Our Little World Chapter 2
Pairing: JinV, Jin x V, Seokjin x Taehyung
Rated: T
Enjoy the story~ Happy Reading!
.
.
.
"Kalian akan membawaku kemana?" Taehyung yang sudah hilang kesabaran akhirnya bertanya. Brengsek juga Hoya dan teman-temannya itu, hanya memaksanya ke suatu tempat tanpa bilang arah tujuan.
"Sudah, nikmati saja malam ini bersama kami. Anggap saja jalan-jalan.." Hoya melipat tangan yang diletakkan di belakang kepala. Omongannya yang santai benar-benar membuat Taehyung tidak tahan untuk memukulnya. Tapi demi reputasi, Taehyung akan mencoba lebih memperlama kesabarannya dan tidak bertindak gegabah. Dia lihat saja dulu apa yang akan Hoya dan teman-temannya lakukan, yang penting Taehyung sudah mempersiapkan diri sedari tadi.
Mereka sampai di sebuah taman yang sepi, sudah pasti karena sekarang hampir tengah malam. Taman, dan malam hari. Mengingatkan Taehyung saat dia dan Jungkook pertama kali ditemukan Seokjin dalam keadaan yang menyedihkan...
Ini bukan saatnya nostalgia, Taehyung!
Tapi kalau dipikir-pikir, seperti Hoya mengetahui masa lalu Taehyung satu tahun yang lalu saja... Kenapa dia membawa Taehyung ke taman yang sepi pada malam hari? Apakah Hoya sengaja mengantarkan Taehyung pada kenangan dimana kehidupannya bersama Seokjin dimulai? Jantung Taehyung berdetak tak karuan, cemas melandanya degan hebat saat ini. Apa dia tahu hubunganku dengan saengnim? Darimana dia tahu!? Bisa mati aku! batin Taehyung bertambah panik dan takut. Entah kenapa dia menjadi sangat sensitif dan pemikirannya sampai kesitu.
"Oooh... rupanya kau Kim Taehyung itu. Karena kudengar kau menghabisi Howon, kupikir kau lebih garang. Tapi ternyata wajahmu justru manis juga." Tiba-tiba satu pria asing muncul dari balik pohon. Namun lama-kelamaan pria asing lain dengan jumlah tidak sedikit menyusul menampakkan diri. Mereka ada dimana-mana sehingga Taehyung merasa seperti dikepung. Pertanda buruk.
"Sebenarnya mau kalian apa, hah?" Taehyung mati-matian menyembunyikan kepanikannya dengan tetap bersikap datar. Tapi masih ada walaupun sangat sedikit saja, kelegaan di hati Taehyung. Sebab ternyata ini semua tidak ada hubungannya dengan statusnya bersama Seokjin.
Pria asing dengan perawakan sangat bapak-bapak yang tadi pertama kali muncul dan langsung berbicara kepada Taehyung, berjalan mendekat kearah Taehyung. Perasaan Taehyung sendiri langsung tidak enak karena diberi tatapan mesum berpadu geram oleh orang asing tersebut.
"Karena kau sudah berkelakuan buruk terhadap dongsaeng-ku, kami semua akan menghabisimu..." Si pria asing menyeringai dan berani-beraninya menyentuh dagu Taehyung dengan jari-jari panjangnya. Taehyung seketika kesal, sontak menepis tangan hina pada wajahnya yang bahkan sangat jarang disentuh oleh Seokjin...
Eh? Masih saja ada Seokjin di pikiran Taehyung walau dalam keadaan seperti ini? Taehyung merasa dirinya sendiri sudah gila.
"Apa? Jadi kau ingin balas dendam cuma karena Hoya kalah dariku!? Pengecut sekali! Jadi ini cara kalian? Hah, sulit dipercaya!" Taehyung tersenyum sinis dan berbicara dengan suara keras agar dapat didengar semua orang yang ada disini.
"Orang-orang tidak berguna seperti kalian memang sama saja! Penakut! Menyerang orang kecil seperti aku yang sendirian begini selalu secara keroyokan. Kalian sendiri sadar tidak sih, perbuatan kalian sangatlah konyol! Lebih baik hentikan semua ini dan jangan ganggu aku lagi atau kalian menyesal karena menanggung malu sebab kalah dariku lagI!" omel Taehyung panjang lebar ditambah dia memberi ancaman. Nyalinya cukup besar melawan orang-orang dengan jumlah lumayan banyak serta berperawakan preman-preman tangguh itu, tanpa mengetahui resiko setelahnya. Tapi Taehyung tidak peduli, dia mengatakan apapun yang ada dalam isi hatinya.
