Sebelum mulai cerita Ayumi mau bales review dari readers yaa ^^

Lhanddvhianyynarvers : Hai, makasih udah mau baca dan review ff ku. Rencana nya nanti di chapter selanjutnya aku mau bikin beberapa sweet moment antara Itachi dan Sasuke kan biar ada manis-manisnya (?) Wahh bagus juga usul kamu, nanti akan aku pertimbangkan. Keep reading okaay?

kise cin : Wkwkwk update halilintar? Ini lagi diusahain soalnya Ayumi juga lagi banyak kegiatan di kampus. Maaf kalo telat yaa, mohon pengertiannya *bow*


Teng... Teng... Teng...

Suara lonceng besar yang terletak di menara tinggi sebuah bangunan menandakan kegiatan belajar mengajar siswa siswi di Sekolah Dasar Konoha telah usai.

"Hormat!"

"Terimakasih, sensei!"

Sasuke membereskan buku dan alat tulisnya, ia masukkan ke dalam tas dan segera keluar kelas.

"Hei Sasuke, hari ini aku dan Kiba mau main kau mau ikut tidak?" ajak Naruto.

"Tidak, aku mau langsung pulang ke rumah lagipula tadi kan Iruka-sensei memberi kita tugas. Harusnya kau pulang dan mengerjakan tugas, bukannya main."

"Ah tugas kan masih lama, yang penting sekarang aku mau main dulu. Hehe.."

"Terserah kau saja, aku duluan ya Naruto."

"Ya, hati-hati."

...

Sasuke berjalan sendirian pulang ke rumahnya, kerumunan orang yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing tidak ia hiraukan. Sasuke melewati gang kecil bermaksud memotong jalan dengan tujuan agar ia bisa cepat sampai ke rumahnya. Tapi sepertinya harapan sedang berlawanan dengan kenyataan.

"Hei bocah! Serahkan uangmu!"

"A-aku.. Aku tidak punya uang." kata Sasuke yang agak takut karena ia dicegat oleh 3 orang yang terlihat lebih besar darinya.

"Hei! Masih kecil sudah berani bohong! Cepat serahkan uangmu!"

"Aku tidak punya uang, sungguh!"

"Cih! Sepertinya anak ini minta dihajar."

Ketiga anak itu sudah bersiap dan berancang ancang, anak yang memakai topi memegang baju Sasuke, tangannya mengepal bersiap akan memukul Sasuke.

Sasuke sudah pasrah, ia menutup matanya.

Tapi...

Oak! Oak! Oaakk!

"Aduh! Aw! Si-sialan! darimana datangnya burung gagak ini?"

"Kalian berdua cepat tangkap burung gagak itu, menganggu saja!"

Burung gagak itu terlihat membawa gumpalan batu yang banyak yang mencengkram di kakinya. Kemudian batu kerikil itu dijatuhkan diatas kepala ketiga anak itu.

"Aduh! Si-sialan! Dasar burung bodoh!"

Burung gagak itu tak henti-hentinya menyerang ketiga anak yang akan menghajar Sasuke, dipatuknya kepala ketiga anak itu dengan keras hingga mereka bertiga kewalahan dengan burung gagak itu, akhirnya mereka ketakutan dan kabur. Sasuke masih menutup matanya karena takut.

Oak! Oak!

"Ah.. mereka sudah pergi."

Oaak!

"Kau kan burung gagak yang kemarin."

Sasuke sempat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan, burung gagak ini berhasil mengusir ketiga anak nakal itu. Ia diselamatkan oleh seekor burung.

"Kau telah menyelamatkanku, terimakasih yaa." kata Sasuke memegang burung itu dan mengelusnya.

Oaak!

"Aku tidak menyangka kau bisa mengusir mereka bertiga sendirian. Kalau dipikir-pikir kenapa kau bisa ada disini? Ini kan daerah perumahan tapi sudahlah mungkin kau sedang mencari makan ya. Ini aku punya sedikit makanan."

Sasuke mengulurkan potongan buah pisang dan burung itu memakannya.

"Meskipun seluruh tubuhmu berwarna gelap tapi kau sangat lucu! Oh iya, berarti aku sudah 2 kali berhutang padamu. Bagaimana kalau kau ikut ke rumahku?"

Oaak!

"Kurasa itu artinya iya."

Sasuke melanjutkan perjalanan pulangnya dengan ditemani teman barunya yaitu seekor burung gagak. Burung gagak itu terlihat tenang dan bertengger di pundak Sasuke.

