Chapter 1 : First Meet After a Long Time.
Hello, My First Love
University, Hurt/Comfort, Romance, Humor
Boy X Boy / YAOI
Kim Taehyung
Jeon Jungkook
Kim Jisoo
And Other Cast
With pairing : TaeKook - KookV
;;Rizkah Hijriyah;;
.
.
-Cinta pertama adalah cinta yang sulit dilupakan. Kebanyakan orang yang pernah merasakan cinta pertama pasti akan berpendapat demikian. Termasuk Taehyung yang hingga kini belum menemukan cara untuk melupakan cinta pertamanya itu, Jeon Jungkook-.
.
.
Taehyung –sekali lagi— mengusap kasar wajah manisnya. Sesekali menguap karena kantuk yang belum juga hilang. Kedua mata bundar pemuda Kim itu menengok ke samping kanannya lalu ke belakang dan ke depan, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk menatap keluar jendela bus samping kiri yang sedang di tumpanginya.
Sekarang baru jam tujuh pagi tapi dia harus berada di kampus satu jam lagi. Hari yang menyebalkan, namun percayalah, jika ini adalah kegiatan keseharian Taehyung semenjak ia masuk Universitas di bulan Agustus lalu. Dan sejak hari pertama pula, dia memilih untuk membawa dirinya menuju kampus menggunakan transportasi umum macam bus ini. Yang sudah menjadi langganannya sejak tiga bulan lalu dibanding ikut dengan pamannya yang kantornya satu arah.
Membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit dan turun di halte pemberhentian sebanyak dua kali, membuat Taehyung lelah sekaligus jengah karena ia harus melakukan itu seorang diri. Tidak ada teman yang rumahnya searah dengannya.
Ia mulai berpikir, apakah akan bagus jika ia mulai menginap di asrama?. Namun sekali lagi ia menggeleng ketika pemikiran itu menghinggapi. Ia tidak mungkin menginggalkan orang tuanya, dia adalah anak pertama, dan anak pertama adalah anak yang memiliki tanggung jawab sangat besar terhadap orang tuanya yang mulai beranjak lansia, ditambah kedua adinya yang masih kecil. Membuatnya resah –takut- jika mereka 'meniru' orang yang salah.
Tidak apa, yang dia butuhkan hanyalah seorang teman untuk menemaninya menjalani kesehariannya ini.
.
Di menit ke dua puluh, Ketika bus sedang berhenti menunggu lampu merah. Kedua mata bundar Taehyung terbuka lebar. Sudah berapa lama ia memutuskan atensinya untuk menatap keluar jendela? Dan berapa lama pula ia berusaha mengingat objek yang kini dipandanginya?
Seorang pemuda yang mengendarai motor besar dengan jaket hitam berbahan sutera serta ranselnya yang berwarna hitam dengan garis vertikal berwarna putih yang mengingatkan Taehyung akan seseorang. Dia memakai helm lalu sepatu boots cokelat muda yang juga Taehyung kenal. Bahkan dia merasa tidak asing dengan postur tubuh pemuda itu.
Sementara di luar bus, pemuda yang merasa di pandangi seseorang, menolehkan kepalanya dan berhasil! Dia menatap seorang pemuda dalam bus yang sedang menatapnya dengan alis bertaut. Detik berikutnya, kedua pemuda itu terkejut bukan main. Jungkook-ssi! / Tae!.
Buru-buru pemuda dengan motor besarnya itu membuka kaca depan helmnya, begitu pun dengan Taehyung yang membuka kaca jendela bus.
"Tae?! Kau kah itu?!"
Pertanyaan pertama meluncur dengan mulus dari bibir si pemuda bermotor. Hingga tanpa sadar membuat Taehyung berdo'a agar lampu merah berubah menjadi hijau secepatnya.
Benar. Belum sempat Taehyung menjawab pertanyaan pemuda yang dipanggilnya Jungkook itu, lampu lalu-lintas berubah hijau. Dan tanpa Taehyung tahu jika Jungkook segera melajukan motornya untuk menyusul bus yang di tumpangi pemuda Kim.
