakhir?"

"Park Bogum yang malang? Oh, dia... pergi."

"Mencari pekerjaan lain?"

"Barangkali lebih tepatnya 'pergi dari dunia ini'. Atau sebenarnya 'pergi ke alam lain'. Ah─bagus! Teh!"

Pintu koridor terbuka dan tubuh pendek si pemuda oranye muncul. Dia berputar dalam gerakan kaku berlebihan dan melangkah maju, membawa baki dengan tiga mug beruap serta sepiring biskuit. Dia meletakan baki di sebelah benda yang ditutup dengan sapu tangan, dan melirikku curiga.

"Masih di sini?" Katanya. "Ku pikir kau sudah melarikan diri."

"Aku belum memberinya ujian Jim." Kata Taehyung santai. "Kau tepat waktu."

"Bagus." Jimin mengambil mug paling besar dan duduk di sofa.

"Ayo ambil biskuitnya." Taehyung berkata sambil mendorong piring ke arahku.

"Silahkan. Kalau tidak, Jimin akan menghabiskan semuanya."

"Ne."

Aku mengambil biskuit, Taehyung menyuap potongan besar biskuit dan menepuk-nepuk tangan untuk membersihkannya.

"Baiklah," katanya.

"Hanya beberapa ujian untukmu Jeon Jungkook-ssi. Tidak ada yang perlu untuk dicemaskan. Sudah siap?"

"Tentu." Aku dapat merasakan mata kecil Jimin menatapku lekat-lekat, dan bahkan nada santai yang Taehyung gunakan tidak mampu menyembunyikan kesan bersemangatnya.

"Kalau begitu, kita mulai dengan yang ini." Taehyung mengulurkan tangannya dengan gerakan lemas ke arah sapu tangan bertotol-totol untuk menyingkirkannya dan berhenti sejenak untuk menambah ketegangan.

Benda yang terletak di atas meja itu adalah sebuah silinder pendek yang terbuat dari kaca jernih tebal. Bagian atasnya diberi berupa sumbat plastik berwarna merah. Ada pegangan kecil di kedua sisi bagian atasnya: mengingatkanku pada botol-botol keranjang besar dari beling yang digunakan ayahku untuk membuat bir.

Tapi alih-alih cairan besi berwarna cokelat, di dalamnya terdapat asap kuning berminyak—tidak benar-benar mengambang diam, namun bergerak-gerak perlahan. Di tengah-tengah asap terdapat sesuatu yang besar dan gelap.

"Menurutmu apa ini?" Taehyung bertanya.

Aku membungkuk untuk memeriksa benda itu. setelah diamati lebih dekat, sumbatnya memiliki beberapa flensa pengaman dan segel ganda. Ada simbol kecil diembos di sisi kacanya: matahari yang juga melambangkan mata.

"Ini kaca perak. Di buat oleh Sunrise Corporation." Kataku.

Taehyung mengangguk dan tersenyum simpul. Aku membungkuk lebih dekat. Dengan kuku jari tengah aku mengetuk kaca, seketika itu juga asap terjaga, bergulung ke luar dari tempat aku mengetuk. Pada saat yang sama menjadi lebih tebal dan berpasir. Ketika asap tersibak, benda di dalam wadah itu terlihat; sebuah tengkorak manusia, cokelat penuh noda. Dijepit ke dasar kaca.

Aku berdehem. "Yah, ini wadah hantu." Kataku.

"Tengkorak itu Sumber-nya, dan si hantu terikat padanya. Tidak tahu jenisnya apa. Phantom atau spectre mungkin."

Setelah berkata demikian, aku duduk bersandar dengan gaya santai dan tidak peduli, seakan-akan pengunjung di dalam wadah adalah sesuatu yang selalu kutangani setiap hari. Sejujurnya, aku belum pernah melihat yang seperti itu dan penampakan itu tadi memang membuatku terkejut. Tapi tidak terlalu, karena setelah mendengar pekikan gaids tadi, aku menduga pasti akan terjadi sesuatu. Di tambah lagi, aku pernah mendengar wadah seperti ini.

Senyum Taehyung membeku sejenak, seakan-akan tidak yakin apakah dia harus mengekspresikan keterjutan, senang, atau kecewa.

"Ya, benar sekali. Bagus." Sapu tangan kembali digunakannya untuk menutup silinder itu dan dengan mengerahkan tenaga, disingkirkannya benda itu ke kolong meja.

Si pemuda kurang tinggi menyeruput tehnya sambil berbisik. "Kau bisa lihat dia terkejut setengah mati."

Aku berpura-pura tidak mendengar komentar Jimin, dan memutuskan untuk bertanya. "Darimana kau mendapatkan wadah itu? Ku kira hanya Namjoon-nim dan Seokjin-nim yang memilikinya."

"Ada waktunya untuk bertanya nanti Jeon Jungkook-ssi." Kata Taehyung.

Dia membuka laci di meja dan mengeluarkan sebuah kotak merah kecil.

