Title : Rain Affair ::Clara Canceriana:: Yunjae Version -
Pairing : Yunjae ..
Rate : T
Chap : 1/?
FYI : Kim Jaejoong, Kim Heechul&Kim Junsu = Yeoja *Genderswitch*
Other cast = Normal ..
Don't Like Don't Read ..
OOC / TYPOS ..
Ternyata banyak sekali typo di chap 1-2 ..hhuuhhuuu mianheeeeeeeee ..
Author tekankan sekali lagi, seperti di summary yang author tulis, ini Rain Affair milik Clara Canceriana , author buat Yunjae Version nya ..
Don't Like Don't Read ^^ .. Gomawo yang udah review ..
NO BASHING ! .. IT JUST A RAIN AFFAIR'S CLARA CANCERIANA YUNJAE VERSION ..
YANG GAK SUKA GAK USAH TERUSIN BACA .. SO SIMPLE ! GOMAWOYO *bow
Tik .. tik .. tik ..
Kalau hujan tidak turun hari itu ….
Apa mungkin pertemuan ini akan terjadi ? ….
RAIN AFFAIR ..
Pagi ini, rupanya Changmin salah satu teman Jaejoong di kantor sudah kembali hadir setelah seharian kemarin terkapar tak berdaya di rumah karena satu alasan: bermasalah dengan perutnya yang banyak diisi berbagai macam jenis makanan!.
Chanmin gak menjelaskan secara rinci kenapa dia bisa sampai terkapar hanya karena banyak makan, yang Jaejoong tahu Changmin memang memiliki kebiasaan makan banyak tanpa memperhatikan makanan apa yang dia makan. Terkadang sesekali setelah dia merasa perutnya terasa penuh, dia memilih untuk bergaya ala penyair dengan merenung di teras tengah malam sambil sesekali merokok. Istrinya tidak suka dengan asap rokok sehingga dia dengan terpaksa merokok secara diam-diam.
"Haiii, Jae." Jaejoong menyodorkan secangkir kecil berisi kopi tanpa gula, kesukaan Jaejoong. "Junsu laporan, katanya kemarin anniversary kamu sama Hyunjoong yah ?"
Jaejoong mengangguk pelan, saat dia baru saja menyalakan computer.
"iisshh… gak bilang-bilang. Mentang-mentang yang bahagia setaunan."
Jaejoong mencibir. "apa harus aku kirim laporan kalau kemarin aku dinner?"
"hahaha.. iya dong tentu harus." Changmin menyeruput kopinya, "terus, gimana semalem? Jangan cari alasan untuk absen cerita, aku tahu kalau kerjaan kamu sekarang gak sibuk banget."
Tangan Jaejoong menggerak-gerakkan mouse dalam diam.
Sebenarnya, Jaejoong enggan membahas lagi masalah semalam. Tapi Changmin dan Junsu itu sama-sama tidak tinggal diam kalau sesuatu terjadi pada Jaejoong.
"Apanya yang gimana? Kita pergi ke resto, makan sambil ngobrol, terus pulang. Udah jelaskan ?gak pake disensor cerita semalam!" Jaejoong geram
"Yaahh ..kenapa jawaban kamu Cuma gitu aja?" Changmin menepuk pundak Jaejoong. "kita kan peduli sama kamu, jae."
"yeah .. I know. Kalau ada masalah aku pasti cerita sama kalian." Jaejoong menyenderkan punggungnya. "Tapi, kali ini semua baik-baik aja, changminnie." Maksud jaejoong, semua masih bisa dia handle sendiri. Jadi, dia tidak ingin membuat kedua temannya repot dengan urusan cintanya yang berada di awang-awang.
"ohya min, kandungan Seohyun gimana ?"
"So far so good, jae." Ujar Changmin
Mereka pernah beberapa kali jalan bareng. Changmin sengaja memperkenalkan Seohyun dengan Jaejoong dan Junsu agar tidak ada kesalahpahaman dalam rumah tangga mereka. Buktinya, sejauh ini memang tidak pernah ada rasa cemburu yang mengganggu hubungan Changmin dan Seohyun.
Jujur saja, Jaejoong kadang iri dengan Seohyun yang selalu mendapat perlakuan manis dari Changmin. Sikapnya begitu lembut. Senyumannya begitu tulus dan sorot matanya tidak bisa membohongi siapa pun yang melihatnya. Ada cinta disana. Changmin benar-benar memperlakukan Seohyun layaknya putri rajayang tidak boleh tergores sedikit pun. Jauh di lubuk hati Jaejoong, dia sangat mengharapkan Hyunjoong bisa seperti Changmin.
"Jae, kenapa kamu pucat sekali hari ini? Kamu sakit?" Tanya Changmin
Pasti ini gara-gara kena hujan tadi pagi, Jaejoong membatin.
Tiba-tiba ponsel Jaejoong bergetar, Changmin berniat bergeser dari meja Jaejoong, mendadak mengurungkan niat. Ekspresi Jaejoong mengatakan kalau telepon itu dari Hyunjoong.