"Ucapan lancangmu kini benar-benar membuatku kesal. Sudah tahu diri sendiri kecil malah menantang. Bosan hidup, hah!?" Pria paruh baya di depan Taehyung memiringkan kepalanya dan meninggikan nada bicara. Taehyung sempat tergertak, tapi ia berusaha sekuat tenaga agar tetap tenang.
"Kami tidak peduli apa katamu, dan yang penting kau habis di tangan kami." Si pria asing menyeringai seiring preman-preman lain yang sepertinya adalah anak buahnya, mendekat kearah Taehyung. Taehyung sendiri mendapat prasangka buruk mereka berniat mengepung dirinya dan menyerang bersamaan sehingga mengambil posisi. Tapi baru saja pria asing berwajah bapak-bapak melayangkan tangannya guna hendak melukai wajah Taehyung, sebuah kertas yang sengaja dibentuk seperti shuriken (dan itu lumayan tajam, mungkin di dalamnya terdapat silet atau sejenisnya) menggores lengan pria tersebut
"Arrrrghh!" Si pria asing meraung kesakitan sehingga pukulan yang hendak dia arahkan ke Taehyung terbatalkan. Dia memegangi tangannya yang berdarah akibat goresan shuriken kertas tadi.
"Jangan ganggu hyung-ku!" Tiba-tiba suara teriakan anak kecil yang lumayan bergetar karena tangisan terdengar dari belakang. Dan itu sangat mengagetkan Taehyung sampai dia refleks membalikkan tubuh untuk melihat sumber suara. Ia merasa terlalu kenal dengan suara tersebut.
"Jungkook!?" Mata Taehyung membelalak tak percaya, seketika jantungnya serasa copot saat melihat sosok sang adik dari kejauhan sana. Jungkook muncul dan membelanya!
"Ya! Kenapa kau bisa kemari_"
"Anak kecil brengsek." Baru saja Taehyung ingin bertanya kepada Jungkook dan mendekatinya, dia terdahului oleh pria asing yang berhasil disakiti oleh 'senjata' buatan Jungkook. Pria itu berjalan cepat mendekati Jungkook dan tiba-tiba menarik kerah baju bocah lima tahun tak berdosa itu kasar.
"Kau mau mati, hah!? Bocah tengik!"
DUAGH
Ketika si preman bapak-bapak mengancam Jungkook dan menatapnya tajam sambil mengeratkan genggamannya pada kerah bocah malang yang tangisannya malah semakin mengeras itu, Taehyung langsung menendang kepala preman tersebut sangat keras sehingga Jungkook dapat terbebas karena si preman terjungkal dan jatuh dengan tidak elitnya diatas jalanan yang keras.
Amarah Taehyung memuncak dan keberaniannya begitu membara saat melihat adik tersayangnya disakiti.
"JANGAN BERANI MENYENTUH ADIKKU DENGAN TANGAN HINA-MU ITU ATAU KUPASTIKAN KAU MATI DI TANGANKU! URUSANMU ITU DENGANKU!" Suara Taehyung sangat tinggi dan menandakan bahwa dirinya sudah mencapai klimaks pada emosinya. Selama yang dirugikan adalah dirinya sendiri oleh orang lain, Taehyung masih bisa mengontrol diri sendiri untuk menghadapinya. Namun kalau itu sampai melibatkan Jungkook, tidak segan-segan Taehyung benar-benar membunuh orang tersebut.
"JUSTRU KAMI YANG AKAN MEMBUNUHMU!" balas preman lain tidak terima yang merupakan seorang anak buah, membela ketua mereka yang masih berusaha bangkit dari posisi terkaparnya.
Hoya dan empat kawannya saja sudah bergetar ketakutan melihat perang yang mulai panas.
"Rasakan ini!" Salahseorang preman mendekati Taehyung dengan cepat seraya melayangkan bogemnya tepat menuju wajah Taehyung. Seketika dengan sigap Taehyung menyiapkan bogemnya juga tak mau kalah. Namun, Taehyung berhenti ketika seseorang tiba-tiba memasang badan tepat di hadapannya, membelakangi Taehyung. Menghalangi serangan dari preman yang tadi hendak melukai Taehyung. Taehyung sendiri sangat terkejut dan menatap punggung tegap di depannya dengan mata melebar.
Terlihat dari rambut dan postur tubuhnya, orang itu...
"Saeng..nim...?"
"Jangan berani menyentuh 'istriku' atau aku akan mengulitimu hidup-hidup."
