Disclaimer : Code Lyoko milik Thomas Romain dan Tania Palumbo
Ini adalah fic paling pertama dari seluruh fic saya nantinya.
Peringatan : kemungkinan besar OOC, typo, gaje, karakter baru, dan banyak lainnya. Karena saya pemula, jadi mohon di maklumi.
Fic ini meceritakan kejadian setelah Code Lyoko : Evolution. Untuk pastinya, silahkan membaca fic di bawah ini.
Selamat Membaca!
Keesokan harinya, Pelajaran Olahraga yang digurui oleh Mr. Jim. Beliau sedang mengajari cara lompat tinggi dengan benar.
"Anak-anak. Hari ini kita akan belajar tentang lompat tinggi. Lompat tinggi adalah..." Mr. Jim menjelaskan panjang lebar.
"Aelita, apa kau akan mulai berbicara dengannya?" Jeremie berbisik kepada Aelita.
"Dengan siapa, Einstein?" rupanya Odd mendengar pembicaraan tersebut.
"Daniel." singkat Aelita.
"Daniel? Apa kau sudah gila? Apa kau tak takut Einstein cemburu?" Odd terkejut mendengarnya, tapi tetap menghasut Aelita dan Jeremie.
"Hey, Odd! Kuberitahukan kepadamu. Perasaannya terhadap Daniel bukan perasaan cinta. Jadi kau harus mengerti itu!" peringatan Jeremie membuat Mr. Jim mendengarkan percakapan tersebut.
"Belpois! Della Robbia! Jangan mengobrol ketika saya sedang menjelaskan. Paham?"
"Paham!" jawab Jeremie dan Odd serentak.
"Baiklah. Jadi,..."
"Di pabrik, saat jam kosong."
"Baik." jawab Aelita, Odd, dan Ulrich kompak. Ulrich? Daritadi dia mendengar mereka berbicara. Dia hanya diam saja.
"Jangan lupa beritahu Yumi dan William."
"Roger." Ulrich menaggapi.
Jam kosong Kadic. Para LW berada di dalam ruang SuperComputer. Yumi masih berada diperjalanan.
"Dimana Yumi? Daritadi belum datang." Jeremie bertanya kepada teman yang lain.
"Memang apa yang akan kita bahas?" William tampak kebingungan, jelas karena dia tak tahu apa yang sedang terjadi.
"Tunggu sebentar."
Lalu, tibalah Yumi dari dalam lift. "Maaf membuat kalian menunggu."
"Tak apa. Kau juga tak akan dihukum." Odd berusaha untuk melucu.
"Memang ada hal penting apa sehingga kau mengumpulkan kita semua di sini, Jeremie?" Yumi mulai angkat bicara.
"Begini. Kita akan menjalankan sebuah misi, yaitu "Mengungkap Rahasia Daniel". Misi ini bertujuan untuk mengungkap siapakah Daniel ini sebenarnya." Jeremie menjelaskan maksud dan tujuan yang ditanyakan oleh Yumi tadi.
"Bagaimana cara kerjanya?" Ulrich bertanya.
"Seperti ini. Aelita berbicara dengan Daniel. Odd, Ulrich, dan Yumi menguping di 3 tempat yang berbeda. Aelita juga akan merekam perbincangannya dengan Daniel. William dan aku akan menafsirkan perbincangan tersebut. Siapa tahu di dalam kata-katanya terdapat kata rahasia. Kau hebat dalam hal ini kan, William?"
"Akan kuusahakan."
"Ada yang keberatan?"
"Tidak." jawab semuanya serentak.
"Baguslah kalau begitu. Ayo kita mulai!"
Mereka kecuali Jeremie dan William keluar dari ruangan tersebut dan segera berlari menuju Kadic. Di sana, mereka melihat Daniel sedang membaca sebuah buku, di koridor sekolah. Mereka pun menempati posisi masing-masing untuk memulai misi. Ulrich mengambil posisi di loker sekolah sambil menutupi wajahnya dari Daniel dengan pintu loker. Yumi dan Odd bersembunyi dibalik dinding yang berada di dekat Daniel, tapi tak terlihat olehnya. Sedangkan Aelita mengambil posisi duduk di samping Daniel. Mereka saling mengangguk tanda siap. Aelita pun mulai angkat bicara.
