Title : One Confession

Author : HanYongIn / HanY

Cast : Lee Hyukjae – Lee Donghae (HyukHae)

Length : Chaptered

Genre : Romance, Angst

Rate : T

.

.

.

WARNING : YAOI (BL)

.

Summary : Setidaknya aku pernah mengikutimu, memperjuangkanmu, mencoba meraihmu dan merasakan kebahagiaan bersamamu. Tentang takdirku? apakah aku harus menjadi pendamping yang menuntunmu ketika kau tak sanggup berjalan? Berada dibelakangmu untuk memberimu perlindungan atau berada didepanmu untuk menunjukkan masa depan kita bersama? Tentang itu, Tuhan yang akan memberikan jawaban.

.

.

.

Sejak kejadian sore tadi hati itu tidak berhenti mengeluarkan detakan cepatnya. Apa yang dirasakannya benar-benar tidak mungkin karena memang itu terlalu cepat untuk terjadi.

Donghae POV

Ah! Perasaan apa ini? Tidak mungkin kalau aku mulai menumbuhkan rasaku hanya karena kejadian sore tadi. Tapi bagaimana bisa aku melupakannya begitu saja kalau dia lah yang berhasil mengambil rasa pertama dari bibirku ini. Tuhan?! Hyukjae. Apakah sebenarnya dia yang kau kirim untuk menggantikan Kim Kibum nantinya. Tapi bagaimana dengan Masii? Aku benar-benar dihadapkan kepada dua pilihan dalam sehari ini.

.

~One Confession~

Tubuh tiny itu terbaring sangat indah diatas ranjang yang masih tersisa lebar. Jarinya terus memegangi bibir yang memang telah diberikan kesan pertama oleh namja yang bernama Lee Hyukjae itu.

Tapi wajah manisnya itu juga tidak bisa menyembunyikan semua yang ada difikirannya. Ya, fikiran itu telah disita beberapa namja. Hubungannya dengan Kibum memang sudah ingin ia lupakan tapi setelah itu kenapa ia menerima lebih dari satu perhatian dari orang lain.

FLASHBACK ON

.

"Masiii.. terimakasih sudah bersedia mengantarkanku"

"Tentu Hae"

"Kamu benar-benar sudah sangat baik terhadapku selama ini Masii kamu memang sahabat terbaikku"

Donghae menyimpulkan senyum disudut bibirnya. Rasa terimakasih itu benar-benar ia sampaikan untuk Siwon yang selama ini sudah ada untuknya.

"Jangan terus bersedih memikirkan hubunganmu dengan Kibum Hae, aku bisa merasakan dari cerita selama diperjalanan tadi bahwa kau masih terluka dengan sifat Kibum"

"Ah tidak. Donghae itu selalu ceria Masii dan kau tidak perlu mengkhawatirkanku"

Donghae terus memasang wajah tenangnya dengan menunjukkan bahwa ia memang dalam keadaan baik-baik saja.

"Bagaimana aku tidak menghawatirkanmu Hae, aku berjanji akan menjagamu Hae. Percayalah"

Dengan caranya Siwon menyentuh pipi lembut Donghae.

Donghae merasa ada yang mulai mengganjal dihatinya dengan cepat ia menghentikan apa yang mungkin akan terjadi nanti.

"Siwon-ssi sepertinya aku harus segera masuk rumah sebelum hujan kembali turun. Sekali lagi terimakasih sudah bersedia mengantarkanku pulang"

FLASHBACK OFF

.

.

~One Confession~

.

Jari-jari panjang itu tengah sibuk menggoreskan tinta dilembaran kertas yang sedari tadi tidak berhenti beraktifitas.

"D-o-n-g-h-a-e"

Ia mengerjapkan matanya beberapa kali dan mencerna apa yang telah tertulis.

"Kenapa Donghae?"
Gummy smilenya terus mengembang ketika bibirnya menyebut sepatah nama "Lee Donghae"

Kembali fikira itu membayangkan kejadian sore tadi dimana dia berhasil memberikan kecupan manis dibibir namja mungil itu.

.

.

Hyukjae POV

Bagaimana bisa aku membiarkanmu jatuh ke pelukan orang lain ketika fikiran ini benar-benar tersita olehmu. Bagaimana mungkin orang lain harus mendahuluiku lagi sehingga membuatku kehilangan cinta yang selama ini belum berhasil ku kejar. Kamu bodoh Hyukjae jika kau terus membuang waktumu dan tidak mengambil kesempatan dalam kejadian ini. Buat dia mengakui perasaan terjujurnya dihadapanmu.