"A-arkh! Tanganku!" Kepalan tangan si preman muda masih digenggam Seokjin yang geram, bahkan lebih dieratkan sehingga terkesan meremas berusaha mematahkan tulang-tulang dari tangan itu sendiri. Taehyung begitu tidak menyangka akan dihadapkan pada sikap gurunya yang seperti ini dan belum pernah samasekali dilihatnya.
Dingin dan penuh amarah.
Tapi ucapan Seokjin mengenai 'istri' yang secara blak-blakan tidak bisa membuat wajah Taehyung tidak merona hebat.
"ISTRI!?" Sedangkan di pihak Hoya dan empat temannya, yang sejak tadi dengan payahnya tidak berbuat apa-apa, langsung berteriak kaget disertai wajah tidak percaya.
Setelah menghempaskan tangan preman dalam genggamannya sampai pria itu bertemu dengan kerasnya aspal, Seokjin berbalik, dan segera menangkup dengan lembut wajah Taehyung yang ketakutan dan masih penuh keterkejutan.
"Kau tidak apa-apa? Apa ada bagian tubuhmu yang terluka?" tanya Seokjin dengan nada penuh kecemasan dan perhatian. Taehyung menunduk, sangat malu untuk sekadar menatap mata sang guru di hadapannya.
"T-tidak... mereka hanya.. membentakku t-tadi..." jawab Taehyung mencoba menahan tangis. Entah kenapa rasanya ingin sekali dia menjatuhkan air mata, karena baru pertama kali ini Taehyung didatangkan seorang 'pelindung' ketika dia sedang menghadapi masalah, apalagi penolong tersebut langsung mengkhawatirkannya. Taehyung jadi terharu...
"T-tapi, orang itu, tadi.. menyakiti Kookie... Itu membuat hatiku sakit.." Taehyung menunjuk preman paruh baya yang sempat mencengkeram kerah Jungkook sampai Taehyung berani menendang kepalanya tadi, sembari mendekap Jungkook yang berlari menghampirinya. Seketika tatapan Seokjin yang tadinya penuh kelembutan pada Taehyung, berubah sekejam iblis ketika tertuju pada preman yang ditunjuk Taehyung.
Ternyata preman asing dengan wajah bapak-bapak paruh baya yang menyebalkan itu diam-diam ketakutan sejak pertama kali tahu Seokjin bisa sampai berada disini. Apalagi ternyata Taehyung adalah 'istri' Seokjin. Sampai menelan ludah berat si preman, dia tahu siapa Seokjin di masa dulu. Sehingga sekarang dia sangat menyesal.
"Jadi Taehyung dan Kim-seongsaenim adalah pasangan menikah gay? Aha! Kita bisa menyebarkannya di sekolah sebagai skandal paling menghebohkan sepanjang masa!"
"Kau jangan macam-macam, kunyuk brengsek!"
"Aduh!" Baru saja Hoya mengusulkan ide busuknya dan hendak mengabadikan kejadian dengan kamera pada ponselnya, ketua geng preman yang berperawakan bapak-bapak dengan darah masih di hidungnya dengan cepat menghampiri Hoya dan menjitak kepala anak nakal itu.
"Kau sudah membuatku seperti ini, masih saja menimbulkan masalah yang bisa membunuh kita semua, hah!"
"Y-ya! Memangnya kenapa!?" teriak Hoya protes sembari mengusap kepala malangnya.
"Bodoh! Apa kau tidak tahu siapa sebenarnya Kim Seokjin itu!? Dia dijuluki sebagai hellboy, yang mana pernah mengalahkan seratus anggota geng motor hanya dengan tangan kosong ketika dia masih remaja! Kau mau kita semua yang ada disini mati konyol!?" Penjelasan dengan nada tinggi atau lebih pantas disebut omelan panjang lebar yang dilontarkan dengan penuh kengototan oleh si ketua preman membuat Hoya seketika tak bisa berucap apa-apa. Mulut Hoya ternganga, dan matanya terbuka lebar, jantung di dalam dadanya pun berdetak tak karuan mendengar kenyataan dari sunbae preman di hadapannya.
"Oh, jadi kau mengingat sosokku yang seperti itu?" Seokjin ternyata ikut mendengar juga dan segera memasang wajah semengerikan mungkin. Tapi sebelum dia meluapkan nafsu menghajarnya, dia menoleh kearah Taehyung terlebih dulu.
"Pastikan Jungkook tidak melihat yang setelah ini. Dan... Kau pun sebaiknya juga tidak perlu melihatku..." Tatapan Seokjin menyiratkan rasa bersalah dan kegelisahan. Taehyung segera mendekap wajah Jungkook di dalam dadanya, melindungi pandangan bocah itu. Namun dia tak bisa menutup mata atau mengalihkan atensinya walau Seokjin sudah kembali menatap sang lawan.
