New Mother © anclyne
Ansatsu © Matsui Yuusei
Warn: TYPO, AR, family, maybe OOC.
Happy Reading!
.
Jika bertanya kapan Gakushuu merasa horror di dalam rumahnya sendiri, jawabannya adalah; ketika sang ayah—Asano Gakuhou dilanda badai bernama galau.
Awalnya, Gakushuu tidak tahu menahu penyebab sang ayah tiba-tiba bersikap seperti anak ABG labil. Ia bahkan tidak mau tau apa penyebabnya. Namun, dalam dua hari, sikap sang ayah yang selama ini selalu bisa menyembunyikan wajah aslinya rapat-rapat. Kini berbalik, tanpa segan membuka topengnya. Dalam konteks ini, tentu saja hanya Gakushuu yang menyadarinya.
Semuanya berawal dua hari lalu. Pukul sembilan malam, Gakushuu turun ke lantai bawah untuk mengambil air mineral. Menjeda waktu belajarnya yang berharga, walau begitu ia tau bahwa air akan membantunya untuk lebih berkonsentrasi. Ia tidak ingin lagi kalah dari si preman merah dari kelas E.
Ketika bibir hampir menyentuh ujung gelas kaca, ia dikagetkan dengan suara bantingan pintu. Terkesiap, mendapati bahwa sang ayahlah si pembuat ulah. Gakushuu menelan ludah, gagal meneguk air mineral di tangannya. Bergeming, lensa violetnya mengikuti arah sang ayah bergerak. Objek berhenti tepat di sebuah sofa beludru ruang tv, bersebrangan tak jauh dari tempatnya berdiri. Sambil menyisir ke belakang helainya dengan jemari, lalu memijat pangkal hidungnya.
Gakuhou merebahkan tubuhnya di sofa empuk, melonggarkan dasinya yang seolah mencekik leher di tengah suasana hati yang buruk. Sepatu mahal ia lepas begitu saja. Gakushuu bahkan bisa mendengar hela napas berat yang keluar dari mulut sang ayah. Terlepas dari pembekuan, ia 'pun melanjutkan acara minumnya. Mencoba mengabaikan peristiwa aneh yang barusan terjadi di depannya. Selesai melepas dahaga, sang ketua Osis kembali melangkah menuju kamarnya.
.
.
Ketika sarapan pagi, tidak ada yang aneh, baik suasana ataupun kebiasaan. Semua normal. Sampai hal kasat matapun sama sekali tidak ada yang aneh. Gakushuu pikir, kejadian semalam mungkin hanya halusinasinya saja. Sampai sang ayah memecah keheningan.
"Berusahalah untuk ujianmu hari ini, Asano -kun." Sang ayah berucap, sebelum menyudahi acara sarapannya dan beranjak lebih dahulu.
Gakushuu mendadak kesulitan menelan, seolah kerongkongannya tersumbat batu.
.
.
Setelah dua kejadian paling aneh seumur hidupnya. Walaupun terus mencoba tidak peduli, mau tidak mau, kelakuan sang ayah benar-benar mengganggu pikirannya. Rasanya, selama ia hidup lima belas tahun, tak pernah sekalipun ia melihat sang ayah bersikap aneh.Begitu depsresi. Bukan ayahnya sekali. Jika mengalami masa krisis pada pekerjaannyapun, topeng kokoh masih erat menempel di wajahnya.
Entah, yang terbesit di benaknya saat ini hanya satu nama; Karasuma Tadaomi. Asisten guru kelas E, yang minggu lalu makan malam di kediamannya. Ia yakin, pria itulah penyebab utama. Bukan tanpa alasan, jika mengingat apa yang lensa matanya tangkap malam itu.
.
Hari ketiga, seperti dugaan Gakushuu. Sang ayah semakin bersikap keluar dari jalurnya. Jika normalnya ia akan disambut-sang ayah sedang membaca koran sebelum sarapan. Hari ini, Gakushuu tidak mendapati ayahnya di depan meja makan. Rasanya mustahil jika ayahnya terlambat bangun. Ia pun mengambil kesimpulan bahwa sang ayah berangkat terlebih dahulu. Namun, Deduksinya hancur ketika mendapati mobil sang ayah masih terparkir cantik di halaman.
Rahangnya mendadak keras.
.
.
Tak tahan dengan kelakuan sang ayah. Gakushuu nekat menemui sang penyebab. Ia bersyukur karena ujian di adakan di gedung utama, itu mempermudahnya untuk menemui targetnya.
Ujian hari keempat selesai, Gakushuu menghapiri Karasuma yang sedang berkutat dengan ponselnya. Ia menunggu, sampai insting Karasuma menyadari bahwa ada seseorang yang berdiri di belakangnya.
"Akan kuhubungi lagi nanti." Ia pun memutus sambungannya setelah mendapati Gakushuu dalam lensa obsidiannya.
"Asano-kun?"
