Bruk

Shikamaru menaruh kasar setumpuk berkas di atas meja kerja atasan sekaligus sahabatnya. Dia menarik nafas sebelum mendudukkan dirinya di hadapan orang itu. Bersandar dan menatap datar kearah orang yang berada di depannya. "Kau memecat sekretaris baru itu?" pertanyaan awal yang menjadi point utama Shikamaru datang ke ruangan besar directur utama Miku's Corp itu.

Sang directur hanya mendesah dan menyandarkan punggungnya, tangannya bergerak memijit pelipisnya tanpa berniat untuk menjawab.

"Kau memecat tiga sekretaris dalam dua minggu. Maumu apa, Naruto?" lagi Shika bertanya dengan nada yang jengkel. Kenapa sahabatnya itu sangat susah untuk sedikit mengerti posisinya sih? "Apa salah mereka?"

"Mereka wanita. Itu kesalahan mereka." Naruto menoleh, menatap pada sahabatnya itu, satu-satunya sahabat dekatnya. "Kau tahu itu dan tetap mencarikanku sekretaris dari makhluk jenis itu?" pandangan sapphire itu tajam menusuk, bukan marah tapi lebih kearah kesal atas perbuatan sang sahabat.

Shika menarik nafas dan menghembusnya dengan kasar, ekspresinya mengendur. Dia yang ingin marah disini, tapi kenapa jadi dia yang merasa bersalah? "Tidak mudah mencari sekretaris laki-laki yang teliti dan kompeten. Aku menerima para wanita itu juga hanya untuk sementara. Posisi sekretarismu kosong dua bulan ini. Kau melimpahkan tugas itu padaku, tapi tiga hari lagi aku harus pergi ke Suna untuk mengurus beberapa proyek selama dua minggu. Kau mau jika semua tugas itu kau kerjakan sendiri?"

Naruto kembali memejamkan matanya sembari memijit pelipisnya. Dia diam tanpa ingin mengajukan usul apapun untuk sahabat yang merangkap bawahannya itu.

"Hah, kalau begini, kenapa kau memecat Suigetsu sebelumnya?"

"Dia tidak becus, Shika. Bisanya hanya protes dan mengeluh."

"Sebelumnya kau memecat Hayate yang sudah bekerja selama setahun."

Naruto menghela nafas pelan, "Dia ingin menikah dan pindah. Dia tidak berani mengundurkan diri, jadi aku memecatnya."

Shikamaru terdiam dengan ekspresi terkejut, tak menyangka jika Naruto melakukan itu. Hayate adalah satu-satunya sekretaris Naruto yang paling lama bekerja karena kompeten, teliti, dan bisa di andalkan. Tapi karena laki-laki itu ingin menikah dan takut mengundurkan diri, Naruto rela memecatnya dan melepaskan orang seperti itu? Pantas saja Hayate sampai memberikan sedikit hadiah kepada Naruto sebelum pindah kota dengan istrinya. Mungkin dia sepenuhnya sadar alasan Naruto memecatnya dan malah senang karena pengertian yang di berikan oleh sang atasan.

"Huh," Shikamaru tersenyum tipis, menyadari jika temannya itu tetaplah orang baik walau sangat sulit untuk menemukan sisi baiknya itu. "Tapi tetap saja, bagaimana sekarang?"

Suasana hening melanda. Shikamaru terdiam sambil berpikir sementara Naruto tetap tak berniat membantu memberikan solusi kepada Shikamaru. Semua sudah biasa seperti itu. Naruto yang terlalu mengandalkan Shikamaru, dan Shikamaru yang bisa selalu diandalkan dan perduli.

"Naruto, kau tidak bisa seperti ini terus."

Laki-laki berambut pirang itu membuka matanya dan mulai kembali pada pekerjaannya. Memilih sepenuhnya mengabaikan perkataan Shikamaru. "Jika kau tak ada lagi yang ingin di bicarakan, lebih baik kau pergi."