"A-aaaa... Sebaiknya kita menyelesaikan ini secara baik-baik, hehe.. Bisa kan? Jangan terburu emosi begitu, hahahaha!" Ketika ketua preman memberi tawaran sambil tertawa canggung, Seokjin melepas kacamatanya.
"Secara baik-baik, katamu?" Nada bicara Seokjin datar, namun aura kegelapan yang menakutkan dan penuh ancaman semakin pekat di sekitarnya, apalagi ditambah tindakannya yang melampiaskan kekesalan dengan mematahkan kacamatanya sangat mudah. Membuat Hoya dan ketua preman bergidik ngeri.
"M-maafkan kami Kim-seongsaenim, yang sudah membuat masalah dengan Taehyung!" Hoya seketika memohon dengan keringat dingin mengucuri dahinya. Begitu juga dengan keempat temannya yang lain, mengikuti perbuatan minta maafnya kepada Seokjin. Kemudian kadar kesadisan Seokjin sedikit berkurang, dia dapat kembali beraut tenang seraya memasukkan pecahan kacamatanya di dalam saku celana. Hiii..
"Jangan minta maaf padaku, minta maaf-lah pada Taehyung dan Jungkook," balas Seokjin dingin. Seketika preman yang merupakan ketua dari gengnya segera memerintahkan Hoya serta keempat temannya untuk meminta maaf.
"Ayo cepat minta maaf, kunyuk!"
"MAAFKAN KAMI SUDAH MEMBUAT MASALAH DENGANMU! KAMI BERJANJI TIDAK AKAN MENGATAKAN YANG MACAM-MACAM DI SEKOLAH! JANGAN MEMBUAT KIM-SEONGSAENIM MEMBUNUH KAMI!" Sampai hati Hoya dan temannya yang lain bersujud menghadap Taehyung yang sontak kaget dibegitukan. Suara mereka begitu keras pula.
"Bagaimana, Taehyung? Kau ingin aku melepas mereka atau membunuh mereka semua sekaligus?" tanya Seokjin sebelum Taehyung mengatakan keputusannya. Hoya, keempat temannya, dan semua anggota preman sudah gemetaran menunggu jawaban Taehyung.
"Sudahlah... Aku tidak suka masalah yang terlalu panjang dan berbelit-belit. Pokoknya setelah ini mereka tidak menggangguku, itu saja sudah membuatku tenang..." jawab Taehyung akhirnya. Ucapan itu membuat pihak ketua preman dan Hoya dapat bernafas lega.
"Maaf ya, sekali lagi tolong maafkan kami dan kelima dongsaeng kami yang ceroboh ini. Sebisa mungkin aku tidak akan membuat hal ini terulang kembali. Akan kupastikan mereka tidak pernah bisa menjahatimu lagi. Kalau perlu, akan kubuat mereka pindah sekolah saja agar tidak ada yang membuatmu tidak nyaman di sekolah..."
"Tidak perlu, tidak usah berlebihan.." sahut Taehyung mendengar bentuk permohonan maaf panjang lebar dari si ketua preman. Tidak menyangka malah jadi begini.
Kalau Seokjin tidak datang, Taehyung tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri.
"Ingat. Hanya biarkan dia hidup tenang. Jangan pernah mengganggunya lagi." Seokjin memperingatkan sekali lagi disertai tatapan tajam. Para preman sekaligus Hoya beserta empat kawannya menunduk penuh hormat kepadanya. Membuat Taehyung merinding.
Apakah hanya Taehyung seorang yang tidak tahu apa-apa disini?
"Ayo pulang." Seokjin menggandeng tangan Taehyung yang masih memeluk Jungkook. Sehingga Taehyung akhirnya menggendong Jungkook dengan satu tangannya, dan tangan lain digenggam erat oleh Seokjin.
Taehyung menatap Seokjin yang selama perjalanan memilih untuk diam saja. Banyak pertanyaan yang ada di kepala Taehyung, namun entah kenapa dia takut mengutarakannya. Apa dari perubahan sikap drastis yang tadi ditunjukkan Seokjin? Atau kenyataan bahwa Seokjin dulunya adalah seorang preman yang amat tangguh? Mengapa... Taehyung justru tidak mengetahui apa-apa soal guru yang selama hampir satu tahun ini dinikahinya?
Sebenarnya siapa dirimu, saengnim?
.
.
.
Meskipun sudah masuk apartemen pun, Seokjin masih sepenuhnya diam. Namun setelah Taehyung mengunci pintu dan membiarkan Jungkook masuk kamar duluan untuk mengganti bajunya dengan piyama, Seokjin akhirnya menatap mata Taehyung. Tatapan itu.. penuh dengan kecemasan dan kegelisahan.
