LOSING YOU

Rated : M

Chapter: 2 of 2

Cast : Oh Sehun, Kim Jongin, Park Chanyeol, Im Yoona

Pairing : Hunkai!broken

Warning : Boyslove/Gay/NC 21+/Yaoi/Psycho


Enjoy!


"Eomma tunggu!" Sehun menarik pergelangan tangan sang ibunda. Wanita sudah hendak memasuki taksi untuk kembali pulang ke Bucheon. Tadinya dia akan mengejutkan Sehun dan Jongin dengan datang berkunjung ke sini. Mereka sudah lama tidak pulang ke Bucheon, jadi dia pikir dia harus melihat keadaan dua pemuda itu. Tapi tidak disangka malah dia yang mendapat kejutan. Demi Tuhan! Dia tidak kalau Sehun dan Jongin melenceng. Dia pikir kedekatan mereka hanya sebatas sahabat karib yang sudah kenal dari kecil. Dia tidak menaruh curiga dengan mereka. Tidak sedikit pun. Tapi ternyata…

"Kamu! Biadap kamu! Dasar sampah! Aib! Kenapa kamu jadi begini?!" Wanita itu terisak. Air matanya mengalir tanpa disadari. Nafasnya memburu. Dia marah melihat putranya seperti ini.

"Eomma…" Sehun berkata pelan menahan tangis di ujung pelupuk matanya. Tangannya terjulur, berusaha meraih milik sang ibunda. "Aku mencintai Jongin eomma."

"Cinta?! Kamu pikir pacaran dengan sesama lelaki itu cinta? Itu setan Sehun! Kamu akan masuk neraka karena itu. Kalian akan masuk neraka! Terkutuk kamu!" wanita paruh baya itu menghentak tangan sang putra. Dia cepat-cepat memasuki taksi lalu pergi. Sehun menangis meratapi sang ibu. Dia jatuh terduduk, meremas rambutnya. Dia menepuk dadanya kasar. Sesak… hatinya sakit mendengar perkataan sang ibunda. Jongin memperhatikan dari jauh. Dia tidak bisa diam saja. Ini sudah saatnya dia mengambil keputusan. Dia tidak seharusnya bersama Sehun. Mereka… tidak boleh bersama.

Sehun bangkit berdiri berjalan kembali menuju apartemennya. Saat memasuki kamar, dia mendapati lelaki itu sedang mengemas barang-barangnya. Jongin dengan tergesa memasukan bajunya ke dalam koper. Sehun mengerutkan kening. "Kamu mau kemana?" Jongin mengangkat wajah. Menatap Sehun dengan air mata di pipinya. "Kita… harus pisah. Kita tidak bisa seperti ini." Sehun tersentak.

"Jongin! Maksud kamu apa?" dia menyentak lelaki itu.

"Sehun! Kamu tahu kita tidak benar. Kita salah. Kita aib Sehun! Aib!"

"Kamu dengar perkataan eomma?" Sehun menghentikan tangan Jongin yang sedang membereskan pakaiannya. Menuntun lelaki itu kembali duduk di ranjang mereka. Dia menangkup kedua pipi Jongin. Hatinya sakit melihat wajah sang kekasih seperti itu. Dia menghapus air mata Jongin, mengecup keningnya lama kemudian memeluknya erat. "Kita tidak salah. Kita benar Jongin. Hanya… mereka yang tidak mengerti." Jongin terisak di dalam dekapan pria itu. "Kita benar, karena kita saling mencintai." Jongin membalas pelukan Sehun. Dia mencintai lelaki ini, sangat. Dia tidak mau kehilangan Sehun. Dia tidak mau hidup tanpa Oh Sehun. Jongin mengeratkan pelukannya. Dia hanya ingin bersama Sehun. Tapi kenapa susah sekali? Masyarakat melihat mereka seperti sampah. Tidak punya otak. Kenapa mereka tidak berpikiran terbuka? Dan orang tuanya adalah salah satu dari mereka. Jongin tersentak, dia tidak mau menjadi aib keluarga. Dia melepaskan pelukan Sehun kasar. Kembali mengepak pakaiannya. Sehun menatap Jongin heran. "Jong?" Jongin berbalik, menatap sendu pria yang Ia cintai itu.

"Aku pergi Oh Sehun."


"Jongin?" yoona mengerutkan kening. Dia menatap heran sang kekasih yang terlihat lesu dihadapannya. "Boleh aku masuk?" Gadis itu mengangguk. Dia memiringkan badan lalu membiarkan Jongin melewati dirinya.

