Title: Arti Kehidupan

Disc: Masashi Kishimoto

Rat: T

Warning: OOC,EYD berantakan, Kata-kata terlalu memaksakan, Typo mungkin? Bukan mungkin lagi.. Typo melebihi kapasitas!

Sumary: baca ajh dah!

Adapun kesalahan EYD ataupun typo. Bukan di karenakan saya seorang Newbie tapi semata-mata karna kebodohan saya dalam membuat fic..

...

Sebelumnya terimakasih kepada sempai Naminamifrid, .18,Luca Marvell,nONAme,naruhina lover, .96,The KidSNo OppAi,byakyuurii,Hikitani 8man,Kei Deiken,Ae Hatake,rizkyuzumaki603,Saladin no jutsu,yudhabooyz,ghetza koga,Uzumaki 21N, dan sempai tanpa nama? .hehehe.. Yg udh mo riviews fic ane..

Dan stu lagi bwt temen sekelas ane.. sesama penyuka anime? -_-! Indah D._PM..

...

Tubuhnya bersandar di balik pohon, matanya terfokus ke arah sungai, di samping kanan dan kirinya dua orang yang memiliki tubuh lebih besar darinya tengah melakukan hal sama dengan dirinya. Dia kini memakai pakaian anggota Root, dengan pakaian hitam ketat yang hanya mempunyai satu lengan panjang di tangan kiri. Di balut pakaian lengan pendek yang hanya menutupi tubuhnya sampai atas pusar. Tali berwarna merah yang mengikat dua Tanto dan sarungnya, menyilang secara terbalik di belakang pinggan. Setetes keringat jatuh dari sikut tangan kananya yang tidak tertutupi pakaian. Matanya menatap tajam ke arah dua orang yang tengah berdiri di dekat sungai, satu orang dengan perban di matanya, serta tangan kananya memegang tongkat berdiri di sisi sungai. Sedangkan di sisi lain, pria dengan wajah pucat dan rambut panjang tengah bersandar di salah satu pohon sebrang sungai. Bersandar dengan satu kaki, sedangkan kaki satunya dia tekuk bersandari di permukaan pohon itu sendiri. Bola matanya berwarna kuning emas dengan pupil pertikal seperti ular. Kerah jubah dengan beberapa aksen awan merahnya hampir menutupi sebagian wajahnya..

Ini adalah misi pertamanya bersama tuanya, setelah sebelumnya dia hanya melaksanakan misi-misi berbahaya sendirian. Dan kali ini misinya adalah, mengawal tuanya yang sedang melakukan pertemuan rahasia dengan salah satu dari legenda Sannin Konoha...

...

Orochimaru sesekali melirik ke arah pria tua yang sedang menatap tajam ke arahnya. Memutuskan keluar dari konoha, dia akhirnya bertemu dengan pria tua itu lagi.. Pria tua yang licik.. Dia bahkan tidak bertanggung jawab, atas terbongkarnya experimen yang sebelumnya mereka lakukan. Dia malah tutup mulut, seakan mereka tidak saling mengenal satu sama lain.. Cih.. Pria tua yang licik..

"Ada apa Danzo? Bukankah sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi.?" Pria yang tengah menyandarkan tubuhnya di salah satu pohon mulai angkat bicara, nadanya terkesan santai, walaupun pria yang tengah dia ajak bicara memberikan tatapan membunuh kepadanya..

"Jangan katakan kau ingin melanjutkan experimen kita yang sempat terganggu.?" Dia angkat bicara lagi, tanpa memberi kesempatan berbicara pada lawan bicaranya. Kali ini nada yang dia gunakan berbeda dengan nada bicara yang dia gunakan sebelumnya, nada yang dia gunakan kali ini terkesan lebih merendahkan...

"Jangan katakan hal itu kepadaku! Kau hanyalah seorang yang gagal dan tidak punya tujuan hidup... Orochimaru" Danzo berbicara dengan nada yang tajam. Matanya menatap Orochimaru seakan ingin mencabik-cabik tubuh berkulit pucat tersebut...

...

Ya, Orochimaru.. Misi pertamanya adalah mengkawal tuanya dalam pertemuan rahasia ini. Dan Orochimaru satu dari tiga Sannin konoha, yang sedang menjadi tujuan tuanya..

...

