Ini chapter dua. Semoga kalian masih ingat soal chapter pertama :D
Naruto (c) Masashi Kishimoto
Warning: Full of OOC, Fail
-oOo-
Well, setidaknya satu hal yang kupelajari dari semua ini.
Surga dan neraka itu tidak ada.
So, omongan guru agamaku pada waktu dulu ternyata juga tidak terbukti.
Flashback singkat dimulai.
"Ingatlah! Neraka mengandung api yang membakar tubuh kalian hingga hangus! Air panasnya akan melelehkan kepala kalian! Lidah kalian akan terpotong-potong oleh pisau yang amat tajam! Punggung kalian akan tersetrika licin tanpa pewangi buatan(?)! Rasakan! Camkan! Hwahahahahaha!"
Dan hanya satu kata yang kurespon dalam hati terhadap ucapan guru berambut perak dan bermata ungu itu.
Psikopat.
Flashback singkat diakhiri.
Dan disini lah aku.
Di ruangan –anggap saja ini ruangan, karena sejujurnya aku tidak mengetahui di mana sekarang aku berada- serba putih tanpa adanya batas-batas yang bisa terlihat oleh mata. Pernahkah kalian melihat episode Sponge Bob Square Pants saat Squid Ward menemukan mesin waktu dan kembali ke masa lalu dan berakhir dengan terjebaknya dia di masa depan? Wakakakak! Oh, men! It kills! Lucu banget! Apalagi yang waktu Squid Ward mengajari cara menangkap ubur-ubur pada Sponge Bob dan Patrick purba dengan menyobek dalama- lupakan.
Yang jelas tempat ini kurang lebih bisa diidentifikasikan demikian rupa.
Dan aku sendiri.
Berbeda dengan di alam Belantara tadi, di sini aku sendiri. Tanpa satu orang pun yang menemani. Awalnya aku merasa takut. Ayolah, siapa yang tidak takut jika berada di tempat yang serba putih –bagai terselimuti oleh kabut tebal- tanpa suara, tanpa siapapun yang ada di sampingnya? Namun kini, setelah menunggu dalam waktu yang lama sekali –hingga aku sempat-sempatnya menyanyikan tiga album dari penyanyi favorit kesayanganku untuk mengisi kesibukan-, aku merasa terbiasa.
Well, setidaknya tidak ada api neraka yang akan menyambar tubuhk-
BWOSH!
"#$%#$!" tak lupa acungan jari tengahku yang lentik.
Shit, panas banget punggung gue!
Aku menoleh ke belakang, ke arah datangnya suara 'bwosh' yang aneh dan norak itu. Tapi tak ada api. Tak ada asap. Tak ada suara teriakan 'Sateeee!'.
Oh Tuhan, aku lapar…
Jika aku mati, mengapa aku masih bisa meraaskan naluri alamiah makhluk hidup ini?
"Uchiha Sasuke…" sebuah suara terdengar –entah dari mana asalnya- oleh telingaku. Kepalaku menoleh ke sana-kemari, seolah ingin menemukan kamera tersembunyi yang mungkin ada di sudut tempat ini.
"Uchiha Sasuke…," ulang suara itu lagi.
Aku terdiam, menunggu apa yang akan dikatakannya lagi dan berharap bahwa kalimat yang akan kudengar berbunyi, "Selamat, anda berada di acara Uya Emang Kuya!"
"Uchiha Sasuke…."
"…."
"Uchiha Sasuke…."
"…."
"Uchiha Sasuke…."
"….."
"Uch-"
"Iya! Iya! Ini gua, brengsek!"
Kesabaranku dari pabriknya emang udah tipis.
Tak ayal aku tidak termasuk pada barisan Naruto tadi.
"Terima kasih sudah dengan benar mengucapkan kombinasi password kami."
Wotdepak sih ini orang.
"Kau sudah berada di alam reformasi tubuh. Apakah kau mengingat sebab-sebab kematianmu?"
