Ada sebuah cerita yang beredar di sekolahku dulu. Katanya, ada sebuah bintang yang berkelap-kelip dengan cahaya yang terang. Jika seorang laki-laki dan perempuan melihat bintang itu bersama-sama pada malam festival sekolah, mereka akan ditakdirkan untuk bersama.

"Haruno-chan! Maaf tidak bisa menemanimu, aku ingin mencari Sasuke-kun dan mengajaknya melihat bintang itu bersama-sama,"

Saat itu aku tidak begitu peduli. Tentang cinta, laki-laki , atau cerita bodoh seperti itu. Aku memutuskan untuk berjalan menjauh dari kumpulan gadis yang membahas tentang bintang atau pangeran mereka, Uchiha Sasuke. Suara letusan kembang api dan sorakan menusuk telingaku. Aku makin menjauh saja, berusaha untuk mencari tempat tenang dimana bisa otakku beristirahat.

Hari itu aku begitu lelah. Kakiku melangkah menuju belakang sekolah namun seseorang telah berdiri di sana. Ia menoleh ke arahku bersamaan dengan satu kembang api besar yang mekar di langit sana. Dia menatapku cukup lama, sebelum kembali membalikan tubuhnya.

"Ujian kelulusan, aku tidak sabar untuk itu," ia berkata yang terdengar seperti tantangan ditelingaku. Aku bergumam menyetujui. Aku juga tidak sabar untuk hari itu, dimana dulu kupikir itu adalah pertandingan terakhir kami.

Kami terdiam cukup lama, entah hanya aku atau dia juga menikmati kembang apinya. Tapi saat kembang api itu berhenti meluncur, aku tidak tahu harus melakukan atau berkata apa. Aku dan Uchiha-kun masih berdiri menatap lurus ke depan sampai ia memintaku untuk mendongak.

Mataku seakan menipu. Aku tidak sadar jika malam itu langit begitu indah dengan bintang-bintangnya. Lalu aku melihat bintang itu, bintang yang bersinar paling cerah diantara yang lain. Aku menoleh cepat ke arah Uchiha-kun yang berdiri beberapa meter di depanku. Dia melangkah ke arahku, berhenti tepat di depanku.

"Aku melihatnya denganmu," katanya dan memberikanku satu senyuman manis sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu. Aku terdiam, semua perasaan yang kurasakan setelah melihat senyumnya tidak bisa kujelaskan. Aku mematung, tidak mengerti dan berusaha mencari jawaban untuk reaksi tubuhku.

Namun yang bisa kupikirkan adalah senyuman manis pertama yang kulihat di wajah Uchiha-kun.


Twinkle Twinkle

Naruto © Masashi Kishimoto

(Tidak ada keuntungan apapun yang saya dapatkan dalam membuat karya ini. Fanfiction ini dibuat untuk hiburan semata)

Sasuke U. & Sakura H.

(Ayahnya adalah seorang pengusaha sukses. Dia sangat tampan dan pintar, selalu mendapat perhatian semua gadis. Sejujurnya aku tidak tertarik padanya. Aku memerhatikannya karena ia adalah sainganku. Dan diujian kelulusan, dia berhasil mengalahkanku. Sekarang kami berada di sekolah yang sama, aku ingin mengalahkannya kali ini. Tapi dia berubah menjadi Uchiha pembuat masalah, yang parahnya lagi melamarku di tahun pertama kami di SMA)

Catatan : kalimat bercetak miring adalah isi pikiran tokoh/bicara dalam hati.


"Jadi apa jawabanmu?" kesadaran Sakura terlompat kaget setelah melayang ke masa lalu. Matanya menatap takut-takut laki-laki di depannya. Satu detik, ia merasa lega ketika pemuda Uchiha itu melepaskan tarikan pada dasinya. Namun detik berikutnya, Sakura merasa susah hanya untuk menarik napas. Uchiha Sasuke menatapnya tajam seperti seorang penguntit psycho yang siap menangkap korbannya (dan sialnya ia berperan sebagai korban di sini). Yang selanjutnya melintas di otak Sakura hanyalah pikiran-pikiran negatif tentang nasibnya.

Aku harus menjawab apa? Apa harus ku tolak saja? Bagaimana jika dia berbuat sesuatu yang buruk? Bagaimana kalau dia memukulku? Bagaimana kalau ia mendorongku dari lantai tiga setelah ini dan aku sekarat?!

