Title : Calm New Born…? Don't Think So [Sequel to Bonded By Blood]
Author : Kim Sun Ri
Genre : Romance, Fantasy
Rating : T
Length : Oneshot
Disclaimer : This fict is mine, but the casts aren't
Warning : Yaoi, BoyXBoy, BL, AU, OOC(?)
Pairing : Eunhae/HyukHae(Seme!Hyuk, Uke!Hae), Slight!Kyumin
.
Don't Like Don't Read!
A/N : I got this annoying plot bunny in my head, and decided to make a sequel.
Enjoy!
.
.:Calm New Born? Don't Think So:.
.
Author's POV
"Mmmnn…"
Hyukjae akhirnya menarik mundur dari ceruk leher Donghae, membiarkan taringnya keluar dari kulit pucat itu. Kemudian ia menjilati bekas luka gigitan yang ia tinggalkan perlahan, hingga luka itu menutup sempurna. Ia kembali duduk tegap, menahan tawa kecil saat melihat kondisi Donghae yang seolah mabuk dan linglung.
"Hae," panggilnya sambil menepuk pelan bahu Donghae.
"Hmm?" jawab Donghae, matanya masih menatap kearah udara dengan linglung.
"Kau sadar aku sudah berhenti meminum darahmu kan?" tanya Hyukjae dengan nada cukup kagum, akhirnya tertawa pelan.
"Ah… Oh?" Donghae akhirnya tersadar dari lamunan singkatnya.
Ia menggeleng sesaat sebelum berkedip dengan polosnya, menoleh kearah Hyukjae yang kini tengah tertawa gemas melihat ekspresi kekasihnya itu. Donghae langsung memasang wajah merajuknya.
"Aku tidak tau rasanya seperti itu. Apa itu yang kau rasakan setiap aku menghisap darahmu?"
Hyukjae menahan tawanya. "Kurang lebih begitu? Daripada itu, aku masih agak bingung, Hae."
Donghae memiringkan kepalanya sedikit. "Apa?"
"Hmm… Kenapa aku masih bisa menghisap darahmu? Kukira vampire tidak memiliki darah."
Donghae menaikkan sebelah alisnya, kemudian seolah teringat sesuatu, ia menepuk kepalan tangannya ke telapak tangan yang satunya.
"Ah, aku lupa. Coba letakkan telapak tanganmu ke tempat jantungmu," perintah Donghae, meletakkan telapak tangannya sendiri ke dada kanannya.
"Donghae, jantung berada di dada kiri."
"Oh maaf."
Hyukjae tertawa pelan, melihat Donghae memindahkan letak telapaknya. Ia mengikuti gestur Donghae dan meletakkan telapak tangannya di dada kirinya sendiri. Ia cukup terkejut saat merasakan desiran halus.
"Kau bisa merasakannya?" tanya Donghae.
Hyukjae mengangguk, memejamkan matanya sesaat untuk lebih merasakannya. "… Aneh. Apa ini karena aku baru berubah?"
Donghae menggeleng. "Bukan, tapi karena memang vampire pun memiliki jantung dan darah. Meski detakan itu amat pelan dan lambat, hingga tak terasa oleh manusia biasa."
"Tapi rasanya biasa saja. Mungkin memang agak lebih lambat…"
"Itu karena sekarang kau memiliki indra perasa seorang vampire, Hyukkie. Kau lupa?"
"Ah, aku mengerti," Hyukjae berhenti sejenak, membuka matanya untuk menatap Donghae dengan sendu. "Kalau begitu, apa ini artinya kau berbohong padaku sebelumnya?"
Donghae terlihat terkejut dengan pertanyaan itu. Namun ia tidak sanggup berkata-kata ataupun membalasnya. Ia hanya menunduk terdiam. Hyukjae yang melihatnya jadi tidak tega juga. Ia menghampiri kekasihnya itu dan memeluknya, mengangkat wajahnya untuk menatapnya.
"Hei, sudah, tidak apa. Jangan memasang wajah seperti itu. Harusnya kan aku yang sedih, tapi mengapa malah kau yang seperti ini?" gurau Hyukjae mencoba mencerahkan suasana.
"… Habisnya aku… mianhae, Hyukkie…" ujar Donghae menyesal.
Hyukjae tersenyum, mengusap rambut Donghae dengan lembut. "Sudah, tak apa. Kau pasti punya alasanmu sendiri…" ujarnya menenangkan.
"Kau berkata begitu karena senang sekarang sudah terlanjur seperti ini dan kau mendapat apa yang kau mau bukan…?" gumam Donghae yang wajahnya kini terbenam di dada Hyukjae. Hyukjae terkekeh membayangkan renggutan yang ia tau kini terulas di bibir Donghae, mengangguk sedikit.
"Aish, sudahlah…" Hyukjae kembali mendengar gumaman Donghae, tapi kali ini ia cukup yakin sang vampire brunette sedang tersenyum.
.
.
.:Calm New Born? Don't Think So:.
.
.
"Ngomong-ngomong, Hyukkie?"
"Hmmm?" balas Hyukjae sambil memilin-milin helaian rambut brunette Donghae.
Keduanya kini sedang duduk diatas ranjang Hyukjae. Dengan posisi Hyukjae bersandar pada headrest, sementara Donghae duduk diantara kedua kakinya, kedua tangannya memeluk kekasihnya itu dari belakang, Donghae bersandar padanya.
"Mmm… Apakah kau keberatan jika aku… mengenalkanmu pada keluargaku?" gumam Donghae, terdengar agak ragu.
Hyukjae menaikkan alisnya. "Kau punya keluarga? Kau tak pernah menceritakannya padaku sebelumnya."
Donghae mengangguk. "Sebenarnya bukan keluarga asli… Hanya saja… mmm… Bagaimana aku mengatakannya? Ng, kelompokku?"
"Ah, maksudmu vampire lain yang tinggal di satu tempat besar seperti sebuah klan?" tanya Hyukjae, menyimpulkan dari film-film yang selama ini ia tonton.
"Kurang lebih begitu," jawab Donghae dengan senyuman kecil. "Mereka semua teman-teman yang sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri. Sebelum bertemu denganmupun aku tinggal bersama mereka, dan hingga sekarang aku masih sesekali pulang kesana. Aku sangat menyayangi mereka," jelas Donghae dengan antusiasme anak kecil yang manis.
Hyukjae terkekeh. "Haruskah aku merasa cemburu?" tanyanya bergurau.