Shikamaru diam saat lagi-lagi Naruto enggan membahas apa yang dia bicarakan. Sudah biasa. "Kau tidak bisa menghindar terus. Kapan terakhir kali kau pergi menemui psikiatermu itu?"

Naruto diam dan fokus pada pekerjaannya. Tidak ingin menjawab, tidak ingin meladeni, dan ingin Shika menghentikan topic itu. Tapi sepertinya orang jenius itu keras kepala juga.

"Naruto.."

"Sudahlah, Shika. Aku ingin sendirian."

"Aku tidak akan pergi sampai kau mau meresponku." Ancaman itu membuat Naruto memandang tajam kearah Shika, tapi hal itu tak sedikitpun membuat Shika bergerak dari posisinya. Yakin jika laki-laki Nara itu tak akan pergi, Naruto memejamkan matanya menyerah, dan sinyal itu di tangkap Shikamaru dengan baik. "Kapan kau menemui psikiatermu lagi?" tanyanya lagi dengan suara kembali tenang.

"Aku malas dan aku tidak membutuhkan psikiater."

Shikamaru ingin protes lagi akan pilihan Naruto, tapi dia urungkan karena itu akan sia-sia saja. "Terserah kau saja!" ucapnya menyerah pada hal itu, "Tapi…" Shikamaru memandang Naruto menyelidik, membuat Naruto menaikkan sebelah alisnya. "Aku ingin tahu, kapan terakhir kali kau dekat dengan seorang perempuan?"

Lelaki berambut pirang itu terdiam, ekspresinya datar dengan sorot mata yang tak bisa di jelaskan. Ingatannya kembali pada satu kenangan, yah, hanya satu kenangan yang sudah cukup lama berlalu. Kenangan yang sebenarnya tidak terlalu penting tapi tidak bisa dia lupakan karena itu satu-satunya kenangannya bersama seorang… perempuan.

"Oi?" Shikamaru memanggil saat sahabatnya itu terdiam.

Naruto berkedip dan memejamkan matanya, saat sapphire itu terbuka, pandangannya memandang di kejauhan. "Itu… mungkin… sekitar lima tahun lalu."

Shikamaru melebarkan matanya mendengar hal itu. "Lima tahun? Bukankah itu saat kita kuliah?" Naruto mengangguk sekali tanpa melihat kearahnya. "Jangan bercanda, Naruto! Aku tidak pernah melihatmu dekat dengan satu perempuanpun sejak kita pertama kali mengenal di asrama putra saat kita SMA."

Pemuda itu menggeleng pelan, "Saat itu… sore." Shikamaru terdiam saat Naruto terlihat ingin menceritakan kenangannya, cerita yang sudah cukup lama tapi tidak di ketahui Shikamaru. "Aku melihatnya bersembunyi di balik rerumputan. Pakaiannya hancur dan dia memeluk tubuhnya ketakutan." Naruto menghentikan ceritanya sejenak sambil terus memandang di kejauhan, mencoba mengingat dengan jelas kejadian itu.

"Aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Yang ku ingat, aku melepaskan jaketku dan memberikan itu untuknya. Tangannya bergetar menerima jaket itu dan segera memakainya tanpa bicara. Kami terdiam cukup lama, dan dia semakin menggigil karena udara yang dingin dan kondisi dirinya yang memang terbuka. Disaat itu juga mulutku membuka, mengucapkan tawaran untuk mengantarnya pulang. Aku hanya mengucapkannya sekali dan itu mengundang tatapan kaget yang luar biasa darinya, butuh lima menit bagiku untuk mendengar jawabannya yang mengangguk pelan menerima tawaranku. Dan… aku mengantarnya pulang dengan motorku."

Mata Shikamaru hampir meloncat, "Motor? Kau mengantarnya dengan motor?" Naruto hanya meliriknya malas, "Kau… berada dekat dengan seorang perempuan kurang dari satu meter?" dan lagi pertanyaannya tak menerima jawaban dari Naruto.

Lelaki pirang itu sudah terlalu banyak bicara, jadi dia memutuskan untuk tidak lagi berbicara tentang kenangan.