Jongin mendudukan dirinya di sofa. Dia menyenderkan kepala lalu menghela nafas kasar. Dia menutup matanya erat. Kepalanya sakit sekarang. Dia tidak tahu harus pergi kemana. Kembali ke Bucheon tentunya bukan pilihan. Ibunda Sehun pasti sudah sampai disana sekarang. Kemudian pergi ke rumahnya dan mengatakan tentang dirinya dan Sehun pada orang tuanya. Jongin belum siap. Jongin belum mampu untuk menghadapi amukan sang ayah dan ibu.

Yoona mendudukan diri di sampingnya. Memperhatikan wajah sang kekasih lalu tersenyum kecil. Tangannya terangkat mengelus kepala Jongin. "Ada masalah? Tumben kamu malam-malam kesini." Jongin menggeleng. yoona mendesah kecil. "Apa kamu bertengkar dengan pacar keduamu itu, Sehun?" Jongin membuka mata. Menenggakkan diri lalu mengerutkan kening menatap kearah Yoona. "Pacar apanya?" Yoona tesenyum geli.

"Kalian itu habisnya kayak pacaran sih. Berantemnya juga kadang begitu. Kamu juga apa-apa selalu mentingin dia daripada aku." Wanita itu menggerutu kecil. Jongin menghela nafas. Dia menundukkan kepala bersalah. "Maaf." Gumamnya. Yoona terkikik melihat ekspesi sang kekasih. Dia memukul lengan Jongin pelan. "Apasih, kamu melankolis banget. Baru di bercandain gitu." Gadis itu tersenyum. Jongin menarik sudut bibir terpaksa.

Jongin kembali merenung. Mungkin, apa yang dikatakan ibu Sehun itu benar. Mereka tidak boleh bersama. Lelaki tidak boleh memadu kekasih dengan lelaki. Adam dipasangkan dengan Hawa, bukan dengan Adam lainnya. Dia dan Sehun tidak akan pernah bisa bersama, karena takdir tidak memihak pada mereka. Jongin mengalihkan pandangan kearah Yoona yang menyesap coklat hangat selagi menonton televisi. Gadis itu… dia begitu sabar dengannya. Dia benar-benar lugu dan tidak tahu tentang apa yang Jongin dan Sehun lakukan di belakangnya. Dia gadis baik-baik yang bernasib buruk mendapatkan Jongin sebagai kekasih.

Jongin ingin memperbaiki semuanya. Jongin ingin kembali memulainya dari awal. Dan dia yakin Yoona adalah pilihan yang tepat. Jongin menatap dalam gadis itu, Yoona menoleh. Dia mengerutkan kening melihat Jongin yang mendekatkan diri kearahnya. "Jong ap–" mata bulatnya terbuka lebar. Dia terkejut. Ini bukan ciuman pertamanya dengan Jongin, tidak, mereka sering melakukannya. Tapi ini pertama kalinya Jongin mencumbunya dengan bergairah. Mereka belum pernah melakukan hubungan intim sebelumnya. Jongin selalu mengatakan bahwa dia ingin menjaga kesucian gadis itu dan Yoona tersenyum karenanya. Dia berjanji akan menjaganya untuk Jongin kelak ketika mereka menikah. Lagipula kedua orang tua mereka sudah saling kenal. Hanya tinggal masalah waktu sebelum keduanya mengikat janji suci di altar.

Yoona mendesah kecil ketika Jongin meremas dadanya. Pemuda itu menindihnya di sofa dan mengecup lehernya nikmat. "Jong…" Jongin menjauhkan wajahnya. Dia menatap gadis itu dalam. Dia frustasi. Dia tidak tahu akan apa yang Ia lakukan sekarang. Dia kembali mendekatkan wajah. Membawa gadis itu dalam permainannya.


Seoul 2013

Sehun menatap sendu gereja di depannya. Dia terisak kecil mengingat apa yang sedang berlangsung di dalam sana. Sehun menggengam kemudi mobil erat. Dia menangis mengingat bahwa Kim Jongin bukan lagi miliknya. Lelaki itu sudah resmi menjadi pasangan orang lain. Sehun mengalihkan pandangan saat melihat Jongin dan Yoona keluar dari gereja dengan raut wajah bahagia. Jongin menggendong anak lelaki berumur dua tahun di tangannya. Dia terlihat bahagia lalu mengecup pipi anak itu gemas. Sehun tersenyum miris. Daridulu, Sehun sangat tahu bahwa Jongin suka sekali dengan anak kecil. Keluarga baru itu memasuki mobil sedan hitam untuk menuju tempat resepsi.