Donghae tidak menjawab, hanya menggembungkan pipinya membuat Hyukjae kembali tertawa dan mencubitnya pelan. "Arrasseo. Aku akan bertemu dengan mereka bila itu maumu," putusnya.
.
.
.:Calm New Born? Don't Think So:.
.
.
"Jadi… Ada di mana tempat keluargamu itu?" tanya Hyukjae sambil memakai sepatunya.
"Tidak jauh, mungkin sekitar tiga ratus kilometer dari sini," jawab Donghae ringan.
Hyukjae terbelalak. "Dan kau bilang itu tidak jauh?"
Donghae tersenyum santai. "Tentu. Mungkin hanya lima belas atau dua puluh menit jika berlari."
Hyukjae sama sekali tidak terlihat tenang. Apalagi ketika Donghae keluar dari apartemennya melalui jendela. Perlu diingatkan, Hyukjae tinggal di lantai tujuh. Ia melongok dari atas, melihat Donghae sudah mendarat dengan sempurna di bawah. Donghae mendongak dan tersenyum, seolah menunggu Hyukjae untuk ikut melompat turun.
Kau pasti bercanda.
Pikir Hyukjae dalam benaknya.
Tidak, aku tidak bercanda. Melompatlah, Hyukkie.
Matanya terbelalak saat ia mendengar pikiran Donghae melintas melalui benaknya.
Kita bisa berbicara melalui pikiran?
Tanya Hyukjae takjub.
Oh wow rupanya kau juga bisa membaca pikiran. Tidak semua vampire dapat melakukannya, itu salah satu kemampuan khusus.
Jawab Donghae dengan sedikit nada keterkejutan yang sama.
Sudahlah, tenang saja dan melompatlah turun. Kau pasti bisa. Konsentrasi saja pada gerak tubuhmu, terutama kedua kakimu.
Sambung Donghae lagi melalui benaknya, melemparkan seulas senyuman angelic kearah Hyukjae. Seolah ia tidak baru saja mengatakan bahwa melompat dari lantai tujuh sama sekali bukan sesuatu yang sulit (karena memang sepertinya itu mudah baginya). Hyukjae meneguk ludahnya, dan melonggarkan kerah bajunya yang entah kenapa terasa lebih sesak.
Here goes nothing.
*tap!*
Hyukjae melompat bebas ke udara, matanya terpejam untuk sesaat. Kemudian ia merasakan angin menerpa tubuhnya, dan matanya perlahan kembali terbuka. Seolah gerakan lambat, ia merasa terjun jatuh dengan kecepatan yang cukup lambat.
Ia melihat kearah sekelilingnya sesaat. Semua dapat terlhat dengan jelas dan detail. Ia dapat pula merasakan setiap semilir angin kecil yang melalui tubuhnya. Dan saat semilir angin melalui tiap helaian rambutnya yang kini berwarna merah, ia tersenyum dan memutuskan bahwa ia sangat menyukai perasaan tersebut.
*tep…!*
Hyukjae mendarat dengan begitu mulus dan anggun, kaki kanannya lebih dulu memijak tanah dalam posisi yang agak berjinjit, kemudian disusul kaki kirinya. Ia tersenyum sebelum menoleh untuk menatap Donghae yang kini menatapnya dengan mulut sedikit terbuka. Ia terlihat semakin mirip dengan ikan bila seperti itu.
"Err… Hae?" panggil Hyukjae, menyentaknya dari lamunan.
Donghae mengedik sedikit. "A-ah. Wah Hyukkie, kau melompat dengan ringan sekali. Sejujurnya aku tidak menyangka akan semulus itu. Aku sudah bersiap-siap akan menangkapmu bila kau terjatuh," aku Donghae dengan santai.
Hyukjae memandangnya skeptis. "Sepertinya kau begitu meragukanku."
"Ah, ani, ani! Bukan begitu maksudku. Hanya saja biasanya vampire baru masih belum dapat mengendalikan tubuhnya dengan sempurna. Awalnya aku cukup yakin kau akan terjatuh."
"Dan kau masih menyuruhku melompat," Hyukjae memperjelas sambil menatap kekasihnya itu dengan horror.
Donghae terkekeh dan menggaruk belakang tengkuknya. "Tapi kan ada aku, jadi kau bisa tenang."
"Kau sungguh perhatian, terimakasih," ujar Hyukjae sarkastik, tapi ia kembali terkekeh.
"Sudahlah, ayo kita berangkat?" ajak Donghae.
"Mmhm. Kearah mana?"
"Ikuti saja aku."
Belum sempat Hyukjae membalas, Donghae sudah melesat begitu cepat. Hyukjae hanya bisa berkedip saat Donghae menghilang di balik pepohonan. Ia kembali meneguk ludahnya sebelum mencoba berlari kearah pepohonan itu.
"Woah!"
*sraaks!*
Ia cukup terkejut dengan kemampuannya sendiri saat ia melesat begitu cepat, hingga hampir menghantam sebuah pohon yang ia rasa begitu jauh sebelumnya. Karena sungguh, siapa yang menyangka pohon sejauh itu akan hampir ia tabrak setelah satu tarikan napas. Ranting pohon itu merobek sisi bajunya saat ia menghindar di saat-saat terakhir sebelum menabraknya.
Hyukjae hanya tertawa, sebelum kembali menatap depan dan memusatkan konsentrasinya untuk mengatur gerak tubuhnya, berlari melewati pepohonan yang ada dengan lincah dan gesit.
Ini cukup menyenangkan…
.
.
.:Calm New Born? Don't Think So:.
.
.
"Wah…"
Hyukjae menggumam dengan takjub. Kini keduanya tengah berdiri di depan sebuah rumah-… coret itu. Maksud Hyukjae, kini mereka berdua tengah berdiri di depan sebuah mansion raksasa yang menyerupai istana kecil di tengah pedalaman hutan yang cukup jauh. Tampak luarnya tidak terlalu baik, meski tidak anker maupun hancur juga. Hanya saja terlihat sedikit kurang terawat, melihat warna cat yang sudah mulai pudar. Beberapa macam bunga rambat merah menghiasi dinding-dinding mansion tersebut, memberi warna yang indah.
"Ayo masuk?" ajak Donghae dengan seulas senyuman manis.
Hyukjae mengangguk, meski dengan ragu. Mengikuti langkah perlahan Donghae menuju mansion itu. Pintu mansion raksasa itu berderit sedikit saat dibuka, memberi kesan menyeramkan. Namun ternyata, isi tempat itu sama sekali berbeda dengan apa yang ada di dalam benak Hyukjae.