Seringaian terpati jelas di muka pria bermata ular tersebut, mulutnya terkekeh dengan pelan walaupun masih bisa di dengar oleh Danzo.

"Fufufufu.. Lalu apa yang kau inginkan dari orang gagal ini.?" Seakan tidak terganggu sama sekali dengan nada tajam yang di gunakan Danzo, Pria itu menjawab perkatanya dengan santai..

"Berikan data-data penelitian yang kau lakukan di Konoha.!" Kali ini nada yang di gunakan Danzo lebih terdengar seperti perintah...

"Fufufufu.. Kau cukup licik untuk seukuran orang tua Danzo." Menurunkan satu kakinya, Orochimaru berjalan ke arah sungai dan berhenti tepat di sisi sungai, melihat pantulan dirinya di air sungai.. Menundukan badanya, salah satu lututnya bertumpu di tanah. Satu tanganya memainkan air yang berada di bawahnya, membuat bayangan wajahnya bergelombang..

"Tapi.. Bukan berarti kau memerintah, aku akan menuruti semua yang kau mau." Dengan kepala menunduk, Orochimaru berkata dengan mata tetap fokus ke air sungai yang tengah dia mainkan. Meskipun begitu Danzo tetap dapat melihat seringai yang di keluarkanya walaupun samar..

"Bagaimana jika kau berikan jhinchuriki itu kepadaku.. Aku masih belum selesai berexperimen dengan tubuhnya.. Dan kau akan men-"

"Kau tidak akan mendapatkan apapun dariku Orochimaru.. Kau hanya akan memberikan datanya kepadaku, dan semuanya selesai.." Menyela ucapan Orochimaru Danzo berkata dengan nada datar, tidak ada nada tajam seperti awal dia bicara.

Orochimaru sejenak menghentikan gerakan tanganya di dalam air, namun kemudian tanganya kembali bergerak memainkan air sungai tersebut.

"Seperti yang tadi aku katakan... Kau cukup licik untuk seukuran orang tua Danzo." Pria itu mengankat tanganya dari air sungai.. Berdiri dari posisinya dan mulutnya menyeringai ke arah Danzo..

"Namun, sebelumnya juga aku sudah bilang.. Bukan berarti kau memerintah aku akan menuruti semua kemauanmu.!" Melakukan gerakan segel tangan dengan cepat, Orochimaru mengakhiri segelnya..

"Katon: Dai Endan!" Pria berkulit pucat itu membakan api dari mulutnya, api dengan bersekala besar ke arah sebrang sungai, Danzo masih diam di posisinya, tangan kirinya dia angkat dan menggerakan dua jarinya seperti memberikan kode..

"Shut" "Tap" Naruto mendarat dengan Sunshin di depan Danzo, dan langsung melakukan serantaian Segel tangan.

"Doton: Doryūheki" Sesaat sebelum tembakan api mengenai Danzo, dinding tanah muncul di depanya, membuat jutsu Orochimaru hanya mengenai dinding tersebut..

Pandangan Orochimaru beralih ke anak yang sedang mengenakan topeng Anbu polos bertuliskan Nee di sisi topengnya.

"Tap" "Tap" "Tap" "Tap"...

Anak itu berlari cepat di atas sungai ke arahnya, rambut merahnya basah akibat cipratan air yang di hasilkan oleh kecepatan larinya sendiri..

Matanya menyipit melihat rambut merah khas Uzumaki, kemudian di akhiri dengan seringaian di wajahnya.. Dia tahu siapa yang datang menyerangnya kali ini.. Mengembungkan pipinya Orochimaru memuntahkan pedang dari mulutnya, yang langsung melesat ke arah anak tersebut..

"Clekk" "Trank!" Menghentikan larinya.. Anak itu mengeluarkan Tantonya, dengan cepat dia menangkis pedang yang hampir membelah kepalanya hingga terlempar ke udara..

"Shutt" "Trakk!" Belum sempat pedang tersebut jatuh ke tanah. Satu orang dengan rambut berwarna Orangen di ikat ke belakang, muncul di udara dengan Sunshinya.. Kakinya kananya bergerak cepat menendang ujung gagang pedang yang masih melayang di udara.. Oh.. Satu lagi datang, namun kali ini dia tidak tahu siapa orang yang telah menendang pedangnya.. Orochimaru masih diam, meskipun pedangnya sudah di depan mata.. Gestur tubuhnya tidak memperlihatkan bahwa dia akan menghindari pedang yang melaju cepat ke arahnya...