Merah.
'Sial!'
"TAE?!"
Taehyung kembali melirik ke arah jendela lagi. Menatap Jungkook yang berada tepat di samping bus dengan pandangan was-was. "Ada apa, Jungkook-ssi?" tanyanya akhirnya. Dia terus memperhatikan Jungkook tanpa merasakan lehernya mulai pegal.
"Kau mau kemana?"
"Kuliah tentu saja"
"Dimana kau kuliah. Ah! Apa di Universitas yang kau inginkan?"
"Tentu saja. Kenapa memangnya?"
"Kenapa kita baru bertemu? Hey! Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik. Bagaimana dengan—"
Bus berjalan. Lampu berubah menjadi hijau kembali dan Taehyung menghela napas lega. Sejak awal, saat Taehyung merasa tidak asing pada pemuda bermotor di lampu merah pertama, dia hanya berharap jika itu bukanlah teman lamanya.
Tapi Tuhan berkehendak lain. Itu Jungkook! Jungkook teman lamanya di senior high school. Jungkook yang dia sukai bahkan hingga detik ini. Membuatnya sebagai manusia normal, merasakan jantungnya berpacu dalam dentuman yang tidak wajar akibat bertemu dengan orang yang selama ini dia sebut sebagai cinta pertama nya, setelah sekian lama tak berjumpa. Mungkin, sekitar satu tahun setelah kelulusan dan Jungkook memilih untuk menetap di sebuah asrama pria.
Baru saja Taehyung tersenyum karena Jungkook tak terlihat lagi dalam pandangannya di samping bus, lampu merah kembali menyala membuat ia mau tak mau kembali bertemu pandang dengan cinta lamanya.
"Tae! Berikan aku nomor ponselmu?! Atau… ID Line?"
Taehyung mengernyit, memandang Jungkook yang tersenyum tampan ke arahnya. Kemudian kedua matanya melirik ke sekitaran luar bus dan Jungkook sendiri. Ada beberapa orang yang memperhatikan mereka. Ya Tuhan! Taehyung malu!.
"Mi-minta saja pada Junghwa-ssi atau Boram-ssi. Mereka memiliki kontakku!"
Lampu merah berubah menjadi lampu hijau untuk yang kesekian kalinya. Setelah mendengar teriakan Jungkook mengatakan 'ok!', Bus yang membawa Taehyung ke kampus mulai melaju kembali dan Taehyung juga bisa melihat Jungkook bersama motornya belok ke lain arah di perempatan jalan.
.
~/(^o^)/~
.
"Ada apa denganmu? Apa penyakitmu kambuh?"
Bulan ini adalah Desember, musim dingin telah datang beberapa hari lalu. Bagi orang-orang yang memiliki Gangguan Kesehatan Musiman seperti Taehyung pasti akan merasa resah dalam menjalani aktivitasnya. Tidak bisa dibohongi jika dengan melihat wajah Taehyung saja, teman-temannya sudah yakin jika pemuda itu tengah depresi akibat penyakitnya sendiri.
"Ya, selain itu… Aku memiliki kabar penting untuk diriku"
Kalimat aneh yang keluar dari bibir tebal Taehyung mengundang sekiranya tiga orang sahabatnya itu untuk segera duduk di kursi kantin tepat di hadapannya.
"Coba ceritakan!"
"Aku bertemu Jungkook-ssi"
"APA?!"
Ketiga teman Taehyung saling berpandangan dalam diam. Sudah lama saat Taehyung memutuskan untuk menjadi sahabat mereka dan menceritakan perihal kisah cintanya –akibat paksaan salah satu dari mereka-. Mengenai Jungkook yang tampan lah, Jungkook yang mirip dengan Junghyun lah, Jungkook yang pintar bermain badminton dan futsal lah, Jungkook yang pintar meski nilainya turun drastis di semester akhir, hingga menceritakan Jungkook yang merupakan cinta pertamanya itu tidak akan pernah dia dapatkan.