Tidakkah orang berbadan dengan pigmen biru di alam Belantara tadi melaporkan kepada atasannya bahwa aku hilang ingatan?
"Tidak."
Sunyi setelah itu. Aku menunggu apa lagi yang akan terdengar oleh telingaku. Dan menunggu juga, seperti apa akhir dari diriku setelah dari sini.
Alam reformasi, eh?
Aku hanya takut jika kalimat yang selanjutnya kudengar adalah, "Uchiha Sasuke, mulai detik ini kami akan merubah tubuhmu menjadi struktur tubuh seorang wanita."
Well, itu mending daripada, "Uchiha Sasuke, mulai detik ini kau akan mengalami devolusi dan menjadi seekor (?) amoeba."
"Ehem!" suara itu terdengar lagi, "Uchiha Sasuke, begitu aneh dengan dirimu yang tidak mengingat sebab kematianmu sendiri."
Apa pentingnya, sih?
"Ini penting bagi kami untuk memutuskan apa yang akan kami lakukan kepadamu di alam ini."
Aku sweatdropped.
Sepertinya semua makhluk –anggap aja suara ini adalah suara dari 'makhluk' tertentu- di alam aneh ini memiliki keahlian untuk dengan sotoy-nya menerka hati orang.
Dan sialnya, terkaan mereka selalu tepat sasaran!
"Dan, setelah kami rundingkan…"
Runding? Jadi dimanapun suara ini berasal, ada banyak pasang mata yang mengamatiku?
"…. Ternyata ada kecerobohan ehemsalahteknisehem dari pihak kami dan data tentang memori otakmu terhapus olehnya."
Aku semakin tidak mengerti. Semua ini terasa lebih sulit untuk dinalar ketimbang memikirkan fakta mengapa tokoh lelaki di manga ciptaan Masashi Kishimoto selalu mendapat pasangan homo di fiksi-fiksi para fansnya.
"Dan akibatnya, kau tidak mengingat apapun mengenai sebab-sebab kematianmu. Tidak seperti roh yang lain," ujarnya lagi.
"Hn," dan hanya itu yang menjadi jawabanku.
"Dan karena itu, kami tidak bisa memberikan keputusan apapun mengenai nasibmu disini."
Well, salah siapa? Salah kalian yang memiliki sistem pengolahan dan manajemen data yang amat buruk hingga data roh saja bisa terhapus! Jangan-jangan di dunia ini ada juga kerjaan sebagai seorang hacker?
Katrok.
"Cukup! Kau telah menghina kualitas penanganan kami, Uchiha!"
Oops.
"Maaf," jawabku mengalah.
"Hhhh… Baiklah. Karena kami tidak bisa memberikan keputusan di sini sekarang juga, maka hanya ada satu cara yang bisa kami berikan untuk kau lakukan."
Apa? Membawa komputermu ke tukang servis?
"Tidak ada tukang servis di sini," ujarnya, "Satu-satunya cara adala- Apaan sih, Pein! Bentar dong gue mau ngomong. Giliran elu ngomong kan udah minggu kemarin!"
Aku sweatdropped.
Fakta yang lain telah kudapat.
Fakta pertama, di sana ada makhluk baru yang tergolong dalam spesies yang baru pula, Spesies Pein. Fakta kedua, makhluk yang berbicara ama aku ini adalah makhluk yang –dapat ditebak dari omongannya tadi- pengen banget buat eksis.
"Ehem!" terdengar lagi suaranya, "Caranya adalah, kau harus kembali ke dunia dan berusaha untuk menjalani kehidupanmu dan mengembalikan memorimu yang terhapus dari otakmu."
Wait!
"Apa?" kataku yang untuk pertama kalinya, mengucapkan kata lain selain 'hn', "Hidup lagi? Dan… mengembalikan memoriku? Bukannya itu salah kalian? Kok aku yang nanggung? Eh! Gak pernah dengar yang namanya jaman libera-"
"No no no. Kami tidak belajar hubungan internasional, bocah," ujarnya, "Dan ya, kau lah yang menanggungnya karena ayolah, yang jadi pihak yang membutuhkan di sini siapa?"