"Hai, Daniel."
"Hai juga. Kau pasti yang berada di kafetaria tadi, kan? Yang bersama Odd dan temanmu yang lain. Aku belum mengenalmu. Bolehku tahu namamu?"
"Aelita Stones."
Daniel menutup buku bacaannya. "Stones? Apa kau batu?"
"HEI! AKU INI MANUSIA, TAU!" wajah Aelita pun memerah, kesal.
"Ya, ya. Maaf. Aku hanya bercanda saja."
"Kau ini." Aelita mencoba menenangkan diri.
"Ada apa kau menemuiku?" rupanya Daniel masih penasaran.
"Oh ya. Aku ingin bertanya beberapa pertanyaan tentang dirimu."
"Silahkan saja."
"Pertama, apa yang membuatmu pindah ke sekolah ini?"
"Bagaimana ya? Pamanku bilang sekolah ini adalah sekolah yang dekat dengan tempat kelahiranku. Otomatis, aku lahir di kota ini."
"Lalu, apa yang kau ingat di kota ini?"
"Aku kurang tahu. Karena pamanku berkata, aku pindah ke L.A saat berumur 2 tahun. Jadi, aku kurang mengetahui apapun tentang kota ini."
'Tidak, Aelita. Itu bukan dia.' Aelita nampak mulai frustasi. "Apa lagi yang dikatakan oleh pamanmu?"
"Yang kuingat, dia pernah berkata kepadaku, tepat saat aku hendak naik pesawat. Dia berkata untuk berhati-hati di sini. Karena banyak yang saat ini sedang mengincarku. Aku tak terlalu mengerti dengan itu, tapi aku tetap menurutinya."
"Ngomong-ngomong siapa yang mengincarmu?"
"Men In Black. "
'Men In Black? Tak mungkin. Balita itu, itu bukan dia. Tapi, bagaimana bisa?'
Melihat Aelita yang sedang frustasi, Daniel angkat bicara. "Ada apa, Aelita. Apa ada masalah? Apa kau baik-baik saja?"
Aelita mencoba menenangkan diri. "Tak apa. Aku baik-baik saja. Apa yang membuat kau diincar oleh mereka?"
"Aku tak tahu sama sekali. Tapi, aku tetap harus berusaha untuk berhati-hati di kota ini." Daniel melihat jam di tangan kirinya, lalu berdiri hendak meninggalkan Aelita. "Aku pergi dulu, ya? Aku punya sedikit tugas."
"B-Baik."
Berakhirlah percakapan panjang tersebut dengan sepeninggalan Daniel. Odd, Yumi, dan Ulrich pun mendatangi Aelita yang saat ini sedang berekspresi... terkejut? Dari matanya saja sudah jelas membuatnya terlihat mengerikan. Mereka pun segera membawanya kembali menuju pabrik. Tak lupa, perekam suara yang dipegang Aelita dimatikan oleh Yumi.
Di pabrik, Jeremie dan William sedang mendengarkan percakapan antara Aelita dengan Daniel lewat perekam suara tadi. Mereka saat ini berusaha menafsirkan percakapan tersebut agar dapat mengungkap rahasia Daniel yang sebenarnya. Tetapi hasilnya sedikit. Baik Jeremie maupun William hanya dapat menafsirkan satu hal.
"Sepertinya dia memiliki suatu hubungan denganmu, Aelita." William angkat bicara.
"Ya, tapi kita tidak dapat memastikan hal tersebut. Masih banyak kemungkinan yang belum dapat menjelaskan siapa Daniel yang sebenarnya." Jeremie menyimpulkan.
To Be Continued
Sabar untuk sementara, ya kawan?