Megah, adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan isi mansion tersebut. Seluruh lantai mansion tertutup oleh karpet berwarna brown ash. Namun ada beberapa karpet merah yang seolah dibuat sebagai jalur di antara ruangan-ruangan. Tangga besar, chandelier, korden merah royal dengan pinggiran keemasan menutupi jendela, semua yang ada di tempat itu menunjukkan kemewahan yang indah.
"Donghae?"
Keduanya menoleh mendengar suara yang asing. Terlihat seseorang dengan rambut hitam dan berperawakan manis seperti kelinci berdiri menatap mereka. Wajah Donghae terlihat cerah saat ia menyapa balik orang yang memanggilnya, menghampirinya dengan riang.
"Sungmin-hyung!" serunya.
Hyukjae hanya bisa terpaku di tempatnya melihat keduanya saling bertukar sapa dengan akrab. Ia terlihat kaku sesaat, menunduk sedikit memperhatikan dirinya sendiri. Entah apa yang tengah ia pikirkan saat itu. Donghae tidak menyadari gelagatnya. Keduanya terus bertukar sapa hingga akhirnya sebuah suara lain menginterupsi mereka.
"Minnie? Siapa yang datang?"
Seorang namja berambut coklat ikal memasuki ruangan itu. Yang membuat Hyukjae terkaget sedikit, karena sungguh ia tidak melihat kapan ia datang dan bagaimana ia bisa tiba-tiba berada di belakang sang namja berambut hitam. Tubuhnya cukup tinggi, lebih tinggi dari Hyukjae.
"Kyuhyun!" sapa Donghae riang.
"Oh, annyeong Donghae," balas orang yang dipanggil Kyuhyun dengan nada agak datar. Tapi kemudian sosok Hyukjae tertangkap di matanya. Ia menatapnya dengan agak skeptis. "Nugunde?"
Hyukjae berubah semakin tegang saat sang vampire bergerak untuk menghampirinya. Seolah instingnya yang menyuruhnya untuk waspada. Tanpa sadar taringnya muncul dan ia menggeram pelan.
"Ah, aku lupa memperkenalkannya!" seru Donghae lagi.
Ia langsung kembali ke sisi kekasihnya itu, memeluk sebelah lengannya dari samping. Senyuman angelic terlukis di wajahnya. Dan seketika itu juga Hyukjae merasa lebih tenang.
"Ini Hyukkieku!" ujarnya bangga.
"Ah, vampire baru? Pantas ia masih terlihat gelisah dan waspada sekali," komentar Kyuhyun, menyeringai sedikit.
Tanpa sadar Hyukjae kembali menggeram pelan. Ia sendiri bingung mengapa ia bertingkah seperti ini. Hyukjae bukanlah orang yang tidak sopan, biasanya ia sungguh ramah. Tapi instingnya saat itu seolah tidak bisa menerimanya. Terutama melihat seringaian namja di hadapannya itu. Kyuhyun kembali membuka mulutnya, seolah ingin mengkomentari sesuatu namun terhenti saat sebuah tangan menepuk kepalanya pelan.
"Kyu, hentikan! Kau membuatnya takut!"
Sang namja berambut hitam, Sungmin, berujar dengan renggutan manis yang ditujukan pada Kyuhyun. Kemudian ia berdiri di samping Kyuhyun dan menatap Hyukjae dengan senyuman yang begitu lebar di wajahnya.
"Hai! Maaf jika kami membuatmu gelisah, itu normal bagi vampire baru. Namaku Sungmin. Dan ini Kyuhyun," ujarnya ramah.
Kewaspadaan Hyukjae perlahan kembali seperti semula, dan ia dapat merasakan Donghae semakin merapat pada sisinya dengan senyuman manis. "H-Hyukjae," balasnya agak ragu.
"Salam kenal, Hyukjae! Donghae sering sekali bercerita tentangmu. Senang akhirnya bisa bertemu langsung denganmu," lanjut Sungmin.
Akhirnya senyuman kecil terulas di bibir Hyukjae. "Maafkan ketidak sopananku," ujarnya membungkuk sedikit.
"Ah, sungguh itu biasa, tak apa!" ujar Sungmin menenangkan.
"Ne! Aku masih ingat bagaimana Sungmin-hyung hampir menerkamku saat pertama bertemu dulu! Ia masih baru berubah dan sangat gelisah!" Donghae berujar dengan polosnya, membuat mata Hyukjae membulat menoleh kearahnya.
Seseorang yang terilhat begitu ramah seperti Sungmin? Sungguh tidak bisa dibayangkan.
"Yah, kuakui dia benar. Kau terlihat cukup tenang untuk seorang new born. Itu cukup menakjubkan," tambah Kyuhyun sambil tertawa kecil melihat Sungmin yang merengek malu dan menyembunyikan wajahnya pada bahu Kyuhyun. "Jadi, apa elemenmu?" ia kembali bertanya, menoleh kearah Hyukjae.
Elemen?
Pikir Hyukjae di benaknya sambil mengangkat sebelah alisnya bingung. Donghae yang dapat membaca pikiran Hyukjae langsung menyadarinya. Namun belum sempat ia mengatakan apapun, Kyuhyun sudah memotongnya. Sepertinya ia menangkap pikiran Hyukjae.
"Ah, kau belum mencari taunya?" kemudian ia menoleh kearah Donghae. "Kau ini bagaimana sih, Donghae? Sebenarnya apa ada yang sudah kau ajarkan padanya?"
Donghae merenggut. "Aku belum sempat mengajarinya apapun. Aku sendiri bingung harus bagaimana. Jadi kupikir lebih baik kubawa dia kesini, karena kau sudah pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya."
"Kau seenaknya saja meminta bantuanku. Ah tapi sepertinya kau sudah tau satu kemampuannya ya?" Kyuhyun kembali menoleh kearah Hyukjae, dengan seringaian kecil di wajahnya membuat Hyukjae menaikkan sebelah alisnya bingung.
Hei, vampire baru.
Mata Hyukjae membulat saat pikiran Kyuhyun melintas di benaknya. Kyuhyun tertawa melihat ekspresi tersebut.
"Ah, sudah kuduga. Ia bisa membaca pikiran," ujarnya santai.
"Sungguh? Ah keren sekali! Aku iri," Sungmin mengkomentari dengan senyuman.
