Lulu Baby 1412

-Present-

::[[_AGENT LU_]]::

Chapter 1

"The Reason & Decision"

::…::

.

Beijing, 1995

Sesosok anak kecil tengah berlarian ditengah lapangan yang teramat luas. Bola sepak digiringnya dengan ceria dan semangat. Semangatnya tampak dari keringatnya yang bercucuran dan senyum gembira yang terpampang diwajah manisnya. Beberapa meter lagi ia akan mencapai gawang kosong yang tak dijaga seorang pun karena anak kecil itu memang sedang bermain bola sendirian. Tepat ketika bocah itu berjarak dekat dengan gawang, dengan sekuat tenaga ia menendang bola tersebut kearah gawang. Dan,

"GOOLL! YEAY!"

"Xiao lu!"

Belum berapa lama anak kecil itu bersorak gembira, sang paman memanggilnya dari kejauhan. Anak kecil yang dipanggil 'Xiao Lu' itu pun mengangguk kemudian memungut bolanya, ia berlari kecil kearah pamannya.

"Lu, kita harus cepat pulang. Baba dan Mama mu sudah menunggu dari tadi!"

Anak kecil itu mengangguk kemudian tersenyum manis. Dia begitu penurut dan manis, dengan gemas sang paman menggendongnya meninggalkan lapangan tempat anak kecil itu bermain sepak bola.

Ketika mereka sampai di rumah, bocah kecil itu langsung beranjak turun dari gendongan pamannya dan memilih berlari menuju Baba nya yang masih lengkap berseragam militer. Anak kecil itu menggembungkan pipinya ketika ia sadar bahwa pasti sebentar lagi ia akan ditinggal Baba nya untuk pergi dinas lagi.

"Baba!"

"Oh, ini dia Xiao Lu manis Baba. Darimana saja heumm?"

Baba Xiao Lu langsung menangkap dan menggendong anaknya yang berlari terburu-buru kearahnya. Tuan Xi memang selalu kekurangan waktu untuk bertemu dengan anak semata wayangnya yang manis itu, Luhan.

"Luhan, ayo makan siang dulu? Kemarilah, Mama suapi."

Seorang wanita cantik mendekati ayah dan anak yang sedang bersenda gurau di ruang keluarga rumah mereka. Wanita itu membawa mangkuk berisi bubur kesukaan Luhan, anak pertama di keluarga ini.

Ini adalah keluarga Xi. Tuan Xi adalah salah satu anggota militer China. Di usianya yang baru 27 tahun ia cukup hebat karena sudah bergelar Kolonel, otomatis ini memicu banyaknya rekan-rekan yang iri padanya. Selain itu, Nyonya Xi adalah wanita teramat cantik yang berhati lembut. Keduanya sangat serasi sehingga membentuklah keluarga harmonis. Dan setelah kehadiran anak pertama mereka 5 tahun silam ini, keluarga mereka lebih bahagia lagi.

Kriiing~

"Halo, disini kediaman keluarga Xi. Ada yang bisa saya bantu?" Nyonya Xi mengangkat telepon rumah pada nakas kecil tepat disampingnya.

"…"

Nyonya Xi mengernyit mendengar perkataan orang diseberang yang tengah menelepon. Bukan karena hal aneh, ia hanya tak suka dengan bagaimana orang itu bicara. Dan, ia merasa asing karena itu bukan telepon dari seseorang yang ia kenal.

"Ini telepon untukmu sayang."

Tuan Xi menoleh dan menatap istrinya penuh tanya. Tidak, ia melihat ekspresi aneh wajah Nyonya Xi. Seperti sedang kesal dan tak suka dengan suatu hal.

"Luhan, ayo sini? Makan bersama Mama…"

Luhan kecil mengangguk kemudian mendekati Mama nya. Sesekali Nyonya menatap tak nyaman kearah suaminya yang sedang menerima telepon diluar rumah. Mendengar suara dan kata-kata yang disampaikan sang penelepon tadi sungguh membuat perasaannya tak nyaman. Terlebih lagi saat ia melihat ekspresi suaminya dari kejauhan. Seperti ada sesuatu, yang tak beres…

"Mama!"

"Iya sayang?" Nyonya Xi terkejut minta ampun saat Luhan memanggilnya keras-keras.

