Let's Start The Party

a Bleach © Kubo Tite fan fiction

Warning: OOC, typo, garing abis, aneh bin ajaib

.

.

"Abarai," Hisagi menelan air liurnya dengan gugup. "Setelah mendengar idemu ini, aku dengan senang hati mundur dari misi ini."

"Misi apaan? Ngaco banget. Ayolah, kita hanya bisa menikmati sekali seumur hidup. Mumpung kita masih muda, sehat, dan bugar!" bujuk Renji setengah mengancam. Reiatsu Renji, yang harus Hisagi akui lebih besar darinya, menari-nari di sekeliling Hisagi memberi bujukan mematikan.

"Aku akui, tawaranmu menggiurkan. Tapi, tidak. Aku nggak mau dicincang sama taichou-mu."

Renji pun mendengus kesal sambil berkacak pinggang, "Lalu, buat apa kuberikan kimono yang kau kenakan sekarang? Itu bukan pakaian biasa, kainnya terbuat dari bahan yang bisa menyamarkan reiatsu penggunanya."

"Meskipun begitu, tetap saja resikonya tinggi!"

"Senpai mau terus-terusan mengemis minta makan sampai hari gajian? Mau tiap hari berjalan di Seiretei kek zombie? Kehilangan penggemar setia di SWA?"

Hisagi jelas tidak mau. Dia tidak mau harga dirinya jatuh gara-gara kelalaiannya menjaga diri. Akhirnya, ia menyerah. "Oke kalau begitu. Memang menunya apa saja?"

xxxxxx

Taman Kuchiki manor yang biasanya luar biasa kini tampak lebih luar biasa. Dahan pohon koleksi taman keluarga Kuchiki kini dihiasi dengan lampion indah yang menggantung di mana-mana. Bunga hydrangea bermekaran menciptakan parfum alami yang menggugah indera penciuman. Dekorasi taman yang bertema romantic white menjadi primadona taman itu. Bintang-bintang yang bersinar di angkasa mempercantik suasana malam itu.

Malam yang siap dirusak oleh dua tamu tak diundang.

Setelah menghajar beberapa pengawal rumah itu, Hisagi dan Renji berhasil menyelinap di balik semak-semak dekat taman utama. Di depan mereka, tersajikan sebuah pesta kebun yang sedang diselenggarakan di salah satu taman tercantik milik Kuchiki manor. Ratusan orang mengenakan pakaian terbaik mereka, berwarna-warni bagaikan pementasan film Bollywood.

Hisagi, yang mengenakan kimono formal berwarna merah marun, membulat matanya ketika melihat makanan lezat berjejer di atas sebuah meja panjang dengan gaya rijsttafel. Tuhan, nominal semua makanan di sana pasti belum sebanding dengan jumlah gaji Hisagi selama 50 tahun kerja jadi letnan di Gotei 13 plus jerih payahnya sebagai ketua editor Seiretei News.

Renji, yang melihat kakak kelasnya ngiler, tersenyum licik di dalam hati. Tadi siang, setelah mendengar keluh kesah Hisagi-fukutaichou, ia langsung berpikir keras tentang bagaimana cara agar ia bisa menolong rekan sepenanggungannya itu. Awalnya Renji siap mengusulkan untuk pergi mengamen, tapi setelah ingat permainan gitar Hisagi yang masih amburadul, dia kubur dalam-dalam niat itu. Dagang kecil-kecilan, mau jual apa? Jual diri? Lalu, apa yang harus Renji lakukan?

Akhirnya, ketika otak Renji sudah mau jebol, dua dewa penolong datang menghampirinya. Kedua dewa yang bernama Kyoraku-taichou dan Ukitake-taichou petang tadi terdengar bercakap-cakap di lorong Divisi 1. Renji, yang sedang dalam perjalanan kembali ke ruang kerjanya setelah mengantarkan beberapa tumpuk berkas ke ruangan soutaichou, tanpa sengaja mendengar mereka berbincang-bincang di pojok belokan dekat pintu keluar.