Sakura menggigil memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang melintas di benaknya. Kemudian ia kembali tersadar, ketika sekali lagi Uchiha Sasuke menanyakan tentang jawabannya.

"Ma-maaf, Uchiha-kun.."

Sasuke menyela "Maaf?!"

Keberanian Sakura seolah tersapu angin. Namun, cepat atau lambat ia tetap harus menjawab lamaran ini. Dua-tiga detik kemudian setelah ia menimbang-nimbang jawaban yang akan ia berikan, Sakura membungkukan tubuhnya.

"Maafkan aku Uchiha-kun !" teriaknya dengan suara lantang "Tolong jaga aku!"-hiks tambahnya dengan suara bergetar karna takut. Ayah yang ada di surga, aku menerimanya karena takut hidupku akan berakhir di sini.

Uchiha Sasuke menatap gadis di depannya cukup lama. Terkejut? Entahlah. Beberpaa saat kemudian ia menepuk kepala Sakura dengan gerakan kaku.

"Baiklah.." Sasuke memalingkan wajahnya "kita kekasih sekarang," ucapnya dengan suara rendah dan serak.

Sakura memberanikan diri mendongak menatap wajah laki-laki yang baru saja ia terima lamarannya. "Tapi Uchiha-kun, kita tidak mungkin menikah tiba-tiba—maksudku.. kau pasti mengerti kita baru saja berada di tahun pertama dan…"

"…aku mengerti. Pernikahan bisa ditunda, yang terpenting kau sudah menjadi milikku," Sasuke bersiap membalikan tubuhnya meninggalkan Sakura tapi sebelum itu ia menarik kedua sudut bibirnya tersenyum sangat manis pada Sakura. "Besok, aku tunggu di jam makan siang,"

Seketika itu Sakura kembali tidak bisa mengontrol tubuhnya. Saat dimana kedua matanya kembali menangkap kurva manis yang muncul di wajah Uchiha Sasuke. Ayah, aku merasa dia tidak benar-benar berubah. Senyumnya.. itu masih sama.

Sakura sadar jika setelah ini ia takkan mendapat ketenangan yang diinginkannya. Tetapi entah mengapa, ia merasa jika kehidupannya sekolahnya yang menarik akan kembali.

….

Chapter 2 : Kekasih Uchiha Sasuke

….

"Aku lelah," Sakura menenggelamkan wajahnya di antara lipatan tangannya. Ia sedikit mengintip untuk melihat jam. Pukul sebelas malam dan tidak biasanya dirinya merasa selelah ini. Sakura terbiasa tidur sangat larut untuk belajar namun hari ini ia bahkan tidak bisa berkonsentrasi sedikitpun. Kelopak mata miliknya yang hampir tertutup terbuka dengan cepat ketika ponsel yang berada di dekatnya bergetar.

"Tidak biasanya aku mendapat telepon malam-malam begini," Sakura menatap bingung layar ponselnya. Sebuah nomor tidak dikenal menghubunginya. Sedikit ragu ia menjawab panggilan itu.

"Ha—" Sakura mendadak terdiam. Perlahan ia menurunkan ponselnya. Sambungan telepon itu berakhir dengan cepat tapi cukup sukses membuat wajahnya penuh rona merah. Itu tadi U-Uchiha-kun.

Sakura, selamat malam.

Dia menelponku untuk mengucapkan itu! Sakura kembali menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya. Ada perasaan aneh yang tidak ia mengerti. "A-apa apaan itu tadi?! Dia benar-benar serius menganggap aku kekasihnya!"

Esok paginya, Sakura bangun pagi-pagi sekali. Begitu jam menunjukan pukul enam pagi, gadis berambut merah muda itu sudah melesat untuk berangkat sekolah. Tujuannya adalah menghindari Uchiha Sasuke yang nyatanya pemuda itu kini tengah berdiri di depan rumahnya.

"Uchiha-kun ?!" Sakura langsung membekap mulutnya sendiri yang spontan berteriak ketika kedua netra hijaunya menangkap sosok Uchiha Sasuke tengah berdiri beberapa meter darinya.

"Kau bangun pagi sekali," ucapan bernada datar itu membuat tubuh Sakura lemas. Bagaimana bisa laki-laki itu berada di depan rumahnya. Ia sangat yakin jika jam di rumahnya tidak rusak. Sekarang masih pukul enam pagi dan seharusnya Uchiha itu tidak berdiri di sana.