...

"Kau tunggu disini ya, aku mau masuk dulu." kata Sasuke menaruh burung itu di pohon dekat rumahnya.

.

"Tadaima!"

"Okaeri, Sasuke. Ganti bajumu dan cuci muka ya, kita akan makan siang."

"Ibu."

"Iya?"

"Bolehkah aku memelihara hewan?"

"Eh? Kenapa kau tiba-tiba ingin memelihara hewan?"

"Aku menemukan hewan yang menarik bu! Izinkan aku memeliharanya yaa?"

"Memangnya hewan apa sih yang kau maksud?"

"Seekor burung gagak."

"Hah?! Burung gagak? Maaf Sasuke Ibu tidak mengizinkan. Kalau kau ingin memelihara hewan carilah yang lebih baik seperti anjing atau kucing."

"Memangnya kenapa bu? Burung gagak kan juga bagus."

"Sasuke, dengarkan ibu. Burung gagak adalah simbol yang kurang baik bahkan orang-orang percaya kalau burung gagak adalah pertanda buruk."

"Itu tidak benar! Burung gagak yang kutemukan tidak seperti itu! Dia sangat baik dan jinak, bahkan dia menolongku 2 kali."

Mendengar perkataan anak semata wayangnya membuat Mikoto mengernyit heran.

"Izinkan aku memeliharanya, aku janji akan mengurusnya. Aku yakin burung gagak itu tidak akan mengacau di rumah. Kumohon buu.." kata Sasuke menelungkupnya telapak tangannya.

"Hahh~.. baiklah. Tapi kalau sampai burung itu mengacau di rumah kau harus mengusirnya."

"Aku yakin dia tidak akan mengacau bu."

Sasuke menghampiri pohon yang ada di dekat rumahnya, tempat ia menaruh burung gagak itu.

"Akhirnya, Ibu mengizinkanku untuk memeliharamu. Yeeess! Sekarang kau resmi jadi hewan peliharaanku. Ayo, kuajak kau ke rumahku."

...

"Nahh ini rumahku."

Melihat keadaan lingkungan rumah Sasuke, tiba-tiba burung gagak itu mematung tak bergerak.

"Ibu, lihatlah ini! Ini burung gagak yang kumaksud."

"Mana? Coba Ibu lihat."

"Ohh ini burung gagaknya."

Ketika melihat Mikoto, mata burung gagak itu melotot dan pupilnya melebar.

Itachi (The Crow) POV

Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat ini. Dari awal pertemuanku dengan anak ini entah kenapa rasanya seperti ada ikatan diantara kami. Pertemuan pertama kami di hutan membuatku ingin mengetahui lebih jauh tentang anak ini. Semenjak itu diam-diam aku sering mengikutinya. Aku senang sekali akhirnya ada manusia yang mau memeliharaku. Sekarang aku diajak ke rumah anak ini.

"Ibu, lihatlah ini! Ini burung gagak yang kumaksud."

"Mana? Coba Ibu lihat."

"Ohh ini burung gagaknya."

Aku terkejut..

Sangat terkejut..

Terkejut bukan kepalang..

Wanita yang berdiri dihadapanku ini, apakah dia...

"Aku pulang!"

"Fugaku kau sudah pulang?"

"Iya. Apa kau sudah menyiapkan makan siang Mikoto?"

"Iya, makannya sudah siap."

Aku tak mampu berkata-kata lagi. Insting hewanku tak mungkin membohongiku, jangan lupakan kalau aku sebenarnya adalah manusia juga. Ditambah perpaduan antara insting hewan dengan naluri manusia yang kumiliki.

Uchiha Fugaku... Dia adalah ayahku!

Wanita yang sedang berdiri di hadapanku... Uchiha Mikoto. Dia adalah ibuku!

"Ayah lihat ini! Aku menemukan burung gagak ini dan aku ingin memeliharanya."

"Hmm yasudah apa boleh buat, aku mengizinkannya Fugaku."

"Tapi kau harus janji untuk merawatnya yaa Sasuke."

Aku menatap lekat-lekat wajah Sasuke dan mencoba membandingkan nya dengan wajah ayah dan ibu. Terlihat mirip! Ternyata Ayah dan Ibu sudah punya anak lagi.

Uchiha Sasuke... Dia adalah adikku.

Awalnya aku tidak percaya tapi aku berusaha memahami apa yang terjadi. Meskipun saat itu usiaku masih 5 tahun, aku masih ingat betul dengan rumah ini. Aku masih sangat ingat dengan wajah Ayah dan Ibu. Rasa bahagia tak terkira datang dari dalam hatiku.