"Jae, kamu bawa mobil gak?" Tanya Hyunjoong agak tergesa-gesa. Sesekali, terdengar suara derap langkah cepat. Mungkin Hyunjoong sedang sibuk, tapo memaksakan diri untuk menghubungi Jaejoong. Rasanya bahagia sekali mengetahui ada satu sisi Hyunjoong yang mau memperhatikan Jaejoong.
"ngng.. nggak. Tadi pagi mobilku ngadat mendadak."
"Lucky you. Nanti pulang kantor, aku jemput kamu, jam enam, ready kan ? Aku belum sempet jelasin waktu itu, tapi intinya aku mau ajak kamu makan malam sama rekan kantorku yang baru. Dia baru pindahan."
Kenapa juga harus ada orang ketiga ?Jaejoong memprotes dalam hati. "Oke, aku tunggu di depan kantorku."
"oke. See you."
Telepon terputus. Jaejoong mendesah panjang, lupa kalau ada Changmin yang mengawasi di sana. Begitu sadar, Jaejoong hanya bisa memukul pelan lengan Changmin karena nyaris saja menangkap ekspresi Jaejoong yang agak menyesal.
"biasanya nih ,aku sama Seohyun kalau di akhir telepon pasti bakal bilang love you or miss you. Buat aku, hubungan kalian terkesan terlalu cuek. Lebih mirip temen." Changmin sedikit membungkukkan badan agar pembicaraan itu tidak bisa disadap telinga lain. Jaejoong tertegun, tanpa bisa berpikir.
"One question, jae."
"be my guest."
"apa ada yang salah dengan hubungan kamu sama Kim Hyunjoong ?" ….
….
RAIN AFFAIR ..
Akhirnya, Jaejoong bisa menghempaskan tubuhnya di jok empuk audi berwarna biru dongker milik Hyunjoong, setelah hampir setengah jam menunggu di depan kantornya.
Sudah berkali-kali Hyunjoong telat menjemputnya, dan berkali-kali juga dia kesal dengan semua itu. Tapi itu tak menyurutkan emosi Jaejoong saat itu.
"kamu kenapa diem aja, jae ?" Suara Hyunjoong terdengar lembut meluncur dari samping tempat duduk Jaejoong.
"ngng .. gwenchana .."
Hyunjoong benar. Jaejoong memang sedang sibuk dengan keheningan. Otaknya terus bekerja memutar rekaman ulang, kata-kata yang diutarakan Junsu dan Changmin, nyaris berurutan di pagi hari tadi. Semua ucapan itu benar-benar membuat Jaejoong terpojok. Namun, dia juga tidak memiliki bukti pembelaan yang kuat, karena jauh di lubuk hatinya, Jaejoong tahu mana yang benar. Dia hanya berharap beberapa kalimat penyangkalan yang terlontar dapat meyakinkan kedua temannya itu. Meski semakin menjerumuskan Jaejoong ke arus penyangkalan hatinya.
Jaejoong menyenderkan kepalanya. Dia merasakan nyeri di bagian kepalanya, mungkin ini efek dari hujan tadi pagi.
Jaejoong pengen cepat-cepat berada di rumah dan segera beristirahat. Di kepalanya sudah terbayang apartemennya, membuat Jaejoong pelan-pelan memejamkan matanya. Hyunjoong meliriknya tanpa berbicara.
Tiba-tiba ponsel Jaejoong bergetar. Satu pesan masuk, membangunkan Jaejoong dari tidurnya.
Junsu.
He came late. Did he say sorry ?
Jaejoong tersenyum getir.
"Siapa Jae?" Tanya Hyunjoong penuh rasa ingin tahu, masih dengan posisi yang sama. Tanpa sekalipun menoleh.
"Oh . ng .. Junsu," Jaejoong mendadak gelagapan
"Kenapa dia gak nemenin kamu sampe aku datang?"
"Dia kan gak ada kewajibanuntuk ngelakuin itu."
Senyum jaejoong mengembang lemah. Hhmmm, seandainya kamu gak telat, batinnya pelan.
Hyunjoong masih tidak menunjukkan tanda-tanda menyesal setelah disindir seperti itu. "Kita makan di kedai ramen di gedung sebelah kantorku saja yah, kebetulan aku dan temanku janjian disana. Rekan kerja baruku itu menangani proyek bareng Go ahra." Jaejoong hanya mengangguk mendengar celotehan Hyunjoong.
"hari ini kamu kenapa sih, Jae ? Kamu lebih banyak diam." Tanya Hyunjoong beruntun. "Kamu sakit?"
"mmm aniya .. Cuma perasaan kamu aja." Jaejoong memaksakan dirinya untuk tersenyum. "ngng .. gomawo buat perhatiannya."
Hyunjoong terhenyak. Dia mempererat cengkramannya pada kemudi mobil hingga telapaknya memutih. Hyunjoong memasang senyum paksa. "Maksud kamu apa, Jae?"
"Jadi kamu maunya aku ngomong apa ke kamu? Bilang kalau aku seneng nunggu kamu sampe setengah jam? Aku harus memasang ekspresi biasa saat lihat kamu merasa gak bersalah karena selalu ngaret yang apapun itu ada hubungannya sama aku."
