Pair : SasuSaku

Rate : M

Naruto © Masashi Kishimoto

AU, Alur kecepetan, OOC, GaJe , (miss) typo? dan gangguan lainnya yg berefek samping.

.

Semua yang selalu kupertahankan pergi.

Semua yang telah kugenggam mati.

Tak ada lagi penderitaan, tak ada lagi kesakitan.

Semua sirna saat kutahu mereka meninggalkanku disini.

Sendiri.

Akankah ada kebahagian yang menanti?

.

.

Destiny© CbiellUchiha1

.

You and Me? I do not know

.

.

Two Years Later ...

Tak terasa sudah memasuki tahun kedua setelah kecelakaan maut yang menjemput suamiku berlalu. Juga tahun kedua, calon anak kami ikut menyusul ayahnya ke surga sana. Aku yang sekarang pun hanya bisa menyapa mereka melalui lantunan doa yang setiap hari kupanjatkan pada Tuhan, agar kedua malaikatku selalu tersenyum tanpa beban.

Hari berlalu begitu cepat, Shion-nee dan Sasori-nii pun kini sedang berada diawang-awang sejak kelahiran putri kecil mereka. Shiori. Gadis kecil replika kakak iparku dengan mata hazel warisan ayahnya itu, tumbuh dengan sangat sehat. Rambut pirangnya dibiarkan panjang hingga kini sudah mencapai bahu di usianya yang baru menginjak empat belas bulan.

Aku membayangkan jika saat ini anakku masih hidup, pasti kini ia sudah seumuran dengan Shiori.

Lama berjalan dan berbelok kanan kiri, akhirnya aku sampai didepan makam Kakashi. Pusaranya kini sudah bertembok beton dengan ukiran namanya pada batu nisan. Kuletakkan sebuket bunga Lily putih ditembok kecil samping batu nisan berbentuk persegi itu dan menangkupkan kedua telapak tanganku, memohon pada Tuhan untuk selalu menjaganya.

Kuhapus setetes kristal bening seraya bangkit berniat meninggalkan pemakaman ketika kulihat seorang pria juga turut bangkit dan meninggalkan pusara yang disinggahinya beberapa saat lalu. Yang membuatku tertarik bukan pria itu, melainkan sebuah kereta bayi yang kini tengah didorongnya.

Siapa yang membawa kereta dorong bayi dipemakaman? Dan kutahu, orang itu jawabannya.

Sekilas kualihkan perhatian dari kereta bayi dan pria dengan mahkota raven yang berbentuk – ehm – pantat ayam itu, mengingat kini adalah musim panas dan cahaya matahari siang ini yang begitu terik. Aku melihat sebuah gazebo yang berada tak jauh dari kapel pemakaman elit ini dan berniat untuk mengistirahatkan sejenak tubuhku dari lelah dan terik matahari yang membakar.

Kuhempaskan bokongku pada tepian gazebo dan bersandar pada sisi lainnya. Rasanya sungguh sangat menyenangkan, apalagi kini semilir angin sepoi-sepoi menerpa kulitku membuatku mau tak mau memejamkan mata saking sejuknya.

"Ehm, boleh aku ikut duduk disini, nona?" sebuah suara berat menyadarkanku dari kenikmatan sesaat semilir angin musim panas. Kusingkap kelopak mataku dan memandang seorang pemuda yang tadi sempat kulihat ditengah-tengah hamparan pemakaman. Aku tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja. Kau tahu, ini juga bukan milikku" sahutku yang dibalas pemuda itu dengan terkekeh singkat mendengar lelucon dari bibirku.

Hening sesaat, dan aku benar-benar benci pada suasana canggung seperti ini. Setidaknya harus ada yang berusaha mencairkan suasana diantara kami dan tentu saja bukan pemuda tampan yang duduk bersebrangan denganku kini orangnya.