"Naruto, apa kau pernah menceritakan itu kepada psikiatermu?" gelengan singkat dari Naruto membuat Shikamaru kembali kesal. "Kenapa tak kau ceritakan? Kenapa kau diam saja dan tidak menceritakan itu padaku dari dulu?"

"Kenapa aku harus menceritakan itu padamu?"

"'Kenapa?' katamu? Tentu saja kita bisa menjadikan dia permulaan untuk kesembuhanmu dan –"

"Aku tidak sakit, Nara Shikamaru." Desis Naruto memotong perkataan lelaki Nara itu.

Shikamaru menghela nafas mengalah. "Oke, kau tidak sakit. Tapi kita bisa mencarinya sekarang… yah… untuk…" Shikamaru mencari alasan yang tidak membuat Naruto kembali berdesis marah. "Sekretaris?! Yah, dia bisa jadi sekretarismu, Naruto."

"Huh, kau pikir aku bodoh? Kau menjadikannya sebagai alat untuk kesembuhanku. Itu yang kau katakan pertama kali dan itulah niatmu yang sebenarnya."

Oke, Shikamaru menyerah. "Ya ya.. memang itu niatku. Tapi apa salahnya mencoba?"

Naruto berdecak tidak suka akan ide itu, "Sudah sangat lama. Dia mungkin sudah menghilang dari bumi." Ucap Naruto tak perduli.

"Kita bisa mencarinya. Siapa namanya? Bukankah kau mengantar dia kerumahnya? Kau ingat dimana itu?"

Naruto menggeleng, "Itu tidak penting bagiku jadi aku tidak mengingatnya. Aku tidak tahu siapa namanya, aku tidak tahu rumahnya karena ku hanya mengantarnya sampai depan gang kecil yang bahkan aku lupa dimana itu, aku tidak ingat bagaimana dirinya, dan aku tidak berniat untuk mengingat apapun tentang itu. Sekarang pergilah!"

"Naruto.."

"Keluar!"

Shikamaru menghela nafas dan dengan berat hati keluar dari ruangan itu. Sebenarnya dia ingin mencari perempuan itu, tapi mau mulai darimana jika tidak ada sedikitpun petunjuk?

Cklek

Shikamaru berbalik setelah membuka pintu, "Aku akan mencarikanmu sekrestaris baru." ucapnya singkat lalu berjalan pergi dan menutup pintu itu.

Naruto menghentikan gerak tangannya saat pintu tertutup, dia menoleh kearah pintu dimana Shikamaru menghilang. Selanjutnya dia mengalihkan pandangannya sambil berpikir, "Nama gadis itu?" tanyanya bingung. Dia tidak pernah menyimpan nama perempuan dalam pikirannya kecuali nama Ibunya yang sudah tiada dan nama istri Shikamaru yang dulu bermarga Yamanaka itu.

.

.

Lean on You

Naruto x Hinata

Dis © Masasi Kishimoto

.

.

"Nara-san, calon sekretaris baru sudah berkumpul di ruangan anda."

Shikamaru mengangguk singkat atas laporan bawahannya saat dia kembali ke ruangannya. Dia segera melangkah menuju ruangannya. Masih mencoba mencari sekretaris untuk sahabat pirangnya itu setidaknya untuk dua minggu kedepan selama dia pergi, dan Naruto harus bertahan selama itu jika tidak ingin Shikamaru mengamuk dan mengirim lelaki Uzumaki itu ke dalam neraka.

Cklek

Shikamaru mendesah lirih melihat empat perempuan yang sudah duduk di sofa tunggu ruangannya. Empat perempuan yang sudah rapi dengan pakaian ala sekretaris yang terbuka. Kalau begini, bagaimana mungkin Naruto bisa tahan? Apa dia harus memberi syarat kepada sekretaris terpilih agar memakai pakaian yang serba tertutup saja?

Oh, itu ide yang 'bagus' jika di pakai untuk meeting dengan perusahaan lain. Yang ada Miku's Corp akan di pandang aneh oleh masyarakat luas.

