My Beloved Rival
Chapter 2
note: Dedicated to semuanya yang udah sabar nunggu ini pake lama banget. +important note in the end of the story.
Enjoy!
.
.
.
Siapa yang tidak tau Sekai Corporation? Sekai yang berarti dunia—dalam bahasa Jepang adalah perusahaan terbesar kedua di dunia menurut majalah New York Times. Bertempat di Seoul, Korea Selatan, Sekai Corporation—atau biasa disingkat SeCorp—itu termasuk perusahaan yang friendly dari segi karyawannya. Walaupun begitu, jika sudah menyangkut dengan pekerjaan, mereka bisa menjadi serigala yang gila akan mangsa buruan. Jika kau tak sanggup, kau akan langsung di kick out dari perusahaan, suka tidak suka.
Perusahaan Serigala—mereka menyebutnya.
Namun bagi Sehun, SeCorp adalah perusahaan yang cocok untuknya. Kau gila pekerjaan? mungkin kau sejenis dengan tokoh utama kita yang satu ini.
Dan disinilah pemuda itu sekarang. Duduk dengan rambut acak-acakan di dalam ruang kerjanya. Tangan menggenggam bolpoin seharga sepasang sepatu sport dengan CR7 sebagai ambassnya. Kepalanya pusing bukan main.
Sebenarnya masalahnya sepele, ia lupa dimana ia terakhir kali menaruh ponselnya. Tapi, jika di dalam ponsel itu tidak ada sesuatu yang berhubungan dengan client perusahaannya; ia tidak akan peduli juga kalau ponselnya hilang ataupun dijambret.
"Sudah kubilang, hati-hati menaruh ponsel. Sekarang lihat kan?"
Minseok, asisten sekaligus kekasih kakaknya itu menaruh segelas teh hangat dan sebutir aspirin di mejanya. "Jangan lupa besok kau ada meeting dengan Mr. Takeda. Dia client penting."
"Aku tau, hyung!" Sehun mengetuk-ngetukkan moncong bolpoinnya di lembar notebooknya yang masih kosong. "Makanya aku sedang mengingat-ingat dimana tempat yang kemungkinan ponselku tertinggal."
"Bar Chanyeol?" Minseok kini duduk dihadapan Sehun.
Sehun menggeleng. "Chanyeol pasti akan menghubungiku jika aku meninggalkan ponsel."
"Apa kemarin malam kau one night stand?"
Tiba-tiba Sehun terdiam. Minseok menunggu jawaban. Ingatannya kembali terkumpul. Tempat yang ia kunjungi terakhir kali adalah apartemen Jongin. Disitu pula ia 'membuka baju' dan satu-satunya tersangka memang Jongin.
"Shit."
"Bagaimana? Apa kau ingat?"
Lelaki dengan surai honey brown itu mengangguk. "Aku ingat, tapi aku tidak tau bagaimana cara menghubungi orang itu dan aku tidak ingin menghubungi orang itu, juga."
"Wendy?" Minseok menerka-nerka.
"Bukan," Sehun menggeleng. Mana mungkin ia berhubungan lagi dengan wanita yang sudah mencampakkannya begitu. "Namanya Kim Jongin."
"Pria?" Alis tebal milik Minseok berkerut. Setaunya walaupun bukan homopobik; Sehun itu masih tetap straight. "Aku seperti familiar dengan namanya tapi siapa ya?" Minseok berdiri dan mengambil beberapa berkas yang sudah ditanda tangani oleh Sehun. "Oh ya, hari ini Direktur utama akan memperkenalkan anaknya pada kita."
"Anaknya?" Kali ini alis Sehunlah yang berkerut bingung. "Untuk apa?"
"Menggantikannya mungkin? Entah." Minseok melangkah menuju pintu. "Kudengar dari anak-anak, dia sudah mau pensiun." tambahnya lagi. "Jadi, sebagai asisten yang baik dan menjadi tempat keluh kesah karyawan di sini karena kejudesanmu, berbaik hatilah pada anak direktur utama."
