Chapter 2 : The clues
.
.
.
.
Proudly present
Can The Hatred Change?
-PurpleLittleMoon-
Warning! : Alur ga beres, OOC berat, Rate M : bukan untuk lemon! Tapi untuk kata-kata kasar. Sangat-sangat abal.
.
.
.
.
Don't like don't read!
.
Haruno Sakura melangkahkan kaki jejangnya di koridor lantai 2 KJHS hingga mencapai kelasnya. Tidak banyak yang menyapanya, karena ia memang anak yang tertutup, pendiam dan kurang suka bergaul.
Sreekkk
Pintu kelas 1-3 dibuka. Dan yang ia lihat adalah... Pemandangan pagi seperti biasanya, kelas masih sepi dan tenang. Inilah saat-saat yang ia sukai. Sakura berjalan dengan santainya menuju meja pojok kanan paling belakang dan dengan nyamannya duduk disana sambil membaca novel yang baru ia pinjam dari perpustakaan kemarin.
Sakura membaca dengan serius dan tenggelam dalam dunianya sendiri hingga suara bel pelajaran pertama mengganggu aktivitasnya. Ia merutuki bel yang berbunyi lebih cepat 5 menit dari biasanya. Gila, jika berbunyi 5 menit lebih lama, Sakura pasti sudah menghabiskan novelnya yang tinggal selembar. Kecepatan membaca Sakura tidak bisa diragukan lagi. Bisa 200 kata permenit *jago amat lu sak* dan bahkan ia mengerti dengan baik apa yang ia baca.
"Pelajaran pertama apa sih?" Gumamnya pada diri sendiri. Suaranya sangat pelan seperti berbisik tapi ternyata...
"Sejarah."
.
.
.
.
Di atap sekolah KJHS yang tenang dan damai. Disinilah para murid menghabiskan waktu 'bolos' mereka.
Tentu saja mereka suka, karena disini sangat tenang, damai dan-
"HUAHAHA! Teme! Kasian sekali sih nasibmu! HUAHAHA!"
Ohh, maaf. Kutarik kata-kataku karena si bodoh Namikaze Naruto menghancurkan scene dramatis nan eksotis (?) Tadi.
"Diam kau dobe! Kau malah membuatku semakin down bodoh!" Jawab Sasuke ketus.
Gila, dia menceritakan kekesalannya pada Naruto dan -siapa tau- Naruto tau siapa 'the luckiest girl in this world' yang dapat bertunangan dengannya. Tapi si Naruto bodoh itu malah menertawakan nasib buruknya. Siapa yang tidak emosi bila keluh kesahnya ditanggapi dengan tawa kemenangan diatas penderitaannya? Bahkan Sasuke yang kekurangan stok ekspresi dalam DNAnya pun bisa marah.
"Kalau saranku sih Teme, kau pamerkan saja kalung itu, jadi pasti kan kalau ada yang memiliki kalung pasangannya akan sadar dan, ya ... Ya... Begitulah.~ atau cara cepatnya, kau tanya ayahmu, atau ibumu, atau aniki mu. Mungkin mereka tau. A- salah, maksudku mereka pasti tau dan siapa tau mereka mau memberitahumu..." Saran Naruto.
"Mana mungkin mereka mau memberitahuku dobe. Tapi, Aniki? Mungkin dia bisa membantu. Bukan, tapi harus membantuku." Sasuke menyeringai lebar.
.
.
.
.
Di kediaman uchiha yang selalu damai, tenang dan penuh kebisuan~
"Kau aniki paling tampan sedunia!" Rayu Sasuke ter-pak-sa! Sial, padahal ia berfikir untuk memanfaatkan kakaknya yang bodoh, tapi malah dia yang dibodohi kakaknya. Agh!
"Aku tau aku tampan Sasuke. Tapi aku tetap tidak akan memberitahumu." Ucap Itachi teguh pada pendiriannya. A- bukan, sebenarnya ia ingin Sasuke memujinya lebih lagi. Jarang-jarang kan Sasuke memujinya?
"Aniki ayolah! Kau satu-satunya harapanku! Kau mau ada orang yang mengaku kalau dia itu adalah 'the luckiest girl' itu dan karena aku tidak tau, jadi aku percaya. Dia memaksaku untuk menikahinya padahal aku baru kelas 2 SMP dan anakku buruk rupa dan malah tidak mewarisi darah Uchiha sama sekali. Dan kau akan ikut malu Itachi-nii!" Ucapnya supeeeerr panjang. Bahkan Itachi sendiri tidak menyangka itu benar-benar adiknya yang selalu pelit kata dan dingin.
"Hei alien! Kembalikan Sasuke!" Ucap Itachi bodoh. Bahkan para Uchiha ragu kalau Itachi itu adalah Uchiha. Memang jenius, tapi kelakuannya, bak Klan Namikaze saja.
"Hei Itachi-nii! Kau gila ya? Jangan bercanda disaat aku sedang serius!" Bentak Sasuke. Ok, sekarang Itachi yakin dia itu Sasuke. Karena hanya Sasuke yang berani membentaknya secara membabibuta.