Hyunjoong semakin emosi. "Kamu pengen aku gimana ? Minta maaf?"
Jaejoong tertegun, "Hyun-ah belakangan ini aku merasa hubungan kita terlalu jauh, kamu terlalu jauh dari jangkauanku." Jaejoong tidak sadar dengan apa yang baru saja dia ucapkan.
Hyunjoong semakin geram. Jaejoong melihat rahangnya juga tampak mengeras. "Aku seperti gak kenal kamu."
Seandainya lalu lintas tidak sepadat saat itu, Hyunjoong pasti akan menginjak pedal gasnya lebih dalam lagi. "Jae, gak seharusnya kamu memulai keadaan menjadi seperti ini." Desisinya tajam, tak menatap Jaejoong sama sekali. "Kamu gak perlu ngomong yang gak masuk akal kayak tadi. Pengaruh temen kamu kan ?"
Jaejoong menghela napas. Otaknya bekerja cepat memutuskan sesuatu untuk mengakhiri nada-nada sinis yang mengalir dari mulut Hyunjoong. "Mi..mianhe , aku gak bermaksud bikin kamu marah. Aku Cuma pengen kamu peka sama perasaan aku. Gimana pun juga, aku ini pacar kamu."
Hyunjoong memejamkan mata sebelum berkata dengan nada tertahan. "Mungkin aku juga terlalu capek mengurus proyek, jadi aku mudah tersulut emosi."
"Kamu masih marah, Jae?" Hyunjoong mengamati Jaejoong dengan ekor matanya.
"Tentang desain-desain untuk iklan terbarumu. Aku akan membantumu .. Jadi Just prepare yourself to be my client," mata Hyunjoong mengerling jahil, "jadi siap saja aku repotin."
"gomawoyo Hyun-ah .."
RAIN AFFAIR ..
Kebiasaan Hyunjoong yang agak sulit diikuti Jaejoong adalah cara berjalannya yang selalu gesit bahkan tekesan terburu-buru. Tanpa mengenal suasana. Mengingat saat itu Jaejoong mrngrnakan stiletto, mengikuti langkah Hyunjoong jelas merupakan masalah baginya. Karena itu, ketika langkah mereka terhenti di atas escalator, Jaejoong segera mengaitkan jari-jarinya yang lentik di sela-sela jari Hyunjoong yang besar.
Ketika tangga turun escalator berakhir, keduanya berbelok dan berjalan beberapa langkah menuju sebuah kedai ramen yang terbilang sangat mewah dengan interior yang didominasi berwarna merah.
Hiasan mie kering tersimpan manis di dalam kaca, seolah menyambut mereka.
Seorang namja dengan rambut dipotong pendek dan rapi berbalut kemeja warna baby blue, mengangkat tangannya, membuat Hyunjoong bergerak mendekat. "itu temenku," kata Hyunjoong. Jaejoong tersenyum dan mengikuti di belakang punggung Hyunjoong.
"Udah nunggu lama ?" tanyanya basa-basi sambil menjabat tangan Jung yunho.
Yunho nyaris tersedak minumannya ketika menyadari yeoja berambut panjang dengan kulit seputih susu yang berjalan mengikuti Hyunjoong. Jantungnya langsung berdegup kencang sementara matanya hampir tak berkedip mengikuti sosok mungil itu berjalan kearahnya. Antara percaya dan tidak, Yunho kemudian berusaha mengendalikan dirinya agar tetap terlihat tenang. Bagaimanpun, kenangan setahun lalu - - - di bawah rinai hujan itu - - - adalah miliknya sendiri. Dia yakin yeoja itu bahkan tak mengingat kejadian itu - - - minimal, tak sejelas di dalam ingatan seorang Jung Yunho.
"Udah nunggu lama?" Tanya Hyunjoong basa-basi sambil berjabat tangan dengannya.
"ngng .. gak kok," dustanya. Yunho ingin sekali melirik yeoja yang berada di samping Hyunjoong, tapi kemudian merasa itu adalah tindakan yang tidak pantas.
"loh, kamu gak sama Ahra?"
Dia menggeleng. "Katanya, tadi dia udah janjian bareng kekasihnya. Jadi gak bareng sama aku.
Hyunjoong manggut-manggut. "Ohya, ngng .. kenalin ini Jaejoong. Jae ini Yunho."
Yunho tak bisa menahan diri. Saat tangannya bersentuhan dengan tangan mungil dan lembut milik yeoja itu - - - yang mengenalkan diri bernama Jaejoong - - - dia tak bisa menyembunyikan cengiran lebarnya. Sikapnya masih sehangat pertemuan mereka setahun lalu. Senyuman yang sama. Binar mata yang sama.
Kecuali….. seperti dugaannya, yeoja itu tidak mengingatnya. Dan senyumannya tak lain karena kesopanan saja.
"yun, mian, tadi aku telat karena harus menjemput dulu Jaejoong di kantornya. Delimited - - - tahu ? Dia kerja disana."