Ternyata Tuhan masih menyayangiku. Terimakasih Tuhan karena telah mempertemukanku kembali dengan keluargaku.

"Iya Ayah, aku janji akan merawatnya dengan baik."

"Oh iya, kalau kau memelihara burung pasti butuh sangkar. Ayah masih punya sangkar burung bekas di gudang, sepertinya masih bagus. Nanti ayah ambilkan, sekarang kita makan siang dulu."

"Okee~."

Sasuke membawa burung gagak itu ke kamarnya.

"Nahh ini kamarku. Mulai sekarang kau akan tinggal disini. Oh iya, aku lupa memberimu nama. Hmm kira-kira apa nama yang cocok untukmu yaa?"

Oak!

"Karena seluruh tubuhmu hitam aku akan memberimu nama Kuro."

Oak! Oak!

"Aku mau ke ruang makan dulu, kau jangan kemana-mana ya Kuro."

Oak!

Sasuke meninggalkanku di kamar ini, mata tajamku memperhatikan keadaan sekeliling.

Iya, aku ingat.

Dulu ini adalah kamarku.

Terlihat sebuah foto yang menempel di dinding, ayah, ibu, dan Sasuke. Aku sedih karena anak pertama mereka tidak ada di foto itu. Aku jadi teringat kejadian 6 tahun yang lalu. Saat ayah dan ibu menyerahkanku pada ilmuwan gila bernama Orochimaru itu. Aku tidak menyalahkan ayah dan ibu. Justru aku menyalahkan ilmuwan sinting itu! Dia yang menjadikanku kelinci percobaan sehingga aku jadi seperti ini.

Flashback

"Paman, ini dimana?"

"Ini di rumahku. Ayo masuk. Selamat datang di rumah Paman." kata Orochimaru yang sesekali menyeringai.

Awalnya paman Orochimaru memperlakukanku dengan baik tapi semakin hari dia memperlakukanku dengan buruk. Aku bahkan dikurung dalam penjara yang gelap saat aku usiaku masih 9 tahun dan diberi makanan yang tidak layak. Sampai suatu ketika Orochimaru menyuruhku keluar dari penjara dan dia mengajakku ke laboratorium.

"Hei, kau keluarlah!" kata asisten Orochimaru bernama Kabuto.

"A-ada apa?"

"Tidak usah banyak tanya, ayo cepat keluar!"

Kabuto membawaku ke laboratorium milik Orochimaru.

"Selamat malam Itachi, duduklah disana."

"Kenapa kau memanggilku?"

"Kau anak yang baik kan? Aku ingin kau menjadi kelinci percobaan ku untuk penelitianku ini."

'K-kelinci percobaan? Ja-jangan-jangan dia.."

Melihat keadaan di sekitar laboratorium ini sungguh mengerikan, mayat dan organ tubuh manusia terlihat tergeletak begitu saja. Bahkan diantara mayat itu ada yang bentuknya sudah tidak beraturan. Bentuknya manusia tetapi mempunyai tanduk, ada juga manusia tetapi dia memiliki sayap dan ekor. Aku sangat takut. Wajahku memucat dan terlihat panik.

"Tenanglah Itachi..." kata Orochimaru dengan nada yang menyeramkan sesekali menyeringai.

Aku ingin kabur. Aku pun bersiap mengambil langkah seribu, ketika aku lari aku berhasil ditangkap Kabuto. Kemudian ia memaksaku duduk di kursi, tangan dan kakiku diikat. Lalu aku dimasukkan ke dalam sebuah kotak besi besar.

"Keluarkan aku! Kumohon!"

"HAHAHAHA..!"

Mereka menghiraukanku, yang kudengar hanyalah suara tawa yang menggema ke seluruh ruangan.

"Sebentar lagi alat ini akan di ujicobakan. Kabuto, nyalakan mesinnya!"

"Baik tuan."

Mesin itu mulai dinyalakan, aku merasakan sakit disekujur tubuhku.

"Aaaaaaaaa..! G-Gaahh! Aaaarrgghh!"

Tubuhku rasanya seperti ditekan dari dalam.

Setelah beberapa menit berada di dalam kotak besi terkutuk itu, aku pun keluar. Ketika Orochimaru dan Kabuto melihatku, tawa mereka pun pecah.

"HAHAHAHA..! Akhirnya... Inilah yang kutunggu-tunggu! Akhirnya penelitianku berhasil!"

