I'm Regret Luhan Chapter 2

Main Cast : Oh Sehun, Luhan, Oh Sehan, Jessica Jung.

Genre : Sad, Family, Angst

Hati-hati Typo bertebaran.

Yang gak suka ama Jessica jung boleh diganti sendiri Cast nya. Soalnya author rasa Jessica paling cocok meranin tokoh ini

HAPPY READING

CHAPTER 2

NOW

"Kau pasti lelah, makanlah dulu Sehunna"

Ujar Jessica, nama wanita yang kini duduk bersama Sehun disebuah Restoran.

"Terimakasih jes..aku tak enak jika harus merepotkanmu terus menerus seperti ini"

ujar Sehun sungkan. Ia mulai memasukkan makanan itu kedalam mulutnya.

"tak perlu sungkan sehun. Bukankah memang sudah semestinya kau menikmati kehidupan yang sama sepertiku?"

Ujar Jessica dengan gaya bicara yang dibuat senormal mungkin.

Sehun mengerti arah pembicaraan jessica kini. Dan hatinya mulai gundah.

"Sudahlah jes, jangan membahas ini terus. Aku sudah bilangkan kalau ini keputusanku sejak awal"

"Kau yakin, kau bahagia? melihat dirimu yang sekarang yang bekerja sebagai tukang parkir dipinggir jalan aku tak yakin sehunna"

Jessica menyeringai melihat sehun yang diam tak berkutik mendengar perkataanya.

"aku..aku bahagia"

ada nada keraguan diakhir ucapan sehun dan jessica menyadarinya. Ia semakin melancarkan aksinya untuk membuat hati Sehun gundah. Membuat Sehun mengakui kalau sebenarnya ia sama sekali tak bahagia.

"Benarkah? tapi..kurasa itu dulu sebelum kau terlilit banyak hutang disana sini dan sebelum istrimu yang idiot itu juga melahirkan anak cacat untukmu "

BRAKK

Sehun menggebrak meja dengan kasar ketika mendengar perkataan Jessica yang menghina anak dan istrinya.

"CUKUP Jess..jangan pernah sekali-kali kau menghina istri dan anakku. Hidupku sudah cukup bahagia dengan kehadiran mereka disisiku. Dan itu sudah lebih dari cukup."

"Jangan membohongi dirimu sendiri Sehun. Mana ada orang didunia ini yang hidup bahagia dan baik-baik saja dengan 2 orang cacat seperti mereka Sehun...Aku yakin ini tak mudah untukmu. Semua ini pasti jauhkan dari apa yang kau impikan dulu?"

Sehun diam tak menanggapi perkataan Jessica. Pikiranya berkecamuk sekarang.

Nafasnya memburu menahan segala luapan emosi yang ada pada dirinya.

Selalu seperti ini bila pembicaraanya dengan Jessica mengarah pada Luhan dan Sehan anaknya.

"Mereka bukan kebahagiaanmu Sehun. Sadarlah mereka hanya beban bagimu. Lihatlah dirimu.. kau bilang kau bahagia? heh..."

Jessica memberikan senyum mengejek kepada Sehun dan melanjutkan aksinya mempengaruhi Sehun.

"Orang bahagia tak mungkin sekurus dirimu Sehun."

Jessica menghampiri Sehun yang masih duduk terpaku dikursinya dan mengelus pipi Sehun pelan dengan jari-jari lentiknya.

"Kehidupanmu sesungguhnya bukan seperti ini Sehun. Bukan dengan pakaian jelek dan kotor seperti ini, Bukan dengan sepatu butut seperti ini dan bukan memarkirkan mobil yang bukan milikmu diluar sana Sehun."

"Kau punya kehidupan yang jauh lebih baik lagi dari ini. Kau punya baju bermerk terkenal, kau punya sepatu-sepatu mahal, kau punya deretan Mobil mewah Sehun.Bukan seperti ini. Ini Bukan dirimu yang Sesungguhnya Sehun.Kau masih bisa meraih Hidupmu yang dulu dengan mudah Sehun. Ayolah Sehun...jangan seperti ini. "

"Apa..kau tak malu dengan teman-temanmu? lihatlah sekarang mereka hidup bahagia, sukses, mendapatkan uang dengan mudah, tanpa harus sepertimu Sehun."