"Haruno Sakura. Kalau aku boleh tahu, siapa namamu?" dengan memberanikan diri ku ulurkan tangan kananku sembari memperkenalkan diri. Pemuda itu sekilas menatapku sebelum menyambar tanganku dan ikut memperkenalkan dirinya. "Sasuke. Uchiha Sasuke" ucapnya singkat, padat dan sangat jelas.

Kulepaskan jabatan tanganku dan meletakkannya kembali kepangkuan. Uchiha? Aku sangat mengenal nama Uchiha, tapi dimana? Otakku mengingat-ingat sebelum sepasang emeraldku melebar menyadari satu hal.

"Apa kau pemilik real estate di distrik Uchiha?" tanyaku penasaran sambil memperbaiki posisi dudukku yang kini menghadapnya.

"Distrik Uchiha?" tanyanya balik dengan wajah sedikit bingung.

"Ah, maksudku distrik Suna. Kami menyebutnya distrik Uchiha karena tulisan pada pintu masuk yang bertuliskan Uchiha's Residents" koreksiku cepat menyadari wajah bingungnya.

"Oh. Ya, distrik Suna memang dibawah kendaliku. Apa kau tinggal disana?" tanyanya balik yang kusahuti kembali dengan mengangguk antusias tak lupa dengan senyuman yang masih terpetakan diwajahku.

Obrolan kami sejenak terhenti kala suara tangisan seseorang menginterupsinya. Aku lupa dengan keberadaan seorang bayi dalam kereta dorong yang dibawa Sasuke tadi. Pemuda ini pun sama terkejutnya denganku dan dengan cepat meraih bayi mungil itu dalam gendongannya sambil berusaha menghentikan tangis bayi itu dengan sesekali menimang-nimangnya.

"Hai bayi kecil. Kenapa kau menangis, sayang?" ucapku sambil mengelus-elus pipi chubbynya. Ah, aku jadi ingat Shiori jika melihat bayi mungil ini. Sepertinya bayi dalam gendongan Sasuke yang masih menangis ini memiliki usia yang sama dengan Shiori. Mata obsidiannya beberapa kali mengerjap ketika melihatku dan kembali menagis beberapa saat kemudian. Aku dan Sasuke yang melihatnya terkekeh pelan.

"Oh, jangan lagi Ken" ucapnya tiba-tiba sambil mendesah. Sasuke membaringkan bayi itu di tengah-tengah gazebo dan mulai memeriksa sesuatu di dalam tas yang berada di kereta dorong bayi yang dipanggilnya dengan sebutan Ken. Kutebak Ken adalah nama bayi mungil nan lucu ini.

"Apanya?" celetukku penasaran.

"Ken ngompol lagi. Padahal sebelum kesini aku baru saja mengganti popoknya" ujar Sasuke tanpa mengalihkan perhatiannya membongkar isi tas yang sudah berada disamping pria itu duduk.

"Apa kau bisa mengganti popoknya?"

"Tidak" aku membungkam mulutku sendiri kala mendengar jawaban cuek Sasuke. Rasanya seperti menyaksikan seorang pelawak tengah berusaha membuatmu tertawa disaat kau dilarang tertawa. Sasuke melirikku sekilas, "Kenapa? Apa ada yang aneh?"

"Sangat aneh, Uchiha-san. Lalu bagaimana caramu mengganti popoknya? Kau bilang sendiri sebelum kesini kau baru saja mengganti popoknya 'kan?" sahutku seraya berusaha menahan tawa.

"Hana-nee yang menggantinya" balasnya sambil masih mengobok-obok isi tas bayi berwarna putih biru itu sebelum akhirnya sebuah benda putih berada digenggamannya.

"Kalau begitu, itu bukan kau, Uchiha-san" koreksiku dengan wajah malas. Tapi ketika melihat kembali pada bayi yang masih terbaring itu, aku yakin wajahku kembali berseri.