Elo lah.
"Kamu, bocah," ralatnya, "Kamu mau nasibmu luntang-lantung disini? Jikapun kamu mau, tidak kami biarkan karena prinsip kami, semua roh yang masuk ke alam reformasi ini haruslah keluar sebagai malaikat atau iblis…"
Apa? Jadi aku akan jadi iblis dan Naruto akan jadi malaikat?
How fair!
"… dan kau memang akan menjadi iblis dan akan kami turunkan ke dunia. Tapi, berhubung kamu tidak mengingat apapun tentang sebab kematianmu, maka wujudmu adalah wujud iblis yang tidak sempurna."
Iblis tidak sempurna? Maksudnya? Iblis yang memiliki sayap putih dengan lingkaran berwarna emas berkilau di atas kepala dengan tongkat berujung bintang kerlap-kerlip dan kerjanya ditugaskan untuk mengajak umat manusia berbuat kebaikan?
"Itu deskripsi malaikat! Demi Tuhan, kau bodoh sekali!" ralatnya.
Dan demi Tuhan, lo usil banget baca pikiran gue mulu!
"Sudahlah, beberapa saat lagi, kau akan mengalami perubahan bentuk tubuh dan akan pingsan, Uchiha. Setelah kau sadar, kau akan berada kembali di dunia," lanjutnya lagi, mungkin merasa lelah akan pikiran-pikiranku yang sejak awal menistai semua sistem di alam ini, "Dan setelah kau sampai di sana, tugas utamamu adalah untuk mengembalikan memori otakmu mengenai peristiwa yang menyebabkan kau meninggal."
Caranya?
"Caranya, kau harus menemukan jawabannya dengan caramu sendiri," lanjutnya dengan amat menjengkelkan, "Satu hal lagi yang harus kau lakukan."
Terdapat jeda yang lumayan lama sebelum ia berkata kembali, "Kau harus menjadi iblis pendamping dari manusia yang kau lihat pertama kali saat membuka mata."
Yeah.
Doakan yang kulihat pertama kali adalah Obama sehingga aku bisa membujuknya untuk menandatangani surat penarikan pasukan Amerika Serikat dari Libya dan surat pengakuan Internasional semacam, 'Amerika Serikat mengakui bahwa selama ini kami bertindak sotoy dan lebay. Maaf. Kalian yang merasa dirugikan bisa mengambil sembilan puluh persen aset perekonomian kami.'
Oh ya, juga tak ketinggalan, 'Britney Spears dan Lady Gaga akan dideportasi menjadi warga Negara Jepang'.
-oOo-
Dingin.
Oh Jashin, dingin banget.
Ingin kubuka mataku. Ingin aku melihat dimana kini aku tengah berada. Ingin aku mengetahui, benda apa yang berada di bawah tubuhku ini dan apa yang membuatku amat menggigil bagai orang pergi ke Kutub Utara dengan keadaan telanjang bulat...
Wait.
Ngomong-ngomong soal telanjang, kabarnya Maria Oz- ehem! Maksudku, aku mengingat sesuatu tentang itu. Seperti sebuah keadaan. Keadaan di mana aku berada di suatu tempat yang gersang... Panas... Barisan... Telanjang... Biru (?)... Pein... Dosa... Iblis... Duni-
Mataku langsung membuka lebar saat kesadaran itu perlahan-lahan ada kembali di otakku.
Dunia.
Apa sekarang aku hidup kembali?
Aku masih tidak bergerak sekalipun kedua mataku telah terbuka sempurna. Aku merasa lelah dan amat payah, seolah aku baru saja lari berpuluh-puluh kilometer tanpa henti.
Pandangan pertama yang aku lihat adalah hitam. Dan setelah melihat berbagai kerlipan di warna gelap itu, aku sadar bahwa yang tengah kutatap adalah sebuah gunung.
Oke, aku becanda. Maksudku, itu adalah langit.
