Here We Go :
2. I'll Do Anything For You :
HusbandHanamiya MakotoxWifeReader
"Berikan aku uang." titah Hanamiya. Pria bersurai hitam kelam itu mengadahkan tangannya ke depan wajah [Name].
[Name] menelan salivanya takut-takut. "A-Aku... tidak punya u-"
BRAK!
Wanita itu tersentak kaget. Refleks, kakinya membawanya untuk mundur menjauhi Hanamiya beberapa langkah. [Name] menggigit bibir bawahnya pelan, berusaha meminimalisir rasa takutnya akan sang suami.
"Kau pikir aku bodoh," Hanamiya mengangkat tangannya. Pria itu mencekal keras blus [Name] dengan kuat. "kau baru saja meminjam uang dari Ibumu, 'kan?" ujarnya dengan seringai yang tersungging di wajahnya.
Peluh keringat mengucur semakin deras di kening [Name]. "I-Itu un-untuk tagihan listrik... dan air." lirihnya ketakutan, tangannya mulai bergetar.
Raut wajah Hanamiya mengeras. Ia meninju dinding yang menahan pergerakan [Name] dengan kesal. "Apa peduliku, cepat berikan!" seru pria itu bengis. Kesal dengan [Name] yang tak bergerak, pria itu menarik uang tersebut dari dompet [Name] tanpa izin.
"Ja-Jangan, a-ku tak punya uang lagi, Makoto-kun..." isak [Name], wanita itu terjatuh hingga bersimpuh, ia menarik baju Hanamiya dengan pelan. "Kumohon... jangan ambil u-"
BRAK! SRAK!
Hanamiya mendorong [Name] dengan kakinya, kemudian menjambak surai [h/c] wanita itu dengan kuat. "Itu masalahmu, aku tidak pe-du-li!" kekehnya, Hanamiya melepaskan jambakannya kemudian meninggalkan [Name] yang tergeletak lemah begitu saja.
"...hiks! J-Jahat, ka-kau jahat...hiks!" isak [Name] setelah Hanamiya berlalu dari rumah mereka yang kecil itu.
• • • •
BAG! BAG! BAG!
Suara ketukan yang kasar itu terdengar sangat kencang. Bahkan, [Name] yang sedang melipat pakaian hampir saja meloncat dari kursi kayunya. Wanita itu mengelus dadanya, kaget. Tangannya merapikan ikatan rambutnya, kemudian barulah ia menghampiri pintu masuk.
BAG! BAG! BAG!
"I-Iya, tunggu sebentar." [Name] memutar kunci rumahnya, kemudian menekan engsel pintu rumah. Ia menatap keluar, tiba-tiba mata [e/c]-nya terbelalak lebar. "M-Makoto-kun, a-ada apa denganmu!?" serunya kaget, cepat-cepat ia membantu suaminya yang penuh luka lebam itu masuk ke rumah.
"Be-risik-hic!" sembur Hanamiya. Tangannya mendorong badan [Name] hingga wanita itu limbung dan hampir saja kepalanya menyentuh sudut meja. "Hey, di mana perhiasanmu, berikan padaku-hic!" teriaknya yang sudah berada di dalam kamar mereka.
"Pe-Perhiasan!? Aku sudah tak punya perhiasan lagi, Makoto-kun." [Name] menyahut dengan lembut. Ia beranjak dari posisinya yang terduduk, kemudian menghampiri Hanamiya yang ada di kamar. "Bukannya, kau yang menjual perhiasanku waktu i-"
BRAK!
Hanamiya membanting meja kecil di sampingnya. "Kau menyalahkanku?! Berani sekali kau jalang!" Tangannya menarik surai [h/c] [Name] kemudian mendorongnya hingga terjatuh. "Kau kurang ajar!" semburnya lagi.
"KYAA!" jerit [Name]. "M-Maafkan aku...hiks!" lanjutnya, [Name] terisak, wanita itu memegang lengannya yang berdarah akibat tergores kayu lapuk di dinding rumahnya.
Hanamiya mendecih kesal. "Kau sialan, aku tak mau tau, aku harus mendapat uangku besok!" bentaknya kesal.
"Be-Berapa yang Makoto-kun butuhkan?" lirihnya lagi.
"15 juta, besok sudah harus ada." Hanamiya berbalik, ia keluar dari kamar dengan cepat kemudian meninggalkan rumah lagi di tengah malam itu.
'15 juta... Ya Tuhan, tolonglah aku.' batin [Name] lemah.
• • • •
Hari ini ia sedang mencari pekerjaan tambahan ataupun pinjaman untuk memenuhi perintah suaminya itu. Sudah tiga jam ia berjalan ke sana ke mari untuk mencari solusi, namun tak ada satupun lowongan pekerjaan yang menerimanya atau pun organisasi peminjam yang mau membantunya.