CUP

Sehun terkejut ketika tiba-tiba Jessica mencium bibirnya singkat.

"Jessica kau..apa yang kau lakukan"

"Aku mencintaimu Sehun. Perasaanku masih sama seperti 7 tahun lalu. Lihat aku Sehun. Bila kau bersama ku aku yakin Kau tidak akan hidup seperti ini, kau tidak perlu menjadi kuli panggul, tukang parkir yang bukan bidangmu Sehun. Tempatmu bukan dijalanan Sehun, tempatmu diruang direktur yang berAC, dengan pakaian mahal melekat ditubuhnya, penampilan rapi dan...hanya duduk manis didepan meja kerjamu Sehun"

"Aku harus pergi sudah sore kasian Luhan menunggu"

Sehun hendak bangkit dari kursinya namun ditahan oleh Jessica.

"Ya...perasaanmu terhadap wanita idiot ah...maksudku Luhan selama ini hanya sebatas rasa kasihan Hun, tak lebih. Sadarlah Karna...siapa lagi yang akan mengasihani wanita seperti itu bila bukan dirimu. Iya kan Sehun?"

Jessica menatap Sehun dengan berpura-pura memasang wajah polosnya.

"Jessica cukup.."

"Aku kasihan padamu. Lihatlah mereka hanya bisa memberikan kesusahan padamu. Nanti...lama kelamaan mereka pasti aka jauuuhhh lebih merepotkanmu pasti"

"Sudah cukup Jessica, hentikan semua omong kosongmu itu. Kehidupanku bersama Luhan tak seperti apa yang kau bayangkan. Aku bahagia dan aku Bangga memiliki Luhan"

"Benarkah..."

Tanya jessica dengan ekspresi yang dibuat-buat.

Sehun bangkin berdiri, melepaskan rangkulan Jessica dari pundaknya.

"Aku pergi dulu..terimakasih atas makananya. Sampai bertemu lagi"

Baru 5 langkah sehun berjalan namun langkahnya terhenti oleh suara Jessica.

"Jika suatu saat kau berubah fikiran datanglah padaku Sehun. Aku dengan senang hati akan membatumu kembali kepada Keluargamu dan mendapat apa yang semestinya kau dapatkan"

"Mereka menyusahkan Sehun. Mereka hanya bebas untukmu. Kau tak mencintainya, Kau hanya kasihan pada mereka sehingga ragu untuk meninggalkanya"

Sehun memejamkan matanya erat, berusaha menulikan telinganya dari ucapan Jessica barusan dan melanjutkan langkahnya keluar dari restoran itu.

Jessica tersenyum puas ditempatnya. Berhasil. Ia berhasil mempengaruhi Sehun. Sebentar lagi Sehun pasti akan meninggalkan Cacat idiot itu dan memilihnya.

"Putra mahkota selamanya akan menjadi putra mahkota Sehun. Dan upik abu hanya akan diinjak-injak oleh Putra makhota Sehun"

"Kita lihat saja, Seberapa lama kau mampu bertahan dengan mereka Sehun."

Jessica sahabat sekaligus mantan tunangan Sehun 7 tahun silam. Mereka putus karena Sehun yang tiba-tiba terpikat oleh sosok menawan seperti Luhan. Sehun memutuskan pertunangan mereka karena merasa tidak ada lagi rasa nyaman yang ia dapat dari Jessica yang kala itu manja dan kekanakan. Berbeda dengan Luhan, ia merasa nyaman bila berdekatan dengan sosok itu. Meskipun Luhan jauh dari kata sempurna namun Sehun tulus mencintainya. Luhan yang sederhana, dengan segala kepolosan yang ada pada dirinya menjadi salah satu daya pikat Sehun padanya. Hingga ia lebih memilij Luhan ketimbang Jessica.

Sehun bertemu Jessica 3 Bulan yang lalu ketika Sehun memarkirkan sebuah mobil dan ternyata itu adalah mobil Jessica. Dan dari sanalah hubungan pertemanan yang sempat terputus selama 7 tahun itu kini tersambung kembali. Tak ada rasa cinta dalam diri Sehun untuk Jessica saat ini, tapi Sehun merasa nyaman bila kerap kali ia mencurahkan segala keluh kesahnya pada wanita blesteran itu.