"Yang membawaku padamu adalah Jungkook."
"Eh?" Taehyung mendongak membalas tatapan Seokjin karena terkejut mendengar gurunya akhirnya mengeluarkan suara.
"Jungkook berlari keluar apartemen ketika aku baru saja pulang. Namjoon bilang padaku bahwa Jungkook melihat hal buruk sebelum melakukan itu. Akhirnya aku mengikutinya diam-diam, ternyata kau sedang disakiti seseorang. Untung aku cepat datang..." Kini Seokjin memegang kedua pundak Taehyung dan memulai penjelasannya dengan nada lesu. Tapi, meski Taehyung akhirnya tahu, sebenarnya bukan itu yang ingin didengarnya.
"Bagaimanapun, saengnim melindungiku layaknya seorang guru." Taehyung tersenyum. Walau melihat senyum yang begitu manis dari pasangan pernikahannya sendiri, Seokjin merasa perkataan Taehyung lumayan menyakitkan baginya.
"Terima kasih. Aku tidak tahu bakal akan jadi seperti bagaimana kalau saengnim tidak datang. Yang aku sayangkan, adalah kedatangan Jungkook. Kasihan dia, pasti setelah ini dia trauma sudah melihat kerasnya penampilan para preman itu." Taehyung menggenggam sejenak tangan Seokjin di pundaknya, namun setelah itu menyingkirkannya menjauh. Hati Seokjin semakin perih.
"Ohya, saengnim..." Entah mengapa tiba-tiba raut wajah Taehyung jadi tersipu. Membuat Seokjin yang menatapnya jadi bingung dan penasaran.
"Malam ini, aku sekamar dengan saengnim ya?" Taehyung tak kuasa membalas pandangan Seokjin ketika menanyakan hal tersebut. Ia telah mengutarakan pertanyaan yang selama ini mati-matian untuk tidak diucapkannya.
Dan jadilah, malam ini Taehyung akhirnya bisa sekamar dengan Seokjin. Impian yang selama ini ingin sekali Taehyung lakukan. Namun, dengan keberadaan Jungkook di tengah-tengah mereka pastinya. Mereka bertiga tidur di bawah agar bisa bersebelahan.
"Maukah Seokjin-appa memelukku ketika tidur?"
"Boleh, kemarilah!"
"Horee!" Jungkook pergi mendekat kearah Seokjin yang langsung menyambutnya dengan pelukan sayang. Tidak butuh waktu lama, mereka berdua terlihat sudah terlelap dalam tidur masing-masing.
Taehyung mendenguskan nafasnya kesal. Ia seperti diacuhkan walau berhasil 'sekamar' dengan suaminya sendiri. Walau statusnya dengan wali kelasnya itu adalah 'menikah', mereka belum pernah sekamar sebelumnya.
Sebenarnya Taehyung merasa ada sedikit keegoisan di dalam hatinya. Dia ingin hanya berduaan dengan Seokjin, bukannya malah ada Jungkook di tengah-tengah mereka. Taehyung ingin membicarakan banyak hal empat mata dengan Seokjin. Khususnya yang berkaitan dengan kejadian bersama para preman tadi.
"Maafkan aku, Taehyung.." Tiba-tiba suara pelan terdengar di telinga Taehyung dan mengagetkannya. Dia pun menoleh dan mendapati mata Seokjin masih terbuka walau sedikit, dan pria berprofesi guru itu membelai lembut rambut Jungkook dalam dekapannya.
"Untuk.. apa?" Taehyung membalas dengan perlahan.
"Tidak bicara apapun kepadamu. Aku tahu, kau pasti terkejut melihatku saat menghadapi para preman itu. Dan aku juga tahu kau ingin mempertanyakannya. Namun aku justru tidak memberimu kesempatan untuk mengetahuinya.." Seokjin kini menatap penuh rasa bersalah kearah Taehyung.
Walaupun Taehyung menyadarinya, tapi dia pura-pura tidak balas menoleh. Dan juga tidak membalas ucapan rasa bersalah dari Seokjin, Taehyung memilih untuk diam saja karena dia memang benar sedang kesal pada wali kelasnya itu.
"Taehyung?" Seokjin yang merasa tidak mendapatkan respon apapun, mencoba meraih tangan Taehyung. Pemuda yang merupakan siswa sekaligus istrinya sendiri itu terkejut, namun langsung menepis tangannya menjauh. Sampai hati Seokjin melepas perlahan dekapannya pada Jungkook dan bangkit dari tidurnya untuk melihat Taehyung lebih jelas.