"Hah," dia mendesah –lagi sebelum melangkah. Entah sudah beberapa kali dia mendesah lelah hari itu, padahal sekarang belum sampai setengah hari pekerjaannya, tapi dia sudah merasa lelah karena sikap seenaknya Naruto yang main pecat. Shikamaru mengerti alasan lelaki pirang itu, tapi kan… cari sekretaris itu bukan pekerjaan yang mudah.

Shikamaru menunduk singkat saat keempat perempuan itu menyapanya dengan senyum. Dia mendudukkan dirinya di kursi dan meraih berkas yang ada, surat lamaran keempat perempuan itu.

Dia membuka semuanya dan menyusunnya agar bisa membaca nama-nama itu dengan mudah. CV, surat lamaran, foto, ijazah, dan semua berkas lainnya. Namun pandangan Shikamaru tertuju pada nama-nama di CV yang ada.

Tsuburaya Ayumi

Hiroshi Amane

Hyuuga Hinata

Haruno Sakura

Empat nama yang akan dia wawancarai hari ini sebelum jam makan siang. Shikamaru tidak suka jika waktunya terpotong karena pekerjaan yang baginya membosankan. Benar-benar membosankan karena itu adalah kelima kalinya Shikamaru harus membuka wawancara untuk mencari sekretaris dalam tiga bulan terakhir.

Seharusnya pekerjaan seperti itu dikerjakan bagian HRD, tapi khusus untuk Naruto, dialah yang harus mencari criteria sekretaris terbaik, bukan hanya dalam hal umum, tapi juga hal-hal tertentu agar sahabatnya tidak makin tersiksa.

Mata hitamnya melirik, mengarah pada empat orang perempuan yang memiliki warna rambut berbeda. Ck, kenapa cirri-ciri keempat wanita itu sangat jauh satu sama lain? Merepotkan!.

.

.

"Ohayou, Bos!" Shikamaru menyapa Naruto yang baru saja turun dari mobilnya. Hari baru, semangat baru, kisah baru… tapi pekerjaan yang sepertinya akan tetap sama. Sama saja seperti hari-hari sebelumnya yang harus duduk di depan laptop dan berurusan dengan kertas, pena, grafik, tanda tangan, dan sebagainya. "Hah, merepotkan!"

Sapphire Naruto melirik saat kata itu terucap. "Kenapa? Pagi-pagi sudah menyebutkan kata itu, apa kau tidak mendapat jatah dari istrimu semalam?" pertanyaan yang akrab dan santai, tapi jadi sedikit aneh jika Naruto mengucapkannya dengan raut wajah dingin dan datar seperti itu.

Shikamaru mengangkat bahu, "Boro-boro jatah, dia malah membuatku tidak tidur karena harus memenuhi keinginan ngidamnya yang aneh-aneh."

"Anak pertama mungkin akan menyenangkan hari-harimu."

Senyum tipis hadir di bibir lelaki Nara itu saat sang sahabat membicarakan tentang anak. Seperti Naruto sudah wajar saja membicarakan anak, pikirkan dulu calon istri, baru anak. Shikamaru membatin sendiri. "Yah, semoga saja!" jawabnya dengan dua makna. Satu makna untuk merespon perkataan Naruto, satu lagi untuk mendoakan agar sahabatnya mendapat calon istri yang baru saja dia pikirkan. "Oh, aku sudah mendapatkan sekretaris baru untukmu."

"Hm."

"Aiiiss.." Shikamaru hanya berdesis pelan dengan tanggapan minim dari Naruto. Apa lelaki pirang itu tidak tahu jika dia harus duduk mewawancara selama hampir dua jam kemarin? "Oh, sepertinya dia sudah datang." Shikamaru berujar saat melihat seorang perempuan duduk di sofa tunggu lobi utama. Shikamaru menoleh untuk mendapat respon Naruto, tapi Naruto justru memfokuskan matanya pada ponsel di tangan.

"Naruto, kau dengar aku?"

"Hm."

"Ck, merepotkan!" Shikamaru berdecak kesal dan terus saja berjalan. Sampai saat dia menghentikan langkahnya di dekat perempuan yang dia lihat sebelumnya. "Kau sudah datang."