"Selamat siang, Karasuma-san." Gakushuu memang sengaja, menggunakan suffix '-san' agar lawan bicaranya tau bahwa ia sedang bicara secara pribadi. Bukan guru dan murid.
"Ya, ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?"
Pintar. Sesuai persepsinya. Karena sang ayah tidak mungkin tertarik dengan orang yang tidak punya intelegensi.
"Membicarakan topik yang mungkin—sedikit serius."
Sejenak, wajah Karasuma terlihat menegang. Lalu berkedip sekali, menandakan ia paham.
"Baiklah."
Di dalam Kafe tak jauh dari Kunugigaoka gedung utama. Gakushuu duduk bersebrangan dengan Karasuma. Dekat jendela, paling ujung yang kebetulan kosong. Memesan secangkir cappucinno, Karasuma lebih memilih memesan machiatto. Menyesap sekali sebelum salah satu dari mereka memulai pembicaraan.
"Bagaimana ujianmu, Asano-kun?" Karasuma tersenyum kecil, meletakkan cangkirnya di atas meja.
"Cukup membuatku yakin tidak akan kalah dari 'anak didik' anda, Karasuma-san." Gakushuu melakukan hal yang sama.
"Begitu?"
Gakushuu membalas dengan menarik garis bibirnya sedikit ke atas. "Maaf, langsung saja ke topik. Ada yang ingin saya katakan pada anda, Karasuma-san."
Pria di depannya menunggu Gakushuu melanjutkan kata-katanya.
"Belakangan ini—tidak, sejak empat hari lalu, ketua dewan bersikap tidak normal."
"'Tidak normal'?"
"Terlihat—depresi. Sebagai orang yang menurut saya, 'terdekat' dengannya apa anda tau penyebabnya?"
Gakushuu menunggu. Mimik wajah Karasuma terlihat gelisah sesaat mendengar penyataan Gakushuu. Namun masih bersikap tenang. Asisten guru itu kembali meneguk machiatto dalam cangkir sebelum mulai menjawab. Mencoba mengumpulkan kata-kata yang hendak keluar dari bibirnya.
"Kenapa kau berpikir kalau aku tau penyebab Asano-san seperti itu?"
"Instingku berkata begitu."
".. Insting bisa saja salah."
"Insting seorang anak tidak mungkin salah." Jawab Gakushuu santai. Karasuma kehilangan kata.
Gakushuu mengangkat cangkirnya hendak meminum, "dan lagi, anda punya hubungan khusus dengan ketua dewan, 'kan?" Ucapnya lalu menyeruput cappucino.
Lensa obsidian membola, ekspresi terkejut tak terelakkan, tenggorokannya mendadak kering. Hendak meminum kembali machiattonya
"Apa saya salah?" Namun Gakushuu segera menginterupsi gerakannya dengan pertanyaan. Ia sengaja, 'mereka bilang jangan biarkan pembohong minum air saat ketahuan berbohong. Itu membuat mereka menelan kejujuran bersama air yang ia telan.'
Yah, bukan maksud Gakushuu menganggap Karasuma seorang pembohong, hanya pencegahan dari lontaran dalih.
Karasuma meletakkan kembali cangkir kopinya, memejamkan mata lalu menghela napas pelan.
"Bagaimana kau bisa tau, Asano-kun?"
Gakushuu tersenyum tipis. Meletakan dua sikunya dan menutkankan jari-jarinya untuk menopang dagunya.
"Sebenarnya itu tidak penting, saya hanya ingin mengatakan, bahwa saya sama sekali tidak keberatan dengan hubungan anda dan kepala dewan."
Ekspresi Karasuma berubah khawatir, ia terlihat sangsi dengan pernyataan Gakushuu barusan. "Kau yakin dengan perkataanmu, Asano-kun?"
"Well, sama sekali tidak. Tapi, bisakah anda memberi tau saya, apa yang terjadi antara anda dan ketua dewan?"
.
Empat puluh lima menit. Bagi pemuda berhelai pirang stroberi ini, cukup untuk menyerap pengakuan pria dewasa di depannya.
"Anda tidak perlu memikirkan hal itu, Karasuma -san. Saya juga yakin, kepala dewan sudah memikirkan matang, jauh ke depan dan akan bertanggung jawab penuh dengan keputusan yang telah ia ambil."
Sadar atau tidak, Gakushuu merasa ia mendadak jadi seorang kontemplatif.
"Ya menurutku juga seperti itu. Persetujuanmu membuatku lega. Terimakasih, Asano-kun. Kau anak yang baik." Ujar Karasuma tersenyum lembut.
Gakushuu sedikit tersipu, dipuji dengan tulus seperti itu tidaklah biasa baginya.
"Tidak perlu berterimakasih. Aku melakukannya untuk kenyamanan diriku sendiri." Ia menutupi rasa malunya dengan meminum cappucinno pesanan kedua.
