.
.
Disclaimer: HarPott milik bunda
Warning: Typo(s), Lots of mistake, EYD berantakan, OOC (maybe), dan jauh dari kata 'Sempurna'
Don't like Don't read!
Enjoy this fic!
.
.
~Pull Me Up~
Scorpius POV
Apa aku baru saja mengatakannya? Astaga, jantungku terasa berdetak begitu cepat sekarang. Aku memang menyukainya sejak tahun ke 5 saat kami masih di Hogwarts dulu. Kami memang bermusuhan sejak tahun pertama dan sesuatu menamparku keras di tahun ke 5 ku.
FLASHBACK : ON
Aku , si cempreng Parkinson , Zabini dan Goyle baru saja menikmati makan malam kami di Great Hall. Kami ber 4 akan kembali ke asrama dan memutuskan melewati perpustakaan terlarang . Saat kami menelusuri koridor barat tampak sesosok cewek berambut merah terang sambil memeluk buku-buku yang aku deskripsikan ketebalannya melebihi 2 tumpuk batu tembok pada dinding asrama.
Ah, 'si tupai Weasel' gumamku pelan yang otomatis membuat tatapan jahat pada teman - temanku untuk segera mengerjainya.
"Wel,,sepertinya aku mencium bau tupai disini kawan - kawan" ujar Parkinson sambil menatap remeh pada Weasley yang satu ini. Aku melihat dia tidak menghiraukan gangguan dari kami , malah justru melewati kami tanpa melihat sekelilingnya.
Tiba-tiba saja Zabini menarik tangannya dan mendorongnya ke dinding batu. Buku - buku yang dibawanya otomatis terjatuh dengan kerasnya ke lantai dan pemiliknya terlihat meringis kesakitan karena tubuhnya yang terhempas ke dinding.
"Bisa bisanya kau berjalan seakan akan tidak ada kami disini,Weasel!" Ujar goyle sambil memilin milin tongkat mahogany 11" inci miliknya.
"Memang kalian tidak ada. Kalian hanya segerombolan babi yang tidak berotak!" Bentak Rose yang terlihat mengusap kepala belakangnya.
"Aria...mungkin tupai ini sedang ingin bermain main dengan kita" Ujarku pada Parkinson agar berbuat lebih jahat dengan tupai merah satu ini. 'Kami adalah darah murni dan tidak ada satupun orang bahkan prefek disini yang mampu memandang rendah kami!' Pikiranku memanas.
"Dan kau, ferret! aku lebih kasihan dengan bibi Astoria yang memiliki anak serendah dirimu." Aku melihatnya tersenyum licik padaku dan langsung mendapat tamparan keras dari Parkinson tepat dibagian wajahnya.
"Kau berani mengatakan kekasihku seperti itu? Dasar kau wanita murahan!" Kata Aria sambil memukul tubuh rose yang saat ini kedua tangannya dipegang kuat oleh Goyle dan Zabini. 'Cluh..' aku melihatnya meludah pada Parkinson setelah aku mengernyit jijik pada pengakuan Parkinson tadi.
Aku melihatnya, melihat wajahnya yang penuh lebam dan dia terus menerus terbatuk. Entah kenapa aku tidak tega menyiksanya lebih kali ini. Aku mengisyaratkan teman temanku untuk berhenti menyiksanya dan kembali berjalan menuju asrama Slytherin.
Parkinson mematahkan tongkat sihir si weasel untuk berjaga agar dia tidak menyerang kami dari belakang.
"Ingat ferret, karma akan selalu mengintai hidupmu!" Cibir si weasel dengan lemah, dia tertelungkup pada lantai batu sambil memegangi perutnya yang kesakitan.
Kata kata itu membuatku memenuhi kepalaku. Terlintas rasa ingin membantunya berdiri dalam pikiranku, sepanjang kakikku menjejak di Hogwarts baru kali inilah menyiksanya yang paling parah.
'Apa yg kau pikirkan Scorpius? Dia hanya gadis murah peranakan darah lumpur yang bahkan hanya berdekatan dengannya saja adalah suatu hal yang paling tolol menurut teman - temanmu!' Teriak batinku. Kami meninggalkannya secepat mungkin karna khawatir Flich sinting akan memergoki kami.
Kami berempat telah sampai di ruang santai Slytherin.
"Aku rasa sesuatu milikku tertinggal dikoridor tadi,guys. Aku segera kembali" ucap Alex mendadak dan disetujui dengan anggukan kecil Goyle. Setelah mengucapkan kata 'selamat tidur' yang menjijikkan, Parkinson pun segera pergi ke kandangnya disusul dengan gelagat David yang terlihat hangover parah disampingku.
"Kau tidak tidur,mate?" Kata David sambil menguap yang kutebak sudah puluhan kali itu.
"Aku akan menunggu Alex sebentar. Kau duluan saja,dude" ucapku pada David. Tanpa pamit lagi David langsung sempoyongan berjalan ke kamar tidurnya. Sepuluh menit, lima belas menit, dua puluh lima menit terlewat, tidak ada tanda Zabini datang.
'Apa yang dia tinggalkan dikoridor sampai mengambilnya pun selama ini?' Pikirku. Aku memikirkan gadis weasel itu sejenak, 'apa yang membuatku sebegitu benci padanya sampai sampai dia selalu menjadi bulan - bulananku dan teman - temanku?' kepalaku terasa berat.
Tidak ada yang salah dengannya, wajahnya cukup cantik menurutku dan ditambah lagi dengan rambut semaknya yang menyala membuat nilai sempurna bagi dirinya. Aku berpikir untuk mencoba menyudahi semua kekonyolan ini.