Perempuan itu mendongak dan segera berdiri, menunduk sedikit sebagai tanda hormat. "Iya, saya sudah datang, Nara-san. Saya menunggu Anda karena kemarin Anda bilang kalau Saya harus menunggu Anda untuk penjelasan tentang pekerjaan Saya."

Shikamaru mengangguk, "Tidak perlu terlalu formal." Lelaki itu menoleh dan mendesah pelan saat Naruto masih mengotak-atik ponselnya sambil berjalan santai, saat Naruto berdiri di sampingnya, barulah Shikamaru kembali berbicara. "Nah, ini adalah directur utama perusahaan ini,"

Perempuan itu menoleh, menatap seseorang yang dirasanya baru datang di dekat mereka. Dan tubuhnya menegang seketika.

"Namanya Uzumaki Naruto, kau akan bekerja menjadi sekretarisnya mulai hari ini." Shikamaru kembali melanjutkan bicaranya. Tapi dia mengangkat alisnya saat melihat tubuh perempuan itu menegang dan memandang horror kearah Naruto. Shikamaru berkedip dan menatap Naruto yang masih melihat ponselnya tanpa sedikitpun perduli, lalu Shika kembali melihat kearah perempuan itu dan masih mendapati tubuh perempuan itu yang kaku dan wajahnya pucat.

"Kau baik-baik saja?" akhirnya Shika bertanya langsung, menyentakkan perempuan itu dan membuatnya linglung sesaat.

"Uh-uhm.. ya… ba-baik.."

Alis Shikamaru mengernyit saat tiba-tiba saja perempuan itu menjadi gagap. Tapi dia memiih untuk mengabaikannya dan menatap kearah sahabat pirangnya. "Naruto, kau mendengarku? Setidaknya lihat dulu sekretaris barumu ini."

Naruto menghela nafas dan mengalihkan tatapannya, hanya menatap sekilas pada perempuan itu tanpa minat sebelum akhirnya dia kembali menatap ponselnya. "Ya, kau tunjukkan saja apa pekerjaan dan dimana ruangannya, aku ke ruanganku dulu." Ucap Naruto sambil melangkah pergi.

Meninggalkan Shikamaru yang mendesah menahan kesal. "Bocah itu…" geramnya. Dia kembali menatap kearah perempuan tadi dan kembali aneh saat perempuan itu terlihat seperti orang yang baru saja di kejar hantu. "Benar kau baik-baik saja?" tanyanya lagi.

Perempuan itu mendongak dan mengangguk. "Saya… Saya baik-baik saja, Nara-san." Jawab perempuan itu dengan lancar. "Uhm… apa… Saya harus bekerja sebagai sekretaris… lelaki yang tadi?"

Shikamaru mengangguk, "Kenapa? Kau lebih ingin jadi cleaning servis daripada sekretaris?" Perempuan itu diam dan menunduk, tidak menjawab dan tidak lagi bicara. "Hah, sudahlah. Ayo, aku akan menunjukkan ruanganmu dan menjelaskan bagaimana pekerjaanmu."

.

.

'Aku akan mengantarmu pulang.' sepasang sapphire itu mengarah dan menatap tanpa ada ekspresi sedikitpun, sangat tidak sesuai dengan tawaran yang keluar dari mulutnya. Wajah lelaki itu tampak tenang namun seperti menyimpan sejuta rahasia, mampu membuat seorang perempuan yang ada di hadapannya terdiam kaku tanpa kata.

.

.

Pandangan Hinata kosong mengarah ke depan. Pikirannya kembali melayang mengingat sekilas kejadian beberapa tahun yang lalu. Kejadian yang membuatnya memilih opsi berhenti kuliah dari sana dan pindah ke sekolah tinggi yang biasa saja. Kejadian yang membuatnya terakhir kali berjumpa dengan sosok itu, sosok yang mengerikan tapi menjadi malaikat penyelamatnya dalam waktu bersamaan.