"Itu maksudku"

"Sini, biar aku saja" ucapku dengan gerakan cepat mengambil benda putih digenggaman Sasuke dan bersiap-siap mengganti popok bayi imut ini. Sudah sangat basah ternyata, pantas saja Ken terus saja menangis. Dengan sigap aku mulai membuka dan memasangkan popok yang ditemukan Sasuke pada kedua kaki mungil Ken dan merapikannya agar bayi itu merasa nyaman. Tangisnya sudah sedari tadi berhenti ketika aku baru saja melepas benda yang membuatnya tak nyaman. Kini bayi lelaki dengan sepasang obsidian ini sudah kembali tenang dengan botol susu ditangannya.

"Hei, kau tak terpesona hanya karena melihatku memasangkan popok bayi 'kan?" gurauku ketika tak sengaja menangkap kedua bola mata sekelam malam Sasuke menatapku seperti baru saja menyaksikan sesuatu yang luar biasa. Matanya beberapa kali mengerjap sebelum mengalihkan pandangannya.

"Hn. Aku hanya belum pernah saja melihat orang lain yang mengganti popok Ken selain ibuku dan Hana-nee" Sasuke mengusap-usap perut mungil Ken yang membuat bayi itu sesekali menorehkan senyuman dengan sepasang gigi kelinci yang baru tumbuh. Rasanya aku ingin menggigit pipi bulat itu.

"Benarkah? Maaf, tapi memangnya dimana ibunya Ken?" tanyaku. Dua detik kemudian aku menyesal telah menanyakan topik pribadi itu ketika melihat pandangan Sasuke yang berubah sendu. Kepalanya menoleh pada tempat dimana ia berdiri tadi sebelum pergi mendorong kereta bayi Ken dan ikut berteduh di gazebo ini. Aku mengerti. Ia mengalami hal yang sama denganku tapi tidak dengan bayinya. Setidaknya Ken masih hidup hingga saat ini.

"Katie meninggal sehari setelah Ken lahir"ucapnya kembali buka suara.

Katie? Mungkin dia istri Sasuke, pikirku.

"Pendarahan hebat yang dialaminya membuat Katie harus melahirkan Ken dua minggu sebelum waktunya. Ia bersikeras melahirkan anak kami walau nyawanya sendiri menjadi korban"Lanjutnya. Aku dapat mendengar nada getir keluar dari kalimat-kalimat yang baru saja dirangkainya. Sorot matanya kosong, seperti mengingat dan kembali ke peristiwa pedih yang pernah dialaminya. Ken sudah kembali ke dalam kereta dorongnya ketika Sasuke melihat bayi itu menggeliat tak nyaman diatas lantai keras gazebo.

"Maaf. Aku tak bermaksud membuatmu kembali mengingat hal itu" ucapku menyesal sambil kembali meminta maaf. Rasanya sakit ketika kita mengalami hal yang sama dan orang lain datang membuka luka itu dengan tak bertanggung jawab. Aku paham rasa itu.

"Hn. Tak apa. Kau sendiri, dari mana belajar mengenakan popok bayi?" tanyanya

"Oh, aku selalu mendapat tugas mengganti popok Shiori ketika ibunya sedang tidak berada dirumah"

"Shiori? Apa dia anakmu?" pertanyaan Sasuke kali ini sukses membuatku merindukan saat-saat ketika aku hamil dulu. Aku menggeleng, berusaha menghilangkan bayangan itu sekaligus jawaban bagi Sasuke.

"Tidak. Shiori itu anak kakakku dan istrinya" jawabku dengan senyuman.

"Kalau kau sendiri punya anak?" tepat sekali. Luka lama itu kembali terbuka, walau bukan salah Sasuke juga bertanya seperti itu. Toh, kami baru berkenalan tanpa tahu siapa diri masing-masing.

"Tidak. Aku keguguran"

"Oh, maaf. Aku tak tahu" sesalnya.

"Tak apa. Lagipula itu sudah terjadi lama. Menangispun sekarang sudah tak ada gunanya. Jadi aku hanya bisa merelakan mereka" walau menyakitkan, tapi aku merasa lega. Setidaknya kami bisa berbagi beban yang sama.

"Mereka? Maksudmu anakmu kembar?"