Resepsi Jongin dan Yoona di adakan di salah satu ballroom hotel bintang lima di daerah Gangnam. Sehun ragu untuk turun dari mobilnya. Dia tidak yakin Jongin akan senang melihatnya. Lagipula dia tidak diundang. Semenjak mereka berpisah dua tahun lalu, Jongin selalu menghindarinya. Orang tua Jongin dan orang tuanya sama-sama tahu akan apa yang terjadi dengan mereka. Orang tua Sehun murka. Ayahnya bahkan menampar dan mengusirnya dari rumah. Untung saat itu ibunya tidak tega. Dia masih menyanyangi Sehun. Sehun adalah anaknya, darah dagingnya. Meskipun ayah Sehun sepertinya telah membuangnya. Lelaki paruh baya itu seperti menganggap bahwa Sehun telah tiada dalam hidupnya.

Sehun tidak tahu apa yang terjadi dengan Jongin. Dia benar-benar lost contact dengan pemuda itu. Jongin bahkan mengganti nomor ponselnya. Dua tahun belakangan hidupnya resah tanpa Jongin. Sehun ingin memaki Jongin yang dengan seenaknya merenggut hatinya dan malah mengacuhkannya sekarang. Sehun gila karena Jongin. Dia ingin mendekap Jongin. Dia ingin menghirup wangi tubuh pemuda itu yang telah meracuninya. Sehun ingin Jongin-nya kembali.

Sehun benar-benar tidak tahu apa-apa tentang Jongin sampai lima bulan yang lalu. Dia sedang membuat laporan ketika salah satu temannya yang juga teman satu kampus Jongin dulu mendapat undangan pernikahan dari Jongin. Sehun menatap undangan itu nanar melihat nama Jongin dan Yoona lah yang tertulis. Dia marah, dia sakit, Sehun kecewa. Sehun kecewa dengan Jongin. Dia berakhir di kantor polisi malam itu karena memukuli lelaki asing di bar.

Sehun melangkah yakin memasuki area resepsi. Dia sempat dicegah masuk karena tidak ada dalam daftar undangan. Untung ada ibunya. Wanita itu mungkin mengerti perasaan Sehun sekarang. Dia kasihan melihat sang putra yang hidup bagaikan mayat dua tahun terakhir ini. Dia menggandeng pundak Sehun. Membawa lelaki itu masuk. Dia tersenyum kecil saat matanya dan Sehun saling memandang. Sehun kemudian mengangkat wajahnya, matanya tertuju pada pasangan yang tengah melakukan couple dance di lantai dansa. Sehun meremas dadanya, sakit. "Relakan dia Sehun. Dia bukan milikmu. Kalian tidak seharusnya bersama."


Present day

Chanyeol memperhatikan dengan seksama. Dia mendengarkan Sehun bercerita tentang Jongin dengan sabar. Baru kali ini Sehun mau membuka mulutnya dan bercerita tentang masalah ini. "Aku mencintai Jongin. Aku… ingin dia bersamaku." Sehun terisak lemah. Pipinya sudah basah karena air matanya. Chanyeol menjulurkan tangannya menepuk bahu Sehun. Dia ingin Sehun tahu kalau dia mendukungnya disini. Dia berada di pihak Sehun. Dia tidak akan mencerca Sehun. Dia ingin Sehun tahu kalau Sehun tidak sendiri. Dia ingin membantu Sehun. "Chanyeol…" Sehun memanggil dengan suara kecil.

"Iya?"

"Mau membantuku?" Chanyeol mengerutkan kening. "Membantu apa?"

"Tolong bawa aku pada Jongin."


Seoul, Jongin's wedding day

Jongin tersentak saat mendapati dirinya diseret oleh Sehun masuk ke dalam toilet. Dia meringis merasakan Sehun yang memojokkan dirinya ke dinding. "Sehun… aku mohon jangan begini." Jongin memelas, menatap mata Sehun. Dia melihat luka disana. Hati Jongin menangis. Tangannya terangkat mengelus pipi Sehun yang semakin tirus. "Kamu… kenapa jadi kurus begini?" dia terisak. Sehun masih terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia memejamkan mata menikmati sentuhan Jongin dipipinya. "Sehun… aku mohon lupakan aku dan lanjutkan hidupmu." Sehun menggeleng. Dia menangis. Dia tidak bisa. "Aku tidak bisa tanpa kamu Jong." Jongin menangis. Dia mendekap pria itu erat. Dia rindu Sehun. Dia ingin bersama Sehun. Tapi tidak bisa… dia punya tanggung jawab lain sekarang. Sehun memeluk erat dirinya. "Kita bisa bersama. Tinggalkan dia. Tinggalkan pernikahan ini. Ayo, lari bersamaku." Jongin mendongak, menatap Sehun yang menatapnya yakin.