Mereka tahu. Maka ketika Taehyung berujar demikian, yang ada dalam pikiran mereka hanya satu kalimat untuk menanggapinya 'Bagaimana reaksi mereka saat bertemu satu sama lain?'.
"I-itu… Saat aku sedang dalam perjalanan ke sini. Saat di dalam bus, dia tidak sengaja berada di samping bus dengan motornya" Taehyung menjeda sejenak kalimatnya, memandang ketiga sahabatnya sejak masuk kampus ini.
"Aku tidak begitu ingat apa yang dia katakan. Intinya, dia meminta nomor ponselku"
"Lalu kau memberikannya?" Sahabatnya yang bernama Hong Jisoo itu menatap Taehyung penasaran.
"Tentu saja tidak. Lagipula tidak mungkin aku memberitahunya di tengah jalan!" Mendengar tawa teman-temannya, Taehyung mendengus. Dia kembali memegang kepalanya yang terasa pusing.
Hari-hari yang menyebalkan di musim dingin adalah ketika penyakit anehnya kambuh. Taehyung mulai merasakannya ketika usianya menginjak delapan tahun dan itu merupakan pengalaman terburuk bagi Taehyung. Dia demam berkepanjangan, Taehyung bahkan tidak bisa masuk ke sekolah selama delapan hari akibat penyakit tiba-tibanya itu.
Dan sekarang, dia masih merasakannya tapi sudah mengetahui cara agar penyakitnya tidak terlalu menganggu. Taehyung yang sekarang hanya bisa menunggu liburan natal dua minggu dari sekarang untuk mengistirahatkan tubuh lemahnya.
"Kalau kau tidak memberikannya, bagaimana reaksinya?" Pemuda dengan topi bertuliskan hiragana 'Yuta' itu memandang objeknya –Taehyung- dengan mata menyipit. Merasa ada yang ganjil dengan cerita sahabatnya.
"Ah! Itu. Aku menyuruhnya untuk meminta kontakku pada Junghwa-ssi atau Boram-ssi"
"Kalau begitu! Apa kau tidak berpikir jika mereka berdua akan menaruh curiga padamu?"
Taehyung menatap temannya yang lain, Park Jimin.
"Jiminie benar Tae! Bukankah, selama kau satu kelas dengan dua gadis itu, mereka selalu menatapmu curiga jika membicarakan soal Jungkook?!"
"OMO?! Aku lupa, Jisoo-ya!"
"Kau tahu nama Instagramnya 'kan? Beritahu saja dia lewat pesan! Dengan begitu, tidak akan ada yang curiga… bahkan menatapmu sinis seperti yang dilakukan Junghwa padamu dulu"
Taehyung menundukkan kepalanya. Bukan merenung akibat ucapan Jisoo padanya barusan, tapi untuk membuka akun Instagramnya dan mencari akun Jungkook untuk memberitahu kontak ponsel beserta ID Line-nya lewat pesan.
Namun, lagi-lagi Tuhan berkehendak lain. Di detik saat Taehyung baru saja mengklik ikon bernama Instagram itu, muncul notif pesan masuk di akun Line-nya.
Jeon Jungkook add you as friend.
Tambah Blokir Laporkan
Dengan jari bergetar, Taehyung menempatkan jari telunjuknya di atas tulisan sebelah kiri layar ponselnya. Kemudian, kedua matanya memandang tiga sahabatnya dengan sendu.
"Dia sudah menerima kontak Line-ku dari salah satu gadis itu"
"Arghh! Salahmu tidak berpikir seperti yang kami pikirkan!"
Setelah meminta maaf pada Jimin yang berteriak heboh. Taehyung kembali menatap layar ponselnya, tepatnya pada beberapa balon percakapan yang dikirim Jungkook untuknya.