"Baiklah, baiklah. Yang pasti, kau tidak akan menyesali pertunangan ini."
"Bagaimana aku tau aku tidak akan menyesal jika calon tunanganku saja aku tidak tau! Ayolah aniki! Apa kau mau melihat adik tercintamu ini menderita? Kau benar-benar jahat jika kau menjawab 'Ya' kumohon Aniki, kumohon." Shit, hancurlah harga dirinya memohon-mohon begitu ke Itachi. Tapi, tak apalah itu juga demi kepentingannya. Yang penting ia sudah melancarkan 'jurus ampuh' yang dapat membuat hati Itachi meleleh.
"Kuberi 5 clue," ucap Itachi -sok- misterius. Sasuke langsung bungkam dan duduk manis layaknya anak TK yang baru mendengar bel pulang.
"Clue pertama, dia adik kelasmu."
Sasuke mengerutkan alisnya, "adik kelas? Ap-"
"Clue kedua. Dia jenius."
"Jenius? Aku itu paling jeni-"
"Clue ketiga, dia pendiam dan tertutup"
"Hei! Bagaimana aku bisa menge-"
"Clue keempat, dia sangat cantik."
"Apa kau yak-"
"Clue terakhir, warna rambutnya nyentrik abis."
"Menjiji-"
"BERHENTILAH MEMOTONG PERKATAANKU BAKA OTOUTO!"
"Cih! Habis cluenya aneh-aneh!"
"Memang kenyataannya begitu."
"Tapi... Apa clue itu benar semua?"
"Kuyakin 100% karena aku sudah tau orangnya dan menurut catatan sekolah dan prestasi dia memang jenius. Dan menurutku, dia memang cantik."
"Sekolah? Dimana dia sekolah?"
"DisekolahMU. Mudah kan menemukannya? Bilang apa pada anikimu yang tampan dan elegant ini?"
"Oh great! Thanks aniki!"
Lalu Sasuke keluar dari kamar anikinya.
"Anak jaman sekarang, aneh-aneh saja..."
.
.
.
.
"Sakura." Panggil seseorang.
"Oh kau. Kenapa?" Tanya Sakura tanpa berpaling dari buku yang ia baca. Mendengar suaranya saja ia sudah tau siapa yang memanggilnya,
Tenten.
"Apa kau tidak bosan membaca terus hm? Kupikir akan lebih baik jika kau membuka diri dan ikut bermain dengan anak-anak perempuan lain," lalu Tenten mengambil sembarang kursi dan mendudukan dirinya berhadapan dengan Sakura, "kurasa kau butuh pencerahan Sakura. Sifatmu tidak pernah berubah dari SD kau tau?"
"Aku tidak bosan Tenten. Dan, bergaul dengan mereka?" Sakura melirik ke arah gadis berambut blondie yang diikat ala ponytail dan para pengikut setianya yang sedang bergosip ria -Sakura yakin itu- dan sesekali tertawa, atau bahkan menampakan berbagai ekspresi seperti ekspresi jijik, senang, bahkan melompat-lompat seperti orang sinting, "kurasa akan lebih baik aku sendirian selamanya."
"Iya sih... Aku tau mereka ya... Ya kau tau lah. Tapi kurasa kau harus mulai membuka diri. Jika kau terus-terusan menutup dirimu untuk pergaulan, bagaimana kau bisa mendapatkan SasoriMU hm? Ia hanya 1 tahun disini loh Sak, jangan sia-siakan kesempatan emas ini. Dan ini sudah semester 2, ia akan sibuk dan... Kau tau..." Goda Tenten.
"Hei Ten! Nanti terdengar orang! Hish! Kau itu ya." Omel Sakura pada Tenten, sepupunya. Ia panik sendiri karenanya. Ia memang tengah 'memendam rasa' pada Sasori, kakak kelasnya di kelas 3-2 yang memang sudah ia sukai saat pandangan pertama.
"Hehe... Iya, iya maaf." Ucap Tenten setengah tertawa.
"Tapi Ten, ak-"
KRING KRING KRING
"Yah sudah masuk Sak. Ntar istirahat kedua aku kesini lagi deh, jaa!" Lalu Tenten berbalik kembali ke kelasnya di 1-1. Sepupu Sakura yang satu ini memang paling mengerti Sakura. Selalu ada untuknya, sangat ceria dan sangat mengerti saat dimana Sakura ingin sendiri dan saat dimana Sakura butuh sandaran. Benar-benar sepupu sekaligus sahabat sekaligus guru -dalam masalah hidup juga cinta- tempat curhat dan segalanya. Tenten terkadang cerewet tapi Sakura tau Tenten tidak akan pernah menjerumuskannya.
KRIET
Seseorang yang dikenal sebagai guru biologi masuk ke dalam kelas 1-3, Orochimaru-sensei. Guru biologi paling killer yang dibenci seluruh lapisan kalangan KJHS. Sakura sendiri tidak ambil pusing sama sekali dengan sifat Orochimaru, yang penting ia mengerti pelajarannya dan mendapat nilai bagus. Selesai. Dan justru itu yang membuat Sakura menjadi murid favorite Orochimaru dan hal itu juga membuat Sakura geli sendiri karena Orochimaru sering memperlakukannya 'lain' dari yang lain. Menjijikan.