"Ne, kudengar salah satu kerabat Byakuya akan menikah ya?" ucap Ukitake memulai pembicaraan.

"Ah, betul, salah satu sepupu jauhnya akan menyelenggarakan pernikahan musim gugur besok. Sepertinya bakal besar-besaran. Biasa, bangsawan," cibir Kyoraku sambil membetulkan posisi topi jeraminya. "Hei, Jushiro, apa malam ini kau akan datang?"

"Hah, datang ke mana?" tanya Ukitake nggak nyambung.

"Pesta pertunangan sepupu Bya-kun, lah. Kau tidak dapat undangan?"

Pria berambut putih panjang itu memiringkan kepalanya, "Um, kelihatannya aku dapat. Tapi mungkin disingkirkan oleh Kiyone kemarin, padahal belum sempat kubaca. Malam ini, ya?"

Kyoraku mengangguk dengan semangat, "Betul. Ayo temani aku ke sana. Pesta itu tertutup hanya untuk kaum ningrat saja, kek kita! Akan ada sake dan para geisha cantik di sana! Ayolah …"

Teman si komandan pecinta wanita itu hanya bisa menggeleng lelah, "Aku tidak bisa, Shunsui. Pekerjaanku melambai-lambai memanggilku."

"Cukup kali ini saja, bung. Istirahatlah sebentar, kalau kau paksa dirimu nanti TBC-mu kambuh. Lagi pula, akhir-akhir ini Kuchiki juga susah ditemui. Ambil saja kesempatan ini untuk bicara dengannya, apalagi kau ingin mengangkat adiknya menjadi fukutaichou-mu, kan?" rayu Kyoraku berbisik sambil menundukkan kepalanya, menyembunyikan bibirnya di balik topinya yang lebar.

Ukitake terdiam sejenak, memikirkan ucapan sahabatnya itu. "Baik. Tapi, jangan buat kekacauan, lho. Kalau kau mabuk dan mempermalukan dirimu sendiri, aku nggak akan membawamu kembali ke kamar tidurmu."

"Sip!" Kyoraku mengacungkan kedua jempol tangannya, "sampai jumpa di depan pintu masuk. Jangan lupa pakai baju yang keren, ya!" Haori merah muda Kyoraku berkibar di belakang pemiliknya, meninggalkan Ukitake yang mangap seperti ikan koi curian Yachiru.

"Oh, halo, Abarai!" sapa Kyoraku ketika tiba di pintu keluar, "have a nice weekend!"

Renji sungguh terpana melihat keantikkan taichou Divisi 8 yang jejingkrakan persis orang gila. Wah, kalau dilihat-lihat sepertinya pestanya bakalan seru. Ilham Renji mulai aktif lagi. Dalam hati, Renji mencatat setelah ia menyelesaikan semua tetek bengek di Divisi 6, dia akan bertamu sebentar ke Divisi 12 meminta izin mengenakan kimono hasil eksperimen sana … semoga saja berhasil.

"Gimana? Nyesel, nggak?" tantang Renji sambil mengamati suasana pesta.

"Jelas nggak," Hisagi langsung menanggapi bagaikan anak kecil yang melihat gunungan permen coklat.

"Yuk," ajak Renji keluar dari tempat persembunyian. Kedua penjahat kambuhan itu dengan percaya diri berjalan dari pojok semak belukar menuju tengah taman. Mereka berusaha membaur dengan tamu-tamu yang lain. Puji syukur, mereka berhasil merapat di meja prasmanan itu. Tapi, kok yang antri banyak?

Kini, Renji hanya bisa garuk-garuk kepala, "Waduh, aku lupa mikirin yang ini."