Luhan menatap Mama nya kemudian ia tersenyum jahil. Ia baru saja berhasil mengerjai Mama nya yang sejak tadi terus saja melamun dan melihat kearah luar. Luhan hanya tidak mengerti tentang apa yang Mama nya pikirkan saat ini, dan tentang apa yang akan terjadi setelah ini.

. . .

::[[AGENT LU]]::

. . .

Semuanya terjadi begitu cepat. Ketika belasan pasukan-pasukan bersenjata tiba-tiba menyelinap dan menyabotase kediaman keluarga Xi. Tuan Xi berdiam diri diruangan kerjanya dan seolah-olah menunggu dalang dari penyabotasean ini. Dengan tenang ia duduk dan melihat beberapa pasukan menodongnya dengan senjata api. Kolonel tampan dengan usia tak sampai 30 tahun ini tersenyum begitu melirik seragam yang dipakai oleh orang-orang disekitarnya. Namun senyumannya memudar saat menangkap siluet yang tengah mendekati ruangan itu.

"Kau…"

"Aku tidak begitu pandai berbahasa Cina, Tuan Xi. Dan aku tau kau sangat fasih dalam berbahasa Korea, aku harap kau mengerti maksudku…"

"…"

"Bajingan!"

"Habisi semuanya, tanpa sisa…"

Tuan Xi tak dapat berbuat apapun. Jika ia bergerak atau lari, itu sama saja dengan mempersulit semuanya. Ia lebih memilih memejamkan matanya dan membiarkan musuh melesatkan peluru panas kedalam otaknya. Nyonya Xi yang sedari tadi menutup rapat mulutnya tak bisa menahan dan meneriakkan nama suaminya. Ia berlari kencang namun dalam sepersekian detik ia langsung ambruk ketika pisau tajam menembus tepat dijantungnya. Satu hal yang ia pikirkan diakhir hayatnya, Luhan.

Luhan, malaikat kecil tengah terlelap saat ini. Tak menyadari ketika beberapa prajurit memasuki kamarnya dan bersiap untuk membunuhnya detik ini juga.

"Tunggu!"

Salah seorang prajurit menghentikan temannya yang hendak menembak Luhan.

"Yang satu ini, biarkan aku yang urus…"

Prajurit muda yang dengan seenaknya menghentikan aksi rekannya itu menatap Luhan lekat. Tentunya setelah beberapa temannya yang lain meninggalkan kamar ini.

"Kau terlalu muda untuk mendapati orang tuamu untuk tiada…" "Luhan…" Prajurit muda ini melirik sebuah buku yang didekap bocah itu, dan itu bagaimana ia tau bahwa nama anak itu adalah Luhan.

Prajurit muda itu terdiam cukup lama didalam kamar Luhan. Dia menengok keluar dan melihat teman-temannya sudah berada dibawah semua, termasuk ketuanya. Mereka sudah bersiap untuk membakar kediaman ini. Beberapa diantaranya sudah bersiap dengan kayu dan api, mendadak rumah ini berbau bahan bakar yang tak sedap. Tepat setelah api mulai berkobar dan langsung meninggi, semua penyusup tadi pergi meninggalkan kediaman Tuan Xi.

"Mungkin Tuhan terlalu menyayangimu nak, aku datang kesini untuk menjadi malaikat penolongmu…"

. . .

::[[AGENT LU]]::

. . .

5 tahun berlalu semenjak kejadian pembakaran keluarga Xi. Pemerintah China sama sekali tidak menggubris kejadian naas tersebut. Kasus ini langsung ditutup sejak seminggu dibuka. Tak ada tim penyelidik yang dibentuk untuk menyelidiki kasus tersebut. Pihak keluarga pada awalnya tidak menerima dengan keputusan pemerintah mengingat keluarga Xi terutama Tuan Xi adalah seorang anggota militer yang mempunyai banyak pesaing, jadi bukan tidak mungkin kalau kejadian tersebut dilakukan oleh oknum-oknum yang iri pada Tuan Xi. Tapi, sayangnya pihak keluarga harus menuai kekecewaan setelah keputusan ditetapkan dan menganggap bahwa kebaran tersebut terjadi karena kecelakaan.

. . .

::[[AGENT LU]]::

. . .

.

Korea Utara, 2000

"Luhan, Paman Wu sudah pulang? Kau dimana?" panggil seseorang yang menyebut namanya Paman Wu.