Oke, petunjuk pertama. Sekarang adalah malam hari.
Aku memejamkan mata sejenak, lalu dengan perlahan menggerakkan ujung jari telunjuk kananku secara perlahan. Saking capek dan letihnya, aku takut jika aku bergerak sedikit saja, maka aku akan say goodbye pada jemariku yang lentik tanpa polesan kuteks. Dan setelah yakin bahwa aku masih memiliki sepuluh jari utuh setelah menggerakkan telunjukku tadi, aku langsung secara cepat menggerakkan tubuhku dari posisi tidur ini ke posisi duduk.
HUP!
Dan...
"AAAARRRGGGHHH!"
Anjing! Babi! Kecoa! Tikus! Kampret! Kupu-kupu(?)!
Oh Mama, sakit banget! Aku gak pernah inget kalo aku pernah punya sakit encok!
Oh, perut six packed-ku...
Beberapa waktu kuhabiskan hanya untuk meringis dan menahan rasa sakit. Kupejamkan mata erat-erat, seolah hendak meredam perih dan panas yang menyiksa di dalam sini. Tak kuhiraukan lagi sekelilingku, bahkan tak kuhiraukan lagi keadaan dingin dan beku bagai berada di Kutub Utara dengan keadaan telanjang bulat.
Lalu, setelah merasa bahwa keadaan menjadi lebih baik, aku kembali membuka mata. Dan kini, selain langit, pandanganku menangkap semua hal yang serba putih.
Ah? Apakah aku masih berada di Alam Formasi apalah itu?
Tidak ternyata. Sebuah papan besar seperti papan penunjuk jalan, terpampang tak jauh dari tempatku ini. Dan papan itu mengatakan secara tak lisan bahwa, "You're now at North pole. Please, don't be strayed or killed by pole Bear. Good luck! Jashin bless you."
Well, terkutuklah siapapun orang iseng yang membuat dan menancapkan papan itu.
Fakta kedua yang kudapat: Aku berada di –Ya Tuhan! Aku tak menyangka!- Kutub Utara.
Dan saat aku menunduk hendak memegangi kakiku yang lumayan ngilu, aku seketika mendapatkan fakta ketiga: keadaanku kini telanjang bulat.
.
.
Kupikir aku tak menyangka jika khayalanku tadi adalah sebuah kenyataan.
Aku mulai menarik kedua kakiku dan menekuknya, memeluk kedua lututku untuk setidaknya, mengurangi rasa dingin yang sangat menyiksa ini.
Pikiranku kembali mengingat-ingat sesuatu.
Apakah barisan-barisan di tanah yang gersang tadi nyata? Apakah makhluk dengan wajah biru itu memang ada? Apakah aku benar-benar telah mati dan sekarang hidup lagi? Apakah semua itu hanya mimpi?
Tetapi, melihat keadaanku sekarang yang telanjang dan terbuang di kutub Utara, aku seketika ragu jika semua yang kupikirkan tadi hanyalah mimpi. Karena, ayolah, jika aku masih hidup, ngapain coba, aku sampai bisa nyasar ke sini dan telanjang kayak gini, heh?
Aku menghela nafas berat, lalu berusaha untuk bangkit. Perlahan-lahan tentu saja. Membayangkan betapa nyerinya punggungku tadi saat dengan tiba-tiba kupaksa bangkit dari keadaan tidur, membuatku bergerak lebih hati-hati dari seorang nenek-nenek osteoporosis stadium wassalam.
Wait, 'nenek-nenek'?
Beberapa menit kemudian, aku bisa berdiri. Aku bisa merasakan betapa bergetarnya kedua kakiku saat aku berdiri begini. Dingin, oi! Aku bersumpah, jika setelah ini aku menjadi iblis, akan kutusuk makhluk-makhluk aneh yang mengirimku ke tempat yang tidak elit dengan keadaan nista begini dengan trisulaku!
Kayak gak ada tempat lain aja. Kirim gue ke Hollywood kek!