Jeon Jungkook
Aku mendapatkan ID Line mu dari Boramie ^^ 08.45
Apa aku mengganggumu? 08.45
Tae? 08.47
Kenapa hanya di read? 08.47
Taehyung rasanya ingin tenggelam ke dasar lautan saja saat Jungkook terus menerus mengiriminya pesan tak penting. Ia juga belum siap untuk membalas semua chat yang Jungkook tujukan padanya. Hatinya berdesir aneh, menyenangkan tapi menyakitkan di saat yang bersamaan.
Hingga jam pelajaran selesai, ada sekitar dua puluh lima chat dari Jungkook yang sama sekali tidak Taehyung balas.
.
~/(^o^)/~
.
"Bagaimana? Apa sudah lebih baik?"
Pukul tiga sore, di taman kota yang sudah hampir sepi. Dua pemuda dengan seorang gadis yang membawa buku tengah berbincang dengan topik yang cukup rumit.
Seorang pemuda dengan sweater pink-putihnya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Untuk menghilangkan rasa gugup sebelum menjawab pertanyaan gadis di depannya. "A-aku rasa. Aku tidak punya hak untuk itu. Aku sudah bilang padamu, untuk berhenti membuat fanfic tentang diriku. Kau ingat itu bukan, Seolhyun-ssi?"
Satu-satunya gadis itu menundukkan kepalanya. "Maafkan aku. Tapi jika aku sedang mengobrol dengan teman-teman, pasti topik tentangmu tidak akan hilang"
Pemuda bersweater pink-putih itu tersenyum lembut. "Baiklah. Tapi, jika hanya obrolan ringan. Tidak akan ada hubungannya dengan fanfic bukan, Seolhyun-ssi"
"Tapi, kami membicarakan pemuda lain untuk dijadikan couplemu, Taehyung-ssi"
Pemuda lainnya tertawa dalam diam melihat temannya memukul keningnya sendiri. Sedangkan pemuda yang dipanggil Taehyung itu menggigit bibir bawahnya cukup kuat. Tanda ia sedang kesal. "Hentikan ini, Seolhyun-ssi! Aku tidak mau menjadi bahan percobaan untuk fanfic yaoi mu"
Seolhyun semakin menundukkan kepalanya. Matanya sudah panas dan ia ingin sekali menangis, jika saja pemuda lain –teman Taehyung- tidak ada dan tidak menyemangatinya. "Tidak apa-apa. Kau boleh berkreasi lagi. Buatlah fanfic tentang Taehyung. Sebanyak yang kau mau, Seolhyun-ssi"
"Benarkah itu, Yuta-kun?"
"Ya! Aku memberikanmu kebebasan untuk berkarya. Jangan dengarkan Taehyung. Ok!"
.
Dengan langkah yang cukup cepat, Taehyung menghampiri sebuah kursi panjang berwarna putih. Duduk di sana dan mulai memejamkan kedua mantanya. Merasakan angin sepoi yang terasa menyejukan pikirannya. Tak memperdulikan keberadaan Yuta yang sibuk mengumpat kata-kata kasar karena Taehyung meninggalkannya diam-diam.
Tak sampai satu menit Yuta mengoceh, mengeluarkan amarahnya pada Taehyung. Dia menghentikan kegiatan tak penting itu, membuat sahabatnya yang sedang duduk membuka kembali mata bundarnya. Taehyung melihat jelas keadaan Yuta sekarang; bibir tebal yang setengah terbuka dan kedua mata yang tak hentinya berkedip.
Merasa penasaran, Taehyung mengarahkan pandangannya ke arah objek yang membuat teman Jepangnya berhenti berceloteh. "OMO?!" Pemuda Kim semakin membuka matanya lebar-lebar setelah mengetahui ada seseorang di samping kirinya.
"Jungkook-ssi, kenapa kau ada di sini?!"
'Jadi dia yang namanya Jungkook?!'— benak Yuta terkejut.
"Asramaku di dekat sini" Pemuda tampan itu tersenyum simpul pada Taehyung yang masih dalam keterkejutannya atas kedatangan Jungkook.