Tanpa menjawab, sosok anak yang hendak beranjak remaja itu keluar dengan penampilan yang cukup menggemaskan. Wajahnya kotor oleh bedak-bedak tepung, dan sebuah apron berwarna pink melingkari tubuhnya yang kurus. Anak tersebut tersenyum manis.

"Ya ampun, kau kotor sekali? Apa yang kau lakukan, kau tidak belajar?" Pria yang masih memakai seragam militer itu mendekat dan membersihkan beberapa tepung yang menempel diwajah manis Luhan.

"Aku sedang bosan belajar, membuat kue mungkin dapat menghilangkan rasa bosanku. Oh ya, paman tidak mau coba?"

"Tentu aku ingin!"

Dengan semangat, Luhan menarik tangan Wu Fan kedalam dapur dan membiarkan Wu Fan untuk mencicipi kue buatannya sendiri.

Sejak lima tahun silam, Luhan tumbuh menjadi anak yang cukup baik. Walaupun jika ia mengingat kejadian itu ia tak akan pernah bisa berhenti untuk menangis. Ia ingat betul saat ia berada dalam dekapan seseorang dan melihat kobaran api mengoyaki rumahnya. Luhan menangis keras dan hanya bisa meneriakkan Baba dan Mama nya.

Sejak saat itu Luhan tinggal bersama seorang yang menurutnya sangat baik. Dia adalah Kapten Wu Yi Fan. Luhan akan tersenyum mengingat bahwa dia selalu dipelihara oleh orang tua yang berkecimpung dalam dunia militer. Dan sekarang Luhan tidak lagi tinggal di China, ia harus ikut Wu Yi Fan untuk dinas di Korea Utara karena ternyata Wu Yi Fan sendiri adalah tentara Korea Utara.

"Kau lucu paman, aku heran kenapa seorang tentara Korea Utara memiliki nama China sepertimu. Tidakkah kau mempunyai nama layaknya penduduk Korea?" Tanya Luhan saat melihat Wu Fan memakan habis kue buatannya.

"Aku punya, tapi dalam militer aku diperintahkan untuk memakai nama China ini. Itu perintah dan aku tidak mungkin bisa menolaknya bukan?"

Luhan mengangguk-ngangguk paham, ia tersenyum remeh pada Wu fan yang sok menjunjung tinggi perintah atasan saja. Dan apa itu? Ia juga sok misterius. Cukup memberitahu nama Korea nya dan Luhan tidak akan banyak tanya lagi bukan.

"Aeeyy, ya sudah kalau paman ingin menyembunyikannya dariku. Ngomong-ngomong ini sudah malam, kau tak mau mandi? Ya ampun, aku baru sadar kau bau sekali paman!" Luhan memukul bahu pria yang lebih tua 15 tahun darinya itu.

Sudah 5 tahun ini ia tinggal bersama Wu Fan. Luhan sama sekali tak pernah ada niatan untuk mengungkit kenangan masa lalunya dan bertanya terlalu dalam pada Wu Fan. Anak ini hanya mengharapkan kedua orangtuanya hidup tenang di surga sana tanpa ada gangguan darinya. Luhan menerima semua itu, baginya kasih sayang dari Wu Fan sudah sangatlah cukup. Mengharapkan kasih sayang dari keluarganya yang lain? Luhan tak bisa karena mereka semua benar-benar dimusnahkan. Luhan mengingat itu saat diusianya yang ke-7 tahun ia mendapatkan kabar buruk bahwa semua keluarga besar telah dihabisi dengan cara yang sama yaitu dijebak dalam kebakaran. Luhan menangis lagi, dan setelah itu ia sadar bahwa sekarang ia hanya bisa bergantung pada orang asing yang tiba-tiba saja menjadi malaikat penyelamatnya.

. . .

::[[AGENT LU]]::

. . .

8 Februari 2000, Korea Utara

Malam itu terasa dingin sekali, musim dingin belum berakhir. Luhan membuat dua cangkir coklat hangat untuknya dan Wu Fan yang masih berada di kamar mandi. Sesekali Luhan menyeruput coklatnya lalu kembali fokus pada pelajarannya. Ya, dia akan menghadapi ujian kelulusan sekolah dasar dua bulan lagi. Dan Luhan akan selalu fokus mengingat Wu Fan mengiming-imingi Luhan dengan hadiah yang selama ini Luhan inginkan. Sebuah miniatur rusa yang terbuat dari batuan marmer. Jelas itu tak murah, maka dari itu Luhan bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya dan berusaha mendapat ranking pertama disekolahnya.