Dengan perlahan, aku menggerakkan kakiku. Yah, tentu saja aku tidak mau selamanya terjebak di sini. Meski aku sesungguhnya telah mati –well, sekarang aku pasrah mengakuinya-, tetapi tetap saja, melihat beruang kutub berlari kalap ke arahmu bukanlah hal yang enak dipandang, termasuk oleh iblis sepertiku.
Yeah, I'm a devil. So what?
Sembari mulai berjalan –well, kupikir langkah kecil-kecil yang lebih lambat dari langkah perempuan berkebaya dan memakai sepatu dengan hak 6 cm (?) ini tak bisa disebut dengan 'berjalan'- aku mulai memikirkan bagaimana cara melakukan tugas yang menjadi alasan dibuangnya aku ke alam dunia.
Yah, aku lebih suka menyebut semua ini dengan 'pembuangan' daripada 'pengembalian' atau 'penurunan' atau 'pengiriman' atau 'pendeliverian' atau 'apapun maksudmu'.
Bagaimana caraku untuk mengingat apa yang menjadi sebab kematianku?
Oh Jash- maksudku, Tuhan! Mengapa ini harus terjadi padaku? Udah cukup nista banget nasibku yang harus termasuk dalam kelompok pendosa dan sampah akhirat, trus jadi iblis. Sekarang aku harus menjalani misi yang lebih parah dari misi Be a Man ini!
Belum lagi aku harus menjadi pendamping dari orang pertama yang kutemui. Heh! Apa-apaan itu! Mereka tidak tahu, ya, siapa gue? Uchiha! Kutekankan sekali lagi, U-C-H-I-H-A! Laknat banget mereka menurunkan status sosialku dari penguasa menjadi budak belian begini!
Aku menghela nafas berat. Capek, man! Mana sejauh ini aku cuma menjauh dengan jarak 100 meter dari tempat semula pula! Pengen banget lari, tetapi kalau aku melakukan hal itu, kupastikan aku akan benar-benar mati, bahkan dalam statusku yang menjadi iblis dan bukan manusia lagi ini!
"Tes-tes!"
Langkahku terhenti dengan kedua kelopakku yang sedikit membelalak.
Suara ini... familiar...
"Uchiha."
"..."
"Uchiha."
"..."
"Uch-"
"Iya! Iya! Ini gue, brengsek!"
Dan percakapan ini pun terasa amat familiar...
"Terima kasih."
Wotdepak.
Siapa sih ini orang? Dari mana suara ini berasal? Dan Heck! Dia mancing kesabaranku cuma untuk ngetes pendengaranku dan ngucapin terimakasih?
"Uchiha."
Aku memutar bola mata dengan muak, "Yeah?"
"Kami yang berbicara denganmu di alam Formasi tadi," ujar suara itu, bagaikan suara angin yang membahana di kutub yang tampak luas dan sepi ini, "Sekarang, seperti yang kau lihat, kami telah menurunkanmu ke dunia, tepatnya di Pulau Hawaii."
Aku syok banget saat mendengar ucapan itu.
Oke, mungkin aku salah. Mungkin dulu nilai IPSku bobrok banget kayak muka Kakak semata wayangku. Mungkin aku lupa akan peta dan kondisi geografis dari tempat di Bumi. Tapi, perasaan, ini hanya perasaan dan seingatku saja, ya...
Perasaan di Hawaii itu sejuk, angin semilir dengan amboi-nya, daun kelapa menari-nari dan ombak berdebur dengan burung camar terbang di kala matahari terbenam, dan juga pinggul para penari Hawaii yang meliuk-liuk dengan wow!
Dan disini? Dingin, angin membekukan, gak ada daun kelapa, dan satu-satunya makhuk hidup di sini hanyalah aku! Jika suhunya kejam banget begini, beruang kutubpun sekarang pasti tengah berada di sarangnya dan menyalakan perapian sekalipun habitatnya adalah di tempat dingin.
Otak nih makhluk konslet banget kali, ya?