Luhan tengah menemani Sehan sang buah hati bermain sambil menunggu Sehun pulang. Akhir-akhir ini Sehun memang sering pulang terlambat dan itu membuat waktu bermain Sehan dan Sehun berkurang.

Seperti saat ini, Bila sampai malam Sehun tak kunjung pulang maka Luhan dan Sehan akan bermain sembari menunggu Sehun.

"sehannie main sama mama dulu ya..appa belum pulang hihi.."

a

Luhan tersenyum cekikikan pada Sehan yang duduk anteng dipangkuanya sambil memainkan mainan robot yang sudah patah dibeberapa bagian.

"appa..ama..ulang" (appa lama pulang)

" ne.. sehannie kita tunggu appa pulang ne"

Sehan mendongak menatap Luhan cukup lama berusaha mencerna setiap kata-kata yang Luhan ucapkan. Kemudian ia mengangguk mengerti.

diumurnya yang ke 5, Sehan memang tidak bisa berbicara seperti anak normal lainya. Ia terlahir dengan keadaan yang memang tak seberuntung anak lainya. Ia tak punya teman, tak bisa bermain dengan bebas, fisiknya juga lemah. Bila kelelahan sedikit pasti akan jatuh sakit. Itulah sebabnya mengapa Sehun bekerja mati-matian untuk mereka.

mata jernih itu melihat buku dan bolpoin disisi meja. Ia menggoyangkan tangan luhan dan menunjuk kearah meja itu.

"uis...ehan au uis..."( tulis, sehan mau nulis)

Luhan yang mengerti ucapan Sehanpun tersenyum lembut.

" mama gak bisa nulis.. appa yang bisa nulis, appa Sehan kan pintar."

Sehan terdiam sesaat setelah berhasil mecerna perkataan Luhan ia mendongak dan berbicara.

"Ama..ehan odoh..appa andai ne?" (Eomma dan sehan bodoh, appa pandai ne)

Sehan mengerjab polos kearah Luhan.

"Ne..appa Sehan sangat pandai, appa Sehan dulu sekolah disekolah yang sangat besaarrr sekali. mama tak tau apa namanya. mama hanya lihat dari jauh. hihi... "

"ahh bagaimana kalau kita menggambar? mama bisa sedikit menggambar, mama ajari sehan gambar ne?"

Luhan menurunkan Sehan dari pangkuanya dan mengambil kertas serta bolpoin itu.Luhan mulai tidur tengkurap dan diikuti oleh Sehan.

Sehan memperhatikan Luhan yang mencoret-coret buku itu asal-asalan. Dalam benaknya mamanya ini tengah menggambar dan ia mengikuti yang mama mencoret-coret buku itu menggambar asal asalan.

Sehun yang sedari tadi melihatnya pun merasa hatinya sangat sesak. Mengapa tuhan tak adil padanya. Disaat orang diluar sana banyak orang yang hidup dengan keluarga kecil mereka yang sempurna tapi mengapa ia justru memiliki keluarga kecil seperti ini. Istri keterblakangan mental dan seorang anak yang tak jauh berbeda.

Ia mencoba menstabilkan emosinya dan melangkah perlahan memasuki rumah.

"Oh...Sehunnie sudah pulang ne? Sehan lihat appa sudah pulang..hihihi"

Luhan mengarahkan Sehan agar melihat Sehan. Seketika wajah Itu pun berbinar senang Ketika melihat sang appa telah pulang.

Sehun mencoba memberikan senyumnya untuk mereka berdua.

"ne..appa pulang"

Sehan berdiri hendak memeluk Sehun namun buru-buru Sehun menghindar. Menolak untuk dipeluk sang anak.

Sehan dan Luhan pun mengernyit bingung dengan sikap Sehun kali ini.

"ada apa hunnie?"

"A.. ahhh Sehan, appa lelah sekali sayang. Peluk dan mainya nanti saja ne. Appa mau istirahat dulu"

Sehun mengelus rambut Sehan pelan dan tanpa menunggu jawaban dari sang anak, Sehun sudah melangkah pergi meninggalakan mereka yang masih menatap Sehun bingung.