"Kita tinggalkan mereka. Semuanya… kita bisa pergi ke luar negeri, menetap disana. Aku bisa minta dipindahkan ke kantor pusat yang ada di Spanyol, kamu tahu posisiku. Kamu gak akan hidup sengsara kalau bersamaku." Jongin menjauh. Menatap Sehun dengan tatapan ragu. Dia memikirkan perkataan pria itu. "Yang perlu kamu lakukan hanya menyambut tanganku Jongin." Sehun menatapnya dengan berharap. Jongin menahan nafas. Dia tidak bisa memungkiri bahwa dirinya ingin bersama lelaki itu. Dia ingin menyambut tangan lelaki itu. Sedetik kemudian dia tersadar… tidak… dia tidak bisa. Ada sesuatu yang menahannya.

"Aku tidak bisa!"

"Apa yang menghalangimu?!" Sehun berteriak frustasi. Jongin menahan nafas. "Aku tidak bisa meninggalkan anakku."

Sehun berulang kali membasuh wajahnya di wastafel. Dia tidak tahu harus bagaimana. Dia menggeram rendah mengingat perkataan Jongin tadi. Anak? Jadi… anak itu yang menjadi penghalang untuknya? Sialan! Sehun mengepal tangannya. Dia marah, dia frustasi. Dia ingin bersama Kim Jongin. Dia harus bersama lelaki itu. Sehun membulatkan tekadnya. Dia merogoh caliber magnum 44 yang Ia taruh dipergelangan kakinya. Sehun memainkan pistol tersebut. Dia menyeringai tipis. Matanya berubah kelam. Dia akan menyingkirkan siapapun itu yang menjadi penghalangnya. Siapapun…


Present day

"Jadi… aku keluar, lalu menembak Yoona." Sehun mendesah pelan. Matanya menerawang keluar jendela mobil. Mereka sedang berada di perjalanan menuju suatu tempat. Sebenarnya pihak rumah sakit tidak mengizinkan, tapi Chanyeol bersikeras. Lelaki itu menyetir di kursi kemudi menahan nafas setelah mendengar pengakuan Sehun. Dia berusaha menyunggingkan senyum. "Lalu, apa kamu menyesal?" Sehun menggeleng tanpa ekspresi.

"Aku malah bahagia." Sehun menyeringai, lalu beralih menatap Chanyeol. "Aku bahagia wanita keparat itu mati." Chanyeol menelan salivanya kasar melihat raut lelaki itu. Dia menarik senyum di paksa lalu kembali memfokuskan pandangan kedepan. "Kenapa kamu senang? Kamu… membunuh Sehun." Sehun mengerutkan kening tidak suka. "Dia mengambil Jonginku!" Sehun berseru.

"Dia pantas mati karena sudah merebut Jonginku!"


Seoul, Jongin's wedding day

Jongin menangis terisak di samping jasad sang istri yang sudah tak bernyawa. Para undangan diam tak berkutik melihat Sehun mengacungkan pistol pada mereka. Mereka menahan nafas. Jongin terduduk di samping jasad Yoona. Dia menutup mata sang istri yang terbuka. "Jangan ada yang bergerak! Kalian semua diam!" Sehun berteriak. Nafasnya memburu. Matanya bergerak gelisah melihat sekelilingnya. Para undangan memandang takut kearahnya. Dia menemukan ibunya didekapan sang ayah. Wanita itu menatap nanar dirinya. "Sehun! Apa yang kamu lakukan?!" Sehun mengalihkan pandangannya pada Jongin. Lelaki itu menangis. Sehun tidak suka Jongin menangis. Dia benci melihat Jongin mengeluarkan air mata!

"Aku… melakukan ini untuk kita. Agar kita bisa bersama." Sehun menatap dengan memohon pada Jongin. Dia berjalan mendekat untuk menggapai pria itu, tapi Jongin melangkah mundur menjauh. Lelaki itu terisak. "Kamu… pembunuh." Jongin berteriak murka. Sehun tersentak. Dia menggeleng-gelengkankan kepalanya. Jongin terus memanggilnya pembunuh. Dia melihat sekitarnya, Sehun menyangkal mati-matian bahwa yang Ia lakukan ini salah. Air matanya jatuh. Dia merasa dunia berputar mengelilinginya. Dia merasa bahwa semua orang tengah mengoloknya sekarang. Menghakimi dirinya. Sehun memegang kepalanya. Dia terus membenarkan dirinya. Dia melakukan ini untuk Kim Jongin. Agar mereka bisa bersama. Kenapa Jongin tidak mengerti?