"mmmm .. anak iklan rupanya," ujar Yunho yang dibalas Jaejoong dengan senyuman kecil.
"Dulu Jaejoong tinggal di Chungnam," sela Hyunjoong. "mmm .. kamu juga berasal dari Chungnam kan?"
Yunho mengangguk. "sebenarnya aku berasal dari gwangju, tapi ketika aku beranjak balita, aku dan keluargaku pindah ke daerah Chungnam."
Alis Yunho reflex terangkat keatas. Dia mencoba menemukan reaksi 'mandadak kenal' tergambar di wajah Jaejoong. Chungnam…. Harusnya itu cukup menjadi petunjuk.
Minimal, dia mengingat fakta mereka pernah bertemu walaupun sekali.
Sayang, tetap saja nihil.
Hyunjoong beralih pada Jaejoong. "Yunho juga akan tinggal di apartemen yang sama dengan kita." Jaejoong mengangkat alisnya. "Inget unit disebelahku? Yunho yang bakal nyewa disana."
"oooohhh hhmmm .." ujar Jaejoong seadanya sambil menepuk bahu namja disebelahnya itu.
"mmm .. bukannya ini hari pertama masuk langsung kerja. Perasaan kamu soal kantor gimana?"
"Sejauh ini…..fine. Aku masih perhatiin cara kerja Ahra dulu. Well, anak baru soalnya." Yunho mengaduk-aduk minumannya di dalam gelas.
RAIN AFFAIR ..
Saat Jaejoong sedang tidak enak badan dan dalam mood yang kurang baik, lagi-lagi kekasihnya - - - Kim Hyunjoong membuat Jaejoong kesal. Sepanjang perjalanan menuju lantai unit apartemen Jaejoong, Hyunjoong justru sibuk mengobrol dengan Yunho, lagi-lagi Jaejoong terabaikan. Paling nggak, Hyunjoong bisa mengobrol sambil menggandeng atau merangkulnya. Permintaan Jaejoong tidak berlebihan, bukan ?
"mmm .. mianhe Yunho-ssi, kamu jadi ikut nganterin aku." Jaejoong menyela pembicaraan yang sempat terhenti sejenak karena mungkin mereka sudah kehabisan topik. Kalau bukan dia yang menyela, sampai kapanpun Hyunjoong tidak akan pernah menyadari keberadaan Jaejoong, yah apalagi menyadari bahwa Jaejoong sedang kesal dengan Hyunjoong.
"gwenchana .. kurasa panggil saja aku Yunho.."
Jaejoong tersenyum tak enak. "baiklah."
"memang kamu kenapa sih, Jae ? tiba-tiba gak enak badan ?" Tanya Hyunjoong
"Kehujanan tadi pagi."
"Kenapa gak bawa payung sih ?" Tanya Hyunjoong lagi sedikit lebih tinggi .
Hyunjoong tidak mengenal Jaejoong hanya dalam satu dua hari kan ? Seharusnya dia tahu kebiasaan Jaejoong yang tidak pernah membawa paying.
"aku lupa."
"habis ini istirahatlah." Jaejoong menganguk pelan, mengiyakan nasihat yang terlontar dari mulut Hyunjoong. "Besok pagi tunggu aku di parkiran bawah. Kita berangkat bareng. Kebetulan aku mau ke bengkel, mau cek kerjaan tukang. Jadi, aku bisa anter kamu dulu ke kantor."
"Ne .." Senyum Jaejoong merekah.
"oke sampe juga, istirahat dan cepat tidur, Jae." Perintah Hyunjoong
Binar-binar ceria tampak dari kedua bola mata Jaejoong. Buru-buru Jaejoong tersenyum dan mnengangguk kecil.
"aku pulang dulu yah, Jae." Pamit Yunho
Jaejoong hanya mengangguk.
Namun, dia tidak bergegas ke dalam. Jaejoong tetap berdiri di depan pintunya, menunggu hingga Hyunjoong dan yunho menghilang di balik tikungan menuju lift. Sekilas, sebelum kedua namja itu benar-benar pergi, Jaejoong bisa merasakan kalau Yunho menoleh ke belakang- - - Ke arahnya.
Entah benar atau hanya perasaan Jaejoong saja, tatapan itu, familiar bagi Jaejoong, seperti pernah Jaejoong rasakan.
Tapi dimana ?
Perlahan Jaejoong memasuki ruangannya yang sedikit gelap karena tidak ada satu pun cahaya lampu yang menyala. Dengan sedikit meraba, dia berhasil menekan sakelar di dinding.
Kepalanya semakin terasa berat. Badannya semakin tak karuan. Efek kehujanan tadi pagi benar-benar membuat Jaejoong sedikit kerepotan kali ini.
Di dalam keadaan seperti ini, Jaejoong hanya ingin Hyunjoong.
Dia ingin namja itu berada di dekatnya, sekadar menemaninya hingga dia tertidur.
Jaejoong mencari-cari ponsel di dalam tasnya, kemudian tangannya lincah menari di atas screen.
To : Hyun-ah
I'm gonna miss you soon. Good night.