"Bukan. Maksudku, anak dan suamiku sudah meninggal" aku menggeleng dan menunjuk pada makam tak jauh dari makam istri Sasuke tadi. "Disana makam suamiku. Hanya berjarak beberapa makam dari makam istrimu" jelasku.

"Oh. Tapi, Katie bukan istriku" aku menganga mendengar kalimat yang dilontarkan Sasuke barusan. Apa maksudnya Katie bukan istrinya?

"Maksudmu?" terang sekali aku merasa penasaran dengan maksud perkataan pria dengan tatanan rambut mirip pantat ayam itu.

Belum sempat Sasuke menjawab, dering ponsel mengagetkanku. Kuraih ponsel touchscreen silver metalik dari dalam clucth bag milikku dan melihat nama si penelepon sebelum mengangkatnya.

"Ada apa, Shion-nee? ... Oh, aku benar-benar lupa. Baiklah, tunggu aku dirumah" dengan tergesa-gesa kujejalkan kembali ponsel pintar itu kedalam clucth bag putihku sebelum menuangkan semua isi tasku kembali dan meraih kunci mobil dari tempat yang sama. Rasanya sia-sia kujejalkan ponselku terlebih dahulu.

"Ada apa?" Sasuke sedikit mengerutkan alisnya ketika melihatku dengan tergesa-gesa membuka dan menutup tas tangan kecil itu.

"Ah, maaf Uchiha-san. Aku lupa jika sekarang harus segera pergi ke bandara untuk menjemput kedua orangtuaku yang baru kembali dari Amerika. Aku harus bergegas jika tidak mau mereka kembali menyeretku ke tempat panas itu" cerocosku panjang lebar. Sekilas kulihat Sasuke menyunggingkan senyum melihat tingkah 'tidak manusia'ku yang menjejalkan asal semua benda kecil yang dapat kuraih setelah sebelumnya menumpahkannya untuk mengambil kunci mobil sialan ini.

"Aa. Hati-hati kalau begitu. Sikap kesetananmu bisa membuatmu menabrak trotoar jalan"

"Enak saja. lain kali kau harus berada di kursi penumpang bersamaku agar kau tau kalau aku bisa mengikuti ajang F1" gurauku menanggapi ucapannya barusan yang dibalas pemuda tampan itu dengan seringai menantang.

"Baiklah. Aku butuh sesuatu yang bisa dihubungi agar jika suatu hari nanti aku butuh olahraga ektrim" Oh, aku menyukai sikap pria ini.

"Aku pikir, aku bisa mencairkan balok es sepertimu" kekehku sambil menyerahkan selembar kertas persegi panjang kecil. Kartu namaku.

"Hn. Kau pemilik CL Beauty?"

"Yap, sebenarnya bersama dua sahabatku yang lain. Dan lain kali kau harus mencoba gaun rancanganku" ujarku sebelum benar-benar beranjak dari tempat itu.

"Aku bisa menghamili wanita, pinky" jeritnya dari gazebo yang masih dapat kudengar. Aku menoleh dan melambaikan tangan padanya sebelum masuk ke dalam sedan hitam yang terparkir tak jauh dari sebuah mobil sport putih dengan plat yang bertengger di bemper mobil mewah itu.

Bagaimana pria itu meletakkan bayinya dalam mobil balap ini?

Setelahnya, perlahan kumundurkan mobilku dan keluar dari gerbang bertuliskan Konoha Elite Cemetery tersebut, baru kemudian melaju dan berbaur bersama kendaran lainnya bersiap menuju rumahku dan menjemput Shion-nee.

.

.

.

Shion-nee tak pernah benar-benar membiarkanku mengemudikan sendiri sedan hitam pemberian Kakashi yang sedang kami naiki kini. Tidak jika ia masih ingin melihat Shiori hidup dan membulatkan mata hazel-nya. Dia selalu berpikir jika memberikan mobil padaku diwaktu bersamaan dengan Shiori didalamnya hanya akan memperpendek seratus hari masa hidupnya. Setidaknya itu hasil pemikiran kepala pirang wanita itu sejak kami hampir menabrak pohon ketika dalam perjalanan pulang seusai mengunjungi Sasori-nii yang lembur dikantornya.