Perkataan Jongin terngiang di telinganya. Dia… pembunuh? Tidak… Sehun hanya… ingin menyingkirkan Yoona dari hidup Jongin…

"Appa…" bocah itu memanggil Jongin dari dalam dekapan sang nenek. Sehun tersentak, mengangkat wajah. Dia menatap tajam Taeoh. Sehun menggeram… karena bocah itu… Jongin tidak bisa bersamanya. Karena Yoona dan anak itu… Jongin memilih meninggalkannya. Sehun berjalan cepat dengan amarah di dadanya. "Sehun! Mau apa kamu?! Jangan sentuh anakku!" Jongin berteriak di belakangnya. Sehun menatap anak itu dan ibunda Jongin bergantian. "Sehun… bibi mohon… dia hanya seorang anak kecil. Dia tidak bersalah Sehun. Dia tidak melakukan kesalahan apapun." Ibu Kim memohon dengan terisak. Sehun masih belum mengalihkan pandangannya. "Dia bersalah." Sehun bergumam. "Dengan lahir ke dunia ini, dia bersalah dan merenggut kebahagiaanku dengan Jongin!" lelaki itu tiba-tiba berseru. Para undangan menahan nafas.

"Sehun…" Jongin berjalan mendekatinya dengan pelan. Dia memegang lengan Sehun hati-hati. "Sehun, aku mohon, turunkan senjatamu." Sehun beralih menatap Jongin. Dia menatap dalam sang kekasih. "Kamu tahu aku melakukan ini untukmu?" Jongin tersenyum paksa, dia mengangguk. "Aku tahu." Tangannya perlahan menggiring tangan Sehun untuk menurunkan senjata. Matanya yang sembab menatap Sehun dalam. "Aku tahu." Dia meyakinkan.

"Appa." Sehun kembali beralih menatap Taeoh. Matanya kembali kelam. Nafasnya semakin memburu. Amarahnya kembali meluap. Bocah itu adalah sumber penderitaannya. Dia megacungkan pistol tersebut tepat di hadapan anak itu. Kepalanya semakin sakit saat suara Jongin dan orang-orang disana memohonnya untuk berhenti. Sehun marah, sehun kalut. Dia menarik pelatuk.

DOR!


Present day

"Aku menarik pelatuk… tapi, bukan anak itu yang mati." Wajah Sehun berubah sendu. Dia menundukkan kepalanya. Menatap kosong pada sebuah batu dengan ukiran nama disana. Air matanya mulai mengalir. Sehun mulai terisak. Chanyeol berjalan mendekat lalu mengusap bahunya. Dia tahu ini berat bagi Sehun. "Si bodoh itu..." Sehun bergumam. "Dia malah terbaring disini sekarang."

"Seharusnya anak itu yang mati."

"Bukan Jonginku!" Sehun berteriak murka. Chanyeol tersentak. Dia kembali mengusap bahu Sehun menenangkan. Nafas Sehun memburu mengingatnya. Mengingat cintanya yang sudah tiada. Beberapa detik kemudian nafas lelaki itu mulai stabil. Sehun terdiam. Chanyeol masih ada disana untuk menemani. Sehun mengangkat wajahnya. Dia sadar bahwa dia sudah kehilangan segalanya sekarang. Dia sudah tidak punya apa-apa lagi. Sehun berjalan mendekat menuju salah satu nisan yang ada disana. Dia berlutut lalu mengusap nama yang terukir, tersenyum miris.

Chanyeol menatap sendu di belakangnya. Dia berjongkok lalu menepuk bahu Sehun menguatkan. Air mata Sehun berkumpul disudut mata. "Aku tidak punya apa-apa lagi." Sehun bergumam kecil.

"Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi."

"Tidak ada yang lagi perduli padaku."

Sehun mengangkat wajah, menatap Chanyeol nanar. "Hanya dia yang aku miliki."

"Dan aku telah kehilangan dirinya untuk selamanya." Sehun menangis terisak. "Kamu ingin aku mengakuinya? Itukan tujuan awal kalian memulai perawatan?" Chanyeol menundukkan kepala. "Sehun…"

"Tujuan semua sesi terapi selama ini adalah agar diriku mengakui apa yang aku perbuat? Kamu, ah tidak, bukan hanya dirimu. Semuanya, bahkan orang tuaku berpikir aku gila? Baiklah, kalian akan mendapatkan jawaban yang kalian mau. Iya, aku gila." Sehun mengalihkan kembali tatapan pada nisan di depannya.

Rest In Peace

Our beloved son, husband, and father

Kim Jong In

14 Januari 1988 – 14 Januari 2013

"Aku gila dan aku membunuh Kim Jongin."

END