"Beraninya kau berpikiran begitu, Uchiha! Kau meragukan kualitas intelejensi kami, ya?"
"Ya," jawabku lantang, berani membela kebenaran dan pengetahuan. Serta gigih memberantas kebodohan dan primitifan!
"Gggrrrrhhh! Ngatain kami bodoh dan primitif lagi! Lihatlah, siapa yang sekarang keluyuran dengan gak pakai baju?"
Skak mat.
"Hhh... untung aja, aku ini yang paling sabar, bocah. Jika yang lain, kau mungkin sudah dipindah beneran ke Kutub Utara lho!"
Hoh, matamu katarak!
"Begini, bocah. Berhubung kau sekarang adalah dalam bentuk iblis yang tidak sempurna, maka kau mempunyai struktur anatomi baru dalam tubuhmu. Yakni, kau bisa memunculkan sayapmu, bocah. Dan seperti yang mungkin telah kau sadari, kau bisa bernafas dan jantungmu kembali berdetak."
Aku terhenyak.
Ya, itu benar. Aku sekarang seperti manusia hidup sehat. Jantung berdetak, nafas berhembus... kecuali...
"Sayap?" tanyaku, sembari membayangkan dua buah sayap hitam, gelap, gede. Keren! I'm a so cool and hot devil!
"Ya," jawab suara itu, "Tetapi, kau tidak bisa sembarangan memunculkan sayapmu. Dalam keadaan biasa, kau hanya tampak seperti seorang manusia. Berjalan, bernafas, dan sebagainya. Tetapi, dalam keadaan tertentu, kau bisa memunculkan anatomi tubuhmu yang lain. Misalnya saja seperti sayap. Kau juga bisa memiliki kemampuan khusus sehubungan dengan statusmu sebagai iblis. Misalnya saja, kemampuan untuk membaca pikiran dari orang lain, kecuali pikiran orang yang akan menjadi majikanmu."
Cool, isn't it? Aku takjub. Berarti aku habis ini akan keren dan hebat banget, dong? Wakakak! Tetapi, bisakah makhluk yang tengah berbicara padaku ini tidak merusak imajinasiku dengan satu kata, yakni 'majikan'?
Hell, percuma aja hebat-hebat tapi kalo ujung-ujungnya kehebatan itu kugunakan untuk mengosek WC!
"Bagaimana aku memunculkan sayapku?" tanyaku tak sabar. Jujur saja, capek banget aku untuk jalan. Pasti lebih mudah untuk terbang. Dan lebih cepat tentunya.
"Kau hanya bisa memunculkan sayapmu saat kedua matamu melihat ada bintang jatuh."
"..."
Apa tadi ia bilang? Syarat macam apa itu? Jika aku sangat membutuhkan sayapku saat siang hari, dari Hongkong aku bisa mengharap ada bintang jatuh?
"Yap! Artinya, sayapmu hanya bisa kau keluarkan dalam waktu malam hari saja," ujar suara itu.
"Ta-tap-"
"Oke, segitu aja petunjuk dari kami. Nanti akan kami kabari lagi. Selamat berjuang, Uchiha!"
Klik.
Aku sweatdropped.
Pembicaraan kami tadi pake telepon, ya?
Aku menghela nafas. Lalu mengarahkan tatapanku ke arah langit.
Banyak banget bintang. Di daerah kutub –yang dibilang Hawaii, Demi Tuhan!- ini, langit terlihat lebih jelas karena tak ada asap dari pabrik-pabrik industri negara-negara besar. Aku bisa melihat banyak banget bintang yang bertaburan di sana.
Tetapi, tidak ada yang jatuh.
Sayapku tidak akan muncul.
Dan demi Lady Gaga, gue capek!
Aku kembali berjalan, masih tertatih. Aku pasrah saja pada kondisiku. Aku membenci makhluk dari alam Formasi yang menyiksaku seperti ini. Aku dibilang udah mati, kan? Kenapa aku masih bisa merasakan dingin? Sakit? Ngilu? Encok? Kejam, kan?