.

.

.

~One Confession~

.

Hawa dingin memang masih belum beranjak menghilang, begitu pula rintikan hujan ringan yang sepertinya masih ingin lebih lama mengguyurkan butiran kesejukan.

Hingga suasana itu semakin sangat dingin dirasakan namja yang saat ini sedang sibuk menyiapkan secangkir coklat panas untuk tamunya.

"Tat-taraaaa coklat panas ala Chef Donghae sudah siap"

Tubuh itu menyembul dari balik pintu dapur dan sontak membuat tamu itu tercerangap hingga kemudian menggelegarkan tawa.

"Chef? Donghae-ya apa yang kau buat hingga kau menyebut dirimu Chef?" Tanya tamu yang pipinya terdapat lesung kemanisan.

"Yak Masii sedari tadi aku membuatkanmu coklat panas" bibir itu seketika mengerucut imut mendengar pertanyaan tamunya yang ternyata adalah Siwon yang sering ia panggil Masii. Tangan kecil itu kemudian manaruh hidangan diatas meja.

"Donghae.. tidak perlu repot-repot membuatkanku semacam ini"

"Tapi kau bertamu dirumahku dan itu membuat aku harus menjadikan tamuku sebagai raja dengan menyajikan hal yang membuat tamuku senang berada disini. Bukankah begitu?" Kerucutan bibir itu semakin terlihat tidak menentu.

"Hey, kenapa kau cemberut Donghae? Apa perkataanku membuatmu seperti itu" sentuhan jari-jari Siwon menyentuh lembut ke pipi Donghae. Tatapan mata Siwon kini benar-benar mengarah ke bola mata indah dan bulat Donghae.

"Apa yang harus aku lakukan. A-aku benar-benar tidak mengerti arti pandangan ini" Batin Donghae berusaha mengalihkan pandangannya ke tempat lain.

.

.

.

"Lagi-lagi aku terlambat"

Tubuh yang tidak berisi itu tersender kepada dinding yang cukup kuat menopang tubuhnya yang saat ini benar-benar rapuh dengan yang disaksikannya.

"Siwon? Kenapa kau lebih dulu ha"

Dengan pelan Hyukjae melihat disisi dalam pintu yang masih menyisakan rongga terbuka dimana Donghae sedang tertawa lepas karena Siwon.

"Apa aku harus merelakan lagi"

Matanya berkaca-kaca, dada itu terus Hyukjae pegang agar tidak merasakan sesak yang teramat dalam ketika orang yang dia cintai harus kembali berada dalam pelukan orang lain.

"Aku, ah.."

Perkataan apapun itu tidak sanggup lagi Hyukjae keluarkan, airmatanya sedikit demi sedikit terurai ketika sesekali mendengar bahakan tawa Donghae dari dalam yang seharusnya membuat Hyukjae tenang tapi justru sebaliknya. Tawa Donghae bukan karena Hyukjae melainkan karena Siwon.

"Donghae.. aku.. ah.. Mungkin ini bukan waktu untukku" langkah demi langkah kaki itu ia tapakkan untuk menjauh dari rumah Donghae. Hyukjae mencoba memantapkan langkahnya untuk terus melangkah maju tanpa menoleh agar luka itu tidak dirasakannya kembali.

.

.

.

~One Confession~

"Hoammmmmmm"

Bibir tipi situ tanpa sengaja menguap didepan tamu yang jelas-jelas masih terjaga.

"kau sudah mengantuk Donghae"

Tegg dug

Hampir saja matanya terpejam tapi pertanyaan itu masih cukup untuk membuatnya tersadar.

"Ahh aniya"

Jawabnya singkat yang tentu saja berbalik dengan fakta. Begitulah Donghae, ia tidak ingin mengecewakan orang lain.

"Yasudah Hae, kalau begitu aku pulang saja. Kau harus istirahat yang cukup bukan? Besok ada jam sekolah seperti biasa"

"Hmmm iya Masii, kalau begitu kau hati-hati. Biar ku antar sampai ke depan"

…..

