YOU
Jung Hoseok x Kim Taehyung
BoysLove
Chapter 2
Hoseok membuka pintu apartemennya sambil menghembuskan napas berat lalu mengunci pintunya lagi. Ia berjalan menuju sofa terdekat dan merebahkan tubuhnya di sana, melihat ke atap di atasnya sembari membiarkan air mata tumpah dari matanya layaknya sungai yang mengalir. Ia menutup matanya, meremas kaosnya tepat di dada seiring dengan tubuhnya yang bergetar karena isakan cukup keras yang keluar dari bibirnya.
Ia tahu ia adalah orang yang bilang hal-hal positif saat Taehyung menceritakan semuanya, ia tahu ia bilang semuanya akan baik-baik saja, ia baik-baik saja. Ia tau ia juga orang yang mengakhiri segalanya tadi, tapi tetap saja, sebenarnya itu hanya sandiwara. Tentu saja ia tak ingin pacar tersayangnya menyerah dengan impiannya hanya karena ia tidak merasa baik—tidak sama sekali.
Besok, Taehyung akan tinggal di asrama perusahaannya dan itu berarti mereka tidak akan pernah bertemu lagi, atau mungkin saja—kemungkinannya sangat kecil, dan mereka tak mungkin bisa seperti diri mereka yang biasanya; saling mengasihi satu sama lain, karena orang-orang akan menilai buruk mereka; Taehyung—dan ia tak akan menghancurkan kehidupan penyanyi pacar kesayangannya, bukan, maksudnya mantan pacar, karena itu adalah apa yang Taehyung inginkan sejak ia masih kecil.
Hoseok bangkit dan berjalan ke ruangannya, merebahkan dirinya sambil berusaha untuk terlelap. Tapi ia tak bisa. Ia menatap ponselnya dan menghembuskan napas. Tidak, Taehyung tidak akan mengirimkannya pesan selamat malam lagi, dan itu berarti Hoseok tidak akan terlelap dengan mudah pada malam hari karena ia terbiasa terlelap setelah Taehyung mengirimkannya pesan selamat malam.
Ia menghembuskan napasnya, ia tau, ia adalah satu-satunya orang yang berkata pada Taehyung pada saat mengantarnya pulang tadi, bahwa mereka harus menganggap bahwa tidak ada apapun di antara mereka. Tidak ada, sedikitpun. Jangan kirim pesan, jangan telepon, jangan lakukan apapun yang berhubungan dengan satu sama lain. Hoseok berkata bahwa itu adalah langkah awal untuk Taehyung beradaptasi dengan kehidupan penyanyinya tanpa Hoseok. Pada awalnya Taehyung menolaknya, ia menangis dengan sangat keras, meminta Hoseok untuk bersamanya malam itu saja, tapi Hoseok tidak mengindahkan itu. Taehyung tidak bisa berkata apapun lagi jadi akhirnya ia setuju dan keluar dari mobil Hoseok dengan mata yang membengkak dan merah.
Tak berarti Hoseok menyukainya—ia membencinya, ia sangat membencinya seperti ia membenci film horor, tapi ia tau ini adalah cara terbaik, atau setidaknya ia pikir begitu. Sekarang saat ia akhirnya merasakan kesepian itu, ia sangat ingin berlari ke rumah Taehyung sekali lagi dan memeluknya, menciumnya, berkata padanya bahwa ia akan selalu berada di sampingnya kapapun dan dimanapun. Tapi tentu saja ia tak akan melakukan itu.
Air mata kembali menetes dari mata Hoseok. Kasurnya bergetar, membuat suara-suara decitan jelek seiring dengan isakan Hoseok. Ia tau ia terlihat seperti pria yang selalu bahagia, tapi di saat seperti ini, ia sebenarnya sangat rapuh. Saat berhadapan dengan cinta, ia tidak bisa menahan perasaannya.
Dan akhirnya Hoseok terlelap dengan air mata yang terus mengalir dari matanya yang telah membengkak.
Hoseok bangun dari tidurnya dengan sakit kepala yang sangat parah. Ia menopang tubuhnya untuk dapat duduk di kasur dengan tangan masih memijat kepalanya yang pusing. Ia menghembuskan napsnya, ia tidak pernah benar-benar menangis, dan semalam, mungkin ia menangis terlalu banyak sampai kepalanya tidak tahan lagi.
Masih dengan memijat kepalanya, Hoseok meraih ponselnya di meja samping kasurnya dan menekan tombol Home agar ia bisa membuka ponselnya. Belum beberapa detik, Hoseok mendecak dan melempar ponsel itu ke kasurnya.
Ponselnya mati. Bodoh memang, sudah jelas-jelas ia sibuk menangis parah semalam, mana mungkin ia ingat untuk sekedar men-charge ponselnya yang notabene tak akan bertahan semalaman kalau tidak di-charge.
Lagipula, apa yang Hoseok harapkan dari membuka ponselnya di pagi hari? Melihat jam? Bung, kau bahkan punya jam dinding yang dipasang tepat di depan kasurmu. Pesan selamat pagi? Dari siapa? Taehyung?
"Bodoh kau Hoseok."
Hoseok tertawa sinis pada dirinya sendiri. Setelah menghembuskan napasnya, ia meraih kembali ponselnya dan men-chargenya. Ponsel itu benda penting di abad ke-21 ini, jadi tak mungkin Hoseok membiarkannya mati seharian ini.