"Maaf nona," kata Sasuke dengan suara yang sangat dalam, segera setelah ia menyadari jika Sakura tidak juga beranjak dari tempatnya. "Kita harus berangkat sekolah,"

Sakura menghela napas. "Uchiha-kun , mengapa kau menjemputku?" Sakura mengambil langkah hingga mereka kini berada di sisi yang sama. "I-Ini masih pukul enam pagi—"

"—Sebenarnya aku sudah di sini sejak sejam yang lalu," Kedua orang itu segera bertukar pandang setelah pernyataan tak terduga yang Uchiha Sasuke ucapkan. "Satu jam yang lalu?!" seru Sakura kaget.

Sasuke memalingkan diri, menyembunyikan sebagian wajahnya dari Sakura. "Aku pikir pasangan kekasih selalu berangkat bersama. Jadi karena itu aku menjemputmu,"

"Aku hanya tidak ingin terlambat," tambahnya.

Sakura tak tahu harus berbuat apa. Sesaat ia dibuat terdiam. Uchiha Sasuke yang selalu berjalan diikuti para gadis. Uchiha Sasuke yang seakan berada di sisi berbeda dengannya. Uchiha Sasuke yang selalu menjadi saingannya kini berjalan di sisinya. Sejujurnya Sakura takut. Dirinya yang selalu berjalan dalam zona aman sekarang sangat dekat dengan siswa idaman yang berubah menjadi berandalan sekolah. Dia takut terkena masalah. Namun mendengar Uchiha Sasuke berkata seperti itu padanya membuat hatinya semakin gelisah.

"Ada apa?"

Untuk sesaat Sakura tidak menjawab tapi dia segera mengembangkan senyumnya sambil menggeleng "Tidak. Tidak ada apa-apa. Ayo berangkat Uchiha-kun,"

Ayah, aku terlalu bingung. Dia berubah begitu banyak tanpa kuketahui alasannya. Namun sebagian dari diriku juga merasa dia masih sama. Ketika dia berbuat baik padaku seperti hari ini, aku merasa jahat karena telah menerima lamarannya.

Seperti yang diperkirakan, perjalanan ke sekolah agak terasa canggung untuk Sakura. Gadis itu langsung mendudukan dirinya dan mengambil satu buku untuk dibacanya. Gerbong kereta itu berisi beberapa orang namun tidak satu pun suara terdengar. Sakura berusaha memfokuskan diri pada setiap kalimat yang dibacanya, tapi duduk di samping Uchiha Sasuke membuatnya tidak tenang. Sakura penasaran mengapa Uchiha itu begitu tenang di sampingnya. Setelah beberapa saat menahan rasa ingin tahunya, Sakura menoleh bersamaan dengan kepala Sasuke yang jatuh bersender di bahunya.

Sakura mengeratkan pegangan pada bukunya. Dia melirik ke Sasuke yang tertidur menyender padanya dan tiba-tiba Sakura menyadari betapa polos laki-laki ini saat ia tertidur. Wajahnya tampan dengan kulit putih susu yang mengejutkan. Beberapa luka gores dan lebam masih terlihat jelas di beberapa bagian. Sakura terlalu sibuk mengamati tidak terganggu dengan kereta yang bergoyang keras beberapa kali atau suara decitan besi di bawah gerbong.

"U-Uchiha-kun," Sasuke membuka mata setelahnya. Memijat kecil pangkal hidungnya sebelum menoleh ke Sakura. "Maaf, sepertinya aku kurang tidur,"

Kereta berhenti. Sakura buru-buru mengeluarkan sesuatu dari tasnya. "Saat aku melihat luka di keningmu, aku teringat membawa beberapa plester luka," Yang Sakura lakukan setelahnya adalah menempelkan plester luka yang dibawanya ke kening Sasuke. "A-Aku duluan Uchiha-kun!"

Sasuke segera beranjak menyusul Sakura namun berhenti dan membiarkan Sakura berlari , semakin jauh. Sasuke menyentuh keningnya. "Twinkle , twinkle , little star. How I wonder what you are," Sasuke berjalan diiringi nyanyian kecil bernada rendah yang ia nyanyikan. Sebuah lagu yang membuatnya mengingat masa lalu.