Ponselnya bergetar lima belas menit kemudian. Jaejoong dengan segera melirik ponselnya.
Tidak ada nama Hyunjoong disana. Yang ada hanyalah …. Heechul eonni calling ….
RAIN AFFAIR ..
Kim Hyunjoong baru saja memasuki apartemennya yang sedikit remang-remang karena pencahayaan yang rendah dan segera meletakkan ponselnya di sebuah meja. Rasa haus di tenggorokan mengiringnya menuju dapur dan menuangkan kopi ke dalam cangkir. Bersamaan dengan itu ponselnya bergetar. Dengan langkah yang sedikit bermalas-malasan , Hyunjoong menuju ruang tengan dan menghempaskan tubuhnya di sofa. Diliriknya layar ponsel yang menyala, menampilkan sebuah pesan yang masuk- - - dari Jaejoong.
Kim Hyunjoong menghela napas tanpa sekalipun berminat meraih ponselnya. Tatapannya terus tertuju pada layar ponsel namun tetap tidak bergeming. Keheningan membuatnya berimajinasi mendengar suara yeoja yang paling dirindukannya - - - Kim Heechul.
RAIN AFFAIR ..
"Haiii, Hyunnie," Sapa Heechul saat dia baru saja tiba di sebuah café. Gayanya yang sangat feminine membuat Hyunjoong tersenyum. Hari itu Kim Hyunjoong membiarkan rambutnya tergerai. Dia mengenakan baju terusan selutut berbahan sutra.
Belum sempat melihat menu yang sudah tersedia, kepala Heechul celingukan kea rah pintu masuk.
"Kenapa ?" Tanya Hyunjoong bingung.
"Jaejoong mana ?" Heechul balas bertanya. "Dia belum dateng ?"
Hyunjoong menghela napas pelan hingga nyaris tak terdengar. Sedikit enggan menjawab , karena Heechul selalu menyertakan Jaejoong di acara pertemuan mereka. Sebenarnya Hyunjoong menginginkan menikmati waktu berdua, berbincang dengan Heechul. "dia gak akan dateng. Aku Cuma telpon kamu untuk dateng ke café ini." Hening sejenak. "Aku Cuma pengen ngobrol berdua sama kamu."
Heechul sedikit tertegun. "Tapi, kita kan sering bertiga. Kita kan teman dekat, udah dua tahun lebih kita selalu bertiga."
"Kamu sama Jaejoong itu saudara," Hyunjoong mengingatkan hal yang sebenarnya tidak perlu diingatkan.
Jaejoong menundukkan kepalanya.
"udah dua tahun lebih," Hyunjoong memulai kembali percakapan lai setelah Jaejoong hanya terdiam. "Kita selalu bareng-bareng. Tapi, kamu gak pernah Tanya ke aku soal komitmen apa yang seharusnya kita jalanin?"
"aku tahu. Kita selamanya bersahabat."
Hyunjoong menghela napas. Dia yakin kalau Heechul tidak sebodoh itu, Heechul bukan tidak tahu maksudnya.
"Aku sayang sama kamu. Dan, perasaan itu berbeda dengan rasa sayangku ke Jaejoong. Kamu ngerti perasaanku gak sih ?" Heechul sedikit terkejut dengan perubahan nada yang diluncurkan oleh Hyunjoong. "kamu pura-pura gak ngerti semua maksudku atau….?"
"Hyunnie..,sudah aku katakan. Kita bersahabat. Aku seneng jadi orang yang deket sama kamu- - - sebagai sahabat. Aku seneng."
"Tapi, Hee , aku berharap…"
"Kalau gitu berhentilah berharap."
Alis Hyunjoong saling bertautan mendengar pernyataan Heechul. Dia yakin, Heechul tidak pernah serius mengatakan itu. Dia melihat raut wajah Heechul penuh keraguan.
Heechul hanya tersenyum kecil. "Lain kali, kalau mau ketemuan kayak gini, jangan lupa telpon Jaejoong. Oke?"
Itulah terakhir kali Hyunjoong dan Heechul pergi berdua. Karena biasanya mereka selalu bertiga - - - bersama Jaejoong. Kalau pergi bersama Heechul pasti selalu ada Jaejoong. Hyunjoong berpikir hubungan antara Heechul dan Jaejoong itu sangat dekat hingga Heechul selalu menyertakannya di saat berpergian dengan Hyunjoong.
Dulu, dia tidak tahu, kalau Heechul sengaja melakukan itu hanya supaya Jaejoong dan Hyunjoong bisa akrab. Hyunjoong juga tidak tahu kalau Jaejoong memiliki perasaan khusus padanya.
Hingga semuanya terbongkar dan kini, Hyunjoong justru lebih tahu daripada Jaejoong. Dia tahu sesuatu yang tidak diketahui Jaejoong.
Kecelakaan yang terjadi, bisa saja merenggut nyawa Jaejoong, disebabkan oleh dirinya. Tanpa pernah Jaejoong tahu kalau Heechul telah mengatakan hal itu pada Hyunjoong.