Aku menatap ngeri 2 manusia yang sedang berdiri di depanku ini, tetapi ada yang aneh. Mereka terlihat sangat besar.

"Tuan Orochimaru memang hebat! Hei Itachi lihatlah bentukmu yang sekarang." kata Kabuto sambil menunjukkan cermin kehadapanku.

Astaga...

Apa ini...

Aku terkejut bukan kepalang ketika mendapati bayangan diriku sendiri berubah menjadi seekor burung gagak. Seluruh tubuhku dipenuhi bulu berwarna hitam legam dan mataku juga. Bukan mereka yang membesar, tapi akulah yang mengecil.

"Sekarang apakah tuan Orochimaru akan mencoba hal yang sebaliknya?"

"Ini sedang kucoba."

Kulihat Orochimaru sibuk mengutak atik mesin itu, sesekali ia membawa burung gagak sebagai sampel percobaanya.

"SIAL!"

"A-ada apa tuan Orochimaru?"

"Ini.. masih belum sempurna. Aku sudah memadukan campuran antara gen burung gagak dengan gen manusia, tapi ada yang salah! Aku salah mengartikan kode genetiknya, kode genetik yang kuartikan tadi hanya menghasilkan setengah dari perpaduan gen manusia. Kode genetik manusia yang sudah berhasil kuartikan itu hanya akan aktif pada malam hari jadi artinya..."

"Dalam kata lain Itachi hanya bisa berubah jadi manusia pada malam hari."

"Kau benar Kabuto."

"Lalu apa kau akan tetap mencari cara bagaimana manusia yang menjadi hewan bisa dirubah kembali?"

"Aku akan meneliti hal itu lagi. Aku yakin di dalam tubuh manusia terdapat sebuah zat yang mengandung kadar garam, protein dan hormon yang tinggi. Jika ketiga zat itu dikeluarkan bersama-sama sepertinya bisa merubah kode genetiknya. Tidak menutup kemungkinan gen manusia yang sudah tercampur dengan gen hewan bisa berubah menjadi gen manusia seutuhnya. Tapi aku terlalu lelah untuk itu. Mungkin lain kali saja aku menelitinya."

"Lalu bagaimana dengan Itachi?"

"Kita biarkan saja dia lagipula aku tidak membutuhkannya lagi. Dia adalah percobaanku yang gagal. Kabuto sebaiknya kau buang saja dia."

A-APA?! Dia sudah menggunakan tubuhku sebagai bahan percobaan, setelah gagal dia membuangku begitu saja?

Terkutuklah kalian!

...

Sejak kejadian itu, aku dibuang oleh Orochimaru ke hutan.

End of Itachi (The Crow) POV

End of Flashback

.

.

"Kuro? Kau masih di dalam kan?"

Oaak!

"Syukurlah ku kira kau kabur. Oh iya, aku membawakanmu ini. Ini sangkar burung yang akan menjadi tempat tinggalmu. Sebenarnya aku bisa saja membiarkanmu bebas tapi aku takut kalau nanti kau dimangsa hewan lain. Nahh sekarang masuklah ke sangkar ini."

Sasuke menatap hewan yang mulai saat ini menjadi hewan peliharaannya.

"Kuro, mulai sekarang kau dan aku akan terus bersama."

Oaak! Oaak!

Burung gagak itu menatap lekat wajah Sasuke. Menatap dalam-dalam matanya. Onyx hitam hewan dan manusia itu saling bertemu dan berpandangan.

Hati kecil Itachi pun berbicara.

'Iya, kau benar. Kita akan terus bersama selamanya. Sasuke... Adikku tersayang.'

.

.

Next chapter : /"Sasuke, tunjukan padaku hewan peliharaanmu itu./ "Gawat! Sudah jam 12 malam. Aku harus segera pergi."/ "Kuro? Kau dimana?"/ "Kuro, aku sangat menyayangimu."/"Aku juga menyayangimu Sasuke."/

.

.

.

To be continued


A/N : Alohaa readers! Makasih atas review di chap sebelumnya, ternyata responnya bagus-bagus bahkan ada yang ngedesak Ayumi supaya buru-buru update haha iyaiya tenang aja kok pasti Ayumi bakal uupdate lagi. Oh iya Ayumi mau berterimakasih sama salah satu reader yang udah mengusulkan ide cerita, jadi Ayumi bisa dapet inspirasi deh. Hehe..

Sepertinya biasa jangan lupa ripiu yaah (?)

Shin Ayumi, sign out!