Blam.
Pintu ditutup, menyisakan Sehun yang menahan protes akan kalimat sindiran Minseok.
Tapi, lagi-lagi ia berfikir. Setaunya anak direktur itu masih seumuran dengannya dan tinggal di California melanjutkan studi. Kenapa harus meninggalkan California demi meneruskan perusahaan? Memang sih—siapa yang tidak mau menjadi direktur utama perusahaan terbesar kedua di dunia?
Sehun menghela nafas panjang. Ia menjatuhkan kepalanya di atas meja. Kehilangan pacar tidak akan bisa mengalahkan frustasi Sehun jika ia kehilangan ponsel.
Tok. Tok. Tok.
"Sehun-sshi, seluruh karyawan diminta berkumpul di lobby utama sekarang juga."
Dengan amat terpaksa, ia beranjak dan keluar dari ruangannya menuju lobby utama dimana sekarang seluruh karyawan berkumpul mengelilingi sesuatu.
"Sehun!" Minseok menarik lengan Sehun agar pemuda acak-acakan itu berdiri tak jauh darinya.
(Fyi, penampilan acak-acakan Sehun sudah bukan hal yang luar biasa lagi bagi karyawan SeCorp.)
Sehun tak menolak, ia berdiri di sebelah calon kakak iparnya itu dan menegakkan badannya. Sebenarnya ia tidak peduli dengan hal seperti ini—tapi sebagai kaki tangan yang baik bagi Direktur, ia terpaksa.
"Minna-san*—ah maaf, aku terbawa suasana Jepang." Direktur utama sekaligus owner SeCorp tersenyum lembut dengan khasnya. "Perkenalkan, ini anak saya yang mungkin dalam waktu dekat akan menggantikan saya di perusahaan ini. Semoga kalian bisa bekerja baik dengannya."
Mata Sehun yang awalnya hampir terpejam kini membulat sepenuhnya. Rahang bawahnya terjatuh; ia berkali-kali mengucek kedua irisnya yang kini diragukan kefokusannya.
Ia tidak salah lihat kalau yang sedang diperkenalkan Direktur Utama itu Kim Jongin kan?
. . .
"Double wow, Hun. Kalau bisa triple wow." Minseok menepuk tangannya dengan nada monoton. "Apakah aku perlu kayang juga karena—damn, ternyata Kim Jongin yang kau bilang itu ternyata yang 'itu'?"
Perkataan Minseok malah menambah pening di kepalanya. "Hyung, bicaralah yang benar."
Lelaki yang lebih tua tertawa. "You got balls, man. Tidur dengan anak bossmu. Aku tidak bisa berhenti menertawakanmu."
"Tertawa sesuka hatimu sajalah, hyung." Sehun memutar bola matanya kesal. Ia tidak pernah berharap kalau anak dari boss nya itu adalah rivalnya—ditambah lelaki itu adalah lelaki yang kemarin malam menyetubuhinya.
"Luhan harus tau ini."
Kedua bola mata Sehun membulat. "Tidak! Jangan! Luhan tidak boleh tau. Seokkie hyung, kumohon—jangan beritahu Gege."
"Kenapa?" Alis Minseok mengkerut bingung.
"Karena kalau Luhan tau—"
Belum selesai Sehun berbicara, pintu ruang kerjanya terbuka. Menampilkan seorang lelaki yang tidak pernah mau ia temui selama ini, sekaligus lelaki yang (sebenarnya Sehun tidak mau mengakuinya) akan menjadi bossnya nanti.
"Eh? Apakah aku mengganggu?" Jongin memberikan senyum (sok) polos seperti tak punya salah sama sekali.
Minseok berdiri, pamit dan mengedipkan sebelah matanya pada Sehun yang kini memasang wajah campur aduk.
Tanpa dipersilahkan, lelaki berkulit tan itu duduk di sofa yang bersebrangan dengan Sehun. "Apa kabar bokongmu? Masih sakit?"
"Fuck off. Keluar dari ruanganku sekarang."