Hinata tak pernah menduga hal itu akan terjadi. Dia bahkan harus merenung beberapa jam di rumahnya setelah kejadian itu berlalu hanya untuk meyakinkan dirinya jika yang menolongnya benar seorang lelaki yang di takuti seluruh penghuni kampus.

Berpikir jika semua bukanlah hal baik, ditambah lagi ancaman kedua orang yang hampir memperkosanya, Hinata memutuskan untuk tidak datang lagi ke Universitas itu dan berhenti tanpa kabar. Dia pindah tempat tinggal, mencari kerja baru, kuliah di sekolah tinggi biasa yang bahkan tidak terakreditasi. Tidak masalah, asalkan dia tetap memegang ijazah dan bisa hidup tenang.

Sampai akhirnya, tetangganya mengatakan jika ada lowongan yang terbuka untuk mencari posisi sekretaris di sebuah perusahaan. Hinata sudah lebih dulu tersenyum sanksi jika dia akan di terima dengan ijazah dan kemampuannya itu. Tapi karena tetangganya itu seorang yang pemaksa, akhirnya dia mencoba memasukkan lamaran.

Kata tetangganya sih, 'coba-coba berhadiah', tidak di terima ya sudah, di terima ya syukur.

Dan BOOM! Hinata bahkan tidak beranjak dari tempatnya saat dia menerima telpon dari lelaki Nara yang mewawancarainya, lelaki itu bilang kalau dia di terima sebagai sekrestaris. Ya, mungkin Kami-sama sedang berbaik hati. Hinata sangat bersyukur dan sangat senang.

Tapi…

'Namanya Uzumaki Naruto. Kau akan bekerja sebagai sekretarisnya.'

…ucapan lelaki Nara tadi sukses membuat tubuh Hinata hampir gemetar ketakutan. Jantungnya nyaris lepas saat sosok tubuh tegap itu masuk dalam indra penglihatnya.

Dan sekarang, Hinata tidak tahu dia beruntung atau justru sial karena di terima di perusahaan besar seperti ini? Jika saja dia sudah melupakan logikanya, mungkin sekarang dia sudah mengajukan surat pengunduran diri tanpa bekerja karena rasa takutnya.

Hinata sendiri tidak tahu kenapa dia masih merasakan rasa takut kepada seorang Uzumaki Naruto. Mungkin karena dari sejak awal Hinata mendengar rumor tentang lelaki itu beberapa tahun lalu, Hinata sudah menanamkan di hatinya jika dia tidak ingin berurusan dengan Uzumaki Naruto. Tapi di saat terakhirnya melangkah pergi dari gerbang kampus itu, dia justru berada dalam boncengan motor seorang Uzumaki Naruto yang tidak dia inginkan untuk terlibat dalam hidupnya.

'Apa yang harus ku lakukan sekarang?' tanyanya dalam hati masih dengan pandangan kosong kearah depan, tidak menyadari jika sosok yang sedang dia pikirkan sudah berdiri di depannya dan memandangnya dingin bercampur kesal.

Brak

Gebrakan meja membuat Hinata tersentak dan terbangun dari lamunannya, dia mendongak dan mata peraknya melebar saat lagi-lagi mendapati sosok itu menjulang berdiri di depannya. "Jika kau hanya ingin melamun, tidak usah bekerja disini." Hinata tercekat saat suara itu terasa benar-benar dingin dan membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Dia berusaha kuat untuk menggangguk sekali sembari menggumamkan kata, "M-m-m-ma-maaf.." dengan suara gemetar.

Naruto menyipitkan matanya dan mendengus kasar, dia melempar pelan satu proposal ke atas meja Hinata. Membuat perempuan itu lagi-lagi tersentak. "Itu proposal untuk meeting kita hari ini. Pelajari dan bersiap, jadwalnya sejam lagi."

Hinata menggangguk lagi dengan kaku dan tangannya bergerak meraih proposal itu.

Saat Naruto berjalan pergi, dia menghembuskan nafas yang terasa menyumbat tenggorokkannya tadi. Wajahnya sedikit pucat dan dalam hati dia sedikit lega karena sepertinya… "Dia tidak mengenaliku?"