"Nah, aku ingin menguji Bakat-mu itu jika boleh. Aku punya beberapa benda di sini. Tolong katakan, jika bisa", dia membuka kotak tersebut dan meletakkan sebuah objek di meja, "Gema supernatural apa yang kau dengar di sini?"

Benda itu adalah cangkir porselen putih yang tidak terlihat istimewa. Ada noda putih aneh di dasar cangkir yang mengeras menjadi kerak. Aku mengambilnya dan memejamkan mata, memutar benda itu ke sana dan ke sini, menulusuri jemari dengan ringan di permukaannya. Aku mendengarkan, menunggu semacam suara gaungan... Dan tidak ada yang tertangkap oleh telingaku.

Ini tidak bagus. Aku menggeleng, menjernihkan pikiran dari hal-hal yang merusak konsentrasi. Sebisa mungkin menyingkirkan suara lalu lintas di luar sana lalu mencoba lagi.

Tidak. Tetap tidak ada apa-apa. Setelah beberapa menit, aku menyerah.

"Maaf, aku tidak mendeteksi apa-apa." Akhirnya aku berkata.

Taehyung mengangguk. "Ku harap juga tidak. Ini hanya cangkir yang digunakan Jimin untuk menyimpan sikat giginya. Bagus, sekarang benda berikutnya." Dia mengambil cangkir tadi dan melemparkannya kepada si pemuda oranye yang menangkapnya sambil mendengus geli.

Rasanya seperti disiram air dingin; aku tahu pipiku merah merona sekarang. Sialan mereka mempermainkanku. Aku berdiri mendadak dan mengambil tas ranselku.

"Aku tidak kesini untuk di permainkan. Aku bisa keluar sendiri."

"Ooh, Pemarah." Kata Jimin.

Aku mendelik ke arahnya. Melihat wajahnya yang menatapku dengan tatapan meremehkan membuatku murka.

"Benar. Kemarilah dan akan kutunjukan betapa pemarahnya aku." Aku mengatakannya dengan penuh penekanan.

Pemuda itu mengerjap tak percaya kepadaku. "Aku bisa melakukan itu."

"Aku tidak melihat kau bergerak."

"Ya─Sofa ini dalam. Butuh waktu bagiku untuk bangun."

"Sudahlah, kalian berdua. Ini wawancara, bukan pertandingan tinju. Jimin, lagipula kau pasti akan kalah jika beradu tinju dengan Jeon Jungkook-ssi ini, lebih baik kau tutup mulut sekarang juga. Dan Jeon Jungkook-ssi, maaf karena sudah membuatmu gusar tetapi ini memang salah satu jenis ujian yang kami masukkan dan kau lulus satu dengan gemilang, kau tahu." Taehyung membuka laci di bawah mejanya.

"Kau akan terheran-heran berapa banyak pelamar pagi ini yang mengarang cerita tidak masuk akal tentang racun, bunuh diri, atau pembunuhan. Beberapa dari mereka berkata ini akan jadi cangkir paling berhantu di Seoul jika sedikit saja kisah mereka benar. Nah, kalau begitu silahkan duduk kembali. Sekarang, apa yang bisa kau katakan kepadaku tentang ini?"

Dari laci di bawah dia mengeluarkan tiga benda lain, diletakkan bersisian di hadapanku. Sebuah arloji laki-laki, berlapis emas di tepi bingkainya, dengan tali kulit cokelat lusuh; seputar pita merah berenda; dan pisau lipat berbilah panjang dengan gagang bertahtakan gading.

Kejengkelanku terhadap tipuan mereka menguap. Ini tantangan bagus. Sambil melirik ke arah Jimin dengan tajam, aku duduk dan menjauhkan jarak sedikit dengan benda di atas meja, sehingga tekstur tersembunyi mereka─jika ada─tidak akan tumpang tindih. Kemudian aku mengosongkan pikiran sebisa mungkin, dan mengambil benda-benda tersebut, satu demi satu.

"Apakah pelamar lain ada yang berhasil dalam ujian ini?" Aku bertanya.

Taehyung tersenyum lalu berkata, "Berhasilkah kau?"

"Gema-gemanya sulit dipisahkan. Dan kurasa ini adalah alasan mengapa kau menyerahkan semuanya sekaligus kepadaku. Mereka semua kuat, tapi kualitasnya berbeda-beda. Yang mana dulu?" kataku.

"Pisau."

"Baiklah, pisau ini punya beberapa gema yang saling bersentuhan: suara tawa laki-laki, letupan senjata, bahkan─mungkin saja─nyanyian burung. Jika ada kematian yang berhubungan dengannya─yang pastinya ada, karena aku bisa merasakannya─kematian itu bukan akibat kekerasan atau menyedihkan sama sekali. Perasaan yang kudapatkan dari pisau ini lembut, hampir bahagia."

Aku menatapnya. Kemudian melanjutkan, "Jejak pita ini, lebih lemah daripada pisau, tapi emosinya lebih kuat. Aku mengira bisa mendengar suara tangis, tapi sangat tidak jelas. Perasaan kuat yang kudapatkan adalah kesedihan; saat aku memgang pita ini, aku merasa hatiku tercabik-cabik."