Ia turun dari ranjangnya sambil masih saja memijat kepalanya yang pening, tenaganya juga rasanya cukup terkuras hari ini. Aneh juga, padahal hanya menangis, tapi kenapa rasanya seperti habis work out di gym seharian penuh?
Hoseok memutuskan untuk berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air dingin dan obat penghilang sakit kepala lalu segera meneguknya disertai air dingin tersebut. Ia menyeka pinggiran bibirnya yang terkena bekas air lalu duduk di kursi meja makan sambil menatap gelas air dingin yang kini tengah kosong tersebut.
Rasanya sepi sekali tanpa kabar apapun dari Taehyung. Sedang apa dia sekarang? Sudah sampai di asrama kah? Atau justru sudah mulai latihan?
Hoseok menggelengkan kepalanya. Tidak boleh. Hoseok, kau harus ikhlas.
Lama dia terdiam tanpa memikirkan apapun, tiba-tiba suara dering panggilan dari telepon menyadarkannya. Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari dari tempatnya saat itu menuju kamar tempat ia tadi men-charge ponselnya.
Tidak, tidak. Hoseok tidak berharap yang meneleponnya itu Taehyung kan? Tidak kan?
Karena memang bukan dia yang menelepon. Di layar ponsel Hoseok yang berkedip itu bisa terlihat nama adik kandung kesayangannya, Jungkook. Hoseok mendecak namun tetap mengangkat telepon tersebut.
"HYUUUUNNGGGGGG!!"
"Ada apa Jungkook ah?" Hoseok mendudukkan dirinya di kasur lalu matanya menatap jam dinding. Jam 8 pagi, kenapa anak ini menelepon?
"Hyung masih di Seoul?"
Hoseok mengernyitkan dahinya. Pertanyaan bodoh macam apa yang tiba-tiba dilontarkan sang adik. Tentu saja ia masih di Seoul.
"Tentu saja. Kenapa? Apa kau juga sekarang di Seoul? Bukankah tahun ini kau ujian akhir di SMA?"
Benar, Hoseok dan keluarganya—termasuk Jungkook—bukanlah orang asli Seoul. Mereka berasal dari Gwangju. Hoseok yang notabene anak pertama di keluarga mereka akhirnya memutuskan untuk merantau dengan mengambil kuliah di luar kota, yakni Seoul. Keputusan yang benar menurutnya, karena di sinilah ia bisa bertemu dengan Taehyung. Pacar kesayangannya.
Oh, bukan. Mantan maksudnya..
"Aku masih di Gwangju hyung!" nada Jungkook di seberang sana terlihat sedikit jengkel dengan jawaban sang kakak, "dan iya aku tahun ini akan ada ujian akhir SMA."
"Lalu kenapa kau menelepon? Belajar sana, bocah," ujar Hoseok setelah mendapat jawaban dari sang adik tercinta.
"Hyung kenapa kau terlihat kesal sekali? Moodmu sedang jelek?"
Hoseok memijit kepalanya pusing. Haruskah Jungkook tau tentang keadaannya? Tapi Jungkook tak akan mengerti, tau apa dia tentang masalah seperti ini.
"Sudah, ceritakan saja kenapa kau meneleponku."
"Huft, hyung selalu begitu, menyembunyikan segalanya dariku," Jungkook terlihat mendengus kesal. Astaga, inikah anak kelas akhir SMA itu? Lebih seperti anak kelas akhir TK. "Baiklah, jadi aku bilang pada ayah dan ibu kalau aku ingin kuliah di Seoul juga seperti hyung. Mereka awalnya tidak mengizinkanku tapi aku merengek jadinya boleh. Tahun depan aku tinggal bersama hyung ya! Hyung doakan aku semoga bisa sekolah di Seoul!"
Hoseok sedikit terkejut mendengar pernyataan dari adiknya tersebut. Adiknya tahun depan di sini? Sebenernya tidak apa sih, mungkin ia memang butuh 'teman' agar tidak merasa kesepian tanpa Taehyung.
"Iya, kudoakan semoga kau bisa kuliah di sini. Belajar yang benar makanya, kutunggu kau tahun depan di sini."
"Terimakasih hyung~ baiklah aku akan belajar sekarang! Dadah hyung!"
Setelah membalas salam perpisahan dari Jungkook, Hoseok ikut mematikan ponselnya dan merebahkan tubuhnya di kasur. Rasanya ia tak sabar menunggu adiknya sampai di sana dan membuatnya bisa kembali menjalani hidupnya dengan tenang.
Lama-kelamaan, Hoseok merasakan dirinya mengantuk. Mungkin efek obat sakit kepala yang tadi diminumnya. Syukurlah hari ini ia tidak ada kelas, jadi ia bisa kembali merebahkan dirinya di kasur dan tidur. Berharap bahwa wajah manis Taehyung tak muncul di mimpinya.
TBC
A/N: Haloo, ini chapter 2 nya~ jalan cerita udah mulai agak berubah dari yang versi bahas Inggris hahaha, dan berhubung di versi bahasa Inggris Jungkook gak sempet ditampilin, jadinya di versi bahasa Indonesia aku tampilin dia sebagai adik Hoseok! Maaf kalau alur ceritanya lambat banget.. tapi semoga kalian suka ya. See you di chapter selanjutnya!