"Taehyung, apa_"
"Benar, saengnim. Aku tidak mengetahui apapun tentangmu." Taehyung akhirnya mengeluarkan suara. Terdengar begitu sedih, dan ada penyesalan di dalamnya.
"Walau kau menikah denganku bukan atas dasar perasaan cinta, mungkin aku memang perlu lebih memahami perasaanmu." Tiba-tiba Seokjin mengatakan sesuatu yang menarik perhatian Taehyung sampai dia mengalah dan balik menatap sang guru. Jujur saja, hati Taehyung seketika sedikit sakit.
"Aku memang punya keluarga.." Seokjin kembali berbaring serta memeluk Jungkook perlahan. "Tapi bahkan ayahku membenciku. Dia tidak ingin melihat wajahku lagi." Senyuman miris tanda mengasihani dirinya sendiri tergurat di wajah Seokjin yang kini tampak lelah.
"Aku berkelakuan buruk.. dan mengecewakan semua keluargaku.. Itu bukanlah suatu hal yang dapat kubanggakan padamu." Seokjin melanjutkan dan nadanya makin terdengar parau. Taehyung meremas selimutnya untuk menekan sesak yang tiba-tiba hadir di dadanya.
"Maka dari itu aku pikir lebih baik kau tidak perlu mengetahui masa laluku, karena semua yang ada disana hanyalah keburukan yang konyol... Aku bukanlah orang yang baik sebelum menjadi sekarang ini, jadi aku tidak ingin kau meninggalkanku jika kau sampai membenci diriku di masa lalu..." Suara yang dikeluarkan Seokjin semakin lama semakin pelan bahkan berubah menjadi bisikan. Namun ucapannya membuat Taehyung sedih, sekaligus merasa hangat di dalam hati.
Taehyung tidak tahu harus berkata apa. Sehingga dia hanya menoleh ingin menatap mata Seokjin. Namun.. Seokjin ternyata sudah terlelap. Dengkurannya terdengar halus dan wajahnya amat kelelahan.
Mungkin ini hari yang berat baginya.. Taehyung merasa iba sehingga tidak tega untuk mengusik sang guru hanya sekedar untuk melanjutkan topik pembicaraan.
Pasti bukan saat yang tepat.. Sepertinya kau harus mencoba lebih sabar lagi, Kim Taehyung. Saengnim terlalu lelah..
Taehyung berkata untuk dirinya sendiri. Dan tangannya bergerak perlahan untuk meraih surai cokelat kemerahan Seokjin kemudian mengusapnya lembut.
.
.
.
17 Oktober, setahun yang lalu...
Taehyung yang sudah lama ditinggal berdua bersama adiknya Jungkook karena kedua orangtuanya yang sering mempunyai bisnis di luar kota, teramat sangat syok mendengar kabar bahwa kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan pesawat dalam perjalanan hendak ke Seoul. Seharusnya orangtua Taehyung ingin pulang menengok keadaan kedua anak mereka, namun musibah justru dengan kejam mengambil nyawa mereka.
Taehyung menangis seketika, bahkan ia belum sempat menutup panggilan di ponselnya yang merupakan dari pihak kepolisian. Raungannya terdengar amat putus asa, ia tidak bisa berpikir apa yang bisa diperbuatnya tanpa orangtuanya nanti.
Setelah Taehyung sudah bisa sedikit menghentikan tangisnya, dia pergi menengok ke kamar sang adik. Dan dilihatnya, Jungkook bangun dari tidurnya. Wajahnya yang kusut terlihat sedih sehingga membuat Taehyung cemas.
"Kapan eomma dan appa kembali belcama kita, hyung?" tanya Jungkook tiba-tiba, dengan suara serak yang lemah. Taehyung sekuat tenaga tidak mengalirkan air matanya di hadapan adiknya. Jungkook memang harus tahu, tapi Taehyung akan mengatakannya dengan lembut, sehingga Jungkook ada kemungkinan tidak akan terlalu sedih menghadapi kenyataan.
"Eomma dan appa tidak akan kembali kesini lagi, Jungkook..." Taehyung mengusap kepala Jungkook penuh sayang.
"Apa!? Kenapa?" Jungkook seketika terkejut dengan mata melebar menghadap kakaknya. Taehyung menenangkannya, menggenggam tangan mungil bocah empat tahun itu lembut.
"Mereka sudah menjadi bintang di langit..." Itu adalah hal konyol yang keluar dari mulut Taehyung. Tapi mau bagaimana lagi? Dia berbicara kepada anak kecil, pasti berat bagi Jungkook bahwa orangtua mereka kenyataannya telah meninggal.