Melihat appanya yang tiba-tiba pergi Sehan menarik ujung baju luhan dan menunjuk arah Sehan pergi.

"appa gi..." (appa pergi)

"mungkin sehunnie appa lelah. main sama mama saja ne"

Luhan berusaha mengalihkan pandangan Sehan dari Sehun. Namun nampaknya hal itu tak berhasil sepasang mata polos itu masih memperhatikan Sehun yang berjalan menuju kamar mereka.

"ayoo maiiinnnn"

Ujar Luhan riang.

Ia mencoba bersikap normal didepan Sehan, tak mau sang anak memikirkan perilaku Sehun tadi. Meskipun dalam hatinya bertanya tanya ada apa dengan Sehun. Ia nampak aneh.

Luhan memasuki kamar sederhana itu dengan langkah perlahan. Ia melihat Sehun tengah tidur membelakanginya. Tak biasanya Sehun seperti ini. Ada apa? apa dirinya berbuat salah pada Sehun?

Ia melangkah lebih dekat kearah Sehun, ia mendudukkan dirinya disamping Sehun dan menggoyangkan tubuh itu pelan.

"Sehunnie.. "

Ia nemanggil Sehun pelan.Tak ada jawaban, Luhan mencoba sekali lagi.

"Sehunnie.."

"Ada apa luhan"

jawab Sehun dengan suara yang terdengar dingin.

"emmm..itu...Sehunnie lelah ya?"

"Iya aku lelah"

Jawab Sehun sekenanya.

Merasa aura yang tak baik dari Sehun, membuat Luhan bergidik takut.

"Sehunnie..mau makan? tadi luhannie sudah..."

"BISAKAH KAU DIAM?"

Luhan terdiam seketika mendengar Sehun yang berteriak kencang. Sehun tak pernah seperti ini sebelumnya.

Luhan menatap Sehun takut-taku. Mata jernih itu pun sudah berkaca-kaca siap menumpahkan lelehan putih kapanpun.

Melihat itu Sehun jadi merasa bersalah, dengan segera ia bangkit dan memeluk tubu didepanya itu.

"Maafkan aku lu, aku..aku tak bermaksud membentakmu, aku hanya terlalu lelah sayang. Maafkan aku ne"

Sehun berusaha meminta maaf pada Luhan. Tidak seharusnya ia marah dan meluapkan emosinya kepada Luhan hanya karna memikirkan percakapanya dengan Jessica tadi sore.

Sehun menghapus air mata dipipi itu dan mengecup pipi itu singkat.

"jangan menangis maafkan aku ne?"

"ne, luhan maafin Sehun"

ujar Luhan yang kini kembali tersenyum sumringah.

"Hunnie mau makan? Luhan tadi masak buat Hunnie. Sehan juga nunggu Hunnie makan"

"Ah...kurasa tidak sayang. Aku masih kenyang, Tadi sudah makan dengan temanku ditempat kerja tadi jadi kau makan sendiri ya dengan Sehan?".Bohong Sehun pada Luhan.

Mendengar kalau Sehun sudah makan diluar membuat Luhan lagi-lagi harus menghembuskan nafas kecewa. Akhir-akhir ini Sehun jarang makan dirumah padahal Luhan selalu menyiapkan makanan untuknya. Bahkan Sehan juga ingin sekali makan bersama Sehun hari ini. Tapi sepertinya lagi-lagi ia harus menelan kekecewaan. Mereka harus makan berdua tanpa Sehun.Lagi.

" apa Sehunnie yakin tak mau makan sama kita? tapi Sehan.."

"Luhan, aku benar-benar lelah. Seharian aku bekerja dan sekarang aku butuh istirahat. Mengertilah Luhan, jangan seperti anak kecil. Kau semakin membuatku pusing"

"Ne baiklah..kami akan makan berdua. Hunnie istirahatlah, maaf ya kalau Luhan mengganggu Hunnie"

Setelah mengatakan itu, Luhan melangkah keluar kamar tanpa mengatakan apapun lagi. Kalau boleh jujur, hatinya sangat sakit melihat Sehun yang sekarang.