Berjejerlah para bangsawan dengan dandanan yang saingan dengan badut mabok, mengantri mengambil makanan. Antrinya panjaaaaaang banget. Jika diperkirakan, ketika antrian ini berakhir, makanan yang menjadi target duo letnan itu sudah ludes.

Mendadak, Hisagi dapat ide. "Tenang, bos. Aku punya solusinya."

Pria berambut hitam itu melangkah melewati Renji, membuat kawannya tersebut bertanya-tanya. Bola mata Renji mengikuti Hisagi sampai letnan nanas merah itu menyadari, dengan tatapan horor, ke mana Hisagi berjalan.

Panggung pertunjukan musik.

"Senpai, kau gila!" Renji dengan sigap mencengkram lengan atas Hisagi, merasa wajib untuk menghentikannya. "Mau dilabrak Kuchiki-taichou?"

"Hohoho," Hisagi terkekeh bak Sinterklas, "tenang saja. Aku akan maju ke atas panggung dan menyumbang suaraku sebentar saja. Bakal kualihkan perhatian semua tamu di sini. Nanti, kalau semua mata tertuju padaku, tugasmu adalah mengisi piring kita dengan makanan sebanyak yang kau mampu."

Mendengar usulan Hisagi, Renji memutuskan untuk menarik kembali protesnya. "Jenius juga kau." Yah, meskipun permainan musik Hisagi jauh dari kata standar, kualitas suara Hisagi justru kebalikannya. Mungkin hasil sering nyanyi di kamar mandi. Karena itu, Renji membiarkan kakak kelasnya itu melaksanakan misi bunuh diri ini.

Dengan dagu yang diangkat, Hisagi memberanikan diri menuju belakang panggung. Setibanya di sana, ia mendapati seorang anak kecil berambut pink mengenakan seragam dewa kematian mondar-mandir dengan cemas.

"Hisagi-chan?" Yachiru Kusajishi menyambut shinigami berambut hitam yang tingginya menjulang di atasnya. "Kok kamu ada di sini?"

Siapapun yang mendengarku, tolong bunuhlah aku dan kirimlah daku ke dunia lain, jerit Hisagi dalam hati. Bagaimana bisa setan mungil ini ada di sini? Tidak, kedoknya akan terbongkar, tidaaaaaaak!

"Eh, Kusajishi-fukutaichou," balas Hisagi kagok, "aku diajak sama, nggghh, adik bungsunya Omaeda-fukutaichou. Aku diundang menjadi pasangannya di pesta ini atas rekomendasi Omaeda, hahaha."

Mata Yachiru membulat lebar, "Aku tidak menyangka gajah bunting itu punya adik. Apa adiknya persis kayak dia? Kok kamu mau jalan sama dia?"

Oke, waktunya mengalihkan pembicaraan, "Itu urusan orang gede. Sekarang giliranku, apa yang kau lakukan di sini?"

SI letnan Divisi 11 itu langsung melonjak kegirangan, "Ah, iya! Aku jadi event organizer buat pesta ini, lho! Byakushi mengizinkanku mengatur pesta ini karena aku sering banget mampir ke kamarnya! Ahhhh, Byakushi pasti cinta mati sama aku kalau sampai dia ngijinin aku ngatur pesta ini, bla, bla, bla …"

Dari sudut panjang Hisagi, sepertinya Kuchiki-taichou sudah kehabisan ide untuk mengontrol anak kecil cabe rawit ini.

"… kebetulan pas aku mampir ke ruang kerja Byakushi ,dia sedang kewalahan ngurus sesuatu. Aku tanya aja lagi apa, tapi dia nggak jawab. Kuintip, ternyata ngurus apa gitu lupa namanya pokoknya tentang pesta. Aku langsung ngomong aja pesta itu harusnya kayak gini dan gitu. Oh, Tuhan pasti lagi sayang sama aku ketika Bya-kun setuju dan bikin aku ngurus semuanya," oceh Yachiru tanpa sedikitpun berhenti untuk ambil napas. Yachiru memang naksir sama Byakuya sampai setiap punya waktu luang, kalau tidak dihabiskan buat mengganggu para shinigami, ya mampir ke Kuchiki manor untuk nyamperin taksirannya itu.