"Kenapa? Kenapa eomma dan appa lebih memilih menjadi bintang di langit dalipada belcama Kookie dan Tae-hyung? Hiks..hiks.." Jungkook mulai menangis dan memeluk kakaknya erat. Taehyung pun tidak bisa menahan kesedihannya, dia ikut menangis, tapi berusaha agar itu tidak terlalu keras agar dia bisa menjadi yang lebih kuat dan melindungi adiknya mulai sekarang.
"Meski mereka tidak disini bersama kita, tapi mereka akan selalu memperhatikan kita dari kejauhan, Kookie..." ucap Taehyung menghibur Jungkook. Juga dirinya sendiri...
.
.
.
"Kau sudah dewasa, Taehyung. Carilah pekerjaan dan nafkahi adikmu serta dirimu sendiri."
"Tapi halmeoni, rumahku benar-benar disita_"
"Tidak perlu punya rumah, sewa saja kontrakan murah yang penting bisa tidur di suatu tempat! Aku tidak mau bertanggung jawab atas dirimu, ibumu saja tidak peduli padaku!. Aku tidak punya uang untuk membayar sekolahmu dan Jungkook, kau pun dengan cepat menghabiskan harta yang ditinggal kedua orang tuamu. Aku tidak mau menghidupi anak manja yang boros!"
Setelah mendapat penolakan telak dari sang nenek, lagi-lagi pintu di depan Taehyung ditutup dengan cara yang tidak menyenangkan. Taehyung mendapat pengusiran lagi.
Bagaimana harta yang ditinggalkan orangtuanya tidak habis!? Taehyung menggunakannya setiap hari dan tetap saja, banyak kebutuhan yang harus dipenuhi meski Taehyung ingin berhemat sekalipun! Padahal Taehyung sedang kesusahan dan bingung sekarang, namun semua saudaranya di Seoul dan semuanya telah dikunjunginya, dengan sangat kejam semesekali tidak ada yang bersedia menolongnya untuk hanya sekedar menyediakan tempat beristirahat sekalipun.
Buat apa Taehyung punya keluarga kalau begitu caranya?
Taehyung yang putus asa sudah terlalu muak dan lelah. Dia bahkan tidak menjawab pertanyaan yang terus terlontar dari mulut Jungkook sampai akhirnya adiknya itu terdiam. Taehyung bahkan bersedia susah payah naik bus untuk mengunjungi satu-persatu rumah saudaranya. Namun hasilnya nihil, dia tidak pernah disambut dengan hangat, boro-boro dikasihani!
Ini sudah malam dan Taehyung tidak tahu harus kemana lagi sehingga memilih duduk di bangku taman masih dengan menggandeng tangan sang adik. Barang bawaannya berat, ia sudah tidak kuat lagi berjalan kesana-kemari, lagipula samasekali tidak ada gunanya. Taehyung ingin marah kepada orangtuanya, kenapa mereka meninggalkannya seperti ini. Merawat Jungkook sendirian, menafkahi hidupnya sendiri... Semua itu tidak pernah ada di pikiran Taehyung.
Akhirnya Taehyung tidak bisa membendung air mata keputus-asaannya. Jungkook tidak banyak bicara dan hanya menggenggam hangat tangan sang kakak. Meski masih kecil, sepertinya Jungkook cukup pintar untuk mengetahui keadaan kakaknya saat ini yang sedang kesusahan.
"Kenapa malam-malam begini masih ada siswa SMA berkeliaran?" Suara berat tiba-tiba terdengar dan seperti ditujukan kepada Taehyung. Lagipula Taehyung sangat kenal dengan suara itu.
Saat Taehyung mendongak, dia mendapati wali kelasnya, Kim Seokjin, sudah berdiri di hadapannya.
Taehyung samasekali tidak berharap ditemukan seseorang seperti gurunya disaat seperti ini!
"Saya sudah tidak punya tempat untuk pulang, Kim-seongsaenim..." Taehyung tidak peduli walau masih ada air yang menuruni pipinya atau nada bicaranya yang bergetar. Ia hanya mengatakan kenyataan.
"Astaga, apa yang terjadi pada keluargamu?"
"Maafkan saya, tapi itu bukan urusan saengnim_"
"Kau tidak boleh bicara seperti itu!" Seokjin menegur membuat Taehyung tersentak. "Jadi itu cara bicaramu kepada orang yang mengkhawatirkanmu?"
"B-buat apa Kim-seongsaenim terlalu mempedulikan masalah pribadi saya?"