Luhan dan Sehan makan malam berdua diatas tikar tipis itu. Sehan makan dengan disuapi oleh Luhan.

"appa...ana?" (appa mana?)

Tanya Sehan yang tak menemukan sosok Sehun diantara mereka.

"appa lelah Sehannie..appa butuh istirahat. Kita makan berdua saja ya? ayo mama suapin lagi hihihi"

Luhan lagi-lagi hanya bisa bersikap sebiasa mungkin didepan sang anak agar Sehan tak sedih karena Sehun tak ada.

Mereka bertiga tidur diatas kasur lipat sederhana itu dikamar yang terlihat sangat sempit dan pengap.

Luhan telah memasuki alam mimpinya sejak tadi begitupun dengan Sehun.

Sementara itu sosok kecil ditengah-tengah mereka sejak tadi terus menatap Sehun yang tidur memunggunginya.

Sehan. Anak itu menatap punggung Sehun dalam. Biasanya jika mereka tidur maka appanya itu pasti akan selalu memeluknya sampai ia bisa terlelap tidur. Tapi kali ini, appa nya justru tidur memunggunginya. Apa Appanya itu lupa kalau ia tak bisa tidur bila tidak Sehun yang memeluknya? pikir Sehan dalam hati.

Anak kecil itu juga merasa perubaha dalam diri appanya itu. Apa appanya tak sayang dia lagi? apa appanya marah padanya?

apa sehan membuat kesalahan sehingga appanya itu marah?

atau..apa appanya marah karna Sehan bodoh?.

Tanpa pelukan dan dekapan sang appa, Sehan berusaha memejamka matanya sendiri menyusuri alam mimpi.

2 minggu telah berlalu. Selama itu pula sikap Sehun semakin aneh, tak seperti dulu lagi. Sehun sudah jarang menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya. Sekarang ia selalu berangkat kerja pagi sekali dan pulang tengah malam. Ada banyak kerjaan katanya.

Dan lagi-lagi Luhan hanya bisa mengangguk mempercayainya. Luhan sekarang jadi lebih kesepian bersama Sehan tanpa adanya Sehun. Bahkan akhir-akhir ini ada yang aneh dengan Sehun. Hampir setiap hari dia pulang dengan membawa pakaian, sepatu atau barang apapun yang harganya sangat mahal menurut Luhan. Dari mana suaminya itu dapat uang untuk membeli semua itu? bahkan hutang mereka saja masih menumpuk sangat banyak sejak 5 tahun lalu.

Selama 2 minggu itu pula Sehun sudah jarang pergi ketempat kerjanya. Ia mulai merasa bosan setiap hari harus panas-panasan

.Sekarang Ia lebih sering menghabiskan waktu berdua bersama Jessica diapartementnya ataupun jalan-jalan dengan mantan tunanganya itu. Hubungan yang sempat renggang itu pun kini terjalin sangat akrab kembali. Dulu setelah memutuskan Jessica,Sehun sangat menjaga jarak dengan wanita itu tapi kini justru sebaliknya. Ia bahkan banyak menghabiskan waktu seharian bersama Jessica, padahal ia pamit kepada Luhan untuk pergi bekerja. Sehun mulai merasa senang karena bersama jessica ia merasakan ketenangan yang tak pernah ia dapat sejak 5 tahun ini. Bahkan ia bisa mendapatkan apa yang ia mau dengan mudah. "Bukankan ini yang seharusnya Ia dapatkan?" itulah yang selalu Jessica katakan padanya.

Hari ini seperti biasanya Luhan dengan setia menunggu kepulangan Sehun. Sehan sudah tidur sejak tadi, hari ini Sehan sedikit demam mungkin karena cuaca yang tak menentu dan Luhan belum memberi tahunya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam tapi Sehun belum juga pulang.

"Hunnie kemana..Luhan cemas. Lindungi suami Hannie tuhan"

Luhan meremas jari jemarinya, ia takut sekaligus risau. Sehun baik-baik saja kan? apa pekerjaanya memang sangat banyak?

Sementara itu didepan sebuah gang kecil sebuah mobil mewah berhenti disana.Dan Sehun keluar dari mobil itu.