Oh? Jadi benar kata Donghae bahwa tak semua vampire bisa melakukannya?
Pikir Hyukjae. Hanya untuk mendapat sebuah pikiran lain melintas di benaknya.
Ya, dan Sungmin tidak bisa. Kau beruntung, vampire baru.
Hyukjae bergidik sedikit, tanpa sadar mengambil satu langkah menjauh dari Kyuhyun. Ia harus mulai membiasakan diri dengan pikiran orang lain yang melintas secara tiba-tiba di benaknya. Seringaian Kyuhyun melebar melihat ekspresi Hyukjae tersebut. Donghae kemudian menggeplak pelan kepala Kyuhyun.
"Berhenti bertingkah seperti stalker. Kau membuat Hyukkieku takut," protesnya.
Sungmin tertawa sementara Kyuhyun menggerutu.
"Ah, kembali ke topik awal. Jadi kau belum tau elemenmu?" tanya Sungmin.
Hyukjae menggeleng pelan. "Elemen apa?"
"Ah, aku hanya pernah memberitaumu sekilas ya," Donghae berujar, kemudian memunculkan semilir air di atas tangannya, memain-mainkannya sesaat. "Seperti yang kubilang sebelumnya, vampire memiliki kekuatan untuk mengontrol sebuah elemen. Aku adalah seorang water handler. Elemenku adalah air."
"Semua vampire memiliki elemen?" tanya Hyukjae lagi, masih sedikit bingung.
"Ne! Elemenku kayu," Sungmin menambahkan dengan ceria.
Seolah menunjukkannya, ia menunjuk kearah bangku kayu di dekat mereka. Bangku itu kemudian berubah bentuk menjadi sebuah kelinci yang besar, sebelum kembali menjadi bangku seperti semula.
"Wah hebat!" seru Hyukjae kagum.
*zzrrtz!*
Hyukjae memekik sedikit saat merasakan sesuatu menyengat telapak tangannya. Kemudian ia menoleh kearah Kyuhyun yang menyeringai tak berdosa kearahnya, jari telunjuknya terarah ke udara menimbulkan percikan-percikan listrik kecil.
"Sepertinya aku tau apa elemenmu," gerutu Hyukjae sambil mengusap tangannya yang tadi disengat.
"Elemenku listrik," ujar Kyuhyun menghiraukan gerutuan Hyukjae. "Dan aku akan membantumu mencari tau elemen milikmu, meski aku sudah bisa sedikit menebaknya."
Hyukjae kembali merinding saat melihat seringaian Kyuhyun dan aura-aura gelap yang seolah melingkupinya.
.
.
.:Calm New Born? Don't Think So:.
.
.
"Jadi… Apa yang membuatmu akhirnya merubahnya?" Sungmin bertanya dengan lembut.
Kini, Sungmin dan Donghae sedang berada di salah satu ruangan dalam mansion besar itu. Hanya duduk dan meminum the yang tersedia. Donghae menghela napasnya. Matanya berubah sendu.
"Ia… mengalami kecelakaan. Jika aku tidak dapat mengubahnya, ia tidak akan selamat. Aku tau aku seharusnya tak boleh egois… Tapi… Aku…" omongan Donghae terhenti, setetes air mata mengalir di pipinya.
Sungmin dengan cepat merangkul sahabatnya itu, dan Donghae menghapus air matanya dengan punggung tangannya. "Aku tak sanggup jika harus kehilangan Hyukkie…"
Sungmin tersenyum mengerti, ia mengusap puncak kepala Donghae. "Lantas apa yang membuatmu ragu untuk merubahnya?"
Donghae menghela napas. "Kau tentu tau, hidup sebagai vampire tak semudah kelihatannya. Akan ada banyak bahaya yang mengejarnya, dan aku tidak mau itu…"
Sungmin mengangguk. "Memang, tapi aku rasa ia akan lebih bahagia seperti itu, daripada tidak bersamamu. Tidakkah kau merasa demikian? Tidakkah kau ingin untuk bersamanya terus menerus? Aku pernah ada di posisi Hyukjae, maka aku mengerti perasaannya yang ingin berada di sisi orang yang paling ia cintai…"
"Aku tentu ingin terus bersama Hyukkie… Tapi…"
"Jadi, kau menyesal telah merubahnya?"
Atas pertanyaan itu, Donghae menyentakkan kepalanya dan menoleh kearah Sungmin. "Ani! Tentu aku tak menyesalinya! Aku bahagia sekarang mengetahui bahwa Hyukkie akan terus bersama denganku! Aku… bahagia…" suara Donghae memelan, dan matanya perlahan membulat, seolah ia akhirnya mengerti apa yang ia ucapkan dan menerimanya.
Sungmin tersenyum hangat. "Lalu, apa lagi yang kau ragukan? Kau sudah menemukan jawabannya."
Senyuman angelic mengembang di wajah Donghae, ia menoleh kearah Sungmin dan mengangguk dengan yakin. "Ne! Gomapta, Sungmin-hyung."
"Cheonman," jawab Sungmin. Kemudian ia menoleh kearah luar jendela. "Sekarang aku hanya dapat berharap Kyuhyun tidak terlalu keras dengan namjachingumu itu," ujarnya dengan tawa kecil.
*BRAK!*
Tiba-tiba terdengar suara jendela ruangan itu dihantam keras dari luar, mengagetkan keduanya. Ruangan itu berada dilantai dua, sehingga itu cukup membingungkan.
"Ada apa?" tanya Donghae heran.
Kemudian berjalan kearah jendela itu diikuti dengan Sungmin di belakangnya.
.
.
.:Calm New Born? Don't Think So:.
.
.
Hyukjae hanya menatap waspada Kyuhyun yang berdiri empat meter di hadapannya. Mereka kini berada di antara pepohonan tak jauh dari mansion (tepatnya ia sebenarnya tak tau, tapi saat berlari terasa dekat). Seringaian di wajah Kyuhyun membuatnya merasa was-was. Ia masih belum terbiasa dengan aura yang agak menyeramkan dari vampire itu. Memberinya perasaan tidak enak, tidak seperti Sungmin yang terkesan begitu ramah.
"Tenanglah sedikit, aku tidak akan membunuhmu," ujar Kyuhyun santai.
Dan percayalah itu sama sekali tidak menenangkan Hyukjae.
"Baiklah, bagaimana kalau kita mulai saja?"
Hyukjae mengangguk, meski ia tidak tau harus melakukan apa.
*trrakkk!*
"Wuah!"