Sakura mendudukan dirinya di samping kotak bekal yang tak berniat dibukanya. Kedua netra hijau itu sibuk membaca tiap kalimat dari buku bersampul hijau itu.

"Kalau kau tak berniat memakannya, berikan padaku saja,"

"KYA!" Sakura berteriak histeris. Gadis itu sama sekali tidak menyadari kehadiran pemuda itu. Buru-buru ia menoleh ke sekelilingnya seperti orang bodoh. Dari mana dia datang?!

Sasuke memandang Sakura dengan pandangan datar. Pemuda Uchiha itu membuka kotak bekal Sakura tanpa menunggu ijin dari pemiliknya. Sakura terdiam. Membiarkan kekasihnya menyibukan diri dengan bekal makan siang yang gadis itu bawa.

"Kenapa?" Sakura langsung bergidik. Perlahan menggeser posisinya lebih jauh dari Sasuke. Adalah salah satu hal menakutkan ketika Uchiha Sasuke mulai memakan bekal makan siang sambil menatap dirinya tajam. Setidaknya itu yang Sakura rasakan. Satu gerakan, dan kini sebuah telur gulung terarah di depan bibirnya. "Makan," Sasuke memerintahkan dengan suara yang begitu datar.

Sakura membuka mulutnya, menerima telur gulung itu dan menelannya hanya setelah dua kali kunyahan. Aku takut. Aku takut. Aku takut! Sakura merasakan kakinya lemas dan terasa dingin. Lalu perhatiannya tearah kepada Sasuke yang tertangkap basah mendengus geli.

"Uchiha-kun ?"

Ekspresinya kembali datar tapi Sakura bisa melihat ada kilatan emosi di kedua mata hitam pemuda itu. "Maaf, kau tadi mengeluarkan ekspresi konyol,"

Wajah Sakura sontak memerah. Gadis itu segera menggeser posisinya lebih jauh. "Ja-Jangan melihatku!" soraknya sebal. Sakura menggulir pupilnya ke arah Sasuke, yang masih menatapnya lekat sembari bergeser lebih dekat padanya.

"Uchiha-kun ! Tolong jangan pukul aku! Maaf, maaf, maaf"

Mata Sasuke melebar untuk beberapa detik. Reaksi Sasuke berikutnya adalah menutup bibirnya dengan punggung tangan, menyembunyikan dengusan geli yang tidak bisa ditahannya.

"Jadi, selama ini kau takut aku pukul?" tanya Sasuke dengan nada rendah.

Sakura mendongak dan mendapati Sasuke telah berdiri di depannya. "Sejujurnya, aku takut. Kau tahu sendiri berita yang menyebar tiap harinya di sekolah,"

"Plok!" Sasuke memukul kepala Sakura dengan sumpit. "Aku tidak akan memukul seseorang tanpa alasan," Sakura masih tak bergeming ketika Sasuke sudah beranjak meninggalkannya.

"Lalu.. Lalu kenapa kau memukul senpai-senpai itu? Bukankah lebih baik kau tetap menjadi Uchiha Sasuke yang dulu. Tidak peduli dengan sekitar dan tidak mau mencari masalah?!" Sakura meremas roknya, menyadari bahwa ia telah bicara terlalu banyak.

Sasuke berbalik. Meletakan jari telunjuknya di depan bibir. "Rahasia," ia menjawab kemudian melanjutkan langkahnya.

Aku benar-benar tidak mengerti. Ayah, apa yang harus aku lakukan?

Hujan turun begitu deras secara tiba-tiba. Sakura dengan segera membuka payung berwarna kuningnya. Pelan-pelan gadis itu berjalan menuju stasiun. Beberapa orang lupa membawa payung dan berlarian mencari tempat teduh. Beberapa laki-laki berpakaian seragam berdiri membentuk kelompok, entah apa yang sedang mereka lakukan di tengah hujan tanpa payung. Yang Sakura pikirkan adalah bagaimana cara dia lewat jika para pemuda itu menghalangi. Mengumpulkan keberaniannya Sakura mendekati mereka.

"Maaf, bisakah kalian menepi sebentar?"

Alis salah satu orang di sana berkedut "Kau memerintahku?!" tanyanya marah.

"Ti-Tidak. Bukan begitu. Aku hanya ingin lewat," Sakura bergerak mundur perlahan ketika pemuda di depannya melangkah maju mendekat.