"Wusshh"" "Trank!" "Trakk!" Sesaat sebelum mengenai Orochimaru.. Muncul Pria berambut silver dengan Sunshinya tepat di hadapan Orochimaru.. Dia menahan serangan yang sempat di lesatkan pria tadi dengan Kunainya. Menatap Kunai yang dia gunakan untuk menangkis pedang itu sendiri.. Patah.. Kunainya patah dan hanya menyisakan gagangnya saja yang masih dia pegang.

Orochimaru menyeringai melihat Kabuto datang menangkis serang pria tadi. Pria bermata ular tersebut berjalan mengambil pedang yang sempat dia muntahkan...

Membenarkan letak kacamatanya dengan jari tengah, Kabuto menatap ke arah pria yang sebelumnya sempat menyerang tuanya.. Matanya menatap tubuh lebih kecil daripada pria yang hendak menyerangnya tuanya tadi.. Rambut panjang merah kecoklatan sebatas pundak. Khas Uzumaki.. Dan topeng Anbu polos yang gunakan anak itu, bertuliskan Nee di sisi kanan atasnya..

"Nampaknya, pria Uzumaki yang satu ini, telah tumbuh besar Orochimaru-sama." Masih dengan posisi jari tengah menekan kacamata, Kabuto berbicara dengan seringaianya...

"Fufufufu.. Kau benar Kabuto." Kabuto menolehkan kepalanya ke belakang tanpa membalik tubuhnya.. Matanya melirik tuanya yang sedang menelan pedangnya kembali..

"Klak" "klak" Orochimaru menggerak-gerakan rahangnya ke kanan kiri.. Rahangnya normal kembali setelah sebelumnya melebar akibat menelan pedangnya sendiri...

"Kau seharusnya tidak tunduk dengan pria tua itu Naruto-kun." Orochimaru berbicara dengan seringai yang tidak pernah lepas dari bibirnya..

"..."

Sedangkan anak yang di bicarakan hanya diam di posisinya. Tatapan mata yang tetap datar, tidak pernah lepas dari dua tubuh yang masih tetap berdiri di posisinya. Matanya selalu mengobservasi setiap gerakan yang mereka buat, gestur tubuhnya yang santai, namun siap menerjang siapa saja yang datang ke arahnya...

Menengok ke belakang, tatapanya bertemu dengan tatapan mata tuanya yang masih belum bergerak di tempatnya. Di depanya sendiri terdapat bongkahan-bongkahan tanah yang sebagian mengepul mengeluarkan asap..

Seakan mengerti tatapan anak didiknya Danzo menganggukan kepalanya.. Melihat anggukan dari tuanya, Naruto langsung berlari kencang ke arah Kabuto berdiri..

Melihat tubuh anak itu berlari kencang ke arahnya, Kabuto masih tetap diam dengan jari menekan kacamatanya.. Seringai masih terpati jelas di wajahnya..

Uzumaki Naruto tentunya dia pernah mendengar nama itu di sebutkan tuanya. Dia juga tahu betul kebenaran tentang latar belakang seorang Uzumaki Naruto. Ayahnya sendiri adalah seorang Yondaime Hokage dan ibunya seorang Uzumaki Kushina.. Tubuh anak itu sendiri sempat di jadikan bahan penelitian oleh tuanya saat masih bekerja sama dengan konoha, bahkan tubuhnya sempat beberapa kali mengalami kegagalan dalam experimen yang di lakukan tuanya. Berterimakasih lah kepada monster yang berada di dalam tubuhnya. Karna monster kyubi itu yang membuat dia masih bertahan hidup sampai sekarang...

Jangan katakan bagaimana dia mendapatkan informasi selengkap itu, dia sendiri adalah anak yang di ambil oleh Danzo dari panti Konoha, dan di besarkan menjadi mata-mata yang hebat..

"Kabuto, sebaiknya kau lebih berhati-hati berhadapan dengan anak Uzumaki tersebut!" Mengabaikan ucapan tuanya, Kabuto menyeringai sesaat.. Matanya menatap anak yang masih berlari jauh dari tempatnya berdiri..