Tidak ada salahnya dicoba, pikir Hisagi menangkap kesempatan langka ini. Mumpung EO-nya Yachiru … "Engg, ada yang bisa kubantu?"

Mata Yachiru mendadak bercahaya, "Ah, kamu datang di saat yang tepat! Salah satu penyanyi yang kuundang mendadak kena muntaber, jadinya nggak bisa tampil. Kamu bisa nggak nggantiin dia?"

"Bisa. Lagunya apa?" Yachiru mengeluarkan lipatan kertas dari balik saku bajunya, menyerahkannya pada Hisagi. Ia buka kertas itu dan dibaca sejenak. "Ini yang ngasih siapa?" tanya Hisagi yang keheranan melihat isi kertas itu.

"Si hidung pesek Rose sama Shinji botak," jawab Yachiru dengan suara khas anak kecil. Hisagi membaca ulang kertas itu. Isinya hanyalah empat daftar lagu yang akan ditampilkan. Semua lagu yang tidak ia kenali tertera di situ. Barangkali lagu itu berasal dari dunia fana, pikir Hisagi yang mengetahui fakta bahwa kedua komandan vizard itu penggemar musik dari sana. Kemudian, bocah berambut merah muda itu menyerahkan sebundel kertas yang ternyata adalah kumpulan partitur dan lirik lagu dari daftar lagu itu.

"Perhatian: Pelajari, serap, terapkan, dan selamat menggila," baca Hisagi dengan keras rambu-rambu di sampul bundelan itu. Membacanya saja sudah membuat pria berambut hitam itu ragu. Sempat ada pikiran buatnya untuk mundur, tapi dengan membayangkan makanan menggiurkan itu masuk ke mulutnya …

Dibukanya lembar pertama bundelan. Wah, ternyata liriknya bagus-bagus. Lalu, kalau dilihat dari not baloknya, lagunya benar-benar energik. Sungguh sebuah situasi yang pas untuk memancing perhatian. Dibacanya dengan sungguh-sunggu bundelan itu. Setelah melahap lagu pertama, lanjutlah Hisagi ke lagu kedua.

Oh, lagunya nge-jazz banget. Sebenarnya lagu itu hanyalah lagu aransemen, tapi dibuat jauh lebih bagus dari lagu aslinya. Dalam hati, Hisagi menyenandungkan lagu itu. Hmmm, asyik.

Maju ke lagu ketiga, lagu Barat. Mungkin usul dari taichou Divisi ke-3. Dulu sepertinya Hisagi pernah mendengar lagu ini entah di mana. Iya! Lagu ini adalah sumber inspirasinya untuk belajar gitar. Jenis lagunya sih pop elektrik, tapi tetap saja berhasil membangkitkan rasa ingin Hisagi untuk menguasai alat musik itu.

Lagu terakhir, lagu keempat. Waduh, ini lagu susah amat. Ada banyak cengkok dan butuh penghayatan tingkat tinggi. Tidak semua penyanyi bisa menyanyikan lagu itu. Tapi ini Hisagi Shuuhei, fukutaichou paling multi-talenta di seluruh Soul Soiety. Tidak ada yang tidak bisa dilakukan olehnya. Adalah penghinaan kalau seorang Hisagi tidak bisa menyanyikan lagu itu.

xxxxxx

Rencana brilianku sukses berat, pikir Renji melonjak-lonjak dalam hati sambil terus mengisi piring makan Hisagi dan miliknya dengan hidangan pesta lagi dan lagi. Memang jatahnya bejo kali ya, ketika lagu pertama dinyanyikan, semua tamu langsung menghambur ke arah panggung. Hisagi terlihat menyanyi bak kesetanan, menyanyi sambil joget-joget nggak jelas.

"Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga. Hai begitulah kata pujangga," suara merdu membahana melingkupi pelosok taman itu, menyihir seluruh pendengarnya untuk bergoyang. Mendadak, pesta formal ala bangsawan yang seharusnya aman damai sentosa berubah 180 derajat menjadi lantai disko. Banyak tamu berjoget ria, flash mob goyang patah-patah ala Vetty Vera.

Setelah itu, giliran lagu kedua. Mendadak, panggung dikerubuti gadis-gadis bangsawan berdandan mirip Sadako (saking menornya) berteriak ,"HISAGI-SAMA KAKKOIIIIIIIIIIIII!" Mau tahu lagunya apa?

"Sik asik sik asik kenal dirimu. Sik asik sik asik dekat denganmu. Terasa di hati berbunga-bunga setiap bertemu," di sela-sela menyanyi, Hisagi masih menyempatkan diri mengedipkan sebelah mata menggoda, membuat salah satu dari para gadis itu jatuh pingsan dengan bahagia.

Disusul dengan lagu ketiga, kini justru calon mempelai pria yang berteriak, "ITU LAGU FAVORIT GUE! MAKASIH BANYAK YA!"

"You know you love me. I know you care . Just shout whenever, and I'll be there. You want my love, you want my heart. And we would never, ever, ever be apart." Dengan super nista, Hisagi menggoyangkan rambut cepaknya ala Bieber, yang direspon dengan lemparan sandal dan galon.

Terakhir lagu keempat, giliran calon mempelai wanitanya yang jerit-jerit, "ITU LAGU SIAPA YANG NYANYI?! MATIIIIIN! JANGAT INGATKAN SAYA DENGAN MANTAN SAYA!"

Jerit keceplosan itu membuat sang calon suami balas berteriak, "KATANYA KAMU GAK PUNYA PACAR?!"

"BOHONG BEUT KALO AKU GAK PUNYA PACAR, BEGO."

Jika sedari tadi Hisagi menyanyi sambil atraksi sirkus, kini ia hanya terdiam di atas panggung. Lampu sorot diarahkan kepada sang bintang utama. Kedua tangannya menggenggam pengeras suara tabung dengan khidmat. Matanya dengan penuh penghayatan (atau lebay?) dipejamkan. Dari bibirnya keluarlah lirik ini:

"Biarkan aku jatuh cinta. Pesona ku pada pandangan, saat kita jumpa. Biarkan aku 'kan mencoba, tak peduli kau berkata 'tuk mau atau tidak.

Di atas pelataran Kuchiki manor, tuan rumah bersangkutan hanya bisa memandang situasi taman dengan muka cengo. Rukia, yang mengenakan kimono ungu polos menawan hanya sanggup berkata, "Aku baru tahu kalau Hisagi-fukutaichou itu narsis."

Lagu aneh tersebut ditutup dengan suara tepuk tangan yang meriah dari penonton. Turun panggung, Hisagi disambut oleh Yachiru yang membawa sebuah gelas teh. Tanpa pikir panjang, Hisagi meneguk habis minuman itu lalu meminta tambah, beralasan bahwa tenggorokannya kering. Sekali teguk, dua, lalu tiga. Setengah gelas ke empat, wajahnya mulai memerah. Pandangannya mulai kabur dan keseimbangannya terganggu. Sepertinya seorang Yachiru masih belum bisa membedakan mana botol teh dan mana botol sake …

Setelah makanan terakhir diisi di kedua piring, Renji mengalihkan perhatian kepada sebuah meja berisi sake dingin. Dengan tangan kanan membawa kedua piring seperti pelayan masakan Padang, Renji meraih dua botol arak tersebut ketika dikejutkan oleh sapaan seseorang.

"Renji? Apa yang kau lakukan di sini?"