Tapi ada satu hal yang Hyunjoong masih tidak tahu : Apa yang menyebabkan Jaejoong begitu mencintai dirinya hingga membuat Hyunjoong terjebak dalam lingkaran kebohongan.
RAIN AFFAIR ..
"hhhmmm .. aku sedikit bingung sama desain iklan kali ini. Aku ingin desain yang elegan"
Jaejoong memperhatikan Hyunjoong yang dengan cekatan segera menyalin semua jawaban Jaejoong ke dalam satu berkas untuk keperluan proyek iklannya. Jujur saja, tadinya Jaejoong sempat hopeless akan kesempatan seperti ini, tapi Jaejoong benar-benar terkejut ketika pagi tadi dalam perjalanan menuju kantor, Hyunjoong mengajak makan siang bareng sekaligus membahas proyek iklan terbarunya Jaejoong.
Di dalam sebuah kedai ramen yang di desain khusus sehingga tidak sesuai dengan nama tempatnya yang terlalu sederhana - - -'Kedai'. Tempat ini terlalu istimewa jika dinamai 'kedai ramen'. Kedai ramen ini didominasi warna merah, deretan sofa berjejer rapi, sementara di bagian tengah, kursi-kursi tersusun rapi di balik meja.
Jaejoong sangat menyukai kedai itu. Bahkan tempat itu adalah tempat favoritnya.
"Elegan….." Hyunjoong bergumam, tampak seperti orang yang berusaha mencerna arti kata tersebut. "Berarti tidak sedikit biaya untuk proyek iklan kali ini. Gimana?"
"mmm.. kayaknya emang tidak sedikit biaya yang dikeluarin," sahut Jaejoong sambil memakan ramennya.
"Tapi aku usahain nggak harus ngeluarin biaya banyak tapi tetap tekesan elegan." Hyunjoong tampak serius sendiri. Tangannya sibuk menggoreskan pensil di kertas.
"Oke. Aku terserah kamu aja Hyun-ah, aku percaya taste kamu." Ujar Jaejoong tanpa menoleh dan tetap asyik dengan ramennya.
"hmm.. kurasa kamu lebih membutuhkan bantuan Yunho dibanding aku, Jae."
"Waeyo?"
"Akan terasa sulit dan lama jika aku yang mengerjakan semuai ini, belum lagi aku banyak sekali pekerjaan, kamu tahu itu kan, Jae ?"
Raut wajah Jaejoong berubah drastis. Mendadak ramen yang dinikmatinya itu terasa hambar. Lagi-lagi aku dikesampingkan… batinnya pelan.
"ne .." jawabku seadanya.
Hyunjoong menoleh sebentar. "kamu keberatan?"
"aniya .." bohong Jaejoong. "Aku sudah kenyang, sebaiknya aku kembali ke kantor."
Jaejoong membereskan semua berkas dan memasukannya asal-asalan ke dalam sebuah map. Kertas-kertas tak bersalah itu berjejalan berantakan. Dia segera berdiri dan meninggalkan meja itu.
Hyunjoong tertegun melihat perubahan sikap Jaejoong, mungkin kali ini dia menyadari kekesalan yang dirasakan Jaejoong. Belum sempat Jaejoong beranjak pergi dan lebih jauh lagi meninggalkan meja itu dengan segera Hyunjoong menyambar lengan Jaejoong. Ketika hendak mensejajarkan tubuhnya, tiba-tiba tubuh Jaejoong sudah merosot hingga lantai.
RAIN AFFAIR ..
Ingatan Hyunjoong melayang pada kejadian setahun lalu- - - di Chungnam.
Saat Jaejoong terbaring dua minggu di rumah sakit karena kecelakaan. Kecelakaan, yang kalau boleh ditambahkan, disebabkan oleh keteledoran Heechul- - - kakaknya.
Kecelakaan yang mengubah ikatan kakak-beradik itu untuk selamanya.
Tapi, di sisi lain, karena itulah dia jadi dekat dengan Jaejoong. Sampai sekarang.
"Hai, Jae." Hyunjoong meletakkan buket bunga yang dibawanya di meja nakas. "Belum sembuh total, tapi kenapa udah minta pulang?"
Jaejoong tersenyum menatap kumpulan bunga lili putih yang kini menghiasi meja disamping tempat tidurnya. "gomawo, alasannya sederhana. Kerja. Aku udah bolos kerja beberapa hari ini."
"gimana keadaan kamu sekarang, Jae?"
Hyunjoong duduk di tepi tempat tidur Jaejoong.
"Cuma patah kaki," kata Jaejoong, lalu menertawakan kesinisannya.
"Jangan pesimis," tegur Hyunjoong lembut. "jangan karena kecelakaan ini, kamu jadi patah semangat."
Jaejoong terdiam. Dalam hatinya, dia membenarkan.
"Lagi pula, bukannya kamu dulu pernah bilang punya keinginan yang belum kesampaian?"
Wajah Jaejoong mmemerah seketika.
"ka..kamu masih ingat?"
Hyunjoong mengangguk.