"Ya sampai ketemu besok disekolah Masii. Hati-hati"

Donghae melambai ringan seiring Siwon yang terus menancap gas mobilnya.

.

.

Tangan itu hampir menutup pintu tapi ada satu titik yang membuat niat itu diurungkan yaitu sebuah benda yang berada diteras.

"Aish apakah itu milik Masii? Apakah ia lupa?"

Donghae menggiring kakinya mendekati teras. Ia meraih ponsel disakunya untuk menghubungi Siwon dan memberitahu jika ada yang ketinggalan.

"D-O-N-G-H-A-E"

Niatnya seketika terhenti melihat sebuah sampul dengan tulisan tangan yang sekilas menyebutkan namanya. Donghae meraih benda semacam buku itu dan kemudian membawanya masuk ke dalam. Bagaimanapun juga sudah malam dan udara sangat dingin dan Donghae sangat tidak tahan terhadap dingin.

.

.

.

Sekali lagi Donghae membolak-balikkan buku yang memuat namanya sebagai sampul. Semakin ia melihat sampulnya semakin ia ingin membuka apa yang ada didalamnya melupakan apakah Siwon pemilik buku tersebut.

"Tapi.. kenapa harus namaku yang tertera disini. Dan aku tidak merasa memiliki ini"

Donghae bergedik lucu yang kemudian membuka halaman pertama. Matanya terbuka lebar ketika sebuah gambar berhasil menghipnotisnya.

"Omo ! Donghae.. Lee Donghae.. Will You Marry With Me?"

Tawanya kembali terlempar ketika sebuah tulisan yang mengisyaratkan terjadi pernikahan.

Donghae semakin penasaran dibuatnya hingga memaksa tangannya membuka halaman kedua. Tidak kalah kagetnya matanya semakin melebar ketika sebuah gambar dua orang namja yang sedang memadu kasih disebuah taman.

"Me and My Donghae"

Sekiranya itu adalah keterangan di gambar tersebut.

Donghae terus membuka halaman demi halaman. Banyak kejutan per halaman yang Donghae jumpai. Hingga di halaman terakhir Donghae harus membaca apa yang kemudian berhasil membuat air mata penuh kelembutannya terurai hebat.

Donghae

Lee Donghae

Donghae ku?

Apakah aku boleh memanggilmu seperti itu?

Apakah tidak apa-apa atau aku tidak layak?

Ketika kau tertawa itu adalah orang lain

Dan ketika air matamu terurai aku lah yang harus disitu

Kau mengerti maksutnya?

Ah aku rasa tidak akan.

Kau Lee Donghae..

Ketika kau menerkamku dengan tangis ketika Kibum meninggalkanmu?

Aku harus bagaimana?

Meninggalkanmu dibawah hujan

Tidak mungkin!

Atau aku harus mengembalikan Kibum untukmu

Itu sama saja membunuhku bukan.

Hingga akhirnya aku memilih menemanimu

Melawan hujan

Biarlah hujan yang menilai apa arti dari semua itu

.

.

.

Donghae menghapus air mata yang terus mengalir. Ternyata ada seseorang yang memberinya perlindungan sebesar itu. Tapi siapa?

Donghae kembali membayangkan kejadian demi kejadian yang mungkin akan menemukan siapakah pemilik buku itu. Hingga Donghae akan mampu menyimpulkan kepada siapa ia pantas memberikan seluruh dari dirinya.

.

.

.

.

~One Confession~

.

.

"Donghae.. kau tidak makan nasi?"

"Ani, aku makan roti sandwich ini saja eomma"

"kau yakin sayang?"

"hehem"

Donghae melahap roti yang sudah disiapkan oleh Teukie eomma di meja makan.

"Uhukkk"

Donghae tersedak ketika tiba-tiba wajah Hyukjae melintas di fikirannya.

"Hati-hati Donghae ini minum dulu"

Teukie eomma menyodorkan segelas air putih untuk membasahi kerongkongan Donghae putra kesayangannya.

"Kenapa tiba-tiba wajah Hyukjae terlintas di fikiranku" Donghae membatin sambil terus sedikit demi sedikit menyegarkan tenggorokannya dengan air putih.

.

.

.

"Gomawo appa. Donghae masuk kelas dulu Kanginim appa"

"Hati-hati chagi"

Donghae berlari menuju ke kelasnya sebelum jam masuk berbunyi.

.

.

.