Aku akan mencoba meminta maaf padanya besok dan memulai untuk tidak mengganggunya lagi. Aku dibuat gusar dengan keberadaan Zabini yang tidak kunjung datang ,akhirnya aku kembali keluar asrama dan menyusul Zabini dikoridor barat. Saat aku sedang berjalan aku seperti mendengar suara rintihan tertahan dari seseorang yang sepertinya familiar.
Aku mencari suara itu sampai ketemu, lalu terdengar raungan kesakitan dari seseorang
"Oh Weasley.." aku segera berlari menelusuri koridor tempat dimana kami meninggalkannya tadi. "Kau menolakku malam ini , Weasley? Akan ku buat kau menjadi gila malam ini!" Suara Zabini? Sialan kau Zabini ' lirihku.
Aku telah sampai di titik Weasley tertelungkup dengan seragam yang acak - acakan dan Zabini yang mengacungkan tongkat sihirnya tepat pada kepala merah milik gadis Weasley itu.
"Cukup Alex! " aku melucuti tongkat sihir Zabini dan membantu si gadis Weasley untuk berdiri. "Kau menyukainya , mate? Kau begitu munafik sekarang. Cih! Sudah kuduga "ujar Zabini jijik.
"Kau sudah keterlaluan Alex! "Aku menyerangnya dan berhasil membuat tubuhnya terpental jauh. "Kau baik baik saja, Rose?" Kataku dengan memanggil nama depannya. Dia menatapku sayu , dengan air mata yang mengalir dipipinya itu membuatku merasa iba. Aku membersihkan noda darah pada bibirnya itu dengan jubah yang kulepas.
"Mengapa kau menolongku?" lirihnya. "Aku tidak tahu" ujarku sambil menopang tubuhnya untuk segera kubawa ke Wing's.
Saat kami akan pergi tiba-tiba Zabini yang telah berhasil mengambil kembali tongkatnya menghancurkan tembok batu didepan kami. Aku menyuruh Rose untuk segera bergerak cepat untuk menghindari serangan Alex.
"Jangan coba-coba meremehkanku , Malfoy! SECTUMSEMPRA! " Teriaknya menggaung dikoridor dan kulihat Rose mendorong tubuhku keras saat mantra yang Zabini tujukan padaku malah meleset ke tubuh Rose.
"TTIDAAAKK!" Teriakku melihat pancuran darah disekeliling tubuh gadis yang barusaja akan kutolong ini. Zabini baru saja akan kabur sebelum seorang prefek Ravenclaw melucuti senjatanya lalu membiusnya dengan mantra bius.
Aku menatap dirinya yang kesakitan, sungguh pemandangan ini sangat membunuhku. Aku berteriak kepada seorang prefek Ravenclaw agar menemuiku segera di Wings. Aku berlari sambil menggendong tubuhnya yang terus menerus mengucurkan darah segar. Tiba di Wings aku menyerahkannya pada Madam Poppy untuk segera ditangani , aku melihatnya sudah tidak sadarkan diri.
Kejadian itu sudah terlewatkan 3 minggu lamanya. Disinilah aku, dirumah gadis berambut merah bersama ayah dan ibuku menjenguknya rutin 3x seminggu. Ayahku tentunya sangat murka atas kejadian ini .
Aku di skors selama satu bulan oleh beserta Parkinson dan juga David Goyle. Kalian pasti bepikir tentang Zabini? dia resmi dikeluarkan dari Hogwarts minggu lalu dan ku dengar ayahnya memindahkan dirinya ke Durmstrang.
"Kau sudah lebih baik sekarang,Rose?' Ujarku sambil duduk nyaman pada tepi kiri ranjang tidurnya. "Ya, aku merasa sudah sangat baikan sekarang" senyumnya manis. Aku memutuskan untuk mulai mendekatinya karna sepertinya aku mulai menyukainya. Ternyata gadis yang selama ini menjadi ejekan denganku dan juga teman-temanku sangat begitu istimewa.
END OF FLASHBACK
"Hey..kau melamun ya?" tepuknya pada bahuku pelan. Aku baru saja tersadar dari lamunanku.
"Kau memikirkan apa,Scorp?" Tanyanya dengan nada khawatir.
"Aku memikirkan perasaanmu, Red." Ujarku lemah.
"...- Apa yang kau pikirkan Scorpius? Aku pun menyukaimu ..-ups! " katanya sambil melotot. Aku tersenyum senang, sangat amat senang. Kekhawatiranu selama 2 tahun ini hilang sudah. Aku pun berdiri dari kursiku dan segera memeluknya.
"Kadang sifat banyak bicaramu itu bisa menguntungkan juga yah?" Kataku sambil membelai rambut semaknya.
Kami berpelukan sangat lama sampai pada akhirnya pintu terbuka mendadak memperlihatkan dua sosok kakak angkat laki laki Rose yang sepertinya baru saja pulang berolahraga. Aku melihat tatapan kilat pada sepasang mata milik salah satu kakak angkat laki laki Rose. 'Apa yang aku lakukan sampai membuat dia terlihat marah seperti itu?'batinku.
"Rosie aku datang" ujar Albus sambil menyeka dahinya yang bercucuran keringat dan langsung membuat Rose melepaskan pelukannya dariku dan berbalik badan. Rose terlihat membelalakkan matanya saat dirinya menangkap sesosok yang sepertinya ada sesuatu diantara mereka berdua. "James...-?"
.
.
TBC
#Pojok Author's
Yeayy rose udah jadian sama scorp sekarang *plok plok
Agak ekstrim juga buat adegan dikoridornya.
Btw maaf karena kelamaan update *nunduk-nunduk
Terimakasih buat yang udah nyemepetin mampir dan ninggalin jejak dikotak review ^^
Maaf gak bisa bales satu-satu disini...
Keep read and review. Still rock and still awesome, guys
Salam hangat,
Rosejean