"Tidak, kau mengkhawatirkan ayahmu bukan? Itu cukup bukti bahwa kau anak yang baik." Mengulurkan tangan kanan, Karasuma mengelus puncak kepala Gakushuu. Ia terpaku dalam tunduk, teringat usapan di kepalanya yang tak pernah lagi ia rasakan. Hangat menyelimuti dadanya. Tak menyadari bahwa ia sedang tersenyum.
"Bicaralah dengan ketua dewan secepatnya, Karasuma-san."
"Tentu."
.
.
.
Di dalam mobil pribadi miliknya. Karasuma menatap kasvas hitam dengan kerlip bintik bertaburan dari balik kaca. Menunggu seseorang yang beberapa bulan ini mengganggu ritme hidupnya. Menerawang sejenak, bagaimana ia teringat awal pertengkarannya dengan orang itu lima hari lalu.
"Tinggal'lah bersamaku. Di rumahku, Tadaomi."
Bola mata Karasuma spontan membola mendengar perkataan pria paruh baya—tanpa kehilangan ketampanan—di sampingnya. Ia melepaskan genggaman tangan Asano Gakuhou.
"Kau sedang bercanda?" Karasuma berkedip dua kali.
"Kau mendengarnya dengan jelas."
Hening sejenak. Karasuma terlihat berpikir keras.
"..Tidak bisa." Ucapnya tegas, tanpa menatap lawan bicara.
"Aku tidak menerima penolakan, Tadaomi."
"Kau. Harus." Karasuma menekan.
"Apa yang kau khawatirkan?" Gakuhou melangkah mendekati Karasuma, mengikis jarak yang kini tak lebih dari tiga puluh senti.
"..Asano-kun.. dia tidak tau kita—"
"Dia sudah dewasa, Asano-kunpasti mengerti. Dia anakku."
"Kau bahkan tidak menyebut namanya dengan benar!" Karasuma mendadak tersulut. Karena ia dalam keadaan yang kalut. Ketakutan akan dibenci dan kekhawatiran keberadaannya ditolak oleh putra ketua dewan.
"Tadaomi!" Gakuhou mengangkat paksa rahang Karasuma, memaksa lensa obsidian itu menatap lensa violetnya langsung.
Mata mereka bertemu Keduanya saling pandang. Menyusuri pikiran lawannya masing-masing. Mencari keyakinan dan meyakinkan. Namun ekspresi Gakuhou mencelos ketika Karasuma bersikeras mengalihkan pandangannya.
Mengepalkan tangannya erat. Ia pun melepas sentuhannya pada rahang Karasuma. Ia menyerah.
"Terserah kau, aku pulang."
Mengambil jas-nya yang tergeletak di sofa, ia pun beranjak pergi. Keluar dari kediaman Karasuma.
Karasuma yang ingin mencegahpun pada akhirnya tak dapat melakukan apa-apa, tubuhnya serasa terkena tatapan medusa. Sungguh ia merasa menjadi orang yang hipokrit saat ini.
.
BLAM!
Suara pintu mobil tertutup menyentak kesadaran Karasuma. Ia menoleh pada objek yang kini duduk di sebelahnya dengan melipat kaki.
"Asano-san."
"Apa yang ingin kau bicarakan? Aku tidak akan mendengar jika kau masih bersikeras menolak ajakkanku."
Tepat sasaran.
".. Ya, sebenarnya aku memang bermaksud menerima." Gakuhou sontak menoleh, menatap Karasuma, lalu menyeringai.
"Apa yang membuatmu berubah pikiran?"
"Rahasia." Sebelah alis Gakuhou mengerut.
"Heh, begitu? Aku akan menyelidikinya sendiri." Karasuma mengeram, dengan rona di pipi.
"Tapi aku punya permintaan."
"Apapun itu, katakan."
"Aku tak langsung pindah ke rumahmu. Beri aku waktu seminggu untuk mencoba."
".. Kenapa tidak langsung saja?"
"Aku butuh adaptasi."
"Kau bisa pindah sambil adaptasi. "
"Terima atau ku batalkan?"
"Oke." Gakuhou menyerah, untuk kali ini ia ikuti kemauan Karasuma. Setidaknya permintaannya itu tetap berujung sang kekasih tinggal dengannya, 'kan? Tidak masalah. "Kapan kau akan mulai?"
"Mungkin.. dua hari lagi."
"Baiklah." Tiga detik kemudian Gakuhou sudah mencondongkan tubuhnya maju, tanpa permisi menyapu bibir Karasuma. Submisif tak menolak, meresponnya dengan mengalungkan lengan di leher Gakuhou.
.
.
.
a/n:
serius takut mereka bertiga ooc /menagis
dan words-nya jebol, udah ga bisa dibilang drabble lagi. Kemungkinan kedapannya juga pasti bakalan jebol.
fik ini bakalan apdet seminggu sekali kalo ngga ada halangan *Cuma informasi* /yha
Sorry, ngga sempet bales review satu-satu. Tapi terimakasih, Oriensykes, Nakashima eru, lala-chan ssu, dan yang udah bersedia mampir juga fav! ((:
Dori.