"Terimakasih Jess atas ponsel ini. Aku berhutang padamu"

Sehun, pria itu tengah berbicara dengan Jessica didepan kaca mobil yang terbuka itu.

"Ne sama-sama Sehun. Sudah seharusnya benda itu menjadi milikmu sejak dulu"

"Aku masuk dulu ne. Sampai jumpa besok."

"Ne, kapanpun kau mau datanglah keapartement ku Sehun kapanpun kau mau. Kau juga tak perlu bekerja seperti hari ini. Kita bersenang-senang seharian"

"hahaha..kau ini bisa saja Jess, Luhan bisa curiga."

"Tak masalah"

Jawab Jessica acuh.

"Cha kau pulanglah. Hati-hati dijalan ne, jangan ngebut. bye"

"Oke Sehun,bye"

Setelah mobil Jessica pergi, Sehun melangkahkan kakinya menuju rumahnya. Huh..entah mengapa sekarang ia jadi malas pulang kerumah.

Ketika ia membuka pintu ia terkejut melihat Luhan yang masih terjaga menunggunya.

"Sehunnie..kau sudah pulang."

Luhan mendekati Sehun ketika lelaki itu memasuki rumah.

"Ne"

Jawab Sehun acuh.

"Sehun pasti lelah? Sehun makan dulu ne, lalu mandi dan.."

"aku sudah makan dan aku mau kekamar Luhan"

Jawab Sehun tegas.

Mendengar jawaban tak terbantahkan dari Sehun, Luhan pun hanya bisa mengangguk pelan. Selalu seperti ini.

Sehun berjalan memasuki kamar mereka. dahinya mengernyit ketika melihat sang anak tidur dengan kain kompres didahinya.

"Luhan...Luhan"

Mendengar namanya dipanggil dengan segera Luhan berjalan menuju sumber suara.

"apa apa Hunnie"

"ada apa denganya?"

Bahkan kini Sehun tak meyebut nama Sehan saat bertanya.

"Sehannie hari ini demam, Hannie sudah mengompresnya kok. Tapi hannie tak mempunyai uang untuk beli obat jadi.."

"ck..demam lagi? bukankah 5 hari yang lalu dia baru saja sembuh dari demamnya? sebenarnya kau ini pecus atau tidak mengurus anakmu Luhan?"

Luhan ketakutan ketika Sehun memarahinya. Apa Sehun begitu capek hingga setiap ia pulang selalu marah-marah.

Hatinya juga berdenyut sakit ketika Sehun meragukanya dalam mengurus Sehan. Luhan ini memang bodoh, idiot tapi Luhan tau bagaimana merawat anak dengan baik.

"Maafkan Luhan hunnie.."

"ck sudahlah. Nanti juga demamnya sembuh sendiri. Jangan memanjakanya dengan selalu membelikannya obat ketika sakit. Obat itu mahal dan kita juga harus menghemat uang bukanya membeli obatnya setiap saat. Hutang kita juga tak akan lunas kalau uangnya terus menerus digunakan untuk beli obat."

Sakit hati Luhan ketika Sehun berbicara seperti itu. Seolah-olah selama ini Sehan menjadi beban baginya. Apa benar selama ini Sehun berpikir begitu? Kalau iya, berarti Sehun juga menganggap dirinya beban karena sama seperti Sehan yang menurutnya itu merepotkan.

"ne..Sehunnie."

"Itu apa Sehunnie?"

tanya Luha. penasaran dengan bingkisan kecil yang ada ditangan Sehun.

"bukan apa-apa. Temanku memberikanya untukku"

Ujar Sehun sambil berlalu meninggalkan Luhan.

Sehun nampak tengah memainkan ponsel yang bermerk ternama ditanganya itu. Sesekali ia tersenyum ketika membaca balasan dari orang diseberang sana.

"ne selamat malam, jangan lupa mimpikan aku eoh..hehehe"

Itulah kira-kira balasan terakhir yang Sehun kirim untuk orang disebrang sana.

Sementara itu dikamar, Luhan dengan setia mengelus kepala Sehan yang tengah tertidur dengan nyenyak.