"Kau tidak usah khawatir Orochimaru-sama.. Bahkan jika ana-" Sebelum ucapanya terselesaikan, mata kabuto membulat melihat anak dengan rambut merah itu tiba-tiba berada di depanya, dengan tangan yang terkepal sedikit di pundurkan ke belakang. 'Ba..bagaimana bisa.' Batinya..

"Bughh.!"

"Ggahh.!"

Pira dengan rambut silver itu membuka lebar mulutnya, matanya memutih tanpa pupil merasakan kekuatan pukulan pria Uzumaki tersebut.. 'Dia ce..cepat se..kali.' Batinya..

"Wusshh" "Brakk!" Kabuto terlempar beberapa meter melewati Orochimaru yang masih membulatkan matanya, hingga tubuhnya berakhir menabrak pohon..

Belum sempat Orochimaru tersadar dari keterkejutanya, dengan cepat dia meloncat ke samping sebelum Tanto anak tersebut membelah tubuhnya..

"Duarrrr!" Matanya membulat melihat tempat di mana dia berdiri tadi terdapat lubang melintang cukup dalam..

"Tap.." Baru saja dia mendarat, tubuhnya sudah tidak bisa di gerakan..

"Brukk!" Orochimaru membulatkan matanya melihat orang yang menendang pedangnya tadi terjatuh tiba-tiba.. 'Ini... Shintenshin no Jutsu.' Batinya..

"Tap.."

"Kikaichu no Jutsu." Tiba-tiba di depannya datang lagi pria berambut hitam pendek, mengenakan topeng yang sama dengan dua anggota Root lainya, menggumamkan nama jutsunya..

"Paf." Orochimaru hanya bisa menatap satu tangan pria tersebut menyentuh permukaan tangan yang tidak tertutupi jubah Akatsukinya.. Tangan kanan pria yang menyentuhnya itu berwarna ungu kehitaman tanpa sarung tangan, sedangkan tangan satunya masih tertutupi sarung tangan hitam..

Warna ungu yang tadinya hanya berada di tangan pria itu, menjalar hampir ke semua bagian tubuh Orochimaru. Pria bermata ular tersebut hanya bisa menatap bagian tubuhnya yang hampir tertupi semua dengan warna ungu tanpa bisa bergerak..

"Arrrgghhh.!" Sesaat sebelumnya dia hanya diam.. Kini pria itu berteriak merasakan sakit luar biasa di semua bagian tubuhnya..

"Brukk!" Orochimaru jatuh berlutut merasakan sakit luar biasa di sekujur tubuhnya..

Pria yang menggunakan Shintenshin no Jutsu sendiri sudah bangun dari posisi terjatuhnya, hanya menatap datar ke arah Orochimaru yang tengah berlutut mengerang kesakitan..

"Tap..Tap..Tap.." Danzo yang sebelumnya hanya diam melihat pertarungan Orochimaru dan anak didiknya, kini berjalan mendekat ke arah Orochimaru.. Satu matanya menatap tajam ke arah Orochimaru yang masih saja berlutut mengerang kesakitan..

"Dia bernama Torune.. Asal kau tahu saja Orochimaru, Torune adalah anggota klan Aburame, dan seperti anggota lainnya, dia terampil dalam menggunakan serangga dalam pertempuran... Dan kau tahu.. Teknik serangganya sangatlah langka, bahkan di dalam Klan Aburame sendiri... Dia dapat mengendalikan banyak serangga beracun berukuran nano yang dapat menutupi seluruh tubuhnya, sehingga dia dapat menginfeksi siapa saja hanya dengan sentuhan... Karena inilah dia memakai sarung tangan dan membuat hampir seluruh kulitnya tertutup saat tidak dalam pertempuran... Serangga

Itu akan menyebar ke kulit lawan yang menyebabkan rasa sakit luar biasa yang dan berpotensi dapat mengakibatkan kematian... Tapi.. Akan lebih baik membunuhmu lebih cepat daripada menunggu efek racun serangga tersebut." Danzo mengalihkan pandanganya ke anak berambut merah yang masih memegang Tantonya..

"Uzumaki.. Bunuh dia dengan cepat, dan bawa mayatnya jika sudah selesai. Setelah itu kembali ke desa!" Berbicara dengan nada tajamnya, Danzo berbalik dan berjalan menjauh dari tubuh Orochimaru yang masih mengerang kesakitan..