"Hah, apa yang harus 'ku lakukan," [Name] menoleh ke sana ke sini, ia menatap berjejer mobil yang terparkir di halaman dari perusahaan yang baru saja menolaknya. "memang tak ada jalan yang mulus untuk orang bodoh sepertiku." Wanita itu merutuki dirinya yang hanya tamatan SMA.
Wush...!
Angin berhembus, menerbangkan selembar kertas sponsor yang disangkutkan di kaca depan mobil. Kertas itu terjatuh di depan [Name]. Wanita itu menghela nafas, ia meringis kecil. "Bahkan kertas pun menghalangi jalanku." kekehnya lemah.
Tangan [Name] terulur, entah apa yang merasukinya. Wanita itu memutuskan untuk memungut kertas tersebut.
DICARI!
ORANG YANG MAU MENJUAL ORGAN DALAMNYA!
HUBUNGI : XXX-XXX
[Name] terkesiap, air mata meluncur dari kedua matanya secara tiba-tiba. Senyuman lebar terulas di wajahnya. "Jika ini caranya untuk membahagiakan Makoto-kun, akan 'ku lakukan, Tuhan, terima kasih." ujarnya penuh syukur.
[Name] menelpon nomor yang tertera di kertas. "Hallo, selamat siang." sapa [Name] ramah.
[Ya, siang.]
Suara baritone menyapu indera pendengaran [Name]. Wanita itu tersenyum kecut, suaranya mengingatkanku pada Makoto-kun, batinnya sedih.
"Uhmm, aku ingin menjual organ dalamku." ujar [Name] to the point. Ia meremas rok lusuhnya kuat-kuat.
[Ya, tentu saja. Dengan siapa ini?] Suara pria itu terdengar senang. Ia gembira akan keinginanku.
Mungkin anaknya sedang membutuhkannya, pikir [Name] lugu. "De-Dengan, Hanamiya [Name]." ujarnya cepat.
[Eh? Hanamiya?]
Suara itu terdengar kaget. [Name] mengerutkan alisnya heran. "Ya, ada apa?" tanyanya penasaran.
[Bukan apa-apa, jadi, Nyonya Hanamiya, akan 'ku kirim alamatku.]
"B-Baik, uhm, ini dengan siapa?" tanya [Name] balik.
[Haizaki Shougo.]
"Terima-tut.."
"Uhm, yosh! Semangat [Name], aku akan menjual satu ginjal saja." [Name] tersenyum tipis. Ia mengelus dadanya. "Takkan ada apa-apa, kok." ujarnya menenangkan diri.
• • • •
[Name] memutar engsel pintu, dengan senyuman lebar, ia melangkah. Senyumnya semakin melebar saat melihat sang suami tengah merokok di kursi kayu dekat jendela.
"Makoto-kun!" seru [Name], wanita itu membuka tas bututnya, kemudian mengeluarkan sebuah amplop yang tebal. "I-Ini, uangnya." ujarnya riang.
Hanamiya tertegun. Ia menyambar amplop tersebut dari tangan [Name], kemudian membukanya. Dengan jeli ia menilik uang itu, lalu berlanjut dengan menghitungnya. Sontak, obsidiannya berbinar.
"Bagus, uangnya lebih dari yang 'ku duga," kekeh Hanamiya, ia menarik dua lembar dari uang tersebut, kemudian melemparnya ke arah [Name]. "Ambil, itu jatahmu." ujarnya tanpa memalingkan pandangan dari uang-uang tersebut.
Matanya sontak berkaca-kaca. "T-Terima... kasih." ujarnya penuh haru.
Hanamiya tiba-tiba terdiam. Pria itu menutup amplopnya. "Darimana uang sebanyak ini, [Name]?" tanyanya dengan serius.
"U-Uhm, a-aku meminjamnya dari pihak peminjam." lirih [Name], wanita itu berdusta.
Sontak, pria itu berdecih kesal. "Lunasi pinjamanmu itu, dan pastikan kau tak membawa serta namaku." titahnya kasar.
"I-Iya, Makoto-kun," [Name] mengulas senyum lembut. "aku takkan membawa serta namamu. Aku janji." lirih [Name].
Hanamiya POV
"I-Iya, Makoto-kun," [Name] mengulas senyum lembut. "aku takkan membawa serta namamu. Aku janji." lirih [Name].
Aku terdiam, entah kenapa senyuman wanita itu membuat hatiku sakit. Wajah pucatnya juga. Seakan-akan dia akan lenyap atau diambil paksa dariku.
"Ck," Aku berdecak kesal. Dengan tergesa-gesa aku bangkit dari dudukku dan beranjak keluar dari rumah yang sudah tak pantas ditinggali ini.
"Kau mau ke mana, Makoto-kun?" [Name] bertanya dengan nada cemas.
Aku menghela nafas kasar. Tanganku mencengkram dada, rasanya sesak, dan aku ingin menangis. "Melunasi hutangku." jawabku, untuk pertama kalinya aku menjawabnya dengan kejujuran.