Jangan salahkan aku, itu karena tiba-tiba saja ada kucing hitam yang berputar-putar sebelum akhirnya melintasi jalan raya. Dan sialnya, yang menjadi korbannya adalah aku dan seorang ibu beranak satu.

Alhasil, kini aku duduk dibangku penumpang sambil memeluk gadis manis hasil perbuatannya dan kakakku ini. Sesekali kami tertawa karena tingkah Shiori yang menggemaskan. Terkadang, balita itu mengingatkanku akan anakku sendiri. Tapi kadang kala, balita itu juga yang selalu menjadi obat rindu pada junior kecilku yang bahkan tak sempat melihat dunia ini. Pereda tangisku kala merindukan kedua orang tercintaku. Orang yang selalu menempati posisi istimewa dihatiku yang telah lama kosong.

Sepintas bayangan Sasuke melintas diingatanku. Selain karena aku yang baru saja menyadari bahwa ia adalah salah satu pemilik real estate mewah se-Tokyo, tapi juga karena sisi masa lalunya yang tak jauh berbeda denganku.

"Oh. Tapi, Katie bukan istriku"

Bukan istrinya tapi melahirkan anaknya? Unik sekali.

"Nee-chan, apa kau kenal dengan salah satu Uchiha pemilik Uchiha residents?" rasa penasaranku melebihi segalanya. Aku yakin Shion-nee tahu mengenai sesuatu yang terkenal, dan Uchiha itu termasuk salah satunya.

"Mm? Uchiha? Uchiha yang mana maksudmu?"

"Tentu saja Uchiha yang terkenal itu, Nee-chan" balasku sedikit mengibaskan tangan menekankan kata terkenal.

"Iya, aku tahu. Tapi, Uchiha itu kau tanyakan itu Itachi atau Sasuke uchiha?" Shion-nee tampak memutar mata bosan menanggapi jawabanku. Oh, aku baru tahu jika bertanya padanya harus sedetil itu.

"Sasuke. Sasuke Uchiha. Apa kau tau sesuatu tentangnya?"

"Kenapa kau penasaran dengannya, Sakura? Apa kau mengenalnya?" Bukannya menjawab, kakak iparku itu malah balik bertanya. Sejenak wanita dua puluh delapan tahun itu memperlambat laju kendaran dan berbelok kekiri setelah sebelumnya memberi tanda dengan menghidupkan lampu sein kirinya yang akan mengantarkan kami menuju bandara.

"Sebelumnya aku tak mengenalnya, tapi tadi kami bertemu dipemakaman" sahutku yang membuat istri kakakku itu sekilas menoleh singkat. Sepertinya Shion-nee agak terkejut dengan kata-kataku.

"Kau benar-benar bertemu dengannya? Beruntung sekali kau, Sakura" nada keterkejutan dan kekaguman bercampur menjadi satu ketika Shion-nee mengucapkannya. Sesekali wanita yang sudah kuanggap kakak kandungku itu mengumpat kesal karena pengendara mobil didepan kami tiba-tiba berbelok ke arah kanan tanpa menyalakan lampu peringatan. Aku maklum, apa sih yang paling dibencinya selain pengendara mabuk.

"Beruntung? Kenapa begitu?" ulangku masih berusaha mempertahankan nada datar dalam suaraku. Tapi sepertinya sia-sia saja, Shion-nee mengerling nakal kearahku.

"Tentu saja beruntung. Kau pikir ada berapa banyak gadis yang ingin tak sengaja jumpa dan menyempatkan diri ngobrol dengan pemuda setampan Sasuke itu? Bahkan jika saja aku tidak memiliki Sasori, aku mau mengantre menjadi seperti dirimu" Hoalah, balik lagi jiwa muda kakak iparku ini. Kalau kupikir-pikir, mungkin Shion-nee cocok berteman dengan Lee, pelanggan tetap CL-ku yang selalu mengagungkan masa muda diusianya yang menginjak – kalau aku tak salah – tiga puluh dua tahun.