Hyukjae melompat panik saat pohon di sebelahnya tiba-tiba tumbang, menghindarinya tepat pada detik-detik terakhir. Dalam hati ia berterimakasih pada refleksnya yang amat baik. Kyuhyun mendengus protes sambil melambaikan tangannya.
"Sepertinya menyerangmu dengan tiba-tiba gagal untuk mengeluarkan kekuatan elemenmu," ujarnya santai.
Hyukjae menatap Kyuhyun tajam dengan protes, menyadari percikan listrik kembali muncul diantara jemari Kyuhyun, mengarah kearah pohon yang sudah tumbang itu.
"Apa harus itu cara untuk mencari tau?" protes Hyukjae kesal.
"Sebenarnya tidak. Aku sudah bisa menebak elemenmu, hanya ingin mengetes saja."
Vampire ini…
Hyukjae mendesis pelan, sementara Kyuhyun hanya tertawa santai.
"Baiklah, menilai dari warna matamu, dan warna rambutmu. Sepertinya elemenmu adalah api. Kalau diperhatikan, terkadang warna rambut seorang vampire menunjukkan elemennya. Seperti ini," Kyuhyun menunjuk sudut rambutnya yang berwarna keperakan. (imagine SJ-M Break Down teaser)
Hyukjae menaikkan sebelah alisnya, "Mengapa aku tidak menyadarinya sebelumnya?"
"Karena aku menyembunyikannya," jawab Kyuhyun singkat, kemudian warna rambutnya kembali berubah menjadi coklat seutuhnya. "Kami melakukannya agar lawan tak mengetahui elemen kita dengan mudah."
"Ah begitu," Hyukjae mengangguk mengerti.
"Coba ulurkan telapak tanganmu," perintah Kyuhyun.
Hyukjae mengulurkan telapak tangan kanannya ke udara. "Begini?"
Kyuhyun mengangguk. "Coba bayangkan dan visualisasikan lidah api diatas tanganmu. Tapi kontrol tenagamu. Tahan agar hanya api kecil yang keluar."
Hyukjae mengangguk paham. Kemudian ia memusatkan konsentrasinya pada telapak tangannya.
*buff!*
Tak lama muncul lidah api kecil berwarna oranye-kemerahan diatas tangannya, menari-nari mengikuti angin. Hyukjae tersenyum melihatnya.
"Wah, cukup hebat!" Kyuhyun menepuk tangannya. "Jarang sekali ada vampire yang bisa langsung mengontrol kekuatannya seperti itu. Aku sempat takut kau akan membakar beberapa pohon karena tak bisa menguasainya. Itu biasa untuk new born. Kau sepertinya new born yang kalem sekali," komentar Kyuhyun.
Hyukjae menaikkan sebelah alisnya, kemudian ia kembali memperhatikan api di tangannya. Ia terus memainkan api kecil itu, membuatnya menari-nari diatas tangannya seolah hidup, membiarkannya melewati punggungnya sesaat, berputar-putar mengelilingi tubuhnya sebelum kembali mendarat diatas tangannya yang satu lagi. Menakjubkan bagaimana api itu sama sekali tidak terasa panas, ataupun membakar pakaiannya.
Tanpa ia ketahui, Kyuhyun memperhatikannya dengan takjub. Ia memang sudah mengira bahwa Hyukjae memiliki potensi, tapi tak ia duga secepat ini ia bisa mengendalikan kekuatannya.
Di tengah kekagumannya, tiba-tiba Kyuhyun mendapatkan firasat tidak enak. Ia dapat mendengar gemerisik daun yang tersibak dengan kasar, suara tersebut makin lama makin mengeras, dan Hyukjae pun sepertinya menyadarinya. Mereka saling bertatapan sesaat, dan Kyuhyun langsung menatap sekelilingnya dengan agak panik.
"Merunduk!" teriaknya keras.
*BLAR!*
Tepat setelah peringatan itu, sebuah batu raksasa mematahkan pohon disekitar mereka, melaju kearah keduanya dengan cepat. Untungnya Hyukjae menuruti Kyuhyun dengan sigap, sehingga batu besar itu meleset beberapa sentimeter diatas keduanya.
"Apa itu?!" Hyukjae berteriak sambil bangkit berdiri tegak, menoleh kearah datangnya lemparan.
Sesosok vampire berambut coklat tua tak dikenal terlihat datang dari arah tersebut, berdiri dengan santai di hadapan keduanya. Kyuhyun menggeram pelan, taringnya mulai nampak. Hyukjae mengambil beberapa langkah mundur, menyamakan posisinya di samping Kyuhyun sambil menatap nyalang kearah tamu tak diundang tersebut.
"Ah, ada vampire baru rupanya," ujar tamu tak diundang itu dengan nada yang begitu santai.
"Kau… dari klan sebelah bukan? Apa maumu?" geram Kyuhyun.
"Ah, kasar sekali. Kami hanya ingin bersenang-senang sedikit," ujarnya dengan seringaian kecil.
Belum sempat Hyukjae bereaksi, sang vampire menghantamkan telapak tangannya ke tanah. Kemudian tanah dibawah mereka bergetar hebat, sebelum tiba-tiba sebuah batu besar mencuat kearah Kyuhyun. Dengan sigap Kyuhyun menghindarinya. Kyuhyun kembali menggeram, tubuhnya semakin kaku saat ia memproses kata-kata vampire tersebut.
Kami…?
Hyukjae menyentak kepalanya, menoleh kearah Kyuhyun saat pikiran Kyuhyun itu melintas di benaknya. Kyuhyun meliriknya dari sudut matanya.
Sungmin dan Donghae dalam bahaya!
Serunya dalam benaknya. Untungnya, sang pengganggu sepertinya tak memiliki kemampuan membaca pikiran.
*drakk!*
Sang vampire kembali melancarkan serangannya, dan kali ini Hyukjae yang diincarnya, berhasil menghindari ke samping kanan, walau kakinya tergores batuan ditengah kepanikannya.
Tenanglah, Hyukjae! Kita cari cara bagaimana menolong mereka!
Tapi bagaimana?! Pengganggu ini menghalangi jalan kearah mansion!
Hyukjae semakin gelisah saat ia tidak mendapat jawaban dari Kyuhyun. Ia mengepalkan tangannya sambil sekali lagi menghindari tanah yang bergejolak membentuk rajaman batu.
Aku punya ide.