"Kenapa kau tidak membalas chat-ku di Line?"
Jungkook adalah tipe orang yang akan blak-blakan jika dia sedang berhadapan dengan orang yang membuat masalah dengannya. Termasuk Kim Taehyung, teman lamanya di senior high school yang baru bertemu kembali setelah sekian lama. Jungkook juga tidak tahu-menahu kenapa pemuda manis di depannya bisa berbuat seperti ini padanya.
Yuta di samping kanan Taehyung menatap Jungkook dengan ekspresi yang sulit dijabarkan. Kedua alis matanya menukik halus seperti terlihat kebingungan, namun di sisi lain terlihat sedang meremehkan Jeon muda. "Hanya karena itu? Kau marah padanya?!"
Jungkook balas menatap sengit Yuta yang tanpa disadari menarik tubuh Taehyung ke arahnya, menaruh lengan kirinya dipinggang ramping Taehyung "Dia tidak membalas chat-ku dan menurutku itu adalah sebuah masalah—"
"AP—"
"—Untuk Kim Taehyung! Apa aku punya masalah padamu, Kim?! Sampai kau tidak membalas pesanku?!"
Taehyung yang berada dalam rengkuhan Yuta itu hanya memperlihatkan tatapan blank khasnya yang sudah Jungkook kenal lama. Beberapa saat kemudian, tanpa berniat menjawab pertanyaan teman lamanya, Taehyung menundukkan kepala. Membuat poni surai cokelat caramelnya berjatuhan menutupi wajah manis dengan rahang tegas itu.
Dia sibuk berpikir mengenai jawaban yang pantas untuk diberikan pada Jungkook. Taehyung sadar diri, dia yang bersalah karena tidak membalas chat pribadi dari Jungkook. Andai Taehyung tidak mendengarkan permintaan ketiga sahabatnya saat di kantin kampus tadi pagi. Kesalahpahaman ini tidak akan terjadi.
Ya. Kesalahpahaman. Karena Taehyung yakin jika Jungkook berpikir yang tidak-tidak mengenai dirinya. Seperti, berubah sombong atau yang lebih parahnya lagi bila dia berpikir bahwa Taehyung tidak mau berteman dengannya. Mengingat moment saat di perjalanan menuju masing-masing kampus mereka; Taehyung hanya menjawab sekenanya.
"Kau marah padaku, Tae?!"
Buru-buru Taehyung mengangkat wajahnya, membuat Yuta yang hendak menaruh dagunya di atas puncak kepala Taehyung terbentur, menimbulkan suara AWW! yang cukup nyaring dari bibir tebal Yuta.
Mengindahkan rintihan Yuta, dengan paksa Taehyung menarik tubuh rampingnya keluar dari pelukan pemuda Jepang. Dan segera menempatkan posisi kedua tangan menyilang di depan dada. "Tidak Jungkook-ssi, kau salah paham!"
Diam-diam Yuta bersumpah akan mengutuk Taehyung jika mengatakan yang sebenarnya tentang kelakuannya dan dua temannya yang lain saat di kantin.
"A-aku… aku—"
"Ponselnya dipinjam Jimin"
"Siapa JJimin?"
"Jimin namanya, bodoh!"
"Lalu kenapa dia membuka semua chat Line-ku?!"
Tatapan sengit Jungkook beralih dari Yuta menuju Taehyung yang masih dalam mode blank-nya akibat keributan yang ditimbulkan dua pemuda tampan di kedua sisinya.
"Jimin anak yang ceroboh! Dia sangat nakal! Jungkook! Percaya padaku!"
"DIAM KAU! AKU BUTUH JAWABAN DARI TAEHYUNG! SIAPA KAU TERUS MELINDUNGI TAE, HUH?!"
"Aku?! KEKASIHNYA! MAU APA KAU?!"
1…
2…
3…
4…
5…
"Be-benarkah? Tae… aku tidak menyangka… kau telah memanfaatkan wajah cantikmu itu dengan baik…" Jungkook dengan sedikit kaku menarik tangan kanan Taehyung untuk berjabatan.