"Aku tak tahu soal itu" ringisku. Aku membenarkan posisi Shiori yang sudah terlelap dipangkuanku sementara ibunya sibuk berceloteh dengan semangat mengenai keinginannya menjadi salah satu gadis beruntung bla bla bla apalah itu. Oh, malaikat mungil ini begitu manis.

"Tapi, kenapa kau menanyakan tentang bungsu Uchiha itu, Saku?" kali ini nada serius terdengar jelas dari suara wanita beranak satu itu. Shiori sesekali menggeliat dalam dekapanku dan tangan mungilnya seperti menggapai gapai sesuatu. Tampaknya ia sedang bermimpi.

"Tidak. Aku hanya penasaran saja"

"Oh. Aku tak tahu banyak, hanya sempat mendengar segelintir kisahnya dari Sasori-kun" Apa? Kakakku tahu sesuatu tentang Sasuke Uchiha?

"Sasori-nii? Dia tahu dari mana?" tanyaku menyerbu tanpa menimbulkan gerakan berarti yang akan menyebabkan Shiori tak nyaman. Mataku sesekali melirik ke arah jalan yang menampakkan papan penunjuk arah menuju bandara. Tak sedikit kendaraan lalu lalang keluar masuk gerbang dua arah yang diatur sedemikian rupa agar kendaraan dari arah berlawanan tidak saling berselisih sempit yang menimbulkan ketidaknyamanan pengunjung.

"Aku juga awalnya terkejut dan tak percaya. Tapi percayalah Sakura, kalau kakakmu itu mempunyai koneksi luas untuk berhubungan dengan manusia-manusia terkenal seperti Uchiha"

"Maksud nee-chan?" aku benar-benar tak mengerti kearah mana Shion-nee mengajakku berkelilling sebelum menuju langsung pada intinya.

"Sasori-kun mengatakan kalau ia dan Itachi itu berada di fakultas dan jurusan yang sama semasa kuliah di Universitas Meiji sebelum sulung Uchiha itu memutuskan melanjutkan sekolah bisnisnya di Kanada" Mobil yang dikendarainya berhenti tepat di parking area bandara, berjarak beberapa mobil dari sebuah pohon – entah apa namanya – yang memberikan tempat berteduh dibalik rumpun daunnya yang rimbun. Beruntung sekali mobil yang mendapat tempat parkir tepat disamping pohon di taman kecil itu, sementara mentari menyinari dengan teriknya.

Aku membuka pintu mobil dan keluar dengan hati-hati setelah sebelumnya menutup tubuh Shiori dengan selendang yang kudapat dari leher Shion-nee, melindunginya dari cuaca menyengat. Gadis kecil itu masih terlelap, pantas saja Shion-nee dan kakakku tak ragu membawa mereka makan malam romantis sekalipun, malaikat kecil ini begitu tenang.

"Kau tahu banyak ya, nee-chan" ucapku setelah wanita itu menutup dan mengunci mobil kami sebelum menghampiri dan mengecup sayang pipi chubby Shiori. "Kau juga akan mengetahuinya jika bertanya langsung pada Sasori-kun" balasnya. "Apa kau tak apa-apa jika terus menggendong Shiori?"

"Aha. Aku senang melakukannya" gelengku.

"Kurasa kau benar-benar harus mengencani Uchiha itu, Saku"

"Benarkah? Seperti aku bisa saja" jawabku sarkartik. Pria itu 'kan sudah menikah.

Eh, menikah? "Um, nee-chan. Apa kau tahu apa yang terjadi dengan istri Sasuke Uchiha itu? – maksudku dia sudah memiliki anak tapi juga berkata kalau ibu dari anaknya itu bukan istrinya"

"Ah, aku belum menanyakan hal itu pada Sasori-kun" Kami sudah berada di pintu International arrival saat Shion-nee kembali mengecup pipi bulat anaknya dan mengelus-elusnya membuat gadis mungil dalam gendonganku kembali menggeliat geli.