"O-oh, eksekutif muda kita mengancam anak bossnya." Jongin bersuara dengan nada menjijikkan membuat Sehun bersiap-siap ingin muntah. Sedetik kemudian ia menyeringai. "Apa aku tidak boleh masuk ruangan bawahanku sendiri?"
Sehun menggeram benci. "Dan kembalikan ponselku."
Seringaian Jongin makin mengembang. "Ponsel?" Ia suka melihat wajah mengancam Sehun yang tidak berubah dari dulu. "Apa yang akan kudapatkan jika aku mengembalikan ponsel itu?"
Hampir. Hampir saja Sehun akan melayangkan tinju kalau ia tidak ingat kalau Jongin adalah anak boss yang ia hormati. Jongin menyamankan duduknya. Ia mengangkat satu kakinya dan menatap Sehun dengan tatapan menelanjanginya.
"Katakan. Apa yang akan aku dapatkan jika aku mengembalikan ponsel dengan home screen wajahmu bersama sosialita bernama Wendy itu."
Jangan pernah membangunkan singa yang sedang tidur, begitu kata pepatah. Tetapi hal itu tidak berlaku bagi Jongin. Singa bangun—maksudnya adalah Sehun yang penuh amarah—adalah pemandangan favoritnya selain Sehun yang telanjang bulat.
Tangan Sehun sudah mengerat di kerah Jongin. Kakinya mengapit kedua kaki Jongin yang tak sedikitpun merubah ekspresinya.
"Kembalikan. Ponselku. Sekarang. Juga." Kata perkata penuh penekanan. Tidak ada yang tau kalau ia pernah mempunyai hubungan dengan sosialita yang sudah mencampakkannya itu; kecuali Minseok dan Abangnya.
"Jadi, kau kemarin minum-minum karena dicampakkan oleh gadis ingusan? Perlukah aku mengganti eksekutif muda perusahaan ini. Bahkan ia meninggalkan ponselnya begitu saja."
Sehun benar-benar naik pitam. "Watch your language, asshole!"
"Mirror on the wall." Tangan Jongin yang tadinya menyilang di depan dada sekarang merangkul pinggang Sehun. Ia mendudukkan bokong seksi itu di atas pahanya. "Kau mencoba untuk menggodaku dengan cara seperti ini? Boleh juga."
Merasa bahaya, Sehun memberontak. Ia masih setia mencengkram kerah kemeja Jongin. Insting liarnya menyalakan sirine waspada tingkat tinggi; tangan Jongin sudah merambah ke bagian lain selain pinggangnya.
"Ya! Berhen—umph."
Sehun menggigit bibir bawahnya saat tulang lunak nan basah menjilati lehernya. Tak berhenti, menikmati kulit mulus di bawah jilatannya, Jongin tergoda untuk menorehkan tanda lagi. Lebih banyak, kalau bisa ia ingin menandai dari ujung kepala hingga kaki.
"S-sialan.. stop it—ah! You bastard." Tangan yang awalnya mencengkram kerah kini mengendur, menahan Jongin yang mulai membuka ikat pinggangnya.
Jongin mendekatkan bibirnya ke telinga Sehun yang kini terengah. Menggigitnya dan kembali menjilatinya. Nafas beratnya menghembus masuk ke dalam indra pendengaran Sehun.
"Should we continue it now?"
Baru saja Jongin berniat menurunkan kain yang menutupi kebanggan Sehun, sebuah ketukan pada pintu terdengar. Jongin memutar bola matanya sementara Sehun tidak tau harus bersyukur atau memeluk orang yang mengetuk terlebih dahulu.
Minseok masuk. "Maaf mengganggu tapi—Sehun, Ada seorang client ingin bertemu dan sudah menunggu dibawah." Bisa dilihat Minseok sebisa mungkin menahan tawanya ketika melihat Sehun yang sedang membetulkan celananya.
Jongin berdiri, diam-diam ia menepuk pelan bokong kencang Sehun dan melewati sang eksekutif begitu saja. Saat melewati Minseok, ia melemparkan senyum.