"Dan arloji?" Mata Cokelat Taehyung menatapku lekat-lekat, sedangkan Jimin masih membaca komiknya.

Aku menarik napas dalam-dalam, "Arloji.. gemanya tidak sekuat pita dan pisau, yang membuatku berpikir pemiliknya belum meninggal─atau meninggal selagi tidak mengenakannya─tapi tetap saja ada kematian yang berhubungan dengannya. Banyak kematian. Dan... Tidak mengenakan. Aku mendengar suara-suara keras dan... Dan jeritan, dan"

Aku bergidik sambil menatap arloji yang berkilauan di meja.

"Ini benda jahat." Kataku.

"Aku tidak sanggup memegangnya lama-lama. Aku tidak tahu apa sebabnya atau darimana kau mendapatkannya, tapi seharusnya tidak ada yang boleh menyentuh benda ini, selamanya. Dan tidak juga demi wawancara konyol."

Aku mencondongkan tubuh ke depan, mengambil dua buah biskuit dari piring dan duduk bersandar kembali. Ini salah satu momen ketika gelombang perasaan tidak peduli menyapumu, dan kau mengambang di atasnya, menatap langit. Aku letih. Yah, ini wawancara ketujuh sejak beberapa hari belakangan. Aku sudah melakukannya sebaik mungkin, kalau Taehyung dan Jimin yang tolol ini tidak menghargainya. Aku tidak peduli lagi.

Terjadi keheningan panjang. Tangan Taehyung di rapatkan di antara lutut: dia duduk dengan tubuh ke depan seperti seorang paderi di toilet. Tatapannya kosong dengan ekspresi merenung dan berpikir keras. Kepala Jimin masih terbenam pada komiknya. Dilihat dari sikapnya, dia bahkan tidak menganggapku ada di sini.

"Yah," akhirnya aku berkata, "Ku rasa aku bisa keluar sendiri."

"Katakan padanya tentang peraturan biskuit." Jimin bersuara dan aku menoleh kepadanya.

"Apa?"

"Bilang kepadanya, Taehyung. Kita harus menegaskannya sejak awal atau akan kacau jadinya nanti."

Taehyung mengangguk. "Peraturan di sini adalah setiap anggota agensi hanya mengambil satu biskuit setiap kali, dalam rotasi ketat. Tetap adil, tetap teratur. Mengambil dua biskuit selagi tegang tidak akan ditoleransi."

Aku mengerjap kan mata beberapa kali.

"Satu biskuit setiap kali?"

"Ne."

"Tunggu. Maksudmu, aku di terima?"

"Tentu saja kau di terima," Katanya.

.

.

.

TBC

.

.

.

GLOSARIUM

Agensi : Bisnis yang dikhususkan untuk menahan dan menghancurkan hantu.

Ektoplasma : substansi aneh dan bervariasi yang membentuk hantu.

Lavendel : aroma kuat dan manis, tanaman ini diperkirakan mampu menghalau roh jahat.

Rapier : senjata resmi semua agen investigasi cenayang. Ujung pedang terbuat dari besi kadang-kadang dilapisi perak.

Tipe Satu : kelas hantu yang paling umum, paling lemah, dan paling tidak berbahaya.

Tipe Dua : kelas hantu paling berbahaya yang paling sering ditemui. Tipe Dua lebih kuat daripada Tipe Satu, dan memiliki sejenis kecerdasan residual. Mereka menyadari kehadiran manusia yang masih hidup, dan kadang-kadang berusaha melukai.

Tipe Tiga : kelas hantu paling langka. Di katakan bahwa Tipe Tiga mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan manusia yang masih hidup.

Spectre : Hantu tipe dua yang paling sering ditemukan. Spectre selalu memiliki penampakan yang jelas dan detail. Biasanya menggunakan gema visual akurat dari orang yang sudah meninggal. Sebagian besar bersikap netral kepada manusia yang masih hidup. Tetapi meski demikian beberapa Spectre gemar melakukan kekerasan, dan menginginkan kontak dengan manusia.

Phantasm : Hantu tipa dua mana saja yang memiliki sosok ringan, rapuh, dan tembus pandang. Phantasm bisa saja hampir tidak kasatmata, selain garis tubuh yang samar dan beberapa detail berkabut dari wajah fiturnya.

Poltergeist : Jenis kuat dan perusak hantu tipe dua. Poltergeist melepaskan semburan energi supernatural kuat yang mampu mengangkat objek ke udara. Mereka tidak melakukan penampakan

Malaise : Perasaan lunglai dan sedih yang sering dialami ketika sesosok hantu menghampiri. malaise bisa semakin parah atau dapat dikatakan menjadi kuncian-hantu yang berbahaya.

Miasma : atmosfer yang tidak nyaman, sering diiringi rasa dan bau tidak enak.

DEPRAC : Departement of Psychical and Control (Departemen Riset dan Kendali Cenayang)

Phantom : Nama lain untuk hantu.