Tak berselang lama, aku dapat melihat gelagat kedua orang tuaku dari kejauhan walau begitu banyak orang-orang yang berlalu lalang disekitaran pintu kedatangan. Jangan salahkan aku, rambut bintang – aneh – ayahkulah yang memberi sinyal kedatangannya yang tertangkap radar manik emerald-ku. Dari kejauhan, kedua orangtua paruh baya itu sekilas melambaikan tangan mereka ke arahku. Walau aku ingin sekali membalas lambaian mereka, tapi keberadaan Shiori digendonganku membuatku urung melakukannya. yah, setidaknya Shion-nee sudah mewakilkanku.

"Halo, sayang. Apa kabar?" ibuku dengan senyum mengembang mengecup menantu pirangnya dan beralih mengecupku sebelum mengelus-elus pipi bulat cucunya. "Oh, cantik sekali cucuku ini. Ah, kalian hanya berdua? Dimana Sasori?" tanya ibuku ketika mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan tak menemukan bocah merahnya.

"Sasori-kun harus menghadiri meeting penting dengan kolega bisnisnya. Jadi, tidak bisa ikut menjemput Kaa-san dan Tou-san. Dia hanya titip salam dan berjanji akan pulang sebelum makan malam nanti" Ayah ibuku mengangguk. Kami sudah berada dipelataran parkir ketika Shion-nee mengendarai mobil kearah kami. Ayah memasukkan koper bawaannya dan ibu dalam bagasi dan duduk santai di jok belakang setelahnya.

Perjalanan kami sesekali dipenuhi gelak tawa setelah Shiori bangun dan mengambil alih perhatian kedua orang tuaku. Kedua orang tua itu tak henti-hentinya terkikik setelah gadis kecil itu menunjukkan beberapa tingkah lucunya. Oh, Tuhan, betapa aku sangat merindukan kehamilanku dulu.

Kami segera turun dan menunjukkan kamar tamu yang sudah kami – aku dan Shion-nee – persiaplan sebelumnya. Sementara kakak iparku menyusui anaknya di kamarnya, aku dan ibuku segera sibuk didapur menyiapkan masakan untuk makan malam nanti. Tidak ada yang berbeda, masakan ibuku masih lezat seperti dulu.

Hanya berselang satu jam setelah kedatangan orang tuaku, pintu masuk kembali terbuka menampakkan seseorang yang seharian ini meeting dikantor. Hazel miliknya membulat ketika melihat kehadiran dua orang yang dirindukannya. Sontak, kakinya melangkah cepat dan memeluk ayah dan ibu kami.

"Kaa-san, apa kalian sudah lama tiba? Aku benar-benar merindukan kalian" ucapnya dan kembali memeluk ibu lagi. Wanita paruh baya yang kupanggil 'kaa-san' itu terkekeh kecil dan membalas pelukan anaknya,"Dasar anak manja. Aku hanya pergi dua tahun dan kau sudah merindukanku?" ejeknya. Aku tersenyum, bagaimanapun interaksi anak dan orang tua itu unik menurutku.

"Tentu saja. Kaa-san juga tidak pulang ketika anakku lahir"balasnya. Ayahku ikut bergabung tak lama setelahnya dan kembali reuni akbar mereka membuatku geli.

"Nah, sekarang waktunya makan. Selamat datang, sayang" Shion-nee turun dengan menggendong Shiori dan mengecup singkat kakakku. Gadis kecilnya melambai-lambai pada Sasori-nii yang langsung diraih kakakku dan menggendongnya.

"Iya, sayang. Tou-san juga merindukanmu" ucapnya dengan kecupan singkat dipipi putri kecil mereka.

Makan malam kami dipenuhi canda tawa dengan tingkah lucu Shiori dan beberapa obrolan seputar bisnis antara ayah dan Sasori-nii. Sesekali mereka juga mengungkit tentang kesendirianku sepeninggal Kakashi dan menyarankanku untuk segera berkencan lagi. Aku hanya mengangguk dan membalas seadanya. Entahlah, aku hanya belum menemukannya saja. Oh, aku juga harus melengkapi informasiku tentang Uchiha Sasuke juga.