"Lu, ujianmu kapan akan berlangsung?" tanya Wu Fan yang selesai dari kegiatan mandinya. Ia mengusap-usap rambut hitam kelontosnya dengan handuknya yang telah basah.

"April mendatang, Paman!" Luhan mendongak menatap Wu Fan.

"Kau, apa aku terlihat setua itu? Usia kita hanya selisih 15 tahun. Aku 25 dan kau 10, seharusnya kita lebih tampak seperti kakak dan adik!" Cicit Wu Fan, ia sudah lama dan selalu protes pada Luhan yang selalu memanggilnya paman. Luhan hanya terkikik geli kemudian meletakkan pensilnya diatas buku.

"Lihatlah dirimu. Kau benar-benar tampak seperti paman. Rambutmu yang kelontos, dan bulu-bulu janggut yang tumbuh didagu dan pipimu itu. Ish, kau tidak pantas untuk dipanggil 'Hyung'!" Luhan menunjuk-nunjuk wajah Wu Fan.

Memang benar perkataan Luhan. Rambut Wu Fan kelontos nyaris botak, dan beberapa bulu kumis dan janggut yang tipis sengaja ia tumbuhkan supaya terkesan garang. Sayangnya bagi Luhan itu tak terkesan garang, melainkan lebih kearah usia.

"Dasar bocah ini!" Wu Fan menggeram lagi sebelum meneguk coklat yang sudah tidak cukup panas. Luhan terkekeh sebagai tanggapan.

"Kau, aku tadi bertanya kapan kau akan ujian?"

"Aku kan sudah bilang tadi, Paman? Ya Tuhan, kau masih 25 dan semudah itu melupakan sesuatu?"

Wu Fan mendengus kesal lalu menggeleng beberapa kali. Wajahnya tampak ragu untuk bertanya, tapi ia seperti berusaha menyembunyikan suatu hal.

"Tepatnya tanggal berapa?"

"16 April sampai tanggal 19, memangnya ada apa Paman menanyakan itu?"

"Ah, tidak…" Wu Fan mengulum senyumnya. Ia ada rencana untuk Luhan ternyata. Luhan yang tidak mengerti hanya mengedikkan bahunya dan meneruskan belajarnya.

. . .

::[[AGENT LU]]::

. . .

.

27 Maret, 2000

Wu Fan baru saja selesai dari dinasnya, dia bersiap-siap untuk pulang dan mengecek lokernya. Dahinya mengernyit saat melihat suatu benda tak asing bertengger dalam lokernya. Wajah Wu Fan memucat saat ia memungut benda itu. Sebuah pisau belati yang pernah ia gunakan untuk membunuh 5 tahun lalu. Ia masih ingat persis benda menancap dijantung seorang wanita. Mama Luhan.

"Pisau ini…"

Keringat dingin membasahi pelipis, wajahnya sangat pucat. Siapa orang yang berani menaruhnya disini? Wu Fan saat itu sudah memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan anggota-anggota yang menjadi rekannya malam itu. Tidak, Wu Fan pun tak ikut bagian dalam pembasnian keluarga besar Tuan Xi.

Dan sejak malam itu, Wu Fan mulai merasa semuanya mulai berjalan tidak beres. Rasa takutnya membuncah. Entah kenapa dosa saat membunuh Mama Luhan masih terngiang diingatannya. Akhirnya Wu Fan terpaksa pulang dengan keadaan yang sangat buruk.

Sampai suatu hari, tepat dipertengahan bulan April. Ponsel Wu Fan berdering. Terpaksa ia harus mengangkatnya walau ia dalam kondisi menunggu Luhan pulang sekolah.

"Bagaimana kabarmu, Tuan Wu?"

Mata Wu Fan melotot sempurna ketika mendengar suara itu. Suara berat orang yang pernah membuatnya melakukan dosa besar. Dia…

"A-ada apa kau menghubungiku?" Jawab Wu Fan gugup. Wu Fan tak bisa berteriak kasar dankeras, orang disebrang sana berpangkat jauh lebih tinggi dibandingkan dengannya.