"Cepat rapihkan pakaianmu, dan ah—" Minseok mendekati Sehun dan menunjuk kissmark; fresh from the oven. "Apa kau bawa syal? Client kita tidak meminta untuk melihat bercak ini. Mengerti?"
Sehun menggerutu dan menyumpah-serapahi Kim Jongin.
. . .
Sehun baru saja akan pulang saat sang surya sudah turun dua belas jam yang lalu.
Sebagai seorang yang gila bekerja; hal seperti itu adalah hal yang sangat biasa bagi Sehun. Bahkan ia rela tidur di kantor demi menyelesaikan pekerjaannya. Bukan untuk kejar setoran tapi karena ia memang mau. Ditambah lagi, ia tidak perlu terkena padatnya jalanan Seoul saat jam pulang kerja.
Apartemennya biasa, tidak semewah apartemen seorang eksekutif yang mampu mengantongi gaji 50 juta won perbulan. Satu kamar tidur dengan dapur yang terbuka langsung ke ruang tamu sudah cukup baginya.
Bukan tanpa alasan Sehun memilih apartemen yang bisa tergolong tidak mewah sama sekali. Terlalu pahit meninggalkan tempat tinggalnya selama dua puluh tahun hidupnya.
Setelah menyelesaikan acara membersihkan dirinya, ia menyeduh air panas untuk kopi tengah malamnya sampai ada yang memencet bel.
Sehun melirik jam dinding. Siapa orang gila yang akan bertamu pada dini hari?
TING TONG
Terpaksa, Sehun meninggalkan kegiatannya dan berjalan menuju pintu—masih dengan handuk melingkar di lehernya.
Seseorang dengan senyum konyolnya yang tidak berubah sudah berdiri dengan tubuh kedinginan dihadapan Sehun. "Hai." Sebuah kalimat yang menurut Sehun sangat bodoh terlontar dari bibir tebalnya.
BLAM
Tanpa berkata apa-apa, Sehun langsung menutup—lebih tepatnya membanting—sang pintu tak berdosa.
"Ya! Oh Sehun, buka pintunya!"
"Pulang sana. Aku tidak menerima sampah."
"Buka atau aku akan berteriak."
"Memangnya aku pedu—"
"OH SEHUN BUKA PINTUNYA! OH SEHUN TEGA! OH SEHUN MAU MEMBUNUH—"
Empat siku imajiner muncul dikening Sehun. Sialan. Ia membuka pintu apartemennya dengan raut wajah campur aduk. "Kau bisa membuat tetangga salah paham!"
"Jadi aku diperbolehkan masuk nih?"
"Apa aku perlu merubah pikiranku?"
Jongin langsung loncat masuk ke dalam apartemen sederhana milik Sehun. Wajahnya sumringah seperti orang tolol (menurut Sehun). Tanpa dipersilahkan Jongin duduk di atas sofa tidak empuk milik Sehun yang menghadap televisi.
"Ini sofa apa papan triplek?"
"Banyak komplain. Pulang sana."
Mulut Jongin langsung bungkam. Sepertinya lelaki manis yang kini sedang menyeduh kopinya sedang dalam mood tidak bagus. Atau memang Sehun selalu seperti itu?
"Kau bukan tamu yang kuundang jadi aku tidak menyediakan apa-apa."
Lagi-lagi Jongin tersenyum tolol. "Oh, kau menyediakan dirimu saja aku tidak akan menolak."
"Mati sana." Sehun mengusak rambutnya yang masih basah. Ia duduk di sofa yang berbeda. Memberikan space jauh. Tak peduli, ia menyalakan televisi dan memasang channel berita.
"Berita?" Jongin mengangkat sebelah alisnya. "Oh ayolah. Kau sudah berapa lama duduk di kantor dan sekarang juga kau menonton berita? Monoton sekali."
Sehun tak menggubris sama sekali dan hanyut dalam berita yang ia tonton.