.

.

.

Aku baru saja akan merangkak menaiki ranjang empukku ketika telepon pintarku berkedip sekali menandakan ada seseorang atau operator selular yang mengirimiku pesan singkat. Aku mengeringkan wajahku dengan tissue setelah membasuhnya dengan air dan sabun pembersih, kemudian meraih ponsel itu dan memeriksa si pengirim. Sederet nomor yang tak terdaftar dibuku teleponku membuatku mengernyitkan alis penasaran. Siapa yang mengirimiku pesan singkat saat waktu menunjukkan pukul setengah sebelas malam?

From : 81 230 701 xxx

Hai? Apa kau sudah tidur?

Uchiha Sasuke

Bagus. Aku mendapatkan pesan singkat dari Uchiha Sasuke. Uchiha Sasuke. Sasuke. Sasu – Apaa? Aku kembali membaca pesan singkat itu – tepatnya nama si pengirim – berkali-kali. Uchiha Sasuke mengirimiku pesan singkat? Yang benar saja.

Kembali kupandangi layar ponselku, berpikir balasan apa yang akan kuketikkan. Oh, ayolah Sakura. Kau bukan gadis remaja lagi yang harus gugup ketika pangeran sekolah mengirimimu sapaan membosankan. Yang menyapamu hanya duda beranak satu. Yang tampannya luar biasa.

Sial.

To : 81 230 701 xxx

Hai .. yah, tidak juga. Aku hanya sedang membaca.

Haruno Sakura

Sent

Yah, aku hanya sedang membaca. Membaca pesan darimu.

Tak lama, ponselku kembali berkedip. Aku sudah memasukkan nama Sasuke dalam buku telepon milikku dan kembali mengaktifkan mode suara ponselku yang sebelumnya hening. Aku merasakan jantungku bergemuruh ketika memeriksa balasan dari pria itu.

From : Uchiha Sasuke

Apa besok kau punya waktu? Mungkin makan siang bersama?

Haha, tentu saja. Lagi, nuraniku sudah mengambil alih kewarasan berpikirku. Jariku menari-nari diatas layar sentuhnya sebelum otakku dapat mencerna apa yang baru saja kukirimkan.

To : Uchiha Sasuke

Tentu.

Sent

Sial. Aku seharusnya menolaknya. Tapi deringan ponsel kembali menyadarkanku kalau Sasuke masih terjaga untuk membalas pesanku.

From : Uchiha Sasuke

Ku jemput di Beauty kalau begitu. Ichiraku restourant?

Ichiraku? Aku tak heran Sasuke akan mengajakku kesana. Itu adalah restoran dengan pelayanan berkelas dan pastinya cocok untuk manusia seperti dirinya. Aku mengetikkan balasanku cepat dan mengirimnya. Aku tersenyum ketika membaca pesan terakhirnya. Apa Sasuke tipe pria romantis?

From : Uchiha Sasuke

Selamat tidur. Jangan hanya tersenyum jika nanti kau menemukanku bersarang dimimpimu. Biasanya aku selalu membawa mimpi indah.

Tak banyak, aku hanya membalasnya dengan sebuah emoticon rotfl dan menyimpan kembali ponselku diatas meja samping ranjang sebelum benar-benar hanyut dan terlelap dalam bayangan mimpi. Apa Sasuke akan membawa mimpi indah untukku malam ini? entahlah.

.

.

.

Kyaaaa~~~ akhirnya biel bisa juga lanjutin Destiny setelah sebulan terbengkalai. Hee, maaf sibuk soalnya ngumpulin THR lebaran *timpukked* ..

Okee, ada yang mau review? Ayolah, Silenders, ga asik kan cuma baca dan lewat doang *jiahhh*, berikan pendapatmu .. okee..

Biel doain moga cepat taubat *digantung-ed* ..

Cipok lebaran dulu *cupcupTHRpeyupeyuk*