"Sudahlah! Begini saja..." Seokjin melangkah mendekati tempat Taehyung duduk, dan menepuk pundak muridnya itu pelan.
"Tinggallah di tempatku malam ini. Kalau kau seperti ini terus, bagaimana semuanya bisa menjadi lebih baik? Sembari sementara tinggal di tempatku, berpikirlah cara terbaik agar kau bisa hidup mandiri beserta merawat adikmu." Penawaran sekaligus nasihat dari Seokjin benar-benar masuk ke dalam hati Taehyung.
.
.
.
Awalnya Taehyung merasa canggung diperbolehkan tinggal di rumah wali kelasnya sendiri. Namun sejak seminggu Taehyung tinggal di apartemen sederhana milik Seokjin, dia lumayan terbiasa dengan kebaikan sang guru. Jungkook pun cepat akrab dengan Seokjin ternyata. Padahal yang Taehyung tahu, Jungkook takut kepada orang asing. Itu berarti Jungkook sudah menganggap Seokjin bukan orang asing lagi?
Sampai akhirnya waktu untuk membayar uang sekolah bulanan tiba. Taehyung benar-benar tidak punya uang walau dia sudah mencoba kerja part time di sebuah minimarket. Dan tanpa memberitahu apapun kepada Taehyung, ternyata Seokjin sudah mengatasinya.
"Saengnim tidak boleh melakukan itu! Saya tidak berhak melunasi biaya sekolah dengan uang saengnim, selama ini aku sudah terlalu merepotkan Anda!"
"Sudahlah, kau hanya perlu mengucapkan terima kasih."
"Tidak, saengnim, aku akan mengembalikan uang itu, tunggu saja sampai waktunya ketika gajiku sudah terkumpul."
"Tidak usah, Kim Taehyung! Aku ikhlas!" Seokjin yang kehilangan kesabaran sedikit membentak. Taehyung sampai terkesiap mendengarnya, tiba-tiba jantungnya berdebar.
"Kau tidak terlalu merepotkanku juga, malah aku merasa bersalah membuatmu harus mengerjakan pekerjaan di rumah."
"Itu samasekali tidak bisa diperhitungkan, bahkan saya tinggal disini hanyalah menumpang!" Taehyung tetap bersikukuh membuat seakan-akan dirinya benar-benar benalu di rumah Seokjin. Membuat Seokjin menghela nafasnya berat dan memikirkan jalan keluar masalah antara mereka berdua ini.
"Kalau kau tidak ingin beranggapan seperti itu, kau harus memulai ikatan denganku. Agar kita bisa menjadi keluarga sehingga kau tidak merasa terlalu sungkan lagi pada apapun yang kulakukan untukmu. Ataupun sebaliknya sehingga kau tidak menganggap dirimu sendiri pembantu di rumahku!" Penawaran dari Seokjin menarik perhatian Taehyung. Anak itu akhirnya bisa diam dan mendengarkan dengan tenang.
"Tapi kalau aku menganggapmu seorang adik, itu adalah hal yang abstrak dan masih bisa membiarkanmu bersikap sungkan. Kuanggap sebagai anak pun aku tidak mau punya anak setua dirimu di umurku yang masih muda ini. Kalau begitu..." Seokjin masih menggantung ucapannya sambil berpikir. Taehyung yang menunggu, diam-diam merasa penasaran juga.
"Bagaimana kalau kita menikah?"
.
.
.
Sejak saat itu, kehidupan Taehyung berubah. Tapi ada baiknya keadaannya yang buruk sudah kembali membaik walaupun banyak hal yang berbeda. Karena Seokjin adalah 'suaminya', seorang wali kelas yang bisa bertemu dengannya setiap hari di sekolah. Bagaimana Taehyung tidak merasa aneh?
.
.
.
a/n: CHAPTER 2 EEND!
Makasih yang sudah reviews, favs, maupun follows chap sebelumnya~ *bows* yang saya tangkap dari pendapat para readers tersayang, ternyata masih banyak yang belum paham hubungan antara jin-tae-kook di chapter sebelumnya. Di chapter ini, saya mencoba menjelaskan dengan membawa flashback TaeTae serta awal hubungan JinTae~ jadi semacam chapie 1 itu prolog dan pengenalan, chapie 2 explanation dan sedikit clue, sehingga chapie chapie selanjutnya lebih nyaman untuk dipakai menceritakan konflik~
Bagaimana lovely readers? Apakah Anda semua sudah cukup paham sekarang apa hubungan antara jin-tae-kook? :3
Jangan lupa reviewss~~~ terima kasih sudah menyempatkan diri membaca! Sampai jumpa di episode selanjutnya nee! Salam hangat~