"Apa yang sedang kau pegang Hae, sepertinya kelas kita tidak ada buku semacam itu"

Sungmin tiba-tiba datang dan memecah lamunan Donghae.

"a-aku.. emm.. Minnie aku sedang mencari siapa pemilik buku ini?"

Sungmin sedang sibuk mendengar penjelasan Donghae tentang buku tersebut, buku yang berisi tentang ungkapan hati seseorang.

"…"

"lalu bagaimana Hae?" Tanya Sungmin kepada sahabatnya itu setelah Donghae menceritakan kejadian semalam sebelum ia menemukan buku tersebut.

"aku hanya ingin menanyakan kepada pemiliknya apakah semua ini benar Ming. Kenapa fikiranku tertuju kepada Hyukjae" tatapan Donghae kini sedikit menatap kea rah Hyukjae yang saat ini sedang bercakap bersama Heenim.

.

.

Hyukjae tau keadaan kelas sedang gaduh tapi tidak menutup kemungkinan bahwa ia sanggup mendengar apa yang dibicarakan Donghae dengan Sungmin. Gummy smile Hyukjae melebar mendengar Donghae menyebut namanya dan mendengar bahwa Donghae mencurigai Hyukjae lah pemilik buku tersebut. Paling tidak Donghae menganggap bahwa Hyukjae memang memiliki sebuah perasaan yang hebat untuk Donghae.

"Hey, Hyukjae! Kau tidak menanggapi ceritaku. Aish"

"E.. apa yang kita bicarakan tadi Heenim. Bisakah kau mengulangnya?"

Hyukjae tergagap ketika Heenim memecah perhatiannya untuk Donghae.

"Aish aku tau siapa yang kau pandang sedari tadi? Donghae"

Heenim berdecak seakan merasa malas jika fikiran sahabatnya itu sudah dikuasai oleh Donghae, Donghae dan Donghae.

"Lihatlah Dia.. kenapa dia sangat sempurna? Kenapa dia begitu memikat? Aku sudah benar-benar gila dibuatnya. Kau tau itu kan?"

Pandangan Hyukjae seakan penuh harap yang hanya bisa di anggukkan oleh Heenim sahabatnya.

"Iya dia memang sangat menarik Hyuk dan aku tau kau mengaguminya sejak dulu bahkan sebelum dia bersama Kibum hingga saat ini ia sudah tidak lagi bersama Kibum. Tapi apakah kau siap bertanding dengan siapa saja yang juga ingin mendapatkannya"

Lamunan harapan Hyukjae seketika buyar.

"Maksutmu?"

"Ya kau tau Hyuk bahwa tidak hanya kau yang menyukainya kau tau bahwa Siwon siswa terkaya di sekolah ini juga terlihat sedang mengejarnya bukan. Coba perhatikan Siwon, kurang apa dia?"

Heenim beralih melihat seisi bukunya sebelum rekannya itu menemui emosionalnya.

Hyukjae terdiam dan benar-benar terbebani dengan pembicaraan Heenim saat itu juga.

.

.

Sementara disisi lain Sungmin yang mendengar cerita Donghae hanya mengangguk ringan sebelum akhirnya kembali menanyakan sesuatu.

"Kenapa Hyukjae? Kenapa bukan Siwon? Bukankah Siwon yang terakhir kali ke rumahmu semalam Hae?"

Donghae hanya terdiam dan sedikit mengangguk.

"Kau benar Ming, dan aku juga sempat meneleponnya semalam untuk menanyakan apakah ada yang ia tinggalkan tapi terpaksa itu semua ku tunda"

"Lalu?" Sungmin member pertanyaan agar Donghae kembali berfikir jernih.

"Atau mungkin Kibum?" sambung Sungmin di ikuti tertawanya yang serupa dengan pekikan.

"Aniyo Minnieeee… mana mungkin. Bukankah dia sudah bahagia disekolah barunya?"

"Mana ku tahu Donghae sayang…."

Sungmin beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Donghae yang masih berperang menemukan siapa pemilik ungkapan hati yang sanggup membuatnya benar-benar tersentuh.

.

.

~One Confession~

.

T.B.C

.

.

Donghae UKE paten!

Mind to RnR pweaseeee

Let's be my friend fb : Hany Hae atau di twt & IG ya : hanyhaek

Thanks before muahhhhhh Hae bottom terutama EHS