"Tidak perlu sok tak tau apa-apa. Aku tau kau menyimpannya dengan rapat Tuan Wu. Tapi, kebusukanmu itu tak pernah bisa untuk tak tercium oleh hidung tajamku ini. Hahaha!" Tawa orang itu begitu mengerikan. Wu Fan merinding mendengarnya.

"Lalu, apa maumu? Kau mau aku membunuh lagi? Aku tidak bisa melaksanakannya. Aku sudah memutuskan untuk berhenti dari kelompokmu sejak malam itu." Jawab Wu Fan sekenanya.

"Aku memang mau kau membunuh. Tapi aku berjanji, ini adalah yang terakhir kali aku memberimu perintah. Dan, aku bisa mengangkatmu menjadi Kolonel apabila kau mau menuruti perintahku…"

Wu Fan hanya diam, dan orang diseberang sana bersiap untuk menyambung kalimatnya lagi.

"Bunuh malaikat kecil itu…"

TUUT! TUUUT! TUTT!

Wu Fan memutuskan sambungan telepon itu dengan segera. Tidak mungkin kalau ia akan menuruti perintah orang itu untuk membuat dosa. Terlebih lagi, ia tak akan mampu untuk memusnahkan malaikat kecil yang tengah berjalan kearahnya itu. Lihatlah senyumnya, Wu Fan memilih untuk tidak hidup dibandingkan harus kehilangan sosok ini.

"Paman!"

"Yo! Xiao Lu!"

Luhan mendekati Wu Fan, sebelumnya ia tersenyum sendu mendengar Wu Fan memanggil dengan nama kecilnya dulu. Nama yang diberi ayahnya. 'Xiao Lu', artinya adalah Rusa Kecil.

"Ayo, hari ini adalah hari terakhir bukan? Sekarang kita refreshing dulu dan mengumpulkan tenaga sampai pengumuman kelulusanmu nanti. Paman takut kalau lemas kita tak bisa bersorak ceria saat melihat namamu diperingkat pertama!" Wu Fan membawa Luhan memasuki mobil…

"Tunggu, ini mobil siapa paman?"

"Aeeyy, aku meminjamnya dari temanku. Sebelumnya kau tidak pernah naik mobil bukan?" tanya Wu Fan meremehkan Luhan yang tengah memasangat belt-nya.

"Cih, aku ini anak seorang militer berpangkat Kolonel kau lupa? Mana mungkin aku tak pernah naik mobil. Ah, paman saja yang tak pernah mengajakku naik mobil 5 tahun ini…"

Wu Fan terkekeh geli mengingat itu. Walaupun seorang dirinya adalah seorang Kapten, Wu Fan tidak hidup bergelimangan harta. Kemiliteran Korea Utara sangatlah ketat dan mempunyai banyak aturan, jadi ia harus hidup sederhana.

"Paman, kemana kita akan pergi?" tanya Luhan. Wu Fan tersenyum lalu mulai menyalakan mesin mobil.

"Membeli sesuatu yang kau inginkan…"

. . .

::[[AGENT LU]]::

. . .

Ini kali pertama Luhan berjalan-jalan mengelilingi kota yang begitu luas. Sebelumnya ia hanya berjalan-jalan dibeberapa distrik kecil daerah tempatnya tinggal. Pyeong Yang, ibukota Korea Utara ternyata sangat indah jika dikelilingi dimalam hari.

Luhan sampai lupa dengan miniatur marmer rusa yang baru saja Wu Fan belikan untuknya. Wu Fan tertawa kecil melihat tingkah Luhan yang cukup menggemaskan. Semuanya berjalan lancar dan baik-baik saja sampai Wu Fan melihat gelagat aneh pengendara dibelakangnya.

BRUKK!

"Paman!" Luhan menoleh kebelakang, mobil yang dikendarainya disundul oleh mobil dibelakangnya. Mobil itu cukup besar dan harusnya bisa membuat mobil Wu Fan terdorong jauh.

"Tenang Luhan, kita pasti akan selamat!"

Wu Fan menaikkan kecepatan mobilnya. Ia membawa mobil menuju kearah jembatan, disana cukup renggang dan Wu Fan berpikir ia bisa kabur jika ngebut.

"Paman!" Luhan berteriak lagi saat melihat ternyata ada beberapa mobil besar lain yang sengaja menabrak mobil mereka.

'Tuhan, tolong selamatkan kami!'