"Apa sekarang kamu nggak pengen keinginan itu terwujud?"
Jaejoong seperti kehilangan kata-kata.
"Kamu nggak lagi bikin aku malu, kan ?"
"Maksudnya?"
"Kamu kan udah tahu pengennya aku itu apa," ujar yeoja itu perlahan.
"Ne .. tapi aku pengen denger soal itu dari mulut kamu sekali lagi."
Jantung Jaejoong berdebar kencang. Apa-apaan sih Hyunjoong, batinnya gelisah. "Aku pengen kamu…..jadi namjachinguku."
Hyunjoong terdiam. Tuh kan…, Jaejoong terdiam lemas. Pasti ujung-ujungnya buruk - - - tidak seperti yang diharapkan.
"Jae, kalau aku bilang keinginan kita sama, gimana ?"
Jaejoong mengerutkan dahinya.
"Maksud kamu….?"
"Ne… karena….aku…juga….menginginkan…..," matanya menatap langsung ke Jaejoong. Menembus ke bagian yang paling sensitive dari perasaan seorang yeoja.
Yang Jaejoong tidak tahu, semuanya itu hanya sandiwara.
Seandainya saja dia tidak buta karena cinta *dan bujukan* Heechul, bisa jadi hidupnya saat ini baik-baik saja.
Tak perlu merasa tertekan menjalani hubungan dengan Jaejoong dan berpura-pura mencintainya.
Kalau saja Heechul tak sebegitu merasa bersalahnya…"
RAIN AFFAIR ..
Di ruangan serba putih dengan bau khas obat yang mengelus lubang hidungnya, Jaejoong melihat Hyunjoong sedang menatap ke arahnya. Tampak khawatir. Benarkah itu Kim Hyunjoong - - - Kekasihnya ? Sungguh, Jaejoong merindukan tatapan Hyunjoong yang seperti itu - - - teduh. Meski ada sedikit rasa khawatir yang terpancar, tapi, seperti…..entahlah, Jaejoong juga bingung apa arti dari tatapan itu. Sungguhkah Hyunjoong mengkhawatirkan keadaannya ?
"Jae? Udah sadar?" Tanya Hyunjoong was-was.
Belum pulih benar kesadaran Jaejoong, suara lain yang juga sangat dikenalnya, ikut menyusul setelah Hyunjoong. "Jae, udah sadar?" pekiknya kegirangan.
Mata bulat Jaejoong menyipit. Kepalanya sudah tidak seperti ditusuk-tusuk lagi dan suhu tubuhnya terasa sudah lebih mendingan. Jaejoong mengangguk lemah. Tapi, tatapannya menyiratkan tanda Tanya. Junsu cepat-cepat menetralisir suasana.
"Kamu ada di rumah sakit, kata Hyunjoong-ssi tadi kamu pingsan waktu makan siang. Jadi aku cepet-cepet kesini."
"Jae..," ujar Hyunjoong. "Kenapa kamu nggak bilang kalau lagi demam?" ada perasaan bersalah terbersit di sela-sela kalimat tersebut.
Jaejoong memaksakan senyumnya. "aku nggak apa-apa kok."
"Kamu sampe pingsan, kamu bilang gak apa-apa?"
"tenang aja Hyun-ah.."
Walaupun ekspresinya masih terlihat tak tenang, Hyunjoong memilih untuk percaya. Bersamaan dengan itu, ponsel namja itu bergetar.
"Ya, Yunho ! kamu sudah sampai, aku ada di unit gawat darurat, cepatlah kemari."
PIK ..
"Hyun-ah ?" Tanya yeoja itu sambil membenarkan posisinya yang sedari tadi hanya terbaring.
"Wae, Jae?"
Jaejoong menghela napas pelan. "Kamu nyuruh Yunho dateng kesini ?" Hyunjoong terlihat salah tingkah, dan buru-buru mengangguk.
"ngng .. Jae, ingatkan tawaranku untuk menyerahkan proyek desain iklanmu pada Yunho ?" tanya Hyunjoong ragu-ragu.
Kamu membahas ini di saat aku masih terbarinng di bed ini? Tak sadarkah kamu, aku masih kesal akan hal itu? Jaejoong membatin.
"mmm .. dan sekarang aku meminta Yunho untuk mengantarmu pulang ke apartemen, karena aku ada sedikit masalah di bengkel,ada sedikit masalah dengan tukang nya, aku harus segera ngecek kesana." Kata Hyunjoong.
"Hyunjoong-ssi, kamu nggak percayain Jaejoong sama aku? Dia bakalan aku antar pulang, apa kamu curiga aku gak akan anter Jaejoong sampe apartemennya?" Sela junsu sedikit menyelidik sebelum Jaejoong angkat bicara.
"Bukan gitu, Su." Hyunjoong tersenyum canggung. "Yunho kan satu apartemen sama kita, jadi lebih gampang kalo dia yang anter Jaejoong. Kebetulan Yunho yang akan membantu desain iklan terbarunya Jaejoong."