.

.

"..ga.."

"Hyuuga!"

Hinata tersentak saat panggilan itu kembali mengagetkannya, dia merutuk dalam hati karena selalu melamun sehari ini. Padahal sekarang dia sedang berada dalam lift berdua dengan atasannya untuk menuju tempat rapat.

"Kau benar-benar ingin berhenti bekerja di hari pertamamu?"

"Ti-tidak… ma-maaf, Uzumaki-san."

Naruto menghela nafas kasar melihat itu. Dia harus bertahan kali ini jika tidak ingin Shikamaru mengamuk padanya karena memecat orang lagi. "Apa kau sudah mempelajari proposalnya?"

Hinata mengangguk, "Su-sudah, Saya sudah membaca dan mempelajarinya. Saya akan be-berusaha un-untuk mengerti semuanya selama rapat berlangsung."

"Hm, aku tidak suka sekretaris yang tidak becus." Ungkap Naruto dingin. Dia memang tidak suka jika mendapat sekretaris tidak becus, apalagi jika sekretaris itu berjenis perempuan. Sekarang saja dia berdiri di depan dengan angkuhnya sementara Hinata berdiri di belakang dengan menunduk. Ukuran lift yang lumayan besar menguntungkannya agar tidak terlalu dekat dengan orang lain. "Kau kuliah?"

Pertanyaan yang keluar jalur resmi itu sedikit menyentakkan Hinata sebelum dia kembali menjawab. "Iya. Saya baru saja lulus tahun lalu."

"Kau kuliah jurusan apa?"

"A-akutansi."

Naruto mengangguk pelan, "Baguslah, berarti kau bisa cepat mengerti dengan tugasmu." Hinata sedikit bernafas lega karena suara Naruto tak lagi sedingin sebelumnya. "Apa kau pernah rapat dengan beberapa orang perusahaan?"

"Ti-tidak."

Naruto hanya menghela nafas mendengarnya. Sekretarisnya ini tidak punya pengalaman, bahkan dari ijazah yang dia lihat dari Shikamaru, nilainya tidak begitu tinggi walau juga lewat dari standar. Apa alasan Shikamaru bisa menerimanya? Naruto tidak mengerti. "Dimana rumahmu?" tanyanya lagi.

Lagi-lagi Hinata sedikit bingung dengan pertanyaan yang bukan pekerjaan itu, tapi mungkin seperti sebelumnya, pertanyaan itu juga menyangkut tentang pekerjaan. Mungkin Naruto ingin tahu kemampuan Hinata dari pertanyaan-pertanyaan seperti itu, pikir Hinata. "Rumah Saya tidak jauh dari sini."

"Baguslah, jadi kau tidak masalahkan jika pulang larut malam?" tuh kan, pertanyaan Naruto meski keluar dari pekerjaan pasti masih kembalinya ke pekerjaan. "Posisi sekretaris sedikit rumit akhir-akhir ini jadi pekerjaan yang ada tidak terlalu terurus. Kau harus menyelesaikan semuanya secepat mungkin."

Menghela nafas sebentar, Hinata menjawab 'iya' dengan pelan. Setidaknya dia sudah menyiapkan diri untuk pekerjaan yang makan banyak pemikiran seperti ini. Pekerjaannya selama ini lebih sering menggunakan tenaga daripada pemikiran, jadi Hinata harus membiasakan diri mulai sekarang. Pemikiran yang cepat dan teliti, serta kondisi tubuh yang fit untuk bisa lembur.

Huft, semoga dia bertahan. Setidaknya Naruto tidak mengenalinya jadi dia bisa lega. Hinata hanya merasa malu, takut dan tidak siap jika memang Naruto mengingatnya dan membicarakan masa lalu yang terasa pahit bagi Hinata dan ingin dia lupakan.

.

.

