DISCLAIMER: KUROKO NO BASUKE—FUJIMAKI TADATOSHI
HAPPY READING!
Sepertinya ada sebuah petir yang berhasil menusuk tubuhmu begitu dalam. Wajahmu memerah. Tidak mungkin!
"Kau bercanda?" tanyamu dingin. Aomine menggeleng. "Memang selama ini kau tinggal dimana? Di kolong jembatan?" tanyamu dengan nada sinis. "Etto... Sebenarnya dulu aku menyewa apartemen, tapi karena aku tidak bisa membayar... Yah... Kau tahulah," sahut Aomine sambil meringis. "Lalu kenapa kau meminta untuk tinggal di apartemenku? Kenapa tidak di apartemen yang lain?" tanyamu lagi. "Karena... Apartemenku yang dulu kutempati... Terletak di sebelah apartemenmu," jawabnya. Kamu shock berat. Kok bisa?!
"Jadi, (name), izinkan aku!"
"Hmm... Baiklah."
"BENAR?!"
"Tapi ada syaratnya!"
"Eh...?"
"Kau tidak boleh membawa majalah 'itu' kesini!"
"HAAAAAAHHHH?!"
"Setuju atau tidak? Kalau tidak, silahkan angkat kaki."
"Iya! SETUJU! PUAS?!"
"Bagus. Sekarang masuklah."
"Oke."
~~skip~~
"Nah, Aomine, kamarmu disana. Kamarku disini. Kamar mandi disitu. Dapur yang itu. Kau mengerti?" jelasmu. Aomine hanya mengangguk dengan polosnya. "Nah, jadi, sekarang kau akan tidur disana. Oke? Cepat letakkan barang-barangmu di kamarmu!" lanjutmu. "Yes, Sir!" sahut Aomine sambil melesat ke dalam kamar. Kamu tersenyum samar.
KRAK. PLUK.
Topeng itu retak. Sebuah bagian kecil dari topeng itu terjatuh.
Malam harinya...
"AOMINEEE!" serumu. "Iyaa! Ada apa?!" sahut Aomine. "Cepat kemari dan bantu aku menyiapkan makanan kita berdua!" jawabmu. "Hah? Baiklah!" sahutnya sambil melesat menghampirimu yang tampak kesusahan. "Apa yang harus kubantu, (name)?" tanyanya sambil menggaruk pipinya pelan. "Ambil sumpit dan gelas di dapur sana! Cepatlah!" jawabmu sambil meletakkan mangkuk besar berisi mie rebus. "Uh... Oke...," gumam Aomine sambil berjalan menuju dapur, lalu kembali dengan dua pasang sumpit dan dua buah gelas, lalu meletakkannya di meja makan. "Terima kasih, Aomine," ujarmu sambil duduk di meja makan. Kamu mengambil sebuah mangkuk berukuran sedang, mengisinya dengan mie rebus itu sampai tiga perempatnya, mengambil sumpit, dan mengambil gelas yang sudah diisi air mineral. Setelah itu, kamu menyodorkan sebuah mangkuk yang lebih besar dari milikmu ke Aomine. "Ambil yang banyak. Kau habiskan juga tidak apa-apa," jelasmu dingin. Aomine tersenyum menyeringai. "Oh, yeah! Arigatou gozaimasu, (name)!" sahut Aomine sambil mengambil mangkuk bagiannya dan mengisinya dengan mie rebus sampai penuh. "Itadakimasu...", "ITADAKIMASU!"
Kemudian, kalian berdua makan dengan tenang. Sesekali Aomine bertanya.
"(name)..."
"Apa?"
"Aku... Nyam... Boleh tanya?"
"Telan dulu makananmu, lalu bertanyalah."
"*gulp*Ano, aku ingin bertanya..."
"Iya, bertanya apa?"
"Kenapa kau begitu baik padaku?"
"Eh?"
"Kau mengizinkanku tinggal di apartemenmu."
"Hmmm..."
"Kenapa?"
"Karena... Aku tidak tega..."
"E-eh?"
"Aku tidak tega kau dikira gelandangan, lalu diciduk polisi karena tampangmu yang sudah seperti gelandangan itu."
"APA?!"
"Kau budeg, ya?"
"Ti-tidak, sih... Tapi... Memang tampangku sebegitu menyedihkannya?"
"Iya."
"Jahat..."
"Kau kira aku peduli? Itu deritamu."
"(name)..."
"Apa lagi?"
"Kalau begini... Kita seperti pasangan, ya..."
Ketika mendengar kata-kata itu, kamu langsung tersedak. "Kau bercanda? Pasangan apanya? Aku tidak sudi menjadi pasangan orang yang menyedihkan sepertimu," sahutmu dingin. "Hei, tidak usah bersikap dingin seperti itu, dong! Wajahmu memerah, tuh! Kau ini ternyata tsundere seperti Midorima, ya!" komentar Aomine. "Aku tidak butuh komentarmu!" sangkalmu dengan wajah yang masih memerah. "Uh~ Kau ini~" goda Aomine. "Urusai!" katamu. "Eh? (name), di sekitar mulutmu ada bekas kuahnya, tuh! Ayo, aku bersihkan!"