Hyukjae berhenti sejenak, tapi kembali menghindari serangan-serangan lawan seolah tidak memikirkan apapun. Kyuhyunpun terlihat serius melancarkan kilatan-kilatan petir dari tangannya kearah sang lawan.
Aku akan mengalihkan perhatiannya. Saat aku berhasil membuatnya menyingkir, larilah sekuat tenagamu menuju mansion.
Perintah Kyuhyun sambil menyengat tangan sang pengendali tanah.
Kau yakin? Aku tidak tau apakah aku bisa membantu mereka—
Percayalah padaku. Itu lebih baik daripada kau yang ada disini sendiri. Sudahlah, waktu kita tak banyak!
Tepat setelah selesai mengatakannya dalam benaknya, Kyuhyun menggunakan kekuatannya untuk menyengat dan membanting sang pengendali tanah menjauh.
Larilah!
Tanpa menunggu lama, Hyukjae melesat menembus sang pengendali tanah yang tengah terjatuh tak siaga, menghilang di balik pepohonan menuju mansion.
"Cih, lolos satu ekor ya," ujar sang vampire sambil bangkit berdiri.
Kyuhyun mendengus. "Cukup aku seorang yang menanganimu."
Vampire itu tertawa. "Ah, biarlah. Lagipula ia sepertinya tidak berbahaya. Ia tidak akan banyak mengganggu."
Tanpa sepengetahuan sang vampire, Kyuhyun menyeringai. Matanya melirik kearah jejak langkah Hyukjae yang telah pergi, yang kini dihiasi lidah api.
Dan disitulah letak kesalahanmu. That new born is not as harmless as you think…
.
.
.:Calm New Born? Don't Think So:.
.
.
*sraaaks!*
Hyukjae menghentikan langkahnya dengan agak sulit, karena ia telah berlari dengan begitu cepat. Matanya terbelalak saat ia melihat jendela besar sebuah ruangan dilantai dua telah jebol, begitu juga dengan tembok sekitarnya runtuh sedikit. Ia langsung berlari kearah itu. Dan betapa terkejutnya ia melihat Donghae sedang berdiri berhadap-hadapan dengan seorang vampire tak dikenal yang berambut biru.
Yang membuatnya terkejut bukan hanya itu. Melainkan kondisi Donghae yang cukup parah. Ia terluka di sekujur tubuhnya. Ia melihat sekeliling sesaat untuk mencari Sungmin, dan geramannya semakin keras saat melihat Sungmin terkurung dalam dome yang terbuat dari air tak jauh dari keduanya, tanpa bisa bernapas. Ia terlihat sudah pingsan di dalam dome tersebut.
"HAE!" raung Hyukjae sambil berlari kesebelahnya, menopang tubuh kekasihnya yang terhuyung.
"H-Hyukkie? M-menyingkirlah! Ini berbahaya!" seru Donghae keras kepala.
"Ah? Ada seekor lagi yang datang?"
Hyukjae menghiraukan peringatan Donghae dan menatap nyalang kearah vampire berambut biru yang berani menyentuh Donghae-nya.
"Apa maumu?" geramnya dari sela gemeretak giginya. Tangannya mengepal kuat.
"Aku hanya ingin bersenang-senang sedikit," ujarnya santai.
*DRASSH!*
Vampire tersebut mengulurkan tangannya, dan keluar aliran air yang deras mengarah kearah Hyukjae. Namun Donghae yang berada di sampingnya dengan sigap menahan serangan tersebut dengan air yang serupa. Sayang tenaganya yang sudah terkuras malah membuatnya terlempar jatuh, meski ia berhasil mematahkan serangan tersebut.
"HAE!"
"kkhh…!" Donghae merintih dan memegang lengannya yang terluka.
Ia merutuki elemennya sendiri. Elemen Sungmin yang berupa kayu kalah dari elemen air, membuatnya menjadi sasaran mudah yang langsung tertangkap. Sedangkan elemen dirinya sendiri yang seharusnya seri, malah menjadi lemah karena konsentrasinya terganggu untuk menolong Sungmin. Andai Kyuhyun ada disini. Elemen listriknya pasti bisa dengan mudah mengalahkan lawan ini. Ia melihat percikan api mengilat dari tangan Hyukjae, dan itu membuatnya semakin merasa khawatir.
"Hyukkie, larilah! Elemenmu bukan tandingan miliknya! Keadaanmu tidak menguntungkan!" seru Donghae tanpa bisa bangkit.
Namun Hyukjae tak menggubrisnya. Wajahnya berubah dingin dan serius. Ia menatap sang vampire berambut biru dengan tatapan membunuh yang begitu mencekam. Matanya yang semula hitam berubah, mengilatkan warna merah yang membuatnya seperti ruby. Donghae yang melihatnya tanpa sadar bergidik sedikit. Tak pernah ia melihat Hyukkienya yang lembut seperti itu. Ia terlihat begitu marah.
"… Sudah cukup bersenang-senangnya…?"
Suara Hyukjae keluar tak kalah menakutkannya dari tatapan matanya. Tangan kanannya di sisi tubuhnya mengeluarkan lidah api merah yang menyela terang.
"Mau apa kau, vampire muda? Kau menantangku?"
Tanpa menggubrisnya, Hyukjae menerjang maju, hendak menghantam sang vampire dengan kepalan tangannya yang kini diselimuti api.
*drak!*
*sshh…*
Sayang sebelum ia berhasil mengenai sang lawan, air dari tangan lawannya itu memadamkan apinya, dan ia berhasil menahan pukulan Hyukjae sebelum melangkah mundur menjauh, menciptakan jarak diantara mereka. Asap terlihat mengepul dari atas kepalan tangan Hyukjae yang kini telah padam.
"Percuma, hei bocah! Api tidak akan mempan terhadapku! Pernahkah kau mendengar pepatah mengatakan, 'air memadamkan api'?"
Hyukjae tidak membalasnya. Untuk sesaat ia terdiam, menatap telapak tangannya tanpa mengucapkan apapun. Kemudian ia kembali menatap kearah lawannya. Dan ketika ia melihat vampire berambut biru itu menatap Donghae dengan tatapan remeh, seolah hendak kembali menyerangnya, sesuatu kembali tersulut dalam diri Hyukjae.
"Tapi pernahkah kau mendengar, bahwa api dapat menguapkan air?"