Wu Fan menambah lagi kecepatannya dan hampir bernafas lega saat mobilnya bebas keluar dari himpitan ketiga mobil besar tadi.

"PAMAN!"

Naasnya, Wu Fan kehilangan kendali mobilnya. Dengan kecepatan yang begitu tinggi, mobil Wu Fan menyongsong miring dengan cepat lalu…

BRUAKK!

"PAMAANN!"

Mobil Wu Fan menabrak pagar jembatan, Wu Fan memejamkan matannya. Luhan melihat betapa tingginya ia meloncati sungai besar ini.

"Luhan, paman menyayangimu…"

"Aku juga menyayangimu, Paman Wu…"

Mobil Mercedez berwarna hitam pekat itu meloncat dari jembatan dan berakhir terlempar kearah sungai yang dalam. Suara benturan antara mobil dan air pun terdengar begitu berisik.

Dalam waktu 5 menit saja, area itu jadi pusat keramaian orang-orang. Dari kejauhan, tampak seseorang berwajah tampan dengan kacamata hitamnya tengah menghisap rokok dengan tenangnya. Dibelakangnya terdapat ketiga anak buah yang tadi mengendarai mobil-mobil besar.

"Baguslah, kurasa dengan seperti ini dia akan bahagia di neraka sana. Setidaknya mereka mati bersama walau tidak akan bertemu lagi nanti. Malaikat tempatnya di surga. Dan Wu Yi Fan, hanya neraka yang pantas untuk dia… huuufftt…" Kepulan asap rokok keluar dari mulutnya.

Dia mencium kalungnya yang berinisial 'S' kemudian tersenyum mengerikan. Pria berbadan tinggi ini membalikkan badannya lalu menatap jengah pada anak buahnya.

"Bersihkan semua ini, jangan sampai ada kotoran yang tersisa satu pun!" perintahnya bagaikan mantra yang tak bisa ditolak. Senyuman licik terulas jelas dibibir tipisnya.

Semua tak akan mungkin bisa tak musnah jika berhadapan dengannya. Layaknya Dewa Zeus yang mempunyai kekuasaan sangat besar sehingga siapa pun tunduk dan rela mati ditangannya.

. . .

::[[AGENT LU]]::

. . .

Luhan mungkin adalah sosok yang selalu mendapat penderitaan, tapi ia selalu dibangkitkan dari keterpurukan dan bencana yang dialaminya. Entah bagaimana caranya ia selamat dari kecelakaan itu. Tim penyelamat datang dan menolongnya saat Luhan nyaris tak mampu bernyawa lagi didalam air. Sayangnya Wu Fan tak ditemukan, Tim penyelamat bahkan menyatakan bahwa Wu Fan tewas tenggelam. Saat ini pihak perawat Luhan masih kebingungan apa yang harus mereka katakan jika Luhan sadar nanti.

Benar saja, Luhan tersadar dari pingsannya dua hari lalu. Saat terbangun ia mengerjapkan matanya begitu pelan, ia begitu lemah. Sepasang suster datang dan mengecek keadaan Luhan. Cukup baik, namun masih perlu perawatan intensif.

"Paman Wu Fan, dimana?" tanya Luhan, suaranya begitu parau. Lemah sekali.

Kedua suster itu saling berpandangan, setelah itu mereka menatap Luhan dengan tatapan penuh rasa bersalah.

"Hiks, Paman Wu…"

Luhan menangis keras malam itu. Ia meronta-ronta dan terus memanggil Wu Fan berulang kali. Kedua suster hanya bisa menenangkan Luhan. Dan Luhan tertidur lelap saat dirinya kehabisan tenaga untuk menangis lagi, kondisinya belum cukup sempurna.

Keesokan harinya, Luhan terbangun dengan suasana hati yang cukup buruk. Rasanya ia ingin mati dan menyusul semua orang yang disayanginya. Baba, Mama, Paman Wu Fan, mereka terlalu cepat pergi. Luhan terisak kecil pagi ini.

Dari luar pintu, seorang pria bertubuh tinggi menatap Luhan sembari tersenyum. Dua orang pengawal disebelahnya ikut mengamati Luhan.

"Seperti malaikat…"

Pria itu masuk kedalam ruangan Luhan dan menyapa Luhan. Awalnya Luhan tak menggubris sosok berbadan tinggi itu, pikirannya masih melayang-layang pada Wu Fan yang telah pergi. Sampai Pria itu menyebutkan topic yang membuat mata Luhan membelalak, bahkan Luhan hendak bangkit dari kondisi berbaringnya.