"Hai.. Danzo-sama.." Berjalan dengan tatapan datar ke arah Orochimaru, anak berambut merah itu memegang Tantonya dengan erat..

"Jlebb!." Tanto yang dia pegang di tusukan perlahan dari punggung Orochimaru hingga menembus tepat di dada sebelah kirinya..

"Kka...kau beraninya." Rintih pria bermata ular itu, saat merasakan tusukan tanto tersebut. Hingga akhirnya jatuh dari posisi berlututnya dan berakhir dengan darah mengalir. Darahnya mengalir hingga membasahi kakinya yang tidak jauh dari mayat Orochimaru.

Menatap datar ke darah di bawah kakinya, dia cukup mengerti apa yang sebelumnya Orocimaru dan tuanya bicarakan tentang dirinya...

Yah.. Experimen, dia tahu dirinya telah di jadikan bahan experimen oleh tuanya dan Orochimaru. Namun experimen terhenti ketika Orochimaru keluar dari desa dan menjadi seorang Missing In..

Tanganya yang hendak memegang kerah baju Orochimaru terhenti, sebelum akhirnya dia melompat menjauh dari tubuh Orochimaru..

"Stab" Kunai dengan tali yang berujung bola kertas menancap di atas tanah tempat dia sebelumnya berdiri..

Danzo yang hendak meninggalkan tempat tersebut berbalik mendengar suara lompatan dari anak asuhanya. Matanya menatap tajam ke arah kunai yang tertancap di dekat tubuh Orochimaru..

"Bofff" Asap tebal di area sekitarnya menutupi pandanganya..

"Tap" "Tap" "Tap" Tiga anggota Root bawahanya membuat formasi segitiga melindungi tubuh Danzo, Dan bagaikan kecepatan piston Naruto dengan sigap langsung melakukan serangkaian segel tangan..

"Fūton : Daitoppa" Selesai dengan segelnya, dia langsung melesatkan jutsunya ke arah asap tebal tersebut, hingga asap tebal yang menutupi tubuh Orochimaru menghilang..

"..."

Tidak ada yang berubah, dan tubuh Orochimaru masih di sana. Namun detik berikutnya dia tersadar akan sesuatu.. Dan mengarahkan pandanganya di mana sebelumnya kabuto berada, Hilang... Kabuto telah hilang entah kemana, dia lengah...

Seharusnya dia lebih berhati-hati dengan Kabuto. Mengarahkan pandanganya ke arah tuanya..

"Tidak usah di kejar..! Biarkan dia pergi, lain kali kita akan bunuh dia dengan cepat." Seolah mengerti tatapan dari seorang Uzumaki tersebut, Danzo menjawab dengan nada datar..

"Sekarang bawa mayat Orochimaru..! Dan segera kembali ke desa..!" Danzo langsung menghilang dengan Shunshinya..

"Hai... Danzo-sama." Ketiganya berlutut seperti biasa yang mereka lakukan.

Berjalan ke arah tubuh Orochimaru, Torune kembali menyerap serangga beracun yang menempel di tubuh Orochimaru, sedangkan Fu sendiri sedang menyiapkan gulungan penyimpanan, setelah semua serangga beracun itu terhisap. Fu kemudian menggerakan tanganya dan meletakan tubuh Orochimaru di atas gulungan tersebut..

"Boff." Setelah tersimpanya tubuh Orochimaru di dalam gulungan, Fu kembali menutup gulungan tersebut dan menyimpanya..

"Ada apa Naruto.?" Torune melihat anak berambut merah itu dari tadi hanya diam menatap tubuh Orochimaru, mulai bertanya..

Mengalihkan pandanganya ke salah satu Senpainya itu. Dirinya menggeleng lemah.. Memang sebelumnya dirinya hanya memandang tubuh Orochimaru. Dia bahkan tidak membantu sedikitpun memindahkan tubuh Orochimaru ke dalam gulungan penyimpanan.

"Tidak apa-apa Senpai.. Sebaiknya kita kembali ke desa.!" Naruto mulai berbicara, Torune dan Fu sendiri hanya saling menatap tanpa berbicara..

"Baiklah.. Kau benar sebaiknya kita kembali ke desa.!"Kali ini pria berambut Orange yang angkat bicara..