Namun, segala umpatan yang kuikrarkan dalam hati khusus untuk persekutuan makhluk geje nan sok eksis di alam Formasi tadi, terhenti saat pandanganku tertumbuk pada langit yang hitam kelam bertabur bintang di atas sana.
Khususnya pada objek berkelip yang bergerak.
Bintang jatuh?
Namun, senyum yang sempat mengembang besar di mulutku, berubah menjadi sungutan jengkel saat menyadari bahwa benda berkelip itu bergerak terlalu lamban untuk bisa diidentifikasikan sebagai bintang jatuh!
Yap! Yang kulihat tadi adalah pesawat!
Gembel proletar dah!
Aku kembali berjalan. Perlahan, imajinasiku mulai menerka-nerka, apa yang akan terjadi padaku setelah ini. Siapa yang akan pertama kali kulihat dan dia akan menjadi partnerku dalam mencari memori ingatanku? Yeah, aku jauh lebih suka menamakannya 'partner' ketimbang 'majikan' yang secara otomatis nginjek-injek harga diriku yang selama ini naik terus tanpa ada diskon.
Kuharap orang yang kutemui nanti tidak merepotkanlah.
Aku berhenti sejenak. Tubuhku benar-benar lemah. Aku yakin, jika terus saja kupaksa, maka aku akan nyungsep ke tanah es ini dengan tidak elitnya. Dan tak akan ada yang akan menolongku.
Apa? Makhluk di alam Formasi tadi? Emang mereka akan peduli? Hello, mereka pikir aku di Hawaii! Dan Hawaii bukanlah tempat ekstrim yang bisa membuat darahmu membeku hanya dalam beberapa jam saja!
Terlebih, mereka itu idiot.
Aku memandang langit kembali. Sungguh indah. Untuk pertama kalinya aku mampu melihat pemandangan langit malam hari yang sebersih dan seterang ini. Tentu saja, karena di Jepang, yang termasuk negara industri besar, melihat bintang di langit adalah hal yang mustahil kecuali jika kau telah kehilangan akal sehatmu. Dan oleh karena itu, melihat langit yang bertabur bintang di seluruh penjuru langit seperti ini, membuat seorang Uchiha sepertiku terpana.
Melihat langit, aku jadi berpikir, apakah alam Formasi itu ada di sana? Apakah barisan-barisan para roh itu juga terdapat di sana?
Khayalanku terhenti saat mataku menangkap kilauan cepat yang bahkan tak sampai sedetik aku mampu memandangnya.
Holyshit!
Itu bintang jatuh!
Senyuman senang terumbar di bibirku. Jika aku dalam keadaan tak lemah begini, aku pasti akan langsung melompat dan menari hula-hula dan muter-muter ala tarian orang bar-bar dan primitif.
Senang!
Sayapku, aku sehabis ini akan terbang dengan dua buah sayap hitam kekar dan tampak keren.
Aku rasakan tubuhku mulai terasa aneh. Seperti ada sesuatu yang bergejolak di dalam sana. Aku meringis, karena jujur saja, rasanya agak sakit. Seperti ada satu organku yang ditarik paksa keluar dari rangka tubuhku.
Panas.
Sial, jika seperti ini kedua buah sayapku harus muncul, lebih baik tadi aku ngesot aja untuk keluar dari sini! Sumpah ya, makhluk Formasi tadi kayaknya gak ikhlas banget buat bikinin sayap gue!
"Argh!" teriakku kesakitan saat aku rasakan ada sesuatu yang keluar dari punggungku.
Aku memejamkan mata sembari menggigit bibir bawahku. Mencoba menahan rasa sakit dan panas yang terasa membakar bagian dalam tubuhku. Keringatku mulai bertetesan, menandakan bahwa hawa dingin yang sejak tadi kurasakan, kini lenyap oleh rasa panas yang menjalar di tubuhku.
Perlahan, aku mulai membuka mata saat rasa sakit itu berkurang. Aku perlahan pula, mengatur nafasku dan mencoba membuat detak jantungku kembali normal.