Slurp~
Aomine menjilat sekitar mulutmu dengan lidahnya, yang sontak membuatmu terbelalak. "Ah~ Aku menyukainya~" desah Aomine. "Eromine! Kau bodoh!" serumu kesal. "Eh? Aku salah apa? Aku hanya membersihkan kuahnya, kok!" elak Aomine. "Jangan bercanda! Kau mengajakku bertengkar, ya?! Kau kira aku tidak bisa bertarung?" sahutmu kesal. Aomine tersenyum. "Bertarung? Kalau begitu, ayo! Kuterima tantanganmu!"
BRUK!
Aomine menjatuhkanmu, lalu menindihmu dengan tubuhnya. Kamu terbelalak. "He-hei! Pergi, Eromine! Kau berat!" serumu tertahan. Wajahmu sangat memerah. "Kau mengajakku bertarung, 'kan? Aku sudah menerima tantanganmu! Karena menurutku, inilah yang disebut dengan 'bertarung'!" sahut Aomine sambil menahan kedua tanganmu dengan sebelah tangannya. "AARGGH! EROMINE! BUKAN BERTARUNG YANG SEPERTI INI MAKSUDKU, BAKA! LEPASKAN AKU! HEI!" teriakmu. Aomine tidak menyahut. Dia mendekatkan kepalanya. Wajah kalian saling berhadapan. Jarak antara wajahmu dengan wajah Aomine sangat dekat. Ujung hidung kalian bahkan sudah saling bersentuhan. Kemudian...
Chu~
Aomine menciummu untuk yang kedua kalinya. Kamu terbelalak. Wajahmu memerah. Kamu ingin memberontak, tapi sayang kamu tidak bisa bergerak. Jadi, yah... Kamu hanya bisa pasrah. Sekitar lima menit kemudian, Aomine menarik kepalanya. Akan tetapi, ia masih tetap menahanmu. "Kau... Apa yang mau kau lakukan lagi, hah?" bisikmu pelan. Aomine tersenyum tenang. "Aku menyukai rasa dan baumu, (name)," sahutnya. "Eh...? Apa maksudmu?" tanyamu bingung. Aomine tidak menjawab, ia malah menjilat lehermu. "D-dasar... Ero...!" katamu tertahan. "Aku menginginkanmu, (name)," ujarnya. "Kau bercanda?" tanyamu. "Untuk yang kali ini, tidak," jawab Aomine. Awalnya Aomine ingin menjilat lehermu lagi, tapi karena dia kasihan padamu, akhirnya ia berdiri. "Maaf, (name)," bisik Aomine lembut. Kamu tidak dapat mendengarnya karena kamu sudah tertidur. Aomine tersenyum kecil, lalu menggendongmu menuju kamarmu. Aomine menutupi tubuhmu dengan selimut, lalu berbisik,
"Oyasumi nasai, (name)."
KRAK! PRANG!
Topeng itu terbagi menjadi dua, salah satu bagiannya pecah, hancur lebur.
Esok harinya...
Kamu terbangun dan menyadari kalau kamu sudah berada di atas kasur. Tiba-tiba...
"OHAYOU GOZAIMASU, (name)!" teriakan Aomine membuatmu tersentak. Aomine berteriak sambil mendobrak pintu kamarmu begitu saja. "Ada apa, Aomine?" tanyamu sambil memakai kacamatamu. "Tidak apa-apa, aku hanya khawatir kau tidak bangun karena semalam," sahut Aomine. "Yang benar saja, aku selalu bangun jam segini, jam 03.00 AM," katamu. "Ck~ Ya sudahlah, kalau begitu, siapa yang mau mandi lebih dulu? Kau atau aku?" lanjut Aomine. "Tentu saja aku, Baka. Karena, kalau kau yang mandi duluan, air yang akan kugunakan nanti otomatis akan tercemar bau badanmu," jawabmu sambil beranjak pergi. "APA?!" pekik Aomine geram. "Kau budeg, ya?" tanyamu. "Lagi-lagi kau melontarkan pertanyaan itu," gerutu Aomine. "Memang aku peduli?" Setelah kamu mengatakan itu, kamu langsung melesat ke kamar mandi, masuk, dan menutup pintu kamar mandi. Sementara itu, Aomine hanya bisa tercengang melihatmu.
TBC
Next Chapter:
"Uwoo~ Dia pacarmu, ssu?"
"A-Aomine punya pacar? Apa sekarang matahari terbit dari barat, Nanodayo?"
"Aku tidak tertarik."
"Minechin nggak mungkin punya pacar."
"Salam kenal. Kuroko Tetsuya desu. Apa kau senang dengan pacarmu?"
"HEI! (name) bukan pacarku, BODOH!"
DHEG.
"I-iya... Aomine bukan pacarku, kok."
"Hee? Tapi kalian cocok, kok! Setidaknya itu menurutku, ssu."
"Kau bercanda? Dadanya bahkan tidak sebesar Satsuki! Kau tahu seperti apa tipeku, 'kan?"
"Minechin, apa kau sadar kau telah menyakiti hatinya?"