Kemudian ketiganya menghilang dengan Sunshin masing-masing, meninggalkan hutan yang rusak akibat pertarungan mereka dengan Orochimaru..

...

Pandangan Hiruzen tidak pernah lepas dari seorang anak yang sedang tersenyum di depanya. Sesekali matanya melirik ke arah pria yang tengah berdiri tepat di sebelah anak tersebut.. Matanya kembali menatap ke arah anak tersebut. Di lihat dari segi manapun, dia tahu anak itu bukan anak biasa...

Kulit pucat.. Gestur tubuh yang sigap, seakan menunggu serangan lawan... Dan oh.. Satu lagi, senyuman yang akan membuat siapapun yang melihatnya berpikiran negatif tentangnya...

"Apa maksudnya ini Danzo.? Tidak.. Maksudku mahluk apa yang kau bawa.?" Matanya menatap Danzo meminta penjelasan..

"Ah.. Apa maksudmu Hokage-sama.? Bukankah sudah jelas bahwa aku ini manusia..? Apa otakmu terlalu dangkal karna terlalu lama membaca Novel Hentai.?" Anak yang sebelumnya hanya tersenyum itu, mulai berbicara walau dengan nada yang datar..

Chikushō..! Dengan ini, spekulasi negatif tentang anak ini terbukti sudah.. Dia tidak salah dengar.. Oke, beberapa waktu lalu dia memang sempat bilang pada kakashi, bahwa mata dan telinganya sudah tidak berfungsi dengan benar.. Tapi kali ini dia sangat yakin dengan pendengaranya, di mana anak ini dengan gamblangnya berbicara tidak sopan terhadap dirinya.. Yah, meskipun mungkin beberapa bagian yang di katakan anak itu memang benar.. Tapi hey.. Bagaimana mungkin.. Dia bahkan berbicara seperti itu masih dengan senyum anehnya, dan oh.. Lihat tampang yang tidak memiliki rasa bersalah sedikitpun..

"Jaga ucapanmu Sai.!" Danzo mulai berbicara setelah sebelumnya hanya berdiam diri..

"Hai.. Danzo-sama."

"Hiruzen.. Kedatanganku kemari ada yang ingin aku bicarakan."

Sejenak Hiruzen kembali menatap anak di samping Danzo yang masih saja tersenyum..

"Apa ada kaitanya dengan anak ini.?" Balas Hiruzen, sedangkan Danzo sendiri sejenak melirik anak yang berada di sampingnya, sebelum kembali menatap Hiruzen..

"Aku akan memasukanya ke Akademi, aku harap kau tidak melarangnya." Sejenak Hiruzen menatap Danzo tajam.. Namun sedetik kemudian pria tua itu tersenyum ke arahnya..

"Kenapa tidak.. Bagaimanapun dia harus bersosialisai dengan anak sebayanya." Hiruzen menatap anak tersebut dengan senyumnya..

"Nah.. Sai-kun maafkan perkataanku tadi, besok kau boleh langsung berangkat ke Akademi."

"Arigatou.. Hokage-sama" Sai hanya membungkukan badan sesaat sebagai ucapan terimakasih.. Hiruzen hanya tersenyum melihat sikap anak di hadapanya itu..

"Nah.. Apa yang kau mau bicarakan lagi Danzo." Tatapanya kembali teralihkan ke arah Danzo menatapnya tajam..

"Tidak ada.. Kalau begitu aku pergi." Berbicara dengan nada datar, Danzo berbalik, berjalan ke arah pintu dengan Sai di sampingnya..

...

"Clek." Setelah pintu kembali di tutup, hanya keheningan yang berada di ruangan tersebut.. Dia harus lebih berhati-hati kali ini, dia tidaklah bodoh. Danzo sudah sering bergerak di belakangnya.. Dan sekarang, dia mengirim salah satu anak didiknya ke Akademi.. Dia tahu anak itu bukan anak biasa.. Kemampuan dan pengetahuanya sendiri mungkin melebihi anak seusianya. Apalagi melihat gestur tubuh anak itu saat di hadapanya.. Dia sudah mengenal Danzo, entah apa yang dia ajarkan kepada anak yang bernama Sai itu..