"EH?! Ti-tidak! Bukan, Jungkook-ssi! Aku bukan kekasihnya!"
"A-aku… selamat karena kau sudah berpacaran dengan 'pemuda' yang 'tampan'…" Jawabnya dengan senyuman manis,
"Hey! Sudah! Lepaskan! Lagipula, memangnya kenapa jika aku benar kekasihnya, huh?! Apa hubungannya denganmu!"
Namun Taehyung yang masih mencerna ucapan 'selamat' dari Jungkook merasa ada yang aneh. Butuh setidaknya sekitar belasan detik sebelum dia beranjak dari duduknya. Ia menatap teman lamanya kesal—
"Apa maksudmu?!" —Tapi itu hanya dalam hitungan detik, karena Taehyung segera berpamitan pada Jungkook. Meraih tangan kanan milik Yuta dan berjalan melewati pemuda Jeon. Membiarkan pemuda itu duduk sendirian.
"Tae… aku tidak menyangka kau telah berubah haluan…"
.
~/(^o^)/~
.
Semua aktivitas hari ini cukup melelahkan bagi Taehyung. Membayangkan kejadian pagi ini yang harus membuat kepalanya pusing tujuh keliling akibat penyakit 'musiman'nya, hingga bertemu dengan teman lama yang membuatnya semakin berpikir banyak.
Malam itu Taehyung merasakan insomnianya kambuh. Pikirannya terus tertuju pada Jungkook. Memikirkan ucapan Jungkook saat di taman yang menurutnya aneh. Dia seperti sedang menyindir dirinya karena memiliki wajah cantik.
"Apa dia berpikir aku seorang… gay?" tanyanya pada dirinya sendiri sebelum ia tertidur pulas tepat pada pukul tiga pagi.
.
.
.
.
-ToBeContinued-
Maaf kalau ceritanya aneh...
Sekarang Uname ku ganti buat ngehindarin beberapa orang π_π
Ok, balas review ^O^
odorayaki chapter 1
ini ngg...seperti storyku wkwkwk. jadi kufollow wkwkwk bang tae You belong to mee
= hayooo story apaan? Real ya? Hmzzz sudah ku duga. Semangat ya! Jangan nyerah 3 makasih dah di follow ceritanya hehe. Maaf jika kurang memuaskan
7D chapter 1
Jangan bilang Junghwa suka sama Taehyung ? Kok gak pekaan si Taetae ?
Kasian Taetae, dia suka banget kayaknya sama Jungkook. Jadi mereka, sekedar teman ? Cuma itu aja ?
Lanjut ya ~
= Jung-hwa suka sama siapa masih rahasia ya. So, jangan lupa mampir terusss hehehe /tabok/ aduhhh gak maksa kok ≧﹏≦
Iya, Taetae kasihan deh... Dari jaman SMA gak bisa berhenti mikirin JK. Hmm.. Mereka cuma teman? Cuma itu aja? Iya, pertemuan terakhir mereka sih statusnya gitu gak tahu ke depannya hehehe
Kyunie chapter 1
kasian tae... pasti sulit bgt bwat tae nyimpen itu perasaannya...
tp kok aku ngrasa ada yg aneh y sama kookie... ?
oh y... yg d suka junghwa siapa ?
lanjut lanjut...
= Hooh. Tae sering nangis tahu gara2 lagu You Belong To Me  ̄ω ̄ /apasih gadanta/?
Apa yang aneh sama Kookie? O_o
Yang di suka Jung-hwa? Nanti tahu sendiri kok. Makanya pantengin terus ya /asik/
Makasih sudah mau baca~~
GestiPark chapter 1
Yaampun mnyedihkan TTTT
= /lapairmatamu/ sudahlah... Ini sudah takdir hiks ╯△╰
Oh ya, Yuta di chapter sebelumnya aku lupa ganti hehehe. Dia sebenarnya baru muncul di sini ok guys 😂