*wruur!*
Donghae mengangkat wajahnya, dan ia melihat pemandangan yang indah tapi menakutkan disaat yang sama. Hyukjae terbungkus oleh lidah api yang begitu terang. Bahkan rerumputan yang di pijak Hyukjae langsung menghangus menjadi hitam legam saat itu juga. Lidah api seolah menjilati sekujur tubuh Hyukjae dengan liarnya, udara disekitarnya berubah begitu panas.
Bahkan sang vampire berambut biru terlihat gentar akan ledakan api yang tiba-tiba tercipta disekitar tubuh Hyukjae. Ia menghimpun tenaganya dan mengeluarkan ombak kearah Hyukjae.
*DRASHH!*
*ssh…*
Hanya untuk menghilang menjadi kepulan asap saat api di sekitar tubuh Hyukjae seolah meledak menghabiskan air yang ada. Bahkan api-api itu menjalar membakar hangus rerumputan di sekitar mereka.
*DUAK!*
Belum sempat asap itu menghilang dari pandangan siapapun, Hyukjae telah menerjang maju dan dengan cepat menghantam vampire itu hingga terpental sepuluh meter kebelakang. Api yang menyelimuti tubuhnya telah ia padamkan. Ia berdiri tegak, tatapan tajam dengan hawa membunuh yang ketara tak hilang dari sekitarnya. Kemudian ia mulai melangkah perlahan mendekatinya.
*tep… tep…*
"H-hentikan! A-atau temanmu disana tidak akan selamat! Kau ingin menolongnya bukan?!" seru vampire itu mulai putus asa, menunjuk kearah Sungmin yang terbungkus air.
Hyukjae tak menghiraukannya. Ia terus berjalan mendekati kearahnya tanpa mengucapkan apapun. Tatapan itu sama sekali tidak berubah.
*ctik!*
*wruur*
Dengan sebuah jentikan jari, kedua tangannya kembali diselimuti bara api yang menyela terang. Tanpa melepaskan tatapannya dari vampire yang kini jelas ketakutan, ia terus melangkah mendekati.
"… Kau telah membuat dua kesalahan."
Suara itu terdengar begitu berat dan mencekam.
"Pertama, sepertinya kau salah mengerti. Sejujurnya aku sama sekali tidak peduli dengan vampire satu itu. Ya, mungkin aku hendak menolongnya. Tapi kurang lebih, aku tidak peduli apa yang terjadi dengannya. Satu-satunya hal yang berarti bagiku hanyalah Donghae. Jangan harap kau bisa mengancamku untuk siapapun selain Donghae," kata-kata tersebut diucapkan dengan begitu dingin, tanpa sebersit emosi maupun kekhawatiran sedikitpun.
"T-tapi kau-"
"Aku hanya melindunginya, karena ia berharga bagi Donghae. Selebihnya, aku tidak peduli. Walau aku tau ia akan selamat jika aku membunuhmu. Jika kau menenggelamkan seluruh duniapun, jika Donghae tidak tersentuh dan tidak menginginkanku menyelamatkan siapapun, aku tidak akan peduli," sambung Hyukjae dengan nada yang sama.
*tep…!*
"… Kedua," langkahnya terhenti tepat di depan sang vampire yang jatuh terjerembab.
Ia mengangkat vampire itu dengan tangan kanannya yang terbungkus api, mencekik lehernya. Vampire itu mulai menjerit karena rasa panas, namun ekspresi wajah Hyukjae sama sekali tidak berubah.
"… Kau telah menyentuh dan melukainya. Apapun yang kau lakukan sekarang tidak akan bisa menolongmu dari kesalahan fatal tersebut. Jangan kau kira aku takut membunuh hanya karena aku pernah menjadi manusia," Hyukjae terdiam sebentar, sebelum ia mengeraskan cekikannya. "Enyahlah."
*WRUSH!*
Api membungkus tubuh sang vampire. Bahkan vampire itu tak sempat berteriak sebelum akhirnya tubuhnya berubah menjadi debu dengan mudahnya, tersapu angin dan menghilang begitu saja.
Api perlahan padam, bersamaan dengan mata Hyukjae yang kembali berubah menjadi warna hitam gelap. Kemudian sang new born berambut merah berbalik, bergegas menolong Donghae, yang kini menolong Sungmin yang telah terbebas dari dome air.
.
.
.:Calm New Born? Don't Think So:.
.
.
Kyuhyun cukup terkejut saat ia tiba beberapa saat kemudian, melihat kondisi tempat itu yang hangus di mana-mana. Ia sendiri baru saja menyambar lawannya hingga hangus menjadi debu dan segera bergegas ke tempat itu. Namun ia langsung menjadi lega saat melihat Sungmin selamat. Tanpa buang waktu, ia mengangkat matenya yang tak sadarkan diri itu dengan hati-hati, membawanya ke kamar terdekat untuk mendapat perawatan.
Hyukjae melingkupi Donghae dengan api berwarna hijau. Awalnya Donghae terlihat begitu terkejut, namun ia kembali tenang saat api itu tidak terasa panas, malah terasa menyejukkan di kulitnya. Rupanya Hyukjae menggunakannya untuk menyembuhkan luka-luka pada tubuh Donghae. Ketika ditanya, bahkan ia sendiri tidak tau bagaimana ia mempelajarinya. Keluar begitu saja sesuai instingnya.
Setelah keadaan sudah reda, Donghae memutuskan untuk membawa Hyukjae kembali ke apartemennya. Kini keduanya sedang terduduk di ruang tamu kecil apartemen tersebut.
"Hyukkie…"
"Hmm?"
"Apa kau mau pindah bersamaku dan tinggal di mansion itu? Ng… Tidak apa-apa kalau kau tidak mau… Tapi…" Donghae terlihat gugup, memainkan jemarinya sendiri.
Hyukjae tersenyum melihatnya. "Kau mau aku tinggal disana?"
Donghae hanya menjawab dengan anggukan kecil yang terkesan malu dan ragu-ragu.
Hyukjae tertawa pelan dan mengusap rambutnya. "Baiklah kalau itu maumu," ujarnya singkat.
"Sungguh?"
"Hmm," gumam Hyukjae sambil mengangguk. "Aku akan melakukan apapun yang kau mau," lanjutnya.
Donghae tersenyum lebar, menunjukkan angelic smilenya yang riang. Keheningan yang nyaman kembali melingkupi mereka selama beberapa saat.
"Ngomong-ngomong, Hyukkie… Apa yang kau katakan tadi serius?" tanya Donghae.
Hyukjae mengangkat sebelah alisnya. "Yang mana?"