"Sehannie cepet sembuh ne. Jangan sakit lagi, mama sedih bila Sehannie sakit. Apapun yang terjadi mama akan tetap sayang Sehannie. Sehannie harta berharga mama setelah Sehun appa"

CUP

Terakhir Luhan memberikan kecupan didahi Sehun yang berkeringat itu. Syukurlah panasnya sudah turun.

Ia pun merebahkan tubuhnya disamping sang anak dan mendekap sayang tubuh itu. Dan mulai memejamkan matanya menuju alam mimpi.

Luhan tengah menyiapkan sarapan pagi dengan Sehan yang sudah duduk anteng diatas tikar ruangan itu.

Ketika semua sarapan telah selesai ia masal. Luhan bermaksud memanggil Sehun untuk bergabung. Namun sepertinya Sehun sangat terburu-buru, terlihat dari gerakanya yang memakai sepatunya dengan cepat.

"Hunnie kok buru-buru? ini masih pagi. Ayo sarapan dulu. Luhannie sudah masak untuk Sehunnie"

Tanya Luhan masih memperhatika Sehun yang sibuk dengan tali sepatunya.

"Tak usah Lu, aku buru-buru sudah kesiangan. bye"

Tanpa pelukan ataupun ciuman hangat dipagi hari Sehun pergi begitu saja, bahkan tanpa memperdulikan sosok Sehan yang sedari tadi menatapnya. Mata jernih Sehan terus memperhatikan sang Appa yang pergi menjauhi rumah. Kenapa ayahnya sangat sibuk sekarang?

Luhan berjalan menghampiri Sehan, mengelus rambut sang anak dan menciumnya pelan.

"Sehannie makan sama mama saja ya? appa sedang sibuk."

Jawab Luhan berusaha memberikan pengertian.

"iuk..?" (sibuk?)

"Ne..Sehunnie appa kan harus bekerja untuk kita. Untuk Sehannie.. nanti kalo appa sudah punya uang banyak kan Hannie bisa beli mainan seperti di tv-tv itu, hihi...yang bagus, Sehannie mau kan?"

"ne.. ehan au aian alu.. appa eli uuk ehan" (Ne, Sehan mau mainan baru. Appa beli untuk Sehan)

"Ne..nanti appa pulang bawa mainan untuk Sehannie, nanti kita main sama appa ya"

Sehan pun hanya bisa mengangguk polos. Ia makan dengan disuapi oleh Luhan.

Luhan menatap tak percaya benda persegi kecil yang ada ditanganya itu. Benda itu menunjukkan 2 garis merah.

Ia pernah mengalami hal seperti ini dulu sebelum ia tau kalau dia akan memiliki Sehan. Dulu Sehun bilang kalau garisnya ada 2 itu berarti dia hamil. Sehun dan dia akan punya bayi. Mereka akan punya bayi lagi.

Luhan tersenyum senang mendapatkan kenyataan ini. Dirinya dan Sehun akan punya bayi lagi, Sehan akan punya adik?

Luhan jadi tak sabar meberitau kabar gembira ini pada Sehun. Dia pasti senang sekali.

Luhan berjalan keluar kamar mandi dan menghambiri Sehan yang tengah bermain dengan mainan alakadarnya itu.

"Sehannie..."

"Sehannie.."

Mendengar namanya dipanggil Sehan menoleh kesamping dan ternyata Luhan yang memanggilnya.

Luhan duduk disamping Sehan.

"Sehannie senang tidak punya bayi?"

Sehan memiringkan kepalanya tanda tak mengerti dengan ucapan sang eomma.

"Hihihi..mama akan punya bayi lagi loh..itu artinya Sehannie akan punya adik. Sehannie jadi kakak"

"aik..?" (adik?)

"Iya adik, nanti Sehannie akan punya teman main. Jadi mainya gak sama mama trerus. Ada teman lagi. Sehannie suka?"

Sehan menyimak perkataan sang eomma dengan seksama. Kemudian mengangguk pelan meskipun masih sedikit tak mengerti maksud sang eomma. Yang ia tau hanya "adik" dan"main". Dia juga tidak tau sebenarnya adik itu apa.

"Appa pasti sangat senang nanti hihi..."

TBC...

MAAF CERITA NGAWUR..

GIMANA NEXT OR DELETE?

JANGAN LUPA REVIEW JUSEOO...