Yang pasti, kemampuanya harus di waspadai.. Dia tidak boleh lengah hanya karena Sai masih anak-anak.. Walaupun masih bertubuh kecil, kemampuan anak didik Danzo tidaklah bisa di remehkan. Bukti nyata adalah Tenzo, kala itu dengan usia yang seumuran Sai. Tenzo sudah dapat mengendalikan Mokutonya dengan sangat lancar..

Tatapan matanya teralihkan ke luar jendela, di mana wajah dirinya dan para hokage terdahulu terpahat di bukit Konoha.. 'Sensei sepertinya kau berhasil mendapatkan legasi, bahkan mungkin pemikiranya lebih gila darimu.' Batinya..

"Neko.!"

"Shut" "Tap.!" Dengan Sunshinya, salah satu Anbu dengan topeng kucing bergaris merah di pipinya muncul di hadapan Hiruzen..

"Awasi terus gerak-gerik anak yang bernama Sai.! Laporkan kepadaku jika dia melakukan hal yang mencurigakan.." Manatanya menatap Anbu bercode name Neko. Sedangkan Anbu di hadapanya itu hanya diam berlutut..

"Sekarang kau boleh pergi.!"

"Hai.. Hokage-sama.." Mata kakek tua itu menatap kepergian Anbunya.. Pikiranya kini di penuhi segala kemungkinan. Tatapan matanya kini menerawang ke luar jendela. Namun, pandanganya menyiratkan bahwa dirinya sedang tidak fokus menatap ke luar jendela..

...

Duduk bersandar di atas pohon, rumbut merahnya bergerak di terpa angin. Sesekali matanya bergerak ke kana kiri. Di mana matanya menatap anak seusianya sedang tertawa sambil berlari bersama teman-temanya... Dia tidak tahu ini.. Namun, saat melihat mereka tertawa senang. Ada sesuatu terasa sesak di dadanya.. Sesuatu yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.. Dia tidak tahu apa yang tengah di rasakannya pada saat ini.. Ini perasaan baru baginya, sebelumnya memang dia jarang mempunyai waktu luang.. Dan tidak pernah berkeliaran di Desa. Namun, beberapa waktu lalu Sai bercerita, tentang bagaimana kehidupanya sekarang.. Di mana dia lebih sering berbicara dengan anak seusianya..

Matanya melirik, di mana Sai baru saja keluar dari bangunan Akademi.. Belum sempat Sai bejalan, dia melihat Sai sudah di tarik oleh seorang anak bertato merah segitiga di pipinya..

Alis mata di balik topengnya mengkerut, melihat sai tersenyum saat berbicara dengan anak beralis tebal bermata bundar.. Ya tidak tahu itu.. Sai tersenyum bukan dengan senyum yang biasa dia gunakan, tapi senyum yang baru dia lihat dari Sai..

Anak berambut merah itu memegang dadanya sesaat.. Rasa sesak di hatinya muncul lagi, dia tidak tahu ini.. Namun yang pasti rasa ini lebih terasa seperti.. Entah seperti tidak rela melihat bukan dirinya yang berada di posisi Sai..

Berdiri dari posisi duduknya.. Matanya melirik ke arah sudut bangunan tidak jauh dari tempat Sai dengan anak lainya bermain.. Sebenarnya dia sudah merasakan tekanan cakra itu dari awal.. Namun dia tetap membiarkanya..

Sejenak kembali mengalihkan tatapan matanya ke arah Sai, sebelum akhirnya dia menghilang dengan Shunshinya...

Tbc...

...

Hahhh.. Akhirnya selesai. Sebelumnya ane minta maaf atas keterlamatanya chap 2 nie.. Sebenarnya sih kemaren harusnya udh selesai, tpi berhubung kemaren ada temen" sekelas ane dtang jenguk ane yg lgi skit ke rumah, yah gni dh..

Maaf jga klo kta" yang ane gunakan dlm fic ine terkesan membosankan..

Yah.. Bagaimanapun kemampuan membuat fic itu bkanlah hal yg bsa di masteri dengan semalam kn?

Oke smpai di sini dlu.. Dan kya'y ane bkal cba bkin fic bru lgi..

Dan yah klo sempai" berkenan silahkan reviews fic ane.. Tpi jka sempai" bca ajh gpp ko.. Ane udh ckup senang, jika sempai udh smpet mau baca fic gaje nih..

Oke klo mo bertanya silahkan kirim ajh di ktak reviews.. Sekian n bye!