Tanpa menunggu respon darinya, dan tanpa berbalik untuk memandanginya, aku pergi.
Kakiku terus melangkah, hingga sampai di sebuah bar kumuh. Obsidianku mulai menjelajah, mencari seseorang yang menjadi sumber masalahku.
"Oi, Hanamiya!" serunya. Aku mengernyitkan alis saat melihatnya dikelilingi dua gadis seksi. Namun, aku tak peduli lagi, firasatku buruk, membuatku tak mood untuk berlama-lama di sini.
"Hn." Aku merogoh saku, dan memberikan amplop itu padanya. Mataku menatapnya tajam. "Lunas, beserta bunga." ujarku sinis.
Aku berbalik, dan mulai melangkah menjauhinya. Pria itu benar-benar cerewet.
"Wow! Kau hebat sekali," celotehnya yang masih terdengar olehku.
Aku yakin, ia menyunggingkan seringai andalannya di sana. "Berisik kau... Haizaki!"
"Haha! Ketus seperti biasanya." ujarnya. "Anyway, ini pasti uang dari istrimu." ujarnya lagi.
Tubuhku tersentak kaget, bagaimana dia tahu jika itu uang dari [Name]. Pasalnya, walaupun aku sering mengambil uang [Name] secara paksa, aku tak pernah mengatakannya pada siapapun.
"Darimana kau tahu itu!?" seruku keras, tak mempedulikan gadis-gadis yang berjengit kaget. Aku menggulung lengan jaketku, kemudian mencekal lehernya. "Katakan padaku, Konoyarou!" seruku lagi.
"Ghkk...! Tentu sajah, aku tahu," Haizaki menyeringai sombong, ia mengeluarkan kartu dari sakunya, dan di sana tertulis nama [Name]. "d-dia menjual ginjalnya padaku, tadi siang, hahaha!" serunya senang.
Duniaku seperti runtuh, direbut secara paksa. Sekarang aku mengerti arti dari senyuman itu, aku berdecak keras. Kemudian mendorong tubuh Haizaki dan berlari untuk mencapai rumah.
"[Name] bodoh! Bodoh!"
Haizaki merupakan mantan dokter bedah, sertifikatnya dicabut saat dia ketahuan menjadikan pasiennya menjadi bahan uji coba. Setelah itu, Haizaki frustasi, dan jatuh ke dunia malam. Sejak saat itulah, Haizaki mulai membuka layanan khusus untuk orang-orang yang mau menjual organ dalamnya, hanya untuk kesenangan semata.
Tapi, bukan itu yang harus dicemaskan, melainkan keselamatan pasien. Haizaki selalu mengambil organ-organnya dengan operasi yang tidak bersih, kasar, dan benar-benar tak masuk akal. Kerap kali, sang penjual organ tewas kehabisan darah ataupun karena beberapa pembuluh darahnya putus.
Aku menghapus air mataku kasar. Tanganku mengetok pintu kayu dengan kasar. "[Name]! [Name]!"
BAG! BAG!
"[Name]!" teriakku, geram lantaran pintu tak kunjung terbuka, aku langsung mendobraknya. Mataku langsung disuguhi pemandangan normal sebagaimana rumah lainnya. Namun, aku sama sekali tak menjumpai [Name]. "[Name]! Keluar kau!" teriakku lagi.
Aku berlari masuk, tanpa melepas sepatu, aku mendorong pintu kamar kami. "[Name]...!" Obsidianku terbelalak, aku langsung menggendongnya naik ke ranjang.
"M-Makoto-kun..." [Name] memanggilku lirih, wajahnya pucat, begitu juga dengan tangannya yang mendingin. "Kau... lapar?" Ia bertanya.
Tanganku menyibak blusnya, menampilkan perutnya dengan jahitan melintang yang tidak rapi. Sontak aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat. "Bodoh, kenapa kau lakukan ini!" seruku diiringi air mata yang menetes.
"...hiks! Demi kau, akan 'ku lakukan apa-uhk!" [Name] terbatuk, darah keluar dari mulutnya. Aku hanya bisa memejamkan mataku kuat-kuat.
[Name] melakukan ini untukku.
Setelah hal bodoh yang telah 'ku lakukan.
[Name] masih ada untukku.
Obsidianku terbuka, kemudian berkilat tajam. "Kita akan ke rumah sakit, kau akan baik-baik saja," ujarku tegas. Tanganku mulai memegang tubuhnya dan bersiap untuk menggendongnya dengan gaya pengantin. "setelah itu, aku bersumpah akan menjadi suami yang baik untuk-" Mataku terbelalak, [Name] mulai menutup matanya. Aku menggeleng pelan. "Jangan, kumohon..."
"Makoto-...kun, a-ariga-"
Hembusan nafasnya berhenti, ia tewas, dipelukanku, karena aku.
Chapter 2 : Complete