Lalu, aku merasakan sesuatu yang bergerak di punggungku.
Mataku terbelalak saat mendengar suara seperti kepakan sayap burung.
"Sayap...," gumamku lirih, tak percaya akan apa yang tengah terjadi padaku.
Sayap? Oh, benarkah aku telah memiliki sayap?
Perasaan senang membuatku seketika berdiri tegak, seolah lupa akan semua kenyerian dan rasa lemas yang semula kurasakan.
Mendapati fakta bahwa aku telah memiliki sayap, bagaikan terbang menuju langit berlapis-lapis, meluncur bareng paus akrobatis, dan menembus rasi bintang paling manis! Oh ya, juga bagai dapet kencan satu malam dengan Britney Spears!
Perlahan, aku mulai mencoba menggerakkan sayapku dan aku makin terkejut saat mendapati kedua buah kakiku telah melayang di atas permukaan tanah es Kutub Utara. Dan saat aku mulai bergerak terbang, aku tak bisa menahan lagi teriakan "Wohoooooooo!"-ku layaknya kekatrokan orang Afrika saat mengetahui bahwa antena parabola itu alat komunikasi, bukan payung.
Aku semakin menikmati keadaan ini. Tubuhku semakin melayang, jauh di atas permukaan tanah es yang tadi kupijak. Aku semakin senang, melihat keadaan di bawah, jauh lebih senang dengan saat ketika untuk pertama kalinya aku naik pesawat terbang dan dengan udiknya nunjuk-nunjuk ke luar jendela pesawat sembari teriak "Mama! Ada asap di sana! Ada kebakaran!" yang berakhir dengan jitakan keras di kepalaku oleh orang yang paling kusesalkan kehadirannya di dunia ini, Kakakku.
Dan beberapa tahun kemudian, baru aku sadari bahwa yang kutunjuk waktu itu memang asap, namun asap udara pembentuk gumpalan awan, bukan asap kebakaran.
Aku mengepakkan sayapku lagi, terbang makin jauh. Pemandangan Kutub Utara, perlahan terganti dengan pemandangan kota. Hamparan es berwarna putih bersih, terganti dengan kerlap-kerlip lampu metropolitan. Keadaan hening, terisi oleh kebisingan kehidupan kota yang tak akan pernah mati.
Sembari masih terbang, aku baru sadar jika aku belum sempat memerhatikan kedua sayapku. Rasa penasaran, membuatku terbang menghampiri kaca dari sebuah gedung besar yang ada di pusat kota itu. Aku ingin memerhatikan, seperti apa sayapku.
Oh, andai saja sekarang aku memiliki kamera, ingin aku sekali saja, bernarsis ria!
Oke, kuralat. Aku ingin untuk kesekian kalinya, bernarsis ria.
Dan saat aku sampai di depan kaca itu, niat untuk berpesta narsis terhenti dan pupus sudah. Senyum kebanggaan yang sempat kuulum, memudar tergantikan oleh mulutnya yang menganga syok dengan kedua mata yang melotot horor!
Tidak ada. Tidak ada sayap hitam. Tidak ada warna kelam pertanda iblis kematian. Tidak ada sayap yang gagah. Tidak ada sesuatu pun yang keren dan so-Uchiha!
Yang ada adalah sayap transparan.
Pink.
Glittering.
Dan...
Bentuk ala kupu-kupu.
Mungkin para peri Barbie di Fairy Tophia akan iri dan jeles berat dengan dua buah sayapku ini.
Namun, aku tak sempat berteriak horor ala cewek yang dapetin seorang cowok mesum yang masuk toilet cewek.
Aku tak tahu bagaimana kedua mataku terasa berat dan tubuhku terasa ringan.
Bahkan aku tak yakin jika semua yang kulihat tadi nyata, saat seluruh pandanganku kini berubah menjadi gelap.
-oOo-
Makasih untuk kesediaan membaca dan meluangkan waktu :D
Salam,
Uchiha Yuki-chan