"… Yang… Katamu kau tidak peduli-…"
"Aku serius," jawab Hyukjae singkat dan tegas.
Melihat wajah Donghae yang bingung, Hyukjae melanjutkan perkataannya. "Aku serius. Bagiku tidak ada lagi yang berarti selain dirimu. Aku tidak memiliki apapun yang berarti selain dirimu, Donghae. Karena itu… Aku ingin selalu berada disisimu, disisimu seorang sampai selamanya…" bisiknya lembut, mengusap wajah Donghae dengan sayang.
Donghae hanya tersenyum, menikmati sentuhan lembut itu.
*purrr~…*
"Ah, hei Spencer!"
Perhatian Hyukjae teralih saat seekor kucing berbulu keemasan mengusapkan wajahnya di kaki Hyukjae. Hyukjae tertawa sedikit dan mengangkat kucing kecil itu, bermain-main dengannya. Donghae yang melihatnya tanpa sadar ikut tersenyum kecil.
Ya, Spencer adalah kucing kecil berbulu keemasan yang ditolong oleh Hyukjae. Saat itu Donghae berpikir bahwa Hyukjae salah.
Entah. Tapi Hyukjae tidak sedingin yang ia sendiri pikirkan. Mungkin Hyukjae hanya terlalu tertutup pada dunia luar karena segala hal yang menimpanya ketika ia masih menjadi manusia, namun ia jelas memiliki hati yang hangat dan menyayangi banyak orang. Mungkin ia hanya tidak menyadarinya.
Kalau tidak, mengapa Hyukjae mau menolong anak kucing yang bukanlah apa-apa baginya itu? Mengapa Donghae dapat melihat sebersit kekhawatiran di mata Hyukjae saat ia pertama kali melihat Sungmin tertangkap tadi? Alasannya tidak lain adalah karena walau samar, Hyukjae peduli pada mereka. Walau ia sendiri tak menyadarinya, ia peduli terhadap sekitarnya.
"Hyukkie," panggil Donghae.
"Nae?" jawab Hyukjae tanpa mengalihkan perhatiannya dari Spencer.
Donghae mencondongkan tubuhnya mendekati, mengecup pipi Hyukjae sesaat, membuat sang vampire berambut merah menoleh kearahnya. Kemudian ia mengulaskan angelic smilenya.
"Saranghae," ujarnya singkat.
Hyukjae tersenyum dan mengecup bibirnya. "Nado."
.
.
.
-Fin-
.
What am I doing… this was supposed to be finished… OTL
Plot bunny nya bener-bener mengganggu jadi ini terpaksa kutulis.
Yap, aku akan ke Baliii untuk liburaaan singkat~ #horee! Lima hari dan empat malam, jadi aku gak akan bisa update untuk beberapa hari kedepan dan menghilang dari ffn dan twitter, mianhae! Doakan aja aku dapat banyak ide selama liburan! Tapi jangan harap aku langsung update juga setelah pulang. Pastinya jet lag ahaha.
Jadi ya, bisa di bilang ini hadiah 'until we meet again' dariku! (tsah lebay amat cuma sebentar juga).
Waktunya bales review~
Cho Kyura : gomawo, gomawo~ kkk~. Aku bikinin asupan yang M… Karena kau bawel minta terus #plak
Asha lightyagamikun : gomawo~ ^^. Mungkin itu udah jadi ciri khas FFku kali ya ahaha
plsgoaway : gomawo~ ini kubikin sequelny setelah sekian tahun #plak
leenahanwoo : gomawo~ ^^
dinie teukie : Padahal aku gak suka breaking dawn loh.. wkwk. Kalo itu udah ada rencana sih, tapi belum bisa terlaksana aja ._.
SexyFishySingle : gomawo~ yang C hiraukan aja. Aku lagi gila waktu itu kkk~
Haelicious : gomawo~ ^^ akan ku update sebisanya~
myfishychovy : gomawo~ ehehe. Innocent Beastnya belum kyaa~
Lee Eun In : gomawo~ memang banyak yang suka vampfic hehe. Bikinnya juga seru~
Qhia503 : iya, ini EunHae. Semua fanficku EunHae. Kalau chingu kurang suka, jangan dipaksa baca ahaha. Kalo menurut chingu begitu sih terserah aja, aku tidak protes :P
anchofishy : gomawo~ xD
Guest : eumm, karena gak setiap vampire gigit orang dia ikut berubah. Cuma kalo vampirenya pengen dan ngeluarin… semacem 'bisa'nya. Sepertinya begitu kkk~
Anonymouss : jangan dimakan dong Ff nya ntar kau sakit perut loh kkk~ bosen vampirenya yang berkuasa terus. Anti mainstream dong! #Plak
sullhaehyuk : annyeong~ gomawo chingu ^^
Shin Min Hwa : tergantung, chingu maunya dia laper apa? Ada dua versi. Yang versi satu lagi… di blog. Seperti yang kusebut diatas. Kkk~
Elfishy : gomawo~ ^^
arumfishy : ah baguslah kalo suka hehe~
laila. r. mubarok : ne ini EunHae. Semua ffku EunHae~ haha. Tenang saja ^^
Lee Chan88 : gomawo~ ^^
minnieldebs : first off all, thanks for reading my fics, and ur comments r always appreciated! It builds my story too~ and second… I'm really curious and it's starting to kill me, but who are you? Because really, not many people know I write fanfictions. O_O
N. s aka I. v : gomawo~ ^^
Arum Junnie : gomawo~ ini sequelnya setelah sekian lama ahaha.
Lee Eun Jae : gomawo~ ^^ . tenang aku gak setega itu sama Hyuk ahahaha.
rinchaaan : gomawoo~ ^^
Haehyukyumin : gomawo~ ^^ ini kuteruskan setelah sekian lama.
nnaglow : ini sequelnya. Terjawab gak? Ahaha~
dew'yellow : gomawo~ xD
Mrs. EvilGameGyu : ada nih. Tapi baru keluar setelah sekian lama kkk~ mianhae~
Guest : gomawo~ ^^
cheonsa. sha : gomawo kk~ nado saranghae~~
.
.
Sekali lagi gomawo yang sudah memberikan pendapat dan menjawab poll abal sebelumnya! Aku kaget banyak yang jawab C padahal itu absurd banget kkk~ Nado saranghae~! Semoga kalian suka mini sequel ini.
Yap, I guess this is farewell for now~ see you again after I got home from my vacation! Kkk~
Bali here I come! #bricked
Mind to RnR? ^^