Satu sentakan keras yang datang tiba-tiba, pemuda itu jatuh tersungkur setelah menerima tendangan. "Sudah kubilang jangan mencoba mengganggunya," Sasuke berujar dingin. Pemuda jangkung yang tengah berusaha berdiri itu mendesis. "Kau masih ingin dipukuli ternyata,"

Sakura tidak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi selanjutnya. Saat dirinya membuka mata, ia telah mendapati Sasuke tersungkur dan dipukuli beramai-ramai.

"Hentikan!" Sakura berteriak. "Kumohon hentikan!" namun tidak satupun dari mereka menghentikannya. "Hentikan atau aku akan menelpon polisi!" Dengan tangan bergetar Sakura mengangkat ponselnya.

Kumpulan pemuda itu berhenti. Berdecih sebelum melepaskan Sasuke. "Aku baru saja selesai menjalani hukuman. Jika Ayahku tahu, aku benar-benar akan dikeluarkan dari sekolah,"

"Ayo pergi!"

Sakura mendekati Sasuke yang bersusah payah bangkit mendudukan dirinya. Darah yang mengalir di pelipisnya bercampur dengan air hujan yang menghujamnya. Sakura berlutut di depan pemuda Uchiha itu. Sakura memindahkan payungnya, memayungi Sasuke dan membiarkan dirinya sendiri dihantam hujan.

Gadis itu menunduk dalam. Bahunya bergetar menahan tangis. "Hei kau basah," Sasuke mengambil alih payung kuning itu dan memayungi Sakura yang menangis di depannya.

"Aku takut. Aku takut sekali," isakannya semakin keras. "Maaf.. maaf.. semuanya karena aku tapi aku tidak tahu harus berbuat apa,"

Sasuke berdiri kemudian menuntun Sakura untuk berdiri juga. Sasuke menarik tangan Sakura dan menggenggamnya. "Ayo pulang, Sakura,"

Ayah.. aku begitu takut padanya tapi hari ini dia membahayakan dirinya untuk melindungiku. Tangannya yang besar dan dingin menggenggam tanganku begitu erat. Aku mulai percaya jika dia serius untuk menjagaku, Ayah.

Ayah.. aku telah menjadi kekasihnya. Aku kekasih Uchiha Sasuke.

Bersambung.


Oke, pertama-tama saya mau meminta maaf untuk semuanya karena terlalu lama melanjutkan ff ini. Saya juga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada pembaca. Sejujurnya, saya terkejut akan respon yang didapat ff ini. Saya benar-benar tidak menduganya. Terima kasih banyak, saya benar-benar berterima kasih.

'Mengapa Sasuke berubah? Masalah keluarga 'kah?' mungkin itu pertanyaan sebagian besar pembaca yang meninggalkan reviewnya. Jawaban akan pertanyaan itu akan muncul di chapter-chapter berikutnya, teheehe~:p

Untuk chapter ini, entah kenapa saya sangat berniat membuat penuh dengan interaksi mereka berdua tanpa membahas alasan Sasuke berubah atau melamar Sakura. Saya punya keinginan untuk memunculkan alasannya ditengah-tengah cerita setelah hubungan mereka benar-benar dekat.

Tentang perasaan Sakura di sini, eumm.. Sakura di sini saya gambarkan sebagai gadis yang benar-benar pintar dan ambisius tapi di sisi lain sangat polos. Dia terlalu lugu untuk mengetahui apa yang dia rasakan.

Lalu Sasuke, saya tidak bisa membahas banyak tentang yang dirasakan Sasuke atau semua tentang dia di ff ini. Karena Sasukelah kunci terbesar misteri/? Terbesar di ff ini 'kan? Wkkwkwk

Orang ketiga? Untuk orang ketiga akan datang dari pihak Sasuke atau Sakura? Sai kah orang ketiganya? Saya belum mau jawab hehe. Tapi akan muncul satu karakter lagi untuk hal ini di chapter selanjutnya.

Terakhir, tentang judul. Judulnya saya ambil dari hal yang berhubungan dengan pertemuan pertama mereka, juga tentang perasaan keduanya. khususnya Sasuke^^

Okay yeay! Terima kasih atas respon tak terduga untuk FF ini. Untuk FF lainnya yang belum sempat saya lanjutkan, saya benar-benar minta maaf. Sekali lagi terima kasih dan berkenankah untuk meninggalkan review? :)