Mendengar suara familiar itu, dengan takut-takut Renji menolehkan kepalanya ke belakang. Dengan tak berdosa, berdirilah atasan dan rivalnya, Kuchiki Byakuya, dengan ekspresi datar menghias wajah tampannya.

"Taichou?! Eh, apa kabar?" jawab Renji mendadak gelagapan.

Melihat ekspresi kikuk letnannya, Byakuya tetap kukuh memasang tampang jaim, "Aku tidak ingat pernah mengundangmu di sini."

"Emm, aku, nggg," diantara jerit maut di benaknya, Renji melihat Yachiru Kusajishi melompat-lompat di antara penonton, "menemani Hisagi-fukutaichou yang diundang Kusajishi-fukutaichou jadi pengisi acara." Renji mengalihkan wajahnya ke arah panggung, berharap pria bangsawan itu tidak mendeteksi kebohongan di matanya.

Tetap saja, Byakuya memberi jawaban yang sukses membuat Renji keringat dingin, "Aku mengerti."

Mengerti apa? Mengerti kalau kita baru saja menghajar beberapa pengawal pribadinya dan menghebohkan acara ini? Yang dilandasi oleh perut keroncongan?

Pada saat momen canggung itu, dengan sempoyongan melangkahlah Hisagi mabuk ke arah mereka.

"Hoii, Abarai, makannya udah belum?" suara Hisagi melantur persis orang lagi kumur-kumur. Renji menatap Hisagi dengan tatapan speechless, sedangkan Byakuya menatap letnan Divisi Sembilan itu dengan tatapan angkuh nan hina. "Ayooo, makanannya mana?"

Tanpa sadar, HIsagi memeluk pinggang Renji dengan mesra, membuat si korban mengomel, "Senpai, lepaskan aku! Orang-orang melihat kita!" Pria itu merasakan wajahnya memerah semerah rambutnya. Makhluk sinting apa yang memberi asupan kakak kelasnya itu dengan arak?

Lanturan Hisagi yang kini disusul oleh desah mengundang syahwat mengundang gelak tawa penonton di sekeliling. Gadis-gadis yang tadi memuja Hisagi di atas panggung tadi berbisik cekikikan geli, "Lihat tuh, Hisagi-sama kalau mabuk imut ya. Kayak roti bantal."

Yang lain malah mengejek sinis, "Jauhi orang itu. Dia seperti mengidap flu burung."

Semua gunjing-gunjing orang itu seakan mengemangati Hisagi untuk semakin merapatkan diri ke Renji, "Uh, ini apaan? Kasur? Empuk banget, aku bawa pulang ya …"

Untuk memeriahkan suasana pesta itu, aksesori pasti dibutuhkan. Yaitu keluarnya sembur muntah dari bibir Hisagi Shuuhei, menyemproti separuh atas tubuh Abarai Renji yang bersumpah tidak akan memberi undangan pesta lagi padanya.

Keesokan harinya, kedua letnan Gotei 13 mendapat maklumat dari soutaichou yaitu naiknya potongan gaji bulanan menjadi 70% yang membuat mereka harus turun derajat menjadi tunawisma rupawan.

TAMAT


Curcol:

Ah, seneng banget bisa nyelesaikan fic ini. Pasti gara-gara tadi pagi author diberi asupan gizi yaitu daging kurban (sapi yang dua jam sebelumnya nendang-nendang langsung berubah jadi sate goreng dan tongseng).

Cuman pemikiran gaje nih, kan di last arc-nya Bleach ada si quincy temennya Juha Bach itu aku lupa namanya (dan dia mirip Byakuya versi pirang!). Entah kenapa, dua orang super kiyut ini ngingetin aku sama Chiaki dan Jean Donnadieu (bener gak sih namanya?) dari Nodame Cantabile (dari segi penampilan).

Makasih banyak buat yang repiew dan para silent readers, hohoho. Your presence have been inspired me to write more!