Jongin beranjak dari duduknya dan berdiri tepat di hadapan Sehun. "Kau harus bersenang-senang sedikit~"
"Mau apa kau?"
"Menurutmu aku sengaja mencari apartemenmu untuk apa?"
Gerakan Jongin begitu cepat. Sehun bahkan tidak sadar sejak kapan ia sudah berada di pundak Jongin. Segelas kopi yang sedang ia minum tersimpan rapih diatas meja kecil disebelah sofa.
Sehun berontak sekuat tenaga, namun sepertinya Jongin sudah terlatih. Berada di california bertahun-tahun tidak Jongin sia-siakan untuk workout.
Tubuh ringan Sehun dihempaskan dengan gampang. Tak banyak bicara, Jongin duduk diatas perut sang bawahan.
"Kita belum selesai tadi siang, 'kan?"
Jampi-jampi apa yang lelaki itu gunakan sampai-sampai membuat Sehun diam tak berkutik hanya dengan melihat langsung ke relung iris sewarna arang tersebut? Kenapa sifat lemah semasa SMA nya masih terbawa sampai sekarang?
Sehun tidak mengerti.
Dan tidak pernah bisa mengerti.
.
.
To Be Continue
.
.
Sebelumnya gue minta maaf teramat besar karena fanfic ini udah kayak anak buangan aka gak dilanjut-lanjutin. tapi akhirnya terlanjutkan juga. gaje ya?... hehe muuv, lagi dalam kondisi kurang fit. :( /abaikan.
Daaan, seperti apa yang gue bilang diatas, gue bakalan adain voting. Jadi, gunakan suara kalian dan bantuin gue hwhw ;;v;;
Q1: Lebih baik ini Mpreg atau tidak?
Q2: Apa kalian mau ada bumbu-bumbu BDSM?
Q3: Sehun bebal / Sehun tsundere?
( *tsundere: sifat yang selalu menunjukkan kebencian terhadap pasangannya, tetapi di satu sisi dia mencintainya dengan tulus. Ya kayak mau-mau tapi malu gak mau ngakuin gitu deh. he he. )
Buat yang nanya atau berharap ini SeKe, gue mohon maaf. MBR fix /apadeh/ bottom!Sehun. Gue belom siap aja sehun qtpie jadi seme /apadeh lu ah/.
sebenernya Q3 itu cuma buat refrensi doang sih(?). Jadi, tolong ya divoting! Buat yang mau ngasih saran dan masukan juga boleh, kok. Sankyu gaez! Kutunggu votingmu. tsah mantap.
.
POJOKAN REVIEW
Terima kasih banget buat yang udah favourite; follow; dan baca fanfic ini sampe ludes. Terima kasih double buat yang udah ninggalin jejak.
julihrc - cici fu - Zelobysehuna - fernandafeby - whirlwind27 - YoungChanBiased - JongOdult - nin nina - sehunskai - BibiGembalaSapi - Tikha Semuel RyeoLhyun - myhunie - milkteamilk - sayangsemuamembersuju - citrarois - daddykaimommysehun - sexkai - niedhaedhogawa - levy. c. fiverz - izz. sweetcity - SaranghaeExoFams - ohhhrika - kaihunbaby - Shouraichi Rein - choi fai fai - Lulu Auren - xxx - Guest - bee - Shei - miyuk - xiaorita. oktavia - 3D. W. Cokroleksono - dia. luhane - kireimozaku - KT CB - Kaihunnie - irma arale - Nagisa Kitagawa - sukha1312 - xxehun - sehunsdeer - Mrs. EvilGameGyu - mrblackJ - kaysaiko - bellasung21 - powpow - isha. djongup - xxxx - KaiHunSide - GaemGyu92 - Name Kiya - Guest #2 - dae - Nona Oh - aliyya - - HamsterXiumin - sehun semoq - kaishixun - Ath Sehunnie - darkshad - coffe latte - HanbiJung - Yessi94esy.
Apa ada yang belum tersebut?
peluk dan cium. —kimeanly / touscwan on twitter.