"Xi Luhan. Aku tau betul siapa yang melakukan semua perbuatan keji ini padamu. Mulai dari kebakaran dan kecelakaan itu. Aku tau betul siapa dalang yang melatarbelakangi semua deritamu itu…"

Luhan menatap tak percaya pada pria tinggi berseragam dihadapannya. Pria itu menatap Luhan dengan wajah yang sangat meyakinkan.

"Aku Choi Si Won, Brigadir Jenderal pasukan angkatan darat Korea Utara. Aku sangat tau siapa yang melakukan semua perbuatan keji itu. Kapten Wu adalah salah satu Kapten yang banyak berjasa dalam medan perang melawan Korea Selatan. Dia selalu memimpin digaris depan pertempuran. Dan andai kau tau, dia adalah salah satu sasaran yang diincar oleh pihak lawan. Xi Luhan, semua ini adalah perbuatan mereka…"

Luhan mengernyit mendengarkan penjelasan pria yang mengaku bernama Choi Siwon. Mungkin orang ini adalah salah satu rekan Wu Fan, atau mungkin atasan karena mengingat Siwon memiliki pangkat yang lebih tinggi.

"Jadi, ini perbuatan Korea Selatan. Bagaimana dengan orang tuaku. Untuk apa mereka dibunuh? Yang berperang hanya Korea Utara dan Selatan! Kenapa mereka harus dibunuh juga?!" teriak Luhan, airmatanya mengalir deras. Tiba-tiba saja emosinya meluap.

Choi Siwon menatap tajam pada Luhan. Dia melihat luka dari mata Luhan. Semuanya memang terlalu kejam. Cobaan ini terlalu berat untuk diterima sosok malaikat manis ini…

"Hhh, alasannya sama. Kolonel Xi dicurigai oleh pihak Korea Selatan akan melakukan persekutuan dengan Korea Utara. Pihak Korea Selatan takut pada kemampuan ayahmu itu. Jadi sebelum meraka dikalahkan, mereka memilih untuk memusnahkan kalian semua lebih dulu. Dan sayang sekali, pihak lawan tidak tau kalau masih ada kau…"

"Hiks, hiks, apa yang harus kulakukan. Kalaupun aku masih ada, apa gunanya aku? Aku hanya bisa menyusahkan orang lain… hiks"

Choi Siwon tersenyum lembut, ia mengelus kepala Luhan penuh sayang. Melihat malaikat semanis ini menangis, tentu saja tak ada hal lain yang bisa kau lakukan selain menenangkannya bukan…

"Tidak Luhan, kau masih bisa melakukan sesuatu. Dan ini, untuk kedua orangtuamu. Bahkan untuk Kapten Wu. Kau masih punya kesempatan untuk membalaskan dendammu…" "Kau pasti bisa…"

"Bagaimana caranya?"

"Ikutlah denganku, dengarkanlah perintahku baik-baik, maka kau akan selamat dan dendammu terbalaskan…"

Luhan mengangguk. Sebagai sosok yang masih muda belia, bukan hal yang tidak mungkin jika ia akan cepat memutuskan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya.

Luhan sudah memutuskan, ia berjanji tidak akan mati sebelum dendamnya terbalaskan pada dalang-dalang yang membuat hidupnya menderita.

Luhan berjanji akan hal itu…

. . .

::[[AGENT LU]]::

. . .

To be continued

HUNHAN HUNHAN HUNHAN HUNHAN

[A/N]

Halo para readers!

Gimana yang sudah nunggu fanfic ini?

Melihat respon di prolog/trailer udah cukup baik ^^

Sedikit penjelasan, fanfic ini genre-nya bercampur aduk.

Untuk di chapter 1 saya ceritakan permasalahan yang masih berkabut. :)

Fanfic ini HUNHAN, jadi nggak usah takut

Soal HunHan kapan ketemunya, cepet kok!

Saya akan berusaha terus menulis dan tidak akan mengurangi FF HUNHAN

Karena saya sendiri juga seorang readers, dan saya sudah memutuskan untuk tidak mengurangi jumlah readers maupun writers fanfic HUNHAN ^^

Oh ya, ini chapter satu sudah update…

Ditunggu review nya :)

Yo!

WASSALAM