"Ohayou anak-anak. Keluarkan buku biologi kalian dan kita akan belajar tentang anatomi ular."
.
.
.
.
TUK
Uchiha Sasuke menjatuhkan pulpennya ke meja. Ia tidak mendengar sama sekali penjelasan tentang pemfaktoran bentuk aljabar yang diterangkan oleh guru matematika tercinta mereka, Kakashi-sensei, guru yang juga killer namun ia tidak se-men-ji-ji-kan Orochimaru tentunya. Guru lajang ini juga digemari banyak murid -bahkan guru- perempuan.
Raga Sasuke memang di kelas, tapi pikirannya melayang entah kemana memikirkan soal 'siapa-gadis-yang-ia-cari' ayolah, kenapa harus main tebak-tebakan segala sih? Tinggal memberitahu saja ribet. Jika mereka memberitahu dengan mudahnya, ia tidak akan menggalau di kelas bak Sai yang hubungannya putus nyambung terus sama Yamanaka Ino.
'Ayolah Sasuke, gunakan otak jenius Uchihamu. Seharusnya dengan clue-clue yang diberikan Itachi itu sangat mempermudah dalam mencari gadis itu. Ini tidak akan jadi masalah besar.
Ayo buat hipotesa Sasuke,
Satu, dia pasti anak kelas satu karena Itachi bilang dia adik kelasku.
Dua, kata Itachi dia jenius dan selalu menempati ranking pertama. Jadi tinggal meminta daftar murid berprestasi yang menempati ranking pertama pada semester 1 lalu ke tata usaha.
Tiga, pendiam dan tertutup. Dari informasi kedua bisa kuselidiki orangnya.
Empat, dia cantik. Hmm... Ini agak susah, karena lumayan banyak gadis cantik disini. Tapi, aku tau 'cantik'nya Itachi. Pasti sangat cantik.
Lima, warna rambut? Sepertinya aku pernah melihat warna rambut yang nyentrik abis. Akan sangat mudah menemukannya.
Baiklah, hipotesa selesai. Mudah, terlalu mudah, ditambah lagi dengan kalung ini, akan jadi sangat mudah.'
"Uchiha! Jangan melamun dan cepat kerjakan nomor 4!"
.
.
.
.
BRUK
Si bungsu keluarga Uchiha yang masih upilan dalam masalah cinta itu menjatuhkan dirinya ke ranjang ukuran king size yang dilapisi sprei berwarna biru muda.
Ia menghela nafas panjang.
Mencari dan menunggu. Dua hal yang paling ia benci di dunia ini. Dan pada kenyataannya ia harus dihadapkan dengan salah satu dari hal yang ia benci, mencari.
Ia harus mengumpulkan tenaga untuk mencari 'gadisnya'. Gadis misterius yang entah bagaimana bisa menjadi pilihan terbaik untuknya menurut ayahnya yang pasti pikirannya terkontaminasi oleh film drama Korea yang sering ditonton oleh ibunya sampai terkadang nangis bombay.
Tapi... Melupakan Karin secara total memang sulit. Karena bayangan gadis yang sudah 2 tahun lebih mengisi hatinya itu tak kunjung hilang dari otaknya. Meskipun ia membenci gadis kurang ajar itu, tapi pasti ia akan merindukannya.
Hah sudahlah. Memikirkan jalur hidupnya memang melelahkan. Lebih baik ia mengumpulkan tenaga dan menyiapkan otak dan hati kalau-kalau gadis itu tidak sesuai harapannya. Dan sekarang, opsi terbaik adalah... Tidur. Ya, Sasuke menutup pasrah matanya dan mulai menelusuri dream land nya.
Sampai jumpa besok, perjuangan untuk mencari...
Tsuzuku
A/N : Yo! Readers-tachi. Makasih udah memberiku semangat dan meyakinkanku untuk melanjutkan fic abal ini. Dan terimakasih untuk semua reviewers yang berbaik hati. Juga untuk Uzumaki Himeko-san. Makasih ya Himeko-san atas sarannya! Karakternya... Ya mungkin akan sedikit -bahkan banyak- begitu. Dan untuk mata Karin Kei minta maaf! Dan untuk kata-kata kasar, makanya Kei naikin rate jadi m dan ganti genre jadi angst biar aman untuk kata-kata kasar. Hehe... Dan aku sudah berusaha membuat chapter ini lebih baik, walau mungkin masih belum baik sih... Semoga Himeko-san ga kecewa ya! Dan aku ga anggap itu flame kok! Itu justru memperbaiki cerita ini. Arigatou Himeko-san dan semuuuaaaaaa yang sudah menyempatkan diri untuk membaca cerita ini. Dan, tolong tinggalkan jejak kalian di kolom review ya minna-san! Semakin banyak review semakin mendongkrak semangat Kei loh! Haha. Akhir kata... Wait for the next chapter ya!