"hhmm ..kalau aku jadi kamu sih, aku lebih percaya sama orang yang udah dikenal lama, ketimbang sama orang yang baru dikenal." Kata Junsu agak menyindir. Junsu memang sedikit tidak begitu menyukai sosok Hyunjoong dari sejak pertama kali mereka kenal. "emang kamu nggak cemburu, Hyunjoong-ssi? Temanmu itu kan seorang namja?"
Jaejoong mendesah pelan. Dengan lembut, dia menyentuh lengan sahabatnya itu, menyuruh yeoja itu lebih tenang.
Hyunjoong membelai rambut lurusnya Jaejoong. "Aku tahu apa yang seharusnya aku lakukan." Dia melirik Junsu tajam.
"Haii .." Sapa Yunho yang baru saja memasuki unit gawat darurat sekaligus memecah suasana yang sedikit memburuk.
"Hai Yunho, kamu sudah datang." Sambut Hyunjoong dengan senyum ramah. Jaejoong dan Junsu sama-sama menoleh kea rah pandang Hyunjoong.
Junsu menyenggol Jaejoong, melontarkan pandangan yang melontarkan, "jadi itu yang namanya Yunho?"
"Hai, Jae.. kenapa bisa sakit? Udah baikan kan ?" Tanya Yunho dengan nada khawatir.
Jaejoong hanya tersenyum seadanya. "Efek kehujanan kemarin pagi kayaknya."
"Ohya Yunho, bisakah aku meminta bantuan kamu?" Tanya Hyunjoong sedikit ragu-ragu.
"hhmm ..bantuan apa? Kurasa aku bisa membantumu." Jawab Yunho mantap
"Jaejoong sedikit kesulitan dengan desain iklan terbarunya, dan kurasa orang yang tepat membantunya adalah kamu, Yunho." Jaejoong menghela napas sedikit keras. Dia memalingkan wajahnya kea rah Junsu.
Yunho tampak menimbang-nimbang permintaan namja itu. Tertangkap oleh Yunho ekspresi tak suka dari wajah Jaejoong. "Aku? Apa aku tidak salah? Aku kan masih belum begitu lihai, kemampuanmu jauh lebih baik dibandingkan aku, di kantor saja aku masih baru."
"ngng.. I Know ..Tapi aku gak bisa, Yunho. Dan aku juga gak bisa."
Yunho menghela napas. Dia melirik Jaejoong sekilas. Dia tahu, ada rasa ketidaktertarikan dari diri Jaejoong.
"mmm .. Jae, aku harus ke bengkel sekarang." Ujar Hyunjoong. "Oh ya Yunho, aku percaya akan kemampuanmu pada proyek Jaejoong, dan hari ini antarkan dia sampai apartemen. Aku pamit ya.."
Hyunjoong segera beranjak dari ruangan itu. Matanya sempat bertemu pandang dengan Junsu. Hyunjoong agak ragu sejenak, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk mengecup kening Jaejoong sekilas.
Kamu bakal membuat Jaejoong kecewa hanya karena ini. Batin Yunho.
"Yunho…Mianhe, aku ngerepotin kamu, padahal aku bisa pulang dianterin sama Junsu."
"Gwenchana…aku gak ngerasa direpotin kok."
Sudut bibir Jaejoong terangkat. "gomawo.."
Mendadak, ponsel Junsu bordering. Yeoja itu mengaduk-aduk isi tasnya. Dia agak menjauh dari Jaejoong dan Yunho. Nggak lama dari itu Junsu udah kembali. "Jae, aku pamit pulang yah, ada sedikit urusan mendadak." Junsu menatap Jaejoong tak rela. Kemudian, pandangannya beralih pada Yunho yang berdiri di seberangnya. "Tolong anterin Jaejoong, ya," pintanya dengan sedikit sungkan.
Senyum Yungo mengembang. "Tentu."
"Jae, mau pulang sekarang?" Tanya Yunho setelah Junsu menghilang.
"Iya."
Dengan gesit, Yunho segera bergerak ke sisi Jaejoong, membantu Jaejoong menuruni ranjang dengan hati-hati. Pandangan mereka sempat saling bertemu dari jarak dekat. "Kamu keliatan familiar, Yun." Kata Jaejoong pelan ketika mereka saling beriringan menuju mobil milik Hyunjoong di parkiran.
Yunho tersenyum. "Apanya yang keliatan familiar?"
"aahhh .. aniya, mungkin ini Cuma perasaan aku aja." Jawab Jaejoong seadanya.
"mmmm .. mungkin."
Jaejoong mengangkat kedua alisnya, terkejut mendengar jawaban singkat itu. Mungkin ? Apa maksudnya ? mereka memang pernah bertemu sebelum ini sehingga ketika melihat Yunho, Jaejoong merasa familiar. Jaejoong menunggu Yunho berbicara lagi. Tapi namja itu tetap dalam diam, sedangkan tangannya membuka pintu mobil dan membantu Jaejoong masuk.
Begitu Yunho menyalakan mesin mobilnya, Jaejoong hanya terdiam. "Kita pernah bertemu sebelumnya?" Jaejoong membatin.
:::: TO BE CONTINUED:::::