"Huft.." Hinata menghembus nafasnya menghadap cermin yang ada di depannya. Dia baru saja mencuci tangan dan sedikit bernafas lega karena rapat barusan berlangsung lancar. Sebagai sekretaris dia tidak banyak peran dan tidak perlu banyak bicara. Dia hanya menemani dan mencatat yang sekiranya perlu serta menyiapkan beberapa berkas yang di butuhkan Naruto dan tentu saja sudah dipersiapkan sebelumnya.

Sekarang dia ada di toilet sekedar untuk merilekskan sedikit dirinya karena tadi dia cukup tegang. Bagaimanapun ini adalah rapat resmi yang dia jalani.

Setelah merasa cukup, Hinata mengeringkan tangannya di mesin pengering dan merapikan sedikit bajunya. Kemeja yang di balut dengan blazer cream yang tidak terlalu ketat. Rok yang dia gunakan pun tidak terlalu minim bahkan sampai lewat sedikit dari lutunya. Ya, penampilannya masih tergolong sopan walau berbeda dengan sekretaris kebanyakan.

Hinata tidak suka berpakaian yang terbuka, apalagi sejak dia hampir di perkosa waktu itu. Dia sebisa mungkin menutup dirinya. Tapi setelah bekerja di berbagai tempat, dia sadar jika beberapa pekerjaan butuh penampilan yang menarik. Apalagi jika sekarang dia menjadi sekretaris, itu memaksanya untuk berpenampilan lebih baik lagi.

Pakaian yang dia miliki kini tidak sedikit dulu. Walau dia harus pintar mengakalinya. Dia selalu membeli celana dan rok warna hitam agar orang berpikir kalau dia suka warna itu dan memiliki pakaian dengan banyak warna yang sama. Jadi orang tidak akan berpikir jika dia mengenakan baju yang sama hanya kelang waktu satu hari.

Nyatanya, dia memang hanya punya dua blazer yang bisa di kombinasikannya dengan tiga kemeja yang berbeda. Seolah membuatnya beda penampilan setiap hari walau nyatanya yang di pakainya hanya itu-itu saja. Selebihnya pakaian yang dia miliki adalah pakaian santai biasa yang juga hanya dalam jumlah normal. Dan beberapa celana jins dan dasar yang bisa dia gunakan untuk keluar rumah atau saat bekerja, di tambah dengan rok yang hanya beberapa saja.

Memang, kalau di hitung, pakaian yang dia miliki tidak lebih dari sepuluh pasang, tapi itu lumayan daripada hanya empat pasang yang membuatnya terpaksa mengenakan baju yang sama setiap dua hari sekali.

Ugh, perasaannya kembali tidak enak jika mengingat masa lalu.

"Lebih baik aku kembali." Ujarnya dan melangkah keluar dari toilet. Tapi, baru beberapa langkah dia keluar dari toilet, dia merasa tubuhnya di tarik seseorang dan terdorong ke dinding di tempat yang lumayan sepi. "Ugh," dia meringis saat punggungnya membentur dinding.

Dia membuka matanya dan tercekat saat wajah Naruto sudah berada sangat dekat dengannya. Tubuh tinggi tegap itu mengurungnya diantara dinding dan tubuhnya. Tatapan sapphire itu begitu dalam dan sulit di artikan.

Nafas Hinata semakin tertahan saat wajah itu perlahan mendekat, mengikis jarak yang ada, dan memaksa Hinata untuk lebih memilih memejamkan matanya menanti apapun yang akan terjadi.

.

.

.

Bersambung

.

.

.

Thanks to :

Avia Hasava ; Anna Renatana ; Azu-chan NaruHina ; sutrayasa1990 ; Agan Mangekyou Sharingan ; sukanyaanimesamakpop ; Nana481 ; Mell chan 22 ; Yukiko otsutsuki ; Namsoyo ; lililala2499 ; Na ; Durarawr ; meganeko-chan24 ; Guest ; Guest ; Guest ; DiTa ; yuka ; Luluk-ChaN473 ; ana ; Guest ; nenggeulis ; anishl ; Gaara van astrea ; ana ; rareangon ; Uzumakisrhy ; noy ity ; aeri12 ; megahinata ; Guest ; guye ; ulleehime ; Namikaze ; Tisnata404